Oke… sob sekalian, kalian semua pasti tahu atau setidaknya pernah tuh mendengar tentang manusia purba. Yah… dalam benak kalian pastinya manusia purba ini masih primitif, hobinya berburu dan masih belum mengenal pakaian. Pokoknya masih jauh ketinggalan zaman dan hidupnya di gua-gua. Gambaran itu memang sebagian benar tapi juga ada salahnya. Jadi, manusia purba juga walau mereka primitif tapi dalam berbagai hal mereka juga telah mengembangkan budaya walau masih dalam tingkat yang amat rendah. Nah… disini biar nggak berlama-lama kita akan mempelajari beberapa manusia purba yang pernah hidup di Indonesia.
Megantropus Paleojavanicus
Ini salah satu manusia purba tertua yang pernah ditemukan di Indonesia juga Dunia. Megantropus Paleojavanicus yang berarti Manusia Besar Tua dari Java pertama kali ditemukan oleh von Koeningswald di Sangiran, Lembah Sungai Bengawan Solo pada tahun 1941. Manusia jenis ini masih menyerupai kera terlihat dari bentuk rahang mereka. Tapi secara budaya mereka telah lebih canggih dimana mereka berhasil mengembangkan peradaban Paleolithikum.
Gigi dari Megantropus Paleojavanicus (KITLV)
Paleolithikum sendiri ialah zaman yang berlangsung sekitar 600.000 tahun silam. Pada zaman ini manusia termasuk Megantropus masih hidup dalam tahap yang sederhana. Adapun ciri-ciri budaya manusia zaman ini yaitu,
Kehidupan manusia masih nomaden atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kegiatan manusia masih food gathering yakni mengumpulkan makanan dengan cara berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah buahan.
Batu atau kapak yang masih kasar digunakan untuk berburu.
Manusia purba ini hampir menyerupai Megantropus dan sama-sama ditemukan oleh von Koeningswald pada tahun 1936. Lokasi penemuannya di Lembah Sungai Brantas. Secara budaya Pithecantropus Mojokertensis nampaknya hidup satu zaman dengan Megantropus Paleojavanicus.
Benda-benda pendukung Zaman Paleolithikum (KITLV)
Pithecantropus Erectus
Eugene Dubois pada tahun 1890 di Trinil, Lembah Sungai Bengawan Solo menemukan sebuah fosil manusia purba. Fosil temuannya ini kemudian dia beri nama Pithecantropus Erectus (Manusia Kera yang berdiri tegak). Manusia jenis ini juga memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan manusia modern, yakni:
Volume otak kepalanya masih 900 cc, sedangkan manusia modern memiliki volume otak lebih dari 1000 cc. Maka mudah diperkirakan bahwa kemampuan berfikir manusia jenis ini masih terbilang rendah.
Secara budaya manusia jenis ini hidup dalam zaman Paleolithicum sezaman dengan Megantropus dan Pithecantropus Mojokertensis.
Trinil tempat ditemukannya Pithecantropus Erectus (KITLV)
Homo Soloensis
Hidup dalam zaman Paleolithikum akhir, Homo Soloensis amat berbeda jauh dengan Megantropus dan Pithecantropus. Bahkan sebagian ilmuwan menganggap mereka sebagai Homo Sapiens karena hampir menyerupai bentuk manusia modern. Homo Soloensis sendiri ditemukan oleh Ter Haar dan Oppernoorth di Lembah Sungai Bengawan Solo sehingga namanya Homo Soloensis yang berrarti manusia solo.
Tebak Kata
Zaman dimana Megantropus dan Pithecantropus hidup? P _ L _ O L _ T H _ _ U M
Megantropus Paleojavanicus ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama? _ O N _ O E _ _ N G S _ _ _ _
Manusia yang berdiri tegak dinamakan P _ T _ E _ A _ T _ O _ P _ S E _ E _ T _ S
Pithecantropus Erectus ditemukan oleh? E _ G _ _ E D _ B _ _ S
Setelah Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, Indonesia memasuki babak baru yang dinamakan masa reformasi. B.J. Habibie, wakil Presiden Indonesia saat itu tampil menggantikan Soeharto sebagai Presiden ke-3 Indonesia. Pemerintah Presiden B.J. Habibie harus menerima tanggung jawab sedemikian berat diantaranya membawa Indonesia dari keterpurukan krisis ekonomi serta mewujudkan pemerintahan yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Maka pada 22 Mei 1998 Presiden B.J. Habibie membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Reformasi yang terdiri dari 16 Menteri. Adapun beberapa hal yang dibenahi Kabinet ini ialah Dwifungsi ABRI, Kebebasan Berpendapat dan Pemilu 1999.
Dwifungsi ABRI
Selama masa pemerintahan Orde Baru, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang merupakan gabungan dari TNI Angkatan Darat, Laut, Udara ditambah Kepolisian. Mereka memainkan peranan penting dalam kehidupan politik. Banyak jabatan-jabatan sipil diisi atau diduduki oleh orang-orang yang berasal ABRI. Salah satu tuntutan Gerakan Reformasi 1998 ialah keiginan untuk mengurangi pengaruh ABRI dalam kehidupan sipil.
Setelah Gerakan Reformasi 1998 berhasil secara perlahan pengaruh dan peranan ABRI mulai dikurangi diantaraya,
Pengurangan perwakilan ABRI di Dewan Perwakilan Rakyat dari 75 orang menjadi hanya 38 orang.
Angkatan Kepolisian sebagai salah satu dari unsur ABRI memisahkan diri menjadi sebuah unit independen yang terpisah dari ABRI
Penggantian nama ABRI kembali pada nama semula Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri dari Angkatan darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Setelah hidup dalam 32 tahun masa orde baru yang otoriter, masa Pemerintahan B.J. Habibie menandai awal mula kebebasan berpendapat di Indonesia. Pemerintahan membuka kran kebebasan bagi pers dan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan unek-uneknya pada pemerintah. Pemerintah menjamin tidak akan ada lagi ada pembredelan atau penutupan bagi media massa yang kritis pada pemerintah.
setelah masa reformasi masyarakat juga diperbolehkan untuk melakukan demonstrasi tapi dengan syarat mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan pemberitahuan dimana lokasi demo akan dilangsungkan.
PEMILU 1999
Pemilu 1999 menandai awal mula pembukaan kran politik secara besar-besaran bagi tumbuh dan berkembangnya partai politik. Dari 3 partai yang eksis selama pemerintahan Orde Baru menjadi tumbuh 112 partai politik lalu mengerucut menjadi sebanyak 48 Parpol sebagai hasil seleksi ketat dalam Pemilu 1999.
Lembaga Pemilihan Umum sebagai lembaga penyelenggara pemilu selama orde baru dibubarkan, lalu perannya digantikan oleh Komisi Pemilihan Umum atau biasa disingkat KPU. Anggota KPU sendiri terdiri dari wakil pemerintah dan wakil peserta pemilihan umum.
Pemilu 1999 berjalan dengan lancar dan untuk kali pertama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) keluar sebagai pemenang, disusul Partai Golkar ditempat kedua lalu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tempat ketiga.
Bro… dan Sis…., pastinya tahu bahwa Soekarno dan Hatta telah memainkan peranan penting dalam kemerdekaan bangsa kita. Karena berkat proklamasi kedua-nya lah lahir negara Indonesia pada tahun 1945. Tapi sis dan bro pada tahu nggak nih! selain keduanya banyak lagi beberapa tokoh nasional yang memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Siapa saja mereka? Penasaran? mari bro dan sis semua bisa baca ulasan di bawah ini.
Sutan Syahrir
Sutan Syahrir (id.wikipedi.org)
Dibanding Sukarno dan Hatta, nama Sutan Syahrir nampaknya masih kurang akrab di telinga sebagian rakyat Indonesia. Padahal peranannya dalam fase awal kemerdekaan Indonesia tidak bisa dikatakan kecil. Syahrir bersama Sukarno dan Hatta seakan membentuk triumvirat atau simbol dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sutan Syahrir merupakan Perdana Menteri Indonesia pertama yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada bulan November 1945.
Beberapa kebijakan Sutan Syahrir selama menjabat Perdana Menteri yakni,
Diplomasi Beras, mengirimkan bantuan bahan makanan kepada rakyat India yang sedang dilanda kelaparan.
Perundingan dengan Sekutu (Inggris) dan Belanda, Syahrir berhasil mengadakan perundingan dengan tentara sekutu dan kemudian dengan Belanda. Hal ini berhasil membuat perlahan eksistensi Indonesia sebagai negara berdaulat diakui.
Sutan Syahrir kemudian berhenti sebagai perdana menteri setelah banyak kritikan keras pada isi persetujuan Linggardjati yang ditandatanganinya bersama perwakilan Belanda. Walaupun perundingan itu semakin menegaskan eksistensi negara Indonesia, tapi sebagian pihak kecewa sebab Belanda hanya mengakui kedaulatan Indonesia sebatas Sumatra, Jawa dan Madura.
