Blog

  • Jalan Nagreg, Dari Jalanan Sepi hingga Jadi Simpul Kemacetan Lebaran

    Jalan Nagreg, Dari Jalanan Sepi hingga Jadi Simpul Kemacetan Lebaran

    “Meskipun lebih dikenal sebagai jalur super sibuk saat lebarang. Nyatanya sejarah Nagreg merentang jauh hingga ke masa awal Hindu-Buddha di abad ke 6 dan 7.”

    Pada Kamis (6/7/2023), sebuah truk bermuatan pakan ayam mengalami nasib yang tidak mengenakkan di Jalur Cagak Nagreg, Kabupaten Bandung.

    Dalam kejadian yang mengejutkan ini, truk tersebut menabrak tiang listrik dan sebuah warung, hingga akhirnya terguling di tengah jalan.

    Dampaknya begitu dahsyat sehingga jalan Nagreg pun sementara waktu ditutup.

    Tapi tulisan ini tidak akan berpusat pada kejadian itu. 

    Anggap saja kejadian itu sebagai pembuka cerita inti kita sekaligus jadi ajang pembelajaran bagi kita semua untuk tetap berhati hati dalam mengemudi. 

    Mari kita menapaki sekilas sejarah jalan Nagreg yang lumayan legendaris ini. 

    Dibangun Masa Daendels

    Ruas jalan atau simpang jalan Nagreg pertama kali dibangun pada tahun 1808 oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

    Dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan infrastruktur yang memadai guna mendukung distribusi, informasi, mobilitas militer, pos, barang, jasa, dan pertahanan antar kota-kota di Priangan Timur.

    Sejak awal, Jalur Nagreg memiliki daya tarik yang tak terbantahkan.

    Simpangan lajur ikonik dengan pohon-pohon besar di tengahnya menjadi ciri khas jalan ini.

    Jalur tersebut terbagi menjadi dua arah, dengan jalur kanan menuju Garut kota dan jalur kiri menuju Limbangan Garut yang kemudian berlanjut ke Tasikmalaya dan sekitarnya.

    Keberadaan Jalur Nagreg telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan kawasan Priangan.

    Selain itu pemandangan sekitarnya yang asri berupa perbukitan dan hutan yang menghiasi sekitarnya menjadikan banyak orang Belanda terpesona dengan kawasan ini.

    Terlebih lagi, jalur ini juga dikelilingi oleh perkebunan teh yang menambah keindahan alamnya.

    Simpang Nagreg yang cukup legendaris. (Geheugen.delphers).
    Seorang pengemudi motor di Jalan Nagreg tahun 1910 (KITLV).
    Jalan menuju Nagreg di dekat Kandungora, Garut (KITLV).

    Ada Kerajaan Kuno

    Temuan mahkota kuno di situs Kerajaan Kendan, Nagreg.

    Apabila ditelusuri riwayat sejarahnya, keberadaan Nagreg telah membentang cukup lama hingga ke masa awal Hindu-Buddha. 

    Pernah ada sebuah kerajaan yang berdiri tegak di kawasan ini dari abad ke-6 hingga abad ke-7 Masehi.

    Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Kendan, dengan pusat kekuasaannya yang terletak di wilayah administratif Desa Nagreg Kendan dan Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

    Sang penguasa pertama Kerajaan Kendan adalah Maha Guru Manikmaya, seorang sosok yang memancarkan aura kebijaksanaan.

    Ia berasal dari Calankayana, sebuah kawasan di India Selatan.

    Sebelum menemukan takhtanya di Kendan, ia menjelajahi berbagai negara, memperkaya pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

    Jejaknya membawanya mengunjungi tanah-tanah yang jauh, seperti Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Bali, Syangka, Cina, dan tempat-tempat lain yang misterius.

    Takdir membawa Manikmaya untuk menemukan cinta sejatinya, Tirtakancana, putri dari Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535–561 M).

    Pernikahan mereka menjadi ikatan yang tak terpisahkan antara Kendan dan Tarumanagara, membawa kekayaan dan kehormatan kepada kedua kerajaan tersebut.

    Sebagai hadiah pernikahan, Manikmaya diberikan daerah Kendan yang kini menjadi Nagreg, Bandung, lengkap dengan rakyat setianya dan pasukan perkasa yang siap menjaga kerajaan.

    Kerajaan Kendan adalah sebuah jalinan sejarah yang mempesona, di mana kebijaksanaan sang Maha Guru Manikmaya dan keelokan Tirtakancana menyatu dalam kehidupan masyarakat.

    Nagreg, dengan keindahan alamnya dan pesona budayanya, menjadi saksi bisu dari kemegahan kerajaan tersebut.

    Meskipun hanya meninggalkan jejak yang terpendam dalam sejarah, Kerajaan Kendan tetap menjadi bagian yang mengagumkan dari warisan budaya Tatar Sunda.

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Teori Gujarat: Menelusuri Proses Islamisasi di Indonesia

    Teori Gujarat: Menelusuri Proses Islamisasi di Indonesia

    “Menurut teori ini, Islam pertama kali tiba di wilayah Indonesia pada abad ke-13 M melalui pedagang Muslim dari India, khususnya Gujarat.”

    Tiada yang tahu secara pasti kapan dan oleh siapa agama Islam pertama kali di bawa ke Kepulauan Indonesia. 

    Dokumen dan catatan yang ada tidak pernah mampu mengungkap secara jelas terkait proses itu.

    Hal ini lantas memicu para ahli untuk mengeluarkan beragam teori tentang proses Islamisasi di Indonesia. 

    Ada empat teori yang selama ini dikenal yaitu Teori Gujarat, Teori Persia, Teori Arab dan Teori China. 

