/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Sejarah – Page 4

Category: Sejarah

  • Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Danil Kasputra

    “Berbagai macam buletin wisata hadir dan terbit menampilkan Bandung dan Garut yang indah serta eksotis sebagai daya pikat utamanya untuk menarik minat para turis untuk berkunjung.”

    Priangan terletak di pedalaman pulau Jawa bagian barat. Wilayahnya terkurung oleh rangkaian pegunungan dan perbukitan. Meski terpencil secara geografis, Priangan adalah daerah yang sangat disukai oleh para turis terutama berkat udaranya yang sejuk dan panorama keindahan dari rangkaian pegunungannya yang hijau. Karena semua itu pula tak aneh bilamana di era kolonial banyak sekali buletin pariwisata terbit khusus menampilkan lanskap Priangan yang indah untuk menarik minat para wisatawan. Buletin-buletin ini biasanya diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran serta berbagai macam perkumpulan yang memajukan pariwisata. Anda tentu saja mengenai buletin-buletin itu dan apa saja yang mereka tampilkan. Maka kali kami akan mengenalkan anda pada beberapa buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan

    1. Gids voor Bandoeng

    Pertama kami akan memperkenalkan kepada anda salah satu buletin wisata tertua, Gids voor Bandoeng. Dari namanya saja, anda pasti sudah bisa menebak bahwa buletin ini tentu saja akan banyak mengenalkan anda pada Bandung. Jika tebakan anda demikian, maka tebakan anda tepat sekali. Buletin ini memang banyak menampilkan berbagai macam panorama objek wisata Bandung. De Naamlooze Vennootschap Hotel Homan pertama kali menerbitkannya tahun 1908. Secara isi, buletin ini bisa dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama banyak bercerita mengenai Bandung, dari mulai letak geografis, kondisi alam, jumlah penduduk dari masa ke masa hingga surat-surat kabar dan sekolah apa saja yang ada di Bandung.

    Sampul Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng yang terbit pada tahun 1908

    Sementara itu di bagian kedua, buletin ini mengajak anda pada rute rute mana saja yang harus dilewati untuk mencapai objek objek wisata yang ada di Bandung.  “Dien men per kar heen in 1′., uur en terug in 1 uur aflegt. De kosten zijn f 5.— voor 2 personen en f 4.50 voor een persoon, op denzelfden dag terug. Lembang ligt ~>26 M. Hooger dan Bandot ng. Men kan te Lembang wandelen in het mooie kinaplantsoen en vindt daar het graf van den nog niet overtroffen Junghuhn, een naald staande op een heuvel, door de bevolking „PasirJoengkoen” genoemd” (Orang orang dapat diangkut oleh satu kendaraan dalam waktu 1 jam dan kembali dalam 1 jam. Biayanya adalah f 5 (Dua orang) dan f 4.50 untuk satu orang, kembali pada hari yang sama. Lembang lebih tinggi kurang lebih 26 M dari Bandung. Anda bisa berjalan-jalan di Lembang di perkebunan kina yang indah dan disana anda akan menemukan makam Junghuhn yang terletak di atas sebuah bukit. Penduduk sekita menyebutnya sebagai “Pasir Joengkoen”.

    Lukisan Alun-alun Bandung dengan dua pohon beringin kembar sebagaimana umumnya alun alun di Jawa.
    Lukisan Kawah Upas di objek wisata alam Gunung Tangkuban Perahu

    2. Garoet en Omstreken

    Kurang lebih 14 tahun setelah Gids voor Bandoeng hadir, di tahun 1922 buletin pariwisata Garoet en Omstreken terbit di Batavia atas prakarsa J.Z. Van Dyck. Melalui buletin ini anda akan diajak berimajinasi mengunjungi alam alam Garut yang indah. Mulai dari kawah Cipanas, Situ Cangkuang dan situ Bagendit hingga bangunan-bangunan tradisional dan modern yang tersebar di seluruh Garut. Maka Tak aneh rasanya di era kolonial dahulu, turis-turis mengenal Garut sebagai Swiss dari Jawa. Buletin ini juga akan menunjukkan pada anda tentang keseharian kehidupan masyarakat Garut baik yang berasal dari penduduk pribumi maupun orang Eropa.      

    Sampul Buletin Pariwisata Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1922.
    Gadis muda penjual kain di Garut
    Kerumunan orang di Situ Bagendit menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

    3. Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken

    Hampir sangat serupa dengan buletin pariwisata yang pertama, hanya saja objek-objek wisata Garut dan sekitarnya yang kali ini ikut tampil sebagai pewarna baru, Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken adalah buletin pariwisata ketiga yang akan kami perkenalkan kepada anda. Buletin ini hadir berkat sumbangsih De Vennootschappen Hotel Homann en Hotel van Horck Te Bandoeng en Garoet pada tahun 1930.  Buletin ini bisa kita kategorikan ke dalam dua bagian. Bagian pertama mengenalkan kita kita tentang Bandung beserta objek-objek wisatanya. Isinya sama persis dengan buletin pariwisata Gids voor Bandoeng. Sementara itu di bagian kedua, kita akan diperkenalkan oleh buletin ini mengenai Garut beserta dengan objek-objek wisatanya yang indah.

    Sampul depan Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1933.

    Keunikan dari buletin pariwisata ini kita akan dibuat kagum oleh cara penulis mengenalkan dan menampilkan berbagai macam keindahan objek wisata yang ada di Garut dan Bandung dalam bentuk visualisasi lukisan. Beberapa objek wisata itu melingkupi pemandangan danau yang jernih dengan latar belakang perbukitan hijau Situ Bagendit, Kawah Guntur yang eksotik, juga Kawah Putih yang indah lagi misterius dengan latar gunung Patuha yang menawan.

    Makam Keramat Godog dalam sketsa Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken.
    Panorama Situ Cangkuang dilihat dari Pesanggrahan.

    4. Bandung The Mountain City of Netherlands Indies

    Sementara buletin pariwisata kita yang kelima ini, bernama Bandung The Mountain City of Netherlands Indies. Buletin ini hadir atas campur tangan Reitsma, seorang anggota sekaligus ketua perhimpunan Bandung Vooruit, sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan untuk memajukan pariwisata di kota Bandung. Lewat buku ini, repsentasi keindahan alam dan keanggunan bangunan-bangunan modern di kota Bandung muncul melalui berbagai gambar dan foto yang disajikan secara mengagumkan meliputi gemericik air terjuan yang berjatuhan di celah-celah bebatuan Curug Cimahi, Lokomotif Kereta Api dengan asap yang mengepul sebagai tanda kemodernan serta Stasiun Radio Malabar yang terletak pada lereng Gunung Malabar berdiri kokoh sebagai kebanggan Bandung dan Hindia Belanda.

    Sampul Depan Buletin Wisata Bandoeng The Mountain City of Netherlands India dengan seorang wanita tampak sedang memanah.
    Situ Cileunca di kala senja (atas)
    Jalan raya diantara hutan Rancabali dan Talaga Patengan (Bawah)

    5. Gids van en Midden Priangan

    Masih dengan nama penulis yang sama, Reitsma namun kali ini ia dibantu oleh Hoogland koleganya di perkumpulan Bandoeng Vooruit menerbitkan sebuah buletin pariwisata yang ditulis dalam bahasa Belanda dengan judul Gids van Bandong en Midden Priangan. Buletin ini memuat berbagai macam narasi mengenai objek wisata, jalan-jalan hingga sekilas pandang sejarah asal mula kota Bandung beserta berbagai ilustrasi.  Serupa dengan rupa rupa buletin wisata yang telah kami perkenalkan pada anda, buletin ini juga tentu saja sama banyak menampilkan pemandangan alam yang indah, bangunan-bangunan modern serta peta peta wilayah. Tapi kelebihannya dibanding yang lain buletin ini sarat dengen deskripsi tentang jalan-jalan kecil yang tersebar di kota Bandung, semisal jalan Buahbatu, Arcamanik, Ujung Berung, Tjihampelas, Lembang, dll.

    6. Tourist-Note

    Tidak terasa kami telah mengenalkan anda pada lima buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan. Kini tiba saatnya pada buletin yang terakhir. Buletin terakhir ini amat berlainan dengan kelima buletin sebelumnya yang lebih ditujukan bagi para turis Eropa. Buletin Tourist-Note hadir sebagai petunjuk wisata bagi para wisatawan China yang ingin berkunjung ke Bandung. Tak aneh bilamana anda akan mendapat beragam hal yang berbau China, mulai dari iklan-iklan hingga narasi nya yang seakan mengajak wisatawan China untuk datang. Pola narasi catatan harian lebih ditonjokan dalam buletin pariwisata ini sebagaimana yang akan kita lihat di bawah ini, Liwat Dajeuhkolot, Badjaran, naek di Goenoeng Poentang ke Malabar Radio Station, atawa ke Pengalengan

    Jadwal perjalanan berbagai macam transportasi di buletin pariwisata tourist note
  • Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Danil Kasputra

    “Fenomena vandalisme di objek wisata bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku seperti ini sudah pernah sering terjadi.”

    Cerita-cerita vandalisme para turis masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Perbincangan-perbincangan itu berpusat pada tangan-tangan jahil para turis yang entah karena iseng, untuk sekedar pamer di medsos atau gaya-gayaan merusak dan mengotori tempat-tempat pariwisata. Tidak mengherankan, tempat-tempat wisata yang seharusnya terlihat indah, eksotik dan penuh dengan nuansa kenyamanan menjadi tempat yang sangat tidak layak untuk dikunjungi. Mirisnya, jika ditelisik kebelakang, fenomena semacam ini bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku serupa sudah pernah sering terjadi. Satu dari sekian banyak cerita vandalisme para turis di zaman itu yang tercatat ialah vandalisme yang terjadi di objek wisata Kawah Papandayan.

    Ada dua cerita terkait vandalisme turis di tempat wisata ini. Cerita pertama muncul dalam harian Het Nieuws van Den Dag, yang terbit pada tanggal 09 Juli 1930 melaporkan bahwa para turis yang bandel secara sengaja membuat api di Kawah Papandayan, walaupun telah ada larangan sebelumnya dari Dinas Vulkanologi. Akibatnya, terjadi kebakaran belerang di Kawah Papandayan. Untung saja, berkat campur tangan para ahli dan melalui upaya yang sekuat tenaga api dari kebarakan ini mampu untuk dipadamkan.   

    Cerita lainnya muncul kembali delapan tahun kemudian dengan sebab akibat yang berbeda, tapi tetap saja akibat ulah dari para turis vandal ini. Kawah Papandayan sebagai kawah yang terbentuk sebagai hasil dari gejala vulkanis tentu saja memiliki kolom-kolom belerang yang indah. Kolom-kolom belerang itu biasanya memiliki pohon-pohon belerang yang eksotik. Sebab keeksotikannya itulah, Pohon-pohon ini tidak pernah luput dari tangan-tangan jahil para turis yang merusak rusak untuk menjadikannya sebagai cendera mata. Hal ini yang dicatat oleh urat kabar Indische Courant yang terbit pada tanggal 26 oktober 1938 bahwa “De vulkaandienst ondervindt naar Aneta uit Bandoeng verneemt, in den laatsten tijd veel hinder van vernielzuchtige touristen. Deze souvenirjagers hebben het voornamelijk gemunt op de fraaie zwavelzuilen welke voorkomen in den krater.” (Dinas Vulkanologi, sebagaimana diinformasikan oleh Aneta dari Bandung, akhir-akhir ini banyak menemukan para turis yang berperilaku merusak. Para pemburu suvernir ini terutama mengincar kolom belerang yang ada di dalam kawah).

    Gambar 1. Berita Harian Indische Courant Terkait Maraknya Vandalisme di Objek Wisata Kawah Papandayan.

    Mirisnya kejadian itu bukanlah kejadian yang terjadi sekali dua kali, masih menurut berita yang sama juga lima tahun lalu juga ada kejadian serupa. Sebuah pohon belerang yang indah dan cantik tumbuh disana. Tentu saja hal ini merupakan sebuah fenomena alam langka dan perlu waktu bertahun-tahun untuk melihatnya terbentuk. Tapi para turis yang berperilaku vandal malah merusaknya untuk dijadikan sekedar sebagai cenderamata. Maka sejak saat itu tidak pernah ada lagi fenomena langka semacam itu. Adapun kolom-kolom lain yang baru tumbuh juga dirusak oleh para turis ini. Dinas Vulkanologi yang berang dengan kelakuan para turis yang bandel ini kemudian mengeluarkan sebuah aturan baru. Agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa.