Ketika sedang memuncaknya perang Kemerdekaan Indonesia dari tahun 1945 hingga 1949, K.H Agus Salim sudah menginjak usia sepuh. Namun itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. K.H Agus Salim berperan penting dalam kancah perjuangan diplomatik. Berkat usahanya, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Indonesia, sebelum kemudian menyusul negara-negara Arab lainnya seperti Saudi Arabia, Lebanon, Yaman dan Iraq.
K.H Agus Salim bersama Presiden Soekarno selama pengasingan di Bangka (MuseumTropen.nl)
Adapun beberapa jabatan yang diduduki oleh K.H Agus Salim ialah,
Menjabat Menteri Muda Luar Negeri pada Kabinet Syahrir (1946-1947)
Menteri Luar Negeri, Kabinet Amir Syarifuddin (1948)
Menteri Luar Negeri, Kabinet Hatta (1949)
Jenderal Oerip Soemohardjo
Sebagian orang Indonesia pasti tahu Jenderal Sudirman, Abdul HarisNasution, Ahmad Yani apalagi Jenderal Suharto, tapi tidak banyak yang tahu mengenai Jenderal Oerip Soemohardjo. Padahal dia merupakan beberapa tokoh nasional yang memiliki peranan penting dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Salah satu peran peting Oerip ialah dalam pendirian Tentara Nasional Indonesia sebagai angkatan perang republik dalam menghadapi agresi Belanda. Sebagai seorang bekas mayor KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), Jenderal Oerip memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memegang pucuk angkatan perang.
Jenderal Oerip Soemohardjo (Domain Umum)
Maka pada 14 Oktober Presiden Soekarno secara resmi menunjuk Oerip sebagai kepala staf dan panglima sementara Tentara Keamanan Rakyat (Nama awal TNI). Namun pada tanggal 12 November 1945, dalam pemilihan panglima angkatan perang Jenderal Oerip kalah dari Sudirman yang kelas menjadi Panglima Besar TNI selama perang kemerdekaan. Jenderal Oerip sendiri diangkat sebagai kepala staf dan menemani Jenderal Soedirman dalam membangun Tentara Nasional Indonesia hingga wafat pada tahun 1948.
Hallo guys…! materi kali ini kita akan membahas beberapa teori masuknya Agama Hindu-Buddha ke Indonesia. kalian pasti tahu atau bahkan pernah melihat Candi Prambanan, Borobudur hingga Istana Ratu Boko. Betapa megah dan luar biasa ya.. bagunan-bagunan itu membuat siapa saja yang melihatnya dibuat takjub. Kalian juga pasti tahu bangunan-bangunan itu adalah tempat suci bagi penganut agama Hindu-Buddha. Tentu saja salah satu bukti bahwa kedua agama ini pernah eksis Indonesia selama kurun wktu 15 abad kurang lebih dari abad ke 1 M hingga abad ke 15 M.
Agama Hindu-Buddha sendiri guys berasal dari negeri India. Tapi ada tapinya nih…. guys, siapa pembawa dan penyebar agama ini di Indonesia masih belum jelas. Para sejarawan masih berdebat tentang siapa pembawa kedua agama ini. Ada kurang lebih empat teori masuknya Agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia. Keempat teori itu ialah Teori Brahmana, Teori Ksatria, Teori Waisya, Teori Sudra. Oke deh… kita akan jelasin buat kalian di bawah ini:
Teori Brahmana
Teori ini menyatakan bahwa kaum Brahmana yang menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Kaum Brahmana sendiri adalah kaum agamawan dalam agama Hindu. Tentu saja mereka sangat menguasai persoalan agama. Maka tak heran mereka lah satu-satunya kelompok yang mampu menjelaskan konsep agama Hindu-Buddha kepada bangsa Indonesia. J.C van Leur, seorang ilmuwan Belanda merupakan pencetus Teori ini.
F.D.K. Bosch merupakan pencetusnya. Dia berpendapat bahwa banyak dari kaum Ksatria India baik yang melarikan diri akibat kalah perang atau sesuai kehendaknya sendiri datang menaklukan daerah di Indonesia, membangun kerajaan lalu menghindukan penduduknya. Kaum Ksatria sendiri ialah para raja, bangsawan, pangeran, dll.
Tapi teori ini memiliki beberapa kelemahan sebagaimana disebutkan oleh Van Leur,
Tidak ada catatan tertulis mengenai penaklukan wilayah oleh kaum ksatria di Indonesia.
Tidak pernah ditemukan tugu kemenangan atau Jayastamba sebagai bukti penaklukan.
Teori Waisya
Para pedagang India berperan penting dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia. Para pedagang dalam agama Hindu termasuk kasta Waisya. Oleh karena nya teori ini dinamakan teori Waisya. Adapun beberapa hal yang menguatkan hal ini menurut N.J Krom ialah,
Para pedagang India merupakan golongan terbesar yang datang ke Indonesia.
Kebanyakan para pedagang ini selama berdagang mereka menetap dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Salah satu saluran interaksi yang memudahkan penyebaran agama Hindu-Buddha ialah perkawinan. Para pedagang ini menikahi penduduk setempat dan bersamaan itu mereka mengonversi secara perlahan penduduk itu ke dalam agama Hindu.
Teori Sudra
Golongan Sudra merupakan golongan terendah dalam kasta agama Hindu di India. Mereka kemudian berpindah ke Indonesia dengan tujuan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Begitulah bunyi dari Teori Sudra, tapi teori ini banyak mendapat penyangkalan.
Yaps… begitulah guys penjelasan mengenai keempat masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia.
Historiografi? apaan tuh? namanya grafi-grafian gitu… apa mungkin dia masih temenan ama Geografi. aduh…! sumpah baru denger. Pasti kata-kata itulah yang pertama kali yang merasuki pikiran sebagian besar dari kalian. Oke deh…, jadi Historiografi itu ialah segala karya yang dipublikasikan pada masa lampau mengenai sebuah peristiwa. Contohnya kalian pasti tahu kan atau setidaknya pernah mendengar tentang kepahlawanan dan kehebatan Pangeran Diponegoro. Semua kisah kisah itu bisa kita ketahui dari Babad Diponegoro dimana Babad itu ditulis oleh pangeran diponegoro sendiri.
Biar lebih paham dan biar nggak gagal paham juga, kita jelasin lebih rinci deh!. Jadi Historiografi ini terbagi tiga, tradisional, kolonial dan nasional.
Tradisional
Historiografi Tradisional pada intinya ialah suatu peristiwa sejarah ditulis oleh para bangsawan atau pujangga istana. Jadi orang-orang yang menulis sejarah ialah orang-orang yang hidup di sekitaran istana baik pangeran, pujangga keraton atau bahkan raja sendiri.
Ciri-ciri Historiografi Tradisional
Istanasentris, para pelaku sejarah hanya kalangan yang hidup disekitaran Istana seperti Raja, Pangeran, Patih, dll.
Bercampur dengan Mitos, banyak peristiwa sejarah bercampur dengan mitos dan legenda misalnya Raja Singasari dikatakan sebagai keturunan dewa Siwa.
Contoh-contohnya dapat bagi menjadi dua yakni masa Hindu-Buddha dan Islam. Masa Hindu Buddha seperti Negarakertagama, Pararaton dan berbagai naskah yang diawali oleh nama Kakawin, Kidung, dan Carita.
Sementara masa Islam karya-karyanya biasanya memiliki nama awalan Babad, Sajarah, Hikayat seperti Babad Cirebon, Sajarah Banten dan Hikayat Hang Tuah.
Kolonial
Historiografi Kolonial sesuai namanya tentu saja mengartikan peranan yang sangat menonjol dari Bangsa Belanda dalam peristiwa sejarah. Dalam sudut pandang ini Bangsa Belanda adalah di pihak pemenang dan yang benar contohnya Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar merupakan pahlawan bagi bangsa Indonesia. Dalam hal ini mereka tak lebih dari pemberontak dan pengacau.
Ciri-Ciri Historiografi Kolonial
Europasentris, Sejarah ditulis oleh orang Belanda sehingga segala peristiwa diambil dari sudut pandang orang Belanda.
Diskriminatif, orang Indonesia dianggap hanya figuran Belanda.
Untuk mengindentifikasi karya-karyanya sangatlah mudah. Kebanyakan karya-karya ini ditulis dalam bahasa Portugis, Belanda dan Inggris seperti Summa Oriental karya Tome Pires, The History of Javakarya Thomas Stamford Raffles danGeschidenis van Indonesiakarya H.J De Graaf
Historiografi Nasional
Historiografi Nasional lahir setelah Indonesia merdeka bertujuan untuk merintis penulisan sejarah yang menunjukan jatidiri bangsa serta memberikan legistimasi bagi keberadaan bangsa Indonesia yang selama terjajah.Seminar Nasional Sejarah Pertama di Yogyakarta pada tahun 1955 merupakan usaha pertama menuju kebangkitan penulisan sejarah nasional.