    Teori Gujarat

    Pendapat tentang teori masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat merupakan salah satu pendekatan yang menarik dalam memahami sejarah agama Islam di Nusantara. 

    Menurut teori ini, Islam pertama kali tiba di wilayah Indonesia pada abad ke-13 M melalui pedagang Muslim dari India, khususnya Gujarat.

    Pijnappel dari Universitas Leiden merupakan salah satu sarjana yang mendukung teori ini. 

    Dia berpendapat bahwa Islam berasal dari Gujarat dan Malabar di India. 

    Menurutnya, mazhab Syafi’i dari orang Arab kemudian bermigrasi ke India, dan orang-orang India inilah yang membawa agama Islam ke Indonesia.

    Pendapat Pijnappel ini juga ditegaskan oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya yang berjudul ‘L’Arabie et Les Indes Neelandaises atau Reveu de I’Histoire des Religious’. 

    Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hubungan dagang antara Indonesia dan India telah terjalin sejak lama, dan adanya inskripsi tertua tentang Islam di Sumatera menunjukkan adanya hubungan antara Sumatera dengan Gujarat.

    BACA JUGA: 

    Bukti Teori Gujarat

    Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik salah satu artefak yang dijadikan bukti Teori Gujarat (Tropenmuseum.nl)

    Selain itu, teori Gujarat juga didukung oleh Moquette, yang menyatakan bahwa agama Islam di Indonesia berasal dari Gujarat berdasarkan penemuan artefak berupa batu nisan di Pasai, wilayah utara Sumatera pada tahun 1428 M. 

    Batu nisan ini memiliki kemiripan dengan batu nisan yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur, serta bentuknya serupa dengan batu nisan di Cambay, Gujarat, India.

    Teori masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat ini memberikan gambaran tentang pentingnya hubungan dagang dan kontak budaya antara wilayah Indonesia dan India pada masa lampau. 

    Pedagang Muslim dari Gujarat dapat dipandang sebagai agen perubahan sosial dan agama yang membawa agama Islam ke wilayah Nusantara. 

    Selain itu, teori ini juga menyoroti pluralitas agama dan pengaruh lintas budaya yang memainkan peran penting dalam perkembangan Islam di Indonesia.

    Secara keseluruhan, teori masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat menawarkan perspektif menarik dalam memahami sejarah agama Islam di Nusantara. 

    Dengan mengacu pada bukti-bukti arkeologi dan penelitian sejarah, teori ini memberikan pandangan yang kaya tentang saling keterkaitan antara Indonesia dan India serta pengaruhnya terhadap perkembangan Islam di wilayah ini.

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Dari Masjid Satu Juta Gulden ke Masjid Satu Triliun: Kisah Dua Pembangunan Masjid Kontroversial di Bandung

    Dari Masjid Satu Juta Gulden ke Masjid Satu Triliun: Kisah Dua Pembangunan Masjid Kontroversial di Bandung

    “Kasus Masjid Raya Al-Jabbar yang menuai pro dan kontra ini mirip dengan wacana pendirian masjid besar nan megah di Bandung pada tahun 1920-an yang diusulkan oleh Bupati Bandung saat itu, R.A.A Wiranatakusumah.”

    Setelah diresmikan di akhir tahun 2022 oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Masjid Raya Al-Jabbar yang terletak di kecamatan Gedebage Bandung menjadi tujuan bagi banyak orang yang datang dari dalam dan luar Bandung.

    Masjid ini mendapat banyak pujian atas kemegahannya dan keindahannya. Keeksotikan masjid ini semakin meningkat dengan adanya danau retensi yang mengelilinginya.

    Namun, ada juga yang mengkritik keras keberadaan masjid ini dan menganggapnya sangat tidak berfaedah.

    Mereka berasalan anggaran pembangunan masjid sebesar 1 triliun rupiah seharusnya dialokasikan untuk pengembangan sektor pendidikan dan pengurangan angka kemiskinan di Jawa Barat.

    Sementara yang lainnya menilai jumlah masjid di kota Bandung sudah lebih dari cukup.

    Kasus Masjid Raya Al-Jabbar yang menuai pro dan kontra ini mirip dengan wacana pendirian masjid besar nan megah di Bandung pada tahun 1920-an yang diusulkan oleh Bupati Bandung saat itu, R.A.A Wiranatakusumah.

    Masjid Satu Juta Gulden

    Wiranatakusumah, Bupati Bandung yang memimpikan pendirian Masjid megah serupa Hagia Sophia di Bandung. (Id.wikipedia.org).

    Menurut Harian Indische Courant yang terbit pada bulan Juli dan Agustus 1925, Wiranatakusumah yang sedang menjabat Bupati Bandung saat itu memimpikan Bandung punya sebuah masjid yang eksotis sebagaimana masjid-masjid di Jawa (Jawa Tengah dan Timur).

    Wiranatakusumah yang serius dengan mimpinya itu meminta arsitek kenamaan Belanda, W.C.P Schoemaker, membuat rancangan desain awal masjid itu.

    Wiranatakusumah juga meminta pada Schoemaker supaya desain masjid itu seindah dan semegah Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki. W.C.P Schoemaker pun mengiyakannya. 

    Tak butuh waktu lama rancangan desain awal masjidnya Wiranatakusumah selesai.

    Desainnya sangat megah sebagaimana keinginannya Wiranatakusumah. Masjid ini bisa menampung 5000 jamaah dengan sebuah menara setinggi 6 meter.

    Menuai Protes dan Gagal

    Namun, rencana pembangunan masjid megah ini segera menuai beragam protes.