  • Dari Cerita-Cerita Tertua : Sebuah Pengantar Sejarah dari Yunani Klasik

    Dari Cerita-Cerita Tertua : Sebuah Pengantar Sejarah dari Yunani Klasik

    “Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis.”

    Rendy Kurniawan

    Berdasarkan sebagian besar opini yang diterima sejauh ini, penemuan korpus ilmu sejarah, khususnya bagi kalangan Barat, tentu berasal dari Yunani kuno. Tetapi kita juga harus memahami bahwa sejarah tidak mendapatkan posisi yang tidak terlalu bagus di dalam kebudayaan Yunani itu sendiri. Peran sejarah di dalam kebudayaan Yunani Nampak terpinggirkan jika tidak ingin mengatakan sepele apabila disejajarkan dengan diskursus intelektual lainnya. Dibandingkan dengan tradisi keilmuan lain yang berkembang seperti filsafat, sejarah cenderung tidak populer. Lebih jauh, kita tidak akan menemukan sejarah di dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah Yunani kuno. Lalu dimana sebenarnya posisi sejarah bagi kebudayaan Yunani?

                Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis. Sejarah dalam terminologi Yunani menurut Moses Finley (1975 : 14) adalah puisi tentang peperangan. Salah satu contohnya adalah karya Homer yang berjudul Illiad dan Oddyssey. Dua karya ini menjelaskan apa yang terjadi pada Perang Troya dalam bentuk syair.

                Genre-genre sejarah semacam epos atau puisi peperangan semacam karya Homer mulai tergantikan oleh model karya sejarah baru karena mungkin puisi peperangan tidak lagi relevan bagi orang-orang Yunani. Mungkin sebagian besar orang Yunani sadar bahwa epic atau puisi semacam Illiad tidak bisa dikatakan sebagai sejarah. Ia hanyalah mewakili beberapa bagian dari catatan-catatan masa lalu semata.  Oleh karenanya, merespon hal tersebut, Herodotus dan Thucydides memainkan perannya sebagai penerus Homer.

    Gambar 1. Infografis

    Herodotus merespon kebutuhan orang-orang Yunani dengan menggali fakta sejarah lebih dalam demi ilmu pengetahuan yang kredibel, bukan berdasarkan mitos semata. Ia bersandar kepada data dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain, disbanding memilih menggunakan mitos sebagai fakta sejarah, ia menggunakan keterangan-keterangan dari masyarakat dalam peristiwa sejarah tertentu. Meskipun begitu, karya sejarah yang ia tulis tetap bertema peperangan. Herodotus menulis karya berjudul Sejarah Perang Persia dan Yunani. Dengan karyanya ini, ia dikenal sebagai bapak sejarawan karena berhasil mengaplikasikan metode sejarah dalam menuliskan sebuah karya.

    Berbeda dengan Herodotus, Thucydides merespon perkembangan pengetahuan Yunani dengan menghasilkan sejarah yang lebih politis agar dapat digunakan sebagai legitimasi dalam politik praktis. Ia menuliskan deskrpsi panjang Sejarah perang antara Yunani dan Sparta atau lebih dikenal dengan perang Peloponnesia dengan cukup rinci. Pada akhirnya, Herodotus dan Thucydides sebagai pionir dari penulis sejarah di masa klasik tetap menuliskan sejarah yang membahas politik.

    Dengan demikian, secara tidak langsung karya Homer hingga Herodotus dan Thucydides menggambarkan bagaimana orang-orang Yunani memahami sejarah. Bagi mereka sejarah bukanlah cabang ilmu. Sejarah pada masa Yunani selalu berirrama dengan politik. Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa Yunani menempatkan sejarah sebagai bagian dari politik.

  • Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 2)

    Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 2)

    Diterjemahkan oleh Danil Kasputra

    Wilayah Java bagian barat telah dipilih sebagai wilayah penginjilan perkumpulan, dan di bulan Agustus 1862 para penginjil pertama telah berangkat kesana. Mereka adalah C. Albers, D.J. van der Linden dan G.J. Grashuis. Setelah kedatangan pertama mereka di Bandung, orang-orang ini langsung menyebar, sebab pemerintah menolak izin mereka untuk berkhotbah diantara orang-orang Sunda. Penginjil Van der Linden bergerak ke Cirebon. Penginjil Grashuis setahun kemudian kembali lagi ke Belanda. Sedangkan Penginjil Alberst tinggal di Cianjur dimana dia tiba pada 1 oktober 1863. Di tahun berikutnya dia mendapatkan seorang asisten bernama C.J. Cussel tapi belakangan setelah beberapa bulan karena sakit keras Cussel harus kembali ke Belanda. Di tempat itu juga Albers di tahun 1865 menerima penginjil A. Geerdink dan penulis buku ini. Inilah yang hanya bisa kita lakukan saat itu di Cianjur. Kita hanya perlu tinggal sementara. Hal ini dilakukan untuk mengamati wilayah dan juga mempelajari bahasa Sunda yang kaya dan sulit. Kita juga memberikan bantuan medis kepada orang-orang Sunda yang sakit dan meminta diobati,kemudian mengunjungi, berbincara dan menyaksikan penduduk setempat di rumah-rumah mereka. Keleluasaan hingga pengkhabaran Injil masih belum diberikan. Oleh karenanya tiada yang dikhutbahkan. Di waktu pertama kali itu seluruh hubungan kita jalin, semua orang yang sakit kita rawat dan seluruh orang yang ingin membangun perkawanan kita terima. Seluruhnya hubungan dibangun dengan orang-orang dengan karakter menyenangkan. Tapi, secara keseluruhan, perkempulan itu tidak lmenghasilkan buah yang langgeng, menurut orang-orang, sebagian besar disebabkan oleh pemindahan dua dari tiga Misionaris, yang mengurangi beban kerja menjadi sepertiga. Namun, transfer itu dianggap perlu untuk mengisi beberapa titik misionaris lainnya.

    Tapi kami sedikit lebih cepat. Fase tertutup tidak berlangsung lama. Tuhan terus menjawab doa anak-anak-Nya, dan pintu bagi orang Sunda dibuka untuk misi pada tahun 1865. Sekolah sekarang bisa diadakan dan kemudian injil dikhutbahkan tanpa adanya hambatan. Hal ini berlangsung cepat. Namun, belum ada tempat untuk berkumpul di luar rumah para misionaris, dan segera menjadi jelas bahwa orang Sunda yang sederhana dan agak pemalu, jarang menghadiri pertemuan di rumah orang Eropa. Tidak memungkinkan juga adanya kecurigaan, betapa mereka, jika menginginkan seseorang untuk mengajar anaknya, atau jika mereka menginginkan bantuan medis, maka orang tidak akan pernah mendatangi rumah para penginjil, tetapi ketika orang-orang Cianjur diundang untuk datang bersama untuk mendengarkan pemberitaan Injil, maka biasanya mereka berkata . “Saya mendoakanmu permisi.”

    Selain itu, orang –orang Sunda sangat terikat dengan agama Islam, yang telah masuk sejak zaman leluhur-leluhur mereka selama sekitar empat abad, yang secara bertahap telah merasuki kehidupan umum, dan menjadi sesuatu yang amat bernilai untuk waktu yang lama. Bagi mereka,berpindah kepada sesuatu yang lain atau untuk sesuatu yang lebih baik, , bukan pilihan dengan hanya sedikit orang yang melakukannya. Sehingga, para misionaris pertama di Cianjur secara praktis mempelajari bahwa mereka tidak perlu membangun harapan untuk berhasil dalam upaya mereka terhadap masyarakat. Orang-orang Makedonia itu tidak menemukan mereka di pos mereka

    Namun, pengalaman itu tidak membuat mereka menjadi berkecil hati. karena mereka tahu bahwa mereka diutus untuk mengkhotbahkan injil kepada orang-orang Sunda. Mereka juga tahu, berdasarkan pengalaman mereka sendiri, bahwa Tuhan memegang kunci dari setiap hati manusia. Namun, mereka mengerti bahwa mereka harus mendapatkan orang-orang sebanyak mungkin. Ketika orang-orang Sunda tidak datang kepada mereka untuk mendengar Injil, mereka harus pergi mendatangi orang-orang Sunda. Agar orang-orang Sunda mendengarkan injil di tanah mereka sendiri. Sebuah ruangan bambu kecil dibangun di tengah-tengah kampung, di antara rumah-rumah penduduk asli, dan orang-orang Sunda yang bertetangga sekarang diundang dengan ramah ke pertemuan singkat di tempat sederhana itu dua kali seminggu, seusai doa malam Islam selesai.

    Pada awalnya banyak yang menanggapi undangan itu dan sering kali ada 50 hingga 60 pria dan wanita yang berkumpul, menceritakan kisah Alkitab dengan ceria dan menarik disertai juga alasan untuk berbicara tentang dosa dan rasa bersalah, rahmat dan penebusan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Sayangnya! Kehadiran orang-orang lambat laut berkurang dan pertemuan-pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa juga belum membuahkan hasil apa pun, sejauh yang diketahui. Cara-cara serupa di titik-titik kota lain juga tidak berhasil.

    Betapa tiga tahun yang sulit berlalu. Banyak kekecewaan, sedikit tanda yang membesarkan hati, hasilnya tidak ada. Kemudian para Misionaris disarankan untuk membangun sebuah gereja kecil di jalan utama, yang dikunjungi setiap hari oleh ratusan orang. Sebidang tanah dibeli pada lahan yang sangat cocok dengan harga f 700, -; Rumah asli dilahankan dipindahkan, dan di tengah halaman yang luas, misionaris Geerdink, yang memahami pertukangan dengan baik, membangun gereja kayu yang sangat efisien, tetapi ditutupi dengan ubin, dengan harga kurang lebih f 1.000. Karena pengumpulan material membutuhkan banyak waktu (balok-balok kayu harus dipotong di hutan pada jarak yang sangat jauh), pembangunan gereja sendiri membutuhkan waktu kurang lebih  9 bulan. Itu adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi Misionaris Geerdink, yang harus melakukan sebagian besar perkejaannya sendiri dan terpapar sinar matahari hari demi hari! Tetapi betapa perasaan bersyukur meresapi hatisanubarinya bersama dua Misionaris lainnya, ketika Gereja misionaris pertama ini siap, mereka mengundang orang Sunda dan Eropa untuk datang dan menghadiri pembukaanna di tahun 1868.

    Di pagi hari, Missionary Albers mengadakan pengajaran keagamaan pertama di sana, bagi orang-orang Eropa, berkhotbah menanggapi firman: Luc. 2: 30-32: “Mataku telah melihat keselamatanmu, yang telah Engkau persiapkan untuk wajah semua bangsa: sebuah cahaya untuk pembebasan bangsa-bangsa lain dan untuk kemuliaan umat-Mu Israel.” Di antara mereka yang hadir – kerumunan yang cukup besar – ada Asisten residen dengan stafnya. Pada sore hari Minggu yang sama, pengajaran pertama diadakan dihadapan orang-orang Sunda, di bawah bimbingan juru tulis ini, yang teksnya adalah Yohanes 3:16, “Allah sangat mencintai dunia, dll.” Yang sangat menarik adalah karena ini pertemuan pertama semua kursi telah ditempati dan Injil diwartakan kepada sekitar 150 orang Sunda yang belum pernah mendengarnya. Khotbah pertama ini juga didengar oleh kepala pemerintahan pribumi, Bupati.

    Sayang sekali kita tidak memiliki foto Gereja Misi pertama itu. Pada saat dibangun, fotografi belum mencapai ke pedalaman. Bangunan itu berdiri sendiri dan dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Lantai satu meter di atas lantai dasar, karena semua tiang berada di atas batu Seperti praktik umum di sini, ruang terbuka di bawah rumah. Oleh karena itu, pada acara-acara khusus, ketika gereja dulunya sangat penuh, orang-orang yang pemalu dapat menemukan tempat di bawah lantai di mana mereka dapat mendengar dengan sebaik mungkin sebagaimana di dalam gereja. – Biasanya, rumah kayu tidak bertahan lama di Hindia. Sayangnya! Hal ini juga yang terjadi pada Gereja Misionaris pertama kita. Dia hanya bertahan 25 tahun. Kemudian gereja itu rusak dan digantikan oleh gereja saat ini, yang kami sertakan gambar dalam dokumen ini.

