/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Tareekh – Page 87

Author: Tareekh

  • Resensi Film Katyn

    Resensi Film Katyn

    Danil Kasputra

    Resensi Film minggu ini, anda akan kami perkenalkan dengan sebuah film yang didasarkan kisah nyata dari sebuah negeri Eropa Tengah bernama Polandia. Katyn begitulah nama judul film ini, merujuk pada suatu hutan di Rusia. Tempat pembantaian 22.000 perwira dan kaum intelektual Polandia pada tahun 1940 yang dilakukan oleh Uni Soviet. Film ini sendiri disutradarai oleh Andrzej Wajda, dengan mengadaptasi sebuah buku berjudul Post Mortem: The Story of Katyn karya Andrej Mularczyk. Bintang bintang ternama Polandia seperti Andrezej Chyra (Jerzy, seorang perwira berpangkat yang selamat dalam pembataian),  Maja Ostaszewska (Anna, istri dari Andrzej), Danuta Stenka (Roza, istri seorang Jenderal Polandia), Artur Zmijewski (Andrzej, seorang perwira berpangkat Kapten) dan Pawel Malaszynski (Piotr Baszkowski, Letnan Penerbang) terlibat dalam pembuatan film ini. Film ini dirilis pada tahun 2007 bertepatan dengan peringatan Invasi Soviet ke Polandia pada tanggal 17 September 1939.

    Film ini diawali dengan ketegangan yang melanda Polandia setelah Jerman secara mendadak dari arah barat menginvasi negara mereka. Akibatnya kekacaun terjadi dan ribuan orang Polandia megungsi ke arah timur. Tapi tidak disangka-sangka di tengah kekacauan yang terjadi, para pegungsi dikejutkan oleh berita yang menggemparkan bahwa dari arah timur Tentara Merah Uni Soviet menyerbu Polandia Timur. Polandia pun menyerah dan sebagian tentaranya ditawan Jerman dan Uni Soviet. Anna, istri dari seorang perwira Polandia bernama Kapten Andrzej pun mencari tahu tentang keberadaan suaminya. Kemudian diketahui bahwa suaminya telah ditawan oleh Tentara Soviet.

    Kemudian film banyak menceritakan kisah-kisah dari istri-anak anak para perwira Polandia yang menantikan kabar dari suaminya dengan penantian dan harapan yang tak menentu. Kemudian muncul sebuah kabar bahwa suami mereka telah dibantai di hutan Katyn di Rusia. Jerman dan Uni Soviet sebagai agresor utama ke wilayah Polandia saling tuduh-menuduh bahwa pihak satu dan yang lain lah pelakunya. Meskipun semua pihak tahu bahwa Uni Soviet lah dalang di balik semua itu. Film kemudian diakhiri dengan eksekusi massal para perwira dan kaum intelektual Polandia di Hutan Katyn.

    Secara keseluruhan film ini sangat layak untuk ditonton terutama bagi mereka para penikmat film berlatar Perang Dunia II. Pertama jiwa zaman masa itu juga sangat terwakili dalam penggunaan kostum dan suasana kota yang dibuat se-mirip. Kedua, akting hebat para artis mampu menghadirkan suasana penuh kesedihan dan kepilauan. Ada beberapa kekurangan film ini. Pertama terletak pada runutan alur cerita yang terkadang maju mundur tanpa disertai penjelasan sehingga terkadang sangat membingungkan. Kedua, di bagian awal tidak menampilkan bagaimana pasukan Jerman dan Uni Soviet menyerbu Polandia. Adegan para pengungsi yang melarikan diri saja yang mewakili cerita itu.        

  • Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    “Sukabumi tempo dulu menyajikan sebuah kota indah dengan danau-danaunya yang jernih, pegunungan hijau juga tak lupa pantai-pantainya yang eksotik.”

    Sebuah air terjun di Sukabumi, foto diambil kemungkinan diantara 1936 dan 1938.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sebuah Danau di Sukabumi tahun 1910.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sekolah calon polisi di Sukabumi kemungkinan tahun 1927.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Seorang pribumi sedang berpose di atas jembatan bambu.
    Sumber : collectie.wereldculturen
    Potret sekelompok murid sekolah frobel di Sukabumi.
    Sumber : Collectie.wereldculturen
    Panorama Taman Nasional Cibodas di Sukabumi tahun 1930
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Bangunan Stasiun Sukabumi diantara tahun 1895 dan 1908.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    sebuah Masjid di Sukabumi dengan pekarangan yang hijau.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Pantai Pelabuhan Ratu tahun 1940
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Pengrajin Wayang tahun 1911
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Anak-anak desa sedang bermain egrang. Foto kemungkinan diambil diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Telaga Warna di utara Sukabumi. Foto kemungkinan bertanggal diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Sekelompok Tentara Belanda dari Brigade Infantrie 1e selama Agresi Militer Belanda I di Sukabumi.
    Sumber : National Archief
    Sebuah buldoser diangkut dengan rakit sebagai upaya percobaan untuk mengangkut berbagai macam peralatan.
    Sumber : National Archief
  • Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Danil Kasputra

    “Berbagai macam buletin wisata hadir dan terbit menampilkan Bandung dan Garut yang indah serta eksotis sebagai daya pikat utamanya untuk menarik minat para turis untuk berkunjung.”

    Priangan terletak di pedalaman pulau Jawa bagian barat. Wilayahnya terkurung oleh rangkaian pegunungan dan perbukitan. Meski terpencil secara geografis, Priangan adalah daerah yang sangat disukai oleh para turis terutama berkat udaranya yang sejuk dan panorama keindahan dari rangkaian pegunungannya yang hijau. Karena semua itu pula tak aneh bilamana di era kolonial banyak sekali buletin pariwisata terbit khusus menampilkan lanskap Priangan yang indah untuk menarik minat para wisatawan. Buletin-buletin ini biasanya diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran serta berbagai macam perkumpulan yang memajukan pariwisata. Anda tentu saja mengenai buletin-buletin itu dan apa saja yang mereka tampilkan. Maka kali kami akan mengenalkan anda pada beberapa buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan

    1. Gids voor Bandoeng

    Pertama kami akan memperkenalkan kepada anda salah satu buletin wisata tertua, Gids voor Bandoeng. Dari namanya saja, anda pasti sudah bisa menebak bahwa buletin ini tentu saja akan banyak mengenalkan anda pada Bandung. Jika tebakan anda demikian, maka tebakan anda tepat sekali. Buletin ini memang banyak menampilkan berbagai macam panorama objek wisata Bandung. De Naamlooze Vennootschap Hotel Homan pertama kali menerbitkannya tahun 1908. Secara isi, buletin ini bisa dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama banyak bercerita mengenai Bandung, dari mulai letak geografis, kondisi alam, jumlah penduduk dari masa ke masa hingga surat-surat kabar dan sekolah apa saja yang ada di Bandung.

    Sampul Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng yang terbit pada tahun 1908

    Sementara itu di bagian kedua, buletin ini mengajak anda pada rute rute mana saja yang harus dilewati untuk mencapai objek objek wisata yang ada di Bandung.  “Dien men per kar heen in 1′., uur en terug in 1 uur aflegt. De kosten zijn f 5.— voor 2 personen en f 4.50 voor een persoon, op denzelfden dag terug. Lembang ligt ~>26 M. Hooger dan Bandot ng. Men kan te Lembang wandelen in het mooie kinaplantsoen en vindt daar het graf van den nog niet overtroffen Junghuhn, een naald staande op een heuvel, door de bevolking „PasirJoengkoen” genoemd” (Orang orang dapat diangkut oleh satu kendaraan dalam waktu 1 jam dan kembali dalam 1 jam. Biayanya adalah f 5 (Dua orang) dan f 4.50 untuk satu orang, kembali pada hari yang sama. Lembang lebih tinggi kurang lebih 26 M dari Bandung. Anda bisa berjalan-jalan di Lembang di perkebunan kina yang indah dan disana anda akan menemukan makam Junghuhn yang terletak di atas sebuah bukit. Penduduk sekita menyebutnya sebagai “Pasir Joengkoen”.

