/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Tareekh – Page 86

Author: Tareekh

  • Dari Moskow ke Madiun: Stalin PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia 1947-1953.

    Dari Moskow ke Madiun: Stalin PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia 1947-1953.

    Danil Kasputra

    “Ketika seorang sejarawan Rusia berupaya mengumpulkan lembaran-lembaran arsip usang Uni Soviet yang selama ini tersimpan rapat dan jarang diketahui. Untuk merangkai kisah-kisah awal hubungan Indonesia dan Soviet”

    Kurang lebih dua tahun lalu saya membaca sebuah buku karya seorang Sejarawan Rusia bernama Larissa M. Efimova. Judul bukunya Dari Moskow ke Madiun. Kebetulan saat itu saya membuat beberapa catatan kecil mengenai buku itu. Beberapa catatan kecil yang akan saya tuangkan dalam suatu wadah tulisan dalam bentuk sebuah resensi.  Berikut ini isi resensinya.

    Pengantar Penerbit

    Di bagian awal tidak ada pengantar penulis atau sekadar sekapur sirih sebagaimana buku-buku akademis biasanya. Pada bagian ini hanya pengantar penerbit saja yang tampil. Dalam pengantar itu, ada beberapa hal yang ingin penerbit sampaikan. Pertama, perlunya pembukaan dokumen atas peristiwa Madiun seluas mungkin. Baik itu berupa tulisan individu-individu yang terlibat maupun penelusuran historiografi berbagai pihak yang dapat diandalkan.

    Kedua, patut dipertanyakan kembali apakah benar Uni Soviet terlibat secara penuh dalam petualangan di Madiun tahun 1948. Ketiga, nyatanya dari penelusuran Afimova dalam Arsip-arsip Soviet, negara superpower ini agak cuek dengan permasalahan Indonesia. Tapi walaupun cuek, Uni Soviet jugalah yang merupakan negara pertama menyeret Indonesia ke dalam kancah perang dingin. Keempat adalah  dinamika hubungan antara kedua negara. Bagaimana Soviet menjadi sponsor utama Republik yang baru lahir untuk masuk ke dalam PBB. Sungguh suatu pengantar yang menarik. Orang-orang pun saya rasa akan semakin penasaran jika membaca terlebih dahulu pengantar buku ini.

    Rincian Buku

    Buku Dari Moskow ke Madiun ini sangat tipis. Jumlah halaman memuat teks, daftar pustaka, indeks, dan dll. Sayangnya foto-foto sebagai pewarna buku tidak penulis cantumkan, sehingga terasa seperti ada yang hilang. Ada 171 halaman tapi hanya 157 yang memuat deskripsi utama. Cukup renyahlah bagi para pembaca pemula juga santapan lezat bagi para kutu buku. Saya pun tidak perlu berjuang keras untuk membaca uraian deskripsinya. Apalagi dari aspek bahasa, penulis menyampaikan gagasannya begitu mengalir tidak bertele-tele. Campur tangan penerjemah juga ikut bermain disana. Tanpa penerjemah yang kompeten, tidaklah mungkin hadir bacaan yang senyaman ini.

    Lalu Sang Penulis membagi buku ini ke dalam empat bab dilakukan secara tematis. Permulaan dan Proses pembukaan hubungan diplomatik antara Soviet dan Republik Indonesia mengawali permulaan buku ini. Kemudian, Siapakah yang memberi perintah pada Musso dalam petualangannya di Madiun tahun 1948. Lalu masuk pada bagian hubungan Stalin dan bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pemberontakan tahun 1926. Di bagian akhir, Efimova memaparkan bukti-bukti baru tentang pembukaan hubungan diplomatik Soviet Indonesia (1949-1953).

    Arsip-Arsip Langka Soviet

    Satu hal yang menarik. Dari Moskow ke Madiun bukan saja karena penulisan sejarah Indonesia dari kacamata seorang sejarawan Rusia yang selama ini sering terbaikan, melainkan arsip-arsip Soviet yang hadir sebagai sumber primer yang membentuk fondasi dasar penulisan buku ini. Arsip-arsip Soviet yang sebelumnya tersimpan rapat di Kremlin dan bersifat sangat rahasia, mulai bisa dijamah publik sejak kejatuhan rezim komunis di Rusia awal dekade 90-an. Tentu saja banyak informasi baru disana.

    Informasi baru itu lumayan juga banyak yang merekam kejadian-kejadian di Indonesia terutama hubungan Kremlin sebagai pusat dari poros utama partai komunis dunia dengan partai komunis di Indonesia. Dari sana ada banyak hal yang telah kita ketahui seperti Musso yang meminta bantuan Stalin selama pemberontakan PKI tahun 1926. Tapi banyak juga informasi yang tidak pernah kita ketahui sekali.

    Indonesia di Luar Kepentingan Soviet

    Sebagai negara yang lahir setelah perang Dunia II, sebagian dari kita sering menyakini bahwa Indonesia berada dalam perebutan pengaruh dua kekuatan besar dunia yang lahir setelah perang usai, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Narasi-narasi yang ada sering menggambarkan bagaimana Amerika Serikat berusaha pada satu sisi membela kepentingan Belanda sebagai sekutunya. Tapi pada sisi yang lain, Amerika Serikat juga tidak rela Indonesia jatuh ke dalam kubangan komunisme. Sementara itu Narasi lain mengisahkan upaya Soviet membawa Indonesia ke dalam pusaran pengaruhnya dengan mengutus seorang petualang sekaligus dedengkot PKI yang hidup dalam pengasingan di Moskow, Musso ke Indonesia.

    Melalui tulisan Dari Moskow ke Madiun ini juga kita menemukan suatu hal yang tak terduga bahwa selama tahun-tahun awal seusai perang, Indonesia berada di luar kepentingan besar Uni Soviet. Terlihat dari diplomasi politik awal Soviet yang nampak sangat terkesan hati-hati untuk berkenalan negara baru itu. Uni Soviet bukan tidak tahu Indonesia sebagai sebuah negeri yang sedang berjuang untuk merdeka. Namun bagi Soviet negara itu tidak begitu menarik perhatiannya. Biro Asia Tenggara Soviet pun menyarankan perlunya sikap hati-hati untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Apalagi dalam perjanjian diantara anggota sekutu sesudah perang terkait pembagian pengaruh dunia, Asia Tenggara bukanlah dalam lingkup pengaruh Soviet.

    Janganlah heran, hubungan kedua negara baru terjalin kurang lebih tiga tahun kemudian melalui Suripno sebagai utusan Indonesia untuk negara-negara blok Timur. Lagi-lagi Biro Asia Tenggara pun menyarankan untuk lebih berhati-hati. Tapi akhirnya Uni Soviet menyetujui hubungan antara dua negara.

    Tentang Musso

    Walaupun di luar kepentingan besar Uni Soviet, para pemimpin Soviet juga tetap mengamati perkembangan Indonesia dari kejauhan. Tapi mereka sangat kekurangan bahan dan informasi yang mendalam tentang apa saja yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bahan informasi yang ada hanya mereka peroleh dari para komunis pelarian asal Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Musso. Musso sendiri pemimpin utama PKI yang melarikan diri ke Moskow setelah gagalnya pemberontakan PKI tahun 1926. Meskipun begitu dia sempat kembali ke Indonesia tahun 1935 untuk membangun PKI di bawah tanah.    

    Pada awalnya Musso sangat mendukung berbagai kebijakan yang digariskan oleh kawan-kawannya di Indonesia. Apalagi kaum kiri Indonesia memegang pucuk pemerintahan. Musso juga tak mempermasalahkan dengan berbagai perundingan yang dilakukan dengan Belanda.  Mengenai kaum kiri yang terpecah dan berinfiltrasi dalam berbagai macam partai, Musso juga tak mau ambil pusing. Karena bagi Musso situasi dan kondisi memang mengharuskan kaum kirim melakukan tindakan demikian. Ketika Musso melaporkan situasi dan keadaan Indonesia yang demikian, para pejabat Soviet pun sebenarnya sering mengkritiknya. Tapi Musso malah membantah dan teguh pada pendiriannya. Musso juga membela mati-matian apa yang dilakukan kaan-kawannya di Indonesia.

    Musso Frustasi

    Tapi awal Januari 1948 kabinet kaum kiri di Indonesia jatuh, Hatta seorang nasionalis naik memegang kendali pemerintahan Indonesia. Kabinet Hatta mendapat dukungan Masyumi dan PNI yang notabene mewakili kelompok agama dan nasionalis. Partai Sosialis yang mewakili sebagian besar suara kaum kiri terpecah. Orang-orang yang berkecenderungan kanan dalam partai itu dipimpin Syahrir menyokong kabinet Hatta dan keluar dari partai membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia. Kaum kiri pun tersisih dari Kabinet dan mereka tidak terwakili. Satu hal yang lucu, mungkin akibat kekurangan bahan informasi, orang-orang di Soviet pada awalnya menganggap Syahrir sebagai seorang komunis yang dapat dipercaya. Baru diketahui kemudian Syahrir bukan seorang komunis.

