/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Sejarah – Page 2

Category: Sejarah

  • Review Buku Poetry and the Police (Communication Networks in Eighteenth century Paris) karya Robert Darnton.

    Review Buku Poetry and the Police (Communication Networks in Eighteenth century Paris) karya Robert Darnton.

    Memasuki abad ke-21, komunikasi menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia modern yang melibatkan keputusan politik, kegiatan ekonomi bahkan juga sekedar hiburan. Keterkaitan komunikasi dengan berbagai elemen tersebut nampaknya tidak terjadi begitu saja.

     Ia memiliki kaitan erat dengan masa lalu dan perkembangan
    teknologi. Semakin canggih teknologi, maka semakin canggih pula bentuk komunikasi yang ada. 

    Dengan begitu, cara orang-orang berkomunikasi dengan yang lain berevolusi seiring majunya teknologi. Contohnya adalah munculnya sosial media yang menjadi sebuah wadah komunikasi di abad milenial. 

    Akan tetapi, bentuk-bentuk komunikasi baru ini sebenarnya
    menghasilkan apa yang disebut oleh Robert Darnton sebagai ilusi kesadaran masa lalu.  Untuk melihat argumennya mengenai komunikasi, nampaknya buku Poetry and the Police menjadi salah satu judul yang wajib dilirik.

    Buku ini memotret sejarah komunikasi jauh di masa Perancis abad ke-18 dalam perspektif oralitas. Menurut Darnton, di abad ke-18 orang-orang memiliki puisi sebagai cara berkomunikasi secara sosial. 

    Secara fungsi, dalam beberapa kasus puisi-puisi dapat menjadi sebuah saluran untuk menyinggung pemerintah, berita-berita palsu dan juga memproduksi ujaran kebencian, sesuatu yang masih kita temukan hingga hari ini. 

    Hal ini mendorong terjadinya investigasi penuh terkait isu ini yang melibatkan polisi, aparatur pemerintahan, dan bahkan para rabi gereja.

    Karena investigasi ini, dokumen melimpah terkait isu media sosial Perancis di abad ke-18 ini melimpah dan bahkan bertahan hingga lebih dari 200 tahun setelahnya.

    BACA JUGA:

    Darnton mengemukakan bahwa sebelum abad ke-19, polisi di Perancis menggunakan kewenangannya untuk menekan bahkan menangkap orang-orang ketika rakyat menghina raja
    mereka sebagai “monster”. Karena ancaman penangkapan oleh polisi ini, rakyat mengekspresikan kejahatan raja dengan cara membuat puisi satir. Ini menjadi sebuah era baru
    satirisme di Perancis. 

    Lebih jauh lagi, puisi-puisi ini menyebar ke masyarakat tanpa pengarang, dibacakan dan diteriakkan dimana-mana dan oleh siapapun sebagai ‘hinaan’ kepada istana yang tidak stabil. Sejak saat itu, tradisi puisi menjadi elemen penting dalam sejarah komunikasi di Perancis.
    Secara singkat, buku ini layak dibaca karena ia berhasil memperlihatkan element paling penting dalam mengungkap jaringan-jaringan komunikasi Perancis di abad ke-18. Sang
    penulis mengungkap sejarah komunikasi dengan cara yang berbeda.

    Menggunakan sumber lisan dari orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu, buku ini layak menjadi salah satu judul buku sejarah yang menarik untuk ditelaah. Karena sangat tidak mungkin mengandalkan manusia hidup untuk mengungkap kejadian ratusan tahun lalu, Robert Darnton menggunakan
    catatan-catatan kriminal terkait penangkapan-penangkapan orang-orang-orang yang diduga terlibat kasus-kasus puisi satir. 

    Meskipun catatan-catatan investigasi yang dilakukan polisi,
    aparatur negara dan rabi gereja di abad tersebut berkaitan dengan stabilitas politik, nampak

     

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • DE JAVASCHE COURANT: Bagaimana Surat Kabar Menjadi Corong Kepentingan Penguasa

    DE JAVASCHE COURANT: Bagaimana Surat Kabar Menjadi Corong Kepentingan Penguasa

    “De Javasche Courant memiliki tugas penting untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan penguasa Hindia Belanda pada masa tersebut.”

    Javasche Courant menandai satu zaman menarik dari sejarah media public pada periode Hindia belanda. Diterbitkan pada tahun 1828, koran ini cukup menarik karena menjadi salah satu representasi koran yang disebut sebagai koran putih. Dengan kata lain, koran ini dimiliki oleh orang-orang berkulit putih yang pada konteks sejarah Nusantara adalah orang-orang Belanda. Memiliki tempat penerbitan di Jakarta, koran ini memuat kabar-kabar resmi pemerintahan Hindia Belanda. Artinya, koran ini memiliki tugas penting untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan penguasa Hindia Belanda pada masa tersebut.

    Pada gambar di atas, kita melihat halaman depan koran yang memiliki lambang kerajaan Belanda di bagian atas. Lalu dilanjutkan oleh berita-berita resmi yang ditulis untuk kebutuhan pemerintahan. Misalnya pada 18 Maret 1828, koran ini memberikan informasi kepada pembacanya tentang Besluit atau peraturan pemerintah yang berlaku. Peraturan yang dimuat di Javasche Courant ini mengatur tentang pembagian daerah Batavia menjadi 6 distrik. Yang pertama adalah distrik Utara, lalu Selatan, timur, Barat, Tenggara dan terakhir adalah perkampungan Cina.  

    Baca Juga:

    Menariknya, berita-berita yang disajikan di Javasche Courant ini juga ditulis langsung oleh orang-orang penting di pemerintahan Hindia Belanda. Contohnya, pada berita di akhir tahun 1828 tepatnya pada 2 Desember, berita pertama menjelaskan kepada pembaca tentang laporan terkini dari Perang Jawa yang masih berkecamuk sejak tiga tahun sebelumnya. Dalam berita tersebut, Letnan yang bertanggung jawab terhadap pasukan-pasukan perang untuk Perang Jawa melawan Pangeran Diponegoro, menjelaskan secara rinci tentang pengasingan Kiai Maja ke Salatiga sebelum akhirnya diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara kepada Gubernur Jendral yang menjabat pada masa tersebut.

