/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Sejarah – Page 3

Category: Sejarah

  • Sejarah Buku Nikah di Nusantara Pra Kemerdekaan

    Sejarah Buku Nikah di Nusantara Pra Kemerdekaan

    Rendy Kurniawan

    “Buku nikah tampak baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan”

    Sejarah buku nikah merupakan salah satu bagian yang cukup menarik dalam sejarah pernikahan, sekaligus salah satu yang paling misterius di Nusantara. Di satu sisi, buku nikah memainkan peranan dalam pencatatan sipil serta menggambarkan administrasi kependudukan yang teratur. Akan tetapi, catatan-catatan atau bukti-bukti terkait pernikahan yang dicatat nampaknya baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan. Tentu model pernikahan yang melibatkan adat dan agama tidak mewajibkan pencatatan sipil, sehingga mustahil nampaknya kita dapat melihat buku nikah di dalam sejarah nusantara sebelum peraturan kerajaan Hindia Belanda tentang akta nikah di awal abad ke-20 diterbitkan. Dengan penjelasan di atas, deskripsi sekilas terkait sejarah buku nikah akan dijelaskan pada tulisan ini, meskipun dengan bukti-bukti yang tidak banyak.

    Masa VOC

    Sebelum masa penjajahan, nampaknya pernikahan dilaksanakan dengan tradisi masyarakat setempat. Ketika kesultanan Islam yang berdiri secara dominan di Nusantara, pernikahan kemungkinan besar diselenggarakan dengan mengacu kepada aturan yang ada di dalam tradisi Islam. Akan tetapi, penguasaan VOC pada abad ke-17 terhadap beberapa wilayah Nusantara memiliki pengaruh terhadap peraturan pernikahan meski nampaknya tidak signifikan. Peraturan pernikahan mungkin berubah dalam beberapa level, meskipun sepertinya tidak ada pengaruh yang berarti karena pengaruh Islam tetap kuat. Tepatnya pada tahun 1760, salah satu jurnal mengklaim bahwa VOC menerbitkan regulasi yang dikenal dengan nama Compendium Freijer untuk mengatur pernikahan bagi orang-orang Islam di bawah pemerintahan VOC.(Hermawati, 2015) Kabarnya, peraturan ini disusun oleh D.W. Freijer bersama beberapa tokoh penghulu.(Mubarok, 2017)

    Masa Hindia Belanda

    Selanjutnya, pada masa Hindia Belanda, beberapa peraturan terkait pernikahan disusun. Pada awalnya, peraturan yang melibatkan akta nikah tidak ditemukan setidaknya hingga abad ke-20. Sebelumnya, pernikahan yang terjadi di Hindia Belanda diserahkan sepenuhnya kepada hukum setempat yang didominasi oleh hukum Islam.(Wahyuni, 2014) Lalu di awal abad ke-20, ditemukan sebuah bukti adanya peraturan pernikahan yang melibatkan pencatatan sipil. Hal ini dirangkum di dalam De Nederlandsch Indie Wetboeken yang diterbitkan di tahun 1910. Berikut adalah kutipan dari pasal-pasal pernikahan yang dimuat dalam peraturan pernikahan kerajaan Hindia Belanda;

    Pasal 83 tentang pernikahan: De buiten ‘s lands hetzij tusschen ingezetenen van Nederlandsch-Indië onderling, hetzij tusschen deze en anderen aangegane huwelijken zijn van waarde, indien dezelve voltrokken zijn naar den vorm, welke gebruikelijk is in het land, waar de voltrekking heeft plaats gehad, en de ecthgenooten die ingezetenen van Nederlandsch-Indië zijn, met hebben gehandeld tegen de bepalingen in de eerste afdeelmg van dezen titel vermeld.(Engelbrecht, 1910)

    Pasal ini menjelaskan bahwa pernikahan dilakukan secara gebruikelijk atau hukum adat yang berlaku di daerah tersebut. Selain pasal ini, berikut adalah pasal yang mendorong pernikahan dicatatat di lembaga secara legal;

     Pasal 100 tentang pernikahan:  Het bestaan van een huwelijk kan niet anders worden bewezen dan door de acte van deszelfs voltrekking, in de registers van den burgerlijken stand ingeschreven behoudens de gevallen bij de volgende artikelen voorzien.(Engelbrecht, 1910)

    Pasal di atas menjelaskan bahwa pernikahan yang sah secara legal haruslah didaftarkan agar memiliki status hukum. Meskipun masih melibatkan hukum adat pada pasal 83, pasal 100 telah mendorong pencatatan pernikahan.

    Beberapa Permasalahan

    Pengaturan administrasi nikah nampaknya diakibatkan oleh beberapa masalah yang dihadapi masyarakat pada waktu tersebut. Beberapa diantaranya adalah pencegahan pernikahan dini, mencegah kelahiran yang tidak legal, dan melindungi wanita dari proes perceraian yang tidak adil.(Bedner, 2010) Bahkan, di masyarakat Jawa ada sebuah kasus dimana sang suami meninggalkan istrinya secara sepihak.(Amini, 2016) Dengan lahirnya peraturan pernikahan sekaligus buku atau akta nikah, diharapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pernikahan seperti yang telah disebutkan dapat diminimalisir. Peraturan pencatatan nikah berkembang lebih jauh akibat konferensi wanita yang diadakan oleh Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) pada tahun 1928. Karena konferensi ini nampaknya pemerintah menerbitkan Ordonantie op de Ingeschreven Huwelijken pada tahun 1937 sebagai respon dari kongres tersebut.(Sumiwi, 2012) Terbitnya kebijakan ini menjadi akhir dari perkembangan peraturan pernikahan dan buku nikah di Nusantara sebelum merdeka. Perkembangan buku nikah menjadi lebih pesat pada masa setelah Hindia Belanda.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/wp-admin/post.php?post=375&action=e

  • Jalan Jalan ke Bandung di tahun 1852 : Kisah Petualangan Charles Walter Kinloch

    Jalan Jalan ke Bandung di tahun 1852 : Kisah Petualangan Charles Walter Kinloch

    Danil Kasputra

    “Bandung pada abad ke 19 bukanlah sebuah kota besar apalagi kota metropolitan. Bandung mirip sebuah sebuah desa kecil yang besar di pegunungan”

    Kurang lebih lima tahun lalu, entah semester 4 atau 5, saya lupa-lupa ingat. Tapi yang jelas saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung. Bang Anton, begitulah saya sering sebut namanya, pemilik perpustakaan Batu Api di Jatinangor tempat saya sering nongkrong sekaligus baca dan pinjam buku memberi saya sebuah buku. Buku itu judulnya “Rambles in Java and The Straits in 1852”. Katanya ini buku keren tentang petualangan seorang Inggris di Jawa abad 19 juga ada petualangan dia di Bandung. Kebetulan saat itu saya lagi seneng-senengnya tuh baca baca segala hal tentang Bandung zaman kolonial. Tanpa pikir panjang saya pun meminjamnya lalu melahap habis isi buku.

    Tahun 2020 pun telah tiba dan tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saya teringat kembali buku itu dan rasanya ingin menulis sedikit catatan kecil terkait isi buku itu. Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar tentang keseluruhan buku itu. Cukup cerita cerita tentang Bandung saja yang akan saya ceritakan disini. Kebetulan Bandung baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke . Itung-itung ini hadiah saya bagi kota dimana saya telah menghabiskan sebagain besar hidup saya.

    Sekilas tentang Petualangan Charles Walter Kinloch

    Buku “Rambles in Java and Straits in 1852” awalnya merupakan sebuah diary milik Charles Walter Kinloch atau biasa disapa dengan Bengal Civilian. Arti dari judul buku itu sendiri dalam bahasa Indonesia kurang lebih “Pelancongan di Jawa dan Negeri-negeri antar Selat (Nama koloni Inggris yang meliputi Malaka, Penang dan Singapura). Dan memang diary ini banyak mengisahkan petualangan dari penulisnya di negeri-negeri itu pada tahun 1852. Diary ini sendiri mulai diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1853 dengan judul “De Zieke Reiziger”. Lalu pada tahun 1989 Oxford University Press menerbitkan ulang buku ini dengan judul baru “Rambles in Java and Straits in 1852″.

    Cerita buku ini bermula dari kesehatan Charles Walter Kinloch yang kurang baik. Kesehatannya itu akan cepat pulih apabila ia bertraveling. Maka di tahun 1852, Kinloch berpetualang mengunjungi Penang, Singapura dan Jawa. Tapi alih-alih memulihkan kesehatannya dia malah menemui banyak hal yang di luar dugaanya. Mulai dari cuaca Singapura yang dirasanya terlalu panas, masakan-masakan Belanda yang tidak cocok dengan lidahnya, akomodasi hotel yang di bawah standar, hingga perjalanan menggunakan pedati (gerobak yang ditarik kerbau) yang tidak nyaman.

    Jalan-jalan ke Bandung

    Petualangan Kinloch di Bandung tahun 1852 hanyalah rangkaian kecil dari kisah petualangannya mengunjungi Jawa. Hal ini dia lakukan setelah kunjungan ke Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor). Anda janganlah membayangkan perjalanan Batavia menuju Bandung via Buitenzorg sudah semudah dan senyamaan saat ini. Zaman itu bus, kereta api apalagi pesawat terbang belum lah dikenal. Jalan satu-satunya melalui Jalan Raya Pos Daendels dengan menggunakan kereta kuda. Kereta kuda ini kemudian diganti dengan gerobak yang ditarik sapi tatkala melalui Puncak Megamendung yang memiliki belasan tanjakan dan turunan curam.

    Bandung yang lebih mirip

    Sesudah melewati Buitenzorg lalu memasuki Cianjur. Cianjur kala itu masih Ibukota Karesidenan Priangan. Lalu tibalah Kinloch di Bandung, Bandung di mata Kinloch saat itu walaupun tak seluas Cianjur merupakan sebuah tempat yang cukup luas dan padat penduduk. Pedesaanya tampak sedang berkembang pesat dengan jalan-jalan yang saling bersilangan dengan rumah-rumah penduduk yang seragam. Bandung juga memiliki Jalan-jalan luas dengan beragam toko yang menjual barang berbagai jenis.

    Kinloch juga aneh sekaligus tertarik dengan topi jawa yang dijual dalam beragam warna dengan ukuran dengan diameter satu setengah kaki hingga tiga kaki. Topi-topi itu sendiri terbuat dari bambu di bagian luarnya dengan dilapisi pernis tebal. Jadinya dengan topi itu orang Jawa sama sekali tidak memerlukan payung saat hujan.

    Kain-kain jawa juga banyak menarik perhatian Kinloch. Kain-kain itu biasanya terdiri dari kain celup chintze dan warna kain yang paling umum ialah biru dan scarlet. Tapi bagi dia, tidak ada yang lebih menarik perhatiannya daripada makanan-makanan Jawa. Disini sebagai seorang traveller dia bisa memakan daging dan kari kabob, jagung bakar, risolles dari beras yang berwarna dengan buah-buahan, sayur-sayuran serta manisan.

    Bandung tahun 1852
    Jalan Raya Pos menuju Bandung di sekitaran Puncak Cianjur abad ke 19.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections
    Bandung tahun 1852
    Caping atau Topi Jawa yang terbuat dari Bambu dalam narasi Kinloch selama pelancongannya di Bandung.
    Sumber : Domain Umum.
    Bandung tahun 1852
    Seorang kusir dengan topi capingnya atau yang Kinloch sebut sebagai topi khas Jawa yang terbuat dari Bambu.
    Sumber: Charles Walter Kinloch. Rambles in Java and The Straits in 1852. Singapore:Oxford University Press. 1852

    Melancong ke Curug Dago

    Selama di Bandung Kinloch pun tak melewatkan untuk sekedar melancong ke Curug Dago. Tapi pelancongannya kesana tak berjalan mulus. Dia harus melewati jalanan yang demikian rusak ditambah cuaca yang berkabut tebal sehingga menyulitkannya untuk melihat benda apapun dalam jarak seratus meter. Namun setelah tanjakan pendek sekitar seratus kaki, dia begitu takjub dengan indahnya pemandangan yang ada dengan matahari dan langit yang cerah.