    Kejatuhan pemerintahan kaum kiri di Indonesia sampai telinga para pejabat Soviet, mereka marah mendengar ini dan menyalahkan Musso atas keterkekehannya dulu dalam membela kebijakan salah kawan-kawannya di Indonesia. Akibatnya kata mereka pemerintahan Indonesia jatuh pada kendali kaum nasionalis borjuis. Mereka kemudian meminta Musso untuk kembali ke Indonesia dengan doktrin yang telah mereka gariskan. Musso kemudian kembali ke Indonesia dengan membawa doktrin yang digariskan Moskow. Tapi doktrin itu sendiri sempat ia ubah dan otak-atik bersama seorang tokoh komunis Belanda. Doktrin itu kelak muncul dalam judul “Jalan Baru Revolusi Indonesia”. Musso sendiri yang sempat dihujat dan disalahkan kemudian datang ke Indonesia sdengan rasa frustasi.

    Musso ke Indonesia

    Setelah tiba di Indonesia, Musso menyatukan beberbagai kelompok kiri yang terpecah ke dalam satu partai Partai Komunis Indonesia. Musso keliling wilayah Republik di Jawa, memimpin rapat umum dan berpidato di tengah rakyat. Musso menyalahkan pemimpin Republik yang malah menjalankan perundingan Renville yang tak adil, padahal kawannya dulu lah yang menandatangani perundingan itu. Kurang dari seratus hari setelah kedatangannya, pertengahan 1948 meletus peritiwa Madiun.

    Musso dengan percaya diri dalam sebuah radio menyerang pemerintahan Soekarno-Hatta. Musso juga menyerukan agar rakyat ikut bersamanya. Soekarno yang tak kalah berani lalu menyerang Musso dalam siaran radio dengan suara lantang “Pilih Musso atau Sukarno”ucapnya. Tentara Siiwangi yang terusir dari Jawa Barat akibat perundingan renville dan kebetulan bermarkas di Solo bergerak ke Madiun. Dalam waktu kurang dari dua minggu, mereka telah mematahkan perlawanan Musso. Madiun pun kembali dalam genggaman Republik.

    Sementara itu Musso tahu perlawannya gagal melarikan diri bersama sisa pengikutnya. Tapi dalam pelarian, langkahnya terhadang oleh satuan-satuan Siliwangi. Dalam suatu rumah Musso kemudian terkepung dan tewas tertembak. Maka tamatlah riwayat Musso. Itulah cerita singkat tentang pengelanaan Musso selama kurang dari seratus hari di Indonesia. Cerita ini telah banyak dketahui. Tapi ada satau informasi yang baru kita ketahui setelah membaca buku kerangan Larissa Efimova ini.

    Musso Malah Memimpin PKI

    Para pejabat Soviet sebenernya tidak pernah menyarankan Musso untuk kembali ke Indonesia untuk memimpin PKI. Mereka justru lebih menyarankan tokoh senior PKI semacam Alimin daripada Musso. Para pejabat Soviet malah lebih senang jika Musso cukup ditempatkan sebagai penasehat partai atau sejenisnya dengan pengaruh besar untuk menjalankan agendanya. Alasan utama para pejabat Soviet ialah Musso telah lama meninggalkan Indonesia, sehingga dia sudah tidak mengetahui lagi secara utuh seluk beluk situasi dan kondisi di Indonesia. Informasi yang dia dapatkan pun selama di Indonesia hanyalah dari para mahasiswa, anggota partai yang kebetulan sedang di Moskow. Itupun dengan bahan informasi yang sepotong-sepotong. Oleh karenanya, mereka cukup kaget ketika Musso kembali ke Indonesia malah memimpin PKI.

    Begitulah kurang lebih resensi saya mengenai buku Lariisa Efimova ini. Buku ini layak untuk anda baca terutama bagi anda penggemar kisah-kisah masa revolusi serta juga pengkaji sejarah revolusi Indonesia.

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/22/mabadi-ilmu-tarikhseluk-beluk-mengenai-ilmu-sejarah/

  • Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Nur Cahya

    “Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari).“

    Dahulu di pondok pesantren ketika kita ingin membuka sebagian kitab ulama. Maka pertama-tama kita akan terlebih dahulu diperkenalkan kepada sebuah pengantar untuk mengenalkan ilmu yang akan digeluti dalam kitab tersebut.  Pengantar tersebut pada umumnya dijabarkan menjadi sepuluh poin, namun ada juga yang kurang dari itu. Sepuluh poin inilah yang oleh para ahli dan pakar disebut sebagai pengantar ilmu atau “Mabadi Asyrah”.

    Mabadi Asyrah

    Istilah “Mabadi Asyrah” belumlah dikenal oleh para ulama terdahulu.  Menurut Dr. Musthafa Ridha, salah satu seorang guru di al-Azhar, mengatakan bahwa gagasan ini dilafalkan pertama kali oleh imam Sa’adudin  al-Taftazani dalam kitabnya yang berjudul المطول “al-Muthawwal” sebagai penjelas dari kitab Talkhis al-Miftah milik imam Qazwani dalam ilmu balaghah. Namun, hal itu belum dinamai sebagai Mabadi Asyrah sebab dalam kitabnya ia hanya menjelaskan tiga hal saja. Ketiga hal itu ialah definisi, pembahasan, dan faidah.

    Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu  kreativitas para ahli dalam Islam tidak pernah berhenti.  Mereka terus mencoba untuk membuka gagasan yang belum pernah dilakukan para pendahulunya. Jika sudah ada yang mencetuskan, maka mereka akan coba mengembangkan dan memperluas apa yang telah dikemukakan oleh para pendahulu mereka. Diantara para ahli itu yaitu imam Abu Irfan al-Shabban, penulis dari kitab yang berjudul حاشيه صبان على الملوى yang mencoba memperluas gagasan apa yang telah dikemukakan oleh al-Taftazani.

    Syair Mabadi Asyarah

    Dalam kitab tersebut imam al-Shabban menjadikan tiga hal yang dijelaskan oleh al-Taftazani menjadi sepuluh. Imam al-Shabban merangkum sepuluh poin ini dalam bentuk syair yaitu:

    إِنَّ مَبَادِي كُلِّ فَنٍّ عَشرَةْ           الحَدُّ وَالمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَّمرَةْ

    وَنِسْبَةٌ وَفَضْلُهُ وَالوَاضِعُ           وَالاسْمُ الاِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعُ

    مَسَائِلُ وَالبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى   وَمَنْ دَرَى الجَمِيْعَ حَازَ الشَّرَفَا    

    Artinya:  “Sesungguhnya Maba>di (pengantar dasar dalam setiap disiplin ilmu) itu ada sepuluh, yaitu (1) Batasan definisi, (2) Ruang lingkup kajian, (3) Manfaat kajian,

    (4) Perbandingan dan Hubungan dengan kajian yang lain, (5) Keistimewaan, (6) Perintis, (7) Sebutan resmi, (8) Sumber pengambilan kajian, (9) Hukum mempelajari,

     (10) Masail (pokok permasalahan yang dikaji). Mengetahui sebagainya memadai untuk sebagian yang lain dan siapa yang menguasai semuanya maka akan meraih kemuliaan”.

    Hingga sampai sekarang sebuah pengantar ilmu dikenal dengan sebutan “Mabadi Asyrah” yaitu sepuluh poin penting yang harus diketahui oleh pelajar sebelum membuka atau memasuki suatu disiplin ilmu.

    Ilmu Tarikh

    Salah satu dari disiplin ilmu yang ada yaitu ilmu tarikh. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika pelajar ingin memasuki suatu disiplin ilmu termasuk ilmu tarikh. Maka pelajar itu harus mengetahui terlebih dahulu sebuah pengantar dari disiplin ilmu tarikh itu sendiri.  Disiplin ilmu tarikh disebutkan oleh imam As-Sakhawi dalam kitabnya yang berjudul الأعلان بالتوبيخ لمن ذم اهل التاريخ  terdapat sepuluh pengantar atau Mabadi Asyrah. Meskipun susunannya itu tidak sama persis dengan syair imam al-Shabban. Mabadi Asyrah yang disebut imam Al-Sakhawi dalam kitabnya yaitu: definisi tarikh, ruang lingkup ilmu tarikh, Manfaat ilmu tarikh, hubungan ilmu tarikh dengan ilmu lain, tujuan ilmu tarikh, hukum tarikh, syarat menjadi Muarikh, Nama tarikh/sebutan resmi, perintis tarikh, dan pokok permasalahan yang dikaji.

    Definisi Ilmu Tarikh

    Definisi tarikh berdasarkan لغة atau bahasa yaitu الاعلام بالوقت   (pengetahuan tentang waktu/ tanggal). Sedangkan menurut Abu al-Faraj Qudamah bin ja’far al-Kaaib dalam kitab الخراج kata tarikh yaitu peristiwa-peristiwa yang terkenal atau masyhur (padanan dengan term sejarah).

