“Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis.”
Rendy Kurniawan
Berdasarkan sebagian besar opini yang diterima sejauh ini, penemuan korpus ilmu sejarah, khususnya bagi kalangan Barat, tentu berasal dari Yunani kuno. Tetapi kita juga harus memahami bahwa sejarah tidak mendapatkan posisi yang tidak terlalu bagus di dalam kebudayaan Yunani itu sendiri. Peran sejarah di dalam kebudayaan Yunani Nampak terpinggirkan jika tidak ingin mengatakan sepele apabila disejajarkan dengan diskursus intelektual lainnya. Dibandingkan dengan tradisi keilmuan lain yang berkembang seperti filsafat, sejarah cenderung tidak populer. Lebih jauh, kita tidak akan menemukan sejarah di dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah Yunani kuno. Lalu dimana sebenarnya posisi sejarah bagi kebudayaan Yunani?
Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis. Sejarah dalam terminologi Yunani menurut Moses Finley (1975 : 14) adalah puisi tentang peperangan. Salah satu contohnya adalah karya Homer yang berjudul Illiad dan Oddyssey. Dua karya ini menjelaskan apa yang terjadi pada Perang Troya dalam bentuk syair.
Genre-genre sejarah semacam epos atau puisi peperangan semacam karya Homer mulai tergantikan oleh model karya sejarah baru karena mungkin puisi peperangan tidak lagi relevan bagi orang-orang Yunani. Mungkin sebagian besar orang Yunani sadar bahwa epic atau puisi semacam Illiad tidak bisa dikatakan sebagai sejarah. Ia hanyalah mewakili beberapa bagian dari catatan-catatan masa lalu semata. Oleh karenanya, merespon hal tersebut, Herodotus dan Thucydides memainkan perannya sebagai penerus Homer.

Herodotus merespon kebutuhan orang-orang Yunani dengan menggali fakta sejarah lebih dalam demi ilmu pengetahuan yang kredibel, bukan berdasarkan mitos semata. Ia bersandar kepada data dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain, disbanding memilih menggunakan mitos sebagai fakta sejarah, ia menggunakan keterangan-keterangan dari masyarakat dalam peristiwa sejarah tertentu. Meskipun begitu, karya sejarah yang ia tulis tetap bertema peperangan. Herodotus menulis karya berjudul Sejarah Perang Persia dan Yunani. Dengan karyanya ini, ia dikenal sebagai bapak sejarawan karena berhasil mengaplikasikan metode sejarah dalam menuliskan sebuah karya.
Berbeda dengan Herodotus, Thucydides merespon perkembangan pengetahuan Yunani dengan menghasilkan sejarah yang lebih politis agar dapat digunakan sebagai legitimasi dalam politik praktis. Ia menuliskan deskrpsi panjang Sejarah perang antara Yunani dan Sparta atau lebih dikenal dengan perang Peloponnesia dengan cukup rinci. Pada akhirnya, Herodotus dan Thucydides sebagai pionir dari penulis sejarah di masa klasik tetap menuliskan sejarah yang membahas politik.
Dengan demikian, secara tidak langsung karya Homer hingga Herodotus dan Thucydides menggambarkan bagaimana orang-orang Yunani memahami sejarah. Bagi mereka sejarah bukanlah cabang ilmu. Sejarah pada masa Yunani selalu berirrama dengan politik. Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa Yunani menempatkan sejarah sebagai bagian dari politik.

Leave a Reply