“Tidak jauh berbeda dengan saat ini, di masa kolonial alun-alun kabupaten maupun kota tetap menjadi tempat utama berkumpulnya warga masyarakat terutama dalam perayaan-perayaan besar keagamaan bahkan hingga menjadi arena pertandingan olahraga”
Kompetisi balapan kuda di Alun-alun Sukabumi tahun 1933. Sumber : Leiden University Digital Collection.
Kerumunan massa di Alun-alun Sukabumi selama menyaksikan kompetisi balapan kuda tahun 1933 Sumber: Leiden University Digital Collection.
Alun-alun Cimahi Tahun 1910 nampak masih asri dengan rerimbunan pohon dan lapangan berumput hijau yang luas. Sumber: Leiden University Digital Collection.
Pabrik es di Alun-alun Bandung tahun 1915. Sumber: Leiden University Digital Collection.
Pertandingan sepakbola yang diselenggarakan oleh Klub Sepakbola Uitspanning na Inspanning (UNI) di Alun-Alun Bandung pada tahun 1925. Klub UNI kini masih bertahan sebagai sebuah Sekolah Sepak Bola SSB POR UNI. Sumber: Leiden University Digital Collection.
Prosesi Lebaran meninggalkan Masjid Agung Bandung bersama Bupati Bandung, Raden Adipati Aria Wiranatakusumah (tengah) yang kelak menjadi Menteri Dalam Negeri Pertama dan Presiden Negara Pasundan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS). Sumber: Indie Jrg 10, No 10 4 Agt 1926
Alun-alun Garut masih sangat asri dan rimbun dengan pepohonan. Tampak terlihat di tengahnya Babancong, sebuah podium tempat dimana Bupati berpidato pada rakyatnya tahun 1900. Sumber: Leiden University Digital Collection.
Masyarakat pribumi dan beberapa tentara Belanda menyaksikan adu domba di Alun-alun Garut. Sumber: National Archief
Leave a Reply