    Tetapi kita harus kembali ke tahun 1868. Kini ada sebuah gereja Kristen di tengah-tengah orang-orang muslim Cianjur, tetapi – belum ada seorangpun jamaah; ya, bahkan belum ada seorang petobat. Karena itu, ketika dewan perkumpulan mengumumkan dalam pesan penahbisan, hal ini disinggung: “Tetapi belum ada seorangpun petobat di Cianjur, mungkin seseorang bertanya, untuk apa ini dibangun? Saudara-saudara telah memiliki sebuah rumah ibadah. Kesempatan untuk mendengar khotbah Injil sekarang terbuka bagi orang-orang Sunda, sebab Firman Tuhan tidak pernah kosong, dia berfungsi sebagaimana hujan dan salju, seperti yang Tuhan telah kehendaki pada waktunya. Semoga kita tidak duduk diam. Sekarang dengan satu kemauan dan doa yang sungguh-sungguh, bahwa Allah menaburkan khotbah firman-Nya dengan embun Roh Kudus, agar kita segera dapat senang dengan pesan gembira: “Buah sulung lahir di Cianjur.” Sungguh luar biasa, ketika dewan menuliskan keinginan ini, Hal itu sudah terpenuhi, tanpa orang-orang memiliki kecurigaan sedikit pun di sini. Kita mungkin melihat di dalamnya salah satu dari banyak konfirmasi tentang sabda Allah (Yes. 65:24): “Dan akan terjadi, sebelum mereka menangis, bahwa aku akan menjawab, sementara mereka masih berbicara, aku akan mendengar.”

                   Apa masalahnya? Sepuluh hari setelah penahbisan gereja, pada tanggal 18 November, jadi, saya mengetahui tentang orang Sunda, yang tinggal di lingkungannya, di kampung Nyalindung, seorang lelaki yang telah banyak berubah pikiran tentang masalah agama pada hari-hari terakhir; bahwa dia tidak lagi menaati doa-doa Islam yang ditentukan, dan mengklaim bahwa ajaran Islam telah meninggalkan manusia sebagaimana adanya, tidak memberinya ketenangan pikiran, dan tidak dapat mempengaruhi pikiran. Dia mengalami pertengkaran dan perselisihan tentang masalah ini, tetapi dia tidak dapat mengubah pikirannya dan biasanya akhirnya menambahkan penghinaan kepada dirinya sendiri. Dalam pencarian dan pertanyaannya, dia juga melakukan kontak dengan ahli bahasa saya, yang telah memberi tahu dia tentang apa yang dia dengar dari kami tentang Tuhan Yesus, tetapi dia sendiri tidak bisa menunjukkan jalan yang baik kepada tetangganya itu. Namun, dia menyarankan orang itu untuk bertemu saya, dan orang itu menyatakan dirinya siap untuk melakukannya. Segera setelah saya mendengar hal ini, keinginan saya untuk melihat dan berbicara dengan orang itu sangat bersemangat. Namun, harapan saya tidak besar, terlebih berdasarkan pengalaman yang mengecewakan di masa lalu. Ketika ditanya apakah saya bisa menerimanya, saya bertanya (saat itu hari Rabu) apakah dia akan datang pada Jumat malam; berpikir, “Lalu dia juga bisa menikmati bulan terang.” Namun, harapan saya jauh melebihi dalam hal ini. Karena apa yang terjadi?

                   Keesokan harinya, sekitar tengah hari, berbarengan dengan mengunjungi sekolah anak perempuan saya dan rijsttafel, saya dan istri mengunjungi keluarga Albers, di mana itu adalah hari ulang tahun anak-anak. Ketika kami kembali dari kunjungan itu, kami melihat seorang Sunda berpakaian sederhana namun rapi, duduk di depan rumah kami di bawah sinar matahari yang berkilauan. Ini ternyata adalah orang kami dengar itu. Dia tidak menunggu selama berjam-berjam, tampaknya karena keinginan untuk berbicara dengan kami, dan tidak menemukan kami di rumah pada jam sebelumnya. Dan karena dia tidak mau menunda kunjungannya. Dia menghadap kami di panas sore yang cerah dan menunggu kami kembali. Walau nampak tergesa-gesa tapi hal itu menyenangkan, namun dia tidak mengatakan apa-apa tentang niatnya, dan – seperti yang saya katakan – dari pengalaman sebelumnya saya tidak dapat membayangkan bahwa niat itu murni bersifat spiritual. Sementara itu, ketertergesa-gesaanya dan jam yang tidak biasa dari kunjungan itu membangkitkan rasa ingin tahu kami: Kali ini kami makan dengan cepat, agar pengunjung kami tidak terlalu lama menunggusaya dengan senang hati akan meninggalkan makanan tengah hari untuknya!

                   Saat itu jam setengah satu sore ketika kami berdua menetap di ruang belajar saya, dan pembelajaran kami belum berakhir sebelum jam 3. Biarkan saya memperkenalkan pengunjung saya kepada anda semua. Saya mencoba menggambarkan pengunjung saya seakurat mungkin. Bayangkan: seorang pria berwarna gelap, tidak bertubuh tinggi, sekitar 45 tahun, dengan dahi tinggi, tulang pipi agak berkembang, mata lembut, serius, wajah tanpa jenggot, rambut panjang diikat dengan simpul di bagian belakang kepala, ditutupi dengan jilbab; seorang lelaki dengan penampilan bagus dan kokoh, mengenakan pakaian Sunda dengan sarung atau rok dan linen putih, sampai ke pinggang. Kebetulan, seorang pria yang beradab dan sopan.

                   Segera untuk mencari tahu tentang agamanya, saya berkata kepadanya: “Anda disebut Ismail. Itu adalah nama Islam. Orang Islam mengatakan bahwa mereka menganut agama Ismael, dan itu benar. Bagaimana menurut Anda? Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya hanya datang untuk mencari tahu apa jalan keselamatan itu. “Saya kemudian menanyai dia lebih dekat tentang apa yang telah saya dengar di hadapannya, dan kemudian belajar dari dia bahwa dia memang mengalami perasaan ketidakpuasan, dan bahwa dia telah memikirkan dengan serius dasar-dasar agama Muhammad. Dia sebelumnya telah mengikuti dasar-dasar ini dengan cukup setia, tetapi sekarang, dengan serius, dia telah menemukan bahwa mereka memiliki sedikit nilai untuk hati dan kehidupan. Para pemeluk agama Islam menyelidiki signifikansi dan kegunaan dasar-dasar itu, tetapi tidak ada yang memberinya jawaban yang memuaskan, semuanya telah mengatakan bahwa kepatuhan terhadap perintah-perintah itu dibebankan pada manusia di sini dan di masa depan menjadikan keselamatan sebagai bagian. “Tetapi” – Dia beralasan – “Jika itu benar, maka harus ada bukti tentang ini dalam kehidupan ini; Maka orang-orang yang menggapai ajaran Islam harus memiliki keamanan keselamatan: maka mereka harus mengistirahatkan hati mereka dan menjadi orang-orang suci. Saya melihat, di sisi lain, bahwa tidak ada perbedaan antara mereka yang taat ajaran Islam dan mereka yang tidak mentaatinya; yang pertama melakukan dosa dan yang kedua; yang pertama sama takutnya dengan kematian dan keabadian seperti yang terakhir, dan tidak ada perbedaan esensial untuk dilihat antara mereka yang mematuhi perintah Islam, dan tidak mencapainya.

                   Alasan yang masuk akal ini, yang sangat mengherankan saya tentang orang Sunda ini, dan tidak sedikit penampilan tamu saya ini menunjukkan keseriusan yang dalam, mendorong saya untuk menyelidiki lebih jauh. Karena itu saya bertanya kepadanya bagaimana ia bisa berpikir tentang agama dengan cara ini. Dia menjawab, “Yang terbaik adalah aku memberitahumu semua yang telah terjadi padaku.” Dia kemudian dengan tenang menceritakan dan mengatur apa yang telah dia alami dalam beberapa hari terakhir, yang intinya adalah sebagai berikut:

                   Pada hari Sabtu, 31 Oktober (1868), dia duduk di sore hari di barisan depan rumahnya yang sederhana, merefleksikan pengalaman hidupnya, yang pahit. Setelah pergi ke Batavia ketika masih muda, ia bekerja bersama orang Eropa yang hidup dalam dosa. Suatu pagi dia kehilangan arlojinya dan menuduh pelayan barunya mencuri itu. Pelayan itu menyangkal dan terus menyangkal, tetapi tetap saja dihukum, meskipun tidak ada bukti bersalah yang ditemukan. Setelah hukuman penjara, ia kembali sakit dan malu ke kota asalnya.

                   Dia tinggal di sini mulai sekarang. Ia menikah, sedang mencari cara hidup, cara hidup seperti Islam atau Islam. Namun, dia juga tidak mudah melakukannya; Sebaliknya, banyak kesulitannya. Demikianlah tahun-tahun berlalu tanpa banyak sukacita, tetapi dengan banyak kesedihan. Ketika dia memikirkan hal-hal ini dengan hati yang berat, dia tiba-tiba mendengar suara yang datang dari atas dan memanggilnya dalam bahasa Sunda “Maneh geura beberesih! Mengke tiloe poe deui kami akan tjalik ka maneh! ” Yaitu, “Reinig (Bebersih!)” Dia mendongak, tetapi tidak memperhatikan siapa pun. Segera dia masuk dan memerintahkan istri dan pelayannya untuk mengadakan penyambutan besar, karena akan ada kunjungan dalam tiga hari. “Siapa itu?” tanya istrinya. “Aku tidak bisa mengatakan itu,” – dia menjawab – “tetapi ini dan itu telah diucapkan kepadaku.” Setelah menceritakan kejadian itu kepada istrinya, dia segera pergi bekerja dengan pelayan, meskipun dia tidak mengerti semuanya. Rumah, perabotan, halaman di sekitar rumah – semuanya berubah.

                   Hari-hari berikutnya dihabiskan dalam ketegangan. Sabtu dan Minggu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang istimewa terjadi. Selasa pagi barulah bermula serangkaian pertemuan. Pada jam 7 (Ismail kemudian mencatat hari dan jam) ia menemukan burung yang sangat cantik dan langka di jalan; dia membelinya seharga 50 sen dan membawanya pulang, rupanya untuk tujuan takhayul. Pada malam Kamis hingga Jumat, bermimpi tentang mayat-mayat. Jumat pagi, duduk di halamannya lagi, dia melihat seekor burung gagak mendekat dari Timur, dengan sebutir telur di mulutnya, yang dengannya dia duduk di kursi bambu (batang bambu, tumbuh dari akar). Ismail mengambil telur itu dan membawanya ke istrinya. Pergi ke sana lagi, dia menemukan ada 515 hal bulat, dari jenis yang sama, agak seperti kacang, tetapi sama sekali tidak dikenalnya. Pada sore hari dia melihat satu di halamannya dan ketika dia menggali tanah di sana dia menemukan seorang ratu rayap (ratu dari sarang semut putih). beberapa jam kemudian dia mendengar suara lain berkata kepadanya, “Gali di sisi utara.” Ketika dia melakukan ini, dia menemukan sesuatu yang hebat seperti umbi, dan rebung direndam di dalamnya sehingga tidak bisa dilonggarkan. Pada malam Jumat hingga Sabtu ia kembali bermimpi bahwa ia melihat cahaya yang indah. Dia bangun, dan ketika dia keluar, dia melihat pohon rambutan di halamannya bersinar dengan cahaya yang sangat terang sehingga dia bisa dengan jelas membedakan setiap daun. Keesokan harinya, Sabtu, dia hanya melihat hal-hal indah. Pada malam Sabtu hingga Minggu ia bermimpi menemukan batu-batu berharga yang indah, dan ketika ia mencari di pagi hari di bawah pohon rambutan yang disebutkan di atas, ia menemukan di sana beberapa benda dengan warna berbeda, agak menyerupai batu-batu berharga. Dia mengambilnya pada Minggu sore. Dia mendengar suara berkata, “Gali di bawah pohon rambutan.” Dia melakukan ini bersama pelayannya, yang menemukan petir di tanah.