    Bandung tahun 1852
    Pemandangan Curug Dago di Abad-19.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections

    Lalu jalanan menurun sekitar setengah mil dan tibalah Kinloch pada curug dago (Bandoong Waterfall). Air terjun yang indah dengan gemuruh suaranya yang gemericik sungguh menyejukkan bagi. Tak heran saking kagumya Kinloch hingga berucap ” ….to be well worthy of a visit..“. Dari cerita nya ini, Bandung tahun 1852 nampak masih sebuah kota yang indah tapi masih belum banyak berkembang mirip sebuah pedesaan.

    Para Tuan Perkebunan Kopi dan Teh

    Selain melancong ke Curug Dago, Kinloch juga banyak bertemu para pemilik perkebunan Teh dan Kopi di Bandung masa itu. Hal ini juga memberikan kita sebuah informasi yang berharga tentang Bandung tahun 1852 yang seakan surga bagi para pekebun. Memang Bandung di masa itu berkat tanahnya yang subur tanaman-tanaman yang laku di pasaran Eropa semacam teh, kopi dan kina tumbuh subur di Bandung.

    Salah satu pemilik besar perkebunan teh di Bandung yang sempat Kinloch temui adalah Tuan L. Entah siapa yang dimaksud dengan Tuan L ini, Kinloch hanya menyebut namanya dengan inisial L. Tapi dia memberikan sedikit bocoran bahwa Tuan L ini bekas pegawai pemerintah dan sempat menjabat sebagai residen di salah satu distrik paling timur pulau Jawa. Setiap tahun keuntungan perkebunan terus bertambah.

    Lalu Teh juga bukan satu-satunya komoditas yang menguntungkan bagi Belanda. Ada kopi yang tumbuh subur di Bandung, bahkan diyakini kopi disini adalah satu dari sekian banyak kopi terbaik di dunia. Kinloch juga mencatat bahwa penanaman kopi disini sangat berlainan dengan di tempat manapun di pulau Jawa. Jadi Kopi setelah ditanam dibiarkan begitu saja hingga dia tumbuh delapan kaki.

    Bandung tahun 1852
    Masjid Agung Bandung tahun 1852 tampak masih rimbun dengan pepohonan serta bentuk arsitektur yang masih menyerupai masjid-masjid tradisional Jawa. (Atas)
    Gambaran pohon dan buah teh. Sebagaimana catatan Kinloch masa itu Bandung banyak dikekelingi perkebunan kopi dan teh (bawah).

    Jalan Kaki ke Tangkuban Perahu

    Rangkaian petualangan Kinloch ke Bandung berakhir di kawah Tangkuban Perahu. Ketika termometer di bawah 60 derajat dia memulai suatu perjalanan yang dia anggap sebagai sebuah jalan kaki yang melelahkan. Jalan kesana seluruhnya tanjakan tidak ada turunan satu pun. Tapi pada akhirnya tibalah dia disana, sekitaran kawah banyak pepohonan hangus dan gundul, juga tiada satu pun suara. semuanya hening.

    Kawah berbetuk melingkar dengan keliling tiga mil dan dalamnya hingga beberapa ratus kaki. Disini dia melukiskan perasaanya antara takjub dengan keheningan yang ada. Kinloch mencatat “There is no single sign or of sound of life and the impressive stillness of the atmosphere is unbroken, save by the monotonous bubbling of the death-dealing volcano” Kinloch pun kemudian melanjutkan perjalanannya keesokan hari nya ke Sumedang dan berakhirlah petualangannya di Bandung.

    Bandung tahun 1852
    Kawah Oepas, Kawah barat dari Tangkuban Perahu sebelum tahun 1860.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections

    Lihat juga : https://de.wikipedia.org/wiki/Franz_Wilhelm_Junghuhn

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/10/08/kisah-isdv-nenek-moyangnya-partai-komunis-indonesia/

  • Kisah Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) : Nenek Moyangnya PKI (Partai Komunis Indonesia)

    Kisah Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) : Nenek Moyangnya PKI (Partai Komunis Indonesia)

    Rendy Kurniawan

    “Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda  mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan”

    Dewasa ini, stigma negatif terhadap komunisme nampak semakin marak. Ketika komunis disebut, secara umum masyarakat teringat dengan tragedi dan pemberontakkan yang pernah terjadi di tahun 1965 karena melibatkan Partai Komunis Indonesia. Stigma ini menjadikan diskursus sejarah komunis Indonesia sebagai sisi gelap sejarah Indonesia yang tak layak untuk dipelajari. Ditambah lagi semangat mempelajari sejarah semakin meredup dari hari ke hari, membuat realitas masa lalu komunisme Indonesia semakin kabur. Hal ini wajar terjadi, karena anggapan negatif terhadap komunisme merupakan propaganda yang memang dilakukan pemerintah Orde Baru.[1] Padahal fakta sejarah mengatakan bahwa sebelum Indonesia merdeka, organisasi yang berlandaskan ideologi komunis bernama Indische Sosialische Democratische Vereeniging atau disingkat ISDV yang sering dianggap sebagai nenek moyangnya PKI juga memperjuangkan kemerdekaan. Sejarah ISDV merupakan sejarah pertentangan kelas antara masyarakat penuh impian kemerdekaan, kelompok feudal dan penjajah Belanda.

    Perkumpulan Diskusi Kaum Kiri Belanda

    Sebagai Nenek moyangnya PKI dan kaum komunis Indonesia, pada awalnya ISDV tidak bergerak di bidang politik dan tidak berhaluan komunis. Ia pada mulanya merupakan wadah diskusi untuk para anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau partai kiri Belanda yang tinggal dan bekerja di Hindia Belanda. ISDV mengedepankan diskusi terkait paham dan teori Marxis. Meski di awal kemunculannya ISDV tidak bergerak di bidang politik, tidak jarang aktivitas yang dilakukannya sering bersinggungan dengan kepentingan politik. Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda  mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan.[2]

    Dalam usaha mendekati anggota untuk melakukan diskusi terkait Marxis, anggota ISDV melakukan juga menjalin hubungan serasi dengan Sarekat Islam (SI), khususnya cabang Semarang yang dipimpin oleh Semaoen.[3] Hal ini membuat tokoh Sarekat Islam ini bergabung dengan ISDV secara sukarela demi perjuangan melawan penjajah.

    Seiring berjalannya waktu, berhasilnya Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 menjadi titik balik Marxisme di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda. Dengan semangat untuk membuat sebuah masyarakat yang bebas dari penjajahan, anggota ISDV semakin gencar melakukan agitasi dan propaganda untuk menghancurkan dominasi pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Hal ini membuat ISDV diawasi dan banyak tokohnya dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda akibat ketakutan luar biasa akan terjadinya revolusi akibat visi ISDV. Lalu pada tahun 1919 dengan berdirinya Commintern atau organisasi komunis dunia, ISDV pada akhirnya bergabung dengan mereka dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia di tahun selanjutnya.[4]

    Kedatangan Snievliet

    Meski hanya berdiri dan aktif selama tujuh tahun, ISDV telah merubah konstelasi politik antara pribumi dengan penjajah Belanda. Organisasi tersebut telah mendorong masyarakat pribumi untuk melawan penjajah dengan berbagai cara mulai dari agitasi hingga penerbitan harian. Hal tersebut memang tidak banyak dibahas, karena pengetahuan terkait ISDV didominasi oleh stigma negatif karena ia berideologi komunis. Dengan pertimbangan bahwa ISDV memiliki peran yang signifikan dalam perjuangan kemerdekaan yang bahkan tejadi beberapa dekade setelahnya, artikel ini akan membahas Selayang pandang sejarah ISDV secara singkat.

    Berdirinya Indische Sosialische Demoratische Vereeniging tidak lepas dari peran besar seorang Henk Sneevliet. Ia datang ke tanah Hindia Belanda pada tahun 1913. Terjadi banyak kontroversi terkait dengan tujuan sebenarnya kedatangan Henk Sneevliet ke Hindia Belanda. Di satu sisi ada yang mengatakan bahwa ia memang bertujuan untuk menyebarkan paham Marxisme di Hindia Belanda karena kesuksesannya mendirikan Partai Komunis Belanda.[5] Akan tetapi di sisi lain beberapa sumber mengatakan bahwa ia memang memulai karir di Hindia Belanda sebagai mistikus Katolik dan di kemudian hari mengubah haluannya menjadi sosialis demokrat yang mengharapkan revolusi di kalangan buruh.[6] Terlepas dari kontroversi tersebut, sumber-sumber tersebut mengklaim bahwa Sneevliet berhasil mendirikan Indische Sosialische Democratische Vereeniging pada tahun 1914. Pada awalnya ISDV beranggotakan orang-orang Belanda dan berfokus kepada diskusi-diskusi terkait dengan sosialisme di Semarang pada awalnya, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik sebagai salah satu partai.

    Membangun Basis Ideologi pada Masyarakat Pribumi

    ISDV sebagai partai berideologi kiri sekaligus Nenek Moyangnya PKI ini pada awalnya banyak didominasi oleh orang Belanda. Mereka menyadari bahwa untuk berkembang lebih besar. Mereka harus memperoleh basis di kalangan rakyat Indonesia. Banyak hal yang telah mereka lakukan untuk mewujudkannya, akan tetapi satu-satunya kesuksesan besar mereka adalah dengan menaruh perhatian lebih kepada Sarekat Islam, dengan ribuan anggotanya. Pada 1915, ia berhasil merekerut Semaoen sebagai salah satu anggota ISDV yang sekaligus merangkan sebagai komisaris Sarekat Islam cabang Semarang, sehingga pada tahun 1917 bahwa anggota ISDV telah mencapai 2.000 orang.[7] Dengan bergabungnya Semaoen, ISDV berhasil membumi di kalangan masyarakat pribumi sekaligus memecah Sarekat Islam menjadi dua; SI merah dan SI putih.

    Selain itu, bersamaan dengan keberhasilan revolusi Bolshevick di Rusia pada 1917, Sneevliet menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda mungkin saja dikudeta layaknya apa yang terjadi di Rusia jika rakyat Hindia Belanda terutama dari kalangan buruh menginginkannya. Akibat pernyataan ini, ia pada akhirnya harus dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun selanjutnya.[8] Dengan perginya Sneevliet dari Hindia Belanda, Semaoen sebagai salah satu tokoh berpengaruh di ISDV mengambil alih perannya sebagai ketua.

    Lalu pada kongres besar pertamanya di tahun 1920, anggota ISDV dan Sarekat Islam yang merasa memiliki visi yang sama, meleburkan diri menjadi Partai Komunis Hindia dan menunjuk Semaoen sebagai ketua. [9]  Hal ini menandai akhir kisah Indische Sosialische Democratische Vereeniging yang dilanjutkan oleh Partai Komunis Hindia semenjak bulan Mei 1920 yang kelak dikenal sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Note


    [1] Wahyu Wirayawan, Aksi Partai Komunis 1925-1965 (Yogyakarta), hal 1.

    [2] Guskannur, Pengaruh Sosialisme Terhadap Perjuangan Bangsa Indonesia Masa Pemerintahan Kolonial Belanda (1913-1927) (Lampung), hal 2.

    [3] Yudhi Rachman, ‘Gerakan Anti Kolonialisme Menuju Indonesia Merdeka Dalam Perspektif Smelserian’, Simulacra, 1.2 (2018), hal 195.