    Lukisan Alun-alun Bandung dengan dua pohon beringin kembar sebagaimana umumnya alun alun di Jawa.
    Lukisan Kawah Upas di objek wisata alam Gunung Tangkuban Perahu

    2. Garoet en Omstreken

    Kurang lebih 14 tahun setelah Gids voor Bandoeng hadir, di tahun 1922 buletin pariwisata Garoet en Omstreken terbit di Batavia atas prakarsa J.Z. Van Dyck. Melalui buletin ini anda akan diajak berimajinasi mengunjungi alam alam Garut yang indah. Mulai dari kawah Cipanas, Situ Cangkuang dan situ Bagendit hingga bangunan-bangunan tradisional dan modern yang tersebar di seluruh Garut. Maka Tak aneh rasanya di era kolonial dahulu, turis-turis mengenal Garut sebagai Swiss dari Jawa. Buletin ini juga akan menunjukkan pada anda tentang keseharian kehidupan masyarakat Garut baik yang berasal dari penduduk pribumi maupun orang Eropa.      

    Sampul Buletin Pariwisata Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1922.
    Gadis muda penjual kain di Garut
    Kerumunan orang di Situ Bagendit menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

    3. Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken

    Hampir sangat serupa dengan buletin pariwisata yang pertama, hanya saja objek-objek wisata Garut dan sekitarnya yang kali ini ikut tampil sebagai pewarna baru, Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken adalah buletin pariwisata ketiga yang akan kami perkenalkan kepada anda. Buletin ini hadir berkat sumbangsih De Vennootschappen Hotel Homann en Hotel van Horck Te Bandoeng en Garoet pada tahun 1930.  Buletin ini bisa kita kategorikan ke dalam dua bagian. Bagian pertama mengenalkan kita kita tentang Bandung beserta objek-objek wisatanya. Isinya sama persis dengan buletin pariwisata Gids voor Bandoeng. Sementara itu di bagian kedua, kita akan diperkenalkan oleh buletin ini mengenai Garut beserta dengan objek-objek wisatanya yang indah.

    Sampul depan Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1933.

    Keunikan dari buletin pariwisata ini kita akan dibuat kagum oleh cara penulis mengenalkan dan menampilkan berbagai macam keindahan objek wisata yang ada di Garut dan Bandung dalam bentuk visualisasi lukisan. Beberapa objek wisata itu melingkupi pemandangan danau yang jernih dengan latar belakang perbukitan hijau Situ Bagendit, Kawah Guntur yang eksotik, juga Kawah Putih yang indah lagi misterius dengan latar gunung Patuha yang menawan.

    Makam Keramat Godog dalam sketsa Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken.
    Panorama Situ Cangkuang dilihat dari Pesanggrahan.

    4. Bandung The Mountain City of Netherlands Indies

    Sementara buletin pariwisata kita yang kelima ini, bernama Bandung The Mountain City of Netherlands Indies. Buletin ini hadir atas campur tangan Reitsma, seorang anggota sekaligus ketua perhimpunan Bandung Vooruit, sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan untuk memajukan pariwisata di kota Bandung. Lewat buku ini, repsentasi keindahan alam dan keanggunan bangunan-bangunan modern di kota Bandung muncul melalui berbagai gambar dan foto yang disajikan secara mengagumkan meliputi gemericik air terjuan yang berjatuhan di celah-celah bebatuan Curug Cimahi, Lokomotif Kereta Api dengan asap yang mengepul sebagai tanda kemodernan serta Stasiun Radio Malabar yang terletak pada lereng Gunung Malabar berdiri kokoh sebagai kebanggan Bandung dan Hindia Belanda.

    Sampul Depan Buletin Wisata Bandoeng The Mountain City of Netherlands India dengan seorang wanita tampak sedang memanah.
    Situ Cileunca di kala senja (atas)
    Jalan raya diantara hutan Rancabali dan Talaga Patengan (Bawah)

    5. Gids van en Midden Priangan

    Masih dengan nama penulis yang sama, Reitsma namun kali ini ia dibantu oleh Hoogland koleganya di perkumpulan Bandoeng Vooruit menerbitkan sebuah buletin pariwisata yang ditulis dalam bahasa Belanda dengan judul Gids van Bandong en Midden Priangan. Buletin ini memuat berbagai macam narasi mengenai objek wisata, jalan-jalan hingga sekilas pandang sejarah asal mula kota Bandung beserta berbagai ilustrasi.  Serupa dengan rupa rupa buletin wisata yang telah kami perkenalkan pada anda, buletin ini juga tentu saja sama banyak menampilkan pemandangan alam yang indah, bangunan-bangunan modern serta peta peta wilayah. Tapi kelebihannya dibanding yang lain buletin ini sarat dengen deskripsi tentang jalan-jalan kecil yang tersebar di kota Bandung, semisal jalan Buahbatu, Arcamanik, Ujung Berung, Tjihampelas, Lembang, dll.

    6. Tourist-Note

    Tidak terasa kami telah mengenalkan anda pada lima buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan. Kini tiba saatnya pada buletin yang terakhir. Buletin terakhir ini amat berlainan dengan kelima buletin sebelumnya yang lebih ditujukan bagi para turis Eropa. Buletin Tourist-Note hadir sebagai petunjuk wisata bagi para wisatawan China yang ingin berkunjung ke Bandung. Tak aneh bilamana anda akan mendapat beragam hal yang berbau China, mulai dari iklan-iklan hingga narasi nya yang seakan mengajak wisatawan China untuk datang. Pola narasi catatan harian lebih ditonjokan dalam buletin pariwisata ini sebagaimana yang akan kita lihat di bawah ini, Liwat Dajeuhkolot, Badjaran, naek di Goenoeng Poentang ke Malabar Radio Station, atawa ke Pengalengan

    Jadwal perjalanan berbagai macam transportasi di buletin pariwisata tourist note
  • Resensi Buku The Cartoon History of Universe Volume 1-7 (Ketika Peristiwa Sejarah DItampilkan dalam Balutan Komik)

    Resensi Buku The Cartoon History of Universe Volume 1-7 (Ketika Peristiwa Sejarah DItampilkan dalam Balutan Komik)

    Danil Kasputra

    Judul Buku : The Cartoon History of The Universe

    Penulis : Larry Gonick

    Penerbit : Doubleday

    Kota Penerbit : New York

    Tahun Terbit : 1990

    Tebal : 365 hal

    Larry Gonick, seorang sarjana matematika lulusan Universitas Oxford mencoba menyajikan suatu karya sejarah yang unik dan menarik terkait Sejarah Peradaban Dunia. Gonick memiliki metode yang berbeda dengan kebanyakan sarjana atau para penulis sejarah umumnya, yang menampilkan kronologis sebuah peristiwa sejarah melalui jurnal, dan buku. Gonick membuat suatu inovasi tak biasa sekaligus luar biasa. Dia mengandalkan kemampuannya dalam menggambar dengan menuangkan berbagai peristiwa sejarah dunia melalui media komik. Hasil kreativitasnya itu tertuang dalam komik The Cartoon History of The Universe. cerita-cerita sejarah yang selama ini dianggap kaku dan menjenuhkan menjadi sesuatu yang hidup dan mengasyikan. 

    The Cartoon History of The Universe sendiri bermula dari teori Big Bang terkait penciptaan alam semesta hingga penaklukan Alexander Agung dari Makedonia. Seluruhnya terbagi ke dalam tujuh volume. Pada setiap volumenya, Gonick selalu menampilkan sebuah pengantar. Tentu saja kata-kata pengantarnya berbeda dengan kata pengantar umumnya yang digunakan oleh para akademisi. Gonick selalu menyelipkan lelucon-lelucon lucu tetapi sarat isi. Misalnya dalam volume ke-6 ketika ia membela Herodotus dari cercaan para sejarawan modern yang menganggapnya sebagai Bapak Kebohongan. Gonick memvisualisasi dirinya dalam tokoh komik dengan raut muka terlihat marah sambil berucap bahwa tiada yang mampu menandingi Herodotus dalam bakat sastranya    dan pemahamanya tentang karakter.

    Gambar 1. Salah satu rekaan adegan peristiwa sejarah dalam cerita komik karya Larry Gonick yang menampilkan Alexander yang Agung dan Aristoteles.