                   Dari semua hal itu, ditemukan dalam beberapa hari, hal-hal yang Ismail tidak mengerti. Oh, dalam keadaan biasa dia akan memiliki begitu banyak. Tetapi sekarang setelah dia berada dalam ketegangan yang begitu gugup dan sedang menunggu sesuatu, hal-hal ini, betapapun tidak signifikannya dirinya, sangat berharga baginya. Sekarang sudah menjadi sifat orang Sunda, untuk menyebut segala sesuatu yang dia tidak mengerti dengan nama aheng, kita berkata, “Luar biasa, supernatural”; dan dia selalu cenderung menyembah hal-hal yang disalahpahami seperti itu. Bagaimanapun, ia adalah seorang Muslim, dan keislamannnya sama sekalitidaklah buruk, tetapi dalam hati dan jiwa ia juga orang bukan Yahudi, sama baiknya dengan, misalnya, orang Dayak dan Timor.

                   Hal-hal sama sekali tidak bernyawa baginya; oh tidak, mereka masih hidup; mereka adalah tempat tinggal rohnya; dan untuk sesuatu yang indah, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang baginya memiliki kekuatan atau pengaruh, dia merasakan ketakutan yang penuh rahasia, dan tanpa sadar dia kemudian datang untuk membayar kehormatan agama untuk melindungi dirinya dari pengaruh itu dan seharusnya memilih mendukungnya, sehingga ia mungkin tidak dirugikan, tetapi sebaliknya kebaikan akan menyusulnya. Sesuai dengan sifat asli orang Sunda itu, Ismail karenanya sangat menghargai “Harta Karun” -nya. Sejauh ini, dia mengumpulkan apa yang temukan dalam ukuran besar, mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya dari korupsi. Kemudian dia berkeliling lingkungan, melaporkan pengalamannya kepada orang-orang ini dan orang lain dan meminta penjelasan. Namun, tidak ada yang bisa membantunya; tidak ada yang dipahami dari suara-suara itu, juga tidak ada yang bisa memberitahukan kepadanya tentang apa yang temukan. Beberapa orang berbicara untuk menertawakannya, sementara yang lain mengira dia gila atau bahkan kesurupan. Namun, dia bersikeras bahwa dia benar-benar mendengar suara-suara itu dan terus mencari penjelasan. Sementara itu, ketenangan pikirannya tidak membaik dan kesehatannya terasa sangat buruk. Penampilannya – kata mereka yang berinteraksi dengannya – telah berubah; dia tidak lagi sama. Dalam situasi seperti itu dia bertanya kepada ahli bahasa saya yang disebutkan di atas, dan sekarang dia duduk di sana untuk berbicara dengan saya dan, setelah bercerita tentang pengalamannya, bertanya apa yang saya pikirkan tentang masalah ini.

                   Saya menjawabnya bahwa tampaknya sama sekali tidak perlu menjelaskan suara itu adalah sebuah imajinasi, karena sering bahwa Allah segera menyatakan diri kepada orang-orang yang tidak mengetahui Firman-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya , kepada mereka Allah menunjukkan belas kasih-Nya dan menuntun jiwa mereka untuk bertobat. Saya mengatakan kepadanya untuk percaya bahwa mungkin benar bahwa suara seperti itu datang kepadanya, tetapi dia tidak memahami artinya. Tentunya tidak mungkin niat Allah bahwa ia hanya membersihkan keluaraga dan barang-barang rumah tangganya; tidak diragukan lagi Allah terutama ingin menyucikan diri dia dari dosa-dosanya dan memasukannya menuju jalan keselamatan. Dia mendengarkan dengan penuh minat kata-kata saya, yang terbukti sesuai dengan pertimbangannya sendiri sebelum suara itu datang kepadanya. . Saya berbicara tentang khotbah penebusan yang diucapkan dan terselubung, yang diberikan dalam Tuhan kita Yesus Kristus, putra Allah, yang namanya kudus yang sekarang dia dengar diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Secara umum, Islam memiliki keraguan serius tentang Injil sebagai Kitab Suci. Secara khusus, mereka  berkhotbah: “Keselamatan tidak lain, karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan di antara manusia yang dengannya kita harus diselamatkan”. Sedangkan pelanggaran bagi mereka adalah pernyataan bahwa Yesus adalah ” Anak Allah ” ini adalah kebodohan bagi mereka, yang umumnya mereka ingin mengolok-olok dengan bertanya: “Bagaimana bisa Tuhan memiliki Anak, karena dia tidak punya istri?!” Tidak demikian halnya dengan Ismail. di sisi lain ; Mendengar kabar gembira itu, ia gemetaran karena kesengsaraan, dan air mata membasahi pipinya ketika saya berbicara kepadanya tentang dosa dan rasa bersalah, tentang rekonsiliasi dan keselamatan. Terpukul karena rasa bersalah dan haus akan kedamaian dengan Allah, meneguk hingga penuh darus keselamatan. “Tidak ada yang berbicara padaku seperti itu!” dia berseru. “Tapi” – dia bertanya setelah beberapa saat – “bagaimana dengan benda-benda yang telah kutemukan?” Saya ingin melihat mereka terlebih dahulu. ” Dia pikir itu ide yang bagus, dan atas permintaannya aku berjanji akan mengunjunginya malam itu juga. Kami melanjutkan pembicaraan kami selama beberapa waktu, dan kemudian dia pulang dengan wajah cerah.

    Menjelang matahari terbenam aku berjalan ke rumahnya sebagimana janji sebelumnya. Ini tampak seperti semua rumah sederhana di daerah Sunda: gaya kayu, dinding dari bambu yang dikepang dan atap rumah menjadi yang utama di halaman depan. Ini memberikan akses melalui pintu ke ruang dalam, yang dapat dibagi dengan gorden atau partisi, dan di mana ruangan memiliki jendela kecil di masing-masing dari dua dinding samping tanpa kaca. Ruang dalam mengarah ke koridor belakang, tempat piring memasak biasanya berada.

                   Saya disambut hangat oleh Ismail dan istrinya, Moerti. Tentang istrinya, satu kata. Dia adalah wanita Sunda sejati, bertubuh pendek dan agak kurus. Dia mungkin beberapa tahun lebih muda dari suaminya, tetapi sulit untuk secara akurat menentukan tahun-tahun di antara penduduk asli pada usia tertentu, karena tidak ada catatan sipil untuk Penduduk Asli dan mereka yang berasimilasi dengan mereka dan terkait tahun kelahiran, dll, juga. tidak ada penjelasan. Tidak ada yang tahu kapan hari ulang tahun seseorang, jadi tidak pernah ada hari ulang tahun. Oleh karena itu, tidak ada yang tersisa selain memperkirakan perkiraan usia, yang telah kami lakukan dalam kasus ini. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang penampilan Moerti. Potret dirinya tidak ada, karena alasan di atas. Dia adalah wanita yang sederhana, dengan mata jernih dan hidung yang dipotong. Dia mengenakan cara perempuan Sunda kelas rakyat, dengan sarung yang sampai ke pergelangan kaki dan kain linen yang sampai ke lutut. Ketika seorang wanita Sunda turun ke jalan, dia menngalungkan slendang atau sling panjang di pundaknya, tetapi di rumahnya pakaiannya hanya terdiri dari dua potong: sarung dan linen, agar terasa hangat di rumah, kemudian dia mengaitkan dengan sepotong sarung, yang kemudian harus ditarik ke ketiak. Selain Moerti sangat sederhana dan sangat sopan. Hal ini karena sikap yang baik adalah bawaan untuk menikah dengan orang Sunda, dan banyak anak, bahkan banyak orang dewasa, akan dapat belajar hal-hal baik dari orang Sunda yang jauh kurang terdidik dalam hal ini.

                        Ketika saya memasuki rumahnya, saya menemukan segala telah tertata seperti halaman yang dibersihkan dengan hati-hati. Di ruang dalam, kursi pinjaman telah siap untuk saya. Penduduk asli terbiasa hanya duduk di lantai, di atas tikar yang dikepang, tetapi jika orang Eropa datang untuk mengunjungi penduduk asli dan kunjungan itu telah diumumkan sebelumnya, ia akan mencoba meminjam kursi, karena kita sudah terbiasa untuk duduk ketika sedang bekerja. Setelah saya mengambil tempat duduk saya dan orang-orang yang hadir (paling penasaran tetangga) berkumpul di sekitar saya, saya melihat sekeliling dan memperhatikan baskom yang disebutkan di atas, yang ditutupi dengan kain putih dan berdiri di lantai. Saya bertanya kepada Ismail, “Apakah yang anda temukan, dan bolehkah saya melihatnya sekarang?” Setelah memberikan jawaban yang meyakinkan untuk pertanyaan itu, Ismail dengan penuh hormat mendekati mangkuk itu sebagaimana seorang imam mendekati altarnya, sementara dia mengambil bajunya. Mata semua yang hadir beralih ke misteri yang tersembunyi di bak itu, dan benda-benda yang terkumpul di bak itu, yang telah ia campur dengan minyak dan rempah-rempah untuk memadatkannya, sekarang ditunjukkan kepada saya satu per satu, dan sejauh yang saya tahu mereka mengatakan saya apa itu. Ketika semuanya telah ditunjukkan kepada saya, Ismail bertanya kepada saya; “Dan apa pendapatmu tentang hal-hal ini sekarang?” (Bersambung Bagian 3)

  • Mendefinisi Ulang Pengertian Sejarah

    Mendefinisi Ulang Pengertian Sejarah

    Rendy Kurniawan          

    Apa itu Sejarah? Apa yang akan kita jawab jika menemukan pertanyaan semacam ini? Beberapa mungkin akan menjawab,”sejarah sesederhana peristiwa masa lalu”. Sebagian lain yang mungkin menguasai literasi sejarah dalam tingkat tertentu akan berkata,”sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang memiliki Batasan ruang dan waktu”. Namun, apakah definisi tersebut merefleksikan definisi sejarah secara utuh? Kita mungkin sepakat bahwa fungsi dari sejarah sebagian besar mengajarkan kita untuk belajar dari masa lalu untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, akan tetapi bagaimana dengan definisi sejarah itu sendiri?

                Tulisan-tulisan sejarah yang dihasilkan oleh banyak ahli sepanjang waktu, secara tidak sadar, merefleksikan sebuah definisi sejarah. Secara tidak langsung mereka mengaplikasikan apa yang mereka pahami tentang arti sejarah lewat tulisan-tulisan yang mereka produksi. Dengan kata lain, karya-karya sejarawan telah mewakili apa yang mereka pahami tentang sejarah. Artinya, ketika kita atau mereka berusaha untuk menjawab, “Apa itu sejarah?” jawabannya, sadar  atau tidak sadar, merefleksikan posisi kita dalam dimensi waktu tertentu. Kita tidak mungkin menjawab definisi sejarah sama seperti orang Yunani kuno ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama, begitu juga sebaliknya.  

                Di masa klasik, ketika keilmuan masih berporos pada Yunani hingga Romawi, sejarah didominasi oleh legitimasi politik dan cenderung mengesampingkan fakta. Berbagai karya sejarah pada masa ini berfokus kepada peristiwa perang atau kisah kebesaran seorang penguasa atau orang besar dengan dibumbui oleh berbagai mitos.(Marincola, 2007) Misalnya pada masa Yunani, Herodotus yang dikenal sebagai bapak sejarawan, menuliskan kisah peperangan antara Persia dan Yunani. Selain itu, pada masa Romawi, selain menulis kronik keberhasilan penaklukan di berbagai daerah, Julius Caesar sang kaisar Roma menulis sebuah otobiografi dengan berbagai kebesarannya yang entah benar atau tidak.(Hengst, 2010) Hal yang sama berlaku ketika penulisan sejarah berjaya di masa perkembangan Kristen di Eropa. Mereka menganggap bahwa sejarah merupakan bagian dari doktrin agama. Hal ini membuat karya-karya sejarah di masa ini penuh dengan dogma-dogma gereja. Salah satu contohnya adalah karya dari Augustinus sang Santo yang menulis The City of God. di dalamnya, kita akan melihat sebuah pergulatan antara kebaikan dan kejahatan di dalam arus sejarah, suatu titik balik bagi penulisan sejarah di masa Kristen awal.(Patrides, 1972)

    Pada konteks penulisan sejarah Islam, karya-karya mereka juga menggambarkan konstelasi politik di masa awal perkembangannya. Misalnya, Ath-Thabari di abad ke-9 menulis sebuah karya monumental berjudul Sejarah Kerajaan dan Pemimpin-Pemimpin yang memaparkan bagaimana peperangan di kerajaan Islam klasik dan juga deskripsi ketika beberapa masa pemerintahan khalifah.(Rosenthal, 1968) Begitu juga di Indonesia, meskipun memiliki dimensi waktu yang mungkin sedikit berbeda, catatan-catatan tentang sejarah tertua di Indonesia berisi legitimasi terhadap raja-raja untuk memimpin. Melihat semua ini, ketika kita hidup pada masa ini, mungkin kita akan berpendapat bahwa sejarah adalah tentang perang dan keagungan seorang raja.