    [4] Lihat abstrak skripsi Anton Fitrianto, ‘Indische Sociaal Democratische Vereeniging 1914-1920’ (Universitas Indonesia).

    [5] Yunani Hasan, ‘Indische Sosialische Democratische Vereeniging (ISDV) Merupakan Cikal Bakal Partai Komunis Indonesia (PKI)’, Jurnal Pendidikan Dan Kajian Sejarah, 3.5 (2014), hal 7.

    [6] M. C. Ricklefs, ‘A History of Modern Indonesia since c. 1300’, A History of Modern Indonesia since c. 1300, 2015, hal 370.

    [7] Ricklefs, hal 372.

    [8] Ruth T. McVey, Belanda, Kemunculan Komunisme Di Hindia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hal 59.

    [9] Anastacia Novlina Nurak, Masa Akhir Kolonial Di Indonesia 1920-1942” (Depok, 2018), hal 3.

    Lihat juga : https://nl.wikipedia.org/wiki/Communistische_Partij_van_Indonesi%C3%AB

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/28/jejak-perpustakaan-di-dunia-islam/

  • Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Nur Cahya

    Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas, – M. Hatta  –

    Perpustakaan sering dianggap guru dari para guru, karena disitu terdapat ragam hasil pemikiran atau banyak karya di berbagai disiplin ilmu yang telah terdokumentasikan. Salah satunya adalah hasil pemikiran atau karya dari dunia islam. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford Dunia Islam Modern, perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam pernah mengalami masa kejayaannya. Perpustakaan Islam ini muncul di wilayah Baghdad, Kairo dan Cordova dimana buku-buku banyak tersebar.

    Perpustakaan umum dalam dunia Islam dikenal dengan berbagai nama seperti Bayt al-Hikmah, Khizanat al-Hikmah, Dar al-Hikmah, Dar Ilmi, Dar al-Kutub, Khizanat al-Kutub dan Bayt al-Kutub. Ada perpustakaan madrasah, perpustakaan umum, perpustakaan swasta, perpustakaan istana atau kerajaan, dan perpustakaan yang terhubung dengan rumah sakit.

    Perpustakaan di Damaskus

    Jejak perpustakaan di Dunia Islam pertama didirikan oleh khalifah Umayyah yakni Mu’awiyah bin Abi Sufyan  (602-680) di Damaskus. Buku-buku pada masa ini sebagian besar berputar di sekitar mesjid. Pada waktu itu tujuan utamanya adalah menyalin buku-buku dari bahasa Yunani, Pahlavi, Siria, dan Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Selain itu, di mesjid juga dipergunakan tempat pengadilan serta ceramah, debat, dan diskusi tentang berbagai masalah agama, ilmiah, dan filosofis. Secara tradisi tradisional, Muslim mewariskan koleksi buku mereka ke mesjid.

    Baru sejak abad ke-9, kebanyakan perpustakaan menyimpan buku-buku  ilmu eksaktra. Beberapa dari perpustakaan ini adalah milik pribadi, sementara yang lainnya didirikan oleh Khalifah, Amir (Gubernur), Sultan, dan Wazir (mentri). Misalnnya pada masa Abbasiyyah di Mosul terdapat perpustakaan besar bernama Khizanat al-Kutub. Demikian pula seorang pedagang kaya raya yang bernama Ali bin Muhammad al-Bazzaz (942) dikatakan memiliki Bayt al-‘ilmi (perpustakaan/rumah ilmu). Baru ketika abad ke-10 perpustakaan telah mengalami perkembangan. Ketika banyak sekolah telah didirikan di Baghdad, Fez, Cordova, Persia, Kairo, Basrah, Isfahan, Nishapur, Mughal dan lainnya..

    Bayt al-Hikmah di Baghdad

    Bayt al-Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (memerintah 786-809). Perpustakaan ini bisa dikatakan sebagai salah satu perpustakaan terbesar di dunia Islam. Perpustakaan ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun (memerintah 813-833) yang dikreditkan dengan lembaga formal. Al-Ma’mun juga berjasa membawa banyak ulama terkenal untuk berbagi informasi, ide, dan budaya di Bayt al-Hikmah. Selain para cendikiawan Muslim, cendikiawan Hindu, Yahudi dan Kristen diizinkan untuk belajar disini. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para cendikiawan di Bayt al-Hikmah telah memberikan banyak konstribusi orisinal yang cukup luar biasa dalam berbagai bidang.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Ilustrasi abad ke-13 melukiskan kegiatan belajar mengajar antara guru dan muridnya dalam sebuah perpustakaan publik di Baghdad.
    Sumber: Bibliotheque Nationale de France
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Al-Khawarizmi salah satu ahli Matematika paling berpengaruh di Baitul Hikmah, Baghdad dalam perangko terbitan Uni Soviet.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Bayt al-Hikmah terdiri dari perpustakaan, biro penerjemahan, observasium, ruang baca, tempat tinggal ilmuwan dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang bekerja disana yaitu Elan al-Sha’oobi, dibawah pengawasannya, naskah-naskah kuno disalin. Abu Sahl dan Abu al-Fazal bin Naubakht diutus dengan tugas memperluas perpustakaan. Seorang wazir (pada masa Harun al-Rasyid)Yahya bin Khalid Barmaki mengundang para ilmuwan Hindu dan menerjemahkan buku-buku Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Karena Yahya Khalid Barnaki adalah orang persia, maka dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.

    Pusat Pengumpulan Manuskrip Kuno

    Demi mendapatkan banyak buku, Khalifah Harun al-Rasyid mengirim utusan ke berbagai negara untuk mendapatkan manuskrip langka. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dalam beragam bahasa meliputi bahasa Sansakerta, Zend-Avista, Persia, Syiria, Koptik. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid  menerima buku dari petualangannya di Roma dan Amudiyya, dia megintruksikan Yohanna ma-Sawiyya untuk menerjemahkan karya Yunani ini ke dalam bahasa Arab.

    Kemudian al-Ma’mun membeli manuskrip-manuskrip langka untuk perpustakaan seperti puisi dari masa pra islam serta dokumen pemerintah, surat dan perjanjian negara misalnya perjanjian pembayaran pinjaman yang ditandatangani oleh Abdul Muthalib bin Hasyim (578). Khalifah al-Ma’mun dikatakan pernah meminta penguasa Sisilia untuk mengirim semua buku yang dikurung di sebuah rumah terlantar di pulau tersebut. Setelah Khalifah al-Ma’mun menerima buku-buku tersebut, kemudian dia memberikannya kepada direktur perpustakaan saat itu yakni Sahal bin Harun. Selain itu, ketika Khalifah al-Ma’mun menang perang melawan Bizantium, dia menetapkan bahwa naskah Yunani tertentu akan dikirim ke Baghdad. Untuk tujuan tersebut, seorang ahli matematika dan penerjemah al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (833) dipilih untuk membawa naskah-naskah tersebut ke Baghdad. Untuk lebih jelasnya lihat Ibnu Nadiim (990) dalam kitab Fihrist-nya dan Haji Khalifa (1657) dalam kitabnya Kasyfu al-Dzunun..

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad mengenai alat cuci tangan berbentuk perempuan memegang kendi.
    Sumber : Asia.si.edu
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad.
    Sumber : Asia.si.edu

    Perpustakaan Keluarga Barmaki

    Selain Bayt al-Hikmah, di Baghdad terdapat juga perpustakaan-perpustakaan pribadi seperti perpustakaan yang didirikan oleh wazir Harun al-Rasyid yang bernama Yahya bin Khalid Barmaki (806),  perpustakaan pribadi Yaqub bin Ishaq al-Kindi (866), perpustakaan pribadi  Fatah bin Khaqan (861) sahabat dari khalifah Mutawakkil (822-861), perpustakaan pribadi Ishaq Mosuli (850) seorang master hadis serta tata bahasa dan perpustakaan pribadi lainnya

    Al-Qarawiyyan di Fez

    Al-Qawariyyan juga merupakan sebuah perpustakaan penting di dunia Islam. Perpustakaan ini didirikan pada 859 di Fez, Maroko oleh Fatimah al-Fihriyah, putri dari seorang imigran kara dari Tunisia modern.  Fatimah al-Fihriyah seorang wanita Muslim yang berpendidikan tinggi dan taat, dia memutuskan untuk mendedikasikan warisannya yang kaya untuk kemajuan pendidikan agama dan sains. Dia mendirikan pusat pendidikan dan perpustakaan. Dia banyak menyimpan manuskrip kuno dalam bidang teologi, hukum, astronomi, dan tata bahasa yang berasal dari abad ke-7. (lihat dalam Hugh Kennedy when Baghdad Ruled the Muslim World).

    Di perpustakaan ini, yang paling menonjol yaitu terdapat kitab Muqaddimah karangan Ibnu Kholdun. Sebuah al-Qur’an abad ke-9 yang ditulis dalam kaligrafi kufi, dan karya dari ahli hukum dan filsuf Spanyol yaitu Ibn Rusyd.  Selain itu, dikatakan bahwa seorang penyair dan filsuf Ibn al-Arabi (1165-1240) pernah belajar disana pada abad ke-12. Begitu juga sejarawan dan ekonom muslim Ibn Khaldun pernah hadir pada abad ke-14. Sedangkan pada abad pertengahan, al-Qarawiyyan memainkan peran utama dalam transfer ilmu pengetahuan antar dunia muslim.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Univeritas Qawariyyan di Fez Maroko. Salah satu dari Universitas tertua di dunia.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Perpustakaan Cordova di Andalusia

    Setelah berdirinya kekuasaan Islam di Andalus, Cordova menjadi permata kekhalifahan. Disana terdapat 380 mesjid, 800 madrasah dan banyak perpustakaan pribadi dan 70 perpustakaan umum. Pada masa Umayyah Spanyol, Cordova  menjadi pusat pembelajaran dan kehidupan intelektual. Orang-orang Cordova juga mengumpulkan buku untuk rumah mereka. Mereka yang memiliki perpustakaan pribadi dianggap sebagai tokoh penting dalam masyarakat Cordovan. Maka tak heran bisa dikatakan bahwa Cordova adalah rumah besar bagi perpustakaan di dunia Islam. Menurut sejarawan al-Maqqari berkata bahwa orang Andalus sangat ahli dalam memiliki perpustakaan. Ada begitu banyak orang kaya yang buta huruf,  akan tetapi bangga memiliki perpustakaan di rumah mereka. 

    Buku disimpan di lemari kayu cendana dengan daftar yang menunjukan buku disetiap  kabinet. Kulit digunakan untuk penjilidan buku, beberapa buku memiliki tulisan perak atau emas. Adapun Mesjid Cordova merupakan salah satu bangunan yang paling terkenal dan merupakan universitas terbesar di eropa. Disana terdapat Dar al-Kitabah, yang didalamnya ada sekumpulan juru tulis yang terlibat dalam penyalinan buku dan jumlah penjilid buku yang sama.

    Salah satunya adalah Lubna. Dia adalah direktur perpustakaan Cordova dan dia juga bertanggung jawab untuk memproduksi, menulis dan menerjemahkan volume baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III (961) dan putranya al-Hakam (976).

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Pengajaran filsafat Aristoteles di Cordoba
    Sumber : Domain umum

    Perpustakaan Pribadi Al-Hakam

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Patung Al-Hakam II di Cordoba.
    Domain umum

    Al-Hakam memiliki perpustakaan, dengan memiliki 400.000 volume, katalognya ada di 44 register dengan masing-masing 20 lembar yang dikelola oleh Kasim Bakiya. Kemudian  menurut kronik Arab, pada masa al-Hakam II di beberapa daerah di Cordova terdapat lebih dari 170 wanita yang menyalin buku dan mereka juga memberikan gagasan tentang budaya.