Contohnya ialah Buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh beberapa sejarawan besar seperti Sartono Kartodirjo.
TEKA TEKI MATERI
Jawab pertanyaan di bawah ini dan cari jawabanya pada kotak huruf diatas. Setelah kalian menemukan jawabanya coba kalian garis bawahi dan tulis jawabannya di buku kalian!
segala karya yang dipublikasikan pada masa lampau mengenai sebuah peristiwa adalah ….
Istanasentris adalah salah satu ciri dari Historiografi …..
Selalu menekankan peran orang Eropa dan Belanda salah satu ciri Historiografi …..
Buku Sejarah Nasional Indonesia merupakan salah satu ciri dari Historiografi …
Salah contoh Historiografi Tradisional ialah Babad ….
“Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC.”
Biasanya setiap tahun Majalah Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial yang berbasis di Amerika Serikat merilis daftar orang terkaya dunia. Nama-nama pengusaha kondang dunia seperti Taipan Teknologi dunia Bill Gates, Centi-Miliarder Jeff Bezos, dan CEO Zoom Eric Yuan selalu muncul mengisi daftar teratas orang terkaya dunia. Juga upamanya di Indonesia Forbes sering merilis daftar orang paling kaya Indonesia. Untuk tahun 2020 ini Budi Hartono muncul sebagai orang paling kaya di Indonesia. Perhitungan harta kekayaan seseorang sendiri didasarkan pada aset, harta turun temurun dan juga saham si-miliuner pun ikut dihitung.
Singkatnya orang kaya baik di dunia maupun Indonesia ialah mereka yang memiliki begitu banyak uang baik dalam bentuk aset maupun saham. Dalam konteks Sejarah Indonesia, golongan orang kaya sendiri sebenarnya sudah muncul sejak beberapa abad lalu. Orang Kaya di abad yang lalu merujuk pada elite kerajaan pesisiran. Kerajaan Pesisiran sendiri ialah jenis kerajaan yang terletak di tepian pantai dan hidup dari perdagangan, bea-cukai dan ekspor. Malaka, Aceh, Banten, Demak dan Makassar masuk dalam daftar kerajaan jenis itu.
Menurut sejarawan Ong Hok Ham (2018:48) dalam hubungan dengan rakyat, Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC. Dalam tulisan singkat ini, kita akan mengupas sedikit mengenai para Orang Kaya di beberapa kerajaan pesisir Nusantara.
Orang Kaya di Kesultanan Aceh
Para Orang Kaya di Kesultanan Aceh memiliki strata sosial tersendiri yang khas juga unik. Mereka tampak sangat menguasai kegiatan ekonomi dan memiliki hubungan dagang yang cukup erat dengan para pedagang China dan India. Jika ada permasalahan atau persengketaan diantara masyarakat mereka akan bersidang dan memutuskan penyelesaian masalah itu. Untuk membedakan diri dari rakyat biasa, para Orang Kaya biasa untuk membiarkan kuku ibu jari dan kelingking tumbuh, tanda mereka tak boleh kerja dengan tangan (Denys Lombard, 2014:90).
Terkadang golongan Orang Kaya ini berkuasa amat dominan jika yang berkuasa ialah seorang sultan yang lemah. Sultan ‘Ala ad-Din Ri’ayat Syah yang sudah tua naik tahta berkat bantuan para Orang Kaya. Mereka pikir Sultan yang sudah tua itu akan lemah dan tunduk pada mereka. Tapi tanpa diduga justru Sultan tua itu malah membantai dan mengganti mereka dengan kelompok baru. Kelompok baru yang tentu saja pandai menyenangkan hati Sultan dan mengembalikan ketertiban.
Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada puncak kegemilangan pun coba mengebiri peran para Orang Kaya. Dia mengangkat para Orang Kaya baru dan melarang mereka memiliki Tentara pribadi dengan senjata tradisional dan modern (Ong Hok Ham, 2018:48). Tapi setelah Sultan Iskandar Muda wafat, kebanyakan para penggantinya adalah para Sultan yang lemah. Tak heran, para Orang Kaya akan terus berkuasa hingga pendudukan Belanda di abad 19.
Berlainan dengan di Aceh, para Orang Kaya di Banten lebih dikenal sebagai Para Ponggawa. Peran para ponggawa ini pun amat mirip dengan para Orang Kaya di Aceh. Para Ponggawa di Banten dianggap bukan bangsawan biasanya bergelar tumenggung, Kiai Patih. Mereka mengawasi semua urusan pemerintahan termasuk pejabat-pejabat yang paling tinggi dalam bidang ekonomi, seperti syahbandar, kepala pabean, kepala timbangan umum, yang biasanya orang asing. Singkatnya semua orang yang memperkaya diri dengan menarik pajak atas kegiatan perdagangan (Claude Guillot, 2008:109).
Seorang ponggawa (Orang Kaya) yang bertindak sebagai Waliraja di Banten bersama seorang Qadhi sedang mengadili sebuah perkara. Sumber : Claude Guillot. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta:KPG. 2008
Tahun 1596, Maulana Muhammad, Sultan Banten wafat dalam pengepungan Palembang, sedangkan pewaris tahta-nya masih balita. Salah seorang ponggawa yang memegang jabatan Perdana Menteri dengan dibantu Qadi bertidak sebagai Waliraja. Tahun 1602 Waliraja wafat tapi penggantinya seorang yang lemah. Maka terjadi perselisihan diantara para ponggawa dan bangsawan. Para ponggawa menginginkan waliraja yang tunduk pada mereka. Sementara para bangsawan sudah tidak ingin lagi dipimpin oleh para ponggawa yang bukan bangsawan. Perang berakhir dengan terasingkannya enam hingga delapan ribu ponggawa ke Jakarta.
Dengan menghilangnya para ponggawa otomatis ekonomi Banten menjadi terpusat pada raja tidak lagi bertumpu pada para ponggawa. Claude Guilllot menganggap ini sebagai politik bunuh diri. Banten tidak lagi menjadi pelabuhan yang bebas bagi para pedagang dan berubah dalam beberapa dasawarsa menjadi kerajaan pertanian.
Para Orang Kaya di Banda
Orang-orang Kaya di Kepulauan Maluku memiliki peran dominan dalam perdagangan rempah-rempah. Dalam buku Bescryving Oud en Nieuw Oost-Indien, Francois Valentijn sering menyinggung peran Orang Kaya dalam hubungan perdagangan rempah-rempah diantara orang setempat dan VOC. Tapi pada permulaan kedatangan orang Belanda di Maluku, para Orang Kaya ini sempat dihabisi oleh VOC. Para Orang Kaya Banda lah yang mengalami nasib nahas itu. (Hendri F. Isnaeni, “Genosida VOC”, historia.id, 2010).
Pada tahun 1921, Jan Pieterszoon Coen mengirim armada besar ke Pulau Banda dan membantai habis hampir seluruh Orang Kaya Banda beserta penduduknya. Kekejaman JP Coen ini disinyalir akibat dari dendam yang ia miliki pada orang Banda. Konon, sepuluh tahun sebelumnya Coen pernah mengunjungi Banda beserta rombongannya. Tapi orang-orang Banda malah membantai rombongannya, beruntungnya Coen bisa melarikan diri dengan selamat.
“Buku nikah tampak baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan”
Sejarah buku nikah merupakan salah satu bagian yang cukup menarik dalam sejarah pernikahan, sekaligus salah satu yang paling misterius di Nusantara. Di satu sisi, buku nikah memainkan peranan dalam pencatatan sipil serta menggambarkan administrasi kependudukan yang teratur. Akan tetapi, catatan-catatan atau bukti-bukti terkait pernikahan yang dicatat nampaknya baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan. Tentu model pernikahan yang melibatkan adat dan agama tidak mewajibkan pencatatan sipil, sehingga mustahil nampaknya kita dapat melihat buku nikah di dalam sejarah nusantara sebelum peraturan kerajaan Hindia Belanda tentang akta nikah di awal abad ke-20 diterbitkan. Dengan penjelasan di atas, deskripsi sekilas terkait sejarah buku nikah akan dijelaskan pada tulisan ini, meskipun dengan bukti-bukti yang tidak banyak.
