Diterjemahkan oleh Danil Kasputra
Wilayah Java bagian barat telah dipilih sebagai wilayah penginjilan perkumpulan, dan di bulan Agustus 1862 para penginjil pertama telah berangkat kesana. Mereka adalah C. Albers, D.J. van der Linden dan G.J. Grashuis. Setelah kedatangan pertama mereka di Bandung, orang-orang ini langsung menyebar, sebab pemerintah menolak izin mereka untuk berkhotbah diantara orang-orang Sunda. Penginjil Van der Linden bergerak ke Cirebon. Penginjil Grashuis setahun kemudian kembali lagi ke Belanda. Sedangkan Penginjil Alberst tinggal di Cianjur dimana dia tiba pada 1 oktober 1863. Di tahun berikutnya dia mendapatkan seorang asisten bernama C.J. Cussel tapi belakangan setelah beberapa bulan karena sakit keras Cussel harus kembali ke Belanda. Di tempat itu juga Albers di tahun 1865 menerima penginjil A. Geerdink dan penulis buku ini. Inilah yang hanya bisa kita lakukan saat itu di Cianjur. Kita hanya perlu tinggal sementara. Hal ini dilakukan untuk mengamati wilayah dan juga mempelajari bahasa Sunda yang kaya dan sulit. Kita juga memberikan bantuan medis kepada orang-orang Sunda yang sakit dan meminta diobati,kemudian mengunjungi, berbincara dan menyaksikan penduduk setempat di rumah-rumah mereka. Keleluasaan hingga pengkhabaran Injil masih belum diberikan. Oleh karenanya tiada yang dikhutbahkan. Di waktu pertama kali itu seluruh hubungan kita jalin, semua orang yang sakit kita rawat dan seluruh orang yang ingin membangun perkawanan kita terima. Seluruhnya hubungan dibangun dengan orang-orang dengan karakter menyenangkan. Tapi, secara keseluruhan, perkempulan itu tidak lmenghasilkan buah yang langgeng, menurut orang-orang, sebagian besar disebabkan oleh pemindahan dua dari tiga Misionaris, yang mengurangi beban kerja menjadi sepertiga. Namun, transfer itu dianggap perlu untuk mengisi beberapa titik misionaris lainnya.
Tapi kami sedikit lebih cepat. Fase tertutup tidak berlangsung lama. Tuhan terus menjawab doa anak-anak-Nya, dan pintu bagi orang Sunda dibuka untuk misi pada tahun 1865. Sekolah sekarang bisa diadakan dan kemudian injil dikhutbahkan tanpa adanya hambatan. Hal ini berlangsung cepat. Namun, belum ada tempat untuk berkumpul di luar rumah para misionaris, dan segera menjadi jelas bahwa orang Sunda yang sederhana dan agak pemalu, jarang menghadiri pertemuan di rumah orang Eropa. Tidak memungkinkan juga adanya kecurigaan, betapa mereka, jika menginginkan seseorang untuk mengajar anaknya, atau jika mereka menginginkan bantuan medis, maka orang tidak akan pernah mendatangi rumah para penginjil, tetapi ketika orang-orang Cianjur diundang untuk datang bersama untuk mendengarkan pemberitaan Injil, maka biasanya mereka berkata . “Saya mendoakanmu permisi.”
Selain itu, orang –orang Sunda sangat terikat dengan agama Islam, yang telah masuk sejak zaman leluhur-leluhur mereka selama sekitar empat abad, yang secara bertahap telah merasuki kehidupan umum, dan menjadi sesuatu yang amat bernilai untuk waktu yang lama. Bagi mereka,berpindah kepada sesuatu yang lain atau untuk sesuatu yang lebih baik, , bukan pilihan dengan hanya sedikit orang yang melakukannya. Sehingga, para misionaris pertama di Cianjur secara praktis mempelajari bahwa mereka tidak perlu membangun harapan untuk berhasil dalam upaya mereka terhadap masyarakat. Orang-orang Makedonia itu tidak menemukan mereka di pos mereka
Namun, pengalaman itu tidak membuat mereka menjadi berkecil hati. karena mereka tahu bahwa mereka diutus untuk mengkhotbahkan injil kepada orang-orang Sunda. Mereka juga tahu, berdasarkan pengalaman mereka sendiri, bahwa Tuhan memegang kunci dari setiap hati manusia. Namun, mereka mengerti bahwa mereka harus mendapatkan orang-orang sebanyak mungkin. Ketika orang-orang Sunda tidak datang kepada mereka untuk mendengar Injil, mereka harus pergi mendatangi orang-orang Sunda. Agar orang-orang Sunda mendengarkan injil di tanah mereka sendiri. Sebuah ruangan bambu kecil dibangun di tengah-tengah kampung, di antara rumah-rumah penduduk asli, dan orang-orang Sunda yang bertetangga sekarang diundang dengan ramah ke pertemuan singkat di tempat sederhana itu dua kali seminggu, seusai doa malam Islam selesai.