    Perpustakaan khalifah al-Hakam II adalah perpustakaan paling terkenal. Dikatakan menurut Richard Erdose “Andalusia diatas segalanya, terkenal sebagai tanah para sarjana, perpustakaan, pecinta dan kolektor buku. Di Cordova buku-buku lebih dicari daripada selir atau permata cantik. Kejayaan kota adalah perpustakaan besar yang didirikan oleh al-Hakam II. Dengan berisi empat ratus ribu jilid, pada halaman pembuka setiap buku tertulis nama, tanggal, tempat lahir dan nenek moyang pengarangnya, beserta judul karyanya, empat puluh delapan jilid katalog terus-menerus diubah, didadftarkan dan dideskripsikan semua judul dan berisi petunjuk tentang di mana karya tertentu dapat ditemukan”.

    Selain itu, perpustakaan islam di Andalus mampu membawa kebangkitan pemikiran dan sains di Eropa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Bokenkotter dalam A Concise History of the Catholic Chruch bahwa selama periode kira-kira seratus tahun  (1150-1250) semua tulisan Aristoteles diterjemahkan dan diperkenalkan ke Barat, disertai dengan sejumlah besar koomentar Arab. Komentar-komentar filsuf Arab seperti Ibnu Sina dan Averoes yang menekankan karakter pemikiran filsuf yang tidak religius dan tidak spritual. Hal ini memicu krisis para pemimpin intelektual barat. Hal itu merupakan awal periode aktivitas intelektual yang tak tertandingi yang mencapai klimaksnya pada abad ke-13 terutama di Paris dan Oxford.

    Shiraz di Persia

    Bangsa Persia juga turut berperan besar dalam berlimpahnya perpustakaan di Dunia Islam. Adud al-Daula meruapakan salah satu tokoh yang berperan penting. Adud al-Daula (949-982) adalah seorang amir dari dinasti Buyid. Di Shiraz, Adud al-Daula mendirikan perpustakaan yang megah dengan buku-buku yang ditulis dari masa permulaan islam hingga masanya, perpustakaan ini terletak dalam istana kerajaan. Terdapat banyak sekali rak buku tinggi, kayunya dicat dengan warna emas dan juga terdapat ruang terpisah untuk setiap cabang ilmu. Perpustakaan ini diurus oleh bendahara dan direktur, hanya para sarjana terkemuka yang memiliki akses masuk ke perpustakaan tersebut. Direkturnya adalah Ibn Miskawaih (932-1030) yang merupakan filsuf dan sejarawan dari Rey Iran. Dia bekerja sebagai sekertaris dan pustakawan sejumlah wazir termasuk Adud al-Daula.

    Bahkan ada salah satu sekertaris dari Adud al-Daula yaitu  Abu Qasim Ismail yang memiliki perpustakaan yang luar biasa di Shiraz. Dia tidak hanya tertarik mengooleksi buku, tapi dia juga ditemani oleh penulis, penyair dan debat. Menurut Stuart Murray dalam The Libraries mengatakan bahwa “perpustakaan Islam dulu kaya akan keragaman, memungkinkan para sarjana dari negeri lain untuk berbagi fasilitas. Perpustakaan-perpustakaan ini terkenal akan daya tarik dan kenyamanannya, banyak yang dihiasi dengan kubah islam klasik, beberapa dikelilingi oleh jalan setapak dan taman dengan kolam. Dianatar perpustakaan paling legendaris adalah perpustakaan kota Shiraz di Persia, dimana terdapat lebih dari 300 kamar yang dilengkapi dengan karpet mewah. Perpustakaannya memiliki katalog yang lengkap untuk membantu menemukan teks yang disimpan di ruang penyimpanan dan diatur sesuai dengan setiap cabang pembelajaran”.   

    Perpustakaan di Kairo

                Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz Billah (955-996) selain khalifah dia juga merupakan seorang ulama, penulis puisi, menyalin buku dan juga mendirikan buku di istanyana (Fathimiyyah) di Kairo Khaa’in al-Qashaar yang terdiri dari 40 ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu hadis, fiqih, tata bahasa, sastra, sejarah, astronomi dan kimia. Disana juga terdapat 30 eksamplar “Kitab al-Ain” Khalil bin Ahmad Nahvi, 1200 examplar Tarikh al-Thabari dan masih banyak yang lainnya. Kemudian setelah kematian Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz,  koleksi-koleksi tersebut dipindahkan ke perpustakaan penerusnya al-Hakim bin Amr Allah (996-1021).

    Al-Hakim bin Amr Allah mendirikan perpustakaan di Kairo dengan nama Darul Hikmah (rumah ilmu pengetahuan), tujuannya adalah untuk menyebarkan keimanan Syi’ah. Para ilmuwan, ahli logika, ahli hukum, astronomi  dan dokter terkenal mengambil bagian dalam pengukuhannya dan bekerja disini. Suatu ketika Hakim bin Amr Allah mengunadang para ulama ini untuk berdebat, setelah itu setiap orang diberi uang dalam jumlah besar.

    Selain itu, ada juga perpustakaan Jami’ah al-Azhar yang didirikan pada masa Khalifah Muizz al-Din Allah (953-975). Perpustakaan ini menampung lebih dari dua ratus ribu jilid. Menurut hitungan tertentu, koleksinya mencakup 9.062 buku dan 595.668 manuskrip yang setidaknya berasal dari abad ke-8, untuk lebih jelasnya lihat libararything.com.

    Ada juga perpustakaan Mahmudiyya, perpustakaan ini merupakan bagian dari madrasah Mahmudiyya yang didirikan oleh seoorang negarawan Mesir Jamal al-Din Mahmud, penasihat dari Sultan Malik al-Zahif Sayf al-Din Barquq (1382-1399). Di perpustakaan ini terdapat beberapa ulama terkemuka yang menjadi direktur perpustakaan ini, salah satunya adalah Syeikh al-Islam Hafidz ibn Hajar al-Atsqalani yang menyiapkan dua katalog perpustakaan ini. Satu katalog disusun menurut abjad dan yang lainnya menurut materi pelajaran.

    Bukhara dan Samarkand

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Masjid Agung Samarkand pusat pembelajaran dan kegiatan intelektual Abad Pertengahan.
    Sumber : Museum.ru

    Bukhara dan Samarkand adalah dua pusat budaya Samanid (819-999). Kota ini telah lama menjadi pusat perdagangan, beasiswa, budaya dan agama. Di kota ini lahir Muhammad al-Bukhari (870), penulis dari kumpulan hadis Shahih al-Bukhari. Selain itu kota ini merupakan rumah bagi seorang tabib Syeikh Abu Ali Ibnu Sina (980-1037). Penguasa Samanid, Sultan Bukhara Amir Nuh bin Mansur (berkuasa 976-997) telah mendirikan perpustakaan yang luar biasa disini, dan Syeikh Abu Ali Ibnu Sina banyak memperoleh ilmu di perpustakaan ini.

    Hal tersebut dipertegas oleh perkataan Ibnu Khallikan dalam…. “Abu Ali Ibnu Sina sering mengunjungi perpustakaannya, yang kekayaannya tak tertandingi, karena tidak hanya berisi semua karya terkenal yang ditemukan di tangan publuk, tetapi yang lain tidak dapat ditemui di tempat lain dan yang tidak hanya judulnya tetapi juga isinya tidak diketahui. Disini Abu Ali menemukan risalah tentang ilmu-ilmu kuno, dan subjek-subjek lain, yang intinya dia luar biasa dengan sebagian besar ilmu-ilmu yang ia ketahui. kebetulan beberapa waktu kemudian perpustakaan ini habis terbakar,  dan Abu Ali tetap menjadi satu satunya penyimpan ilmu yang dikandungnya. Beberapa oorang bahkan mengatakan bahwa dialah yang membakar perpustakaan’.

    Perpustakaan-Perpustakaan Di Dunia Islam Lainnya

    Kemaharajaan Mughal

                Masih banyak lagi perpustakaan-perpustakaan yang lahir dan berkembang di wilayah-wilayah dunia muslim lain seperti perpustakaan di Mughal India. Muhammad Taher dalam Stuart Murray The Library mengatakan ‘perpustakaan kekaisaran sangat ditingkatkan oleh Mughal Muhyaddin Aurangzeb Alamgir yang terakhir. Terlepas dari bahasa lain, dia tahu bahasa Hindustan dengan sangat baik. Aurangzeb mendukung penyair Hindi, oleh karena itu perpustakaan kekaisaran pasti memiliki variasi yang jauh lebih besar daripada Akbar dalam bahasa utama di timur dan barat. Perpustakaan menambah koleksinya dan menjadi basis kegiatan sastra kaisar.

    Fataw’ay Alamgiri, intisari hukum Muslim terbesar di India, disusun oleh dewan ahli hukum terkemuka dibawah pengawasan pribadinya. Kompilasi ini membutuhkan akumulasi dari berbagai buku yang berhubungan dengan hukum dalam bahasa-bahasa utama Islam. Dalam perjalanan Deccan, tentang Mughal dapat menemukan perpustakaan Mahmud Gawan. Ini dipindahkan ke Delhi dan ditambahkan ke koleksi kekaisaran atas perintah Aurangzeb. Selera bacanya merupakan replika dari nenek moyangnya sendiri, dan kabarnya jam bacanya dimulai pukul 2 siang setiap hari. Para Nazim dari perpustakaan kakaisaran ini yang telah disebutkan dalam sejarah yaitu Muhammad Saleh bin Isa Khan, Syed Ali Tabrizi, dan para muhtamim yaitu Muhammad Mansur, Syed Ali al Hussaini dan Kabir Khan”.

    Kekaisaran Ottoman

    Kemudian perpustakaan di kekaisaran Ottoman/Utsmani Turkey, kekaisaran Utsmani menguasai wilayah Baghdad, kairo, Damaskus, Mekah, Madinah dan Yerusalem. Mesjid, perguruan tinggi dan perpustakaan baru mulai didirikan pada abad ke-17. Pada masa kekaisaran Utsmani, koleksi buku tumbuh dengan pesat, terutama karena wakaf-wakaf untuk kepentingan umum. Pada 1678 sebuah perpustakaan didirikan di Istanbul di gedung khsus, dan itu menyimpan koleksi Manuskrip Arab terbesar sebagaimana dikatakan oleh Can Karametil dalam The Turkish Journal of Collectable Art bahwa “Ada sekitar 14.000 manuskrip di perpustakaan. Ada hampir 18.000 miniatur, yang sebagian besar berada di Perpustakaan Perbendaharaan yang memamerkan karakteristik dari berbagai aliran dan gaya terbesar dari seni representasi Islam. Album dan buku terbaik dari Arab, Saljuk, Mongol, Timurid, Uzbek, Karakoyunlu dan Akkoyunlu Turkmen, Safawia, Mamluk dan para kaligrafi istana Ottoman merupakan bagian paling berharga dari perpustakaan Istana”.             

    Perpustakaan El Escorial di Spanyol

    Menurut Murray dalam The libraries mengatakan bahwa perpustakaan ini didirikan oleh Philip II pada tahun 1563, koleksi manuskrip tulisan Islam terbesar ada di Istana El Escorial di Kota Madrid. Terdapat sebuah ruangan di lantai atas yang berisi buku-buku yang dilarang dan telah membakar 70.000 volume. Kemudian sisa-sisa ini mencakup lebih dari 1.800 gelar Arab yang diperoleh dengan pengusiran Muslim dari Spanyol”, dan masih banyak lagi perpustakan-perpustakan lainnya yang tidak disebutkan dalam artikel ini.

    Terima Kasih dan Allahu’alam bishawwab.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/26/dari-moskow-ke-madiun-stalin-pki-dan-hubungan-diplomatik-uni-soviet-indonesia-1947-1953/

    Lihat juga : https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A8%D9%8A%D8%AA_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9

  • Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Nur Cahya

    “Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari).“

    Dahulu di pondok pesantren ketika kita ingin membuka sebagian kitab ulama. Maka pertama-tama kita akan terlebih dahulu diperkenalkan kepada sebuah pengantar untuk mengenalkan ilmu yang akan digeluti dalam kitab tersebut.  Pengantar tersebut pada umumnya dijabarkan menjadi sepuluh poin, namun ada juga yang kurang dari itu. Sepuluh poin inilah yang oleh para ahli dan pakar disebut sebagai pengantar ilmu atau “Mabadi Asyrah”.

