Blog

  • Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    Olahraga Orang Indonesia Tempoe Doeloe

    “Sepak Takraw dan Catur boleh dibilang menjadi dua olahraga paling populer di Indonesia Zaman Lampau.”

    SEPAK BOLA mungkin telah menjadi salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Entah berapa juta orang yang sangat menyukai dengan olahraga ini tidak dapat kita hitung dengan jari. 

    Tapi sayangnya meski olahraga ini paling populer di tanah air kita prestasi timnas sepak bola Indonesia boleh dibilang jeblok. Jangankan kita bicara level dunia itu terlalu kejauhan level Asia saja timnas kita masih terseok-seok. 

    Celakanya lagi level Asia Tenggara pun meski telah mencapai final 6 kali tapi tak sekalipun pernah timnas kita juara. Entah itu Thailand, Malaysia, maupun Singapura selalu saja jadi batu sandungan kita. 

     

       Baca Juga:

     

    Olahraga populer kedua mungkin saja adalah bulu tangkis. Nah… cabang olahraga ini prestasinya amat berkebalikan dengan sepak bola tadi. Di Level dunia khusus bagian putra boleh dikatakan kita ini rajanya. 

    Sepanjang pagelaran Kejuaraan Thomas Cup sejak 1949 hingga saat ini tak kurang dari 14 piala telah timnas bulutangkis kita gondol meninggalkan China dengan 10 gelar serta Malaysia jauh di tempat ketiga dengan 5 gelar. 

     

    Olahraga Orang Indonesia Zaman Dulu

    Eiitsss… tapi di tulisan ini saya nggak bakalan ngomongin prestasi kedua cabang olahraga itu. Anggap saja tadi sebagai seputar info. Mari kita Lupakan sepak bola yang masih miskin prestasi serta bulutangkis yang kata orang Betawi mah prestasinya udah bejibun.

    Sepak bola dan bulu tangkis boleh dikata baru dikenal oleh orang-orang Indonesia sekitar awal abad ke-20. Orang Belanda yang membawa kedua olahraga itu ke Indonesia. 

    Singkatnya keduanya baru populer sekitar seabad yang lalu. Lantas yang jadi pertanyaan di benak kita adalah Olahraga apa yang jadi favorit orang-orang Indonesia di masa dulu khususnya sebelum kedatangan bangsa Eropa? 

    Nah… untuk menjawab pertanyaan itu. Baiklah penulis akan berikan penjelasan Olahraga Orang Indonesia di Zaman Dulu. 

     

    Sepak Takraw

    Olahraga Indonesia di Zaman Dulu
    Orang Belanda sedang menyaksikan Orang Banda di Maluku bermain Sepak Takraw

    Boleh dibilang Sepak Takraw ini adalah olahraga asli dan khas Asia Tenggara. Salah satu catatan tertua terkait keberadaan olahraga ini di Indonesia berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Antonio Galvao di abad ke-16. Selama pengelanaannya di Maluku mengikuti eskpedisi orang Portugis dalam mencari Kepulauan Rempah-rempah, Galvao menemukan bahwa orang Maluku amat piawai memainkan olahraga ini.

    Orang-orang disana memainkan sepak takraw secara
    melingkar dengan sebuah bola kecil yang menyerupai keranjang. Bola itu ditendang ke udara lalu kaki atau kepala salah seorang di antara mereka menyepak dan menyundul bola itu kembali ke udara.

    Sementara itu lukisan terkait permainan ini muncul dalam buku Theodor de Vry dan Isreal de Vry’s yang berjudul Orientalische Indien, Funffter Theil der Orientalischen Indien yang terbit di Frankfurt tahun 1601.  Lokasi lukisan itu berada di Kepulauan Banda dan Jacob van Heemskerck adalah orang yang menyaksikan permainan itu secara langsung. Dia menamai permainan itu sebagai “keeping the ball aloft”.