    Lalu pada bagian isi, pembaca akan dibuat kagum dan terpesona melihat bagaimana Gonick mampu menghadirkan sebuah kisah sejarah yang unik dan menarik.  Keunikannya itu terletak pada gambaran tokoh-tokoh dan karakater yang gonick buat. Pada satu sisi tampak adegan-adegan tokoh-tokoh dan karakter sejarah itu seakan penuh dengan lelucon yang mengundang tawa bagi para pembacanya, tapi pada sisi lainnya pesan yang dia sampaikan melalui adegan mereka memang sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Satu contoh dalam bagian akhir komiknya di volume 7 Gonick mengulas terkait tokoh Alexander yang Agung dari Makedonia. Alexander yang Agung oleh Gonick digambarkan pernah belajar pada salah seorang filosof besar Yunani Aristoteles. Tentu saja hal ini sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Tapi uniknya, Gonick menggambarkan karakter dua tokoh itu dengan penuh kelucuan jauh dari apa yang dibayangkan orang-orang saat ini.

    Di bagian akhir setiap volume bukunya sebagaimana umumnya para akademisi, Gonick mencantumkan daftar sumber yang ia gunakan dalam karyanya ini. Dari sini terlihat jauh dari lelucon-lelucon lucu yang ia tampilkan, Gonick benar benar melakukan sebuah studi yang serius dan mendalam untuk menciptakan komik sejarah dunianya ini. Hal ini terlihat dari sumber-sumber yang ia jadikan bahan rujukan. Jadi buku ini sangat disarankan untuk dibaca terutama bagi mereka para pemula yang ingin mengetahui Sejarah Peradaban Dunia. Karena begitu jarang orang-orang yang mampu menampilkan kronologis Sejarah Peradaban Dunia secara menarik, ringan dan mudah dipahami dibarengi humor-humor yang menggelitik.  

  • Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    “Tidak jauh berbeda dengan saat ini, di masa kolonial alun-alun kabupaten maupun kota tetap menjadi tempat utama berkumpulnya warga masyarakat terutama dalam perayaan-perayaan besar keagamaan bahkan hingga menjadi arena pertandingan olahraga”

    Kompetisi balapan kuda di Alun-alun Sukabumi tahun 1933.
    Sumber : Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Cimahi Tahun 1910 nampak masih asri dengan rerimbunan pohon dan lapangan berumput hijau yang luas.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Garut masih sangat asri dan rimbun dengan pepohonan. Tampak terlihat di tengahnya Babancong, sebuah podium tempat dimana Bupati berpidato pada rakyatnya tahun 1900.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Adu domba
    Masyarakat pribumi dan beberapa tentara Belanda menyaksikan adu domba di Alun-alun Garut.
    Sumber: National Archief
  • Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Danil Kasputra

    “Fenomena vandalisme di objek wisata bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku seperti ini sudah pernah sering terjadi.”

    Cerita-cerita vandalisme para turis masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Perbincangan-perbincangan itu berpusat pada tangan-tangan jahil para turis yang entah karena iseng, untuk sekedar pamer di medsos atau gaya-gayaan merusak dan mengotori tempat-tempat pariwisata. Tidak mengherankan, tempat-tempat wisata yang seharusnya terlihat indah, eksotik dan penuh dengan nuansa kenyamanan menjadi tempat yang sangat tidak layak untuk dikunjungi. Mirisnya, jika ditelisik kebelakang, fenomena semacam ini bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku serupa sudah pernah sering terjadi. Satu dari sekian banyak cerita vandalisme para turis di zaman itu yang tercatat ialah vandalisme yang terjadi di objek wisata Kawah Papandayan.

    Ada dua cerita terkait vandalisme turis di tempat wisata ini. Cerita pertama muncul dalam harian Het Nieuws van Den Dag, yang terbit pada tanggal 09 Juli 1930 melaporkan bahwa para turis yang bandel secara sengaja membuat api di Kawah Papandayan, walaupun telah ada larangan sebelumnya dari Dinas Vulkanologi. Akibatnya, terjadi kebakaran belerang di Kawah Papandayan. Untung saja, berkat campur tangan para ahli dan melalui upaya yang sekuat tenaga api dari kebarakan ini mampu untuk dipadamkan.   

    Cerita lainnya muncul kembali delapan tahun kemudian dengan sebab akibat yang berbeda, tapi tetap saja akibat ulah dari para turis vandal ini. Kawah Papandayan sebagai kawah yang terbentuk sebagai hasil dari gejala vulkanis tentu saja memiliki kolom-kolom belerang yang indah. Kolom-kolom belerang itu biasanya memiliki pohon-pohon belerang yang eksotik. Sebab keeksotikannya itulah, Pohon-pohon ini tidak pernah luput dari tangan-tangan jahil para turis yang merusak rusak untuk menjadikannya sebagai cendera mata. Hal ini yang dicatat oleh urat kabar Indische Courant yang terbit pada tanggal 26 oktober 1938 bahwa “De vulkaandienst ondervindt naar Aneta uit Bandoeng verneemt, in den laatsten tijd veel hinder van vernielzuchtige touristen. Deze souvenirjagers hebben het voornamelijk gemunt op de fraaie zwavelzuilen welke voorkomen in den krater.” (Dinas Vulkanologi, sebagaimana diinformasikan oleh Aneta dari Bandung, akhir-akhir ini banyak menemukan para turis yang berperilaku merusak. Para pemburu suvernir ini terutama mengincar kolom belerang yang ada di dalam kawah).

    Gambar 1. Berita Harian Indische Courant Terkait Maraknya Vandalisme di Objek Wisata Kawah Papandayan.

    Mirisnya kejadian itu bukanlah kejadian yang terjadi sekali dua kali, masih menurut berita yang sama juga lima tahun lalu juga ada kejadian serupa. Sebuah pohon belerang yang indah dan cantik tumbuh disana. Tentu saja hal ini merupakan sebuah fenomena alam langka dan perlu waktu bertahun-tahun untuk melihatnya terbentuk. Tapi para turis yang berperilaku vandal malah merusaknya untuk dijadikan sekedar sebagai cenderamata. Maka sejak saat itu tidak pernah ada lagi fenomena langka semacam itu. Adapun kolom-kolom lain yang baru tumbuh juga dirusak oleh para turis ini. Dinas Vulkanologi yang berang dengan kelakuan para turis yang bandel ini kemudian mengeluarkan sebuah aturan baru. Agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa.

  • Dari Cerita-Cerita Tertua : Sebuah Pengantar Sejarah dari Yunani Klasik

    Dari Cerita-Cerita Tertua : Sebuah Pengantar Sejarah dari Yunani Klasik

    “Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis.”

    Rendy Kurniawan

    Berdasarkan sebagian besar opini yang diterima sejauh ini, penemuan korpus ilmu sejarah, khususnya bagi kalangan Barat, tentu berasal dari Yunani kuno. Tetapi kita juga harus memahami bahwa sejarah tidak mendapatkan posisi yang tidak terlalu bagus di dalam kebudayaan Yunani itu sendiri. Peran sejarah di dalam kebudayaan Yunani Nampak terpinggirkan jika tidak ingin mengatakan sepele apabila disejajarkan dengan diskursus intelektual lainnya. Dibandingkan dengan tradisi keilmuan lain yang berkembang seperti filsafat, sejarah cenderung tidak populer. Lebih jauh, kita tidak akan menemukan sejarah di dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah Yunani kuno. Lalu dimana sebenarnya posisi sejarah bagi kebudayaan Yunani?

                Sejarah di masa Yunani secara umum nampaknya adalah instrument legitimasi politik. Pada masa ini, sejarah bukanlah sebuah disiplin keilmuan dan tidak pernah bertujuan untuk mendidik. Sebagian besar karya sejarah memiliki ambisi untuk membentuk paradigma kepentingan politis. Sejarah dalam terminologi Yunani menurut Moses Finley (1975 : 14) adalah puisi tentang peperangan. Salah satu contohnya adalah karya Homer yang berjudul Illiad dan Oddyssey. Dua karya ini menjelaskan apa yang terjadi pada Perang Troya dalam bentuk syair.

                Genre-genre sejarah semacam epos atau puisi peperangan semacam karya Homer mulai tergantikan oleh model karya sejarah baru karena mungkin puisi peperangan tidak lagi relevan bagi orang-orang Yunani. Mungkin sebagian besar orang Yunani sadar bahwa epic atau puisi semacam Illiad tidak bisa dikatakan sebagai sejarah. Ia hanyalah mewakili beberapa bagian dari catatan-catatan masa lalu semata.  Oleh karenanya, merespon hal tersebut, Herodotus dan Thucydides memainkan perannya sebagai penerus Homer.