    Mabadi Asyrah

    Istilah “Mabadi Asyrah” belumlah dikenal oleh para ulama terdahulu.  Menurut Dr. Musthafa Ridha, salah satu seorang guru di al-Azhar, mengatakan bahwa gagasan ini dilafalkan pertama kali oleh imam Sa’adudin  al-Taftazani dalam kitabnya yang berjudul المطول “al-Muthawwal” sebagai penjelas dari kitab Talkhis al-Miftah milik imam Qazwani dalam ilmu balaghah. Namun, hal itu belum dinamai sebagai Mabadi Asyrah sebab dalam kitabnya ia hanya menjelaskan tiga hal saja. Ketiga hal itu ialah definisi, pembahasan, dan faidah.

    Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu  kreativitas para ahli dalam Islam tidak pernah berhenti.  Mereka terus mencoba untuk membuka gagasan yang belum pernah dilakukan para pendahulunya. Jika sudah ada yang mencetuskan, maka mereka akan coba mengembangkan dan memperluas apa yang telah dikemukakan oleh para pendahulu mereka. Diantara para ahli itu yaitu imam Abu Irfan al-Shabban, penulis dari kitab yang berjudul حاشيه صبان على الملوى yang mencoba memperluas gagasan apa yang telah dikemukakan oleh al-Taftazani.

    Syair Mabadi Asyarah

    Dalam kitab tersebut imam al-Shabban menjadikan tiga hal yang dijelaskan oleh al-Taftazani menjadi sepuluh. Imam al-Shabban merangkum sepuluh poin ini dalam bentuk syair yaitu:

    إِنَّ مَبَادِي كُلِّ فَنٍّ عَشرَةْ           الحَدُّ وَالمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَّمرَةْ

    وَنِسْبَةٌ وَفَضْلُهُ وَالوَاضِعُ           وَالاسْمُ الاِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعُ

    مَسَائِلُ وَالبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى   وَمَنْ دَرَى الجَمِيْعَ حَازَ الشَّرَفَا    

    Artinya:  “Sesungguhnya Maba>di (pengantar dasar dalam setiap disiplin ilmu) itu ada sepuluh, yaitu (1) Batasan definisi, (2) Ruang lingkup kajian, (3) Manfaat kajian,

    (4) Perbandingan dan Hubungan dengan kajian yang lain, (5) Keistimewaan, (6) Perintis, (7) Sebutan resmi, (8) Sumber pengambilan kajian, (9) Hukum mempelajari,

     (10) Masail (pokok permasalahan yang dikaji). Mengetahui sebagainya memadai untuk sebagian yang lain dan siapa yang menguasai semuanya maka akan meraih kemuliaan”.

    Hingga sampai sekarang sebuah pengantar ilmu dikenal dengan sebutan “Mabadi Asyrah” yaitu sepuluh poin penting yang harus diketahui oleh pelajar sebelum membuka atau memasuki suatu disiplin ilmu.

    Ilmu Tarikh

    Salah satu dari disiplin ilmu yang ada yaitu ilmu tarikh. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika pelajar ingin memasuki suatu disiplin ilmu termasuk ilmu tarikh. Maka pelajar itu harus mengetahui terlebih dahulu sebuah pengantar dari disiplin ilmu tarikh itu sendiri.  Disiplin ilmu tarikh disebutkan oleh imam As-Sakhawi dalam kitabnya yang berjudul الأعلان بالتوبيخ لمن ذم اهل التاريخ  terdapat sepuluh pengantar atau Mabadi Asyrah. Meskipun susunannya itu tidak sama persis dengan syair imam al-Shabban. Mabadi Asyrah yang disebut imam Al-Sakhawi dalam kitabnya yaitu: definisi tarikh, ruang lingkup ilmu tarikh, Manfaat ilmu tarikh, hubungan ilmu tarikh dengan ilmu lain, tujuan ilmu tarikh, hukum tarikh, syarat menjadi Muarikh, Nama tarikh/sebutan resmi, perintis tarikh, dan pokok permasalahan yang dikaji.

    Definisi Ilmu Tarikh

    Definisi tarikh berdasarkan لغة atau bahasa yaitu الاعلام بالوقت   (pengetahuan tentang waktu/ tanggal). Sedangkan menurut Abu al-Faraj Qudamah bin ja’far al-Kaaib dalam kitab الخراج kata tarikh yaitu peristiwa-peristiwa yang terkenal atau masyhur (padanan dengan term sejarah).

    Adapun tarikh menurut العرف (adat)  memiliki arti fiksasi umum waktu untuk tujuan yang berkaitan pada satu bagian masa (jaman), baik dari masa lalu, masa sekarang atau bahkan masa depan. Sedangkan secara  اصطلاح (terminlogi) yaitu indikasi waktu dengan menghubungkan pada peristiwa pertama dari berbagai banyak perhatian, seperti penampilan sebuah agama, atau kejadian yang menakutkan seperti peristiwa banjir, gempa bumi besar atau sejenisnya, atau tanda dan fenomena teresterial (hal yang terkait dengan tanah atau permukaan tanah).  

    Selanjutnya ilmu tarikh menurut Imam As-Sakhawi adalah ilmu yang membahas tentang fakta waktu. Fakta waktu disini meliputi dalam hal pengangkatan dan pencegahan yang terjadi di dunia. Sedangkan menurut imam al-Kafiyaji ilmu tarikh berarti membicarakan cabang ilmu yang dikodifikasikan. Sedangnkan cabang ilmu yang dikodifikasikan itu harus memiliki masalah beserta objeknya dan ilmu tarikh memiliki hal itu.

    Ruang Lingkup Ilmu Tarikh

    Ruang lingkup ilmu tarikh adalah manusia dan waktu.

    Manfaat Ilmu Tarikh

    Manfaat mempelajarri ilmu tarikh adalah mengetahui peristiwa-peritiwa tertentu yang nantinya dijadikan suatu pembelajaran. Ilmu tarikh juga sangat bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain seperti ilmu siyasah (politik), sosial, filsafat, fikih dan lainnya.

    Hubungan Ilmu Tarikh dengan Ilmu Lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Hadis

    Ilmu Tarikh dengan ilmu hadis, bukti sejarah sangat membantu sekali terhadap keaslian dan kredibilitas seorang periwayat (sanad) beserta redaksi (matan) hadisnya dan jarh wa tadiil, contoh seperti tarikh al-Hufadz, Tarikh Muhadisin, Thabaqat dan lainnya. Begitupun sebaliknya, ilmu hadis sangat membantu sekali ilmu tarikh hal itu bisa terlihat sekali dimasa ilmu tarikh pertama kali berkembang didunia Islam, dimana metode ilmu hadis banyak diterapkan juga terhadap ilmu tarikh. Bahkan beberapa penulisan sejarah islam ada yang mesti menggunakan sumber ilmu hadis/hadis ini contoh seperti penulisan سيرة النبي, مغازي, اسباب النزول, اسباب الورود,  تاريخ الحفاظ , تاريخ المحدثين dan lain-lain.

    Hubungan Ilmu Tarikh dan Politik

    Kedua Ilmu sangat berhubungan juga dengan politik begitupun sebaliknya, dimana hal itu bisa terlihat dalam penulisan تاريخ الخلفاء (para khalifah), تاريخ الوزراء (para menteri),  تاريخ الملوك(kerajaan) dan lain-lain.

    Antara Ilmu Tarikh dengan Ilmu Akhlaq dan Tasawuf

    Ilmu Tasawuf juga saling berhubungan dengan Ilmu Sejarah contoh seperti penulisan تاريخ العباد والصوفية., تاريخ الاشراف , dan lain-lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Fiqh

    tarikh sangat membantu terhadap fikih islam karena fikih atau hukum  islam tidak lahir sebagai produk yang instan yang langsung jadi, namun itu melewati masa dan priodik cukup lama. Sehingga mempelajari tarikh pembentukan fikih tersebut memiliki manfaat dan urgensi yang sangat penting. Contoh kitab تاريخ الفقهاء, النسخ dan lain-lain.

    Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lain yang membutuhkan ilmu tarikh, begitupun sebaliknya seperti kedokteran, filsafat, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.

    Tujuan Ilmu Tarikh

    Tujuan dari ilmu tarikh ini adalah semata-mata mengharapkan Ridha Allah. Karena hal itu tidak mengharapkan upah atau pahala dari sebaik-baiknya perbuatan dan perbuatan itu tergantung dengan niatnya.

    Hukum Tarikh

    Adapun hukum memplajari  tarikh menurut as-Sakhawi itu tidak tertuju pada satu hukum. Pertama seseorang (muslim) dihukumi wajib jika dia menentukan cara untuk mengetahui yang berhubungan dengan suatu Khabar seperti silsilah perriwayatan dan sejenisnya, mengetahui naskh,dan  hal yang berhubgan dengan nasab seperti waris dan …. Kedua, adapun jika selain hal itu tarikh dihukumi fardhu kifayah, yakni status hukum dari sebuah aktifitas dalam islam yang wajib dilakukan. Akan tetapi apabila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur.

    Syarat Menjadi Muarikh (Sejarawan)

    Untuk menjadi seorang sejarawan, as-Sakhawi memberikan empat kriteria. kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang sejarawan. Keempat kriteria itu serupa dengan syarat kriteria yang harus dimiliki oleh seorang perawi hadis. Hal itu guna mengetahui kualitas seorang sejarawan, baik kualitas intelektual maupun kepribadiannya. Sejarawan dituntut harus al-aql (cerdas), yang dhabit (akurat), beragama islam dan adil.

    Tradisi ini sangat diandalkan khususnya dalam mengetahui kualitas serta kredibilitas seorang perawi dan dapat dipercaya. Karena itu, karya sejarwan akan lebih diinginkan dan lebih terpercaya. Hal itu supaya ada peningkatan kewaspadaan terhadap cerita yang tanpa dasar. Sejarawan juga akan dilindungi dari kesalahan dan menyesatkan pernyataannya.

    Nama Tarikh

    Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari). Abu Mansur al-Juwaliqi dalam kitabnya المعرب من الكلام الأعجمي berkata bahwa tarikh adalah bukan bahsa arab murni, karena orang-orang muslim mengambilnya dari ahlu kitab (orang Farsi). Al-Kafiyaji dalam kitabnya  مختصر في علم التاريخ  mengatakan bahwa awalnya kata tarikh ini tercipta ketika Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa al-Asy’ari yang tanpa disertai titik mangsa dan hari pengirimannya. Kemudian Umar menydari adanya kesulitan pada saat melakukan pengarsipan dan seleksi urutan surat.

    Oleh karena itu, Umar kemudian memerintahkan adanya musyawarah yang melibatkan para ahli dan sahabat Nabi SAW. Musyawarah ini bertujuan untuk menyusun penanggalan yang khusus berlaku dalam Islam. Singkat cerita, Umar menetapkan penanggalan atau kalender resmi umat Islam pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 17 H. Nama kalender umat Islam ini adalah Hijriah karena menjadikan peristiwa  hijrah Nabi SAW sebagai permulaan penanggalan.

    Dari peristiwa ini pula lahirlah kata tarikh yaitu ketika umat muslim menaklukan Persia dan seorang al-Hurmujan (dia adalah raja al-Ahwaz) masuk islam menceritakan bahwa bangsa ajam mengukur perhitungan waktu dinamakan  ماه روز dan dihubungkan dengan kebiasaan mereka dari الاكاسره . Kemudian kata tersebut diarabkan menjadi مورخ kemudian diambilah bentuk masdharnya yaitu تاريخ , maka jadilah tarikh dengan arti tanggal atau term sejarah dalam bahasa arab dan itu digunakan hingga sekarang.