    Serupa dengan kasus Masjid Raya Al-Jabbar, protes pembangunan masjid ini bermula dari alokasi dana pembangunannya yang mencapai angka satu juta gulden.

    Angka itu dinilai terlalu kemahalan.

    Surat Kabar Indische Courant yang terbit pada 3 September 1925 menilai masjid-masjid yang ada di Bandung tidak kalah megah dan eksotik apabila dibandingkan dengan masjid-masjid di Jawa (Jawa Tengah dan Timur). Alangkah lebih baiknya dana satu juta gulden itu digunakan untuk membangun beragam fasilitas pendidikan dan rumah sakit.

    Harian Het Vaderland yang terbit pada tanggal 25 September 1925 juga ikut-ikutan mengkritik ide Wiranatakusumah dinilai cuma buang-buang uang.

    Mereka juga sama berasalan uang sebanyak itu baiknya digunakan untuk mengirim orang-orang pribumi terpelajar ke negara-negara Barat dan Jepang.

    Karena menuai protes yang hebat dari masyarakat, Bupati Bandung Wiranatakusumah lantas memilih membatalkan niatnya itu. Sehingga, masjid dengan biaya satu juta gulden tersebut tidak pernah dibangun. 

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • “Ilmoe Pembela Orang Sakit” Buku Tentang Bagaimana Merawat Orang yang Sakit (1938)

    “Ilmoe Pembela Orang Sakit” Buku Tentang Bagaimana Merawat Orang yang Sakit (1938)

    Karya antik berjudul ‘Ilmoe Pembela Orang Sakit’ merupakan salah satu referensi penting tentang instruksi perawatan pasien di masa Hindia Belanda. Ditulis oleh seorang dokter bernama dr Stokvis Cohen Stuart, buku yang beredar secara umum adalah cetakan ketiga yang diterbitkan pada 1938. Referensi perawatan ini menjawab tantangan zaman di masa Hindia Belanda. Sebagaimana diketahui di awal abad ke-20, Gubernur Jendral Hindia Belanda mendorong Pendidikan bagi para perawat atau yang mereka sebut sebagai mantri.  Akibat berkembangnya Pendidikan untuk mantri, ujian-ujian untuk kelulusan bagi para mantri menjadi sesuatu yang umum terjadi. Oleh karena itu referensi untuk ujian para mantri menjadi salah satu hal yang wajib dimiliki bagi para mantri. Dengan latar belakang ini, dr Stokvis Menyusun referensi yang bisa digunakan para mantri baik ketika menempuh Pendidikan maupun saat bekerja. Kemunculan referensi secara ilmiah tentang perawatan ini juga nampak didorong oleh implementasi politik etis dari Hindia Belanda di awal abad ke-20 dan juga berdirinya sekolah dokter STOVIA.               Awal abad ke-20 menjadi saksi bagi kebijakan Hindia Belanda yang “ramah” pribumi. (Niel, 1958) Di tahun 1904 Gubernur Jendral Idenburg menginginkan keterangan lanjutan untuk ketidaksejahteraan masyarakat Hindia Belanda di berbagai aspek termasuk pula Pendidikan, pengairan hingga perpindahan penduduk. (Ricklefs, 2008) Oleh karenanya, Pendidikan juga menjadi salah satu elemen penting, termasuk Pendidikan bagi perawat. Oleh karenanya, dr Stokvis Menyusun buku penting dalam referensi dunia perawatan. 
    Figure 1. Grafik yang menunjukkan angka pasien dalam 30 tahun sejak 1890-1920. dikutip dari Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market.
    Dengan grafik ini, kita melihat perkembangan angka yang sangat signifikan dari kedatangan pasien untuk berobat di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Sehingga mendorong Pendidikan bagi para perawat untuk membantu dokter-dokter yang bertugas di abad tersebut. (Hesselink, 2011) Dengan dua latar belakang tersebut, dr Stokvis menyusun referensi bagi Pendidikan keperawatan ini. Read More:

    Isi Buku

    Dengan grafik ini, kita melihat perkembangan angka yang sangat signifikan dari kedatangan pasien untuk berobat di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Sehingga mendorong Pendidikan bagi para perawat untuk membantu dokter-dokter yang bertugas di abad tersebut. (Hesselink, 2011) Dengan dua latar belakang tersebut, dr Stokvis menyusun referensi bagi Pendidikan keperawatan ini.               Di dalam buku ini, dr Stokvis membahas beberapa hal dasar tentang keperawatan. Pertama adalah anatomi tubuh manusia yang melibatkan diskusi tentang susunan tulang manusia, organ-organ tubuh manusia hingga pembahasan tentang system syaraf. Lalu pada bagian kedua membahas ciri-ciri umum yang dapat dikenali dari pasien yang sakit. Misalnya, dr Stokvis membahas bagaimana ciri wajah dari orang-orang yang sakit hingga analisis tentang nafsu makan dan minum dari seorang pasien. Lalu bagian selanjutnya membahas secara rinci tentang penyakit-penyakit tertentu dan bagaimana cara penanganannya. (Stuart, 1938) Berikut adalah salah satu contoh pembahasan yang ada di dalam karya dr Stokvis;
    Figure 2 Ilustrasi sel. Dikutip dari dr Stokvis Cohen, Ilmoe Pembela Orang Sakit

    Gambar di atas merupakan salah satu contoh pembahasan dalam karya Stokvis di bagian pertama yang mendiskusikan tentang sel dan anatomi tubuh manusia, suatu pembahasan yang juga dipelajari di sekolah-sekolah modern. Dari pembahasan-pembahasan dr Stokvis, nampak bahwa referensi keperawatan pada awal abad ke-20 cukup lengkap dan jelas membantu dalam memperluas pengetahuan perawat pada masa ini.