    Gambar 1. Infografis

    Herodotus merespon kebutuhan orang-orang Yunani dengan menggali fakta sejarah lebih dalam demi ilmu pengetahuan yang kredibel, bukan berdasarkan mitos semata. Ia bersandar kepada data dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain, disbanding memilih menggunakan mitos sebagai fakta sejarah, ia menggunakan keterangan-keterangan dari masyarakat dalam peristiwa sejarah tertentu. Meskipun begitu, karya sejarah yang ia tulis tetap bertema peperangan. Herodotus menulis karya berjudul Sejarah Perang Persia dan Yunani. Dengan karyanya ini, ia dikenal sebagai bapak sejarawan karena berhasil mengaplikasikan metode sejarah dalam menuliskan sebuah karya.

    Berbeda dengan Herodotus, Thucydides merespon perkembangan pengetahuan Yunani dengan menghasilkan sejarah yang lebih politis agar dapat digunakan sebagai legitimasi dalam politik praktis. Ia menuliskan deskrpsi panjang Sejarah perang antara Yunani dan Sparta atau lebih dikenal dengan perang Peloponnesia dengan cukup rinci. Pada akhirnya, Herodotus dan Thucydides sebagai pionir dari penulis sejarah di masa klasik tetap menuliskan sejarah yang membahas politik.

    Dengan demikian, secara tidak langsung karya Homer hingga Herodotus dan Thucydides menggambarkan bagaimana orang-orang Yunani memahami sejarah. Bagi mereka sejarah bukanlah cabang ilmu. Sejarah pada masa Yunani selalu berirrama dengan politik. Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa Yunani menempatkan sejarah sebagai bagian dari politik.

  • Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 2)

    Terjemahan Buku Ismail En Moerti, Sang Anak Sulung Sunda (Bagian 2)

    Diterjemahkan oleh Danil Kasputra

    Wilayah Java bagian barat telah dipilih sebagai wilayah penginjilan perkumpulan, dan di bulan Agustus 1862 para penginjil pertama telah berangkat kesana. Mereka adalah C. Albers, D.J. van der Linden dan G.J. Grashuis. Setelah kedatangan pertama mereka di Bandung, orang-orang ini langsung menyebar, sebab pemerintah menolak izin mereka untuk berkhotbah diantara orang-orang Sunda. Penginjil Van der Linden bergerak ke Cirebon. Penginjil Grashuis setahun kemudian kembali lagi ke Belanda. Sedangkan Penginjil Alberst tinggal di Cianjur dimana dia tiba pada 1 oktober 1863. Di tahun berikutnya dia mendapatkan seorang asisten bernama C.J. Cussel tapi belakangan setelah beberapa bulan karena sakit keras Cussel harus kembali ke Belanda. Di tempat itu juga Albers di tahun 1865 menerima penginjil A. Geerdink dan penulis buku ini. Inilah yang hanya bisa kita lakukan saat itu di Cianjur. Kita hanya perlu tinggal sementara. Hal ini dilakukan untuk mengamati wilayah dan juga mempelajari bahasa Sunda yang kaya dan sulit. Kita juga memberikan bantuan medis kepada orang-orang Sunda yang sakit dan meminta diobati,kemudian mengunjungi, berbincara dan menyaksikan penduduk setempat di rumah-rumah mereka. Keleluasaan hingga pengkhabaran Injil masih belum diberikan. Oleh karenanya tiada yang dikhutbahkan. Di waktu pertama kali itu seluruh hubungan kita jalin, semua orang yang sakit kita rawat dan seluruh orang yang ingin membangun perkawanan kita terima. Seluruhnya hubungan dibangun dengan orang-orang dengan karakter menyenangkan. Tapi, secara keseluruhan, perkempulan itu tidak lmenghasilkan buah yang langgeng, menurut orang-orang, sebagian besar disebabkan oleh pemindahan dua dari tiga Misionaris, yang mengurangi beban kerja menjadi sepertiga. Namun, transfer itu dianggap perlu untuk mengisi beberapa titik misionaris lainnya.

    Tapi kami sedikit lebih cepat. Fase tertutup tidak berlangsung lama. Tuhan terus menjawab doa anak-anak-Nya, dan pintu bagi orang Sunda dibuka untuk misi pada tahun 1865. Sekolah sekarang bisa diadakan dan kemudian injil dikhutbahkan tanpa adanya hambatan. Hal ini berlangsung cepat. Namun, belum ada tempat untuk berkumpul di luar rumah para misionaris, dan segera menjadi jelas bahwa orang Sunda yang sederhana dan agak pemalu, jarang menghadiri pertemuan di rumah orang Eropa. Tidak memungkinkan juga adanya kecurigaan, betapa mereka, jika menginginkan seseorang untuk mengajar anaknya, atau jika mereka menginginkan bantuan medis, maka orang tidak akan pernah mendatangi rumah para penginjil, tetapi ketika orang-orang Cianjur diundang untuk datang bersama untuk mendengarkan pemberitaan Injil, maka biasanya mereka berkata . “Saya mendoakanmu permisi.”

    Selain itu, orang –orang Sunda sangat terikat dengan agama Islam, yang telah masuk sejak zaman leluhur-leluhur mereka selama sekitar empat abad, yang secara bertahap telah merasuki kehidupan umum, dan menjadi sesuatu yang amat bernilai untuk waktu yang lama. Bagi mereka,berpindah kepada sesuatu yang lain atau untuk sesuatu yang lebih baik, , bukan pilihan dengan hanya sedikit orang yang melakukannya. Sehingga, para misionaris pertama di Cianjur secara praktis mempelajari bahwa mereka tidak perlu membangun harapan untuk berhasil dalam upaya mereka terhadap masyarakat. Orang-orang Makedonia itu tidak menemukan mereka di pos mereka

    Namun, pengalaman itu tidak membuat mereka menjadi berkecil hati. karena mereka tahu bahwa mereka diutus untuk mengkhotbahkan injil kepada orang-orang Sunda. Mereka juga tahu, berdasarkan pengalaman mereka sendiri, bahwa Tuhan memegang kunci dari setiap hati manusia. Namun, mereka mengerti bahwa mereka harus mendapatkan orang-orang sebanyak mungkin. Ketika orang-orang Sunda tidak datang kepada mereka untuk mendengar Injil, mereka harus pergi mendatangi orang-orang Sunda. Agar orang-orang Sunda mendengarkan injil di tanah mereka sendiri. Sebuah ruangan bambu kecil dibangun di tengah-tengah kampung, di antara rumah-rumah penduduk asli, dan orang-orang Sunda yang bertetangga sekarang diundang dengan ramah ke pertemuan singkat di tempat sederhana itu dua kali seminggu, seusai doa malam Islam selesai.

    Pada awalnya banyak yang menanggapi undangan itu dan sering kali ada 50 hingga 60 pria dan wanita yang berkumpul, menceritakan kisah Alkitab dengan ceria dan menarik disertai juga alasan untuk berbicara tentang dosa dan rasa bersalah, rahmat dan penebusan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Sayangnya! Kehadiran orang-orang lambat laut berkurang dan pertemuan-pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa juga belum membuahkan hasil apa pun, sejauh yang diketahui. Cara-cara serupa di titik-titik kota lain juga tidak berhasil.

    Betapa tiga tahun yang sulit berlalu. Banyak kekecewaan, sedikit tanda yang membesarkan hati, hasilnya tidak ada. Kemudian para Misionaris disarankan untuk membangun sebuah gereja kecil di jalan utama, yang dikunjungi setiap hari oleh ratusan orang. Sebidang tanah dibeli pada lahan yang sangat cocok dengan harga f 700, -; Rumah asli dilahankan dipindahkan, dan di tengah halaman yang luas, misionaris Geerdink, yang memahami pertukangan dengan baik, membangun gereja kayu yang sangat efisien, tetapi ditutupi dengan ubin, dengan harga kurang lebih f 1.000. Karena pengumpulan material membutuhkan banyak waktu (balok-balok kayu harus dipotong di hutan pada jarak yang sangat jauh), pembangunan gereja sendiri membutuhkan waktu kurang lebih  9 bulan. Itu adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi Misionaris Geerdink, yang harus melakukan sebagian besar perkejaannya sendiri dan terpapar sinar matahari hari demi hari! Tetapi betapa perasaan bersyukur meresapi hatisanubarinya bersama dua Misionaris lainnya, ketika Gereja misionaris pertama ini siap, mereka mengundang orang Sunda dan Eropa untuk datang dan menghadiri pembukaanna di tahun 1868.

