Rendy Kurniawan
Apa itu Sejarah? Apa yang akan kita jawab jika menemukan pertanyaan semacam ini? Beberapa mungkin akan menjawab,”sejarah sesederhana peristiwa masa lalu”. Sebagian lain yang mungkin menguasai literasi sejarah dalam tingkat tertentu akan berkata,”sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang memiliki Batasan ruang dan waktu”. Namun, apakah definisi tersebut merefleksikan definisi sejarah secara utuh? Kita mungkin sepakat bahwa fungsi dari sejarah sebagian besar mengajarkan kita untuk belajar dari masa lalu untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, akan tetapi bagaimana dengan definisi sejarah itu sendiri?
Tulisan-tulisan sejarah yang dihasilkan oleh banyak ahli sepanjang waktu, secara tidak sadar, merefleksikan sebuah definisi sejarah. Secara tidak langsung mereka mengaplikasikan apa yang mereka pahami tentang arti sejarah lewat tulisan-tulisan yang mereka produksi. Dengan kata lain, karya-karya sejarawan telah mewakili apa yang mereka pahami tentang sejarah. Artinya, ketika kita atau mereka berusaha untuk menjawab, “Apa itu sejarah?” jawabannya, sadar atau tidak sadar, merefleksikan posisi kita dalam dimensi waktu tertentu. Kita tidak mungkin menjawab definisi sejarah sama seperti orang Yunani kuno ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama, begitu juga sebaliknya.
Di masa klasik, ketika keilmuan masih berporos pada Yunani hingga Romawi, sejarah didominasi oleh legitimasi politik dan cenderung mengesampingkan fakta. Berbagai karya sejarah pada masa ini berfokus kepada peristiwa perang atau kisah kebesaran seorang penguasa atau orang besar dengan dibumbui oleh berbagai mitos.(Marincola, 2007) Misalnya pada masa Yunani, Herodotus yang dikenal sebagai bapak sejarawan, menuliskan kisah peperangan antara Persia dan Yunani. Selain itu, pada masa Romawi, selain menulis kronik keberhasilan penaklukan di berbagai daerah, Julius Caesar sang kaisar Roma menulis sebuah otobiografi dengan berbagai kebesarannya yang entah benar atau tidak.(Hengst, 2010) Hal yang sama berlaku ketika penulisan sejarah berjaya di masa perkembangan Kristen di Eropa. Mereka menganggap bahwa sejarah merupakan bagian dari doktrin agama. Hal ini membuat karya-karya sejarah di masa ini penuh dengan dogma-dogma gereja. Salah satu contohnya adalah karya dari Augustinus sang Santo yang menulis The City of God. di dalamnya, kita akan melihat sebuah pergulatan antara kebaikan dan kejahatan di dalam arus sejarah, suatu titik balik bagi penulisan sejarah di masa Kristen awal.(Patrides, 1972)
Pada konteks penulisan sejarah Islam, karya-karya mereka juga menggambarkan konstelasi politik di masa awal perkembangannya. Misalnya, Ath-Thabari di abad ke-9 menulis sebuah karya monumental berjudul Sejarah Kerajaan dan Pemimpin-Pemimpin yang memaparkan bagaimana peperangan di kerajaan Islam klasik dan juga deskripsi ketika beberapa masa pemerintahan khalifah.(Rosenthal, 1968) Begitu juga di Indonesia, meskipun memiliki dimensi waktu yang mungkin sedikit berbeda, catatan-catatan tentang sejarah tertua di Indonesia berisi legitimasi terhadap raja-raja untuk memimpin. Melihat semua ini, ketika kita hidup pada masa ini, mungkin kita akan berpendapat bahwa sejarah adalah tentang perang dan keagungan seorang raja.

Berkaca dari kekeliruan yang banyak dihasilkan oleh sejarawan terdahulu karena banyaknya mitos dalam tulisan-tulisan sejarah, abad ke-19 dikenal sebagai sebuah zaman bagi kekuatan fakta. Aliran abad ke-19 ini didorong oleh Leopold Von Ranke pada tahun 1830. Ia mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah ‘menggambarkan bagaimana peristiwa terjadi’ (wei es eigentlich gewesen). Nampaknya, pada abad ini hampir seluruh sejarawan benar-benar memiliki pendapat yang sama dengan Ranke.(Pim den Boer, Peter Bugge, 1993) Contohnya, dalam konteks Indonesia dalam arus sejarah, karya berjudul Sejarah Jawa yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19 cenderung mengandalkan kekuatan fakta di hampir seluruh isi bukunya. Buku yang berisi kondisi sosial dan kultural Jawa ini adalah sebuah refleksi dari bagaimana orang-orang di abad ke-19 memahami sejarah. Dapat ditarik kesimpulan bahwa para sejarawan pada abad ini memahami sejarah sebagai kumpulan fakta semata. Mereka harus menjelaskan sebuah peristiwa dengan rinci lewat fakta yang mereka temukan.
Berbeda halnya dengan apa yang kita temukan beberapa dekade setelahnya. Pada awal abad ke-20, sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sejarah adalah alat untuk melihat masa kini. Croce berpendapat bahwa tugas sejarawan bukanlah untuk mendeskripsikan masa lalu, melainkan mengevaluasi. Sejalan dengan Croce, pada tahun 1910, Carl Becker dari Amerika berpendapat bahwa karya sejarah itu tidak ada hingga seorang sejarawan mengangkatnya dalam sebuah karya. Artinya, pada abad ini banyak karya sejarah yang hanya mencantumkan fakta-fakta tertentu dan menggambarkannya sebagai sebuah narasi sejarah yang utuh.(Carr, n.d.) Dengan kata lain, karya-karya pada abad ke-20 nampak penuh dengan interpretasi sejarah. Contohnya, Ferdnand Braudel menulis sejarah Mediterania di masa Raja Phillip II. Meskipun fakta yang disajikan terbatas jika dibandingkan karya-karya sejarah abad ke-19, ia mengandalkan interpretasi sebagai poros dari karya sejarahnya. Sejarawan Indonesia di periode ini nampaknya melakukan hal yang sama. Contohnya adalah Sartono Kartodirdjo dengan karyanya berjudul Pemberontakkan Petani Banten.
Melihat definisi sejarah dari abad ke abad, bagaimana dengan kita yang hidup di abad ke-21 ini. Apa definisi sejarah pada abad ke-21? Apa yang menjadi ciri khas dari karya sejarah abad ini? Nampaknya kita butuh waktu beberapa dekade lagi untuk menjawabnya.
Sumber Rujukan :
Carr, E. H. (n.d.). What is History.
Hengst, D. den. (2010). Emperor and Historiography. Brill.
Marincola, J. (2007). A Companion to Greek and Roman Historiography. Blackwell Publishing.
Patrides, C. A. (1972). The Grand Design of God : The Literary Form of the Christian View of History. Rouletdge.
Pim den Boer, Peter Bugge, O. W. (1993). The History of The Idea (K. Wilson (ed.)). The Open University.
Rosenthal, F. (1968). A History of Muslim Historiography. Brill.

Leave a Reply