    Adapun tarikh menurut العرف (adat)  memiliki arti fiksasi umum waktu untuk tujuan yang berkaitan pada satu bagian masa (jaman), baik dari masa lalu, masa sekarang atau bahkan masa depan. Sedangkan secara  اصطلاح (terminlogi) yaitu indikasi waktu dengan menghubungkan pada peristiwa pertama dari berbagai banyak perhatian, seperti penampilan sebuah agama, atau kejadian yang menakutkan seperti peristiwa banjir, gempa bumi besar atau sejenisnya, atau tanda dan fenomena teresterial (hal yang terkait dengan tanah atau permukaan tanah).  

    Selanjutnya ilmu tarikh menurut Imam As-Sakhawi adalah ilmu yang membahas tentang fakta waktu. Fakta waktu disini meliputi dalam hal pengangkatan dan pencegahan yang terjadi di dunia. Sedangkan menurut imam al-Kafiyaji ilmu tarikh berarti membicarakan cabang ilmu yang dikodifikasikan. Sedangnkan cabang ilmu yang dikodifikasikan itu harus memiliki masalah beserta objeknya dan ilmu tarikh memiliki hal itu.

    Ruang Lingkup Ilmu Tarikh

    Ruang lingkup ilmu tarikh adalah manusia dan waktu.

    Manfaat Ilmu Tarikh

    Manfaat mempelajarri ilmu tarikh adalah mengetahui peristiwa-peritiwa tertentu yang nantinya dijadikan suatu pembelajaran. Ilmu tarikh juga sangat bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain seperti ilmu siyasah (politik), sosial, filsafat, fikih dan lainnya.

    Hubungan Ilmu Tarikh dengan Ilmu Lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Hadis

    Ilmu Tarikh dengan ilmu hadis, bukti sejarah sangat membantu sekali terhadap keaslian dan kredibilitas seorang periwayat (sanad) beserta redaksi (matan) hadisnya dan jarh wa tadiil, contoh seperti tarikh al-Hufadz, Tarikh Muhadisin, Thabaqat dan lainnya. Begitupun sebaliknya, ilmu hadis sangat membantu sekali ilmu tarikh hal itu bisa terlihat sekali dimasa ilmu tarikh pertama kali berkembang didunia Islam, dimana metode ilmu hadis banyak diterapkan juga terhadap ilmu tarikh. Bahkan beberapa penulisan sejarah islam ada yang mesti menggunakan sumber ilmu hadis/hadis ini contoh seperti penulisan سيرة النبي, مغازي, اسباب النزول, اسباب الورود,  تاريخ الحفاظ , تاريخ المحدثين dan lain-lain.

    Hubungan Ilmu Tarikh dan Politik

    Kedua Ilmu sangat berhubungan juga dengan politik begitupun sebaliknya, dimana hal itu bisa terlihat dalam penulisan تاريخ الخلفاء (para khalifah), تاريخ الوزراء (para menteri),  تاريخ الملوك(kerajaan) dan lain-lain.

    Antara Ilmu Tarikh dengan Ilmu Akhlaq dan Tasawuf

    Ilmu Tasawuf juga saling berhubungan dengan Ilmu Sejarah contoh seperti penulisan تاريخ العباد والصوفية., تاريخ الاشراف , dan lain-lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Fiqh

    tarikh sangat membantu terhadap fikih islam karena fikih atau hukum  islam tidak lahir sebagai produk yang instan yang langsung jadi, namun itu melewati masa dan priodik cukup lama. Sehingga mempelajari tarikh pembentukan fikih tersebut memiliki manfaat dan urgensi yang sangat penting. Contoh kitab تاريخ الفقهاء, النسخ dan lain-lain.

    Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lain yang membutuhkan ilmu tarikh, begitupun sebaliknya seperti kedokteran, filsafat, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.

    Tujuan Ilmu Tarikh

    Tujuan dari ilmu tarikh ini adalah semata-mata mengharapkan Ridha Allah. Karena hal itu tidak mengharapkan upah atau pahala dari sebaik-baiknya perbuatan dan perbuatan itu tergantung dengan niatnya.

    Hukum Tarikh

    Adapun hukum memplajari  tarikh menurut as-Sakhawi itu tidak tertuju pada satu hukum. Pertama seseorang (muslim) dihukumi wajib jika dia menentukan cara untuk mengetahui yang berhubungan dengan suatu Khabar seperti silsilah perriwayatan dan sejenisnya, mengetahui naskh,dan  hal yang berhubgan dengan nasab seperti waris dan …. Kedua, adapun jika selain hal itu tarikh dihukumi fardhu kifayah, yakni status hukum dari sebuah aktifitas dalam islam yang wajib dilakukan. Akan tetapi apabila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur.

    Syarat Menjadi Muarikh (Sejarawan)

    Untuk menjadi seorang sejarawan, as-Sakhawi memberikan empat kriteria. kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang sejarawan. Keempat kriteria itu serupa dengan syarat kriteria yang harus dimiliki oleh seorang perawi hadis. Hal itu guna mengetahui kualitas seorang sejarawan, baik kualitas intelektual maupun kepribadiannya. Sejarawan dituntut harus al-aql (cerdas), yang dhabit (akurat), beragama islam dan adil.

    Tradisi ini sangat diandalkan khususnya dalam mengetahui kualitas serta kredibilitas seorang perawi dan dapat dipercaya. Karena itu, karya sejarwan akan lebih diinginkan dan lebih terpercaya. Hal itu supaya ada peningkatan kewaspadaan terhadap cerita yang tanpa dasar. Sejarawan juga akan dilindungi dari kesalahan dan menyesatkan pernyataannya.

    Nama Tarikh

    Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari). Abu Mansur al-Juwaliqi dalam kitabnya المعرب من الكلام الأعجمي berkata bahwa tarikh adalah bukan bahsa arab murni, karena orang-orang muslim mengambilnya dari ahlu kitab (orang Farsi). Al-Kafiyaji dalam kitabnya  مختصر في علم التاريخ  mengatakan bahwa awalnya kata tarikh ini tercipta ketika Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa al-Asy’ari yang tanpa disertai titik mangsa dan hari pengirimannya. Kemudian Umar menydari adanya kesulitan pada saat melakukan pengarsipan dan seleksi urutan surat.

    Oleh karena itu, Umar kemudian memerintahkan adanya musyawarah yang melibatkan para ahli dan sahabat Nabi SAW. Musyawarah ini bertujuan untuk menyusun penanggalan yang khusus berlaku dalam Islam. Singkat cerita, Umar menetapkan penanggalan atau kalender resmi umat Islam pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 17 H. Nama kalender umat Islam ini adalah Hijriah karena menjadikan peristiwa  hijrah Nabi SAW sebagai permulaan penanggalan.

    Dari peristiwa ini pula lahirlah kata tarikh yaitu ketika umat muslim menaklukan Persia dan seorang al-Hurmujan (dia adalah raja al-Ahwaz) masuk islam menceritakan bahwa bangsa ajam mengukur perhitungan waktu dinamakan  ماه روز dan dihubungkan dengan kebiasaan mereka dari الاكاسره . Kemudian kata tersebut diarabkan menjadi مورخ kemudian diambilah bentuk masdharnya yaitu تاريخ , maka jadilah tarikh dengan arti tanggal atau term sejarah dalam bahasa arab dan itu digunakan hingga sekarang.

    Para Perintis Ilmu Tarikh

    Siapa perintis penulis sejarah  (muslim), maka jawaban imam As-Sakhawi adalah banyak sekali. Karena dia membagi lagi tulisan-tulisan sejarah para ulama dimana penulisan sejarah dan masing-masingnya berbeda orang  pertama yang menulisnya. سيرة النبي dan المغازى ditulis pertama kali oleh Musa bin Uqbah al-Asadi al-Madani (salah satu tabi’in), Muhammad bin Ishaq al-Muthalabii (salah satu tabi’in juga).

    1. قصص الانبياء (kisah-kisah para Nabi) ditulis petama kali leh Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Muthalabi
    2. Penulisan تاريخ الصحابة (sejarah para sahabat) ditullis pertama kali oleh Ali bin Al-Madani dengan judul kitab معرفة من نزل من الصحابة سائر البلذان yang terdiri dari 5 juz.
    3. تاريخ الخلفاء (sejarah para khalifah) yang didalamnya diceritakan dari pemimpin masa shabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, dan Mu’awiyah), khalifah-khalifah dinasti Umayah, Khalifah-khalifah dinasti Abasiyah, Khalifah-khalifah dinasti Umayah 2 (Andalus), khalifah-khalih dinasti Mamluk hingga khalifah-khalifah dinasti fatimiyyah ditulis pertama kali oleh Abu Abdullah Muhammad bin Husain al-Mahdi.
    4. تاريخ الملوك الاسلام  (sejarah kerajan-kerajan/daulah Islam) ditulis pertama kali oleh Muhammad bin Abdul Mulki al-Hamdaani, Abu Hasan Ali bin Abu Manshur al-Ajadi.

    Masail Ilmu Tarikh

    Mengenai objek atau masail yang dibahas dalam ilmu tarikh yaitu peristiwa atau kejadian yang menarik, kejadian yang mampu menciptakan untuk tindakan yang baik, kejadian yang mengandung peringatan serta menentang melakukann kejahatan, kejadian yang mampu meghasilkan melakukan perbuatan baik dan halangan melakukan kejahatan, peristiwa atau kejadian yang mampu memberikan nasihat, berisi intruksi dan kejadian yang mengesankan.

