Danil Kasputra
“Fenomena vandalisme di objek wisata bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku seperti ini sudah pernah sering terjadi.”
Cerita-cerita vandalisme para turis masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Perbincangan-perbincangan itu berpusat pada tangan-tangan jahil para turis yang entah karena iseng, untuk sekedar pamer di medsos atau gaya-gayaan merusak dan mengotori tempat-tempat pariwisata. Tidak mengherankan, tempat-tempat wisata yang seharusnya terlihat indah, eksotik dan penuh dengan nuansa kenyamanan menjadi tempat yang sangat tidak layak untuk dikunjungi. Mirisnya, jika ditelisik kebelakang, fenomena semacam ini bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku serupa sudah pernah sering terjadi. Satu dari sekian banyak cerita vandalisme para turis di zaman itu yang tercatat ialah vandalisme yang terjadi di objek wisata Kawah Papandayan.
Ada dua cerita terkait vandalisme turis di tempat wisata ini. Cerita pertama muncul dalam harian Het Nieuws van Den Dag, yang terbit pada tanggal 09 Juli 1930 melaporkan bahwa para turis yang bandel secara sengaja membuat api di Kawah Papandayan, walaupun telah ada larangan sebelumnya dari Dinas Vulkanologi. Akibatnya, terjadi kebakaran belerang di Kawah Papandayan. Untung saja, berkat campur tangan para ahli dan melalui upaya yang sekuat tenaga api dari kebarakan ini mampu untuk dipadamkan.
Cerita lainnya muncul kembali delapan tahun kemudian dengan sebab akibat yang berbeda, tapi tetap saja akibat ulah dari para turis vandal ini. Kawah Papandayan sebagai kawah yang terbentuk sebagai hasil dari gejala vulkanis tentu saja memiliki kolom-kolom belerang yang indah. Kolom-kolom belerang itu biasanya memiliki pohon-pohon belerang yang eksotik. Sebab keeksotikannya itulah, Pohon-pohon ini tidak pernah luput dari tangan-tangan jahil para turis yang merusak rusak untuk menjadikannya sebagai cendera mata. Hal ini yang dicatat oleh urat kabar Indische Courant yang terbit pada tanggal 26 oktober 1938 bahwa “De vulkaandienst ondervindt naar Aneta uit Bandoeng verneemt, in den laatsten tijd veel hinder van vernielzuchtige touristen. Deze souvenirjagers hebben het voornamelijk gemunt op de fraaie zwavelzuilen welke voorkomen in den krater.” (Dinas Vulkanologi, sebagaimana diinformasikan oleh Aneta dari Bandung, akhir-akhir ini banyak menemukan para turis yang berperilaku merusak. Para pemburu suvernir ini terutama mengincar kolom belerang yang ada di dalam kawah).

Mirisnya kejadian itu bukanlah kejadian yang terjadi sekali dua kali, masih menurut berita yang sama juga lima tahun lalu juga ada kejadian serupa. Sebuah pohon belerang yang indah dan cantik tumbuh disana. Tentu saja hal ini merupakan sebuah fenomena alam langka dan perlu waktu bertahun-tahun untuk melihatnya terbentuk. Tapi para turis yang berperilaku vandal malah merusaknya untuk dijadikan sekedar sebagai cenderamata. Maka sejak saat itu tidak pernah ada lagi fenomena langka semacam itu. Adapun kolom-kolom lain yang baru tumbuh juga dirusak oleh para turis ini. Dinas Vulkanologi yang berang dengan kelakuan para turis yang bandel ini kemudian mengeluarkan sebuah aturan baru. Agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa.

Leave a Reply