    Kesimpulan

    Sebagai kesimpulan, referensi berjudul “ilmoe pembela orang sakit” merupakan salah satu referensi penting bagi Pendidikan keperawatan paling awal di masa Hindia Belanda. Didorong oleh kebijakan politik etis dan reformasi STOVIA, kebutuhan akan perawat dan Pendidikan keperawatan meningkat dan melatarbelakangi penyusunan buku ini. Membahas tiga diskusi penting dalam dunia keperawatan, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa karya Stokvis ini merupakan salah satu referensi tentang Kesehatan dan keperawatan yang lengkap, terutama di masa nya.

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • Review Buku Poetry and the Police (Communication Networks in Eighteenth century Paris) karya Robert Darnton.

    Review Buku Poetry and the Police (Communication Networks in Eighteenth century Paris) karya Robert Darnton.

    Memasuki abad ke-21, komunikasi menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia modern yang melibatkan keputusan politik, kegiatan ekonomi bahkan juga sekedar hiburan. Keterkaitan komunikasi dengan berbagai elemen tersebut nampaknya tidak terjadi begitu saja.

     Ia memiliki kaitan erat dengan masa lalu dan perkembangan
    teknologi. Semakin canggih teknologi, maka semakin canggih pula bentuk komunikasi yang ada. 

    Dengan begitu, cara orang-orang berkomunikasi dengan yang lain berevolusi seiring majunya teknologi. Contohnya adalah munculnya sosial media yang menjadi sebuah wadah komunikasi di abad milenial. 

    Akan tetapi, bentuk-bentuk komunikasi baru ini sebenarnya
    menghasilkan apa yang disebut oleh Robert Darnton sebagai ilusi kesadaran masa lalu.  Untuk melihat argumennya mengenai komunikasi, nampaknya buku Poetry and the Police menjadi salah satu judul yang wajib dilirik.

    Buku ini memotret sejarah komunikasi jauh di masa Perancis abad ke-18 dalam perspektif oralitas. Menurut Darnton, di abad ke-18 orang-orang memiliki puisi sebagai cara berkomunikasi secara sosial. 

    Secara fungsi, dalam beberapa kasus puisi-puisi dapat menjadi sebuah saluran untuk menyinggung pemerintah, berita-berita palsu dan juga memproduksi ujaran kebencian, sesuatu yang masih kita temukan hingga hari ini. 

    Hal ini mendorong terjadinya investigasi penuh terkait isu ini yang melibatkan polisi, aparatur pemerintahan, dan bahkan para rabi gereja.

    Karena investigasi ini, dokumen melimpah terkait isu media sosial Perancis di abad ke-18 ini melimpah dan bahkan bertahan hingga lebih dari 200 tahun setelahnya.

    BACA JUGA:

    Darnton mengemukakan bahwa sebelum abad ke-19, polisi di Perancis menggunakan kewenangannya untuk menekan bahkan menangkap orang-orang ketika rakyat menghina raja
    mereka sebagai “monster”. Karena ancaman penangkapan oleh polisi ini, rakyat mengekspresikan kejahatan raja dengan cara membuat puisi satir. Ini menjadi sebuah era baru
    satirisme di Perancis. 

    Lebih jauh lagi, puisi-puisi ini menyebar ke masyarakat tanpa pengarang, dibacakan dan diteriakkan dimana-mana dan oleh siapapun sebagai ‘hinaan’ kepada istana yang tidak stabil. Sejak saat itu, tradisi puisi menjadi elemen penting dalam sejarah komunikasi di Perancis.
    Secara singkat, buku ini layak dibaca karena ia berhasil memperlihatkan element paling penting dalam mengungkap jaringan-jaringan komunikasi Perancis di abad ke-18. Sang
    penulis mengungkap sejarah komunikasi dengan cara yang berbeda.

    Menggunakan sumber lisan dari orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu, buku ini layak menjadi salah satu judul buku sejarah yang menarik untuk ditelaah. Karena sangat tidak mungkin mengandalkan manusia hidup untuk mengungkap kejadian ratusan tahun lalu, Robert Darnton menggunakan
    catatan-catatan kriminal terkait penangkapan-penangkapan orang-orang-orang yang diduga terlibat kasus-kasus puisi satir. 

    Meskipun catatan-catatan investigasi yang dilakukan polisi,
    aparatur negara dan rabi gereja di abad tersebut berkaitan dengan stabilitas politik, nampak

     

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • DE JAVASCHE COURANT: Bagaimana Surat Kabar Menjadi Corong Kepentingan Penguasa

    DE JAVASCHE COURANT: Bagaimana Surat Kabar Menjadi Corong Kepentingan Penguasa

    “De Javasche Courant memiliki tugas penting untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan penguasa Hindia Belanda pada masa tersebut.”

    Javasche Courant menandai satu zaman menarik dari sejarah media public pada periode Hindia belanda. Diterbitkan pada tahun 1828, koran ini cukup menarik karena menjadi salah satu representasi koran yang disebut sebagai koran putih. Dengan kata lain, koran ini dimiliki oleh orang-orang berkulit putih yang pada konteks sejarah Nusantara adalah orang-orang Belanda. Memiliki tempat penerbitan di Jakarta, koran ini memuat kabar-kabar resmi pemerintahan Hindia Belanda. Artinya, koran ini memiliki tugas penting untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan penguasa Hindia Belanda pada masa tersebut.