    Akan tetapi, tidak semua kejadian yang disebutkan diatas bisa dituliskan. Al-Kafiyaji dalam kitabnya dengan judul مختصر في علم التاريخ memberikan syarat bahwa kejadian-kejadian tersebut mesti dideinisikan dengan jelas, waktu kejadiannya mesti ditetapkan dengan penuh kehati-hatian dan mesti memiliki tujuan yang jelas.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/21/senjata-api-di-kerajaan-kerajaan-indonesia/

  • Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Danil Kasputra

    “Kerajaan-kerajaan Indonesia kuno juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.”

    Seringkali saya mendengar dalam satu bincang-bincang katanya kerajaan-kerajaan Indonesia zaman dulu itu berperang hanya modal golok dan bambu runcing saja. Sementara Belanda datang ke tanah air kita dengan teknologi canggih senjata api. Jadinya, niat kita mau serang Belanda malah kita yang sudah kena dor duluan. Jadilah kita selalu saja kalah dan kalah. Jangan heran deh! akhinya Belanda menjajah tanah air kita tercinta ini hingga 350 tahun. Saya sebagai penyimak seringkali merenung sekaligus mengingat-ingat berbagai referensi buku yang pernah saya baca. Dalam benak saya, terbersit, Ini beneran nggak sih!!!. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya menyimpulkan bahwa opini ini tak sepenuhnya benar. Loh Kok bisa gitu? oke deh klo gitu ada baiknya saya ajak anda menengok kebelakang.

    Anggapan bambu runcing, golok, parang, dan berbagai senjata tradisional khas nusantara lainnya sebagai senjata utama peperangan kerajaan-kerajaan Indonesia tempo dulu tidaklah salah. Tapi perlu diketahui sebagaimana Belanda kerajaan-kerajaan itu juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu nampaknya jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

    William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra (2016:518) mengatakan bahwa meriam sudah dikenal di sana (Hindia) jauh sebelum penemuan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan. Penemuan jalur menuju Tanjung Harapan sendiri baru terjadi pada akhir abad ke 15. Setidaknya, kita bisa menduga bahwa sebelum abad ke 15 kerajaan-kerajaan Indonesia telah mengenal senjata api. Jadi supaya lebih jelas berikut ini saya uraikan beberapa kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lalu dengan senjata api yang mereka miliki.

    Artileri dan Pasukan Musketir Majapahit

    Majapahit yang dikenang sebagai kerajaan terbesar dalam memori orang Indonesia diketahui telah mengenal teknologi senjata api. Thomas Stanford Raffles dalam bukunya The History of Java Volume II (1817:99) menulis bahwa di tahun 1247 Saka (sekitar 1325 M) negeri-negeri bawahan Majapahit mengirimkan sebuah meriam bernama Ng’ai stomi (Nyai Satomi) dan beberapa meriam berkaliber kecil.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sebuah Meriam Perunggu Majapahit bertarikh abad ke 14 M. Lambang Surya Majapahit tampak terdapat di bagian tengah meriam.
    Sumber: Metmuseum.org

    Buku A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century (1866:198) dari Duarte da Barbossa yang singgah di Jawa tahun 1510 M menguatkan kata-kata Raffles. Orang-orang Jawa kata Barbosa memiliki beragam jenis meriam, musket atau senapan panjang, serta banyak senjata api lainnya. Senjata-senjata ini memiliki manfaat yang besar dan amat berguna sebagai artileri. Barbossa juga tampak terkagum -kagum sekaligus keheranan bagaimana baja-baja terbaik ditempa dengan amat cantik lalu ditahtakan emas dan gading.

    Kesaksian Barbosa tentang adanya musket atau senapan panjang kembali diperkuat oleh kesaksian dari seorang pelawat barat lainnya dari Portugis. Nama pelawat itu adalah Tome Pires. Dalam kesaksiannya yang dituangkan dalam buku The Suma Oriental of the Tome Pires and The book of Francisco Rodrigues (1944:176) Pires mencatat bahwa Raja Jawa Gusti Pate (Gusti Patih) memiliki sekitar empat ribu pasukan musketir. Pasukan ini dia gunakan dalam peperangan dengan raja-raja pesisir yang telah terislamkan utamanya raja Demak.

    Meriam-meriam Kesultanan Demak

    Pada abad ke 16, saat Majapahit telah terbenam. Mantan bawahan sekaligus saingannya Demak telah muncul dalam panggung politik Jawa sebagai penerus Majapahit namun dalam balutan agama baru, agama Islam. Tentu saja sebagai penerus Majapahit, Demak juga telah banyak berkenalan dengan berbagai jenis senjata api.

    Apalagi dalam rangka perluasan kerajaannya, senjata api merupakan senjata yang penting bagi kesultanan Demak. Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:377) mengatakan dari sumber Portugis dan lokal bahwa meriam banyak digunakan tahun 1511 dalam pertempuran merebut Melaka yang berujung kekalahan menyakitkan bagi Demak.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Meriam Ki Amuk konon meriam buatan Demak yang dihadiahkan pada Sultan Banten sebagai hadiah pernikahan pada tahun 1579.
    Sumber: Leiden University Libraries Collection

    Mengenai darimana meriam-meriam itu berasal dan siapa pembuatnya, The Adventures of Mindes Pinto (1663:378), mengabarkan pada kita betapa pentingnya peran Orang Aceh dan Turki dalam pembuatan meriam-meriam Demak. Kemudian ada juga seorang pembelot Portugis bernama Coai Geinal (Khoja Zainal) berperan amat penting sebagai pimpinan pabrik pembuatan senjata api.

    K.C.Crucq dikutip dari Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:380) telah melakukan serangkain penelitian serius. Hasilnya kemungkinan Meriam Ki Amuk yang tersimpan di Banten hari ini merupakan satu dari sedikit meriam produksi Demak yang tersisa. Crucq mendasarakan pada catatan Valentijn bahwa Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanudin Banten sewaktu pernikahnnya dengan putrinya. Maka Meriam Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tanggal adalah 1450 Saka, yakn 1528/9 yang kiranya sesuai dengan pernikahan Hasanudin.

    Artileri-Artileri Kesultanan Aceh

    Dari segi persenjataan, Kerajaan-kerajaan Indonesia dari Sumatera juga tak kalah gaul dalam perkenalan dengan teknologi senjata api. Bahkan berkat perkenalan itu Aceh tampil sebagai satu kerajaan besar di abad ke 17. Kekuatannya sanggup setidaknya membuat negara-negara Eropa macam Portugis agak keteteran. Aceh yang di abad itu telah terislamisasi banyak mendapat bantuan persenjataan dari Turki (Kesultanan Ottoman) sebagai poros utama dunia Islam.

    J.R Verbeek dalam De Geschiedenis van Atjeh Sultanaat in Vogelvlucht mengatakan berkat kerjasama militer dengan Turki meliputi bantuan senjata api. Tak perlu heran, Aceh di masa Sultan Alaudin mampu merontokkan semua kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu saingannya. Orang Portugis di Malaka pun ketar-ketir dibuatnya. Tiga kali serangan orang Aceh selama rentang waktu 1537 hingga 1547 sempat membuat Portugis kerepotan.

    Kabar yang beredar konon di masa jayanya pada zaman Sultan Iskandar Muda yang termashur, Aceh punya 5000 pucuk meriam. Jumlah itu cukup setidaknya menggambarkan betapa perkasanya kesultanan itu di zamannya. Tapi jumlah itu ternyata tidaklah benar juga. Seorang pengelana Perancis Beaulieu mengabarkan pada kita dikutip dari buku Kerajaan Aceh (2014:132) karya seorang Indonesianis bernama Denys Lombard jumlah itu telah dilebih-lebihkan. Pada kenyataannya 5000 itu meliputi 1200 meriam berkaliber sedang, 800 meriam besar serta sisanya hanya istinggar. Itu pun kata Beaulieu dengan nada agak sinis pendek dan kurang baik pemasangannya.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sejenis senjata api musket atau istinggar dari Kesultanan Aceh abad-19.
    Sumber: Tropen Museum.

    Tentang Meriam dan Istinggar

    Orang Aceh sendiri pun sebetulnya sudah terampil menuang meriam sendiri. Tapi sultan pun akan senang apabila ada para pengelana asing yang menghadiahinya meriam. Beberapa hadiah bahkan jadi benda kesayangan Sultan (2014:133). Ada juga satu kebiasaan unik sultan. Senjata dan mesiu akan disembunyikan pada suatu tempat rahasia hingga suatu peperangan tiba. Rupanya Sultan takut sewaktu-waktu senjata api dan mesiu ini digunakan untuk pemberontakan melawan dirinya.

    Istinggar sendiri bukanlah meriam tapi senjata api sejenis bedil. Senjata ini banyak tersebar di se-antero negeri Melayu. Wan Mohd Dasuki dan Siti Radziah dalam Manuskrip Ilmu Bedil sebagai Sumber Etnosejarah Teknologi Senjata Api Melayu (2014:64) sumbu pencucuh istinggar yang berbara tersebut dikepit pada hujung pemegang sumbu. ketika picu ditarik, pemegang sumbu akan menolak sumbu berbara ke lubang penggalak yang berisi ubat bedil. dengan itu ubat bedil akan terbakar dan menghasilkan daya yang membolehkan peluru timah hitam dilepaskan dengan halaju tinggi melalui muncung istinggar.