    Selain berita-berita resmi kerajaan, Javasche Courant juga memiliki berita-berita lain. Misalnya adalah informasi-informasi tentang pelelangan negara. Di tahun 1929, koran ini menginformasikan pelelangan perkebunan teh pasca meninggalnya salah satu tokoh pejabat Hindia Belanda pada masa tersebut. Selain informasi pelelangan dengan skala besar, koran ini juga menginformasikan beberapa pelelangan yang lebih kecil skala dan harga barangnya.

    Di samping dua informasi yang mendominasi koran ini, ada dua konten menarik yang juga disajikan oleh Javasche Courant. Pertama adalah iklan dan yang kedua adalah kutipan dari berita-berita Eropa.

    Dua gambar di atas merupakan ilustrasi dari berita yang dikutip dari Portugal dan juga iklan dari barang-barang yang dipromosikan di Hindia Belanda. Dari dua ilustrasi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa di samping berita-berita kenegaraan yang bersifat politik dan juga pelelangan yang berkaitan erat dengan bisnis negara, adapula periklanan dan berita kutipan dari tanah Eropa pada harian Javasche Courant.

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia

    Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia

    “Kolonialisme Inggris memang tidak berlangsung lama, namun warisan mereka masih dengan mudah kita jumpai dan lihat” KALAU orang membicarakan masalah kolonialisme di Indonesia, ingatan orang Indonesia pasti akan tertuju kepada Belanda. Sebab Kolonialisme Belanda-lah yang paling lama bercokol di Bumi Nusantara ini. Hingga menciptakan mitos 350 tahun penjajahan Belanda.  Padahal mah boro-boro 350 tahun Aceh, Bali dan sebagian wilayah Tapanuli saja baru takluk di tahun 1904 dan 1908. Klo Batavia yang kita kenal sekarang sebagai Jakarta bisa jadi tapi klo diitung itung pun tidak sampe 350 tahun.  Belum lagi melimpahnya warisan Belanda dari mulai gedung-gedung, rumah sakit, jalan raya hingga sarana jalur kereta api. Semakin kuatlah ingatan orang kita akan kolonialisme Belanda. Padahal andai kita sejenak mau merunut kebelakang, ada Inggris yang juga pernah menanamkan benih kolonialisme mereka di Indonesia. Kolonialisme Inggris sempat bercokol di beberapa daerah di Indonesia sebut saja Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Jawa dan Bengkulu serta sebagian Maluku.  Wilayah yang disebutkan kedua terakhir yakni Bengkulu bahkan lebih lama mengalami kolonialisme Inggris dibanding Belanda. Terkecuali di Bengkulu memang periode kolonialisme Inggris di beberapa wilayah itu sangat singkat.  Namun demikian warisan dari kolonialisme Inggris disana masih meninggalkan bekas-bekas yang masih bisa dengan kita lihat dan rasakan hingga hari ini. Apa saja warisan-warisan kolonialisme Inggris di Indonesia itu? Tulisan ini akan menampilkan pada anda berbagai macam warisan Inggris di indonesia.

    Benteng Fort Marlborough

    Benteng Marlborough di Bengkulu, Warisan Inggris di Indonesia
    Benteng Marlborough di Bengkulu
    Warisan pertama kolonialisme Inggris berada di Kota Bengkulu. Sebagaimana telah kita sebut, Bengkulu lebih lama mengalama kolinialisme Inggris ketimbang Belanda dibanding daerah lain di Indonesia. Boleh dikata Bengkulu adalah salah post pertama Inggris di Asia.  Inggris tiba di Bengkulu sejak tahun 1685. Untuk melindungi post dagang mereka di Bengkulu berdirilah perbentengan bernama Fort Marlborugh di tahun 1714. Benteng ini terletak di atas sebuah bukit buatan menghadap ke arah pusat kota Bengkulu. Benteng Marlborough sempat mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan. Dimulai dari jatuhnya benteng ini ke tangan Belanda yang sekaligus menandai berakhirnya kolonialisme Inggris di tahun 1824, Penguasa Pemerintah Pendudukan Jepang selama Perang Dunia II hingga menjadi cagar budaya di tahun 1977 sampai saat ini. Baca juga:

    Bunga Rafflesia Arnoldi

    Bunga Rafflesia Arnoldi, Warisan Inggris di Indonesia
    Orang Belanda sedang menyaksikan Orang Banda di Maluku bermain Sepak Takraw
    Warisan Inggris lainnya di Bengkulu ialah Bunga Bangkai Rafflesia Arnoldi. Tentang Bunga Bangkai ini rasanya semua orang pasti mengetahuinya sebab Bunga Bangkai Rafflesia Arnoldi ini banyak sekali dibahas di dalam kurikullum sekolah. Hanya saja mungkin tidak semua orang tahu bahwa orang Inggris lah yang pertama kali menemukan bunga ini.  Nama Rafflesia Arnoldi adalah nama perpaduan antara Raffles atau kita kenal Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Bengkulu saat itu bersama salah seorang ilmuwan yang mengikuti ekspedisinya, Dr. Joseph Arnold. Maka jadilah nama bunga itu Rafflesia Arnoldi. Uniknya bunga ini termasuk salah satu bunga terbesar di dunia. Tingginya saat sedang mekar bisa mencapai satu meter lebih dengan bobot kurang lebih 10 kilogram. Bisa dibayangkan betapa besarnya bunga Rafflesia ini.  Kini bunga ini telah menjadi salah ikon Provinsi Bengkulu sekaligus ikon nasional. Apalagi tumbuhan ini termasuk ke dalam tumbuhan endemik yang hanya bisa ditemukan di hutan hujan tropis Sumatra.

    Kebun Raya Bogor

    Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia
    Kebun Raya Bogor, Salah satu warisan Inggris di Indonesia
     Di Bengkulu tadi kita telah mendengar nama Raffles. Nah… kali ini kita bertemu kembali dengan Raffles yang sama namun dengan waktu dan jabatan yang berbeda.  Disini Raffles tengah menjabat sebagai Letnan Gubenur Jenderal Hindia Belanda di Jawa pada tahun 1811 hingga 1816.  Konon Raffles ini seorang birokrat yang menyenangi Ilmu Pengetahuan terutama ilmu botani. Saat dia mendiami Istana Bogor dia menyulap halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun botani yang indah.  Seorang Ahli Botani bernama W.Kent turut serta membantunya. Kebetulan W.Kent ini berpengalaman membangun taman botani sebut saja Kew Garden di London sebagai mahakarya yang masih lestari hingga saat ini.   Disinilah cikal bakal Kebun Raya Bogor bermula. Perang Napoleon berakhir di Eropa, sesuai traktat London Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda. Kerja Raffles di Hindia pun berakhir tapi Belanda kelak meneruskan kebun itu dan menjadikannya sebagai salah satu pusat botani dunia.