    Dari catatan lokal Sejarah Malayu yang ditulis di abad ke 15 mengabarkan kepada kita mengenai permainan sepak takraw atau naskah ini menyebutnya sebagai sepak raga. 

    Konon kabarnya suatu hari diadakan permainan sepak takraw antara Raja Muhammad, anak Sultan Mansyur Syah dan Tun Besar anak dari bendahara Tun Perak. Celakanya tendangan bola rotan Tun Besar mengenai tutup kepala. Marahlah Raja Muhammad dan ditikamlah Tun Besar anak Tun Perak itu. Karena kejadian itu hampir sajalah terjadi huru-hara di Kesultanan Malaka. Untungnya Sultan cukup bijaksana dia memutuskan bahwa anaknya itu bersalah dan mengusirnya ke Negeri Pahang. 

    Namun menurut Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 di masa itu olahraga ini sangat jarang sekali dipertandingkan. Sepak raga lebih dimaksudkan untuk melatih ketangkasan, melatih tubuh, mengembalikan kelenturan punggung dan tulang-tulang tungkai yang pegal.  

     

    Catur

    Selain bermain Sepak Takraw, kegemaran orang-orang Indonesia lain di masa lampau ialah bermain catur. Mulanya Catur berasal dari India dan menyebar di Nusantara selama masa kurun niaga. Menurut Anthony Reid (231)permainan ini sangat populer di istana-istana Kesultanan Melayu seperti Pasai dan Melaka. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Mansur seorang bernama Tun Barbara adalah jagonya permainan ini. Tiada seorang pun yang sanggup mengalahkannya di Kesultanan Melaka.

     

    Di masa itu Catur adalah olahraga cukup populer hampir semua kalangan dari bangsawan hingga rakyat jelata. Bedanya catur raja dan kalangan bangsawan berhiaskan permata, manik-manik, dll sengakan caturnya rakyat jelata berbahankan bahan-bahan sederhana. Sekali lagi menurut Anthony Reid (232) aturan-aturan yang berlaku dalam permainan ini hanya sedikit berbeda dari yang berlaku secara Internasional di zaman modern seperti kemampuan raja untuk melangkahi dua bidang atau gerakan kuda waktu pertama kali terancam. 

    Profil Penulis

    Danil Kasputra

    Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
    Facebook
    Twitter
    LinkedIn
    Instagram
    Youtube

  • Review The Culture of Connectivity : Crtical History of Social Media, A Work from Jose Van Dijck

    Review The Culture of Connectivity : Crtical History of Social Media, A Work from Jose Van Dijck

    Rendy Kurniawan

    Over the last decade, social media platforms have become significant in the way they influence societies culturally. The penetration of social media with or without consiousnes affected the whole modern culture in the 21st century . Together with the emerge of virtual world and its platforms, social patterns and behaviors is transforming in many ways. Within this focus, Jose Van Dijck might be able to clear our path through the understanding of history of social media and its influence to the social life as well.

    In many ways, social media did not just suddenly appeared. Their emergence have quite historical background. Within the last decade, it transforms from the simple coding to the complex networks within the internet connection, from the insignificant programs to the most reliable application on earth. With the development of many features of social media, people is now having their pleasure through the social media rather than social life. Despite of its pleasure, some people getting their financial profit using social media.  In turn, these platforms become the arena of public communication where contested rules. The private and public sphere are now obscure. The social amusement is now could be counted by coding number of like and dislike. This reality reflects the dramatic evolution of human behavior because of social media. In the other words, the social media have changed not simply culture but politic, communication, social life and economic as well.

    Due to the explanation above, the works of Jose is explaining the whole development and influences of social media with multidisciplanaries approach, namely actor-network theory (ANT) and Political Economy. With these two, the prevailing objects are ownership, governance, business model, content, users and technology. Jose is figuring out the mentioned six points in five different forms of social media, it is ; Facebook, Twitter, Youtube , Flickr and Wikipedia. It means that Jose tries to discuss the influence of each social media culturally, socially, politically, technologically and economically.