    Matchlock dan Snapang Minangkabau

    Tidak jauh dari Aceh, di pantai barat Sumatra, Sumatra Barat adalah rumah bagi orang-orang Minangkabau. Sebagaimana di Aceh, disini orang Minangkabau juga telah berkenalan dengan teknologi senjata api. Matchlock dan Snapang adalah dua senjata api yang umum digunakan disini. Matchlock sebagaimana dicatat William Marsden (2016:517) larasnya dipadatkan dengan baik dan dilubangi dengan tepat, terbukti dengan bagusnya bidikan mereka. Mereka selalu membidik dengan merendahkan larasnya, alih alih menaikkan ujung ke arah sasaran.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Matchlock yang digunakan oleh kaum Padri ketika meletusnya perang Padri.
    Sumber: Domain Publik

    lalu ada snapang yang berasal dari istilah Belanda. Istinggar yang telah kita jelaskan sebelumnya terkategorikan sebagai snapang. Tapi dalam teks-teks historiografi Melayu snapang ini lebih dikenal dengan nama terakul. Snapang ini dilengkapi mekanisme bidasan spring-batu api, dengan memanfaatkan percikan api akibat geseran batu api tersebut ke arah pengadang besi yang tersedia untuk menyalakan ubat bedil (Wan Mohd Dasuki, 2014:64). Berlainan dengan senjata api milik Kesultanan Aceh, Senjata ini diadaptasi dari teknologi senjata api bangsa Eropa.

    Serupa orang Aceh, orang Minangkabau juga terampil menuang meriam. Meriam ditempa dengan menggulingkan batangan besi yang rata yang memiliki dimensi proporsional. Pengerjaannya dilakukan secara spiral, mengelilingi batang bulat dan memukul-mukulnya sampai bagian-bagian besi tersebut telah menyatu. Senjata-senjata ini terus digunakan hingga abad ke 19 ketika perang Padri meletus di Sumatra Barat. Berkat itu, Belanda sempat kewalahan terutama di masa awal peperangan.

    Nah, jadi tidak sepenuhnya benar kan! Nenek moyang kita dulu perang hanya pakai golok dan bambu runcing saja. Mereka juga sudah kenal senapan dan meriam. Lantas, timbul pertanyaan, mengapa kita dijajah sampai ratusan tahun? lama bener kalau dihitung katanya sampai tujuh turunan. Soal itu tentu saja ada faktor dan sebab tertentu. Nanti deh… bisa kita jelaskan di lain tempat. Semoga!!!

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/18/wawacan-pagerageungan-ketika-seni-meng-islamisasi-masyarakat/

    Lihat juga: https://en.wikipedia.org/wiki/Cetbang

  • Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Nur Cahya

    “Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung.”

    Dulu di serambi rumah, masyarakat Ciawi suka melantunkan tembang wawacan pagerageungan sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran bayi.  Semalam suntuk mereka habiskan dengan bernyanyi, layaknya lantunan takbir di kala menjelang lebaran. Pada jaman sekarang, tradisi wawacan pagerageungan itu hanya sebatas hiburan seremonial pariwisata, bahkan hampir tinggal nama, karena tidak adanya regenarasi. Padahal memiliki nilai seni dan sastra yang tinggi dalam tembang wawacan pagerageungan.

     Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Asal-Usul

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Bagaimana Tembang dilantunkan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

    Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

                Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    • Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

                Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Cara Permainan

    Semua itu biasanya dimainkan oleh sekitar 5 atau 10 orang, ucap  Ahmad. Hal itu bisa terlihat dari jumlah personil pagerageungan Argagurnita dengan hanya berisikan sepuluh orang pemain, yang semua ini dipimpin oleh almarhum bapak Ili Suhaeili. Akan tetapi, kini dari sepuluh pemain kesenian ini hanya tinggal 4 orang yang masih hidup. Tokoh tokoh tersebut yaitu Ahmad, Odo, Uun, dan  Ade. Selainnya sudah meninggal dunia termasuk Ili Suhaeli selaku pimpinan dari pagerageungan Argargurnita ini. Yang sekarang pimpinan ini diemban oleh Ahmad Rifa’i selaku orang yang paling senior diantara empat orang yang masih hidup.

    yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Tembang

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Cara Melantunkan Tembang Wawacan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    • Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    • Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

                Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    • Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

    Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

    Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Lihat juga:https://tareekh.my.id/

  • Censors at Work: How State Shaped Literature

    Censors at Work: How State Shaped Literature

    Rendy Kurniawan

     The term “censor” has no acceptable definition throughout the history. Periodically, the meaning of “censor” sometimes different and debatable. Because of this fact, indeed there is no exact answer about what is censor. Rather than confused defining censors, Darnton with his work tried to figure it out differently.  Three distinctive cases of literature suppression in France in Eighteenth century, India in Colonial reign and East German under the hand of Communism are being the concern of this book. In turn, these comparative study might help the readers to find out what is censorship and its history.

     The kingdom possessed the censor of early Eighteenth century France. In the other words, the court seized the control over literature distribution. There is no editor nor bookseller except the royal representatives. At least, this might be occurred until the French Revolution in the end of Eighteenth centuries. The whole story went extremely different in the India under the British reign. In this different place, nineteenth century was an important period over India censhorship history. Generally, British Government had no censor institution to restrict any book or document.

    However, the state would impose certain law whenever it felt threatened by this ‘freedom of speech’. For instance, James Long of Bengal who write ethnographic study was imprisoned because of his work. It  suspected to be an insult to the british rule over India. Move toward the heart of Europe in different time, East German under the Communism had unbelievable censorship.

    In investigating the East German, Darnton was able to meet the person in charge. He met a man and a woman which is worked for Communist in East German. Compared with France and India before, The censor of East German is quite different. Rather than limiting and restricting the censor of East German is planning the whole literature. It means that, the state arranged the published literature. Darnton had found the annual list of East German’s planned literature. In this case, the state hardly intervened with the literature publication.            

    From the observation of three distinctive cases, thanks to Darnton, people might be concerned about what is censor and its history. In addition, From this comparative study, there is a critical point. Censor had and may still have a strong connection to the state intervention. Eighteenth century France, Nineteenth Century India and Twentieth Century East German was a notable example over this statement.

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/14/mukhtasar-al-mufid-fi-ilmi-tarikh/

    Lihat juga : https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Darnton

  • Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh: Buku Pengantar Ilmu Sejarah Pertama di Dunia Islam

    Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh: Buku Pengantar Ilmu Sejarah Pertama di Dunia Islam

    Nur Cahya

    Judul Kitab: Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh

    Penulis: Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji

    Penyalin: Muhammad al-Damisi

    Penerbit: Perpustakaan Aya Sofia

    Tahun: 8 Rajab 867 H

    Kota: Anatolia

    Tebal: 54

    Mukhtasar al-Mufid fi ilmi Tarikh sangat menarik untuk dibahas. Sebuah karya dari seorang ulama yang bernama Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji, yang disalin ulang oleh salah satu muridnya yaitu al-Damisi. Perlu dicatat, al-Kafiyaji bukanlah sejarawan terkemuka layaknya Ibnu Kholdun. Al-Kafiyaji cenderung lebih dikenal seorang ahli Kafiyah (kitab nahwu) Ibnu Haajib. Sehingga kemudian namanya dilaqobkan dengan nama al-Kafiyah. Namun, al-Kafiyaji mampu menciptakan sebuah karya Mabadi ilmu tarikh atau pengantar ilmu sejarah (histriografi) pertama yang ditulis dikalangan muslim. Mengupas kata Tarikh dari mulai definisi, sejarah dari kata tarikh, prinsip-prinsip serta dasar-dasar ilmu Tarikh dan tujuan. Kitab ini juga memaparkan syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan menulis sejarah.

    Sinopsis

    Kitab Mukhtasar ini jika dilihat sepintas, gaya penulisannya hampir sama dengan gaya penulisan dalam metodologi penelitian ilmu fikih. Kemungkinan memang terinspirasi dari sana. Uraian-uraian yang disajikan dalam kitab Mukhtasar al-Mufid fi Ilmi al-Tarikh ini pada garis besarnya membahas 10 Fan ilmu. 10 Fan ini dalam kajian klasik sangat populer tentang Mabadi Asyrah atau sepuluh prinsip dasar dari bangunan sebuah ilmu. Al-Kafiyaji sebagai penulis buku ini kemudian menuliskan disiplin ilmu tarikh dengan membaginya menjadi 3 fasal atau bagian. Pertama membahas al-Had dalam ilmu tarikh, kedua membahas objek dan permasalahan ilmu tarikh, dan ketiga menjelaskan tentang kemulian ahli ilmu, keutamaanya, dan hasil pelajaran dan renungan yang mengandung pengajaran (dalam ilmu tarikh).