    Buku di History of Java

    Litografi Candi Prambanan
    Reruntuhan Prambanan saat pertama kali ditemukan kembali.
    Selain seorang yang sangat tertarik dengan ilmu Botani, kabarnya Raffles juga sangat mengagumi sejarah serta budaya Jawa. Lima tahun kekuasaannya di Tanah Jawa memang berakhir begitu cepat, namun Raffles meninggalkan mahakarya fenomenal bernama “The History of Java”.  Terlepas dari berbagai tudingan bahwa buku itu dia tulis demi melanggengkan upaya kolonialisme di Hindia. Tapi toch… sampai saat ini banyak para akademisi asing maupun orang Indonesia yang masih mengutip buku itu sebagai referensi saat meneliti terkait Jawa.  Apalagi menariknya buku itu dilengkapi dengan beragam illustrasi menarik terkait pulau Jawa. Mulai dari illustrasi keris, baju, aksara hingga candi-candi peninggalan Hindu/Buddha. Wajah Borobudur, Prambanan hingga Sewu saat pertama kali ditemukan setelah tertimbun ribuan tahun pun ada disana.

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    “Sepak Takraw dan Catur boleh dibilang menjadi dua olahraga paling populer di Indonesia Zaman Lampau.”

    SEPAK BOLA mungkin telah menjadi salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Entah berapa juta orang yang sangat menyukai dengan olahraga ini tidak dapat kita hitung dengan jari. 

    Tapi sayangnya meski olahraga ini paling populer di tanah air kita prestasi timnas sepak bola Indonesia boleh dibilang jeblok. Jangankan kita bicara level dunia itu terlalu kejauhan level Asia saja timnas kita masih terseok-seok. 

    Celakanya lagi level Asia Tenggara pun meski telah mencapai final 6 kali tapi tak sekalipun pernah timnas kita juara. Entah itu Thailand, Malaysia, maupun Singapura selalu saja jadi batu sandungan kita. 

     

       Baca Juga:

     

    Olahraga populer kedua mungkin saja adalah bulu tangkis. Nah… cabang olahraga ini prestasinya amat berkebalikan dengan sepak bola tadi. Di Level dunia khusus bagian putra boleh dikatakan kita ini rajanya. 

    Sepanjang pagelaran Kejuaraan Thomas Cup sejak 1949 hingga saat ini tak kurang dari 14 piala telah timnas bulutangkis kita gondol meninggalkan China dengan 10 gelar serta Malaysia jauh di tempat ketiga dengan 5 gelar. 

     

    Olahraga Orang Indonesia Zaman Dulu

    Eiitsss… tapi di tulisan ini saya nggak bakalan ngomongin prestasi kedua cabang olahraga itu. Anggap saja tadi sebagai seputar info. Mari kita Lupakan sepak bola yang masih miskin prestasi serta bulutangkis yang kata orang Betawi mah prestasinya udah bejibun.

    Sepak bola dan bulu tangkis boleh dikata baru dikenal oleh orang-orang Indonesia sekitar awal abad ke-20. Orang Belanda yang membawa kedua olahraga itu ke Indonesia. 

    Singkatnya keduanya baru populer sekitar seabad yang lalu. Lantas yang jadi pertanyaan di benak kita adalah Olahraga apa yang jadi favorit orang-orang Indonesia di masa dulu khususnya sebelum kedatangan bangsa Eropa? 

    Nah… untuk menjawab pertanyaan itu. Baiklah penulis akan berikan penjelasan Olahraga Orang Indonesia di Zaman Dulu. 

     

    Sepak Takraw

    Olahraga Indonesia di Zaman Dulu
    Orang Belanda sedang menyaksikan Orang Banda di Maluku bermain Sepak Takraw

    Boleh dibilang Sepak Takraw ini adalah olahraga asli dan khas Asia Tenggara. Salah satu catatan tertua terkait keberadaan olahraga ini di Indonesia berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Antonio Galvao di abad ke-16. Selama pengelanaannya di Maluku mengikuti eskpedisi orang Portugis dalam mencari Kepulauan Rempah-rempah, Galvao menemukan bahwa orang Maluku amat piawai memainkan olahraga ini.

    Orang-orang disana memainkan sepak takraw secara
    melingkar dengan sebuah bola kecil yang menyerupai keranjang. Bola itu ditendang ke udara lalu kaki atau kepala salah seorang di antara mereka menyepak dan menyundul bola itu kembali ke udara.

    Sementara itu lukisan terkait permainan ini muncul dalam buku Theodor de Vry dan Isreal de Vry’s yang berjudul Orientalische Indien, Funffter Theil der Orientalischen Indien yang terbit di Frankfurt tahun 1601.  Lokasi lukisan itu berada di Kepulauan Banda dan Jacob van Heemskerck adalah orang yang menyaksikan permainan itu secara langsung. Dia menamai permainan itu sebagai “keeping the ball aloft”.

    Dari catatan lokal Sejarah Malayu yang ditulis di abad ke 15 mengabarkan kepada kita mengenai permainan sepak takraw atau naskah ini menyebutnya sebagai sepak raga. 

    Konon kabarnya suatu hari diadakan permainan sepak takraw antara Raja Muhammad, anak Sultan Mansyur Syah dan Tun Besar anak dari bendahara Tun Perak. Celakanya tendangan bola rotan Tun Besar mengenai tutup kepala. Marahlah Raja Muhammad dan ditikamlah Tun Besar anak Tun Perak itu. Karena kejadian itu hampir sajalah terjadi huru-hara di Kesultanan Malaka. Untungnya Sultan cukup bijaksana dia memutuskan bahwa anaknya itu bersalah dan mengusirnya ke Negeri Pahang. 

    Namun menurut Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 di masa itu olahraga ini sangat jarang sekali dipertandingkan. Sepak raga lebih dimaksudkan untuk melatih ketangkasan, melatih tubuh, mengembalikan kelenturan punggung dan tulang-tulang tungkai yang pegal.  

