Danil Kasputra
“Ketika seorang sejarawan Rusia berupaya mengumpulkan lembaran-lembaran arsip usang Uni Soviet yang selama ini tersimpan rapat dan jarang diketahui. Untuk merangkai kisah-kisah awal hubungan Indonesia dan Soviet”
Kurang lebih dua tahun lalu saya membaca sebuah buku karya seorang Sejarawan Rusia bernama Larissa M. Efimova. Judul bukunya Dari Moskow ke Madiun. Kebetulan saat itu saya membuat beberapa catatan kecil mengenai buku itu. Beberapa catatan kecil yang akan saya tuangkan dalam suatu wadah tulisan dalam bentuk sebuah resensi. Berikut ini isi resensinya.
Pengantar Penerbit
Di bagian awal tidak ada pengantar penulis atau sekadar sekapur sirih sebagaimana buku-buku akademis biasanya. Pada bagian ini hanya pengantar penerbit saja yang tampil. Dalam pengantar itu, ada beberapa hal yang ingin penerbit sampaikan. Pertama, perlunya pembukaan dokumen atas peristiwa Madiun seluas mungkin. Baik itu berupa tulisan individu-individu yang terlibat maupun penelusuran historiografi berbagai pihak yang dapat diandalkan.
Kedua, patut dipertanyakan kembali apakah benar Uni Soviet terlibat secara penuh dalam petualangan di Madiun tahun 1948. Ketiga, nyatanya dari penelusuran Afimova dalam Arsip-arsip Soviet, negara superpower ini agak cuek dengan permasalahan Indonesia. Tapi walaupun cuek, Uni Soviet jugalah yang merupakan negara pertama menyeret Indonesia ke dalam kancah perang dingin. Keempat adalah dinamika hubungan antara kedua negara. Bagaimana Soviet menjadi sponsor utama Republik yang baru lahir untuk masuk ke dalam PBB. Sungguh suatu pengantar yang menarik. Orang-orang pun saya rasa akan semakin penasaran jika membaca terlebih dahulu pengantar buku ini.
Rincian Buku

Buku Dari Moskow ke Madiun ini sangat tipis. Jumlah halaman memuat teks, daftar pustaka, indeks, dan dll. Sayangnya foto-foto sebagai pewarna buku tidak penulis cantumkan, sehingga terasa seperti ada yang hilang. Ada 171 halaman tapi hanya 157 yang memuat deskripsi utama. Cukup renyahlah bagi para pembaca pemula juga santapan lezat bagi para kutu buku. Saya pun tidak perlu berjuang keras untuk membaca uraian deskripsinya. Apalagi dari aspek bahasa, penulis menyampaikan gagasannya begitu mengalir tidak bertele-tele. Campur tangan penerjemah juga ikut bermain disana. Tanpa penerjemah yang kompeten, tidaklah mungkin hadir bacaan yang senyaman ini.
Lalu Sang Penulis membagi buku ini ke dalam empat bab dilakukan secara tematis. Permulaan dan Proses pembukaan hubungan diplomatik antara Soviet dan Republik Indonesia mengawali permulaan buku ini. Kemudian, Siapakah yang memberi perintah pada Musso dalam petualangannya di Madiun tahun 1948. Lalu masuk pada bagian hubungan Stalin dan bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pemberontakan tahun 1926. Di bagian akhir, Efimova memaparkan bukti-bukti baru tentang pembukaan hubungan diplomatik Soviet Indonesia (1949-1953).
Arsip-Arsip Langka Soviet
Satu hal yang menarik. Dari Moskow ke Madiun bukan saja karena penulisan sejarah Indonesia dari kacamata seorang sejarawan Rusia yang selama ini sering terbaikan, melainkan arsip-arsip Soviet yang hadir sebagai sumber primer yang membentuk fondasi dasar penulisan buku ini. Arsip-arsip Soviet yang sebelumnya tersimpan rapat di Kremlin dan bersifat sangat rahasia, mulai bisa dijamah publik sejak kejatuhan rezim komunis di Rusia awal dekade 90-an. Tentu saja banyak informasi baru disana.
Informasi baru itu lumayan juga banyak yang merekam kejadian-kejadian di Indonesia terutama hubungan Kremlin sebagai pusat dari poros utama partai komunis dunia dengan partai komunis di Indonesia. Dari sana ada banyak hal yang telah kita ketahui seperti Musso yang meminta bantuan Stalin selama pemberontakan PKI tahun 1926. Tapi banyak juga informasi yang tidak pernah kita ketahui sekali.