    Di pagi hari, Missionary Albers mengadakan pengajaran keagamaan pertama di sana, bagi orang-orang Eropa, berkhotbah menanggapi firman: Luc. 2: 30-32: “Mataku telah melihat keselamatanmu, yang telah Engkau persiapkan untuk wajah semua bangsa: sebuah cahaya untuk pembebasan bangsa-bangsa lain dan untuk kemuliaan umat-Mu Israel.” Di antara mereka yang hadir – kerumunan yang cukup besar – ada Asisten residen dengan stafnya. Pada sore hari Minggu yang sama, pengajaran pertama diadakan dihadapan orang-orang Sunda, di bawah bimbingan juru tulis ini, yang teksnya adalah Yohanes 3:16, “Allah sangat mencintai dunia, dll.” Yang sangat menarik adalah karena ini pertemuan pertama semua kursi telah ditempati dan Injil diwartakan kepada sekitar 150 orang Sunda yang belum pernah mendengarnya. Khotbah pertama ini juga didengar oleh kepala pemerintahan pribumi, Bupati.

    Sayang sekali kita tidak memiliki foto Gereja Misi pertama itu. Pada saat dibangun, fotografi belum mencapai ke pedalaman. Bangunan itu berdiri sendiri dan dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Lantai satu meter di atas lantai dasar, karena semua tiang berada di atas batu Seperti praktik umum di sini, ruang terbuka di bawah rumah. Oleh karena itu, pada acara-acara khusus, ketika gereja dulunya sangat penuh, orang-orang yang pemalu dapat menemukan tempat di bawah lantai di mana mereka dapat mendengar dengan sebaik mungkin sebagaimana di dalam gereja. – Biasanya, rumah kayu tidak bertahan lama di Hindia. Sayangnya! Hal ini juga yang terjadi pada Gereja Misionaris pertama kita. Dia hanya bertahan 25 tahun. Kemudian gereja itu rusak dan digantikan oleh gereja saat ini, yang kami sertakan gambar dalam dokumen ini.

    Tetapi kita harus kembali ke tahun 1868. Kini ada sebuah gereja Kristen di tengah-tengah orang-orang muslim Cianjur, tetapi – belum ada seorangpun jamaah; ya, bahkan belum ada seorang petobat. Karena itu, ketika dewan perkumpulan mengumumkan dalam pesan penahbisan, hal ini disinggung: “Tetapi belum ada seorangpun petobat di Cianjur, mungkin seseorang bertanya, untuk apa ini dibangun? Saudara-saudara telah memiliki sebuah rumah ibadah. Kesempatan untuk mendengar khotbah Injil sekarang terbuka bagi orang-orang Sunda, sebab Firman Tuhan tidak pernah kosong, dia berfungsi sebagaimana hujan dan salju, seperti yang Tuhan telah kehendaki pada waktunya. Semoga kita tidak duduk diam. Sekarang dengan satu kemauan dan doa yang sungguh-sungguh, bahwa Allah menaburkan khotbah firman-Nya dengan embun Roh Kudus, agar kita segera dapat senang dengan pesan gembira: “Buah sulung lahir di Cianjur.” Sungguh luar biasa, ketika dewan menuliskan keinginan ini, Hal itu sudah terpenuhi, tanpa orang-orang memiliki kecurigaan sedikit pun di sini. Kita mungkin melihat di dalamnya salah satu dari banyak konfirmasi tentang sabda Allah (Yes. 65:24): “Dan akan terjadi, sebelum mereka menangis, bahwa aku akan menjawab, sementara mereka masih berbicara, aku akan mendengar.”

                   Apa masalahnya? Sepuluh hari setelah penahbisan gereja, pada tanggal 18 November, jadi, saya mengetahui tentang orang Sunda, yang tinggal di lingkungannya, di kampung Nyalindung, seorang lelaki yang telah banyak berubah pikiran tentang masalah agama pada hari-hari terakhir; bahwa dia tidak lagi menaati doa-doa Islam yang ditentukan, dan mengklaim bahwa ajaran Islam telah meninggalkan manusia sebagaimana adanya, tidak memberinya ketenangan pikiran, dan tidak dapat mempengaruhi pikiran. Dia mengalami pertengkaran dan perselisihan tentang masalah ini, tetapi dia tidak dapat mengubah pikirannya dan biasanya akhirnya menambahkan penghinaan kepada dirinya sendiri. Dalam pencarian dan pertanyaannya, dia juga melakukan kontak dengan ahli bahasa saya, yang telah memberi tahu dia tentang apa yang dia dengar dari kami tentang Tuhan Yesus, tetapi dia sendiri tidak bisa menunjukkan jalan yang baik kepada tetangganya itu. Namun, dia menyarankan orang itu untuk bertemu saya, dan orang itu menyatakan dirinya siap untuk melakukannya. Segera setelah saya mendengar hal ini, keinginan saya untuk melihat dan berbicara dengan orang itu sangat bersemangat. Namun, harapan saya tidak besar, terlebih berdasarkan pengalaman yang mengecewakan di masa lalu. Ketika ditanya apakah saya bisa menerimanya, saya bertanya (saat itu hari Rabu) apakah dia akan datang pada Jumat malam; berpikir, “Lalu dia juga bisa menikmati bulan terang.” Namun, harapan saya jauh melebihi dalam hal ini. Karena apa yang terjadi?

                   Keesokan harinya, sekitar tengah hari, berbarengan dengan mengunjungi sekolah anak perempuan saya dan rijsttafel, saya dan istri mengunjungi keluarga Albers, di mana itu adalah hari ulang tahun anak-anak. Ketika kami kembali dari kunjungan itu, kami melihat seorang Sunda berpakaian sederhana namun rapi, duduk di depan rumah kami di bawah sinar matahari yang berkilauan. Ini ternyata adalah orang kami dengar itu. Dia tidak menunggu selama berjam-berjam, tampaknya karena keinginan untuk berbicara dengan kami, dan tidak menemukan kami di rumah pada jam sebelumnya. Dan karena dia tidak mau menunda kunjungannya. Dia menghadap kami di panas sore yang cerah dan menunggu kami kembali. Walau nampak tergesa-gesa tapi hal itu menyenangkan, namun dia tidak mengatakan apa-apa tentang niatnya, dan – seperti yang saya katakan – dari pengalaman sebelumnya saya tidak dapat membayangkan bahwa niat itu murni bersifat spiritual. Sementara itu, ketertergesa-gesaanya dan jam yang tidak biasa dari kunjungan itu membangkitkan rasa ingin tahu kami: Kali ini kami makan dengan cepat, agar pengunjung kami tidak terlalu lama menunggusaya dengan senang hati akan meninggalkan makanan tengah hari untuknya!

                   Saat itu jam setengah satu sore ketika kami berdua menetap di ruang belajar saya, dan pembelajaran kami belum berakhir sebelum jam 3. Biarkan saya memperkenalkan pengunjung saya kepada anda semua. Saya mencoba menggambarkan pengunjung saya seakurat mungkin. Bayangkan: seorang pria berwarna gelap, tidak bertubuh tinggi, sekitar 45 tahun, dengan dahi tinggi, tulang pipi agak berkembang, mata lembut, serius, wajah tanpa jenggot, rambut panjang diikat dengan simpul di bagian belakang kepala, ditutupi dengan jilbab; seorang lelaki dengan penampilan bagus dan kokoh, mengenakan pakaian Sunda dengan sarung atau rok dan linen putih, sampai ke pinggang. Kebetulan, seorang pria yang beradab dan sopan.