     

    Catur

    Selain bermain Sepak Takraw, kegemaran orang-orang Indonesia lain di masa lampau ialah bermain catur. Mulanya Catur berasal dari India dan menyebar di Nusantara selama masa kurun niaga. Menurut Anthony Reid (231)permainan ini sangat populer di istana-istana Kesultanan Melayu seperti Pasai dan Melaka. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Mansur seorang bernama Tun Barbara adalah jagonya permainan ini. Tiada seorang pun yang sanggup mengalahkannya di Kesultanan Melaka.

     

    Di masa itu Catur adalah olahraga cukup populer hampir semua kalangan dari bangsawan hingga rakyat jelata. Bedanya catur raja dan kalangan bangsawan berhiaskan permata, manik-manik, dll sengakan caturnya rakyat jelata berbahankan bahan-bahan sederhana. Sekali lagi menurut Anthony Reid (232) aturan-aturan yang berlaku dalam permainan ini hanya sedikit berbeda dari yang berlaku secara Internasional di zaman modern seperti kemampuan raja untuk melangkahi dua bidang atau gerakan kuda waktu pertama kali terancam. 

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Albertus Christiaan Kruyt: Jejak Sang Missionaris di Tanah Sulawesi

    /*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
    .elementor-widget-image{text-align:center}.elementor-widget-image a{display:inline-block}.elementor-widget-image a img[src$=”.svg”]{width:48px}.elementor-widget-image img{vertical-align:middle;display:inline-block}

    M.C Capelle (1951), Dr Alb. C. Kruyt Pioner van Poso, Den Haag

             Abad ke-19 memiliki berbagai tokoh menarik dalam bidang sosial dan keagamaan, salah satunya adalah Albertus Christiaan Kruyt. Ia memainkan peranan penting dalam misi penyebaran Kristen di tanah Sulawesi. 

    Dalam upaya penyebarannya, Kruyt memiliki pendekatan unik dengan etnografi sebagai metode penyebaran. Ia mempelajari kebudayaan dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pekerjaan untuk menyebarkan agama kristiani di tanah Sulawesi. Dirinya dikenal dengan beberapa tulisannya. 

    Dengan karya tersebut, ia dikenal sebagai misionaris dan etnograf. Pada tulisan ini, pembahasan akan fokus kepada beberapa hal menarik dari tokoh yang cukup terkenal pada masanya ini.

    /*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
    .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px}

    Jejak Sang Missionaris di Tanah Sulawesi

    Memiliki pengaruh kuat terhadap penyebaran Kristen di tanah Sulawesi, dirinya dilahirkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya pada tahun 1869 di tanah Jawa, Kruyt kecil lahir dan tumbuh. Pada tahun 1877, ia dikirimkan ke Belanda untuk mendalami ilmu misionaris. 

    Setelah menempuh Pendidikan, Nederland Zendeling Genootschap atau Lembaga misionaris Belanda memberikan tugas kepada Kruyt untuk membuka pos pekabaran injil di Poso.[1] Dalam sebuah tulisan, dijelaskan bahwa tugas yang diemban misionaris muda Kruyt ke daerah Poso bukanlah tugas yang mudah, ia berusia sekitar 21 tahun ketika diberikan tugas untuk menyebarkan dan mengenalkan agama Kristiani di tanah Sulawesi tersebut. Dalam ungkapan nya;

    “De beslissing, die de bestuurders van het Nederlandsche Zen delinggenootschap in 1890 namen, lijkt hoogst onverantwoord en gevaarlijk: als eerste zendeling voor een nieuw arbeids veld kozen ze een jongeman van nauwelijks twintig jaar. Zeker, de jonge Albert Kruyt was een loot van het geslacht Kruyt, dat reeds verschillende zendelingen en zendelingsvrou wen had geleverd en toen al een gunstige klank had. Maar hijzelf was toch gespeend van alle ervaring; en dan déze jongeman te belasten met een taak, die zelfs een ervaren zendingsarbeider niet gemakkelijk zou hebben geschenen — dit lijkt een zeer roekeloos waagstuk.”[2]

                  Dalam ungkapan tersebut, dijelaskan bahwa tugas untuk menyebarkan agama Kristen di daerah tersebut adalah sesuatu yang sulit meskipun dikerjakan oleh misionaris berpengalaman sekalipun. Sehingga pada awal masa kerja, performa Kruyt dinilai buruk hingga memasuki abad ke-20. Di tahun 1909, pembaptisan pertama terjadi diikuti oleh banyak pembaptisan serupa di tahun-tahun setelahnya hingga dirinya meninggalkan Hindia Belanda dan Kembali ke tanah Belanda.

    Catatan Etnografi

    Foto yang berisi Kruyt beserta istri dan anak-anaknya serta seorang cucu dari Kruyt di atas diambil sebelum kepergiannya ke tanah Belanda sekitar tahun 1930. Foto memperlihatkan Kruyt yang duduk di sebelah kanan dengan kacamata dan janggut khasnya, ditemani sang istri yang duduk di sampingnya. Lalu, kita juga melihat anak lelaki Kruyt Bernama Ds J. Kruyt dan istrinya J. Kruyt-Ostorlee. Setelah selesai merampungkan pekerjaannya sebagai seorang misionaris di Sulawesi, Kruyt pergi dari tanah Hindia Belanda di tahun 1932 hingga wafat 17 tahun setelahnya.

                  Selain dikenal sebagai seorang misionaris, Kruyt juga terkenal dengan karya etnografinya. Dua karya terkenal yang telah disebutkan di awal memainkan peranan penting sebagai sumber yang mengungkap kepercayaan serta adat istiadat dari masyarakat Sulawesi di awal abad ke-20. Karya pertama berjudul Het Animisme in Den Indische Archipel yang terbit di tahun 1908. Karya ini membahas konsep animisme dalam pemahaman Kruyt yang mungkin menjadi representasi dari keyakinan orang-orang Sulawesi pada awal abad ke-19.[3]

                  Sedangkan karya kedua yang juga memiliki pengaruh penting berjudul De Bare’s Sprekende Toradja’s van Midden Celebes yang terbit pada tahun 1912. Tulisan ini membahas secara rinci mengenai kehidupan suku Toraja dan juga dialek yang mereka gunakan. Ditulis Bersama Nicolaus Adriani, seorang ahli Bahasa, tulisan mereka menjadi sumber informasi penting tentang suku Toraja.