    Gambar 1. Infografis

                Berkaca dari kekeliruan yang banyak dihasilkan oleh sejarawan terdahulu karena banyaknya mitos dalam tulisan-tulisan sejarah, abad ke-19 dikenal sebagai sebuah zaman bagi kekuatan fakta. Aliran abad ke-19 ini didorong oleh Leopold Von Ranke pada tahun 1830. Ia mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah ‘menggambarkan bagaimana peristiwa terjadi’ (wei es eigentlich gewesen). Nampaknya, pada abad ini hampir seluruh sejarawan benar-benar memiliki pendapat yang sama dengan Ranke.(Pim den Boer, Peter Bugge, 1993) Contohnya, dalam konteks Indonesia dalam arus sejarah, karya berjudul Sejarah Jawa yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19 cenderung mengandalkan kekuatan fakta di hampir seluruh isi bukunya. Buku yang berisi kondisi sosial dan kultural Jawa ini adalah sebuah refleksi dari bagaimana orang-orang di abad ke-19 memahami sejarah. Dapat ditarik kesimpulan bahwa para sejarawan pada abad ini memahami sejarah sebagai kumpulan fakta semata. Mereka harus menjelaskan sebuah peristiwa dengan rinci lewat fakta yang mereka temukan.

                Berbeda halnya dengan apa yang kita temukan beberapa dekade setelahnya. Pada awal abad ke-20, sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sejarah adalah alat untuk melihat masa kini. Croce berpendapat bahwa tugas sejarawan bukanlah untuk mendeskripsikan masa lalu, melainkan mengevaluasi. Sejalan dengan Croce, pada tahun 1910, Carl Becker dari Amerika berpendapat bahwa karya sejarah itu tidak ada hingga seorang sejarawan mengangkatnya dalam sebuah karya. Artinya, pada abad ini banyak karya sejarah yang hanya mencantumkan fakta-fakta tertentu dan menggambarkannya sebagai sebuah narasi sejarah yang utuh.(Carr, n.d.) Dengan kata lain, karya-karya pada abad ke-20 nampak penuh dengan interpretasi sejarah. Contohnya, Ferdnand Braudel menulis sejarah Mediterania di masa Raja Phillip II. Meskipun fakta yang disajikan terbatas jika dibandingkan karya-karya sejarah abad ke-19, ia mengandalkan interpretasi sebagai poros dari karya sejarahnya. Sejarawan Indonesia di periode ini nampaknya melakukan hal yang sama. Contohnya adalah Sartono Kartodirdjo dengan karyanya berjudul Pemberontakkan Petani Banten.

                Melihat definisi sejarah dari abad ke abad, bagaimana dengan kita yang hidup di abad ke-21 ini. Apa definisi sejarah pada abad ke-21? Apa yang menjadi ciri khas dari karya sejarah abad ini? Nampaknya kita butuh waktu beberapa dekade lagi untuk menjawabnya.

    Sumber Rujukan :

    Carr, E. H. (n.d.). What is History.

    Hengst, D. den. (2010). Emperor and Historiography. Brill.

    Marincola, J. (2007). A Companion to Greek and Roman Historiography. Blackwell Publishing.

    Patrides, C. A. (1972). The Grand Design of God : The Literary Form of the Christian View of History. Rouletdge.

    Pim den Boer, Peter Bugge, O. W. (1993). The History of The Idea (K. Wilson (ed.)). The Open University.

    Rosenthal, F. (1968). A History of Muslim Historiography. Brill.

  • THE CAPTIVATION OF NATURAL TOURISM DESTINATION: BANDUNG in COLONIAL PERIOD

    THE CAPTIVATION OF NATURAL TOURISM DESTINATION: BANDUNG in COLONIAL PERIOD

    By : Daniel Kasputra

    The fame of Bandung was undeniable for itscity planning and nature during colonial time, and Dutch living in Bandung called it as Parijs vaan Java to show how this city was well-organised, beauty and fresh. Both his advantages lead its position as one of leading city to be visited during colonial tim. Taking only few years with the help of Bandoeng Voorouit, the city was visited by many people amd it become modernised.

    Its main destination located in two natural sources surrounding the city, mountains and hills. This two were the favouriteamong the visitor. Most of them spend pg their time on visiting many places provided by this blessing land. In tur, Bandung was one of leading in itsnatural tourisme destination.

    This article will, briefly, highlightmountains and hills in Bandung as main sites for natural tourisme in Bandung during the rarly twenty century.

    1. Gunung Tangkuban Perahu

    Located in the northern part of Bandung, Takuban Perahu was the most visited places among other place in Bandung. Its accessible andreachable location was the key elemnt making this place as favourite. More than just easy to access, the diversity of its sites was other point to attract peopple to visit, especially its number of volcanic craters and hot water bathing that was also scattered surrounding them. Mooi Bandoeng (September 3, 1934:45), one of tourism magazine at the tim, mentioned five beautiful craters was their natural scenery in Septmber 3 1934. They were Upas, Ratu, Djoerig, Siloeman, Djarian, and Ecoma craters.

    Hot bathimgwater was also favorite, many of tourist from Europe and Japan, searched for its benefit for its efficiency from the sulphur water andits relaxing experiences. Here Mooi Bandoeng (January 7, 1936: 104) mentioned Kampung Tjikidang was one to be mentioned from many places as such.

    Picture 1. THE CRATERS OF TANGKUBAN PERAHU. All over the plateu Bandung, Tangkuban Perahu craters had been considered as favorite destination of Bandung natural Tourism. In this image, Tangkuban Perahu Craters about 1930s with its exotic white surface.
    Ciwidey

    Source : Leiden University Libraries Digital Collections

    Picture 1. THE CRATERS OF TANGKUBAN PERAHU. All over the plateu Bandung, Tangkuban Perahu craters had been considered as favorite destination of Bandung natural Tourism. In this image, Tangkuban Perahu Craters about 1930s with its exotic white surface.

    • Ciwidey

    At the same time from Mooi Bandoeng Magazine to De Gids Midden Priangan, we knew that Ciwidey was the most favourite for tourist providing beautiful and exotic panorama of mountain. And of all those beautiful panorama’s most recomended was the tourism to Kawah Putih. The place lies in an area that formed exotic volcano circle with white sulphurs (Mooi Bandoeng, March 9, 1935:12). The place also provided abundant hotels as well as pasanggrahan that was supported reachable access.

    • Pengalengan

    Its passanggrahan was private dan built for his own Ciwidey. It located in remote area of northern Bandung. So there was no people acknowledge this. However the more people know this place, the more people visit like Ciwidey, Pangalengan provided tourists with a landscape of mountain covered with the green and fertile tea estates. But as other mountain destination in Bandung Plateau, volcanic craters still was important natural tourism destination which offered warm and exotic white sulphur . As we could see the guide book of Tourism ” De Gids Bandoeng en Midden Priangan” (Hoogland, 1926:65) displayed a guide of travels to Kawah Wayang, as we saw this below

    Van Pangalengan volge men den z. g.  Syndicaatsweg tot 1,5 K. m van dat dorpje het ravijn der Tjibeureum, is overgetrokken. Een goede autoweg 4 K. M lang,  voert van hier naar de kinaonderneming Kertamanah, welke onderneming men ook van Tjinjiroean uit kan bereiken, en wel langs de onderneming Tjibeureum met haar bekende warme bron en oude nog door Junghuhn geplannte kinaboomen. Vanaf den eerstgeneomden weg naar Kertamanah heeft men het uitzicht op den scherpgeteekenden Gamboeng, Goenoeng Bedil, Wajang en Windoe, welke in de vlakte vooruitspringen.

    After the Wajang Crater, there was also a beautiful place. The name of place was Talaga Patenggang. When Reitsma published his work in 1927 (Reitsma, 1926:47), the place offered the beauty of its little island as well as the swimming tourism. We had heard that a little island on the central of lake where Junghuhn stayed and wrote a most of his work “Licht en Schaduwbeelden” was its most predominant tourism destination. Meanwhile in the second place was that tourists was also permitted to swim on the side which had the depth about 5 m (Hoogland, 1926:79).

    Picture 3. Of all the favorite tourism spots of Pangalengan that scattered between Patuha mount and Wayang mount. None is more favorite than Talaga Pategang. It was volcano lake formed by an old-eruption.

    Source : Source : Leiden University Libraries Digital Collections
    • Gunung Papandayan

    Some place that promoted and designed to be tourism spot was Gunung Papandayan. Presiding in the Southern of Bandung plateau, this place was recommended by Bandoeng Vooruit as other destination. This organization moreover facilitated by build way and access to the mountain in 1930 to 1936 (Mooi Bandoeng, February, 1936:113). Accordingly Kawah Papandajan come to the list of tourism destination.

    Picture 4. Papandayan Mount. Pictured here in the 1930s, is today more famous as the tourism landmark of a small town, Garut. But from 1935 to 1942 this was the main and favorite natural tourism destination of Bandung. One of the natural tourism landmark Bandung after Tangkuban Perahu mount.

    Source : Leiden University Libraries Digital Collections

    • Curug Dago

    By the middle of the twentieth century, its cool and beautiful pictures of Curug Dago appeared on tourism magazines and tourism guiding books.  As we could saw in the Mooi Bandoeng (June, 1934:187) the place in the Korte Berichten column. The columns contained a brief and interesting description the place which initiated its description with a guide of travels and ended with the material origin of the waterfall. To be more clear, we could read the above notes on the below description

    Picture 5. Curug Dago between 1920 and 1930.

    Sources : Source : Leiden University Libraries Digital Collections

    Tot de kleine, maar aardige en de moeite loonende uitstapjes, welke van Bandung van Bandoeng uit te maken zijn, behoort ongetwijfeld een tocht naar de Dago waterval. Wandelende doet men er een drie kwartier over en met de auto is het slechts een minuut of tien tot het theehuisje Dago”, van waar men dan, te voet, in enkele minuten bij de val kan komen. Een idyllisch plekje om wat tijd in een dolce far niente zoek brengen. De Dago Waterfall (ongeveer 820 m. Boven zee) wordt gevormd door een andesietlavastroom, welke van de Tangkoeban Prahoe afkomstig is. Dit andesiet gesteente is zeer hard en het water der Tjikapoendoeng is nog niet in staat geweest om het door te knagen en valt daarom over enkele 10 tallen meters naar beneden

    • Gunung Manglayang
    Picture 6. Manglayang Mount appeared in Mooi Bandoeng, a tourism magazine that was published 1930s.

    In the far corner of the Bandung plateau, an old string of Ujungberung’s hillness streched across the Daendels Post-Weg which connected Bandung with the low northern coastal cities of Java. There Gunung Manglayang take a seat as one of the natural tourism destination in Bandung. Though the place was seemly unfamiliar than Pangalengan and Ciwidey or Tangkuban Perahu. But in Mooi Bandoeng (January, 1936:105) it offered a climbing tourism which initiated its route in Tanjung Sari and Cipadung.

    Conclusion

    Far from being imagined, Bandung in era colonial rapidly developed from a remote hilly and montainous city in Priangan plateau to a modern natural tourism city. Its destinations was best and fame with mountains and hilness surounding it as the main source of its offered captivation. From the full-mystical and beautiful Tangkuban Perahu to the tea covered green Ciwidey those were the most visited. No wonder Europeans remembered as Parijs van Java.

    Hoogland, W. H & S. A. Reitsma.  Gids van Bandoeng Midden Priangan. Bandoeng:Vorkrink, 1926.

    Reitsma, S. A. Bandoeng:The Mountain City of Netherlands Indies, 1926.

    Mooi Bandoeng, June 1934.