    Pada gambar di atas, kita melihat halaman depan koran yang memiliki lambang kerajaan Belanda di bagian atas. Lalu dilanjutkan oleh berita-berita resmi yang ditulis untuk kebutuhan pemerintahan. Misalnya pada 18 Maret 1828, koran ini memberikan informasi kepada pembacanya tentang Besluit atau peraturan pemerintah yang berlaku. Peraturan yang dimuat di Javasche Courant ini mengatur tentang pembagian daerah Batavia menjadi 6 distrik. Yang pertama adalah distrik Utara, lalu Selatan, timur, Barat, Tenggara dan terakhir adalah perkampungan Cina.  

    Baca Juga:

    Menariknya, berita-berita yang disajikan di Javasche Courant ini juga ditulis langsung oleh orang-orang penting di pemerintahan Hindia Belanda. Contohnya, pada berita di akhir tahun 1828 tepatnya pada 2 Desember, berita pertama menjelaskan kepada pembaca tentang laporan terkini dari Perang Jawa yang masih berkecamuk sejak tiga tahun sebelumnya. Dalam berita tersebut, Letnan yang bertanggung jawab terhadap pasukan-pasukan perang untuk Perang Jawa melawan Pangeran Diponegoro, menjelaskan secara rinci tentang pengasingan Kiai Maja ke Salatiga sebelum akhirnya diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara kepada Gubernur Jendral yang menjabat pada masa tersebut.

    Selain berita-berita resmi kerajaan, Javasche Courant juga memiliki berita-berita lain. Misalnya adalah informasi-informasi tentang pelelangan negara. Di tahun 1929, koran ini menginformasikan pelelangan perkebunan teh pasca meninggalnya salah satu tokoh pejabat Hindia Belanda pada masa tersebut. Selain informasi pelelangan dengan skala besar, koran ini juga menginformasikan beberapa pelelangan yang lebih kecil skala dan harga barangnya.

    Di samping dua informasi yang mendominasi koran ini, ada dua konten menarik yang juga disajikan oleh Javasche Courant. Pertama adalah iklan dan yang kedua adalah kutipan dari berita-berita Eropa.

    Dua gambar di atas merupakan ilustrasi dari berita yang dikutip dari Portugal dan juga iklan dari barang-barang yang dipromosikan di Hindia Belanda. Dari dua ilustrasi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa di samping berita-berita kenegaraan yang bersifat politik dan juga pelelangan yang berkaitan erat dengan bisnis negara, adapula periklanan dan berita kutipan dari tanah Eropa pada harian Javasche Courant.

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia

    Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia

    “Kolonialisme Inggris memang tidak berlangsung lama, namun warisan mereka masih dengan mudah kita jumpai dan lihat” KALAU orang membicarakan masalah kolonialisme di Indonesia, ingatan orang Indonesia pasti akan tertuju kepada Belanda. Sebab Kolonialisme Belanda-lah yang paling lama bercokol di Bumi Nusantara ini. Hingga menciptakan mitos 350 tahun penjajahan Belanda.  Padahal mah boro-boro 350 tahun Aceh, Bali dan sebagian wilayah Tapanuli saja baru takluk di tahun 1904 dan 1908. Klo Batavia yang kita kenal sekarang sebagai Jakarta bisa jadi tapi klo diitung itung pun tidak sampe 350 tahun.  Belum lagi melimpahnya warisan Belanda dari mulai gedung-gedung, rumah sakit, jalan raya hingga sarana jalur kereta api. Semakin kuatlah ingatan orang kita akan kolonialisme Belanda. Padahal andai kita sejenak mau merunut kebelakang, ada Inggris yang juga pernah menanamkan benih kolonialisme mereka di Indonesia. Kolonialisme Inggris sempat bercokol di beberapa daerah di Indonesia sebut saja Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Jawa dan Bengkulu serta sebagian Maluku.  Wilayah yang disebutkan kedua terakhir yakni Bengkulu bahkan lebih lama mengalami kolonialisme Inggris dibanding Belanda. Terkecuali di Bengkulu memang periode kolonialisme Inggris di beberapa wilayah itu sangat singkat.  Namun demikian warisan dari kolonialisme Inggris disana masih meninggalkan bekas-bekas yang masih bisa dengan kita lihat dan rasakan hingga hari ini. Apa saja warisan-warisan kolonialisme Inggris di Indonesia itu? Tulisan ini akan menampilkan pada anda berbagai macam warisan Inggris di indonesia.

    Benteng Fort Marlborough

    Benteng Marlborough di Bengkulu, Warisan Inggris di Indonesia
    Benteng Marlborough di Bengkulu
    Warisan pertama kolonialisme Inggris berada di Kota Bengkulu. Sebagaimana telah kita sebut, Bengkulu lebih lama mengalama kolinialisme Inggris ketimbang Belanda dibanding daerah lain di Indonesia. Boleh dikata Bengkulu adalah salah post pertama Inggris di Asia.  Inggris tiba di Bengkulu sejak tahun 1685. Untuk melindungi post dagang mereka di Bengkulu berdirilah perbentengan bernama Fort Marlborugh di tahun 1714. Benteng ini terletak di atas sebuah bukit buatan menghadap ke arah pusat kota Bengkulu. Benteng Marlborough sempat mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan. Dimulai dari jatuhnya benteng ini ke tangan Belanda yang sekaligus menandai berakhirnya kolonialisme Inggris di tahun 1824, Penguasa Pemerintah Pendudukan Jepang selama Perang Dunia II hingga menjadi cagar budaya di tahun 1977 sampai saat ini. Baca juga:

    Bunga Rafflesia Arnoldi

    Bunga Rafflesia Arnoldi, Warisan Inggris di Indonesia
    Orang Belanda sedang menyaksikan Orang Banda di Maluku bermain Sepak Takraw
    Warisan Inggris lainnya di Bengkulu ialah Bunga Bangkai Rafflesia Arnoldi. Tentang Bunga Bangkai ini rasanya semua orang pasti mengetahuinya sebab Bunga Bangkai Rafflesia Arnoldi ini banyak sekali dibahas di dalam kurikullum sekolah. Hanya saja mungkin tidak semua orang tahu bahwa orang Inggris lah yang pertama kali menemukan bunga ini.  Nama Rafflesia Arnoldi adalah nama perpaduan antara Raffles atau kita kenal Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Bengkulu saat itu bersama salah seorang ilmuwan yang mengikuti ekspedisinya, Dr. Joseph Arnold. Maka jadilah nama bunga itu Rafflesia Arnoldi. Uniknya bunga ini termasuk salah satu bunga terbesar di dunia. Tingginya saat sedang mekar bisa mencapai satu meter lebih dengan bobot kurang lebih 10 kilogram. Bisa dibayangkan betapa besarnya bunga Rafflesia ini.  Kini bunga ini telah menjadi salah ikon Provinsi Bengkulu sekaligus ikon nasional. Apalagi tumbuhan ini termasuk ke dalam tumbuhan endemik yang hanya bisa ditemukan di hutan hujan tropis Sumatra.

    Kebun Raya Bogor

    Warisan Kolonialisme Inggris di Indonesia
    Kebun Raya Bogor, Salah satu warisan Inggris di Indonesia
     Di Bengkulu tadi kita telah mendengar nama Raffles. Nah… kali ini kita bertemu kembali dengan Raffles yang sama namun dengan waktu dan jabatan yang berbeda.  Disini Raffles tengah menjabat sebagai Letnan Gubenur Jenderal Hindia Belanda di Jawa pada tahun 1811 hingga 1816.  Konon Raffles ini seorang birokrat yang menyenangi Ilmu Pengetahuan terutama ilmu botani. Saat dia mendiami Istana Bogor dia menyulap halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun botani yang indah.  Seorang Ahli Botani bernama W.Kent turut serta membantunya. Kebetulan W.Kent ini berpengalaman membangun taman botani sebut saja Kew Garden di London sebagai mahakarya yang masih lestari hingga saat ini.   Disinilah cikal bakal Kebun Raya Bogor bermula. Perang Napoleon berakhir di Eropa, sesuai traktat London Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda. Kerja Raffles di Hindia pun berakhir tapi Belanda kelak meneruskan kebun itu dan menjadikannya sebagai salah satu pusat botani dunia.

    Buku di History of Java

    Litografi Candi Prambanan
    Reruntuhan Prambanan saat pertama kali ditemukan kembali.
    Selain seorang yang sangat tertarik dengan ilmu Botani, kabarnya Raffles juga sangat mengagumi sejarah serta budaya Jawa. Lima tahun kekuasaannya di Tanah Jawa memang berakhir begitu cepat, namun Raffles meninggalkan mahakarya fenomenal bernama “The History of Java”.  Terlepas dari berbagai tudingan bahwa buku itu dia tulis demi melanggengkan upaya kolonialisme di Hindia. Tapi toch… sampai saat ini banyak para akademisi asing maupun orang Indonesia yang masih mengutip buku itu sebagai referensi saat meneliti terkait Jawa.  Apalagi menariknya buku itu dilengkapi dengan beragam illustrasi menarik terkait pulau Jawa. Mulai dari illustrasi keris, baju, aksara hingga candi-candi peninggalan Hindu/Buddha. Wajah Borobudur, Prambanan hingga Sewu saat pertama kali ditemukan setelah tertimbun ribuan tahun pun ada disana.

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube
  • Brief History of Betting in Sports

    Brief History of Betting in Sports

    “However, realize it or not, history of betting in sports began thousand years ago in ancient Greece and the Roman period.”

    WITH the rapid advancement of technology and the popularity of the sport as entertainment, we witness a gambling culture in almost every single match in sport. With the current online system, each person in every region can participate to play and win a prize from a certain competition. However, realize it or not, history of betting in sports began thousand years ago in ancient Greece and the Roman period.

    Starting from the Eighteenth century, with horse racing popularity, the reputation of sports gambling was increasing. However, with the negative effects on the participants, the legalization of sports gambling is not in line with its fame. Only after the twentieth century, did sports gambling become legal, especially in Las Vegas, United States of America, along with the other channels of gambling.

    And at the 1990s online system was involved in sports betting. Some platforms took benefit from many popular football matches and put a big wage for those who can win the bet. Until now, sports betting is becoming more and more popular supported by network development. Having long history from ancient times, sports betting is indeed a deep-rooted culture in the sports world.

    Read More

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    “Sepak Takraw dan Catur boleh dibilang menjadi dua olahraga paling populer di Indonesia Zaman Lampau.”

    SEPAK BOLA mungkin telah menjadi salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Entah berapa juta orang yang sangat menyukai dengan olahraga ini tidak dapat kita hitung dengan jari. 

    Tapi sayangnya meski olahraga ini paling populer di tanah air kita prestasi timnas sepak bola Indonesia boleh dibilang jeblok. Jangankan kita bicara level dunia itu terlalu kejauhan level Asia saja timnas kita masih terseok-seok. 

    Celakanya lagi level Asia Tenggara pun meski telah mencapai final 6 kali tapi tak sekalipun pernah timnas kita juara. Entah itu Thailand, Malaysia, maupun Singapura selalu saja jadi batu sandungan kita. 