                  Dengan dua peran baik sebagai misionaris ataupun etnograf yang meneliti dan terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat Sulawesi, Kruyt merupakan tokoh yang cenderung penting dalam penyebaran agama Kristen di daerah tersebut dan juga mengungkap informasi terkait kehidupan hingga kebudayaan masyarakat setempat.

    Reference

    [1] Ido Hendricus (1978), Biografisch Lexicon voor de geschiedenis van het Nederlands Protestantisme, Amsterdam, hal 113.

    [1] M.C Capelle (1951), Dr Alb. C. Kruyt Pioner van Poso, Den Haag, hal 3.

    [1] Albert Christiaan Kruyt (1970), Het Animisme in den Indischen Archipel, University of Toronto, hal 16.

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

    Share

    facebooktwitterlinkedininstagram

  • Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Danil Kasputra

    Memotong rambut tentu saja merupakan suatu hal yang umum dalam kehidupan kita. Setidaknya hampir semua orang pernah memotong rambut mereka utamanya mereka para pelajar atau para pegawai negeri sipil juga para pegawai kantoran. Bagi mereka mau tak mau memotong rambut adalah kewajiban. Sebab musababnya ialah mereka dituntut bersih rapih sekaligus necis. Tapi sesungguhnya memotong rambut pendek juga bukan ciri khas ketiga golongan itu, sebagian besar masyarakat Indonesia kini memotong rambut mereka pendek hanya segelintir orang saja membiarkan rambut mereka terurai panjang.

    Di zaman lampau tepatnya di masa sebelum kedatangan agama Islam ke Indonesia, membiarkan rambut panjang terurai entah itu bagi pria maupun wanita Indonesia merupakan fenomena umum. Barulah ketika agama Islam masuk ke Indonesia di abad ke-13, memotong rambut menjadi pendek menjadi lebih banyak dijumpai. Walaupun hingga pertengahan abad ke-9, kita masih banyak menjumpai orang-orang Aceh, Jawa, Bugis tidak memotong rambut pendek rambut mereka. 

    Baca Juga:

    Tapi pada umumnya memotong rambut menjadi lebih pendek telah menjadi suatu hal yang umum. Potongan rambut para bangsawan upamanya potongan rambut para raja dan sultan sangat disukai oleh penduduk di kerajaannya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Begitu juga potongan rambut para orang-orang suci utamanya potongan rambut para ulama, kyai atau para pemuka sangat dihargai.

    Tentang memotong rambut di Indonesia zaman dulu
    Para Prajurit Kesultanan Banten dengan senjata mereka masing masing dari mulai tombak, pedang hingga istinggar. Tampak juga dalam foto seluruh dari mereka telah bercukur pendek. (Rijkmuseum)

    Sebab-Musabab pemotongan rambut

    Anthony Reid mengutip dari  Drewes betapa murkanya seorang pangeran Bali ketika seorang utusan Islam dari Mekah mempersembahkan gunting alat cukur. Dia menyadari bahwa hal itu merupakan suatu ajakan untuk masuk Islam (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: 92). Dalam hal ini tampak sekali bahwa rambut pendek merupakan suatu simbol atau perlambang seseorang telah meninggalkan agama lama menuju agama baru yang telah dipeluknya.  

    Selain sebab musabab konversi agama, pemotongan rambut juga bisa jadi sebagai simbol sukacita entah itu sukacitas kemenangan perang atau memperoleh kebahagian. Aru Palakka dari Bone kompetitor utama Sultan Hasanuddin dalam Perang Makasar memotong rambut panjangnya setelah sukses menumbangkan saingannya itu. Contoh lainnya ada dalam perang suksesi Jawa di abad ke Pakubuwono I raja dari Kraton Kartasura memangkas rambutnya sebagai suatu rasa syukur atas kemenangan yang telah dia raih.

    Sebab musabab lain dari pemotongan rambut selain daripada konversi agama dan simbol sukacita ialah simbol suatu kelompok atau identitas. Hal ini bisa kita temui dalam kisah perang Diponegoro. Dalam Babad Diponegoro sangat jelas dikisahkan bagaimana Pangeran Diponegoro dan pengikutnya memotong pendek rambut mereka untuk membedakan diri mereka dengan orang-orang Jawa yang pro-Belanda.

  • Seberapa Tinggi Orang Indonesia di Abad ke 17 Hingga Abad ke 19?

    Seberapa Tinggi Orang Indonesia di Abad ke 17 Hingga Abad ke 19?

    Danil Kasputra

    “Rata-rata tinggi badan orang Indonesia di abad ke 17 relatif sama dengan orang Eropa, kesenjangan mulai terjadi tatkala tingkat nutrisi mulai meningkat di kalangan penduduk Eropa pada akhir abad ke ke 18”

    Beberapa waktu lalu laman berita online BBC News memuat suatu artikel mengenai mengapa rata-rata tinggi badan orang Belanda tinggi-tinggi. Artikel juga memuat daftar peringkat negara dengan rata-rata tinggi badan tertinggi di dunia. Belanda tentu saja menempati urutan pertama pria dengan rata-rata tinggi badan 183 cm. Belgia bekas wilayahnya menduduki urutan kedua. Sementara duo negara Baltik, Estonia dan Latvia masing-masing berada ketiga dan keempat. Melihat Belanda di urutan teratas semakin terbuktilah omongan dari para kakek nenek kita dulu Kompeni tuh badanya tinggi-tinggi.

    Sementara itu dalam kategori wanita, Lithuania menduduki peringkat pertama dengan rata-rata tinggi badan wanita mereka mencapai 170 cm. Sementara itu di urutan kedua, ketiga dan keempat lagi-lagi ditempati Belanda, Estonia dan Republik Ceko.(Mengapa orang Belanda tinggi tinggi?)

    Nah lalu … begimana dengan rata-rata tinggi badan orang Indonesia? Kaum Pria Indonesia tentu saja masuk kategori dalam salah satu kategori teratas. Yap, para Pria Indonesia masuk kategori teratas dengan rata-rata tinggi badan terpendek dunia hanya sekitar 160 cm. Begitu pula dengan para wanita Indonesia, rata-rata tinggi badan mereka hanya berkisar di angka  159 cm. (Berapa Tinggi Badan Ideal untuk Anak Laki-Laki?)