    Para Perintis Ilmu Tarikh

    Siapa perintis penulis sejarah  (muslim), maka jawaban imam As-Sakhawi adalah banyak sekali. Karena dia membagi lagi tulisan-tulisan sejarah para ulama dimana penulisan sejarah dan masing-masingnya berbeda orang  pertama yang menulisnya. سيرة النبي dan المغازى ditulis pertama kali oleh Musa bin Uqbah al-Asadi al-Madani (salah satu tabi’in), Muhammad bin Ishaq al-Muthalabii (salah satu tabi’in juga).

    1. قصص الانبياء (kisah-kisah para Nabi) ditulis petama kali leh Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Muthalabi
    2. Penulisan تاريخ الصحابة (sejarah para sahabat) ditullis pertama kali oleh Ali bin Al-Madani dengan judul kitab معرفة من نزل من الصحابة سائر البلذان yang terdiri dari 5 juz.
    3. تاريخ الخلفاء (sejarah para khalifah) yang didalamnya diceritakan dari pemimpin masa shabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, dan Mu’awiyah), khalifah-khalifah dinasti Umayah, Khalifah-khalifah dinasti Abasiyah, Khalifah-khalifah dinasti Umayah 2 (Andalus), khalifah-khalih dinasti Mamluk hingga khalifah-khalifah dinasti fatimiyyah ditulis pertama kali oleh Abu Abdullah Muhammad bin Husain al-Mahdi.
    4. تاريخ الملوك الاسلام  (sejarah kerajan-kerajan/daulah Islam) ditulis pertama kali oleh Muhammad bin Abdul Mulki al-Hamdaani, Abu Hasan Ali bin Abu Manshur al-Ajadi.

    Masail Ilmu Tarikh

    Mengenai objek atau masail yang dibahas dalam ilmu tarikh yaitu peristiwa atau kejadian yang menarik, kejadian yang mampu menciptakan untuk tindakan yang baik, kejadian yang mengandung peringatan serta menentang melakukann kejahatan, kejadian yang mampu meghasilkan melakukan perbuatan baik dan halangan melakukan kejahatan, peristiwa atau kejadian yang mampu memberikan nasihat, berisi intruksi dan kejadian yang mengesankan.

    Akan tetapi, tidak semua kejadian yang disebutkan diatas bisa dituliskan. Al-Kafiyaji dalam kitabnya dengan judul مختصر في علم التاريخ memberikan syarat bahwa kejadian-kejadian tersebut mesti dideinisikan dengan jelas, waktu kejadiannya mesti ditetapkan dengan penuh kehati-hatian dan mesti memiliki tujuan yang jelas.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/21/senjata-api-di-kerajaan-kerajaan-indonesia/

  • Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Danil Kasputra

    “Kerajaan-kerajaan Indonesia kuno juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.”

    Seringkali saya mendengar dalam satu bincang-bincang katanya kerajaan-kerajaan Indonesia zaman dulu itu berperang hanya modal golok dan bambu runcing saja. Sementara Belanda datang ke tanah air kita dengan teknologi canggih senjata api. Jadinya, niat kita mau serang Belanda malah kita yang sudah kena dor duluan. Jadilah kita selalu saja kalah dan kalah. Jangan heran deh! akhinya Belanda menjajah tanah air kita tercinta ini hingga 350 tahun. Saya sebagai penyimak seringkali merenung sekaligus mengingat-ingat berbagai referensi buku yang pernah saya baca. Dalam benak saya, terbersit, Ini beneran nggak sih!!!. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya menyimpulkan bahwa opini ini tak sepenuhnya benar. Loh Kok bisa gitu? oke deh klo gitu ada baiknya saya ajak anda menengok kebelakang.

    Anggapan bambu runcing, golok, parang, dan berbagai senjata tradisional khas nusantara lainnya sebagai senjata utama peperangan kerajaan-kerajaan Indonesia tempo dulu tidaklah salah. Tapi perlu diketahui sebagaimana Belanda kerajaan-kerajaan itu juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu nampaknya jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

    William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra (2016:518) mengatakan bahwa meriam sudah dikenal di sana (Hindia) jauh sebelum penemuan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan. Penemuan jalur menuju Tanjung Harapan sendiri baru terjadi pada akhir abad ke 15. Setidaknya, kita bisa menduga bahwa sebelum abad ke 15 kerajaan-kerajaan Indonesia telah mengenal senjata api. Jadi supaya lebih jelas berikut ini saya uraikan beberapa kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lalu dengan senjata api yang mereka miliki.

    Artileri dan Pasukan Musketir Majapahit

    Majapahit yang dikenang sebagai kerajaan terbesar dalam memori orang Indonesia diketahui telah mengenal teknologi senjata api. Thomas Stanford Raffles dalam bukunya The History of Java Volume II (1817:99) menulis bahwa di tahun 1247 Saka (sekitar 1325 M) negeri-negeri bawahan Majapahit mengirimkan sebuah meriam bernama Ng’ai stomi (Nyai Satomi) dan beberapa meriam berkaliber kecil.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sebuah Meriam Perunggu Majapahit bertarikh abad ke 14 M. Lambang Surya Majapahit tampak terdapat di bagian tengah meriam.
    Sumber: Metmuseum.org

    Buku A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century (1866:198) dari Duarte da Barbossa yang singgah di Jawa tahun 1510 M menguatkan kata-kata Raffles. Orang-orang Jawa kata Barbosa memiliki beragam jenis meriam, musket atau senapan panjang, serta banyak senjata api lainnya. Senjata-senjata ini memiliki manfaat yang besar dan amat berguna sebagai artileri. Barbossa juga tampak terkagum -kagum sekaligus keheranan bagaimana baja-baja terbaik ditempa dengan amat cantik lalu ditahtakan emas dan gading.

    Kesaksian Barbosa tentang adanya musket atau senapan panjang kembali diperkuat oleh kesaksian dari seorang pelawat barat lainnya dari Portugis. Nama pelawat itu adalah Tome Pires. Dalam kesaksiannya yang dituangkan dalam buku The Suma Oriental of the Tome Pires and The book of Francisco Rodrigues (1944:176) Pires mencatat bahwa Raja Jawa Gusti Pate (Gusti Patih) memiliki sekitar empat ribu pasukan musketir. Pasukan ini dia gunakan dalam peperangan dengan raja-raja pesisir yang telah terislamkan utamanya raja Demak.

    Meriam-meriam Kesultanan Demak

    Pada abad ke 16, saat Majapahit telah terbenam. Mantan bawahan sekaligus saingannya Demak telah muncul dalam panggung politik Jawa sebagai penerus Majapahit namun dalam balutan agama baru, agama Islam. Tentu saja sebagai penerus Majapahit, Demak juga telah banyak berkenalan dengan berbagai jenis senjata api.

    Apalagi dalam rangka perluasan kerajaannya, senjata api merupakan senjata yang penting bagi kesultanan Demak. Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:377) mengatakan dari sumber Portugis dan lokal bahwa meriam banyak digunakan tahun 1511 dalam pertempuran merebut Melaka yang berujung kekalahan menyakitkan bagi Demak.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Meriam Ki Amuk konon meriam buatan Demak yang dihadiahkan pada Sultan Banten sebagai hadiah pernikahan pada tahun 1579.
    Sumber: Leiden University Libraries Collection

    Mengenai darimana meriam-meriam itu berasal dan siapa pembuatnya, The Adventures of Mindes Pinto (1663:378), mengabarkan pada kita betapa pentingnya peran Orang Aceh dan Turki dalam pembuatan meriam-meriam Demak. Kemudian ada juga seorang pembelot Portugis bernama Coai Geinal (Khoja Zainal) berperan amat penting sebagai pimpinan pabrik pembuatan senjata api.

    K.C.Crucq dikutip dari Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:380) telah melakukan serangkain penelitian serius. Hasilnya kemungkinan Meriam Ki Amuk yang tersimpan di Banten hari ini merupakan satu dari sedikit meriam produksi Demak yang tersisa. Crucq mendasarakan pada catatan Valentijn bahwa Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanudin Banten sewaktu pernikahnnya dengan putrinya. Maka Meriam Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tanggal adalah 1450 Saka, yakn 1528/9 yang kiranya sesuai dengan pernikahan Hasanudin.

    Artileri-Artileri Kesultanan Aceh

    Dari segi persenjataan, Kerajaan-kerajaan Indonesia dari Sumatera juga tak kalah gaul dalam perkenalan dengan teknologi senjata api. Bahkan berkat perkenalan itu Aceh tampil sebagai satu kerajaan besar di abad ke 17. Kekuatannya sanggup setidaknya membuat negara-negara Eropa macam Portugis agak keteteran. Aceh yang di abad itu telah terislamisasi banyak mendapat bantuan persenjataan dari Turki (Kesultanan Ottoman) sebagai poros utama dunia Islam.

    J.R Verbeek dalam De Geschiedenis van Atjeh Sultanaat in Vogelvlucht mengatakan berkat kerjasama militer dengan Turki meliputi bantuan senjata api. Tak perlu heran, Aceh di masa Sultan Alaudin mampu merontokkan semua kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu saingannya. Orang Portugis di Malaka pun ketar-ketir dibuatnya. Tiga kali serangan orang Aceh selama rentang waktu 1537 hingga 1547 sempat membuat Portugis kerepotan.

    Kabar yang beredar konon di masa jayanya pada zaman Sultan Iskandar Muda yang termashur, Aceh punya 5000 pucuk meriam. Jumlah itu cukup setidaknya menggambarkan betapa perkasanya kesultanan itu di zamannya. Tapi jumlah itu ternyata tidaklah benar juga. Seorang pengelana Perancis Beaulieu mengabarkan pada kita dikutip dari buku Kerajaan Aceh (2014:132) karya seorang Indonesianis bernama Denys Lombard jumlah itu telah dilebih-lebihkan. Pada kenyataannya 5000 itu meliputi 1200 meriam berkaliber sedang, 800 meriam besar serta sisanya hanya istinggar. Itu pun kata Beaulieu dengan nada agak sinis pendek dan kurang baik pemasangannya.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sejenis senjata api musket atau istinggar dari Kesultanan Aceh abad-19.
    Sumber: Tropen Museum.

    Tentang Meriam dan Istinggar

    Orang Aceh sendiri pun sebetulnya sudah terampil menuang meriam sendiri. Tapi sultan pun akan senang apabila ada para pengelana asing yang menghadiahinya meriam. Beberapa hadiah bahkan jadi benda kesayangan Sultan (2014:133). Ada juga satu kebiasaan unik sultan. Senjata dan mesiu akan disembunyikan pada suatu tempat rahasia hingga suatu peperangan tiba. Rupanya Sultan takut sewaktu-waktu senjata api dan mesiu ini digunakan untuk pemberontakan melawan dirinya.

    Istinggar sendiri bukanlah meriam tapi senjata api sejenis bedil. Senjata ini banyak tersebar di se-antero negeri Melayu. Wan Mohd Dasuki dan Siti Radziah dalam Manuskrip Ilmu Bedil sebagai Sumber Etnosejarah Teknologi Senjata Api Melayu (2014:64) sumbu pencucuh istinggar yang berbara tersebut dikepit pada hujung pemegang sumbu. ketika picu ditarik, pemegang sumbu akan menolak sumbu berbara ke lubang penggalak yang berisi ubat bedil. dengan itu ubat bedil akan terbakar dan menghasilkan daya yang membolehkan peluru timah hitam dilepaskan dengan halaju tinggi melalui muncung istinggar.