    Mooi Bandoeng, March 1935

    Mooi Bandoeng, January 1936

    Mooi Bandoeng, September 1936

  • The Special-Purpose Travel (The old-tourism) in the Ancient Indonesia

    The Special-Purpose Travel (The old-tourism) in the Ancient Indonesia

    Danil Kasputra

    Perhaps historians, tourists, readers have long perceived that Indonesia tourism rooted to the twentieth-century colonial tourism. Most of them still refers to the concept of free time as one of the basic requirement for the development of tourism and point out that the middle of nineteenth century is the most apprioate time to consider the emergence of tourism as a modern-day phenomenon (2014:100). In the fact, it a was a full questioned perception. No one account that tourists did not exist back in the ancient times (2014:99). Much evidences of travels was made for various reasons and motives such as Trading,  power, etc. But due to the tourism term just was born when leisure developed in the capatilsm-era, so that lthe special-purpose travel was the precise name to mention this activities.

    The special-purpose travel in the ancient Indonesia are the subject of this article. In first part I displayed how trade related travels as one of the special porpuse travel (old-tourism)  activities in ancient Indonesia times. In the second part of this paper, I explains concern the travel made for a power. In fact, beside both example still were many special purpose-travel that made by Indonesian in the ancient times. But i was more focused to those two type based my own source.

    Travel for a trade

    Of the travelers that wrote its early name in the realms of Indonesia history, none is more old and important than merchants. As ancient greek merchants, Indonesia merchants were also the first who left or their own will (2014:100). Commercial motive was main motive with sea routes as a favorite for the safety and fluecny.

    Picture 1. Indonesian maritimes boats had travelled and sailed through sea less or more a millenium ago. (The images was an old-relief of magnificent Borobudur temples dates around the IX century).

    The earlier evindence of Indonesia merchants travel was beautifully carved on a old-exotic maritime boats relief of Borobudur temples that dates back around the 9-th century (1992:200).  Unfortunately, no one knows how far ancient Indonesia had sailed. The remained evidences was a few that was on the hand. However, at least, we knows that around a millenium ago, ancestor had travelled and seemly taken part in the international-comercila traffic. As Herman Burger (2011:1) storied in his work De Garoeda en De Ooievar  that “…..waren er ook zeevart en handel een belangrijke inkomsten vormden. In de loop van de eeuwen ontwikkelde zich een levendig handelsverkeer, zowel binnen de archipel als met andere delen van Azie, zoals China, India en Perzie…. “

    From the Portugues, far in the early of the sixteenth century, the tight veil of darkness how far the Indonesian travel little by little opened. Summa Oriental, one of monumental work written by a Portuguese apothecary, Tome Pires (1990:50) that reported us that there is much Indonesia merchants in the Portuguese occupied port of Malacca, “…….men of Tanjompura, Laue, Banka, Linga, Moluccas, Banda, Timor, Madura, Java, Sunda, Palembang, Jambi, Tongkal, Indrangiri, Kapatta, Menangkabau, Siak, Arqua, Aru, Bata, country of Tomjano, Pase, Pedir, Maldives… “.

    In the Pires’s Account formed a clue : first, the existence of Indonesian in the Portueguse malacca port, gives us a impression that Indonesian merchants in the sixteenth centuries had travelled and accrossed sea as far as Malacca. The second, a wonderful impression appeared concerned the Indonesia merchant’s travel that made them taken part in global trading-traffic in the sixteenth century.

    In the same time, river’s route enjoyed a great advantage. Their was well deserved a intermediatery between crowded and advance coastal Javanese area and mysterious Javanese hinterland. Merchants of the 15th century would like to travel by the route. Demak in the early of fifteenth century, a rich capital and harbor of Demak Dynasty was a most representative example about how river played a dominant role in traffics of goods and merchants (1974:35).

    Travel for a power

    It is a commonplace that as early as times Indonesia made a travel for the search of a power. We found in Babad Tanah Jawi, a book of javanese-kings chronic that appeared in the early of the seventeenth century that there are two purpose how then the travel made. The first was to search a new territory for the building of a new kingdom of Dynasty.  This is represented by the legendary story of Raden Fatah. Meanwhile, in the second place, was the purpose for a legistimation of power. The full-legendary and myhtical travel of the Islamic-Mataram ruler, Panembahan Senapati represented this.

    According to Babad Tanah Jawi, after years his service on a pious muslim saint or wali, Sunan Ampel,  the legendary Demak ruler, Panembahan Jin Bun or Raden Fatah before he rise on the throne. He married a dochter of the saint and set out towards the west to find a place that had the fragrant ground. The saint forecast that there the future-Dynasty of the price would be built, “Sesusah menikah, Raden Patah disarankan oleh Sunan Ampel untuk berjalan ke arah barat dan mencari tempat yang beraroma harum. Tempat beraroma harum itu bernama hutan bintara. Kelak hutan bintara itu akan menjadi kerajaan bernama Kasultanan Demak Bintara” (2013:72).

    On one side, this story suggests us that the travel purely was made for the purpose of building for a new territory, without a friction or conflict, whole seemed the peace. However, on other side, seen from the context of the 15th century, this travel reflected a struggle over the competence and power, more than filling a purpose to build a new land. Majapahit as the patron of Hindu-Budhist culture still existed. Although the Dynasty was on the critism when its subjects were especially the Northern-coastal rulers separates and converted to the Islam. Therefore, a conclusion appeared that the order of Sunan Ampel to Raden Fatah for the search of a new land was to build a land that in the future able to competence the old Majapahit. It was prove with events that occured in the later years.

    Meanwhile, in the second place was a purpose that reflected the travel for a legistimation of power. The story of myhtical travel of an Islamic-Mataram Dynasty ruler, panembahan Senopate in the middle of the sixteenth century represented this model. Babad Tanah Jawi told us that Senopati Ingalaga as he was callled in that book, and also the an ancestors of today Yogyakarta and Surakarta kings travelled to Parangtritis in the south of modern-day Yogyakarta. On top a holy rocky, he meditated and received a spiritual vision that was pictured by a beautiful goddess in the Javanese paints. Javenese tradition remembered an encounter Senapati with a Northern-ocean ruler, Kanjeng Ratu Kidu. The detailed description of his travel written this below,

    “…Dari Lipura, Senapati Ngalaga mendaki gunung Merapi. Dari Gunung Merapi, Senapati Ngalaga berjalan sendirian ke arah timur. Mencebur ke sungai Umpak (Opak). Melakukan tapa ngeli menuju tempuran Samudra Kidul. Di sungai itu, Senapati Ngalaga bertemu dengan naga Tunggulwulung. Melalui naga itu, Senapati dapat bertemu dengan penguasa Samudra Kidul. Sang Ratu Kidul yang menguasai para penguasa (raja) mahluk halus dari Gunung Merapi, Lodhaya, Kare, Waringinuwok, gunung Agung, gunung Prahu, Prabu, Dalepih, Kuwu, Baledhung, Kayulandheyan, Ngalrawalobang, Karang, Panaruban, Kabareyan, Gunung Lawu, serta Rawa Pening” (2013:118).

    Picture 2. Less or more five hunreds years ago, initiated by their ancestors, Panembahan Senopati. Islamic-Mataram kings made an annual fullfilled-mythical travel towards the Southern-coast. ( The images displayed an invisible encounter between a legendary ruler of Islamic-Mataram Dynasty, Panembahan Senopati and Southern-ocean goddess, Kanjeng Ratu Kidul in a Javanese pain).

    History and myth are often wonderfully interwinted. Although the travel of senopati was fulfilled a doubt with the myhtical flavors of the story. However, no one disproved that his travel to the northern coast was a true story. Even his descent followed his action and considered its an annual tradition of kingdom. Sultan Agung, Amangkurat I up to Diponegoro, a Yogyakarta prince in the nineteenth century that was considered as the repsentation of pious muslim prince, also made a annual travel to the Southern-Coastal.

    Concerned an encounter the king with the Southern Ocean ruler, Kanjeng Ratu Kidul. It seemly was a created intentionaly myth as a legistimation for the power. Kanjeng Ratu Kidung symbolised his loyalty of whole southern-ocean under Senopati as mentioned in the availaibility of Kanjeng Ratu to give his the help for the continuity of Senopati’s kingdom that in the same time was competing with the rich and proper Northern-coastal kingdoms such as Surabaya, Gresik, Tuban, etc. After from the competence with Northern coastal rulers, Senopati still continued to defend the new kingdom from raids of his ex-employer, Sultan Pajang.

    Conclusion

    What is described above seems to be an affirmation that the old-tourism or the special-purpose travel is multifaceted. There are many factors which contribute to the way different people define the special-purpose travel. Trading and power play a role in the stimulation of ancient Indonesia to travel that it becomes one of basis for the rise of Indonesia tourism in the future-years.

    Daftar Pustaka

    Hannigan, Tim. A Brief History of Indonesia. Jakarta. 2015

    Achmad, Sri Wintala. Babad Tanah Jawa. Jogjakarta. 2013

    Burger, Herman. De Garoeda en De Ooievar. Leiden. 2011

    Cortesao, Armando. The Summa Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco Rodrigues. 1994

    De Graaf and Pigeaud. De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Gravenhage. 1974

    Rubotic, Branislav. Special-Purpose Travel in Ancient Times:”Tourism” before Tourism. Belgrade. 2014.

    История Индонезии. 1992

  • Natural Tourism in Bandung 1925-1942

    Natural Tourism in Bandung 1925-1942

    By: Danil Kasputra

    The emerging of Bandoeng Vooruit in 1925 marked a turning point in the development of natural tourism in Bandung, for it provided a modern tourism management by building of road, hotel, promotion, etc. As result, it was during the period from 1925 to 1942 Bandung enjoyed prestige as one of most important destination in the colonial Netherlands Indies Empire, when thousands of Europeans Japanese and Australians tourists flown heavily to spend them days in the foggy and green mountains.

    This article examines the development of natural Tourism in Bandung from 1925 until 1942 following the collapse of the colonial Netherland Indies Empire in 1942. When Dai Nippon troops marched into Bandung, the center of empire, it was ending three hundreds and fifth years the horrible Dutch occupation. To understand how the natural tourism in Bandung rose and developed. We will explore these questions: (1) What Visiting Before Tourism gave a root on tourism, and what consequence came of its for the advance of Bandung natural tourism in tomorrow days? (2) How did the development of natural tourism in Bandung as long as seventeen years from 1925-1942?  

    Visiting Before Tourism

    West Java, before twentieth century, was unimaginable area due to its unaccessible. It was occurred because of its own mountains and hills mounted between limpid rivers as well as black swamps to separate the region from outside world. No wonder, the name Priangan was attributed which refers to remote and mountainous lands. Besides, the southern lands of Priangan almost uninhabited. According to one interpretation, the lands in the region had become wild and uninhabited. This recalled the social disruption following the fall and eventual destruction of the pre-colonial Hindu state of Pajajaran.[1]

    But in the end of sixteenth centuries, the world of West Java gradually changed in consequence of foreigner expeditions. It was a starting point in the natural tourism. And The Portuguese was pioneer. Although for next centuries, Dutch take control them role and it played important role in performance. The first adventurer of Portuguese visiting West Java was Joao de Barros In 1522. When he took part in a Portuguese Expedition under Henrique Leme sent by Jorge de Albuquerque, “Kapitan Malaca” for commercial. Expedition had succeeded to reach Sunda which was welcomed by Samiam, the King of Sunda.[2] When the fleet was at anchor in the port of Sunda. Barros immediately adventured to explor the part of North Coast of West Java. In adventure, Barros zealously made the narration of West Java condition including custom, geographies, society, etc,

    Yet, Barros  explored the part of North Coast of West Java and he hardly ever visited the interior of hilliness and mountainous West Java. After the advent of Barros, there were many Portuguese landed in West Java. But same as Barros, they preferred to explore the Northern Coast of West Java. However, for centuries the Southern part of West Java was still an unimaginable and forgotten area.

    In 1677 when Mataram as the ruler of West Java was more and more weak, the region was transferred to VOC. But this did not changed condition. West Java only that the Nothern Coast of West Java was still considered to be unavailable. Apparently, Dutch designedly forgot the region. For the lack of initiative knew to be further. Dutch only made the region as buffer state between two great power, the Sultanate of Banten which was still courageous on Western and on Eastern, the Sultanate of Mataram was more and more become old. But when Batavia was more and more stuffy, VOC began looking the interior of West Java as a solution. Some of Expeditions was sent. The first expedition was begun when Francois Valentijn, a VOC priest visited the interior of West Java. That was the early visit of Europeans to the interior of West Java. For years later, Valentijn narrated him experience by a book, Oud en Nieuw Oost-Indien in 1724.[4] Stories of Valentijn many described the statistic populations and geographical condition of West Java Interior. In narration, Valentijn phrased dessa dessa laid on Krawang river.