                   Segera untuk mencari tahu tentang agamanya, saya berkata kepadanya: “Anda disebut Ismail. Itu adalah nama Islam. Orang Islam mengatakan bahwa mereka menganut agama Ismael, dan itu benar. Bagaimana menurut Anda? Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya hanya datang untuk mencari tahu apa jalan keselamatan itu. “Saya kemudian menanyai dia lebih dekat tentang apa yang telah saya dengar di hadapannya, dan kemudian belajar dari dia bahwa dia memang mengalami perasaan ketidakpuasan, dan bahwa dia telah memikirkan dengan serius dasar-dasar agama Muhammad. Dia sebelumnya telah mengikuti dasar-dasar ini dengan cukup setia, tetapi sekarang, dengan serius, dia telah menemukan bahwa mereka memiliki sedikit nilai untuk hati dan kehidupan. Para pemeluk agama Islam menyelidiki signifikansi dan kegunaan dasar-dasar itu, tetapi tidak ada yang memberinya jawaban yang memuaskan, semuanya telah mengatakan bahwa kepatuhan terhadap perintah-perintah itu dibebankan pada manusia di sini dan di masa depan menjadikan keselamatan sebagai bagian. “Tetapi” – Dia beralasan – “Jika itu benar, maka harus ada bukti tentang ini dalam kehidupan ini; Maka orang-orang yang menggapai ajaran Islam harus memiliki keamanan keselamatan: maka mereka harus mengistirahatkan hati mereka dan menjadi orang-orang suci. Saya melihat, di sisi lain, bahwa tidak ada perbedaan antara mereka yang taat ajaran Islam dan mereka yang tidak mentaatinya; yang pertama melakukan dosa dan yang kedua; yang pertama sama takutnya dengan kematian dan keabadian seperti yang terakhir, dan tidak ada perbedaan esensial untuk dilihat antara mereka yang mematuhi perintah Islam, dan tidak mencapainya.

                   Alasan yang masuk akal ini, yang sangat mengherankan saya tentang orang Sunda ini, dan tidak sedikit penampilan tamu saya ini menunjukkan keseriusan yang dalam, mendorong saya untuk menyelidiki lebih jauh. Karena itu saya bertanya kepadanya bagaimana ia bisa berpikir tentang agama dengan cara ini. Dia menjawab, “Yang terbaik adalah aku memberitahumu semua yang telah terjadi padaku.” Dia kemudian dengan tenang menceritakan dan mengatur apa yang telah dia alami dalam beberapa hari terakhir, yang intinya adalah sebagai berikut:

                   Pada hari Sabtu, 31 Oktober (1868), dia duduk di sore hari di barisan depan rumahnya yang sederhana, merefleksikan pengalaman hidupnya, yang pahit. Setelah pergi ke Batavia ketika masih muda, ia bekerja bersama orang Eropa yang hidup dalam dosa. Suatu pagi dia kehilangan arlojinya dan menuduh pelayan barunya mencuri itu. Pelayan itu menyangkal dan terus menyangkal, tetapi tetap saja dihukum, meskipun tidak ada bukti bersalah yang ditemukan. Setelah hukuman penjara, ia kembali sakit dan malu ke kota asalnya.

                   Dia tinggal di sini mulai sekarang. Ia menikah, sedang mencari cara hidup, cara hidup seperti Islam atau Islam. Namun, dia juga tidak mudah melakukannya; Sebaliknya, banyak kesulitannya. Demikianlah tahun-tahun berlalu tanpa banyak sukacita, tetapi dengan banyak kesedihan. Ketika dia memikirkan hal-hal ini dengan hati yang berat, dia tiba-tiba mendengar suara yang datang dari atas dan memanggilnya dalam bahasa Sunda “Maneh geura beberesih! Mengke tiloe poe deui kami akan tjalik ka maneh! ” Yaitu, “Reinig (Bebersih!)” Dia mendongak, tetapi tidak memperhatikan siapa pun. Segera dia masuk dan memerintahkan istri dan pelayannya untuk mengadakan penyambutan besar, karena akan ada kunjungan dalam tiga hari. “Siapa itu?” tanya istrinya. “Aku tidak bisa mengatakan itu,” – dia menjawab – “tetapi ini dan itu telah diucapkan kepadaku.” Setelah menceritakan kejadian itu kepada istrinya, dia segera pergi bekerja dengan pelayan, meskipun dia tidak mengerti semuanya. Rumah, perabotan, halaman di sekitar rumah – semuanya berubah.

                   Hari-hari berikutnya dihabiskan dalam ketegangan. Sabtu dan Minggu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang istimewa terjadi. Selasa pagi barulah bermula serangkaian pertemuan. Pada jam 7 (Ismail kemudian mencatat hari dan jam) ia menemukan burung yang sangat cantik dan langka di jalan; dia membelinya seharga 50 sen dan membawanya pulang, rupanya untuk tujuan takhayul. Pada malam Kamis hingga Jumat, bermimpi tentang mayat-mayat. Jumat pagi, duduk di halamannya lagi, dia melihat seekor burung gagak mendekat dari Timur, dengan sebutir telur di mulutnya, yang dengannya dia duduk di kursi bambu (batang bambu, tumbuh dari akar). Ismail mengambil telur itu dan membawanya ke istrinya. Pergi ke sana lagi, dia menemukan ada 515 hal bulat, dari jenis yang sama, agak seperti kacang, tetapi sama sekali tidak dikenalnya. Pada sore hari dia melihat satu di halamannya dan ketika dia menggali tanah di sana dia menemukan seorang ratu rayap (ratu dari sarang semut putih). beberapa jam kemudian dia mendengar suara lain berkata kepadanya, “Gali di sisi utara.” Ketika dia melakukan ini, dia menemukan sesuatu yang hebat seperti umbi, dan rebung direndam di dalamnya sehingga tidak bisa dilonggarkan. Pada malam Jumat hingga Sabtu ia kembali bermimpi bahwa ia melihat cahaya yang indah. Dia bangun, dan ketika dia keluar, dia melihat pohon rambutan di halamannya bersinar dengan cahaya yang sangat terang sehingga dia bisa dengan jelas membedakan setiap daun. Keesokan harinya, Sabtu, dia hanya melihat hal-hal indah. Pada malam Sabtu hingga Minggu ia bermimpi menemukan batu-batu berharga yang indah, dan ketika ia mencari di pagi hari di bawah pohon rambutan yang disebutkan di atas, ia menemukan di sana beberapa benda dengan warna berbeda, agak menyerupai batu-batu berharga. Dia mengambilnya pada Minggu sore. Dia mendengar suara berkata, “Gali di bawah pohon rambutan.” Dia melakukan ini bersama pelayannya, yang menemukan petir di tanah.

                   Dari semua hal itu, ditemukan dalam beberapa hari, hal-hal yang Ismail tidak mengerti. Oh, dalam keadaan biasa dia akan memiliki begitu banyak. Tetapi sekarang setelah dia berada dalam ketegangan yang begitu gugup dan sedang menunggu sesuatu, hal-hal ini, betapapun tidak signifikannya dirinya, sangat berharga baginya. Sekarang sudah menjadi sifat orang Sunda, untuk menyebut segala sesuatu yang dia tidak mengerti dengan nama aheng, kita berkata, “Luar biasa, supernatural”; dan dia selalu cenderung menyembah hal-hal yang disalahpahami seperti itu. Bagaimanapun, ia adalah seorang Muslim, dan keislamannnya sama sekalitidaklah buruk, tetapi dalam hati dan jiwa ia juga orang bukan Yahudi, sama baiknya dengan, misalnya, orang Dayak dan Timor.

                   Hal-hal sama sekali tidak bernyawa baginya; oh tidak, mereka masih hidup; mereka adalah tempat tinggal rohnya; dan untuk sesuatu yang indah, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang baginya memiliki kekuatan atau pengaruh, dia merasakan ketakutan yang penuh rahasia, dan tanpa sadar dia kemudian datang untuk membayar kehormatan agama untuk melindungi dirinya dari pengaruh itu dan seharusnya memilih mendukungnya, sehingga ia mungkin tidak dirugikan, tetapi sebaliknya kebaikan akan menyusulnya. Sesuai dengan sifat asli orang Sunda itu, Ismail karenanya sangat menghargai “Harta Karun” -nya. Sejauh ini, dia mengumpulkan apa yang temukan dalam ukuran besar, mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya dari korupsi. Kemudian dia berkeliling lingkungan, melaporkan pengalamannya kepada orang-orang ini dan orang lain dan meminta penjelasan. Namun, tidak ada yang bisa membantunya; tidak ada yang dipahami dari suara-suara itu, juga tidak ada yang bisa memberitahukan kepadanya tentang apa yang temukan. Beberapa orang berbicara untuk menertawakannya, sementara yang lain mengira dia gila atau bahkan kesurupan. Namun, dia bersikeras bahwa dia benar-benar mendengar suara-suara itu dan terus mencari penjelasan. Sementara itu, ketenangan pikirannya tidak membaik dan kesehatannya terasa sangat buruk. Penampilannya – kata mereka yang berinteraksi dengannya – telah berubah; dia tidak lagi sama. Dalam situasi seperti itu dia bertanya kepada ahli bahasa saya yang disebutkan di atas, dan sekarang dia duduk di sana untuk berbicara dengan saya dan, setelah bercerita tentang pengalamannya, bertanya apa yang saya pikirkan tentang masalah ini.