Masa VOC
Sebelum masa penjajahan, nampaknya pernikahan dilaksanakan dengan tradisi masyarakat setempat. Ketika kesultanan Islam yang berdiri secara dominan di Nusantara, pernikahan kemungkinan besar diselenggarakan dengan mengacu kepada aturan yang ada di dalam tradisi Islam. Akan tetapi, penguasaan VOC pada abad ke-17 terhadap beberapa wilayah Nusantara memiliki pengaruh terhadap peraturan pernikahan meski nampaknya tidak signifikan. Peraturan pernikahan mungkin berubah dalam beberapa level, meskipun sepertinya tidak ada pengaruh yang berarti karena pengaruh Islam tetap kuat. Tepatnya pada tahun 1760, salah satu jurnal mengklaim bahwa VOC menerbitkan regulasi yang dikenal dengan nama Compendium Freijer untuk mengatur pernikahan bagi orang-orang Islam di bawah pemerintahan VOC.(Hermawati, 2015) Kabarnya, peraturan ini disusun oleh D.W. Freijer bersama beberapa tokoh penghulu.(Mubarok, 2017)
Masa Hindia Belanda
Selanjutnya, pada masa Hindia Belanda, beberapa peraturan terkait pernikahan disusun. Pada awalnya, peraturan yang melibatkan akta nikah tidak ditemukan setidaknya hingga abad ke-20. Sebelumnya, pernikahan yang terjadi di Hindia Belanda diserahkan sepenuhnya kepada hukum setempat yang didominasi oleh hukum Islam.(Wahyuni, 2014) Lalu di awal abad ke-20, ditemukan sebuah bukti adanya peraturan pernikahan yang melibatkan pencatatan sipil. Hal ini dirangkum di dalam De Nederlandsch Indie Wetboeken yang diterbitkan di tahun 1910. Berikut adalah kutipan dari pasal-pasal pernikahan yang dimuat dalam peraturan pernikahan kerajaan Hindia Belanda;
Pasal 83 tentang pernikahan: De buiten ‘s lands hetzij tusschen ingezetenen van Nederlandsch-Indië onderling, hetzij tusschen deze en anderen aangegane huwelijken zijn van waarde, indien dezelve voltrokken zijn naar den vorm, welke gebruikelijk is in het land, waar de voltrekking heeft plaats gehad, en de ecthgenooten die ingezetenen van Nederlandsch-Indië zijn, met hebben gehandeld tegen de bepalingen in de eerste afdeelmg van dezen titel vermeld.(Engelbrecht, 1910)
Pasal ini menjelaskan bahwa pernikahan dilakukan secara gebruikelijk atau hukum adat yang berlaku di daerah tersebut. Selain pasal ini, berikut adalah pasal yang mendorong pernikahan dicatatat di lembaga secara legal;
Pasal 100 tentang pernikahan: Het bestaan van een huwelijk kan niet anders worden bewezen dan door de acte van deszelfs voltrekking, in de registers van den burgerlijken stand ingeschreven behoudens de gevallen bij de volgende artikelen voorzien.(Engelbrecht, 1910)
Pasal di atas menjelaskan bahwa pernikahan yang sah secara legal haruslah didaftarkan agar memiliki status hukum. Meskipun masih melibatkan hukum adat pada pasal 83, pasal 100 telah mendorong pencatatan pernikahan.
Beberapa Permasalahan
Pengaturan administrasi nikah nampaknya diakibatkan oleh beberapa masalah yang dihadapi masyarakat pada waktu tersebut. Beberapa diantaranya adalah pencegahan pernikahan dini, mencegah kelahiran yang tidak legal, dan melindungi wanita dari proes perceraian yang tidak adil.(Bedner, 2010) Bahkan, di masyarakat Jawa ada sebuah kasus dimana sang suami meninggalkan istrinya secara sepihak.(Amini, 2016) Dengan lahirnya peraturan pernikahan sekaligus buku atau akta nikah, diharapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pernikahan seperti yang telah disebutkan dapat diminimalisir. Peraturan pencatatan nikah berkembang lebih jauh akibat konferensi wanita yang diadakan oleh Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) pada tahun 1928. Karena konferensi ini nampaknya pemerintah menerbitkan Ordonantie op de Ingeschreven Huwelijken pada tahun 1937 sebagai respon dari kongres tersebut.(Sumiwi, 2012) Terbitnya kebijakan ini menjadi akhir dari perkembangan peraturan pernikahan dan buku nikah di Nusantara sebelum merdeka. Perkembangan buku nikah menjadi lebih pesat pada masa setelah Hindia Belanda.
“Bandung pada abad ke 19 bukanlah sebuah kota besar apalagi kota metropolitan. Bandung mirip sebuah sebuah desa kecil yang besar di pegunungan”
Kurang lebih lima tahun lalu, entah semester 4 atau 5, saya lupa-lupa ingat. Tapi yang jelas saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung. Bang Anton, begitulah saya sering sebut namanya, pemilik perpustakaan Batu Api di Jatinangor tempat saya sering nongkrong sekaligus baca dan pinjam buku memberi saya sebuah buku. Buku itu judulnya “Rambles in Java and The Straits in 1852”. Katanya ini buku keren tentang petualangan seorang Inggris di Jawa abad 19 juga ada petualangan dia di Bandung. Kebetulan saat itu saya lagi seneng-senengnya tuh baca baca segala hal tentang Bandung zaman kolonial. Tanpa pikir panjang saya pun meminjamnya lalu melahap habis isi buku.
Tahun 2020 pun telah tiba dan tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saya teringat kembali buku itu dan rasanya ingin menulis sedikit catatan kecil terkait isi buku itu. Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar tentang keseluruhan buku itu. Cukup cerita cerita tentang Bandung saja yang akan saya ceritakan disini. Kebetulan Bandung baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke . Itung-itung ini hadiah saya bagi kota dimana saya telah menghabiskan sebagain besar hidup saya.
Sekilas tentang Petualangan Charles Walter Kinloch
Buku “Rambles in Java and Straits in 1852” awalnya merupakan sebuah diary milik Charles Walter Kinloch atau biasa disapa dengan Bengal Civilian. Arti dari judul buku itu sendiri dalam bahasa Indonesia kurang lebih “Pelancongan di Jawa dan Negeri-negeri antar Selat (Nama koloni Inggris yang meliputi Malaka, Penang dan Singapura). Dan memang diary ini banyak mengisahkan petualangan dari penulisnya di negeri-negeri itu pada tahun 1852. Diary ini sendiri mulai diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1853 dengan judul “De Zieke Reiziger”. Lalu pada tahun 1989 Oxford University Press menerbitkan ulang buku ini dengan judul baru “Rambles in Java and Straits in 1852″.
Cerita buku ini bermula dari kesehatan Charles Walter Kinloch yang kurang baik. Kesehatannya itu akan cepat pulih apabila ia bertraveling. Maka di tahun 1852, Kinloch berpetualang mengunjungi Penang, Singapura dan Jawa. Tapi alih-alih memulihkan kesehatannya dia malah menemui banyak hal yang di luar dugaanya. Mulai dari cuaca Singapura yang dirasanya terlalu panas, masakan-masakan Belanda yang tidak cocok dengan lidahnya, akomodasi hotel yang di bawah standar, hingga perjalanan menggunakan pedati (gerobak yang ditarik kerbau) yang tidak nyaman.
Jalan-jalan ke Bandung
Petualangan Kinloch di Bandung tahun 1852 hanyalah rangkaian kecil dari kisah petualangannya mengunjungi Jawa. Hal ini dia lakukan setelah kunjungan ke Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor). Anda janganlah membayangkan perjalanan Batavia menuju Bandung via Buitenzorg sudah semudah dan senyamaan saat ini. Zaman itu bus, kereta api apalagi pesawat terbang belum lah dikenal. Jalan satu-satunya melalui Jalan Raya Pos Daendels dengan menggunakan kereta kuda. Kereta kuda ini kemudian diganti dengan gerobak yang ditarik sapi tatkala melalui Puncak Megamendung yang memiliki belasan tanjakan dan turunan curam.
Bandung yang lebih mirip
Sesudah melewati Buitenzorg lalu memasuki Cianjur. Cianjur kala itu masih Ibukota Karesidenan Priangan. Lalu tibalah Kinloch di Bandung, Bandung di mata Kinloch saat itu walaupun tak seluas Cianjur merupakan sebuah tempat yang cukup luas dan padat penduduk. Pedesaanya tampak sedang berkembang pesat dengan jalan-jalan yang saling bersilangan dengan rumah-rumah penduduk yang seragam. Bandung juga memiliki Jalan-jalan luas dengan beragam toko yang menjual barang berbagai jenis.
Kinloch juga aneh sekaligus tertarik dengan topi jawa yang dijual dalam beragam warna dengan ukuran dengan diameter satu setengah kaki hingga tiga kaki. Topi-topi itu sendiri terbuat dari bambu di bagian luarnya dengan dilapisi pernis tebal. Jadinya dengan topi itu orang Jawa sama sekali tidak memerlukan payung saat hujan.