    Eventhough social media seems to be comprehensively discussed in this book, there is no chance that this condition will last long. Concerning the rapid development of social media, Jose’s work which is published in 2012 might need some kind of addition and deeper researches. For exampele, only four years after this book was published, one by another social media is gradually appearing. look at the recent time when instagram and whatsapp is now conquering the virtual world. Therefore, the research of social media is hardly dynamic and challenging as well.                                                                                                                                                                                                                                                                     

  • Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Danil Kasputra

    Memotong rambut tentu saja merupakan suatu hal yang umum dalam kehidupan kita. Setidaknya hampir semua orang pernah memotong rambut mereka utamanya mereka para pelajar atau para pegawai negeri sipil juga para pegawai kantoran. Bagi mereka mau tak mau memotong rambut adalah kewajiban. Sebab musababnya ialah mereka dituntut bersih rapih sekaligus necis. Tapi sesungguhnya memotong rambut pendek juga bukan ciri khas ketiga golongan itu, sebagian besar masyarakat Indonesia kini memotong rambut mereka pendek hanya segelintir orang saja membiarkan rambut mereka terurai panjang.

    Di zaman lampau tepatnya di masa sebelum kedatangan agama Islam ke Indonesia, membiarkan rambut panjang terurai entah itu bagi pria maupun wanita Indonesia merupakan fenomena umum. Barulah ketika agama Islam masuk ke Indonesia di abad ke-13, memotong rambut menjadi pendek menjadi lebih banyak dijumpai. Walaupun hingga pertengahan abad ke-9, kita masih banyak menjumpai orang-orang Aceh, Jawa, Bugis tidak memotong rambut pendek rambut mereka. 

    Baca Juga:

    Tapi pada umumnya memotong rambut menjadi lebih pendek telah menjadi suatu hal yang umum. Potongan rambut para bangsawan upamanya potongan rambut para raja dan sultan sangat disukai oleh penduduk di kerajaannya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Begitu juga potongan rambut para orang-orang suci utamanya potongan rambut para ulama, kyai atau para pemuka sangat dihargai.

    Tentang memotong rambut di Indonesia zaman dulu
    Para Prajurit Kesultanan Banten dengan senjata mereka masing masing dari mulai tombak, pedang hingga istinggar. Tampak juga dalam foto seluruh dari mereka telah bercukur pendek. (Rijkmuseum)

    Sebab-Musabab pemotongan rambut

    Anthony Reid mengutip dari  Drewes betapa murkanya seorang pangeran Bali ketika seorang utusan Islam dari Mekah mempersembahkan gunting alat cukur. Dia menyadari bahwa hal itu merupakan suatu ajakan untuk masuk Islam (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: 92). Dalam hal ini tampak sekali bahwa rambut pendek merupakan suatu simbol atau perlambang seseorang telah meninggalkan agama lama menuju agama baru yang telah dipeluknya.  

    Selain sebab musabab konversi agama, pemotongan rambut juga bisa jadi sebagai simbol sukacita entah itu sukacitas kemenangan perang atau memperoleh kebahagian. Aru Palakka dari Bone kompetitor utama Sultan Hasanuddin dalam Perang Makasar memotong rambut panjangnya setelah sukses menumbangkan saingannya itu. Contoh lainnya ada dalam perang suksesi Jawa di abad ke Pakubuwono I raja dari Kraton Kartasura memangkas rambutnya sebagai suatu rasa syukur atas kemenangan yang telah dia raih.

    Sebab musabab lain dari pemotongan rambut selain daripada konversi agama dan simbol sukacita ialah simbol suatu kelompok atau identitas. Hal ini bisa kita temui dalam kisah perang Diponegoro. Dalam Babad Diponegoro sangat jelas dikisahkan bagaimana Pangeran Diponegoro dan pengikutnya memotong pendek rambut mereka untuk membedakan diri mereka dengan orang-orang Jawa yang pro-Belanda.