    Jika ditelisik lebih lanjut di masa lalu, sebenernya rata-rata tinggi badan orang Indonesia tidak begitu jauh dengan orang Eropa. Anthony Reid salah seorang sejarawan Asia Tenggara asal Selandia Baru dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450 -1680 (2014:55) menjelaskan bahwa jika kita melihat kembali ke abad delapan belas, perbedaan antara orang Eropa dan Asia Tenggara nyaris lenyap.

    Tinggi Badan Orang Indonesia di abad ke 17 Hingga abad ke 19

    Laporan para petualang Eropa di abad ke 16 dan 17 sering menegaskan orang-orang Jawa dan Maluku relatif berbadan pendek. Lain halnya dengan orang-orang Makasar yang berbadan relatif lebih tinggi kurang lebih sama dengan orang Eropa.

    Tinggi Badan Orang Indonesia
    Lukisan sekolah tentang kedatangan pertama Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten di akhir abad ke 17. Tampak pada lukisan tinggi badan Cornelis de Houtman dan para anak buahnya tidak jauh berbeda dengan bangsawan Banten yang menyambut kedatangan mereka. (Tropenmuseum)

    John Crawfurd seorang dokter sekaligus administrator kolonial Inggris yang pernah bertugas di Asia Tenggara. Dalam bukunya The History of India Archipelago jilid 3, dia menulis tinggi orang Melayu sekitar 157 cm. Sementara tinggi badan orang Eropa kira-kira 6 inci lebih tinggi dari orang Melayu. The History of Sumatra, karya William Marsden seorang orieantalis Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu menjelaskan bahwa orang Eropa tidak lebih tinggi dari orang Sumatra.

    Satu kesaksian di tahun 1793 tinggi badan orang Jawa sama dengan ukuran menengah orang Eropa. Begitu juga dengan tinggi badan orang Bugis dari Sulawesi, mereka memiliki tinggi badan yang hampir menyamai orang Eropa.

    BACA JUGA:

    Anthony Reid juga menjelaskan rata-rata tinggi badan pasukan marinir Inggris hanya mencapai 162 cm. Apalagi para penduduk miskin kota London, rata-rata tinggi badan mereka hanya setinggi 157 cm. Di awal abad ke-19 pun tinggi badan orang Eropa masih di angka 167 cm. Barulah tinggi mereka mulai bertambah 10 cm di abad ke-20. (2014:55).

    Dari sumber sumber diatas setidaknya satu kesimpulan bahwa di abad-abad yang telah lalu rata-rata tinggi badan orang Eropa tidak berbeda jauh dengan orang Indonesia. Besar sekali kemungkinan

    Sebab Kesenjangan Tinggi diantara Orang-orang Indonesia dan Eropa

    Anthony Reid memaparkan sebab-sebab timbulnya kesenjangan tinggi badan di antara orang Indonesia dan Eropa. Dari bukti yang ada menjelaskan bahwa kesenjangan mulai tampak tatkala nutrisi mulai membaik di sekitar tahun 1800 (2014:55). Maka sejak saat itulah tinggi badan orang Eropa pelan-pelan mulai menjulang tinggi dibandingkan dengan orang-orang Indonesia.

    Orang-orang Indonesia hari ini sendiri malah tampak tidak bertambah tinggi dibanding leluhur mereka di kurun abad lampau. Malahan ada sedikit penurunan tinggi badan di antara mereka.

  • Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Danil Kasputra

    Haji Agus Salim telah dikenal sebagai salah satu manusia jenius yang pernah lahir di Indonesia. Bahkan saking kagumnya dengan kejeniusannya Buya Hamka mengatakan satu orang Agus Salim senilai dengan satu satu juta manusia bahkan lebih. Tapi uniknya kelak kecuali anak bungsunya tidak ada seorang pun anak Haji Agus Salim yang pernah bersekolah formal.

    Sekolah Belanda yang bersifat Kolonial

    Bukan tanpa sebab Haji Agus Salim enggan untuk menyekolahkan anaknya, ia memandang bahwa sekolah-sekolah yang didirikan Belanda waktu itu masih sangat bersifat kolonial. Selain itu, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Roem, koleganya sesama politukus Islam Haji Agus Salim juga tak ingin anak-anaknya melalui jalan “berlumpur” akibat pelajaran kolonial.

    BACA JUGA:

    Sebab musabab ialah gara-gara pendidikan kolonial, Haji Agus Salim merasakan bahwa dia hampir saja menjadi seorang ateis karena skeptis terhadap agama. Perasaan itu mulai hilang tatkala dia bekerja di kantor konsulat Belanda di Jeddah, Arab saudi. Disana dia bertemu dan menimba pada salah seorang kerabatnya yang menjadi ulama besar di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

    Memilih Mendidik Anaknya Sendiri

    Mohammad Roem dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Haji Agus Salim Memimpin adalah Menderita”, sempat terheran-heran sekaligus kagum dengan ketrampilan berbahasa Belanda anak Haji Agus Salim yang bernama Syauket. Mohammad Roem mengisahkan “Kami heran melihat Syauket yang umurnya baru 4 tahun fasih berbahasa Belanda, ia dapat menerangkan badanya gatal dan minta digaruk.”

    Bahkan anak pertama Haji Agus Salim Dolly pada usia enam tahun sudah membaca buku detektif Nick Carter dan Lord Lister. Sementara adiknya Totok, pada usia 13 tahun telah membaca buku Mahabarata dalam bahasa Belanda. Buku bacaan yang menurut Mohammad Roem setara dengan anak AMS (setingkat SMP dengan pengajaran bahasa Belanda) bahkan mungkin lebih.

    Walaupun tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal tidak lantas membuat Haji Agus Salim berlepas tangan terhadap pendidikan anak-anaknya. Dia mendidik sendiri mereka dengan metode dan caranya sendiri. Mungkin cara mendidik Haji Agus Salim ini bisa menjadi referensi bagi orang tua hari ini.

    Haji Agus Salim tidak pernah membatasi waktu belajar dan bermain. Setiap saat dia bisa memberikan pelajaran pada anak-anaknya. Yang lebih terpenting kata Mohammad Roem, Haji Agus Salim selalu menanamkan keinginan untuk mengetahui yang lebih besar dan mencari pengetahuan itu sendiri.