Indonesia di Luar Kepentingan Soviet
Sebagai negara yang lahir setelah perang Dunia II, sebagian dari kita sering menyakini bahwa Indonesia berada dalam perebutan pengaruh dua kekuatan besar dunia yang lahir setelah perang usai, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Narasi-narasi yang ada sering menggambarkan bagaimana Amerika Serikat berusaha pada satu sisi membela kepentingan Belanda sebagai sekutunya. Tapi pada sisi yang lain, Amerika Serikat juga tidak rela Indonesia jatuh ke dalam kubangan komunisme. Sementara itu Narasi lain mengisahkan upaya Soviet membawa Indonesia ke dalam pusaran pengaruhnya dengan mengutus seorang petualang sekaligus dedengkot PKI yang hidup dalam pengasingan di Moskow, Musso ke Indonesia.
Melalui tulisan Dari Moskow ke Madiun ini juga kita menemukan suatu hal yang tak terduga bahwa selama tahun-tahun awal seusai perang, Indonesia berada di luar kepentingan besar Uni Soviet. Terlihat dari diplomasi politik awal Soviet yang nampak sangat terkesan hati-hati untuk berkenalan negara baru itu. Uni Soviet bukan tidak tahu Indonesia sebagai sebuah negeri yang sedang berjuang untuk merdeka. Namun bagi Soviet negara itu tidak begitu menarik perhatiannya. Biro Asia Tenggara Soviet pun menyarankan perlunya sikap hati-hati untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Apalagi dalam perjanjian diantara anggota sekutu sesudah perang terkait pembagian pengaruh dunia, Asia Tenggara bukanlah dalam lingkup pengaruh Soviet.
Janganlah heran, hubungan kedua negara baru terjalin kurang lebih tiga tahun kemudian melalui Suripno sebagai utusan Indonesia untuk negara-negara blok Timur. Lagi-lagi Biro Asia Tenggara pun menyarankan untuk lebih berhati-hati. Tapi akhirnya Uni Soviet menyetujui hubungan antara dua negara.
Tentang Musso
Walaupun di luar kepentingan besar Uni Soviet, para pemimpin Soviet juga tetap mengamati perkembangan Indonesia dari kejauhan. Tapi mereka sangat kekurangan bahan dan informasi yang mendalam tentang apa saja yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bahan informasi yang ada hanya mereka peroleh dari para komunis pelarian asal Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Musso. Musso sendiri pemimpin utama PKI yang melarikan diri ke Moskow setelah gagalnya pemberontakan PKI tahun 1926. Meskipun begitu dia sempat kembali ke Indonesia tahun 1935 untuk membangun PKI di bawah tanah.
Pada awalnya Musso sangat mendukung berbagai kebijakan yang digariskan oleh kawan-kawannya di Indonesia. Apalagi kaum kiri Indonesia memegang pucuk pemerintahan. Musso juga tak mempermasalahkan dengan berbagai perundingan yang dilakukan dengan Belanda. Mengenai kaum kiri yang terpecah dan berinfiltrasi dalam berbagai macam partai, Musso juga tak mau ambil pusing. Karena bagi Musso situasi dan kondisi memang mengharuskan kaum kirim melakukan tindakan demikian. Ketika Musso melaporkan situasi dan keadaan Indonesia yang demikian, para pejabat Soviet pun sebenarnya sering mengkritiknya. Tapi Musso malah membantah dan teguh pada pendiriannya. Musso juga membela mati-matian apa yang dilakukan kaan-kawannya di Indonesia.
Musso Frustasi
Tapi awal Januari 1948 kabinet kaum kiri di Indonesia jatuh, Hatta seorang nasionalis naik memegang kendali pemerintahan Indonesia. Kabinet Hatta mendapat dukungan Masyumi dan PNI yang notabene mewakili kelompok agama dan nasionalis. Partai Sosialis yang mewakili sebagian besar suara kaum kiri terpecah. Orang-orang yang berkecenderungan kanan dalam partai itu dipimpin Syahrir menyokong kabinet Hatta dan keluar dari partai membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia. Kaum kiri pun tersisih dari Kabinet dan mereka tidak terwakili. Satu hal yang lucu, mungkin akibat kekurangan bahan informasi, orang-orang di Soviet pada awalnya menganggap Syahrir sebagai seorang komunis yang dapat dipercaya. Baru diketahui kemudian Syahrir bukan seorang komunis.