    Sebagai contoh, pada pembahasan pertama al-Kafiyaji membicarakan mengenai prinsip-prinsip historiografi dimana didalamnya membicarakan Had (definisi) tarikh wa ilmi tarikh, sebab pemakaian kata tarikh, menjelaskan isyarat dari objek sejarah yang harus ditulis oleh seorang sejarawan, menjelaskan hukum mempelajari ilmu tarikh atau historiografi dan menjelaskan mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang sejarawan. Kemudian pada pembahasan kedua al-kafiyaji menjelaskan prinsip dan permasalahan dasar yang dibahan dalam ilmu tarikh.  

    Kelebihan

    Terdapat beberapa kelebihan dalam kitab ini. Pertama, kitab ini tampil dengan tulisan unik tapi dilakukan dengan studi yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Hal ini bisa terlihat dari tulisannya yang hampir sama dengan metode ilmu fikih dimana menggunakan konsep Mabadi Asyrah, walaupun secara susunan tidak runtut sebagaimana yang disebutkan dalam syair Ali al-Shabhani. Selain itu kitab ini cukup menarik dan bisa dikatakan kitab ilmu tarikh atau pengantar penulisan sejarah pertama yang ditulis oleh muslim.   

    Kekurangan

    Kekurangan kitab ini ialah cukup minimnya penjelasan terhadap beberapa istilah yang dipakai oleh penulis sehingga membuat para pembaca harus membuka sumber lain untuk bisa memahaminya. Namun, tidak berarti kitab ini tidak layak, kitab layak dibaca terlebih oleh orang yang menggeluti sejarah muslim, karena bakal menambah dan memberikan mereka tambahan dalam perspektif baru mengenai histriografi muslim.  

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/13/riwayat-seni-kaligrafi-di-indonesia/

  • Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Nur Cahya

    “Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Hal itu didasarkan penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah binti Maimun tertulis hiasan aksara kaligrafi arab bertarikh tahun 1082 M.”

    Riwayat perkembangan seni kaligrafi di indonesia memiliki akarnya dalam seni kaligrafi Arab. Sebab seni kaligrafi merupakan salah satu tradisi tulis menulis yang sangat kental dengan tulisan arab.  Walaupun jauh sebelum Islam datang bisa dikatakann bahwa bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir tidak mengenal aksara. (D S. A., 1989). Tradisi tulis menulis terbilang cukup tertinggal dibanding dengan bangsa lain (Kharlie, 2003). Seperti contoh di Mesir yang sudah terkenal dengan tulisan Hieroglip, India dengan Devanagari, Assiria dengan Fonogram dan lain-lainnya (D S. A., 1989). Meski mereka sangat dikenal piwai dalam hal sastra. Namun dalam artikel kali ini, kami tidak akan membahas mengenai Seni Kaligrafi Bangsa Arab. Tapi Riwayat seni kaligrafi yang berkembang di Indonesia.

    Asal Mula dari Bangsa Arab

    Orang-orang Arab pra Islam mengandalkan tradisi verbalisme, dalam proses interaksi sehari-hari. Hal membuat mereka tidak terlalu memperdulikan potensi dan kemampuan tulis-menulis yang mereka miliki. Hal itu bisa terlihat pada daya ingat dan tingginya kualitas sastra mereka miliki. Kemudian kehadiran Islam dan perkembangannya mampu membawa perbahan besar dalam tradisi bangsa Arab ini.

    Wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad (al-Alaq 1-5). Surat ini ialah perintah Tuhan agar membaca, menelaah serta menganalisis. Turunya surat ini mampu menghentakan idealisme mereka. Sejak itu, perkembangan tradisi tulis –menulis bangsa Arab benar-benar sangat luar biasa, melompat, bahkan berlari meninggalkan yang lain (Kharlie, 2003).

    Dari Arab menuju Nusantara

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Berita tertua mengabarkan telah terbentuk sebuah komunitas muslim, dengan bertempat di Gresik Jawa Timur. Hal itu didasarkan berdasarkan analisa atas hasil penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah tertulis aksara arab dengan tahun 1082 M.  Berdasarkan analisa para arekolog, nisan tersebut merupakan tanda dari permulaan tulisan kaligrafi di Nusantara.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun dengan hiasan kaligrafi Arab. Salah satu bukti tertua mengenai seni kaligrafi awal di Nusantara.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections

    Menurut Prof. Muarif Ambary terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan jenis khat sebagai simbolisasi dari tulisan nisan tersebut. Jika ini ditelusuri lebih lanjut mengenai intensi gaya penulisan nisan tersebut mengunakan gaya kufi. Maka di Sumatera, khususnya wilayah Aceh gaya yang paling sering digunakan adalah Nasakh dan Tsuluts. Memang pada kenyataanya khat kufi kurang digemari atau bahkan kurang dikenal Muslim Nusantara. Sebaliknya khat Naskh dan Tsuluts sangat digandrungi masyarakat lokal. Pada gilirannya memunculkan istilah “makam tipe Aceh” dan seterusnya  (Ambary, 1998).

    Dua Periodisasi Tradisi Kaligrafi Lokal

    Periodisasi Pertama

    Adapun mengenai riwayat dinamika seni kaligrafi lokal di Indonesia menurut Sirajudin dibagi dalam beberapa tahapan periodisasi (D S. A., 1994). Pertama, angkatan perintis, dalam periode islamisasi tentu bakal terjadi arabisasi, mengingat hampir seluruh rujukan tentang ajaran Islam berbahasa Arab. Apalagi para penyebar yang menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara, terutama pada masa permulaan perkembangan Islam, didominasi oleh ulama-ulama keturunan Arab atau non-arab yang lama belajar di Arab. Sehingga faktor inilah yang kemudian memaksa setiap muallaf  mesti bersentuhan dengan bahasa dan tulisan Arab. Dari titik ini cukup jelas kehadiran Islam menandai babak baru semarak penggunaan tulisan kaligrafi Arab.

    Karena pada praktiknya, tulisan Arab tidak hanya terbatas pada penggunaan teks yang berbahasa Arab atau mushaf al-Qur’an saja, melainkan juga digunakan untuk pergaulan sehari-hari terlebih untuk kebutuhan pengkajian Islam di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, surau, dan lain-lain. Ditambah seperti Pegon, huruf Jawi, atau huruf Melayu. Huruf ini digunakan sebagai medium pengajaran dan penulisan kitab-kitab, terutama di pesantren-pesantren.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Sebuah halaman dari buku Hikayat Abdullah karya Abdullah bin Abdulkadir Al-Munsyi ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Buku ini pertama kali terbit tahun 1849. Halaman demi halaman buku ini menyajikan pada anda tampilan indah seni kaligrafi.
    Sumber : National Library of Singapore

    Perkembangan berikutnya pada abad 17-20

    Pada tahap selanjutnya, kecenderungan tradisi menulis kaligrafi mengalami pergeseran dalam tataran pola. Dimulai dari abad ke 17, para seniman muslim keranjingan memasukkan huruf-huruf Arabdalam lukisan berbentuk hewan atau wujud manusia sebagaimana lazimanya para seniman Persia. Tipologi ini amat lekat dan mudah didapati pada lingkungan kraton seperti Cirebon, Yogjakarta, Surakarta dan Palembang.

    Sementara pada abad ke 18-20, tradisi penulisan kaligrafi tidak hanya tampak dan bersumber pada batu-batu nisan. Tapi Penulisannya telah bergeser dan mengambil ragam media seperti kertas, kayu, logam, kaca, dan lain-lain. Mushaf-mushaf al-Qur’an tua umumnya ditulis di atas kertas Deluang, yang oleh beberapa ahli jenis kertas ini dianggap mark Nusantara.

    Periode Kedua

    Pada periodisasi kedua, adalah angkatan orang-orang pesantren. Pengenalan huruf alphabet Arab yang dilakukan kyai kepada santri baru pada tahap memenuhi kebutuhan tulis-baca, belum sampai pada penekanan nilai-nilai estetisnya. Akan tetapi, keberanian dan kebanggaan menggunakan aksara Arab, terutama untuk gaya-gaya khat yang kubisme, telah tampak pada tulisan-tulisan yang tertera pada nisan-nisan kyai dan tokoh-tokoh agama. Hal ini menunjukan bahwa pada saat itu kaligrafi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, juga telah pula memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat dekoratif.

    Adapun mengenai penggunaan gaya khat yang cenderung estetis seperti naskh, tsuslus,dan faris, bisa digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan, baik berupa kitab-kitab fikih, tauhid, tasawuf, maupun mushaf al-Qur’an. Tradisi menulis mushaf ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama-ulama di pesantren klasik sejak abad ke-16. Langkah ini didorong oleh kelangkaan mushaf karena teknologi penggandaanya belum ditemukan. Sementara pasokan dari timur tengah juga dirasakan masih sangat kurang. Dengan atas dasar itulah muncul gairah dari kalangan pesantren untuk menuliskan al-Qur’an secara manual dengan kualifikasi tulisan yang sangat sederhana.

    Pelopor angkatan pesantren baru menunjukan sosoknya yang lebih nyata dalam kitab-kitab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Muhammad Was’i Abdul Razzaq, Yahya dan Rahmat Arifin, Abdul Razzaq Muhilli dan lain-lain.