Pada awalnya banyak yang menanggapi undangan itu dan sering kali ada 50 hingga 60 pria dan wanita yang berkumpul, menceritakan kisah Alkitab dengan ceria dan menarik disertai juga alasan untuk berbicara tentang dosa dan rasa bersalah, rahmat dan penebusan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Sayangnya! Kehadiran orang-orang lambat laut berkurang dan pertemuan-pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa juga belum membuahkan hasil apa pun, sejauh yang diketahui. Cara-cara serupa di titik-titik kota lain juga tidak berhasil.
Betapa tiga tahun yang sulit berlalu. Banyak kekecewaan, sedikit tanda yang membesarkan hati, hasilnya tidak ada. Kemudian para Misionaris disarankan untuk membangun sebuah gereja kecil di jalan utama, yang dikunjungi setiap hari oleh ratusan orang. Sebidang tanah dibeli pada lahan yang sangat cocok dengan harga f 700, -; Rumah asli dilahankan dipindahkan, dan di tengah halaman yang luas, misionaris Geerdink, yang memahami pertukangan dengan baik, membangun gereja kayu yang sangat efisien, tetapi ditutupi dengan ubin, dengan harga kurang lebih f 1.000. Karena pengumpulan material membutuhkan banyak waktu (balok-balok kayu harus dipotong di hutan pada jarak yang sangat jauh), pembangunan gereja sendiri membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan. Itu adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi Misionaris Geerdink, yang harus melakukan sebagian besar perkejaannya sendiri dan terpapar sinar matahari hari demi hari! Tetapi betapa perasaan bersyukur meresapi hatisanubarinya bersama dua Misionaris lainnya, ketika Gereja misionaris pertama ini siap, mereka mengundang orang Sunda dan Eropa untuk datang dan menghadiri pembukaanna di tahun 1868.
Di pagi hari, Missionary Albers mengadakan pengajaran keagamaan pertama di sana, bagi orang-orang Eropa, berkhotbah menanggapi firman: Luc. 2: 30-32: “Mataku telah melihat keselamatanmu, yang telah Engkau persiapkan untuk wajah semua bangsa: sebuah cahaya untuk pembebasan bangsa-bangsa lain dan untuk kemuliaan umat-Mu Israel.” Di antara mereka yang hadir – kerumunan yang cukup besar – ada Asisten residen dengan stafnya. Pada sore hari Minggu yang sama, pengajaran pertama diadakan dihadapan orang-orang Sunda, di bawah bimbingan juru tulis ini, yang teksnya adalah Yohanes 3:16, “Allah sangat mencintai dunia, dll.” Yang sangat menarik adalah karena ini pertemuan pertama semua kursi telah ditempati dan Injil diwartakan kepada sekitar 150 orang Sunda yang belum pernah mendengarnya. Khotbah pertama ini juga didengar oleh kepala pemerintahan pribumi, Bupati.
Sayang sekali kita tidak memiliki foto Gereja Misi pertama itu. Pada saat dibangun, fotografi belum mencapai ke pedalaman. Bangunan itu berdiri sendiri dan dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Lantai satu meter di atas lantai dasar, karena semua tiang berada di atas batu Seperti praktik umum di sini, ruang terbuka di bawah rumah. Oleh karena itu, pada acara-acara khusus, ketika gereja dulunya sangat penuh, orang-orang yang pemalu dapat menemukan tempat di bawah lantai di mana mereka dapat mendengar dengan sebaik mungkin sebagaimana di dalam gereja. – Biasanya, rumah kayu tidak bertahan lama di Hindia. Sayangnya! Hal ini juga yang terjadi pada Gereja Misionaris pertama kita. Dia hanya bertahan 25 tahun. Kemudian gereja itu rusak dan digantikan oleh gereja saat ini, yang kami sertakan gambar dalam dokumen ini.