    One hundred years after the adventure of Valentijn, the other illustrations of West Java interior, we found from the story of  Charles Walter Kinloch or Bengal Civialian, a British visiting interior of West Java in 1852.[5] Kinloch narrated playfully him experience day in day out for ten days which made him narration to be more attractive than the predecessor, Valentijn who rigid. Kinloch described that Bandung was a beautiful place although it was not as wide as Cianjur. Its cold air and climate remembered him on the city of Montpelier in France. Kinloch enjoyed him travel. In visited places, he made lithographies which was one of Masjid Agung Bandung lithography. Kinloch wrote all of it with so delighting. Yet sometimes he was forget to call visited place names so that reader was ever so often made to be confused. Though him description was so detail. As example, the description about waterfall in Bandung,

    The Birth of Bandoeng Vooruit

    The adventurism narrations of Barros, Valentijn, and Kinloch had changed wild and frighten shadow of West Java interior replaced by a wonderful imagination of exotic West Java interior. Its beautiful lakes, green and foggy mountains and hills, and limpid rivers were presented in their narration. Interested by those exotic narration, since the late nineteenth centuries thousands of Europeans flooded the West Java interior. They tried to prove the truth of Barros, Valentijn, Kinloch, by created myths. For the region, those floods of Europeans was extremely beneficial. And as if those benefits was more and more beneficial, when the railway, the Groote Post Weg, and telegraph network was built in the end of nineteenth centuries. As time passes, those floods of Europeans was more and more uncontrollable. This brought upon a problem. In 1925, a group of Dutch took an initiative by the building of tourism managing organization, Bandoeng Vooruit.    

    Started with this birth of Bandoeng Vooruit, West Java interior in particular Bandoeng changed from the remote and wild area towards the most modern tourism area of Netherlands Indies. His birth became a limit line between visiting before tourism and the activity of modern tourism. Made no to magnify the role of Bandoeng Voouit, other organizations also played role in tourisme activities although them activities was not as large as Bandoeng Vooruit.

    To manage tourism activities, tens of tourism packets to West Java interior was presented by Bandoeng Voouit. And the tourism packet of Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Papadayan was favorite. Coincide with the offers of tourism packets, the picture of limpid Patenggang lakes, cool Citarum rivers, Burangrang green mountains, the sound of Dago waterfalls as well as Manglayang foggy hills was published in the tourism guide and tourism magazine. To give a comfort for tourist, all of those tourism spot was equipped with ways of being covered with asphalt, and comfortable hotels.  As the consequence of it, the story of West Java wild and frightening interior was barely heard. On the contrary in that time, its natural beautifulness and coolness was many mentioned.

    The activities of modern tourism 1925 – 1942

    Promotions

    To be so lucky for West Java, Bandung Vooruit was exactly established when West Java in particular Bandung was bed of down for Europeans. Its pleasantness was not only as a settlement but also as a promising tourism destination. For some of people, this was absolutely a beneficial business. Pioneered with the tourism guide book, Ons Java published by Nederland en Rotterdamsche Llyod in 1920s, tens of tourism guide book were on the scene. Bandoeng The Mountain City of Netherlands Indies (1925), Gids van Bandoeng en Midden Priangan, Gids van Bandoeng en Midden Priangan (1925), Tourist Notes (1934).

    From week to week until year to year, West Java with its foggy and green mountains reaching into sky as well as the sound of waterfall cleaving the solitude and limpid lakes embellished with water lilies colored page by page those tourism guide books. No different with performed pictures, created narrations was written to be truly wonderful. When reader had dissolved in those hammock of narrations, narration will bring readers on a curious feeling. As  a proof from Bandoeng The Mountain City of Netherlands Indies we take example about a description of Citarik Waterfall,

    A very beautiful waterfall which can be reached entirely by motor car is that of the Tjitarik. This is reached by driving to Tjilengka for which one hour is necessary. On arriving at the aloon aloon one turns left after which the road climbs steadily until the tea estate “Sindangswangi” is reached. After having driven for half an hour an before reachs this estate, a shelter is to be seen from where a beautiful view of the waterfall can be obtained. It is here also possible to descend to the foot of the fal[7]l

                When tourism guide books offered a promising business, on the contrary, the government looked on the other opportunity. Pulled by the increasing demand of post card, it stimulated the government on a creative promotion. That creative promotion tried to perform the nature of fascinating West Java as the background of post card, where dense mountains and beautiful lakes still become the primadona. No wonder, at short notice, the thousands of post cards had published in 1930.[8]

     Accomodations

    Stimulated by promotions succeesly to interest the visit of tourist to West Java. Hundreds of accomodation spots immediately was built scattering around tourism natural spots in the green and foggy Priangan Plateau. Those accomodations included extravagant, comfortable, and fascinating hotels and Pesanggrahans that laid on the limpid watering lakes. At end of nineteenth centuries until the early of twentieth centuries, when a smell of intoxicating sulphur on the side of legendary Kawah Putih and a bulk of up-side down boat resembling high and fertile soil which was named Gunung Tangkuban Parahu by Sundanese, was so interesting for Europeans, the number of hotels quickly increased as fast as the advance of this plateau.

    At heart of Daendels dreamed city and exactly on side of muddy river of Citarum as well as stood before legendary way of Groote Post-Weg, Savoy Homan and Preanger was existed. Until mid-twentieth centuries, both hotels take possession of first rank hotels in colonial Netherlands-Indies Empire. It provided modern, extraordinary and luxurious service. When Europeans flooded the plateau of cold Bandung, both hotels was wrested by them.[9] Not far from classic Savoy Homanan and Preangers hotel laid on around the heart of Bandung, there were Wihelmina, Societiet Concordia, and Du Pavillon. They were middles-class hotels pale beside with Homann and Preanger.[10]

    No different with Savoy Homann and Preanger in luxury and comfort, Villa Isola performed itself as most luxurious and modern hotel in this area. When whole side of Bandung were still as dark as the other interior, the light of blazing lamps of musical performance as well as ball room dance and the musical performance able to bright those darkness. Unsuspected by those light of lamps, a hundred of American tourist visited it.[11] Meanwhile laid on the plateau of cold and white foggy Lembang, outspread along the road toward the harmoniously Tangkuban Perahu, Hotels, Bungalows, and Passanggrahan that providing a sight of beautiful and green mountain was fragmented there.[12]

    Not left behind Dutch comfortable and luxurious Hotels, Chinese communities built a dozen of hotels scattered across the hot and musty Pasar Baru, dusty Kebon Jati until the curve rising road of Gardu Jati. At least there are 22 chinese hotels. It was not as luxurious as and as comfortable as than Europeans hotel. But can be proud that their hotels able to compete with luxurious Europeans hotel.

     The Place of Tourism

                The century since Kinloch had made his notes, the natural tourism of Bandung had interested the attention of heterogeneous European. The unique and exotic form of green Tangkubang Perahu and the side of engagingly and limpid Patennggang Talaga had been legendary in the European eye. Yet those attention was immediately disappeared when the steep and rock slopes of hills and mountain, black swamps, and horrible dense forest scattered along the Priangan plateau. Unimaginable previously in the future this horrible area would be fated to be one of foremost natural tourism destination in the colonial Netherlands Indies Empire. In the mid-second decade of twentieth centuries, the story changed as dramatic as a telenovela cinema. Preceded by the build of Bandoeng Vooruit by beautiful Tangkuban Perahu toward road means, Natural Tourism objects experienced a golden age where era will never come back in tomorrow days.

    Picture 2. a street towards Rancabali and Patengang’s Lake

    With a horde of limpid and quiet lakes, as well as a range of green and white foggy hills and mountains together with the hot and steaming craters, the South Bandung provided an eye cooling sight. There were kawah putih with a smell of intoxicating sulphur which was residing a white ghost of tiger in native legends. As beautiful as Kawah Putih more or less 50 km from the heart of mountainous city, Bandung, slipped between the green carpet of tea plantation, Talaga Pategang performed shown face before the Ciwidey muddy road. Not far away from it, a bulk of old mount Patuha, stand on the height of less 1500 meter above the sea level.  

    Not different with the Southern Bandung area, a range of unique and fabulous mountain interacted each other. Lead by the mysterious mount of Tangkuban Perahu, Burangrang mount, Dago hill followed behind. Inadequate with those mysterious mounts, the sound Curug Layung of water flew in a small stream to be very interesting for tourist or adventurer. Additionally exact below it, warming up and cooling down, the bathing place of Tjipanas provided a warming place in the cold mountainous air.

     In the end of Eastern Bandung not as interesting as Southern Bandung and Northern Bandung, stretching along the legendary “Groote Post Weg” and standing before the old Sumedang and exotic Garut, the old and short hill of Manglayang was a pleasing place for ascent. Even as long as 1936, its peak was ascended by tourist hundreds.[13]

    Close resemblance as exotic as natural tourism spots of Southern and Nothern Bandung, scattered along the dusty limestone and laid before the Daendels dreamed road, Groote-Postweg, the Western Bandung was still as beautiful as when Kinloch had been visited 75 years ago. There are the landscape of remote and hilly Curug Malela in the wild Gunung Halu interior. It was rounded by the green and fragrant tea plantation. In same area as far west as from Curug Malela, less than 1 km from De Groote Postweg, hidden between mysterious caves, here Sanghyang Tikoro slipped. Legends mentioned that this was point where the old bandung lakes broken down since less than thousands years ago.

    Tourists

    They had sighted the city when they were still far out at road. A green stain stretching out across the horizon of the Priangan Plateau. Over the course of the morning, a range of mountains rearing inland under banks of creamy cloud, and a strip of slope under an infinite rank of larch. Eventually, the train entered into railway station. As the tourists reached down from wagon and embarked on the first travel after a day at train. One of tourists looked out on the scene, noting its detail in his formidable memory. He was M Mcmilan, a Britania Tourist.[14]

    By the time before the M Mcmilan arrival the Bandung had interested attention since the early nineteenth century. Forged of a strip of European done visits and adventures, it had swiftly been known by strange tourists. Year by year, they spilled out from its Australian, European, and Japanese wellspring, flooding the Tangkuban Perahu mount and the Talaga Patengan, seeping up into the Curug Malela, leaching across Papandayan Mount.

    Its peak in the period of 1925 until 1942, when thousands men had come lumbering the hilly and mountainous Bandung from the multi-ethnic backgrounds included the Japanese who slant eyed, blue eyed and high postured Europeans, the mixed race Indo-Europeans until a number of native aristocrats. 

    Conclusion

    Started by the curiosity about a mysterious land stretching from west to east, laid behind the old and tropical Batavia, and well walled firmly by a range of foggy and creamy clouding mountain and hills, and its below flowing swiftly as swiftly as cobble stone following it, tens adventurer bravely penetrated into the land. They did not realized that their adventure would bring on a great consequence in tomorrow. When legendary stories able to change that mysterious land into one of foremost natural tourism destination in the colonial Netherlands Indies empire. Undoubtedly even more important was the stories of natural tourism spot discovery that wild, unhabitated, and horrific Bandung immediately was replaced by its limpid rivers and lakes as well as exotic craters. Soon after those legendary stories swiftly spilled out from its Bandung wellspring, filling the Dutch and other Europeans mind, seeping up into Japanese ears, leaching across into American, finally, Bandung was flooded by foreign tourist coming as fast as those legendary stories into their ears.  

    By the dawn of the early twentieth Bandung was undergoing a formidable change in complexion, when a group Dutch created one of the most influential organization in the History of Netherlands Indies, Bandoeng Vooruit. Natural tourism spot from Bandung had been finding their way into one of main tourism destination in colony or the world. Pulled by extended promotions as well as hotels, and passanggrahan that scattered between beautiful tourism spots along with the flooding visits, within a decade since Bandoeng Vooruit establishment in 1925, Bandung had been set up as a modest destination of tourism.       