    Ketika mengamati tradisi penulisan kaligrafi di interior masjid, akan ditemukan bukti bahwa media untuk mengekspresikan karya kaligrafi di pusat peribadatan tersebut tergolong masa moderen. Sebab, dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau bahka sama sekali tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad ke-16 yang asi dibuat pada zamannya. Kalaupun ada, biasanya menggunakan huruf Jawa seperti di masjid Mantingan Jepara dan Sendang Pacitan, Jawa Timur. Dengan hadirnya para kaligrafer di pesantren ini cukup mempersubur unsur hiasan masjid-masjid moderen yang baru dibangun. Adakalanya, penulisan kaligrafi itu sudah diprogram berbarengan dengan masa penyelesaian bangunan tersebut.

    Tiga Pola Pembinaan

    Pembinaan Pertama

    Secara umum, pengembangan kaligrafi di pesantren dapat dikategorikan dalam tiga pola pembinaan (Karlie, 2003). Pertama, mealui internalisasi materi kaligrafi dalam, kurikulum, intra-kurikuler. Modal ini mengakomodasi materi kaligrafi sebagai bagian integral dari proses belajar dan mengajar. Model ini dipraktekan di pesanren yang bernuansa moderen, seperti KMI Darusallam Gontor beserta seluruh afiliasinya. Meski tidak semua jenis khat dapat dikuasai, namun alumninya, paling tidak dapat menulis khat naskah dengan baik.

    Pembinaan Kedua

    Kedua, unternalisasi materi kaligrafi dalam format ekstra-kulikuler, untuk modal ini idealnya dibentuk wadah khusus yang menangani teknis pembinaan, seperti sanggar, asosiasi, dan lembaga independen lainnya. Ketiga, membangun model pesantren khusus kaligrafi. Dalam teknis pembinaan, pesantren seperti ini memberikan bahan ajar yang lebih filososfis, fokus dan mendalam sehingga santri benar-benar menguasai seluk-beluk kaligrafi, baik secara teoritis maupun praktis.

    Kemudian di tahun 1979, pada pameran lukisan Kalligrafi Nasional 1 berbarengan dengan MTQ XI di Semarang, telah menunjukan momentum awal yang menandakan babak baru seni kaligrafi Islam di Indonesia. Penampilan kaligrafi dalam bingkai seni-lukis tersebut seolah mengehntakan para seniman dan pemerhati kaligrafi. Pada giliranya, semangat memodifikasi kaligrafi murni dengan seni lukis tak lagi menjadi komoditas seniman out-sider, tetapi merasuki alam pikiran para kaligrafer yang sebelumnya tekun mempelajari rumus-rumus kaligrafi baku.

    Kemudian dengan masuknya kaligrafi dalam MTQ telah menjadi salah-satu modal dan basis potensi pengembangan seni kaligrafi Islam Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, meski baru mengambil bentuk eksibisi atau sayembara, ternyata sangat diminati oleh kalangan muda seperti contoh pada cabang kaligrafi MTQ XII 1981 di Aceh. Pada saat itu muncul gagasan agar cabang cabang dalam MTQ ditambha Musabaqah Khattil Qur’an atau lebih dikenal dengan singkatan MKQ.

    Pada pelaksanaan Festival Istiqlal I (1990) dan II (1995), diselenggarakan pula sayembara kaligrafi yang diikuti oleh ribuan peserta. Melihat tingginya animo masyarakat terhadap kaligrafi, maka festival ini mencanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi di seluruh Nusantara. Kemudian setelah itu sanggar-sanggar pembinaan kaligrafi bermunculan yang secara teknis dikawal oleh Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) Jakarta.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/11/resensi-film-muhammad-the-messenger-of-god/

    Lihat juga : https://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi_Islam

  • Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Danil Kasputra

    Muhammad:The Messenger of God, sebuah film yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga pertemuannya dengan pendeta Buhaira di usia 13 tahun. Majid Majidi berperan penting menyutradarai film ini. Majid Majidi tak sendiri, ia juga dibantu bintang-bintang film Iran yang beradu acting memerankan tokoh tokoh di seputar kehidupan Nabi. Mehdi Pakdel memerankan paman Nabi Abu Talib. Lalu Ali Reza Shoja Nouri berperan sebagai Abdul Muttalib kakek Nabi juga Sareh Bayat sebagai Halimah pengasuh Nabi.

    Sinopsis

    Pada bagian permulaan, alur film Muhammad: The Messenger of God maju terlebih dahulu mengisahkan para tetua kaum Quraisy bermusyarah menentukan langkah untuk menghentikan dakwah Nabi. Abu Sufyan sebagai salah satu tetua utama kaum Quraisy bertemu dengan Abu Talib (Paman Nabi). Dia mengancam Abu Talib bahwa kaum Quraisy tak segan untuk memboikot Bani Hasyim apabila tetap melindungi dakwah Nabi.

    Alur film kemudian mundur membawa anda pada masa awal kelahiran Nabi. Penduduk Mekkah sedang gempar. Raja Habasyah, Abrahah menyerang Mekkah. Dia berniat menghancurkan Kabah. Abdul Muttalib, tetua utama Mekkah pasrah dan menyerahkan Kabah kepada Tuhan pemiliknya. Pasukan Abrahah menyerbu Mekah tapi gajah-gajah pasukannya enggan bergerak. Lalu tak lama kemudian burung-burung ababil datang dan membawa batu batu panas menghujani pasukan Abrahah hingga seluruhnya tewas bertumbangan.

    Adegan film lalu mengisahkan kelahiran sang Nabi yang ditandai munculnya bintang terang. Orang-orang Yahudi dan Kristen di Syria melihat hal ini sebagai pertanda muncul Nabi Terakhir. Lalu film berlanjut pada kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Aminah binti Wahab, sang ibu yang kebingungan tidak adanya ASI, sebab Abu Lahab paman nabi sendiri enggan menetekkan ASI budaknya pada Nabi.

    Pada usia remaja Nabi, adegan menampilkan beliau sebagai seorang remaja yang sangat pengasih. Saat Nabi sedang menggembala. Ada seorang pria yang ingin membunuh anaknya hanya karena sang anak terlahir sebagai perempuan. Tradisi masyarakat saat itu adalah suatu aib memiliki anak perempuan. Nabi yang masih remaja amat pengasih dan penyayang mengendong bayi itu. Tak disangka setelahnya, kemarahan sang ayah sirna. Kemudian adegan pertemuan Nabi dengan pendeta Buhaira mengakhiri film.

    Ada beberapa adegan yang menampilkan karakter tokoh yang berlainan dengan sebagian besar pengetahuan kaum muslim tentang tokoh itu. Salah satunya karakter Abu Talib dan Abdul Mutallib digambarkan sebagai seorang penyembah agama hanif. Mereka berdua tidak pernah menyembah berhala.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan film ini. Pertama dari segi visual film ini tampil mirip film film Holywood. Tak perlu heran, Majid Majidi menggandeng sinemator dan penata musik Hollywood Vittorio Storaro dan Ar Rahman. Kedua latar setting tempat dan waktu film ini pun tampil sangat luar biasa. Kondisi Mekkah dan Madinah tampak terasa hidup dengan kostum dan pembuatan latar tempat kedua itu yang tampak nyata. Ketiga Film ini berusaha menampilkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat pengasih.

    Kekurangan

    Ada beberapa hal kontroversial yang mengakibatkan film ini kurang begitu disambut terutama bagi mayoritas pemeluk Muslim Sunni. Pertama, tokoh nabi Muhammad ditampilkan walaupun bagian muka dari nabi tidak pernah dimunculkan. Tapi hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan tradisi Islam Sunni agak ketat dalam penggambaran karakter nabi.

    Lihat: https://tareekh.my.id/2020/09/07/resensi-buku-sepoer-oeap-di-djawa-tempo-doeloe/

  • Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Danil Kasputra

    “Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam GANEFO. Sebuah olimpiade tandingan ciptaan Sukarno.”

    The Games of The New Emerging Forces (Ganefo) sebenarnya sebuah pesta olahraga yang luar biasa besar dan meriah. Ribuan atlet dari negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Sayangnya akibat konflik Indonesia dengan IOC (Komite Olimpiade Internasional) terkait masalah Taiwan dan Israel dalam Asian Games tahun 1962, IOC memarjinalkan pesta olahraga ini. Meski begitu, penyelenggaraan Ganefo tetap semarak dengan banyaknya rekor dunia dan nasional yang tercipta.

    Permulaan Penuh Tantangan

    Pada mulanya penyelenggaraan GANEFO banyak menimbulkan tantangan. Tantangan ini hadir terutama dalam IOC selaku dewan komite olimpiade internasional. IOC masih mempermasalahkan perlakuan Indonesia yang melarang delagasi atlet dari Israel dan Taiwan untuk ambil bagian dalam Asian Games Jakarta tahun sebelumnya. Alasan Indonesia karena simpati terhadap negara-negara Arab dan Tiongkok yang bermasalah dengan Israel dan Taiwan, tak mudah diterima oleh IOC. Akibatnya, sebagaimana ditulis Kobierrecki (2016:115) jurnalnya Sport as a Tool of Building Political Alliances: The Case of the Games of New emerging Forces (GANEFO) bahwa IOC akan mendiskualifikasi para atlet yang ikut bertanding dalam GANEFO.