    Matchlock dan Snapang Minangkabau

    Tidak jauh dari Aceh, di pantai barat Sumatra, Sumatra Barat adalah rumah bagi orang-orang Minangkabau. Sebagaimana di Aceh, disini orang Minangkabau juga telah berkenalan dengan teknologi senjata api. Matchlock dan Snapang adalah dua senjata api yang umum digunakan disini. Matchlock sebagaimana dicatat William Marsden (2016:517) larasnya dipadatkan dengan baik dan dilubangi dengan tepat, terbukti dengan bagusnya bidikan mereka. Mereka selalu membidik dengan merendahkan larasnya, alih alih menaikkan ujung ke arah sasaran.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Matchlock yang digunakan oleh kaum Padri ketika meletusnya perang Padri.
    Sumber: Domain Publik

    lalu ada snapang yang berasal dari istilah Belanda. Istinggar yang telah kita jelaskan sebelumnya terkategorikan sebagai snapang. Tapi dalam teks-teks historiografi Melayu snapang ini lebih dikenal dengan nama terakul. Snapang ini dilengkapi mekanisme bidasan spring-batu api, dengan memanfaatkan percikan api akibat geseran batu api tersebut ke arah pengadang besi yang tersedia untuk menyalakan ubat bedil (Wan Mohd Dasuki, 2014:64). Berlainan dengan senjata api milik Kesultanan Aceh, Senjata ini diadaptasi dari teknologi senjata api bangsa Eropa.

    Serupa orang Aceh, orang Minangkabau juga terampil menuang meriam. Meriam ditempa dengan menggulingkan batangan besi yang rata yang memiliki dimensi proporsional. Pengerjaannya dilakukan secara spiral, mengelilingi batang bulat dan memukul-mukulnya sampai bagian-bagian besi tersebut telah menyatu. Senjata-senjata ini terus digunakan hingga abad ke 19 ketika perang Padri meletus di Sumatra Barat. Berkat itu, Belanda sempat kewalahan terutama di masa awal peperangan.

    Nah, jadi tidak sepenuhnya benar kan! Nenek moyang kita dulu perang hanya pakai golok dan bambu runcing saja. Mereka juga sudah kenal senapan dan meriam. Lantas, timbul pertanyaan, mengapa kita dijajah sampai ratusan tahun? lama bener kalau dihitung katanya sampai tujuh turunan. Soal itu tentu saja ada faktor dan sebab tertentu. Nanti deh… bisa kita jelaskan di lain tempat. Semoga!!!

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/18/wawacan-pagerageungan-ketika-seni-meng-islamisasi-masyarakat/

    Lihat juga: https://en.wikipedia.org/wiki/Cetbang

  • Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Nur Cahya

    “Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung.”

    Dulu di serambi rumah, masyarakat Ciawi suka melantunkan tembang wawacan pagerageungan sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran bayi.  Semalam suntuk mereka habiskan dengan bernyanyi, layaknya lantunan takbir di kala menjelang lebaran. Pada jaman sekarang, tradisi wawacan pagerageungan itu hanya sebatas hiburan seremonial pariwisata, bahkan hampir tinggal nama, karena tidak adanya regenarasi. Padahal memiliki nilai seni dan sastra yang tinggi dalam tembang wawacan pagerageungan.

     Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Asal-Usul

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Bagaimana Tembang dilantunkan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

    Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

                Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    • Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

                Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Cara Permainan

    Semua itu biasanya dimainkan oleh sekitar 5 atau 10 orang, ucap  Ahmad. Hal itu bisa terlihat dari jumlah personil pagerageungan Argagurnita dengan hanya berisikan sepuluh orang pemain, yang semua ini dipimpin oleh almarhum bapak Ili Suhaeili. Akan tetapi, kini dari sepuluh pemain kesenian ini hanya tinggal 4 orang yang masih hidup. Tokoh tokoh tersebut yaitu Ahmad, Odo, Uun, dan  Ade. Selainnya sudah meninggal dunia termasuk Ili Suhaeli selaku pimpinan dari pagerageungan Argargurnita ini. Yang sekarang pimpinan ini diemban oleh Ahmad Rifa’i selaku orang yang paling senior diantara empat orang yang masih hidup.

    yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Tembang

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Cara Melantunkan Tembang Wawacan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    • Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    • Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

                Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    • Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

    Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

    Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Lihat juga:https://tareekh.my.id/

  • Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Nur Cahya

    “Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Hal itu didasarkan penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah binti Maimun tertulis hiasan aksara kaligrafi arab bertarikh tahun 1082 M.”

    Riwayat perkembangan seni kaligrafi di indonesia memiliki akarnya dalam seni kaligrafi Arab. Sebab seni kaligrafi merupakan salah satu tradisi tulis menulis yang sangat kental dengan tulisan arab.  Walaupun jauh sebelum Islam datang bisa dikatakann bahwa bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir tidak mengenal aksara. (D S. A., 1989). Tradisi tulis menulis terbilang cukup tertinggal dibanding dengan bangsa lain (Kharlie, 2003). Seperti contoh di Mesir yang sudah terkenal dengan tulisan Hieroglip, India dengan Devanagari, Assiria dengan Fonogram dan lain-lainnya (D S. A., 1989). Meski mereka sangat dikenal piwai dalam hal sastra. Namun dalam artikel kali ini, kami tidak akan membahas mengenai Seni Kaligrafi Bangsa Arab. Tapi Riwayat seni kaligrafi yang berkembang di Indonesia.

    Asal Mula dari Bangsa Arab

    Orang-orang Arab pra Islam mengandalkan tradisi verbalisme, dalam proses interaksi sehari-hari. Hal membuat mereka tidak terlalu memperdulikan potensi dan kemampuan tulis-menulis yang mereka miliki. Hal itu bisa terlihat pada daya ingat dan tingginya kualitas sastra mereka miliki. Kemudian kehadiran Islam dan perkembangannya mampu membawa perbahan besar dalam tradisi bangsa Arab ini.

    Wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad (al-Alaq 1-5). Surat ini ialah perintah Tuhan agar membaca, menelaah serta menganalisis. Turunya surat ini mampu menghentakan idealisme mereka. Sejak itu, perkembangan tradisi tulis –menulis bangsa Arab benar-benar sangat luar biasa, melompat, bahkan berlari meninggalkan yang lain (Kharlie, 2003).

    Dari Arab menuju Nusantara

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Berita tertua mengabarkan telah terbentuk sebuah komunitas muslim, dengan bertempat di Gresik Jawa Timur. Hal itu didasarkan berdasarkan analisa atas hasil penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah tertulis aksara arab dengan tahun 1082 M.  Berdasarkan analisa para arekolog, nisan tersebut merupakan tanda dari permulaan tulisan kaligrafi di Nusantara.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun dengan hiasan kaligrafi Arab. Salah satu bukti tertua mengenai seni kaligrafi awal di Nusantara.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections

    Menurut Prof. Muarif Ambary terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan jenis khat sebagai simbolisasi dari tulisan nisan tersebut. Jika ini ditelusuri lebih lanjut mengenai intensi gaya penulisan nisan tersebut mengunakan gaya kufi. Maka di Sumatera, khususnya wilayah Aceh gaya yang paling sering digunakan adalah Nasakh dan Tsuluts. Memang pada kenyataanya khat kufi kurang digemari atau bahkan kurang dikenal Muslim Nusantara. Sebaliknya khat Naskh dan Tsuluts sangat digandrungi masyarakat lokal. Pada gilirannya memunculkan istilah “makam tipe Aceh” dan seterusnya  (Ambary, 1998).

    Dua Periodisasi Tradisi Kaligrafi Lokal

    Periodisasi Pertama

    Adapun mengenai riwayat dinamika seni kaligrafi lokal di Indonesia menurut Sirajudin dibagi dalam beberapa tahapan periodisasi (D S. A., 1994). Pertama, angkatan perintis, dalam periode islamisasi tentu bakal terjadi arabisasi, mengingat hampir seluruh rujukan tentang ajaran Islam berbahasa Arab. Apalagi para penyebar yang menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara, terutama pada masa permulaan perkembangan Islam, didominasi oleh ulama-ulama keturunan Arab atau non-arab yang lama belajar di Arab. Sehingga faktor inilah yang kemudian memaksa setiap muallaf  mesti bersentuhan dengan bahasa dan tulisan Arab. Dari titik ini cukup jelas kehadiran Islam menandai babak baru semarak penggunaan tulisan kaligrafi Arab.

    Karena pada praktiknya, tulisan Arab tidak hanya terbatas pada penggunaan teks yang berbahasa Arab atau mushaf al-Qur’an saja, melainkan juga digunakan untuk pergaulan sehari-hari terlebih untuk kebutuhan pengkajian Islam di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, surau, dan lain-lain. Ditambah seperti Pegon, huruf Jawi, atau huruf Melayu. Huruf ini digunakan sebagai medium pengajaran dan penulisan kitab-kitab, terutama di pesantren-pesantren.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Sebuah halaman dari buku Hikayat Abdullah karya Abdullah bin Abdulkadir Al-Munsyi ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Buku ini pertama kali terbit tahun 1849. Halaman demi halaman buku ini menyajikan pada anda tampilan indah seni kaligrafi.
    Sumber : National Library of Singapore

    Perkembangan berikutnya pada abad 17-20

    Pada tahap selanjutnya, kecenderungan tradisi menulis kaligrafi mengalami pergeseran dalam tataran pola. Dimulai dari abad ke 17, para seniman muslim keranjingan memasukkan huruf-huruf Arabdalam lukisan berbentuk hewan atau wujud manusia sebagaimana lazimanya para seniman Persia. Tipologi ini amat lekat dan mudah didapati pada lingkungan kraton seperti Cirebon, Yogjakarta, Surakarta dan Palembang.

    Sementara pada abad ke 18-20, tradisi penulisan kaligrafi tidak hanya tampak dan bersumber pada batu-batu nisan. Tapi Penulisannya telah bergeser dan mengambil ragam media seperti kertas, kayu, logam, kaca, dan lain-lain. Mushaf-mushaf al-Qur’an tua umumnya ditulis di atas kertas Deluang, yang oleh beberapa ahli jenis kertas ini dianggap mark Nusantara.

    Periode Kedua

    Pada periodisasi kedua, adalah angkatan orang-orang pesantren. Pengenalan huruf alphabet Arab yang dilakukan kyai kepada santri baru pada tahap memenuhi kebutuhan tulis-baca, belum sampai pada penekanan nilai-nilai estetisnya. Akan tetapi, keberanian dan kebanggaan menggunakan aksara Arab, terutama untuk gaya-gaya khat yang kubisme, telah tampak pada tulisan-tulisan yang tertera pada nisan-nisan kyai dan tokoh-tokoh agama. Hal ini menunjukan bahwa pada saat itu kaligrafi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, juga telah pula memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat dekoratif.

    Adapun mengenai penggunaan gaya khat yang cenderung estetis seperti naskh, tsuslus,dan faris, bisa digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan, baik berupa kitab-kitab fikih, tauhid, tasawuf, maupun mushaf al-Qur’an. Tradisi menulis mushaf ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama-ulama di pesantren klasik sejak abad ke-16. Langkah ini didorong oleh kelangkaan mushaf karena teknologi penggandaanya belum ditemukan. Sementara pasokan dari timur tengah juga dirasakan masih sangat kurang. Dengan atas dasar itulah muncul gairah dari kalangan pesantren untuk menuliskan al-Qur’an secara manual dengan kualifikasi tulisan yang sangat sederhana.

    Pelopor angkatan pesantren baru menunjukan sosoknya yang lebih nyata dalam kitab-kitab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Muhammad Was’i Abdul Razzaq, Yahya dan Rahmat Arifin, Abdul Razzaq Muhilli dan lain-lain.