Kejatuhan pemerintahan kaum kiri di Indonesia sampai telinga para pejabat Soviet, mereka marah mendengar ini dan menyalahkan Musso atas keterkekehannya dulu dalam membela kebijakan salah kawan-kawannya di Indonesia. Akibatnya kata mereka pemerintahan Indonesia jatuh pada kendali kaum nasionalis borjuis. Mereka kemudian meminta Musso untuk kembali ke Indonesia dengan doktrin yang telah mereka gariskan. Musso kemudian kembali ke Indonesia dengan membawa doktrin yang digariskan Moskow. Tapi doktrin itu sendiri sempat ia ubah dan otak-atik bersama seorang tokoh komunis Belanda. Doktrin itu kelak muncul dalam judul “Jalan Baru Revolusi Indonesia”. Musso sendiri yang sempat dihujat dan disalahkan kemudian datang ke Indonesia sdengan rasa frustasi.
Musso ke Indonesia
Setelah tiba di Indonesia, Musso menyatukan beberbagai kelompok kiri yang terpecah ke dalam satu partai Partai Komunis Indonesia. Musso keliling wilayah Republik di Jawa, memimpin rapat umum dan berpidato di tengah rakyat. Musso menyalahkan pemimpin Republik yang malah menjalankan perundingan Renville yang tak adil, padahal kawannya dulu lah yang menandatangani perundingan itu. Kurang dari seratus hari setelah kedatangannya, pertengahan 1948 meletus peritiwa Madiun.
Musso dengan percaya diri dalam sebuah radio menyerang pemerintahan Soekarno-Hatta. Musso juga menyerukan agar rakyat ikut bersamanya. Soekarno yang tak kalah berani lalu menyerang Musso dalam siaran radio dengan suara lantang “Pilih Musso atau Sukarno”ucapnya. Tentara Siiwangi yang terusir dari Jawa Barat akibat perundingan renville dan kebetulan bermarkas di Solo bergerak ke Madiun. Dalam waktu kurang dari dua minggu, mereka telah mematahkan perlawanan Musso. Madiun pun kembali dalam genggaman Republik.
Sementara itu Musso tahu perlawannya gagal melarikan diri bersama sisa pengikutnya. Tapi dalam pelarian, langkahnya terhadang oleh satuan-satuan Siliwangi. Dalam suatu rumah Musso kemudian terkepung dan tewas tertembak. Maka tamatlah riwayat Musso. Itulah cerita singkat tentang pengelanaan Musso selama kurang dari seratus hari di Indonesia. Cerita ini telah banyak dketahui. Tapi ada satau informasi yang baru kita ketahui setelah membaca buku kerangan Larissa Efimova ini.
Musso Malah Memimpin PKI
Para pejabat Soviet sebenernya tidak pernah menyarankan Musso untuk kembali ke Indonesia untuk memimpin PKI. Mereka justru lebih menyarankan tokoh senior PKI semacam Alimin daripada Musso. Para pejabat Soviet malah lebih senang jika Musso cukup ditempatkan sebagai penasehat partai atau sejenisnya dengan pengaruh besar untuk menjalankan agendanya. Alasan utama para pejabat Soviet ialah Musso telah lama meninggalkan Indonesia, sehingga dia sudah tidak mengetahui lagi secara utuh seluk beluk situasi dan kondisi di Indonesia. Informasi yang dia dapatkan pun selama di Indonesia hanyalah dari para mahasiswa, anggota partai yang kebetulan sedang di Moskow. Itupun dengan bahan informasi yang sepotong-sepotong. Oleh karenanya, mereka cukup kaget ketika Musso kembali ke Indonesia malah memimpin PKI.
Begitulah kurang lebih resensi saya mengenai buku Lariisa Efimova ini. Buku ini layak untuk anda baca terutama bagi anda penggemar kisah-kisah masa revolusi serta juga pengkaji sejarah revolusi Indonesia.
Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/22/mabadi-ilmu-tarikhseluk-beluk-mengenai-ilmu-sejarah/



