    Tidak Pernah Bersekolah Tapi Berpendidikan.

    Oleh karenanya tak heran banyak yang tak percaya bahwa anak anak Haji Agus Salim tak pernah mengenyam bangku sekolah. Jojet Salah satu anak Haji Agus Salim mengatakan bahwa gara-gara ia menguasai banyak bahasa asing, hafal berbagai macam jenis puisi, penuh humor dan mengasyikan. Tidak ada satu pun yang percaya bahwa dia sebagai anak Haji Agus Salim tidak pernah bersekolah formal.  

  • Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Rendy Kurniawan

                Posisi sejarah dalam perspektif penulisannya banyak mengalami dinamika ketika Romawi berjaya. Kisah sejarah dalam perspektif Romawi mengalir mulai dari perselisihan antara Romulus dan Remus hingga kisah jatuhnya kaisar Augustus. Banyak yang beranggapan bahwa kisah-kisah sejarah tersebut hanyalah sebuah adaptasi dari Kebudayaan Yunani karena mungkin kultur tersebut tersebar bersamaan dengan munculnya Romawi di dalam arus Sejarah. Akan tetapi, anggapan ini nampaknya kurang akurat karena sebenarnya Romawi, secara independen, telah mengembangkan penulisan sejarah bagi mereka sendiri tanpa bergantung penuh pada Yunani baik dalam segi konten maupun model.

    Model Penulisan Sejarah Romawi

                Berbeda dengan penulisan sejarah Yunani yang mulai berkembang lewat penggunaan tradisi lisan dan membentuk sebuah narasi, karya-karya sejarah monumental dari Romawi berkembang dari model kronik. Artinya, para penulis sejarah dari Romawi menuliskan rujukannya dengan menyusun kumpulan peristiwa secara teratur dari tanggal ke tanggal, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Catatan terawal dari model ini adalah karya dari Quintus Fabius Pictor yang kemungkinan lahir pada tahun 270 sebelum Masehi (Cornell, 2013). Ia menulis sebuah kronik yang disusun berdasarkan dimensi waktu dari kisah sang kaisar pertama Romulus hingga Perang Hannibal. Dengan karya sejarah Pictor, Romawi telah membuktikan bahwa penulisan sejarahnya setidaknya tidak bergantung kepada budaya Yunani, meski tidak sepenuhnya.

                Selain itu secara konten, tulisan sejarah masa Romawi mengembangkan beberapa aspek yang tidak ada di dalam budaya tulis sejarah Yunani. Penulis-penulis Romawi secara kreatif mengembangkan konten-konten baru seperti penulisan genealogi, deskrpsi geografis dan mitos-mitos. Hal ini tentu berbeda dengan Yunani yang merangkai cerita perang secara rinci dan menyeluruh. Misalnya, salah satu sejarawan bernama Marcus Porcius Cato menulis Sejarah Perilaku orang-orang Romawi di tahun 170 sebelum Masehi.(Marincola, 2007).

    Pengaruh Yunani

                Bagaimanapun hebatnya penulis Romawi lewat kroniknya, mereka tidak sepenuhnya mengembangkan sejarah secara sempurna. Tulisan sejarah Romawi tentu memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pengaruh Yunani yang melekat kuat dalam penulisan sejarah mereka dalam aspek tertentu. Hal ini terbukti lewat kesamaan tujuan dari penulisan sejarah antara Romawi dan Yunani. Pada masa Romawi, tujuan penulisan sejarah tidak dapat dipisahkan dengan alasan politik, sesuatu yang tidak berbeda dengan para sejarawan Yunani.

    Di dalamnya Bahkan, metode yang digunakan dalam menghimpun fakta sejarah di masa Romawi hampir menyerupai apa yang dilakukan oleh Thucydides dari Yunani. Dengan kata lain, pengalaman dari penulis tersebut yang menjadi rujukan dari karya yang dituliskan. Salah satu contohnya adalah salah seorang sejarawan bernama Sallustius Crispus menuliskan dua buah karya sejarah tentang perang berjudul Perang Catiline dan Perang Jugurtha.(Yarrow, 2006) Dengan persamaan tujuan penulisan sejarah ini, maka posisi tulisan sejarah di Romawi kemungkinan besar bukanlah karangan ilmiah, melainkan alat legitimasi politik sebagaimana Yunani.

    Polybius (Domain Umum)

    Sejarah yang Bertumpu pada Politik dan Militer

    Meskipun bertujuan untuk politik semata, tidak semata-mata orang dapat menulis sejarah secara sembarangan di Romawi. Pada masa tersebut, sejarawan dituntut untuk memiliki pengalaman politik dan militer. Hal ini karena dua pengalaman tersebut sangat penting dalam membentuk sebuah narasi sejarah pada masa tersebut. Contoh sejarawan dengan kedua pengalaman politik dan militer adalah Polybius. Ia berhasil menjawab respon masyarakat Roma dengan menuliskan karya berdasarkan pengalaman objektifnya.(Breisach, 1994) Ia disebut sebagai ‘Thucydides dari Romawi’ karena keahliannya memadukan pengalaman politik serta militernya dalam menuliskan sejarah. Salah satu karya monumentalnya adalah The Histories yang menjelaskan kondisi kerajaan Roma di masa ia hidup.

    Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penulisan sejarah pada masa Romawi memiliki dinamika yang cukup unik. Di satu sisi mereka mengembangkan sejarahnya secara kreatif lewat kronik hingga menjadi narasi dan tidak bergantung pada Yunani. Tetapi di sisi lain, tujuan penulisan sejarah pada masa ini adalah demi alasan politik seperti perang, sama sekali tidak berbeda dengan budaya Yunani sebelumnya.

  • Orang Kaya di Kerajaan-kerajaan Nusantara

    Orang Kaya di Kerajaan-kerajaan Nusantara

    Danil Kasputra

    “Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC.”