Tetapi kita harus kembali ke tahun 1868. Kini ada sebuah gereja Kristen di tengah-tengah orang-orang muslim Cianjur, tetapi – belum ada seorangpun jamaah; ya, bahkan belum ada seorang petobat. Karena itu, ketika dewan perkumpulan mengumumkan dalam pesan penahbisan, hal ini disinggung: “Tetapi belum ada seorangpun petobat di Cianjur, mungkin seseorang bertanya, untuk apa ini dibangun? Saudara-saudara telah memiliki sebuah rumah ibadah. Kesempatan untuk mendengar khotbah Injil sekarang terbuka bagi orang-orang Sunda, sebab Firman Tuhan tidak pernah kosong, dia berfungsi sebagaimana hujan dan salju, seperti yang Tuhan telah kehendaki pada waktunya. Semoga kita tidak duduk diam. Sekarang dengan satu kemauan dan doa yang sungguh-sungguh, bahwa Allah menaburkan khotbah firman-Nya dengan embun Roh Kudus, agar kita segera dapat senang dengan pesan gembira: “Buah sulung lahir di Cianjur.” Sungguh luar biasa, ketika dewan menuliskan keinginan ini, Hal itu sudah terpenuhi, tanpa orang-orang memiliki kecurigaan sedikit pun di sini. Kita mungkin melihat di dalamnya salah satu dari banyak konfirmasi tentang sabda Allah (Yes. 65:24): “Dan akan terjadi, sebelum mereka menangis, bahwa aku akan menjawab, sementara mereka masih berbicara, aku akan mendengar.”
Apa masalahnya? Sepuluh hari setelah penahbisan gereja, pada tanggal 18 November, jadi, saya mengetahui tentang orang Sunda, yang tinggal di lingkungannya, di kampung Nyalindung, seorang lelaki yang telah banyak berubah pikiran tentang masalah agama pada hari-hari terakhir; bahwa dia tidak lagi menaati doa-doa Islam yang ditentukan, dan mengklaim bahwa ajaran Islam telah meninggalkan manusia sebagaimana adanya, tidak memberinya ketenangan pikiran, dan tidak dapat mempengaruhi pikiran. Dia mengalami pertengkaran dan perselisihan tentang masalah ini, tetapi dia tidak dapat mengubah pikirannya dan biasanya akhirnya menambahkan penghinaan kepada dirinya sendiri. Dalam pencarian dan pertanyaannya, dia juga melakukan kontak dengan ahli bahasa saya, yang telah memberi tahu dia tentang apa yang dia dengar dari kami tentang Tuhan Yesus, tetapi dia sendiri tidak bisa menunjukkan jalan yang baik kepada tetangganya itu. Namun, dia menyarankan orang itu untuk bertemu saya, dan orang itu menyatakan dirinya siap untuk melakukannya. Segera setelah saya mendengar hal ini, keinginan saya untuk melihat dan berbicara dengan orang itu sangat bersemangat. Namun, harapan saya tidak besar, terlebih berdasarkan pengalaman yang mengecewakan di masa lalu. Ketika ditanya apakah saya bisa menerimanya, saya bertanya (saat itu hari Rabu) apakah dia akan datang pada Jumat malam; berpikir, “Lalu dia juga bisa menikmati bulan terang.” Namun, harapan saya jauh melebihi dalam hal ini. Karena apa yang terjadi?
Keesokan harinya, sekitar tengah hari, berbarengan dengan mengunjungi sekolah anak perempuan saya dan rijsttafel, saya dan istri mengunjungi keluarga Albers, di mana itu adalah hari ulang tahun anak-anak. Ketika kami kembali dari kunjungan itu, kami melihat seorang Sunda berpakaian sederhana namun rapi, duduk di depan rumah kami di bawah sinar matahari yang berkilauan. Ini ternyata adalah orang kami dengar itu. Dia tidak menunggu selama berjam-berjam, tampaknya karena keinginan untuk berbicara dengan kami, dan tidak menemukan kami di rumah pada jam sebelumnya. Dan karena dia tidak mau menunda kunjungannya. Dia menghadap kami di panas sore yang cerah dan menunggu kami kembali. Walau nampak tergesa-gesa tapi hal itu menyenangkan, namun dia tidak mengatakan apa-apa tentang niatnya, dan – seperti yang saya katakan – dari pengalaman sebelumnya saya tidak dapat membayangkan bahwa niat itu murni bersifat spiritual. Sementara itu, ketertergesa-gesaanya dan jam yang tidak biasa dari kunjungan itu membangkitkan rasa ingin tahu kami: Kali ini kami makan dengan cepat, agar pengunjung kami tidak terlalu lama menunggusaya dengan senang hati akan meninggalkan makanan tengah hari untuknya!
