Buku Ismail En Moerti yang saya terjemahkan di bawah ini, mengisahkan tentang kegiatan missionaris yang bekerja di Jawa Barat di abad ke 19. Coolsma, sang penulis buku ini adalah salah satu dari missionaris yang bekerja disana. Sementara itu, nama Ismail dan Moerti, sebagai nama dari judul buku ini merujuk pada dua orang dari suku Sunda yang terpanggil dan tercerahkan oleh panggilan agama Kristen melalui kegiatan Misionaris yang dilakukan oleh Coolsma dan kawan-kawannya sesama misionaris. Di bawah ini saya akan menghadirkan terjemahan dalam buku itu, yang mana saya publikasi dalam beberapa bagian,
Terjermahan
Orang-orang membagi pulau Jawa ke dalam dua bagian, dari ukurannya yang berbeda, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di sebelah utara, perbatasan kedua wilayah ini terbentuk oleh sungai Losari dan pada wilayah bagian selatan, sungai tandoei (Citanduy) menjadi pemisah keduanya. Wilayah pada sisi sebelah timur dari kedua sungai itu dikenal sebagai Jawa Timur, sedangkan sisi sebalah baratnya lebih sering disebut sebagai Jawa Barat. Penduduk pribumi menamakan wilayah timur dengan sebutan Jawa, sedangkan nama Pasundan untuk wilayah yang terletak di sebelah barat. Maksud dari nama Pasundan sendiri ialah “Negeri Sunda”, akan tetapi pada kenyatannya apa yang orang-orang pahami tentang Sunda sangat tidak jelas, terkadang orang-orang hanya menerka-nerka, karena memang tidak arti yang jelas, oleh karenanya kita tidak akan membahas masalah yang kurang penting ini disini.
Pulau Jawa memiliki luas wilayah hampir 2300 mil persegi, yang mana sekitar 865 mil persegi dari wilayahnya adalah Jawa Barat. Jumlah penduduknya sendiri di akhir tahun 1905 hampir 29 juta jiwa dan sekitar 7 juta diantaranya menempati wilayah Jawa Barat. Daerah yang disebut terakhir ini akan kita tampilkan pada pembaca. Kita akan mengenalkan mereka pada negeri Sunda. Negeri Sunda, sebuah wilayah yang meliputi karesidenan dari provinsi Batavia (Jakarta), Bantam (Banten), dan Karesidenan Priangan dan juga Cirebon. Dahulu Karesidenan Karawang juga termasuk di dalamnya sebelum wilayah ini digabung dengan Batavia.
Di Karesidenan Priangan kota Cianjur terletak, dapat ditemukan dalampeta kecil. Dalam buku ini kota ini akan dibahas secara spesific dan kami akan mengenalkannya kepada para pembaca. Nama Cianjur berasal dari nama aliran air pegunungan kecil, dimana leluhur orang-orang Sunda bertempat. Seluruh tempat di Negeri Sunda terletak pada tepian sungai. Maka tak heran, ibukota Priangan yang luas dan indah, Bandung terletak pada sungai Tjikapundung, juga Sumedang dengan sungai Cipelesnya, Buitenzoeg (Bogor) dengan Cisadane, Indramayu dengan sungai Cimanuk, dll. Kota pantai Batavia dan Cirebon sendiri terletak pada tepi sungai: Batavia dengan Ciliwungnya, Cirebon dengan sungai Cirebon, yang mana memiliki nama yang sama dengan kota Cirebon sendiri.
Pada satu waktu, Cianjur sangat sulit untuk diakses. Kendaraan paling cepat dan terbaik ialah dengan menggunakan sebuah pedati (sebuah gerobak dengan ditarik empat buah kuda post), orang menghabiskan waktu dua hari perjalanan dari Batavia untuk mencapai kesana, Jawa merupakan suatu negeri pegunungan. Orang-orang suatu waktu bisa memiliki pantai, yang mana dibelakangnya terdapat turunan dan tanjakan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal julukan Swiss Hindia pada wilayah Priangan. Akan tetapi sekarang, orang-orang bisa mencapai pendalaman secara leluasa dan lebih cepat juga lebih mudah, dengan ongkos yang kurang lebih murah. Orang-orang bisa menggunakan kereta api di pagi hari dan tiba di Cianjur pada siang hari melalui Depok, Buitenzorg (Bogor) dan Sukabumi.
Cianjur adalah suatu kota yang unik, disamping kota ini juga sangat bernuansa Sunda. Cianjur terletak dalam suatu lembah, walaupun ketingginnya hampir mencapai 1600 kaki di atas permukaan laut. Jalan Post Besar yang terkenal melintas ditengah kota, jalan ini saling terhubung dan tersambung dengan jalan lainnya yang luas dan indah. Orang-orang juga akan melintasi suatu gerbang kayu tanpa pintu jika memasuki Cianjur baik dari sisi perbatasan Bandung maupun Buitenzorg. Sepanjang jalan berdiri warung-warung yang mana di tempat warung warung itu berdiri, orang-orang akan mendapati jalan pagar tanaman tinggi dengan semakbelukar hijau. Kampung-kampung itu juga terhubung dan tersambung dengan jalan-jalan kecil dan nama satu jalan itu ialah Jalan Kompa. Asal usul nama jalan ini sendiri dapat ditelusuri dari pemerintahan orang-orang Eropa yang membuat pompa pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi andaikan terjadi sebuah kebakaran di bagian dalam pemukiman itu. Rumah-rumah terbuat dari bahan ringan, sehingga api besar mudah melalap. Di samping kota ini sangat nyaman, keunikan Cianjur lainnya ialah hampir setiap orang memiliki kolam, dimana ikan emas dan ikan-ikan lainnya ada di dalamnya. Kolam-kolam itu sehari-hari tanpa diberi makan masih tetap hidup berkat air yang berlimpah tiada henti-hentinya.