    Biasanya setiap tahun Majalah Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial yang berbasis di Amerika Serikat merilis daftar orang terkaya dunia. Nama-nama pengusaha kondang dunia seperti Taipan Teknologi dunia Bill Gates, Centi-Miliarder Jeff Bezos, dan CEO Zoom Eric Yuan selalu muncul mengisi daftar teratas orang terkaya dunia. Juga upamanya di Indonesia Forbes sering merilis daftar orang paling kaya Indonesia. Untuk tahun 2020 ini Budi Hartono muncul sebagai orang paling kaya di Indonesia. Perhitungan harta kekayaan seseorang sendiri didasarkan pada aset, harta turun temurun dan juga saham si-miliuner pun ikut dihitung.

    Singkatnya orang kaya baik di dunia maupun Indonesia ialah mereka yang memiliki begitu banyak uang baik dalam bentuk aset maupun saham. Dalam konteks Sejarah Indonesia, golongan orang kaya sendiri sebenarnya sudah muncul sejak beberapa abad lalu. Orang Kaya di abad yang lalu merujuk pada elite kerajaan pesisiran. Kerajaan Pesisiran sendiri ialah jenis kerajaan yang terletak di tepian pantai dan hidup dari perdagangan, bea-cukai dan ekspor. Malaka, Aceh, Banten, Demak dan Makassar masuk dalam daftar kerajaan jenis itu.

    Menurut sejarawan Ong Hok Ham (2018:48) dalam hubungan dengan rakyat, Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC. Dalam tulisan singkat ini, kita akan mengupas sedikit mengenai para Orang Kaya di beberapa kerajaan pesisir Nusantara.

    Orang Kaya di Kesultanan Aceh

    Para Orang Kaya di Kesultanan Aceh memiliki strata sosial tersendiri yang khas juga unik. Mereka tampak sangat menguasai kegiatan ekonomi dan memiliki hubungan dagang yang cukup erat dengan para pedagang China dan India. Jika ada permasalahan atau persengketaan diantara masyarakat mereka akan bersidang dan memutuskan penyelesaian masalah itu. Untuk membedakan diri dari rakyat biasa, para Orang Kaya biasa untuk membiarkan kuku ibu jari dan kelingking tumbuh, tanda mereka tak boleh kerja dengan tangan (Denys Lombard, 2014:90).

    Terkadang golongan Orang Kaya ini berkuasa amat dominan jika yang berkuasa ialah seorang sultan yang lemah. Sultan ‘Ala ad-Din Ri’ayat Syah yang sudah tua naik tahta berkat bantuan para Orang Kaya. Mereka pikir Sultan yang sudah tua itu akan lemah dan tunduk pada mereka. Tapi tanpa diduga justru Sultan tua itu malah membantai dan mengganti mereka dengan kelompok baru. Kelompok baru yang tentu saja pandai menyenangkan hati Sultan dan mengembalikan ketertiban.

    Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada puncak kegemilangan pun coba mengebiri peran para Orang Kaya. Dia mengangkat para Orang Kaya baru dan melarang mereka memiliki Tentara pribadi dengan senjata tradisional dan modern (Ong Hok Ham, 2018:48). Tapi setelah Sultan Iskandar Muda wafat, kebanyakan para penggantinya adalah para Sultan yang lemah. Tak heran, para Orang Kaya akan terus berkuasa hingga pendudukan Belanda di abad 19.

    Baca Juga:

    Para Ponggawa di Banten

    Berlainan dengan di Aceh, para Orang Kaya di Banten lebih dikenal sebagai Para Ponggawa. Peran para ponggawa ini pun amat mirip dengan para Orang Kaya di Aceh. Para Ponggawa di Banten dianggap bukan bangsawan biasanya bergelar tumenggung, Kiai Patih. Mereka mengawasi semua urusan pemerintahan termasuk pejabat-pejabat yang paling tinggi dalam bidang ekonomi, seperti syahbandar, kepala pabean, kepala timbangan umum, yang biasanya orang asing. Singkatnya semua orang yang memperkaya diri dengan menarik pajak atas kegiatan perdagangan (Claude Guillot, 2008:109).

    Sejarah Orang Kaya
    Seorang ponggawa (Orang Kaya) yang bertindak sebagai Waliraja di Banten bersama seorang Qadhi sedang mengadili sebuah perkara.
    Sumber : Claude Guillot. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta:KPG. 2008

    Tahun 1596, Maulana Muhammad, Sultan Banten wafat dalam pengepungan Palembang, sedangkan pewaris tahta-nya masih balita. Salah seorang ponggawa yang memegang jabatan Perdana Menteri dengan dibantu Qadi bertidak sebagai Waliraja. Tahun 1602 Waliraja wafat tapi penggantinya seorang yang lemah. Maka terjadi perselisihan diantara para ponggawa dan bangsawan. Para ponggawa menginginkan waliraja yang tunduk pada mereka. Sementara para bangsawan sudah tidak ingin lagi dipimpin oleh para ponggawa yang bukan bangsawan. Perang berakhir dengan terasingkannya enam hingga delapan ribu ponggawa ke Jakarta.

    Dengan menghilangnya para ponggawa otomatis ekonomi Banten menjadi terpusat pada raja tidak lagi bertumpu pada para ponggawa. Claude Guilllot menganggap ini sebagai politik bunuh diri. Banten tidak lagi menjadi pelabuhan yang bebas bagi para pedagang dan berubah dalam beberapa dasawarsa menjadi kerajaan pertanian.

    Para Orang Kaya di Banda

    Orang-orang Kaya di Kepulauan Maluku memiliki peran dominan dalam perdagangan rempah-rempah. Dalam buku Bescryving Oud en Nieuw Oost-Indien, Francois Valentijn sering menyinggung peran Orang Kaya dalam hubungan perdagangan rempah-rempah diantara orang setempat dan VOC. Tapi pada permulaan kedatangan orang Belanda di Maluku, para Orang Kaya ini sempat dihabisi oleh VOC. Para Orang Kaya Banda lah yang mengalami nasib nahas itu. (Hendri F. Isnaeni, “Genosida VOC”, historia.id, 2010).

    Pada tahun 1921, Jan Pieterszoon Coen mengirim armada besar ke Pulau Banda dan membantai habis hampir seluruh Orang Kaya Banda beserta penduduknya. Kekejaman JP Coen ini disinyalir akibat dari dendam yang ia miliki pada orang Banda. Konon, sepuluh tahun sebelumnya Coen pernah mengunjungi Banda beserta rombongannya. Tapi orang-orang Banda malah membantai rombongannya, beruntungnya Coen bisa melarikan diri dengan selamat.