Saat itu jam setengah satu sore ketika kami berdua menetap di ruang belajar saya, dan pembelajaran kami belum berakhir sebelum jam 3. Biarkan saya memperkenalkan pengunjung saya kepada anda semua. Saya mencoba menggambarkan pengunjung saya seakurat mungkin. Bayangkan: seorang pria berwarna gelap, tidak bertubuh tinggi, sekitar 45 tahun, dengan dahi tinggi, tulang pipi agak berkembang, mata lembut, serius, wajah tanpa jenggot, rambut panjang diikat dengan simpul di bagian belakang kepala, ditutupi dengan jilbab; seorang lelaki dengan penampilan bagus dan kokoh, mengenakan pakaian Sunda dengan sarung atau rok dan linen putih, sampai ke pinggang. Kebetulan, seorang pria yang beradab dan sopan.
Segera untuk mencari tahu tentang agamanya, saya berkata kepadanya: “Anda disebut Ismail. Itu adalah nama Islam. Orang Islam mengatakan bahwa mereka menganut agama Ismael, dan itu benar. Bagaimana menurut Anda? Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya hanya datang untuk mencari tahu apa jalan keselamatan itu. “Saya kemudian menanyai dia lebih dekat tentang apa yang telah saya dengar di hadapannya, dan kemudian belajar dari dia bahwa dia memang mengalami perasaan ketidakpuasan, dan bahwa dia telah memikirkan dengan serius dasar-dasar agama Muhammad. Dia sebelumnya telah mengikuti dasar-dasar ini dengan cukup setia, tetapi sekarang, dengan serius, dia telah menemukan bahwa mereka memiliki sedikit nilai untuk hati dan kehidupan. Para pemeluk agama Islam menyelidiki signifikansi dan kegunaan dasar-dasar itu, tetapi tidak ada yang memberinya jawaban yang memuaskan, semuanya telah mengatakan bahwa kepatuhan terhadap perintah-perintah itu dibebankan pada manusia di sini dan di masa depan menjadikan keselamatan sebagai bagian. “Tetapi” – Dia beralasan – “Jika itu benar, maka harus ada bukti tentang ini dalam kehidupan ini; Maka orang-orang yang menggapai ajaran Islam harus memiliki keamanan keselamatan: maka mereka harus mengistirahatkan hati mereka dan menjadi orang-orang suci. Saya melihat, di sisi lain, bahwa tidak ada perbedaan antara mereka yang taat ajaran Islam dan mereka yang tidak mentaatinya; yang pertama melakukan dosa dan yang kedua; yang pertama sama takutnya dengan kematian dan keabadian seperti yang terakhir, dan tidak ada perbedaan esensial untuk dilihat antara mereka yang mematuhi perintah Islam, dan tidak mencapainya.
Alasan yang masuk akal ini, yang sangat mengherankan saya tentang orang Sunda ini, dan tidak sedikit penampilan tamu saya ini menunjukkan keseriusan yang dalam, mendorong saya untuk menyelidiki lebih jauh. Karena itu saya bertanya kepadanya bagaimana ia bisa berpikir tentang agama dengan cara ini. Dia menjawab, “Yang terbaik adalah aku memberitahumu semua yang telah terjadi padaku.” Dia kemudian dengan tenang menceritakan dan mengatur apa yang telah dia alami dalam beberapa hari terakhir, yang intinya adalah sebagai berikut:
Pada hari Sabtu, 31 Oktober (1868), dia duduk di sore hari di barisan depan rumahnya yang sederhana, merefleksikan pengalaman hidupnya, yang pahit. Setelah pergi ke Batavia ketika masih muda, ia bekerja bersama orang Eropa yang hidup dalam dosa. Suatu pagi dia kehilangan arlojinya dan menuduh pelayan barunya mencuri itu. Pelayan itu menyangkal dan terus menyangkal, tetapi tetap saja dihukum, meskipun tidak ada bukti bersalah yang ditemukan. Setelah hukuman penjara, ia kembali sakit dan malu ke kota asalnya.