                   Saya menjawabnya bahwa tampaknya sama sekali tidak perlu menjelaskan suara itu adalah sebuah imajinasi, karena sering bahwa Allah segera menyatakan diri kepada orang-orang yang tidak mengetahui Firman-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya , kepada mereka Allah menunjukkan belas kasih-Nya dan menuntun jiwa mereka untuk bertobat. Saya mengatakan kepadanya untuk percaya bahwa mungkin benar bahwa suara seperti itu datang kepadanya, tetapi dia tidak memahami artinya. Tentunya tidak mungkin niat Allah bahwa ia hanya membersihkan keluaraga dan barang-barang rumah tangganya; tidak diragukan lagi Allah terutama ingin menyucikan diri dia dari dosa-dosanya dan memasukannya menuju jalan keselamatan. Dia mendengarkan dengan penuh minat kata-kata saya, yang terbukti sesuai dengan pertimbangannya sendiri sebelum suara itu datang kepadanya. . Saya berbicara tentang khotbah penebusan yang diucapkan dan terselubung, yang diberikan dalam Tuhan kita Yesus Kristus, putra Allah, yang namanya kudus yang sekarang dia dengar diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Secara umum, Islam memiliki keraguan serius tentang Injil sebagai Kitab Suci. Secara khusus, mereka  berkhotbah: “Keselamatan tidak lain, karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan di antara manusia yang dengannya kita harus diselamatkan”. Sedangkan pelanggaran bagi mereka adalah pernyataan bahwa Yesus adalah ” Anak Allah ” ini adalah kebodohan bagi mereka, yang umumnya mereka ingin mengolok-olok dengan bertanya: “Bagaimana bisa Tuhan memiliki Anak, karena dia tidak punya istri?!” Tidak demikian halnya dengan Ismail. di sisi lain ; Mendengar kabar gembira itu, ia gemetaran karena kesengsaraan, dan air mata membasahi pipinya ketika saya berbicara kepadanya tentang dosa dan rasa bersalah, tentang rekonsiliasi dan keselamatan. Terpukul karena rasa bersalah dan haus akan kedamaian dengan Allah, meneguk hingga penuh darus keselamatan. “Tidak ada yang berbicara padaku seperti itu!” dia berseru. “Tapi” – dia bertanya setelah beberapa saat – “bagaimana dengan benda-benda yang telah kutemukan?” Saya ingin melihat mereka terlebih dahulu. ” Dia pikir itu ide yang bagus, dan atas permintaannya aku berjanji akan mengunjunginya malam itu juga. Kami melanjutkan pembicaraan kami selama beberapa waktu, dan kemudian dia pulang dengan wajah cerah.

    Menjelang matahari terbenam aku berjalan ke rumahnya sebagimana janji sebelumnya. Ini tampak seperti semua rumah sederhana di daerah Sunda: gaya kayu, dinding dari bambu yang dikepang dan atap rumah menjadi yang utama di halaman depan. Ini memberikan akses melalui pintu ke ruang dalam, yang dapat dibagi dengan gorden atau partisi, dan di mana ruangan memiliki jendela kecil di masing-masing dari dua dinding samping tanpa kaca. Ruang dalam mengarah ke koridor belakang, tempat piring memasak biasanya berada.

                   Saya disambut hangat oleh Ismail dan istrinya, Moerti. Tentang istrinya, satu kata. Dia adalah wanita Sunda sejati, bertubuh pendek dan agak kurus. Dia mungkin beberapa tahun lebih muda dari suaminya, tetapi sulit untuk secara akurat menentukan tahun-tahun di antara penduduk asli pada usia tertentu, karena tidak ada catatan sipil untuk Penduduk Asli dan mereka yang berasimilasi dengan mereka dan terkait tahun kelahiran, dll, juga. tidak ada penjelasan. Tidak ada yang tahu kapan hari ulang tahun seseorang, jadi tidak pernah ada hari ulang tahun. Oleh karena itu, tidak ada yang tersisa selain memperkirakan perkiraan usia, yang telah kami lakukan dalam kasus ini. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang penampilan Moerti. Potret dirinya tidak ada, karena alasan di atas. Dia adalah wanita yang sederhana, dengan mata jernih dan hidung yang dipotong. Dia mengenakan cara perempuan Sunda kelas rakyat, dengan sarung yang sampai ke pergelangan kaki dan kain linen yang sampai ke lutut. Ketika seorang wanita Sunda turun ke jalan, dia menngalungkan slendang atau sling panjang di pundaknya, tetapi di rumahnya pakaiannya hanya terdiri dari dua potong: sarung dan linen, agar terasa hangat di rumah, kemudian dia mengaitkan dengan sepotong sarung, yang kemudian harus ditarik ke ketiak. Selain Moerti sangat sederhana dan sangat sopan. Hal ini karena sikap yang baik adalah bawaan untuk menikah dengan orang Sunda, dan banyak anak, bahkan banyak orang dewasa, akan dapat belajar hal-hal baik dari orang Sunda yang jauh kurang terdidik dalam hal ini.

                        Ketika saya memasuki rumahnya, saya menemukan segala telah tertata seperti halaman yang dibersihkan dengan hati-hati. Di ruang dalam, kursi pinjaman telah siap untuk saya. Penduduk asli terbiasa hanya duduk di lantai, di atas tikar yang dikepang, tetapi jika orang Eropa datang untuk mengunjungi penduduk asli dan kunjungan itu telah diumumkan sebelumnya, ia akan mencoba meminjam kursi, karena kita sudah terbiasa untuk duduk ketika sedang bekerja. Setelah saya mengambil tempat duduk saya dan orang-orang yang hadir (paling penasaran tetangga) berkumpul di sekitar saya, saya melihat sekeliling dan memperhatikan baskom yang disebutkan di atas, yang ditutupi dengan kain putih dan berdiri di lantai. Saya bertanya kepada Ismail, “Apakah yang anda temukan, dan bolehkah saya melihatnya sekarang?” Setelah memberikan jawaban yang meyakinkan untuk pertanyaan itu, Ismail dengan penuh hormat mendekati mangkuk itu sebagaimana seorang imam mendekati altarnya, sementara dia mengambil bajunya. Mata semua yang hadir beralih ke misteri yang tersembunyi di bak itu, dan benda-benda yang terkumpul di bak itu, yang telah ia campur dengan minyak dan rempah-rempah untuk memadatkannya, sekarang ditunjukkan kepada saya satu per satu, dan sejauh yang saya tahu mereka mengatakan saya apa itu. Ketika semuanya telah ditunjukkan kepada saya, Ismail bertanya kepada saya; “Dan apa pendapatmu tentang hal-hal ini sekarang?” (Bersambung Bagian 3)

  • Mendefinisi Ulang Pengertian Sejarah

    Mendefinisi Ulang Pengertian Sejarah

    Rendy Kurniawan          

    Apa itu Sejarah? Apa yang akan kita jawab jika menemukan pertanyaan semacam ini? Beberapa mungkin akan menjawab,”sejarah sesederhana peristiwa masa lalu”. Sebagian lain yang mungkin menguasai literasi sejarah dalam tingkat tertentu akan berkata,”sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang memiliki Batasan ruang dan waktu”. Namun, apakah definisi tersebut merefleksikan definisi sejarah secara utuh? Kita mungkin sepakat bahwa fungsi dari sejarah sebagian besar mengajarkan kita untuk belajar dari masa lalu untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, akan tetapi bagaimana dengan definisi sejarah itu sendiri?

                Tulisan-tulisan sejarah yang dihasilkan oleh banyak ahli sepanjang waktu, secara tidak sadar, merefleksikan sebuah definisi sejarah. Secara tidak langsung mereka mengaplikasikan apa yang mereka pahami tentang arti sejarah lewat tulisan-tulisan yang mereka produksi. Dengan kata lain, karya-karya sejarawan telah mewakili apa yang mereka pahami tentang sejarah. Artinya, ketika kita atau mereka berusaha untuk menjawab, “Apa itu sejarah?” jawabannya, sadar  atau tidak sadar, merefleksikan posisi kita dalam dimensi waktu tertentu. Kita tidak mungkin menjawab definisi sejarah sama seperti orang Yunani kuno ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama, begitu juga sebaliknya.  