    Ketika mengamati tradisi penulisan kaligrafi di interior masjid, akan ditemukan bukti bahwa media untuk mengekspresikan karya kaligrafi di pusat peribadatan tersebut tergolong masa moderen. Sebab, dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau bahka sama sekali tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad ke-16 yang asi dibuat pada zamannya. Kalaupun ada, biasanya menggunakan huruf Jawa seperti di masjid Mantingan Jepara dan Sendang Pacitan, Jawa Timur. Dengan hadirnya para kaligrafer di pesantren ini cukup mempersubur unsur hiasan masjid-masjid moderen yang baru dibangun. Adakalanya, penulisan kaligrafi itu sudah diprogram berbarengan dengan masa penyelesaian bangunan tersebut.

    Tiga Pola Pembinaan

    Pembinaan Pertama

    Secara umum, pengembangan kaligrafi di pesantren dapat dikategorikan dalam tiga pola pembinaan (Karlie, 2003). Pertama, mealui internalisasi materi kaligrafi dalam, kurikulum, intra-kurikuler. Modal ini mengakomodasi materi kaligrafi sebagai bagian integral dari proses belajar dan mengajar. Model ini dipraktekan di pesanren yang bernuansa moderen, seperti KMI Darusallam Gontor beserta seluruh afiliasinya. Meski tidak semua jenis khat dapat dikuasai, namun alumninya, paling tidak dapat menulis khat naskah dengan baik.

    Pembinaan Kedua

    Kedua, unternalisasi materi kaligrafi dalam format ekstra-kulikuler, untuk modal ini idealnya dibentuk wadah khusus yang menangani teknis pembinaan, seperti sanggar, asosiasi, dan lembaga independen lainnya. Ketiga, membangun model pesantren khusus kaligrafi. Dalam teknis pembinaan, pesantren seperti ini memberikan bahan ajar yang lebih filososfis, fokus dan mendalam sehingga santri benar-benar menguasai seluk-beluk kaligrafi, baik secara teoritis maupun praktis.

    Kemudian di tahun 1979, pada pameran lukisan Kalligrafi Nasional 1 berbarengan dengan MTQ XI di Semarang, telah menunjukan momentum awal yang menandakan babak baru seni kaligrafi Islam di Indonesia. Penampilan kaligrafi dalam bingkai seni-lukis tersebut seolah mengehntakan para seniman dan pemerhati kaligrafi. Pada giliranya, semangat memodifikasi kaligrafi murni dengan seni lukis tak lagi menjadi komoditas seniman out-sider, tetapi merasuki alam pikiran para kaligrafer yang sebelumnya tekun mempelajari rumus-rumus kaligrafi baku.

    Kemudian dengan masuknya kaligrafi dalam MTQ telah menjadi salah-satu modal dan basis potensi pengembangan seni kaligrafi Islam Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, meski baru mengambil bentuk eksibisi atau sayembara, ternyata sangat diminati oleh kalangan muda seperti contoh pada cabang kaligrafi MTQ XII 1981 di Aceh. Pada saat itu muncul gagasan agar cabang cabang dalam MTQ ditambha Musabaqah Khattil Qur’an atau lebih dikenal dengan singkatan MKQ.

    Pada pelaksanaan Festival Istiqlal I (1990) dan II (1995), diselenggarakan pula sayembara kaligrafi yang diikuti oleh ribuan peserta. Melihat tingginya animo masyarakat terhadap kaligrafi, maka festival ini mencanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi di seluruh Nusantara. Kemudian setelah itu sanggar-sanggar pembinaan kaligrafi bermunculan yang secara teknis dikawal oleh Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) Jakarta.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/11/resensi-film-muhammad-the-messenger-of-god/

    Lihat juga : https://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi_Islam

  • Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Danil Kasputra

    “Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam GANEFO. Sebuah olimpiade tandingan ciptaan Sukarno.”

    The Games of The New Emerging Forces (Ganefo) sebenarnya sebuah pesta olahraga yang luar biasa besar dan meriah. Ribuan atlet dari negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Sayangnya akibat konflik Indonesia dengan IOC (Komite Olimpiade Internasional) terkait masalah Taiwan dan Israel dalam Asian Games tahun 1962, IOC memarjinalkan pesta olahraga ini. Meski begitu, penyelenggaraan Ganefo tetap semarak dengan banyaknya rekor dunia dan nasional yang tercipta.

    Permulaan Penuh Tantangan

    Pada mulanya penyelenggaraan GANEFO banyak menimbulkan tantangan. Tantangan ini hadir terutama dalam IOC selaku dewan komite olimpiade internasional. IOC masih mempermasalahkan perlakuan Indonesia yang melarang delagasi atlet dari Israel dan Taiwan untuk ambil bagian dalam Asian Games Jakarta tahun sebelumnya. Alasan Indonesia karena simpati terhadap negara-negara Arab dan Tiongkok yang bermasalah dengan Israel dan Taiwan, tak mudah diterima oleh IOC. Akibatnya, sebagaimana ditulis Kobierrecki (2016:115) jurnalnya Sport as a Tool of Building Political Alliances: The Case of the Games of New emerging Forces (GANEFO) bahwa IOC akan mendiskualifikasi para atlet yang ikut bertanding dalam GANEFO.

    Tapi ini tidak menciutkan nyali Indonesia, Ganefo terus berjalan. Segala persiapan dilakukan. Meski, hampir 20% partisipan Indonesia atau China mengirimkan tidak lebih dari lima atau enam atlet. Negara-negara semacam Uni Soviet, Cekoslowakia, Polandia, Perancis dan Jerman Timur hanya mengirimkan atlet tak resmi tidak mencangkup atlet nomor wahid yang mereka miliki (Kobierrecki, 2016:115). Hal ini tentu saja akibat ketakutan turunnya sanksi IOC.

    Penyelenggaraan Semarak

    Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Benua Asia terwakili oleh Indonesia, China, Iraq, Filiphina, Laos, dll. Sementara Al Jazair, Mali, Republik Arab Bersatu (Nama Mesir hingga tahun 1971), serta Tunisia mewakili Benua Afrika. Negara-negara Amerika Latin seperti Argentina, Brazil, Uruguay, juga ikut turut serta. Para peserta dari Benua Eropa sebagian besar berasal dari negeri negeri Sosialis seperti Uni Soviet, Polandia, Bulgaria, dll.

    Ganefo Jakarta 1963
    Keberangkatan delegasi China menuju Indonesia untuk ambil bagian dalam pesta olahraga GANEFO di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Pada tanggal 10 November 1963 bertepatan dengan hari pahlawan di Indonesia, Presiden Sukarno resmi membuka pesta olahraga The Games of The New Emerging Forces yang pertama di Jakarta. Nyali api olimpiade menandai permulaan dari event ini. Tentu saja ribuan orang memadati Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno yang baru saja selesai pembangunanya dua tahun lalu. Puluhan bendera negara-negara peserta pesta olahraga ini juga berkibar mewarnai semaraknya pesta akbar ini.

    Ganefo Jakarta 1963
    Presiden Sukarno dalam pembukaan Ganefo pertama di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Penyalaan api GANEFO sebagai simbol telah dimulainya pesta olahraga ini.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Opening Ceremony.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Suasana meriah di sekitar kompleks olahraga Gelora Bung Karno. Ramai dengan kerumunan manusia juga semarak warna-warni negara-negara peserta GANEFO.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Rekor-rekor

    Meskipun sempat mengalami intimidasi dari IOC, penyelenggaraan GANEFO tetap meriah. Rekor-rekor dunia banyak tercipta. Menurut buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963, Republik Rakyat China dan Republik Demokratik Korean mendominasi event ini dengan lima rekor dunia baru. Rekor-rekor itu tercipta pada trek, lapangan, angkat besi dan panahan. Lebih keren lagi, Sim Kim Dan dari Korea Utara memecahkan dua rekor dunia lari wanita 400 m dan 800 m. Republik Rakyat China juga mampu menciptakan 60 rekor nasional pada menembak, panahan, angkat besi, lari tek dan lapangan.

    Ganefo Jakarta 1963
    Pebalap Sepeda China, Sung Hsi-Yun memimpin kejuaraan wanita perseorangan 45 km dengan waktu tempuh 1 jam 29 menit 12 detik.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Sim Kim Dan, Atlet lari wanita Korea Utara yang mampu menciptakan rekor dunia baru dalam lari jarak 400 m kategori wanita.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sedang bertanding melawan Tim Nasional Republik Rakyat China di Stadion Gelora Bung Karno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Seorang Fotographer Indonesia
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Persaudaraan antar Bangsa

    Pelaksanaan Ganefo juga tidak hanya sekedar kompetisi olahraga di antara negara-negara pesertanya. Tapi jauh dari itu semua, event ini berupaya untuk mempererat hubungan persahabatan dan keakraban di antara semua bangsa. Bahkan buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963 yang diterbitkan oleh Republik Rakyat China menegaskan perlunya solidaritas bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dalam menentang imperialisme lama dan baru. Tak heran poster-poster GANEFO banyak memberikan gambaran pada hal itu. Lalu selama jalannya penyelenggaraan kita juga banyak disuguhkan pemandangan keakraban dan kedekatan diantara para atlet dari berbagai negara.

    Ganefo Jakarta 1963
    Poster resmi penyelenggaraan GANEFO. Ikatan rantai terputus menyimbolkan dunia yang telah bebas dari imperialisme. Sementara slogan pantang mundur (Onward, No Retreat!) mewakili kehendak umum para negara peserta sebagaimana diucapkan oleh Presiden Sukarno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Delegasi Atlet Republik Arab Bersatu (Mesir) sedang benyanyi disaksikan oleh delegasi atlet Indonesia dan Republik Rakyat China.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tempat ternyaman dalam menyaksikan adu balap sepeda.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Akhir Penyelenggaraan

    22 november 1963 mengakhiri dua belas hari gelaran pesta olahraga The Games of New Emerging Forces (GANEFO). Tiongkok muncul sebagai juara umum. Uni Soviet dan Republik Arab Bersatu (Mesir) menyusul di tempat kedua dan ketiga. Sementara tuan rumah Indonesia menempati posisi keempat. Presiden Soekarno mewakili Indonesia selaku tuan rumah didaulat menutup event ini. Rencananya Republik Arab Bersatu (Mesir) akan menyelenggarakan GANEFO berikutnya tahun 1967 dengan bertindak sebagai tuan rumah.

    Ganefo Jakarta 1963
    Acara closing ceremony di Gelora Bung Karno 22 November 1963.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
  • Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    “Sukabumi tempo dulu menyajikan sebuah kota indah dengan danau-danaunya yang jernih, pegunungan hijau juga tak lupa pantai-pantainya yang eksotik.”

    Sebuah air terjun di Sukabumi, foto diambil kemungkinan diantara 1936 dan 1938.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sebuah Danau di Sukabumi tahun 1910.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sekolah calon polisi di Sukabumi kemungkinan tahun 1927.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Seorang pribumi sedang berpose di atas jembatan bambu.
    Sumber : collectie.wereldculturen
    Potret sekelompok murid sekolah frobel di Sukabumi.
    Sumber : Collectie.wereldculturen
    Panorama Taman Nasional Cibodas di Sukabumi tahun 1930
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Bangunan Stasiun Sukabumi diantara tahun 1895 dan 1908.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    sebuah Masjid di Sukabumi dengan pekarangan yang hijau.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Pantai Pelabuhan Ratu tahun 1940
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Pengrajin Wayang tahun 1911
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Anak-anak desa sedang bermain egrang. Foto kemungkinan diambil diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Telaga Warna di utara Sukabumi. Foto kemungkinan bertanggal diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Sekelompok Tentara Belanda dari Brigade Infantrie 1e selama Agresi Militer Belanda I di Sukabumi.
    Sumber : National Archief
    Sebuah buldoser diangkut dengan rakit sebagai upaya percobaan untuk mengangkut berbagai macam peralatan.
    Sumber : National Archief