Dia tinggal di sini mulai sekarang. Ia menikah, sedang mencari cara hidup, cara hidup seperti Islam atau Islam. Namun, dia juga tidak mudah melakukannya; Sebaliknya, banyak kesulitannya. Demikianlah tahun-tahun berlalu tanpa banyak sukacita, tetapi dengan banyak kesedihan. Ketika dia memikirkan hal-hal ini dengan hati yang berat, dia tiba-tiba mendengar suara yang datang dari atas dan memanggilnya dalam bahasa Sunda “Maneh geura beberesih! Mengke tiloe poe deui kami akan tjalik ka maneh! ” Yaitu, “Reinig (Bebersih!)” Dia mendongak, tetapi tidak memperhatikan siapa pun. Segera dia masuk dan memerintahkan istri dan pelayannya untuk mengadakan penyambutan besar, karena akan ada kunjungan dalam tiga hari. “Siapa itu?” tanya istrinya. “Aku tidak bisa mengatakan itu,” – dia menjawab – “tetapi ini dan itu telah diucapkan kepadaku.” Setelah menceritakan kejadian itu kepada istrinya, dia segera pergi bekerja dengan pelayan, meskipun dia tidak mengerti semuanya. Rumah, perabotan, halaman di sekitar rumah – semuanya berubah.
Hari-hari berikutnya dihabiskan dalam ketegangan. Sabtu dan Minggu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang istimewa terjadi. Selasa pagi barulah bermula serangkaian pertemuan. Pada jam 7 (Ismail kemudian mencatat hari dan jam) ia menemukan burung yang sangat cantik dan langka di jalan; dia membelinya seharga 50 sen dan membawanya pulang, rupanya untuk tujuan takhayul. Pada malam Kamis hingga Jumat, bermimpi tentang mayat-mayat. Jumat pagi, duduk di halamannya lagi, dia melihat seekor burung gagak mendekat dari Timur, dengan sebutir telur di mulutnya, yang dengannya dia duduk di kursi bambu (batang bambu, tumbuh dari akar). Ismail mengambil telur itu dan membawanya ke istrinya. Pergi ke sana lagi, dia menemukan ada 515 hal bulat, dari jenis yang sama, agak seperti kacang, tetapi sama sekali tidak dikenalnya. Pada sore hari dia melihat satu di halamannya dan ketika dia menggali tanah di sana dia menemukan seorang ratu rayap (ratu dari sarang semut putih). beberapa jam kemudian dia mendengar suara lain berkata kepadanya, “Gali di sisi utara.” Ketika dia melakukan ini, dia menemukan sesuatu yang hebat seperti umbi, dan rebung direndam di dalamnya sehingga tidak bisa dilonggarkan. Pada malam Jumat hingga Sabtu ia kembali bermimpi bahwa ia melihat cahaya yang indah. Dia bangun, dan ketika dia keluar, dia melihat pohon rambutan di halamannya bersinar dengan cahaya yang sangat terang sehingga dia bisa dengan jelas membedakan setiap daun. Keesokan harinya, Sabtu, dia hanya melihat hal-hal indah. Pada malam Sabtu hingga Minggu ia bermimpi menemukan batu-batu berharga yang indah, dan ketika ia mencari di pagi hari di bawah pohon rambutan yang disebutkan di atas, ia menemukan di sana beberapa benda dengan warna berbeda, agak menyerupai batu-batu berharga. Dia mengambilnya pada Minggu sore. Dia mendengar suara berkata, “Gali di bawah pohon rambutan.” Dia melakukan ini bersama pelayannya, yang menemukan petir di tanah.
Dari semua hal itu, ditemukan dalam beberapa hari, hal-hal yang Ismail tidak mengerti. Oh, dalam keadaan biasa dia akan memiliki begitu banyak. Tetapi sekarang setelah dia berada dalam ketegangan yang begitu gugup dan sedang menunggu sesuatu, hal-hal ini, betapapun tidak signifikannya dirinya, sangat berharga baginya. Sekarang sudah menjadi sifat orang Sunda, untuk menyebut segala sesuatu yang dia tidak mengerti dengan nama aheng, kita berkata, “Luar biasa, supernatural”; dan dia selalu cenderung menyembah hal-hal yang disalahpahami seperti itu. Bagaimanapun, ia adalah seorang Muslim, dan keislamannnya sama sekalitidaklah buruk, tetapi dalam hati dan jiwa ia juga orang bukan Yahudi, sama baiknya dengan, misalnya, orang Dayak dan Timor.