Kain-kain jawa juga banyak menarik perhatian Kinloch. Kain-kain itu biasanya terdiri dari kain celup chintze dan warna kain yang paling umum ialah biru dan scarlet. Tapi bagi dia, tidak ada yang lebih menarik perhatiannya daripada makanan-makanan Jawa. Disini sebagai seorang traveller dia bisa memakan daging dan kari kabob, jagung bakar, risolles dari beras yang berwarna dengan buah-buahan, sayur-sayuran serta manisan.
Jalan Raya Pos menuju Bandung di sekitaran Puncak Cianjur abad ke 19. Sumber: Leiden University Library Digital Collections
Caping atau Topi Jawa yang terbuat dari Bambu dalam narasi Kinloch selama pelancongannya di Bandung. Sumber : Domain Umum.
Seorang kusir dengan topi capingnya atau yang Kinloch sebut sebagai topi khas Jawa yang terbuat dari Bambu. Sumber: Charles Walter Kinloch. Rambles in Java and The Straits in 1852. Singapore:Oxford University Press. 1852
Melancong ke Curug Dago
Selama di Bandung Kinloch pun tak melewatkan untuk sekedar melancong ke Curug Dago. Tapi pelancongannya kesana tak berjalan mulus. Dia harus melewati jalanan yang demikian rusak ditambah cuaca yang berkabut tebal sehingga menyulitkannya untuk melihat benda apapun dalam jarak seratus meter. Namun setelah tanjakan pendek sekitar seratus kaki, dia begitu takjub dengan indahnya pemandangan yang ada dengan matahari dan langit yang cerah.
Pemandangan Curug Dago di Abad-19. Sumber: Leiden University Library Digital Collections
Lalu jalanan menurun sekitar setengah mil dan tibalah Kinloch pada curug dago (Bandoong Waterfall). Air terjun yang indah dengan gemuruh suaranya yang gemericik sungguh menyejukkan bagi. Tak heran saking kagumya Kinloch hingga berucap ” ….to be well worthy of a visit..“. Dari cerita nya ini, Bandung tahun 1852 nampak masih sebuah kota yang indah tapi masih belum banyak berkembang mirip sebuah pedesaan.
Para Tuan Perkebunan Kopi dan Teh
Selain melancong ke Curug Dago, Kinloch juga banyak bertemu para pemilik perkebunan Teh dan Kopi di Bandung masa itu. Hal ini juga memberikan kita sebuah informasi yang berharga tentang Bandung tahun 1852 yang seakan surga bagi para pekebun. Memang Bandung di masa itu berkat tanahnya yang subur tanaman-tanaman yang laku di pasaran Eropa semacam teh, kopi dan kina tumbuh subur di Bandung.
Salah satu pemilik besar perkebunan teh di Bandung yang sempat Kinloch temui adalah Tuan L. Entah siapa yang dimaksud dengan Tuan L ini, Kinloch hanya menyebut namanya dengan inisial L. Tapi dia memberikan sedikit bocoran bahwa Tuan L ini bekas pegawai pemerintah dan sempat menjabat sebagai residen di salah satu distrik paling timur pulau Jawa. Setiap tahun keuntungan perkebunan terus bertambah.
Lalu Teh juga bukan satu-satunya komoditas yang menguntungkan bagi Belanda. Ada kopi yang tumbuh subur di Bandung, bahkan diyakini kopi disini adalah satu dari sekian banyak kopi terbaik di dunia. Kinloch juga mencatat bahwa penanaman kopi disini sangat berlainan dengan di tempat manapun di pulau Jawa. Jadi Kopi setelah ditanam dibiarkan begitu saja hingga dia tumbuh delapan kaki.
Masjid Agung Bandung tahun 1852 tampak masih rimbun dengan pepohonan serta bentuk arsitektur yang masih menyerupai masjid-masjid tradisional Jawa. (Atas) Gambaran pohon dan buah teh. Sebagaimana catatan Kinloch masa itu Bandung banyak dikekelingi perkebunan kopi dan teh (bawah).
Jalan Kaki ke Tangkuban Perahu
Rangkaian petualangan Kinloch ke Bandung berakhir di kawah Tangkuban Perahu. Ketika termometer di bawah 60 derajat dia memulai suatu perjalanan yang dia anggap sebagai sebuah jalan kaki yang melelahkan. Jalan kesana seluruhnya tanjakan tidak ada turunan satu pun. Tapi pada akhirnya tibalah dia disana, sekitaran kawah banyak pepohonan hangus dan gundul, juga tiada satu pun suara. semuanya hening.
Kawah berbetuk melingkar dengan keliling tiga mil dan dalamnya hingga beberapa ratus kaki. Disini dia melukiskan perasaanya antara takjub dengan keheningan yang ada. Kinloch mencatat “There is no single sign or of sound of life and the impressive stillness of the atmosphere is unbroken, save by the monotonous bubbling of the death-dealing volcano” Kinloch pun kemudian melanjutkan perjalanannya keesokan hari nya ke Sumedang dan berakhirlah petualangannya di Bandung.
Kawah Oepas, Kawah barat dari Tangkuban Perahu sebelum tahun 1860. Sumber: Leiden University Library Digital Collections
“Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan”
Dewasa ini, stigma negatif terhadap komunisme nampak semakin marak. Ketika komunis disebut, secara umum masyarakat teringat dengan tragedi dan pemberontakkan yang pernah terjadi di tahun 1965 karena melibatkan Partai Komunis Indonesia. Stigma ini menjadikan diskursus sejarah komunis Indonesia sebagai sisi gelap sejarah Indonesia yang tak layak untuk dipelajari. Ditambah lagi semangat mempelajari sejarah semakin meredup dari hari ke hari, membuat realitas masa lalu komunisme Indonesia semakin kabur. Hal ini wajar terjadi, karena anggapan negatif terhadap komunisme merupakan propaganda yang memang dilakukan pemerintah Orde Baru.[1] Padahal fakta sejarah mengatakan bahwa sebelum Indonesia merdeka, organisasi yang berlandaskan ideologi komunis bernama Indische Sosialische Democratische Vereeniging atau disingkat ISDV yang sering dianggap sebagai nenek moyangnya PKI juga memperjuangkan kemerdekaan. Sejarah ISDV merupakan sejarah pertentangan kelas antara masyarakat penuh impian kemerdekaan, kelompok feudal dan penjajah Belanda.
Perkumpulan Diskusi Kaum Kiri Belanda
Sebagai Nenek moyangnya PKI dan kaum komunis Indonesia, pada awalnya ISDV tidak bergerak di bidang politik dan tidak berhaluan komunis. Ia pada mulanya merupakan wadah diskusi untuk para anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau partai kiri Belanda yang tinggal dan bekerja di Hindia Belanda. ISDV mengedepankan diskusi terkait paham dan teori Marxis. Meski di awal kemunculannya ISDV tidak bergerak di bidang politik, tidak jarang aktivitas yang dilakukannya sering bersinggungan dengan kepentingan politik. Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan.[2]
Dalam usaha mendekati anggota untuk melakukan diskusi terkait Marxis, anggota ISDV melakukan juga menjalin hubungan serasi dengan Sarekat Islam (SI), khususnya cabang Semarang yang dipimpin oleh Semaoen.[3] Hal ini membuat tokoh Sarekat Islam ini bergabung dengan ISDV secara sukarela demi perjuangan melawan penjajah.
Seiring berjalannya waktu, berhasilnya Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 menjadi titik balik Marxisme di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda. Dengan semangat untuk membuat sebuah masyarakat yang bebas dari penjajahan, anggota ISDV semakin gencar melakukan agitasi dan propaganda untuk menghancurkan dominasi pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Hal ini membuat ISDV diawasi dan banyak tokohnya dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda akibat ketakutan luar biasa akan terjadinya revolusi akibat visi ISDV. Lalu pada tahun 1919 dengan berdirinya Commintern atau organisasi komunis dunia, ISDV pada akhirnya bergabung dengan mereka dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia di tahun selanjutnya.[4]
Kedatangan Snievliet
Meski hanya berdiri dan aktif selama tujuh tahun, ISDV telah merubah konstelasi politik antara pribumi dengan penjajah Belanda. Organisasi tersebut telah mendorong masyarakat pribumi untuk melawan penjajah dengan berbagai cara mulai dari agitasi hingga penerbitan harian. Hal tersebut memang tidak banyak dibahas, karena pengetahuan terkait ISDV didominasi oleh stigma negatif karena ia berideologi komunis. Dengan pertimbangan bahwa ISDV memiliki peran yang signifikan dalam perjuangan kemerdekaan yang bahkan tejadi beberapa dekade setelahnya, artikel ini akan membahas Selayang pandang sejarah ISDV secara singkat.