     

       Baca Juga:

     

    Olahraga populer kedua mungkin saja adalah bulu tangkis. Nah… cabang olahraga ini prestasinya amat berkebalikan dengan sepak bola tadi. Di Level dunia khusus bagian putra boleh dikatakan kita ini rajanya. 

    Sepanjang pagelaran Kejuaraan Thomas Cup sejak 1949 hingga saat ini tak kurang dari 14 piala telah timnas bulutangkis kita gondol meninggalkan China dengan 10 gelar serta Malaysia jauh di tempat ketiga dengan 5 gelar. 

     

    Olahraga Orang Indonesia Zaman Dulu

    Eiitsss… tapi di tulisan ini saya nggak bakalan ngomongin prestasi kedua cabang olahraga itu. Anggap saja tadi sebagai seputar info. Mari kita Lupakan sepak bola yang masih miskin prestasi serta bulutangkis yang kata orang Betawi mah prestasinya udah bejibun.

    Sepak bola dan bulu tangkis boleh dikata baru dikenal oleh orang-orang Indonesia sekitar awal abad ke-20. Orang Belanda yang membawa kedua olahraga itu ke Indonesia. 

    Singkatnya keduanya baru populer sekitar seabad yang lalu. Lantas yang jadi pertanyaan di benak kita adalah Olahraga apa yang jadi favorit orang-orang Indonesia di masa dulu khususnya sebelum kedatangan bangsa Eropa? 

    Nah… untuk menjawab pertanyaan itu. Baiklah penulis akan berikan penjelasan Olahraga Orang Indonesia di Zaman Dulu. 

     

    Sepak Takraw

    Olahraga Indonesia di Zaman Dulu
    Orang Belanda sedang menyaksikan Orang Banda di Maluku bermain Sepak Takraw

    Boleh dibilang Sepak Takraw ini adalah olahraga asli dan khas Asia Tenggara. Salah satu catatan tertua terkait keberadaan olahraga ini di Indonesia berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Antonio Galvao di abad ke-16. Selama pengelanaannya di Maluku mengikuti eskpedisi orang Portugis dalam mencari Kepulauan Rempah-rempah, Galvao menemukan bahwa orang Maluku amat piawai memainkan olahraga ini.

    Orang-orang disana memainkan sepak takraw secara
    melingkar dengan sebuah bola kecil yang menyerupai keranjang. Bola itu ditendang ke udara lalu kaki atau kepala salah seorang di antara mereka menyepak dan menyundul bola itu kembali ke udara.

    Sementara itu lukisan terkait permainan ini muncul dalam buku Theodor de Vry dan Isreal de Vry’s yang berjudul Orientalische Indien, Funffter Theil der Orientalischen Indien yang terbit di Frankfurt tahun 1601.  Lokasi lukisan itu berada di Kepulauan Banda dan Jacob van Heemskerck adalah orang yang menyaksikan permainan itu secara langsung. Dia menamai permainan itu sebagai “keeping the ball aloft”.

    Dari catatan lokal Sejarah Malayu yang ditulis di abad ke 15 mengabarkan kepada kita mengenai permainan sepak takraw atau naskah ini menyebutnya sebagai sepak raga. 

    Konon kabarnya suatu hari diadakan permainan sepak takraw antara Raja Muhammad, anak Sultan Mansyur Syah dan Tun Besar anak dari bendahara Tun Perak. Celakanya tendangan bola rotan Tun Besar mengenai tutup kepala. Marahlah Raja Muhammad dan ditikamlah Tun Besar anak Tun Perak itu. Karena kejadian itu hampir sajalah terjadi huru-hara di Kesultanan Malaka. Untungnya Sultan cukup bijaksana dia memutuskan bahwa anaknya itu bersalah dan mengusirnya ke Negeri Pahang. 

    Namun menurut Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 di masa itu olahraga ini sangat jarang sekali dipertandingkan. Sepak raga lebih dimaksudkan untuk melatih ketangkasan, melatih tubuh, mengembalikan kelenturan punggung dan tulang-tulang tungkai yang pegal.  

     

    Catur

    Selain bermain Sepak Takraw, kegemaran orang-orang Indonesia lain di masa lampau ialah bermain catur. Mulanya Catur berasal dari India dan menyebar di Nusantara selama masa kurun niaga. Menurut Anthony Reid (231)permainan ini sangat populer di istana-istana Kesultanan Melayu seperti Pasai dan Melaka. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Mansur seorang bernama Tun Barbara adalah jagonya permainan ini. Tiada seorang pun yang sanggup mengalahkannya di Kesultanan Melaka.

     

    Di masa itu Catur adalah olahraga cukup populer hampir semua kalangan dari bangsawan hingga rakyat jelata. Bedanya catur raja dan kalangan bangsawan berhiaskan permata, manik-manik, dll sengakan caturnya rakyat jelata berbahankan bahan-bahan sederhana. Sekali lagi menurut Anthony Reid (232) aturan-aturan yang berlaku dalam permainan ini hanya sedikit berbeda dari yang berlaku secara Internasional di zaman modern seperti kemampuan raja untuk melangkahi dua bidang atau gerakan kuda waktu pertama kali terancam. 

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Albertus Christiaan Kruyt: Jejak Sang Missionaris di Tanah Sulawesi

    /*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
    .elementor-widget-image{text-align:center}.elementor-widget-image a{display:inline-block}.elementor-widget-image a img[src$=”.svg”]{width:48px}.elementor-widget-image img{vertical-align:middle;display:inline-block}

    M.C Capelle (1951), Dr Alb. C. Kruyt Pioner van Poso, Den Haag

             Abad ke-19 memiliki berbagai tokoh menarik dalam bidang sosial dan keagamaan, salah satunya adalah Albertus Christiaan Kruyt. Ia memainkan peranan penting dalam misi penyebaran Kristen di tanah Sulawesi. 