Hal-hal sama sekali tidak bernyawa baginya; oh tidak, mereka masih hidup; mereka adalah tempat tinggal rohnya; dan untuk sesuatu yang indah, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang baginya memiliki kekuatan atau pengaruh, dia merasakan ketakutan yang penuh rahasia, dan tanpa sadar dia kemudian datang untuk membayar kehormatan agama untuk melindungi dirinya dari pengaruh itu dan seharusnya memilih mendukungnya, sehingga ia mungkin tidak dirugikan, tetapi sebaliknya kebaikan akan menyusulnya. Sesuai dengan sifat asli orang Sunda itu, Ismail karenanya sangat menghargai “Harta Karun” -nya. Sejauh ini, dia mengumpulkan apa yang temukan dalam ukuran besar, mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya dari korupsi. Kemudian dia berkeliling lingkungan, melaporkan pengalamannya kepada orang-orang ini dan orang lain dan meminta penjelasan. Namun, tidak ada yang bisa membantunya; tidak ada yang dipahami dari suara-suara itu, juga tidak ada yang bisa memberitahukan kepadanya tentang apa yang temukan. Beberapa orang berbicara untuk menertawakannya, sementara yang lain mengira dia gila atau bahkan kesurupan. Namun, dia bersikeras bahwa dia benar-benar mendengar suara-suara itu dan terus mencari penjelasan. Sementara itu, ketenangan pikirannya tidak membaik dan kesehatannya terasa sangat buruk. Penampilannya – kata mereka yang berinteraksi dengannya – telah berubah; dia tidak lagi sama. Dalam situasi seperti itu dia bertanya kepada ahli bahasa saya yang disebutkan di atas, dan sekarang dia duduk di sana untuk berbicara dengan saya dan, setelah bercerita tentang pengalamannya, bertanya apa yang saya pikirkan tentang masalah ini.
Saya menjawabnya bahwa tampaknya sama sekali tidak perlu menjelaskan suara itu adalah sebuah imajinasi, karena sering bahwa Allah segera menyatakan diri kepada orang-orang yang tidak mengetahui Firman-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya , kepada mereka Allah menunjukkan belas kasih-Nya dan menuntun jiwa mereka untuk bertobat. Saya mengatakan kepadanya untuk percaya bahwa mungkin benar bahwa suara seperti itu datang kepadanya, tetapi dia tidak memahami artinya. Tentunya tidak mungkin niat Allah bahwa ia hanya membersihkan keluaraga dan barang-barang rumah tangganya; tidak diragukan lagi Allah terutama ingin menyucikan diri dia dari dosa-dosanya dan memasukannya menuju jalan keselamatan. Dia mendengarkan dengan penuh minat kata-kata saya, yang terbukti sesuai dengan pertimbangannya sendiri sebelum suara itu datang kepadanya. . Saya berbicara tentang khotbah penebusan yang diucapkan dan terselubung, yang diberikan dalam Tuhan kita Yesus Kristus, putra Allah, yang namanya kudus yang sekarang dia dengar diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Secara umum, Islam memiliki keraguan serius tentang Injil sebagai Kitab Suci. Secara khusus, mereka berkhotbah: “Keselamatan tidak lain, karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan di antara manusia yang dengannya kita harus diselamatkan”. Sedangkan pelanggaran bagi mereka adalah pernyataan bahwa Yesus adalah ” Anak Allah ” ini adalah kebodohan bagi mereka, yang umumnya mereka ingin mengolok-olok dengan bertanya: “Bagaimana bisa Tuhan memiliki Anak, karena dia tidak punya istri?!” Tidak demikian halnya dengan Ismail. di sisi lain ; Mendengar kabar gembira itu, ia gemetaran karena kesengsaraan, dan air mata membasahi pipinya ketika saya berbicara kepadanya tentang dosa dan rasa bersalah, tentang rekonsiliasi dan keselamatan. Terpukul karena rasa bersalah dan haus akan kedamaian dengan Allah, meneguk hingga penuh darus keselamatan. “Tidak ada yang berbicara padaku seperti itu!” dia berseru. “Tapi” – dia bertanya setelah beberapa saat – “bagaimana dengan benda-benda yang telah kutemukan?” Saya ingin melihat mereka terlebih dahulu. ” Dia pikir itu ide yang bagus, dan atas permintaannya aku berjanji akan mengunjunginya malam itu juga. Kami melanjutkan pembicaraan kami selama beberapa waktu, dan kemudian dia pulang dengan wajah cerah.