Berdirinya Indische Sosialische Demoratische Vereeniging tidak lepas dari peran besar seorang Henk Sneevliet. Ia datang ke tanah Hindia Belanda pada tahun 1913. Terjadi banyak kontroversi terkait dengan tujuan sebenarnya kedatangan Henk Sneevliet ke Hindia Belanda. Di satu sisi ada yang mengatakan bahwa ia memang bertujuan untuk menyebarkan paham Marxisme di Hindia Belanda karena kesuksesannya mendirikan Partai Komunis Belanda.[5] Akan tetapi di sisi lain beberapa sumber mengatakan bahwa ia memang memulai karir di Hindia Belanda sebagai mistikus Katolik dan di kemudian hari mengubah haluannya menjadi sosialis demokrat yang mengharapkan revolusi di kalangan buruh.[6] Terlepas dari kontroversi tersebut, sumber-sumber tersebut mengklaim bahwa Sneevliet berhasil mendirikan Indische Sosialische Democratische Vereeniging pada tahun 1914. Pada awalnya ISDV beranggotakan orang-orang Belanda dan berfokus kepada diskusi-diskusi terkait dengan sosialisme di Semarang pada awalnya, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik sebagai salah satu partai.
Sneevliet sedang berbincang dengan Lenin selama pertemuan Komintern di Moskow. Sumber : https://commons.wikimedia.org/
Membangun Basis Ideologi pada Masyarakat Pribumi
ISDV sebagai partai berideologi kiri sekaligus Nenek Moyangnya PKI ini pada awalnya banyak didominasi oleh orang Belanda. Mereka menyadari bahwa untuk berkembang lebih besar. Mereka harus memperoleh basis di kalangan rakyat Indonesia. Banyak hal yang telah mereka lakukan untuk mewujudkannya, akan tetapi satu-satunya kesuksesan besar mereka adalah dengan menaruh perhatian lebih kepada Sarekat Islam, dengan ribuan anggotanya. Pada 1915, ia berhasil merekerut Semaoen sebagai salah satu anggota ISDV yang sekaligus merangkan sebagai komisaris Sarekat Islam cabang Semarang, sehingga pada tahun 1917 bahwa anggota ISDV telah mencapai 2.000 orang.[7] Dengan bergabungnya Semaoen, ISDV berhasil membumi di kalangan masyarakat pribumi sekaligus memecah Sarekat Islam menjadi dua; SI merah dan SI putih.
Adolf Baars salah pemimpin utama ISDV. Sumber : KITLV
Selain itu, bersamaan dengan keberhasilan revolusi Bolshevick di Rusia pada 1917, Sneevliet menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda mungkin saja dikudeta layaknya apa yang terjadi di Rusia jika rakyat Hindia Belanda terutama dari kalangan buruh menginginkannya. Akibat pernyataan ini, ia pada akhirnya harus dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun selanjutnya.[8] Dengan perginya Sneevliet dari Hindia Belanda, Semaoen sebagai salah satu tokoh berpengaruh di ISDV mengambil alih perannya sebagai ketua.
Lalu pada kongres besar pertamanya di tahun 1920, anggota ISDV dan Sarekat Islam yang merasa memiliki visi yang sama, meleburkan diri menjadi Partai Komunis Hindia dan menunjuk Semaoen sebagai ketua. [9] Hal ini menandai akhir kisah Indische Sosialische Democratische Vereeniging yang dilanjutkan oleh Partai Komunis Hindia semenjak bulan Mei 1920 yang kelak dikenal sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI).
Note
[1] Wahyu Wirayawan, Aksi Partai Komunis 1925-1965 (Yogyakarta), hal 1.
[2] Guskannur, Pengaruh Sosialisme Terhadap Perjuangan Bangsa Indonesia Masa Pemerintahan Kolonial Belanda (1913-1927) (Lampung), hal 2.
[3] Yudhi Rachman, ‘Gerakan Anti Kolonialisme Menuju Indonesia Merdeka Dalam Perspektif Smelserian’, Simulacra, 1.2 (2018), hal 195.
[5] Yunani Hasan, ‘Indische Sosialische Democratische Vereeniging (ISDV) Merupakan Cikal Bakal Partai Komunis Indonesia (PKI)’, Jurnal Pendidikan Dan Kajian Sejarah, 3.5 (2014), hal 7.
[6] M. C. Ricklefs, ‘A History of Modern Indonesia since c. 1300’, A History of Modern Indonesia since c. 1300, 2015, hal 370.
Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas, – M. Hatta –
Perpustakaan sering dianggap guru dari para guru, karena disitu terdapat ragam hasil pemikiran atau banyak karya di berbagai disiplin ilmu yang telah terdokumentasikan. Salah satunya adalah hasil pemikiran atau karya dari dunia islam. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford Dunia Islam Modern, perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam pernah mengalami masa kejayaannya. Perpustakaan Islam ini muncul di wilayah Baghdad, Kairo dan Cordova dimana buku-buku banyak tersebar.
Perpustakaan umum dalam dunia Islam dikenal dengan berbagai nama seperti Bayt al-Hikmah, Khizanat al-Hikmah, Dar al-Hikmah, Dar Ilmi, Dar al-Kutub, Khizanat al-Kutub dan Bayt al-Kutub. Ada perpustakaan madrasah, perpustakaan umum, perpustakaan swasta, perpustakaan istana atau kerajaan, dan perpustakaan yang terhubung dengan rumah sakit.
Perpustakaan di Damaskus
Jejak perpustakaan di Dunia Islam pertama didirikan oleh khalifah Umayyah yakni Mu’awiyah bin Abi Sufyan (602-680) di Damaskus. Buku-buku pada masa ini sebagian besar berputar di sekitar mesjid. Pada waktu itu tujuan utamanya adalah menyalin buku-buku dari bahasa Yunani, Pahlavi, Siria, dan Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Selain itu, di mesjid juga dipergunakan tempat pengadilan serta ceramah, debat, dan diskusi tentang berbagai masalah agama, ilmiah, dan filosofis. Secara tradisi tradisional, Muslim mewariskan koleksi buku mereka ke mesjid.
Baru sejak abad ke-9, kebanyakan perpustakaan menyimpan buku-buku ilmu eksaktra. Beberapa dari perpustakaan ini adalah milik pribadi, sementara yang lainnya didirikan oleh Khalifah, Amir (Gubernur), Sultan, dan Wazir (mentri). Misalnnya pada masa Abbasiyyah di Mosul terdapat perpustakaan besar bernama Khizanat al-Kutub. Demikian pula seorang pedagang kaya raya yang bernama Ali bin Muhammad al-Bazzaz (942) dikatakan memiliki Bayt al-‘ilmi (perpustakaan/rumah ilmu). Baru ketika abad ke-10 perpustakaan telah mengalami perkembangan. Ketika banyak sekolah telah didirikan di Baghdad, Fez, Cordova, Persia, Kairo, Basrah, Isfahan, Nishapur, Mughal dan lainnya..
Bayt al-Hikmahdi Baghdad
Bayt al-Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (memerintah 786-809). Perpustakaan ini bisa dikatakan sebagai salah satu perpustakaan terbesar di dunia Islam. Perpustakaan ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun (memerintah 813-833) yang dikreditkan dengan lembaga formal. Al-Ma’mun juga berjasa membawa banyak ulama terkenal untuk berbagi informasi, ide, dan budaya di Bayt al-Hikmah. Selain para cendikiawan Muslim, cendikiawan Hindu, Yahudi dan Kristen diizinkan untuk belajar disini. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para cendikiawan di Bayt al-Hikmah telah memberikan banyak konstribusi orisinal yang cukup luar biasa dalam berbagai bidang.
Ilustrasi abad ke-13 melukiskan kegiatan belajar mengajar antara guru dan muridnya dalam sebuah perpustakaan publik di Baghdad. Sumber: Bibliotheque Nationale de France
Al-Khawarizmi salah satu ahli Matematika paling berpengaruh di Baitul Hikmah, Baghdad dalam perangko terbitan Uni Soviet. Sumber: Commons.wikimedia.org
Bayt al-Hikmah terdiri dari perpustakaan, biro penerjemahan, observasium, ruang baca, tempat tinggal ilmuwan dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang bekerja disana yaitu Elan al-Sha’oobi, dibawah pengawasannya, naskah-naskah kuno disalin. Abu Sahl dan Abu al-Fazal bin Naubakht diutus dengan tugas memperluas perpustakaan. Seorang wazir (pada masa Harun al-Rasyid)Yahya bin Khalid Barmaki mengundang para ilmuwan Hindu dan menerjemahkan buku-buku Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Karena Yahya Khalid Barnaki adalah orang persia, maka dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.
Pusat Pengumpulan Manuskrip Kuno
Demi mendapatkan banyak buku, Khalifah Harun al-Rasyid mengirim utusan ke berbagai negara untuk mendapatkan manuskrip langka. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dalam beragam bahasa meliputi bahasa Sansakerta, Zend-Avista, Persia, Syiria, Koptik. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid menerima buku dari petualangannya di Roma dan Amudiyya, dia megintruksikan Yohanna ma-Sawiyya untuk menerjemahkan karya Yunani ini ke dalam bahasa Arab.