Sebagaimana kota-kota di Jawa, ditengah-tengah kota ada tempat tinggal raja, bupati atau kepala distrik, juga alun-alun, dimana orang-orang mengenalnya sebagai sebuah tanah lapang berumput, dengan luas dan lebarnya sekitar 160 passen. Pada sisi sebelah barat, terdapat sebuah Masjid, sedangkan pada sisi sebelah selatan berdiri tempat tinggal bupati, kepala tertinggi pribumi (yang membawahi sebuah kabupaten). Lalu dari arah sebelah timur terdapat suatu tembok berpagarkan tanaman dan pemukiman orang-orang Eropa terletak pada sisi sebelah utara. Kemudian di sekitar terdapat suatu lapangan yang tertutupi dengan pophon-pohon beringin tinggi. Bagunan-bangunan tidak banyak dijumpai di Cianjur. Orang-orang hanya menjumpai dalem (Istana atau pendopo) Bupati, tempat tinggal asisten residen kepala pemerintahan setempat, dengan gedung-gedung perkantoran di sampingnya. Lalu sebuah kantor pos dan telegraf, sebuah hotel sederhana, rumah sakit, penjara, masjid yang telah disebutkan di atas dan sejak beberapa tahun belakangan ada sebuah stasiun kereta api. Disii juga kita memiliki sebuah bangunan penting yaitu gereja Zending. Gereja Kristen pertama ini dibangun khusus bagi orang-orang Sunda, dan para penduduk serta pengunjung kota. Didalam bangunan juga terdapat sebuah tugu peringatan keberadaan Zending. Bagaimana hal ini (terutama zending) bisa muncul disini dan bagaimana bisa membangun gereja,kita akan menceritakannya sekarang pada bagian pertama.
After Nederlandsche Zendingsvereeniging (Perkumpulan Zending Belanda) didirikan di tahun 1858, dan seiring berjalannya waktu, mereka bisa menunjuk wakil mereka, dan mereka membuat tiga titik pengamatan di Tanah Sunda. Meskipun sejak 23 Juni 1596 orang-orang Belanda telah membangun suatu relasi dengan Jawa Barat. Namun tidak ada satu pun perwakilan pemerintah di wilayah terkecuali di Ibukota Batavia dan daerah perkebunan Depok yang bertetangga dengan Batavia, serta ajaran Kristen pun tidak pernah dikhutbahkan. Apalagi pasa sisi yang lainnya, Islamtelah meresap ke dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Para penasihat yang berbeda dari Perkumpulan sekarang merasa bahwa kondisi itu tidak lagi harus diteruskan. Apalagi di waktu yang sama pemerintah juga mengalami kesulitan menghadapi para pengkhutbah Muslim. Orang-orang tidak lagi harus merasa susah dan membuat komitmen yang serius dengan perintah Tuhan: “Khutbahkanlah Injil pada seluruh alam” dan kemudian terlihat betapa Hindia Belanda memprihatinkan, oleh karenanya Tanah Sunda harus berada dalam genggaman. Meskipun saat sebagaimana kita ketahui, sering dikatakan bahwa “sebagian besar rakyat Hindia-Belanda adalah muslim dan ini sangat sulit untuk menang (Dalam pengoversian mereka).” Tapi biarkanlah kami pertama-pertama merubah para penyembah berhala. Orang-orang ini masih bisa ditemukan di wilayah-wilayah terluar, sebab kita harus segera mungkin mengonversi mereka sebelum mereka menjadi muslim; Para pagan ini juga suatu waktu bisa kita gunakan sebagai alat untuk menangkal atau mengusir orang-orang Muslim.” Saat ini diektahui, bahwa 29 juta penduduk Jawa adalah muslim. Begitu juga dari 4 juta penduduk wilayah luar (luar Jawa), dua juta diantaranya muslim. Sementara sisanya sekitar 2 juta jiwa adlah para pagan atau penyembah berhala, yang mana mereka terdiri dari penduduk Bali dan Lombok yang memeluk agama Hindu, belum lagi menurut pengamatan Perkumpulan Zending Utrecht masih ada orang-orang belum tersentuh khutbah Injil maupun Islam. Kemudian jumlah dua juta dikurangi sehingga tersisa sekitar satu juta orang penganut animisme yang terbagi dalam suku terpencil dan tersebar. Cara yang baik harus diusahakan, yang mana Zending hanya mengawasi tanpa perlu membuat suatu perhitungan dan argumentasi yang rasional, tetapi tetap permhonan secara serius harus meminta penerangan dan arahan Kepala Zending, juga tak lupa kepada para tetua perkumpulan Zending Belanda. Hal itu dilakukan untuk memperoleh perintah yang mana dia akan berikan. Lalu ketika seluruh penasihat baik diminta maupun tanpa diminta, diperlihatkan Jawa Barat. Pemerintah memutuskan bahwa Pimpinan Perkumpulan menyerukan bahwa harus dilakukan pengkhutbahan Injil diantara orang-orang Sunda. Dalam perkara ini juga ditegaskan bahwa Perkumpulan Zending Belanda (Nederl. Zendingsvereeninging), sejak itu diputuskan bekerja mengkhutbahkan Injil di Tanah Sunda, tidak pernah ingin berpindah pekerjaan lain, meskipun dia telah didesak untuk melakukannya beberapa kali dan sehingga bidang pekerjaan ini kelak telah terbukti menjadi salah satu misionaris yang paling bersyukur (setidaknya untuk saat ini). (Bersambung)

Leave a Reply