    Tapi ini tidak menciutkan nyali Indonesia, Ganefo terus berjalan. Segala persiapan dilakukan. Meski, hampir 20% partisipan Indonesia atau China mengirimkan tidak lebih dari lima atau enam atlet. Negara-negara semacam Uni Soviet, Cekoslowakia, Polandia, Perancis dan Jerman Timur hanya mengirimkan atlet tak resmi tidak mencangkup atlet nomor wahid yang mereka miliki (Kobierrecki, 2016:115). Hal ini tentu saja akibat ketakutan turunnya sanksi IOC.

    Penyelenggaraan Semarak

    Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Benua Asia terwakili oleh Indonesia, China, Iraq, Filiphina, Laos, dll. Sementara Al Jazair, Mali, Republik Arab Bersatu (Nama Mesir hingga tahun 1971), serta Tunisia mewakili Benua Afrika. Negara-negara Amerika Latin seperti Argentina, Brazil, Uruguay, juga ikut turut serta. Para peserta dari Benua Eropa sebagian besar berasal dari negeri negeri Sosialis seperti Uni Soviet, Polandia, Bulgaria, dll.

    Ganefo Jakarta 1963
    Keberangkatan delegasi China menuju Indonesia untuk ambil bagian dalam pesta olahraga GANEFO di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Pada tanggal 10 November 1963 bertepatan dengan hari pahlawan di Indonesia, Presiden Sukarno resmi membuka pesta olahraga The Games of The New Emerging Forces yang pertama di Jakarta. Nyali api olimpiade menandai permulaan dari event ini. Tentu saja ribuan orang memadati Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno yang baru saja selesai pembangunanya dua tahun lalu. Puluhan bendera negara-negara peserta pesta olahraga ini juga berkibar mewarnai semaraknya pesta akbar ini.

    Ganefo Jakarta 1963
    Presiden Sukarno dalam pembukaan Ganefo pertama di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Penyalaan api GANEFO sebagai simbol telah dimulainya pesta olahraga ini.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Opening Ceremony.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Suasana meriah di sekitar kompleks olahraga Gelora Bung Karno. Ramai dengan kerumunan manusia juga semarak warna-warni negara-negara peserta GANEFO.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Rekor-rekor

    Meskipun sempat mengalami intimidasi dari IOC, penyelenggaraan GANEFO tetap meriah. Rekor-rekor dunia banyak tercipta. Menurut buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963, Republik Rakyat China dan Republik Demokratik Korean mendominasi event ini dengan lima rekor dunia baru. Rekor-rekor itu tercipta pada trek, lapangan, angkat besi dan panahan. Lebih keren lagi, Sim Kim Dan dari Korea Utara memecahkan dua rekor dunia lari wanita 400 m dan 800 m. Republik Rakyat China juga mampu menciptakan 60 rekor nasional pada menembak, panahan, angkat besi, lari tek dan lapangan.

    Ganefo Jakarta 1963
    Pebalap Sepeda China, Sung Hsi-Yun memimpin kejuaraan wanita perseorangan 45 km dengan waktu tempuh 1 jam 29 menit 12 detik.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Sim Kim Dan, Atlet lari wanita Korea Utara yang mampu menciptakan rekor dunia baru dalam lari jarak 400 m kategori wanita.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sedang bertanding melawan Tim Nasional Republik Rakyat China di Stadion Gelora Bung Karno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Seorang Fotographer Indonesia
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Persaudaraan antar Bangsa

    Pelaksanaan Ganefo juga tidak hanya sekedar kompetisi olahraga di antara negara-negara pesertanya. Tapi jauh dari itu semua, event ini berupaya untuk mempererat hubungan persahabatan dan keakraban di antara semua bangsa. Bahkan buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963 yang diterbitkan oleh Republik Rakyat China menegaskan perlunya solidaritas bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dalam menentang imperialisme lama dan baru. Tak heran poster-poster GANEFO banyak memberikan gambaran pada hal itu. Lalu selama jalannya penyelenggaraan kita juga banyak disuguhkan pemandangan keakraban dan kedekatan diantara para atlet dari berbagai negara.

    Ganefo Jakarta 1963
    Poster resmi penyelenggaraan GANEFO. Ikatan rantai terputus menyimbolkan dunia yang telah bebas dari imperialisme. Sementara slogan pantang mundur (Onward, No Retreat!) mewakili kehendak umum para negara peserta sebagaimana diucapkan oleh Presiden Sukarno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Delegasi Atlet Republik Arab Bersatu (Mesir) sedang benyanyi disaksikan oleh delegasi atlet Indonesia dan Republik Rakyat China.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tempat ternyaman dalam menyaksikan adu balap sepeda.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Akhir Penyelenggaraan

    22 november 1963 mengakhiri dua belas hari gelaran pesta olahraga The Games of New Emerging Forces (GANEFO). Tiongkok muncul sebagai juara umum. Uni Soviet dan Republik Arab Bersatu (Mesir) menyusul di tempat kedua dan ketiga. Sementara tuan rumah Indonesia menempati posisi keempat. Presiden Soekarno mewakili Indonesia selaku tuan rumah didaulat menutup event ini. Rencananya Republik Arab Bersatu (Mesir) akan menyelenggarakan GANEFO berikutnya tahun 1967 dengan bertindak sebagai tuan rumah.

    Ganefo Jakarta 1963
    Acara closing ceremony di Gelora Bung Karno 22 November 1963.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
  • Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Danil Kasputra

    Judul Buku : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doloe

    Penulis : olivier Johannes Raap

    Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

    Tahun : 2017

    Kota : Jakarta

    Tebal : 271 hlm

    Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe menjadi bahasan minggu ini. Sebuah karya dari seorang Belanda lulusan Universitas Delft bernama Olivier Johannes Raap. Raap bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ambil bagian sebagai pihak penerbit dan distributor buku ini. Perlu diketahui sejatinya Raap bukanlah seorang sejarawan serta bukan pula seorang yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan Sejarah. Latar belakang pendidikannya di Universitas Delft pun adalah arsitektur. Namun Raap mampu menciptakan sebuah karya sejarah yang unik tapi juga didasarkan pada studi yang serius. Mengandalkan kegemarannya mengoleksi kartu pos kuno, Raap mampu menyusun sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dalam tampilan koleksi kartu pos kuno.

    Sinopsis

    Buku Sepoer di Jawa Tempoe Doeloe berupaya membawa kita menelusuri sejarah panjang perkembangan kereta api di Indonesia melalui media kartu pos kuno. Kartu-kartu pos ini banyak menampilkan wajah kereta api Indonesia tempo dulu. Raap sebagai penulis buku ini kemudian menyusun kumpulan kartu pos kuno itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 17 bab. Setiap bab berisi sejarah perkembangan kereta api di berbagai daerah di Jawa misalnya bab 1 dengan judul Titik Awal: Lintas NIS Semarang-Yogyakarta/Ambarawa, bab ini menjelaskan awal mula kemunculan kereta api di Indonesia.Pada bagian isi setiap bab itu, Raap menyajikan gambar kartu pos, keterangan, beserta penjelasan singkat mengenai objek-objek yang dalam kartu pos itu.

    Sebuah contoh dari kartu pos bergambar Stasiun Bandung Lama. Terdapat keterangan pembuatan tahun kartu pos (1907). Lalu keterangan lokasi menunjukan Stasiun Bandung beserta G Kolff dan Co Bandoeng sebagai penerbitnya. Raap lalu menambahkan sebuah penjelasan bahwa Stasiun Bandung pertama dibuka tahun 1884. Stasiun ini juga memiliki arsitektur yang khas. Bangunan ini terdiri atas bagian muka yang menghadap ke selatan dan dua sayap di sebelah kiri dan kananya. Begitulah seterusnya hingga halaman berikutnya setiap kartu pos yang tampil tak luput dari penjelasan.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan buku ini. Pertama buku ini tampil dalam balutan sederhana tapi dilakukan dengan studi yang serius. Hal ini terlihat uraian-uraian telah dipaparkan Raap dalam setiap penjelasan kartu posnya. Daftar pustaka yang telah ia lampirkan seperti buku-buku karya Reitsma S.A, DJ Stam hingga kuncen Bandung Haryoto Kunto di bagian akhir telah memperkuat hal itu. Kedua, cara penulis menampilkan sejarah dalam bingkai kartu pos kuno patut menjadi diapresiasi. Raap mampu menjadikan sebuah kisah sejarah hidup, mengajak para pembacanya untuk berimajinasi lebih dalam serta enak dipandang.

    Kekurangan

    Kekurangan buku ini ialah ketiadaan in-note dalam setiap penjelasan yang penulis sampaikan. Memang pada bagian akhir penulis melampirkan daftar pustaka. Tapi pada bagian penjelasan penulis jarang merujuk pada apa yang dia gunakan. Tapi tidak berarti buku ini tidak layak, buku ini sangat layak untuk dibaca sebab akan memberikan anda sebuah perspektif baru dalam memahami sejarah.