Menjelang matahari terbenam aku berjalan ke rumahnya sebagimana janji sebelumnya. Ini tampak seperti semua rumah sederhana di daerah Sunda: gaya kayu, dinding dari bambu yang dikepang dan atap rumah menjadi yang utama di halaman depan. Ini memberikan akses melalui pintu ke ruang dalam, yang dapat dibagi dengan gorden atau partisi, dan di mana ruangan memiliki jendela kecil di masing-masing dari dua dinding samping tanpa kaca. Ruang dalam mengarah ke koridor belakang, tempat piring memasak biasanya berada.
Saya disambut hangat oleh Ismail dan istrinya, Moerti. Tentang istrinya, satu kata. Dia adalah wanita Sunda sejati, bertubuh pendek dan agak kurus. Dia mungkin beberapa tahun lebih muda dari suaminya, tetapi sulit untuk secara akurat menentukan tahun-tahun di antara penduduk asli pada usia tertentu, karena tidak ada catatan sipil untuk Penduduk Asli dan mereka yang berasimilasi dengan mereka dan terkait tahun kelahiran, dll, juga. tidak ada penjelasan. Tidak ada yang tahu kapan hari ulang tahun seseorang, jadi tidak pernah ada hari ulang tahun. Oleh karena itu, tidak ada yang tersisa selain memperkirakan perkiraan usia, yang telah kami lakukan dalam kasus ini. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang penampilan Moerti. Potret dirinya tidak ada, karena alasan di atas. Dia adalah wanita yang sederhana, dengan mata jernih dan hidung yang dipotong. Dia mengenakan cara perempuan Sunda kelas rakyat, dengan sarung yang sampai ke pergelangan kaki dan kain linen yang sampai ke lutut. Ketika seorang wanita Sunda turun ke jalan, dia menngalungkan slendang atau sling panjang di pundaknya, tetapi di rumahnya pakaiannya hanya terdiri dari dua potong: sarung dan linen, agar terasa hangat di rumah, kemudian dia mengaitkan dengan sepotong sarung, yang kemudian harus ditarik ke ketiak. Selain Moerti sangat sederhana dan sangat sopan. Hal ini karena sikap yang baik adalah bawaan untuk menikah dengan orang Sunda, dan banyak anak, bahkan banyak orang dewasa, akan dapat belajar hal-hal baik dari orang Sunda yang jauh kurang terdidik dalam hal ini.
Ketika saya memasuki rumahnya, saya menemukan segala telah tertata seperti halaman yang dibersihkan dengan hati-hati. Di ruang dalam, kursi pinjaman telah siap untuk saya. Penduduk asli terbiasa hanya duduk di lantai, di atas tikar yang dikepang, tetapi jika orang Eropa datang untuk mengunjungi penduduk asli dan kunjungan itu telah diumumkan sebelumnya, ia akan mencoba meminjam kursi, karena kita sudah terbiasa untuk duduk ketika sedang bekerja. Setelah saya mengambil tempat duduk saya dan orang-orang yang hadir (paling penasaran tetangga) berkumpul di sekitar saya, saya melihat sekeliling dan memperhatikan baskom yang disebutkan di atas, yang ditutupi dengan kain putih dan berdiri di lantai. Saya bertanya kepada Ismail, “Apakah yang anda temukan, dan bolehkah saya melihatnya sekarang?” Setelah memberikan jawaban yang meyakinkan untuk pertanyaan itu, Ismail dengan penuh hormat mendekati mangkuk itu sebagaimana seorang imam mendekati altarnya, sementara dia mengambil bajunya. Mata semua yang hadir beralih ke misteri yang tersembunyi di bak itu, dan benda-benda yang terkumpul di bak itu, yang telah ia campur dengan minyak dan rempah-rempah untuk memadatkannya, sekarang ditunjukkan kepada saya satu per satu, dan sejauh yang saya tahu mereka mengatakan saya apa itu. Ketika semuanya telah ditunjukkan kepada saya, Ismail bertanya kepada saya; “Dan apa pendapatmu tentang hal-hal ini sekarang?” (Bersambung Bagian 3)

Leave a Reply