    Dalam upaya penyebarannya, Kruyt memiliki pendekatan unik dengan etnografi sebagai metode penyebaran. Ia mempelajari kebudayaan dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pekerjaan untuk menyebarkan agama kristiani di tanah Sulawesi. Dirinya dikenal dengan beberapa tulisannya. 

    Dengan karya tersebut, ia dikenal sebagai misionaris dan etnograf. Pada tulisan ini, pembahasan akan fokus kepada beberapa hal menarik dari tokoh yang cukup terkenal pada masanya ini.

    /*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
    .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px}

    Jejak Sang Missionaris di Tanah Sulawesi

    Memiliki pengaruh kuat terhadap penyebaran Kristen di tanah Sulawesi, dirinya dilahirkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya pada tahun 1869 di tanah Jawa, Kruyt kecil lahir dan tumbuh. Pada tahun 1877, ia dikirimkan ke Belanda untuk mendalami ilmu misionaris. 

    Setelah menempuh Pendidikan, Nederland Zendeling Genootschap atau Lembaga misionaris Belanda memberikan tugas kepada Kruyt untuk membuka pos pekabaran injil di Poso.[1] Dalam sebuah tulisan, dijelaskan bahwa tugas yang diemban misionaris muda Kruyt ke daerah Poso bukanlah tugas yang mudah, ia berusia sekitar 21 tahun ketika diberikan tugas untuk menyebarkan dan mengenalkan agama Kristiani di tanah Sulawesi tersebut. Dalam ungkapan nya;

    “De beslissing, die de bestuurders van het Nederlandsche Zen delinggenootschap in 1890 namen, lijkt hoogst onverantwoord en gevaarlijk: als eerste zendeling voor een nieuw arbeids veld kozen ze een jongeman van nauwelijks twintig jaar. Zeker, de jonge Albert Kruyt was een loot van het geslacht Kruyt, dat reeds verschillende zendelingen en zendelingsvrou wen had geleverd en toen al een gunstige klank had. Maar hijzelf was toch gespeend van alle ervaring; en dan déze jongeman te belasten met een taak, die zelfs een ervaren zendingsarbeider niet gemakkelijk zou hebben geschenen — dit lijkt een zeer roekeloos waagstuk.”[2]

                  Dalam ungkapan tersebut, dijelaskan bahwa tugas untuk menyebarkan agama Kristen di daerah tersebut adalah sesuatu yang sulit meskipun dikerjakan oleh misionaris berpengalaman sekalipun. Sehingga pada awal masa kerja, performa Kruyt dinilai buruk hingga memasuki abad ke-20. Di tahun 1909, pembaptisan pertama terjadi diikuti oleh banyak pembaptisan serupa di tahun-tahun setelahnya hingga dirinya meninggalkan Hindia Belanda dan Kembali ke tanah Belanda.

    Catatan Etnografi

    Foto yang berisi Kruyt beserta istri dan anak-anaknya serta seorang cucu dari Kruyt di atas diambil sebelum kepergiannya ke tanah Belanda sekitar tahun 1930. Foto memperlihatkan Kruyt yang duduk di sebelah kanan dengan kacamata dan janggut khasnya, ditemani sang istri yang duduk di sampingnya. Lalu, kita juga melihat anak lelaki Kruyt Bernama Ds J. Kruyt dan istrinya J. Kruyt-Ostorlee. Setelah selesai merampungkan pekerjaannya sebagai seorang misionaris di Sulawesi, Kruyt pergi dari tanah Hindia Belanda di tahun 1932 hingga wafat 17 tahun setelahnya.

                  Selain dikenal sebagai seorang misionaris, Kruyt juga terkenal dengan karya etnografinya. Dua karya terkenal yang telah disebutkan di awal memainkan peranan penting sebagai sumber yang mengungkap kepercayaan serta adat istiadat dari masyarakat Sulawesi di awal abad ke-20. Karya pertama berjudul Het Animisme in Den Indische Archipel yang terbit di tahun 1908. Karya ini membahas konsep animisme dalam pemahaman Kruyt yang mungkin menjadi representasi dari keyakinan orang-orang Sulawesi pada awal abad ke-19.[3]

                  Sedangkan karya kedua yang juga memiliki pengaruh penting berjudul De Bare’s Sprekende Toradja’s van Midden Celebes yang terbit pada tahun 1912. Tulisan ini membahas secara rinci mengenai kehidupan suku Toraja dan juga dialek yang mereka gunakan. Ditulis Bersama Nicolaus Adriani, seorang ahli Bahasa, tulisan mereka menjadi sumber informasi penting tentang suku Toraja.

                  Dengan dua peran baik sebagai misionaris ataupun etnograf yang meneliti dan terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat Sulawesi, Kruyt merupakan tokoh yang cenderung penting dalam penyebaran agama Kristen di daerah tersebut dan juga mengungkap informasi terkait kehidupan hingga kebudayaan masyarakat setempat.

    Reference

    [1] Ido Hendricus (1978), Biografisch Lexicon voor de geschiedenis van het Nederlands Protestantisme, Amsterdam, hal 113.

    [1] M.C Capelle (1951), Dr Alb. C. Kruyt Pioner van Poso, Den Haag, hal 3.

    [1] Albert Christiaan Kruyt (1970), Het Animisme in den Indischen Archipel, University of Toronto, hal 16.

    Profil Penulis

    Rendy Kurniawan

    Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

    Share

    facebooktwitterlinkedininstagram