Kemudian al-Ma’mun membeli manuskrip-manuskrip langka untuk perpustakaan seperti puisi dari masa pra islam serta dokumen pemerintah, surat dan perjanjian negara misalnya perjanjian pembayaran pinjaman yang ditandatangani oleh Abdul Muthalib bin Hasyim (578). Khalifah al-Ma’mun dikatakan pernah meminta penguasa Sisilia untuk mengirim semua buku yang dikurung di sebuah rumah terlantar di pulau tersebut. Setelah Khalifah al-Ma’mun menerima buku-buku tersebut, kemudian dia memberikannya kepada direktur perpustakaan saat itu yakni Sahal bin Harun. Selain itu, ketika Khalifah al-Ma’mun menang perang melawan Bizantium, dia menetapkan bahwa naskah Yunani tertentu akan dikirim ke Baghdad. Untuk tujuan tersebut, seorang ahli matematika dan penerjemah al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (833) dipilih untuk membawa naskah-naskah tersebut ke Baghdad. Untuk lebih jelasnya lihat Ibnu Nadiim (990) dalam kitab Fihrist-nya dan Haji Khalifa (1657) dalam kitabnya Kasyfu al-Dzunun..
Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad mengenai alat cuci tangan berbentuk perempuan memegang kendi. Sumber : Asia.si.eduManuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad. Sumber : Asia.si.edu
Perpustakaan Keluarga Barmaki
Selain Bayt al-Hikmah, di Baghdad terdapat juga perpustakaan-perpustakaan pribadi seperti perpustakaan yang didirikan oleh wazir Harun al-Rasyid yang bernama Yahya bin Khalid Barmaki (806), perpustakaan pribadi Yaqub bin Ishaq al-Kindi (866), perpustakaan pribadi Fatah bin Khaqan (861) sahabat dari khalifah Mutawakkil (822-861), perpustakaan pribadi Ishaq Mosuli (850) seorang master hadis serta tata bahasa dan perpustakaan pribadi lainnya
Al-Qarawiyyan di Fez
Al-Qawariyyan juga merupakan sebuah perpustakaan penting di dunia Islam. Perpustakaan ini didirikan pada 859 di Fez, Maroko oleh Fatimah al-Fihriyah, putri dari seorang imigran kara dari Tunisia modern. Fatimah al-Fihriyah seorang wanita Muslim yang berpendidikan tinggi dan taat, dia memutuskan untuk mendedikasikan warisannya yang kaya untuk kemajuan pendidikan agama dan sains. Dia mendirikan pusat pendidikan dan perpustakaan. Dia banyak menyimpan manuskrip kuno dalam bidang teologi, hukum, astronomi, dan tata bahasa yang berasal dari abad ke-7. (lihat dalam Hugh Kennedy when Baghdad Ruled the Muslim World).
Di perpustakaan ini, yang paling menonjol yaitu terdapat kitab Muqaddimah karangan Ibnu Kholdun. Sebuah al-Qur’an abad ke-9 yang ditulis dalam kaligrafi kufi, dan karya dari ahli hukum dan filsuf Spanyol yaitu Ibn Rusyd. Selain itu, dikatakan bahwa seorang penyair dan filsuf Ibn al-Arabi (1165-1240) pernah belajar disana pada abad ke-12. Begitu juga sejarawan dan ekonom muslim Ibn Khaldun pernah hadir pada abad ke-14. Sedangkan pada abad pertengahan, al-Qarawiyyan memainkan peran utama dalam transfer ilmu pengetahuan antar dunia muslim.
Univeritas Qawariyyan di Fez Maroko. Salah satu dari Universitas tertua di dunia. Sumber: Commons.wikimedia.org
Perpustakaan Cordova di Andalusia
Setelah berdirinya kekuasaan Islam di Andalus, Cordova menjadi permata kekhalifahan. Disana terdapat 380 mesjid, 800 madrasah dan banyak perpustakaan pribadi dan 70 perpustakaan umum. Pada masa Umayyah Spanyol, Cordova menjadi pusat pembelajaran dan kehidupan intelektual. Orang-orang Cordova juga mengumpulkan buku untuk rumah mereka. Mereka yang memiliki perpustakaan pribadi dianggap sebagai tokoh penting dalam masyarakat Cordovan. Maka tak heran bisa dikatakan bahwa Cordova adalah rumah besar bagi perpustakaan di dunia Islam. Menurut sejarawan al-Maqqari berkata bahwa orang Andalus sangat ahli dalam memiliki perpustakaan. Ada begitu banyak orang kaya yang buta huruf, akan tetapi bangga memiliki perpustakaan di rumah mereka.
Buku disimpan di lemari kayu cendana dengan daftar yang menunjukan buku disetiap kabinet. Kulit digunakan untuk penjilidan buku, beberapa buku memiliki tulisan perak atau emas. Adapun Mesjid Cordova merupakan salah satu bangunan yang paling terkenal dan merupakan universitas terbesar di eropa. Disana terdapat Dar al-Kitabah, yang didalamnya ada sekumpulan juru tulis yang terlibat dalam penyalinan buku dan jumlah penjilid buku yang sama.
Salah satunya adalah Lubna. Dia adalah direktur perpustakaan Cordova dan dia juga bertanggung jawab untuk memproduksi, menulis dan menerjemahkan volume baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III (961) dan putranya al-Hakam (976).
Pengajaran filsafat Aristoteles di Cordoba Sumber : Domain umum
Perpustakaan Pribadi Al-Hakam
Patung Al-Hakam II di Cordoba. Domain umum
Al-Hakam memiliki perpustakaan, dengan memiliki 400.000 volume, katalognya ada di 44 register dengan masing-masing 20 lembar yang dikelola oleh Kasim Bakiya. Kemudian menurut kronik Arab, pada masa al-Hakam II di beberapa daerah di Cordova terdapat lebih dari 170 wanita yang menyalin buku dan mereka juga memberikan gagasan tentang budaya.
Perpustakaan khalifah al-Hakam II adalah perpustakaan paling terkenal. Dikatakan menurut Richard Erdose “Andalusia diatas segalanya, terkenal sebagai tanah para sarjana, perpustakaan, pecinta dan kolektor buku. Di Cordova buku-buku lebih dicari daripada selir atau permata cantik. Kejayaan kota adalah perpustakaan besar yang didirikan oleh al-Hakam II. Dengan berisi empat ratus ribu jilid, pada halaman pembuka setiap buku tertulis nama, tanggal, tempat lahir dan nenek moyang pengarangnya, beserta judul karyanya, empat puluh delapan jilid katalog terus-menerus diubah, didadftarkan dan dideskripsikan semua judul dan berisi petunjuk tentang di mana karya tertentu dapat ditemukan”.
Selain itu, perpustakaan islam di Andalus mampu membawa kebangkitan pemikiran dan sains di Eropa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Bokenkotter dalam A Concise History of the Catholic Chruch bahwa selama periode kira-kira seratus tahun (1150-1250) semua tulisan Aristoteles diterjemahkan dan diperkenalkan ke Barat, disertai dengan sejumlah besar koomentar Arab. Komentar-komentar filsuf Arab seperti Ibnu Sina dan Averoes yang menekankan karakter pemikiran filsuf yang tidak religius dan tidak spritual. Hal ini memicu krisis para pemimpin intelektual barat. Hal itu merupakan awal periode aktivitas intelektual yang tak tertandingi yang mencapai klimaksnya pada abad ke-13 terutama di Paris dan Oxford.
Shiraz di Persia
Bangsa Persia juga turut berperan besar dalam berlimpahnya perpustakaan di Dunia Islam. Adud al-Daula meruapakan salah satu tokoh yang berperan penting. Adud al-Daula (949-982) adalah seorang amir dari dinasti Buyid. Di Shiraz, Adud al-Daula mendirikan perpustakaan yang megah dengan buku-buku yang ditulis dari masa permulaan islam hingga masanya, perpustakaan ini terletak dalam istana kerajaan. Terdapat banyak sekali rak buku tinggi, kayunya dicat dengan warna emas dan juga terdapat ruang terpisah untuk setiap cabang ilmu. Perpustakaan ini diurus oleh bendahara dan direktur, hanya para sarjana terkemuka yang memiliki akses masuk ke perpustakaan tersebut. Direkturnya adalah Ibn Miskawaih (932-1030) yang merupakan filsuf dan sejarawan dari Rey Iran. Dia bekerja sebagai sekertaris dan pustakawan sejumlah wazir termasuk Adud al-Daula.