                Di masa klasik, ketika keilmuan masih berporos pada Yunani hingga Romawi, sejarah didominasi oleh legitimasi politik dan cenderung mengesampingkan fakta. Berbagai karya sejarah pada masa ini berfokus kepada peristiwa perang atau kisah kebesaran seorang penguasa atau orang besar dengan dibumbui oleh berbagai mitos.(Marincola, 2007) Misalnya pada masa Yunani, Herodotus yang dikenal sebagai bapak sejarawan, menuliskan kisah peperangan antara Persia dan Yunani. Selain itu, pada masa Romawi, selain menulis kronik keberhasilan penaklukan di berbagai daerah, Julius Caesar sang kaisar Roma menulis sebuah otobiografi dengan berbagai kebesarannya yang entah benar atau tidak.(Hengst, 2010) Hal yang sama berlaku ketika penulisan sejarah berjaya di masa perkembangan Kristen di Eropa. Mereka menganggap bahwa sejarah merupakan bagian dari doktrin agama. Hal ini membuat karya-karya sejarah di masa ini penuh dengan dogma-dogma gereja. Salah satu contohnya adalah karya dari Augustinus sang Santo yang menulis The City of God. di dalamnya, kita akan melihat sebuah pergulatan antara kebaikan dan kejahatan di dalam arus sejarah, suatu titik balik bagi penulisan sejarah di masa Kristen awal.(Patrides, 1972)

    Pada konteks penulisan sejarah Islam, karya-karya mereka juga menggambarkan konstelasi politik di masa awal perkembangannya. Misalnya, Ath-Thabari di abad ke-9 menulis sebuah karya monumental berjudul Sejarah Kerajaan dan Pemimpin-Pemimpin yang memaparkan bagaimana peperangan di kerajaan Islam klasik dan juga deskripsi ketika beberapa masa pemerintahan khalifah.(Rosenthal, 1968) Begitu juga di Indonesia, meskipun memiliki dimensi waktu yang mungkin sedikit berbeda, catatan-catatan tentang sejarah tertua di Indonesia berisi legitimasi terhadap raja-raja untuk memimpin. Melihat semua ini, ketika kita hidup pada masa ini, mungkin kita akan berpendapat bahwa sejarah adalah tentang perang dan keagungan seorang raja.

    Gambar 1. Infografis

                Berkaca dari kekeliruan yang banyak dihasilkan oleh sejarawan terdahulu karena banyaknya mitos dalam tulisan-tulisan sejarah, abad ke-19 dikenal sebagai sebuah zaman bagi kekuatan fakta. Aliran abad ke-19 ini didorong oleh Leopold Von Ranke pada tahun 1830. Ia mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah ‘menggambarkan bagaimana peristiwa terjadi’ (wei es eigentlich gewesen). Nampaknya, pada abad ini hampir seluruh sejarawan benar-benar memiliki pendapat yang sama dengan Ranke.(Pim den Boer, Peter Bugge, 1993) Contohnya, dalam konteks Indonesia dalam arus sejarah, karya berjudul Sejarah Jawa yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19 cenderung mengandalkan kekuatan fakta di hampir seluruh isi bukunya. Buku yang berisi kondisi sosial dan kultural Jawa ini adalah sebuah refleksi dari bagaimana orang-orang di abad ke-19 memahami sejarah. Dapat ditarik kesimpulan bahwa para sejarawan pada abad ini memahami sejarah sebagai kumpulan fakta semata. Mereka harus menjelaskan sebuah peristiwa dengan rinci lewat fakta yang mereka temukan.

                Berbeda halnya dengan apa yang kita temukan beberapa dekade setelahnya. Pada awal abad ke-20, sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sejarah adalah alat untuk melihat masa kini. Croce berpendapat bahwa tugas sejarawan bukanlah untuk mendeskripsikan masa lalu, melainkan mengevaluasi. Sejalan dengan Croce, pada tahun 1910, Carl Becker dari Amerika berpendapat bahwa karya sejarah itu tidak ada hingga seorang sejarawan mengangkatnya dalam sebuah karya. Artinya, pada abad ini banyak karya sejarah yang hanya mencantumkan fakta-fakta tertentu dan menggambarkannya sebagai sebuah narasi sejarah yang utuh.(Carr, n.d.) Dengan kata lain, karya-karya pada abad ke-20 nampak penuh dengan interpretasi sejarah. Contohnya, Ferdnand Braudel menulis sejarah Mediterania di masa Raja Phillip II. Meskipun fakta yang disajikan terbatas jika dibandingkan karya-karya sejarah abad ke-19, ia mengandalkan interpretasi sebagai poros dari karya sejarahnya. Sejarawan Indonesia di periode ini nampaknya melakukan hal yang sama. Contohnya adalah Sartono Kartodirdjo dengan karyanya berjudul Pemberontakkan Petani Banten.

                Melihat definisi sejarah dari abad ke abad, bagaimana dengan kita yang hidup di abad ke-21 ini. Apa definisi sejarah pada abad ke-21? Apa yang menjadi ciri khas dari karya sejarah abad ini? Nampaknya kita butuh waktu beberapa dekade lagi untuk menjawabnya.

    Sumber Rujukan :

    Carr, E. H. (n.d.). What is History.

    Hengst, D. den. (2010). Emperor and Historiography. Brill.

    Marincola, J. (2007). A Companion to Greek and Roman Historiography. Blackwell Publishing.

    Patrides, C. A. (1972). The Grand Design of God : The Literary Form of the Christian View of History. Rouletdge.

    Pim den Boer, Peter Bugge, O. W. (1993). The History of The Idea (K. Wilson (ed.)). The Open University.

    Rosenthal, F. (1968). A History of Muslim Historiography. Brill.

  • Resensi Film 1944

    Resensi Film 1944

    Danil Kasputra

    Salah satu film terbaik dari beberapa film berlatar Perang Dunia 2. 1944, sebuah film perang dari salah satu negara Baltik pecahan Uni Soviet, Estonia. Film ini disutradarai oleh Elmo Nuganen dan dirilis pertama kali di Berlin pada tahun 2015. Dengan aktor-aktor utama seperti Kaspar Velberg yang berperan sebagai Karl Tammik, seorang serdadu Jerman dari Estonia. Lalu ada Kristjan Ukskula memerankan tokoh Sersan Senior Jüri Jõgi, seorang serdadu Tentara Merah berkebangsaan Estonia dan Maiken Schmidt tampil dalam film ini sebagai adik dari Karl Tammik.

    Bagi para penikmat kisah-kisah sejarah Perang Dunia 2, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Karena dalam film ini kita akan dibawa dalam alam pikiran orang-orang Estonia di zaman itu yang harus terjepit diantara dua kekuatan besar yakni Uni Soviet dan Jerman Nazi. Tiada pilihan lain bagi orang Estonia selain terpaksa harus memilih salah satu di antara dua kekuatan besar itu.  

    Ada banyak kelebihan dari film ini. Pertama, film ini mampu menggambarkan kegamangan dari orang-orang Estonia yang harus bertempur baik dalam barisan pasukan Nazi maupun Tentara Merah, walaupun sejatinya mereka tidak suka melakukan itu. Apalagi ketika mereka harus saling bertempur dengan saudara mereka sendiri yang berada di pihak musuh. Kedua, suasana pertempuran yang seakan benar benar nyata diperlihatkan dalam film ini. Ketiga, film ini setidaknya mampu menghadirkan jiwa zaman pada masa perang Dunia II. Sehingga kita bisa merasakan suasana berbahaya dan penuh ketidakpastian di zaman itu.

    Namun film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangan itu terletak pada setting tempat. Kita pastinya membayangkan setting tempat perang Dunia Kedua dengan suatu gambaran tentang bangunan yang hancur, rumah yang terbakar, dll. Tapi film ini kurang memberikan tampilan gambaran tentang itu apalagi dalam perebutan kota Tallin dari pasukan Jerman Nazi oleh Tentara Merah Uni Soviet.

    Namun terlepas dari kekurangan itu, sekali lagi film ini sangat patut sekali untuk ditonton. Karena film ini membuka wawasan kita tentang keberadaan suatu bangsa bernama Estonia yang terjepit dinatara dua kekuatan besar masa itu.