    [1] Jan Breman. Mobilizing Labour for the Global Coffe Market Profits From an Unfree Work Regime in Colonial Java. (Amsterdam: Amsterdam University Press, 2015). hlm. 17

    [2] Claude Guillot. Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. (Jakarta:KPG, 2008). hlm. 32

    [3] Joao de Barros. Da Asia De Joao De Barros Dos Feitos, Que Os Portuguezes Fizeram No Descubrimento, E Conquista Dos Mares, E Terras Do Oriente, Decada Quarta, Parte Primeira. (Lisboa: Na Regia Officina Typografica, 1527). hlm. 77

    [4] Francois Valentijn. Beschrijving van Groot Java Of Te Java Major. Vierde Deel. (Amsterdam:Joannes van Braam, 1724). hlm. 9

    [5] Ahmad Sunjayadi, Vereeniging Touristen Verkeer, (Jakarta:FIB UI, 2007), hlm. 5

    [6]Charles Walter Kinloch, Rambles in Java and The Straits in 1852, (Malaysia:Peter Chong Printers). hlm. 58.

    [7] Reitsma, Bandoeng The Mountain City of Netherlands Indies, (Batavia:G.Kolff & Co, 1925), hlm. 44Reitsma en Hooglands, De Gids Bandoeng en Midden Priangan, (Bandoeng:N.V Mij Vorkink), hlm.

  • Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 1)

    Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 1)

    Buku Ismail En Moerti yang saya terjemahkan di bawah ini, mengisahkan tentang kegiatan missionaris yang bekerja di Jawa Barat di abad ke 19. Coolsma, sang penulis buku ini adalah salah satu dari missionaris yang bekerja disana. Sementara itu, nama Ismail dan Moerti, sebagai nama dari judul buku ini merujuk pada dua orang dari suku Sunda yang terpanggil dan tercerahkan oleh panggilan agama Kristen melalui kegiatan Misionaris yang dilakukan oleh Coolsma dan kawan-kawannya sesama misionaris. Di bawah ini saya akan menghadirkan terjemahan dalam buku itu, yang mana saya publikasi dalam beberapa bagian,

    Terjermahan

    Orang-orang membagi pulau Jawa ke dalam dua bagian, dari ukurannya yang berbeda, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di sebelah utara, perbatasan kedua wilayah ini terbentuk oleh sungai Losari dan pada wilayah bagian selatan, sungai tandoei (Citanduy) menjadi pemisah keduanya. Wilayah pada sisi sebelah timur dari kedua sungai itu dikenal sebagai Jawa Timur, sedangkan sisi sebalah baratnya lebih sering disebut sebagai Jawa Barat. Penduduk pribumi menamakan wilayah timur dengan sebutan Jawa, sedangkan nama Pasundan untuk wilayah yang terletak di sebelah barat. Maksud dari nama Pasundan sendiri ialah “Negeri Sunda”, akan tetapi pada kenyatannya apa yang orang-orang pahami tentang Sunda sangat tidak jelas, terkadang orang-orang hanya menerka-nerka, karena memang tidak arti yang jelas, oleh karenanya kita tidak akan membahas masalah yang kurang penting ini disini.                       

    Pulau Jawa memiliki luas wilayah hampir 2300 mil persegi, yang mana sekitar 865 mil persegi dari wilayahnya adalah Jawa Barat. Jumlah penduduknya sendiri di akhir tahun 1905 hampir 29 juta jiwa dan sekitar 7 juta diantaranya menempati wilayah Jawa Barat. Daerah yang disebut terakhir ini akan kita tampilkan pada pembaca. Kita akan mengenalkan mereka pada negeri Sunda. Negeri Sunda, sebuah wilayah yang meliputi karesidenan dari provinsi Batavia (Jakarta), Bantam (Banten), dan Karesidenan Priangan dan juga Cirebon. Dahulu Karesidenan Karawang juga termasuk di dalamnya sebelum wilayah ini digabung dengan Batavia.

    Di Karesidenan Priangan kota Cianjur terletak, dapat ditemukan dalampeta kecil. Dalam buku ini kota ini akan dibahas secara spesific dan kami akan mengenalkannya kepada para pembaca. Nama Cianjur berasal dari nama aliran air pegunungan kecil, dimana leluhur orang-orang Sunda bertempat. Seluruh tempat di Negeri Sunda terletak pada tepian sungai. Maka tak heran, ibukota Priangan yang luas dan indah, Bandung terletak pada sungai Tjikapundung, juga Sumedang dengan sungai Cipelesnya, Buitenzoeg (Bogor) dengan Cisadane, Indramayu dengan sungai Cimanuk, dll. Kota pantai Batavia dan Cirebon sendiri terletak pada tepi sungai: Batavia dengan Ciliwungnya, Cirebon dengan sungai Cirebon, yang mana memiliki nama yang sama dengan kota Cirebon sendiri.

    Pada satu waktu, Cianjur sangat sulit untuk diakses. Kendaraan paling cepat dan terbaik ialah dengan menggunakan sebuah pedati (sebuah gerobak dengan ditarik empat buah kuda post), orang menghabiskan waktu dua hari perjalanan dari Batavia untuk mencapai kesana, Jawa merupakan suatu negeri pegunungan. Orang-orang suatu waktu bisa memiliki pantai, yang mana dibelakangnya terdapat turunan dan tanjakan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal julukan Swiss Hindia pada wilayah Priangan. Akan tetapi sekarang, orang-orang bisa mencapai pendalaman secara leluasa dan lebih cepat juga lebih mudah, dengan ongkos yang kurang lebih murah. Orang-orang bisa menggunakan kereta api di pagi hari dan tiba di Cianjur pada siang hari melalui Depok, Buitenzorg (Bogor) dan Sukabumi.

    Cianjur adalah suatu kota yang unik, disamping kota ini juga sangat bernuansa Sunda. Cianjur terletak dalam suatu lembah, walaupun ketingginnya hampir mencapai 1600 kaki di atas permukaan laut. Jalan Post Besar yang terkenal melintas ditengah kota, jalan ini saling terhubung dan tersambung dengan jalan lainnya yang luas dan indah. Orang-orang juga akan melintasi suatu gerbang kayu tanpa pintu jika memasuki Cianjur baik dari sisi perbatasan Bandung maupun Buitenzorg. Sepanjang jalan berdiri warung-warung yang mana di tempat warung warung itu berdiri, orang-orang akan mendapati jalan pagar tanaman tinggi dengan semakbelukar hijau. Kampung-kampung itu juga terhubung dan tersambung dengan jalan-jalan kecil dan nama satu jalan itu ialah Jalan Kompa. Asal usul nama jalan ini sendiri dapat ditelusuri dari pemerintahan orang-orang Eropa yang membuat pompa pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi andaikan terjadi sebuah kebakaran di bagian dalam pemukiman itu. Rumah-rumah terbuat dari bahan ringan, sehingga api besar mudah melalap. Di samping kota ini sangat nyaman, keunikan Cianjur lainnya ialah hampir setiap orang memiliki kolam, dimana ikan emas dan ikan-ikan lainnya ada di dalamnya. Kolam-kolam itu sehari-hari tanpa diberi makan masih tetap hidup berkat air yang berlimpah tiada henti-hentinya.

    Sebagaimana kota-kota di Jawa, ditengah-tengah kota ada tempat tinggal raja, bupati atau kepala distrik, juga alun-alun, dimana orang-orang mengenalnya sebagai sebuah tanah lapang berumput, dengan luas dan lebarnya sekitar 160 passen. Pada sisi sebelah barat, terdapat sebuah Masjid, sedangkan pada sisi sebelah selatan berdiri tempat tinggal bupati, kepala tertinggi pribumi (yang membawahi sebuah kabupaten). Lalu dari arah sebelah timur terdapat suatu tembok berpagarkan tanaman dan pemukiman orang-orang Eropa terletak pada sisi sebelah utara.  Kemudian di sekitar terdapat suatu lapangan yang tertutupi dengan pophon-pohon beringin tinggi. Bagunan-bangunan tidak banyak dijumpai di Cianjur. Orang-orang hanya menjumpai dalem (Istana atau pendopo) Bupati, tempat tinggal asisten residen kepala pemerintahan setempat, dengan gedung-gedung perkantoran di sampingnya. Lalu sebuah kantor pos dan telegraf, sebuah hotel sederhana, rumah sakit, penjara, masjid yang telah disebutkan di atas dan sejak beberapa tahun belakangan ada sebuah stasiun kereta api. Disii juga kita memiliki  sebuah bangunan penting yaitu gereja Zending. Gereja Kristen pertama ini dibangun khusus bagi orang-orang Sunda, dan para penduduk serta pengunjung kota. Didalam bangunan juga terdapat sebuah tugu peringatan keberadaan Zending. Bagaimana hal ini (terutama zending) bisa muncul disini dan bagaimana bisa membangun gereja,kita akan menceritakannya sekarang pada bagian pertama.

    After Nederlandsche Zendingsvereeniging (Perkumpulan Zending Belanda) didirikan di tahun 1858, dan seiring berjalannya  waktu, mereka bisa menunjuk wakil mereka, dan mereka membuat tiga titik pengamatan di Tanah Sunda. Meskipun sejak 23 Juni 1596 orang-orang Belanda telah membangun suatu relasi dengan Jawa Barat. Namun tidak ada satu pun perwakilan pemerintah di wilayah terkecuali di Ibukota Batavia dan daerah perkebunan Depok yang bertetangga dengan Batavia, serta ajaran Kristen pun tidak pernah dikhutbahkan. Apalagi pasa sisi yang lainnya, Islamtelah meresap  ke dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Para penasihat yang berbeda dari Perkumpulan sekarang merasa bahwa kondisi itu tidak lagi harus diteruskan. Apalagi di waktu yang sama pemerintah juga mengalami kesulitan menghadapi para pengkhutbah Muslim. Orang-orang tidak lagi harus merasa susah dan membuat komitmen yang serius dengan perintah Tuhan: “Khutbahkanlah Injil pada seluruh alam” dan kemudian terlihat betapa Hindia Belanda memprihatinkan, oleh karenanya Tanah Sunda harus berada dalam genggaman. Meskipun saat sebagaimana kita ketahui, sering dikatakan bahwa “sebagian besar rakyat Hindia-Belanda adalah muslim dan ini sangat sulit untuk menang (Dalam pengoversian mereka).” Tapi biarkanlah kami pertama-pertama merubah para penyembah berhala. Orang-orang ini masih bisa ditemukan di wilayah-wilayah terluar, sebab kita harus segera mungkin mengonversi mereka sebelum mereka menjadi muslim; Para pagan ini juga suatu waktu bisa kita gunakan sebagai alat untuk menangkal atau mengusir orang-orang Muslim.” Saat ini diektahui, bahwa 29 juta penduduk Jawa adalah muslim. Begitu juga dari 4 juta penduduk wilayah luar (luar Jawa), dua juta diantaranya muslim. Sementara sisanya sekitar 2 juta jiwa adlah para pagan atau penyembah berhala, yang mana mereka terdiri dari penduduk Bali dan Lombok yang memeluk agama Hindu, belum lagi menurut pengamatan Perkumpulan Zending Utrecht masih ada orang-orang belum tersentuh khutbah Injil maupun Islam. Kemudian jumlah dua juta dikurangi sehingga tersisa sekitar satu juta orang penganut animisme yang terbagi dalam suku terpencil dan tersebar. Cara yang baik harus diusahakan, yang mana Zending hanya mengawasi tanpa perlu membuat suatu perhitungan dan argumentasi yang rasional, tetapi tetap permhonan secara serius harus meminta penerangan dan arahan Kepala Zending, juga tak lupa kepada para tetua perkumpulan Zending Belanda. Hal itu dilakukan untuk memperoleh perintah yang mana dia akan berikan. Lalu ketika seluruh penasihat baik diminta maupun tanpa diminta, diperlihatkan Jawa Barat. Pemerintah memutuskan bahwa Pimpinan Perkumpulan menyerukan bahwa harus dilakukan pengkhutbahan Injil diantara orang-orang Sunda. Dalam perkara ini juga ditegaskan bahwa Perkumpulan Zending Belanda (Nederl. Zendingsvereeninging), sejak itu diputuskan bekerja mengkhutbahkan Injil di Tanah Sunda, tidak pernah ingin berpindah pekerjaan lain, meskipun dia telah didesak untuk melakukannya beberapa kali dan sehingga bidang pekerjaan ini kelak telah terbukti menjadi salah satu misionaris yang paling bersyukur (setidaknya untuk saat ini). (Bersambung)