Bahkan ada salah satu sekertaris dari Adud al-Daula yaitu Abu Qasim Ismail yang memiliki perpustakaan yang luar biasa di Shiraz. Dia tidak hanya tertarik mengooleksi buku, tapi dia juga ditemani oleh penulis, penyair dan debat. Menurut Stuart Murray dalam The Libraries mengatakan bahwa “perpustakaan Islam dulu kaya akan keragaman, memungkinkan para sarjana dari negeri lain untuk berbagi fasilitas. Perpustakaan-perpustakaan ini terkenal akan daya tarik dan kenyamanannya, banyak yang dihiasi dengan kubah islam klasik, beberapa dikelilingi oleh jalan setapak dan taman dengan kolam. Dianatar perpustakaan paling legendaris adalah perpustakaan kota Shiraz di Persia, dimana terdapat lebih dari 300 kamar yang dilengkapi dengan karpet mewah. Perpustakaannya memiliki katalog yang lengkap untuk membantu menemukan teks yang disimpan di ruang penyimpanan dan diatur sesuai dengan setiap cabang pembelajaran”.
Perpustakaan di Kairo
Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz Billah (955-996) selain khalifah dia juga merupakan seorang ulama, penulis puisi, menyalin buku dan juga mendirikan buku di istanyana (Fathimiyyah) di Kairo Khaa’in al-Qashaar yang terdiri dari 40 ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu hadis, fiqih, tata bahasa, sastra, sejarah, astronomi dan kimia. Disana juga terdapat 30 eksamplar “Kitab al-Ain” Khalil bin Ahmad Nahvi, 1200 examplar Tarikh al-Thabari dan masih banyak yang lainnya. Kemudian setelah kematian Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz, koleksi-koleksi tersebut dipindahkan ke perpustakaan penerusnya al-Hakim bin Amr Allah (996-1021).
Al-Hakim bin Amr Allah mendirikan perpustakaan di Kairo dengan nama Darul Hikmah (rumah ilmu pengetahuan), tujuannya adalah untuk menyebarkan keimanan Syi’ah. Para ilmuwan, ahli logika, ahli hukum, astronomi dan dokter terkenal mengambil bagian dalam pengukuhannya dan bekerja disini. Suatu ketika Hakim bin Amr Allah mengunadang para ulama ini untuk berdebat, setelah itu setiap orang diberi uang dalam jumlah besar.
Selain itu, ada juga perpustakaan Jami’ah al-Azhar yang didirikan pada masa Khalifah Muizz al-Din Allah (953-975). Perpustakaan ini menampung lebih dari dua ratus ribu jilid. Menurut hitungan tertentu, koleksinya mencakup 9.062 buku dan 595.668 manuskrip yang setidaknya berasal dari abad ke-8, untuk lebih jelasnya lihat libararything.com.
Ada juga perpustakaan Mahmudiyya, perpustakaan ini merupakan bagian dari madrasah Mahmudiyya yang didirikan oleh seoorang negarawan Mesir Jamal al-Din Mahmud, penasihat dari Sultan Malik al-Zahif Sayf al-Din Barquq (1382-1399). Di perpustakaan ini terdapat beberapa ulama terkemuka yang menjadi direktur perpustakaan ini, salah satunya adalah Syeikh al-Islam Hafidz ibn Hajar al-Atsqalani yang menyiapkan dua katalog perpustakaan ini. Satu katalog disusun menurut abjad dan yang lainnya menurut materi pelajaran.
Bukhara dan Samarkand
Masjid Agung Samarkand pusat pembelajaran dan kegiatan intelektual Abad Pertengahan. Sumber : Museum.ru
Bukhara dan Samarkand adalah dua pusat budaya Samanid (819-999). Kota ini telah lama menjadi pusat perdagangan, beasiswa, budaya dan agama. Di kota ini lahir Muhammad al-Bukhari (870), penulis dari kumpulan hadis Shahih al-Bukhari. Selain itu kota ini merupakan rumah bagi seorang tabib Syeikh Abu Ali Ibnu Sina (980-1037). Penguasa Samanid, Sultan Bukhara Amir Nuh bin Mansur (berkuasa 976-997) telah mendirikan perpustakaan yang luar biasa disini, dan Syeikh Abu Ali Ibnu Sina banyak memperoleh ilmu di perpustakaan ini.
Hal tersebut dipertegas oleh perkataan Ibnu Khallikan dalam…. “Abu Ali Ibnu Sina sering mengunjungi perpustakaannya, yang kekayaannya tak tertandingi, karena tidak hanya berisi semua karya terkenal yang ditemukan di tangan publuk, tetapi yang lain tidak dapat ditemui di tempat lain dan yang tidak hanya judulnya tetapi juga isinya tidak diketahui. Disini Abu Ali menemukan risalah tentang ilmu-ilmu kuno, dan subjek-subjek lain, yang intinya dia luar biasa dengan sebagian besar ilmu-ilmu yang ia ketahui. kebetulan beberapa waktu kemudian perpustakaan ini habis terbakar, dan Abu Ali tetap menjadi satu satunya penyimpan ilmu yang dikandungnya. Beberapa oorang bahkan mengatakan bahwa dialah yang membakar perpustakaan’.
Perpustakaan-Perpustakaan Di Dunia Islam Lainnya
Kemaharajaan Mughal
Masih banyak lagi perpustakaan-perpustakaan yang lahir dan berkembang di wilayah-wilayah dunia muslim lain seperti perpustakaan di Mughal India. Muhammad Taher dalam Stuart Murray The Library mengatakan ‘perpustakaan kekaisaran sangat ditingkatkan oleh Mughal Muhyaddin Aurangzeb Alamgir yang terakhir. Terlepas dari bahasa lain, dia tahu bahasa Hindustan dengan sangat baik. Aurangzeb mendukung penyair Hindi, oleh karena itu perpustakaan kekaisaran pasti memiliki variasi yang jauh lebih besar daripada Akbar dalam bahasa utama di timur dan barat. Perpustakaan menambah koleksinya dan menjadi basis kegiatan sastra kaisar.
Fataw’ay Alamgiri, intisari hukum Muslim terbesar di India, disusun oleh dewan ahli hukum terkemuka dibawah pengawasan pribadinya. Kompilasi ini membutuhkan akumulasi dari berbagai buku yang berhubungan dengan hukum dalam bahasa-bahasa utama Islam. Dalam perjalanan Deccan, tentang Mughal dapat menemukan perpustakaan Mahmud Gawan. Ini dipindahkan ke Delhi dan ditambahkan ke koleksi kekaisaran atas perintah Aurangzeb. Selera bacanya merupakan replika dari nenek moyangnya sendiri, dan kabarnya jam bacanya dimulai pukul 2 siang setiap hari. Para Nazim dari perpustakaan kakaisaran ini yang telah disebutkan dalam sejarah yaitu Muhammad Saleh bin Isa Khan, Syed Ali Tabrizi, dan para muhtamim yaitu Muhammad Mansur, Syed Ali al Hussaini dan Kabir Khan”.
Kekaisaran Ottoman
Kemudian perpustakaan di kekaisaran Ottoman/Utsmani Turkey, kekaisaran Utsmani menguasai wilayah Baghdad, kairo, Damaskus, Mekah, Madinah dan Yerusalem. Mesjid, perguruan tinggi dan perpustakaan baru mulai didirikan pada abad ke-17. Pada masa kekaisaran Utsmani, koleksi buku tumbuh dengan pesat, terutama karena wakaf-wakaf untuk kepentingan umum. Pada 1678 sebuah perpustakaan didirikan di Istanbul di gedung khsus, dan itu menyimpan koleksi Manuskrip Arab terbesar sebagaimana dikatakan oleh Can Karametil dalam The Turkish Journal of Collectable Art bahwa “Ada sekitar 14.000 manuskrip di perpustakaan. Ada hampir 18.000 miniatur, yang sebagian besar berada di Perpustakaan Perbendaharaan yang memamerkan karakteristik dari berbagai aliran dan gaya terbesar dari seni representasi Islam. Album dan buku terbaik dari Arab, Saljuk, Mongol, Timurid, Uzbek, Karakoyunlu dan Akkoyunlu Turkmen, Safawia, Mamluk dan para kaligrafi istana Ottoman merupakan bagian paling berharga dari perpustakaan Istana”.
Perpustakaan El Escorial di Spanyol
Menurut Murray dalam The libraries mengatakan bahwa perpustakaan ini didirikan oleh Philip II pada tahun 1563, koleksi manuskrip tulisan Islam terbesar ada di Istana El Escorial di Kota Madrid. Terdapat sebuah ruangan di lantai atas yang berisi buku-buku yang dilarang dan telah membakar 70.000 volume. Kemudian sisa-sisa ini mencakup lebih dari 1.800 gelar Arab yang diperoleh dengan pengusiran Muslim dari Spanyol”, dan masih banyak lagi perpustakan-perpustakan lainnya yang tidak disebutkan dalam artikel ini.