  • Seberapa Tinggi Orang Indonesia di Abad ke 17 Hingga Abad ke 19?

    Seberapa Tinggi Orang Indonesia di Abad ke 17 Hingga Abad ke 19?

    Danil Kasputra

    “Rata-rata tinggi badan orang Indonesia di abad ke 17 relatif sama dengan orang Eropa, kesenjangan mulai terjadi tatkala tingkat nutrisi mulai meningkat di kalangan penduduk Eropa pada akhir abad ke ke 18”

    Beberapa waktu lalu laman berita online BBC News memuat suatu artikel mengenai mengapa rata-rata tinggi badan orang Belanda tinggi-tinggi. Artikel juga memuat daftar peringkat negara dengan rata-rata tinggi badan tertinggi di dunia. Belanda tentu saja menempati urutan pertama pria dengan rata-rata tinggi badan 183 cm. Belgia bekas wilayahnya menduduki urutan kedua. Sementara duo negara Baltik, Estonia dan Latvia masing-masing berada ketiga dan keempat. Melihat Belanda di urutan teratas semakin terbuktilah omongan dari para kakek nenek kita dulu Kompeni tuh badanya tinggi-tinggi.

    Sementara itu dalam kategori wanita, Lithuania menduduki peringkat pertama dengan rata-rata tinggi badan wanita mereka mencapai 170 cm. Sementara itu di urutan kedua, ketiga dan keempat lagi-lagi ditempati Belanda, Estonia dan Republik Ceko.(Mengapa orang Belanda tinggi tinggi?)

    Nah lalu … begimana dengan rata-rata tinggi badan orang Indonesia? Kaum Pria Indonesia tentu saja masuk kategori dalam salah satu kategori teratas. Yap, para Pria Indonesia masuk kategori teratas dengan rata-rata tinggi badan terpendek dunia hanya sekitar 160 cm. Begitu pula dengan para wanita Indonesia, rata-rata tinggi badan mereka hanya berkisar di angka  159 cm. (Berapa Tinggi Badan Ideal untuk Anak Laki-Laki?)

    Jika ditelisik lebih lanjut di masa lalu, sebenernya rata-rata tinggi badan orang Indonesia tidak begitu jauh dengan orang Eropa. Anthony Reid salah seorang sejarawan Asia Tenggara asal Selandia Baru dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450 -1680 (2014:55) menjelaskan bahwa jika kita melihat kembali ke abad delapan belas, perbedaan antara orang Eropa dan Asia Tenggara nyaris lenyap.

    Tinggi Badan Orang Indonesia di abad ke 17 Hingga abad ke 19

    Laporan para petualang Eropa di abad ke 16 dan 17 sering menegaskan orang-orang Jawa dan Maluku relatif berbadan pendek. Lain halnya dengan orang-orang Makasar yang berbadan relatif lebih tinggi kurang lebih sama dengan orang Eropa.

    Tinggi Badan Orang Indonesia
    Lukisan sekolah tentang kedatangan pertama Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten di akhir abad ke 17. Tampak pada lukisan tinggi badan Cornelis de Houtman dan para anak buahnya tidak jauh berbeda dengan bangsawan Banten yang menyambut kedatangan mereka. (Tropenmuseum)

    John Crawfurd seorang dokter sekaligus administrator kolonial Inggris yang pernah bertugas di Asia Tenggara. Dalam bukunya The History of India Archipelago jilid 3, dia menulis tinggi orang Melayu sekitar 157 cm. Sementara tinggi badan orang Eropa kira-kira 6 inci lebih tinggi dari orang Melayu. The History of Sumatra, karya William Marsden seorang orieantalis Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu menjelaskan bahwa orang Eropa tidak lebih tinggi dari orang Sumatra.

    Satu kesaksian di tahun 1793 tinggi badan orang Jawa sama dengan ukuran menengah orang Eropa. Begitu juga dengan tinggi badan orang Bugis dari Sulawesi, mereka memiliki tinggi badan yang hampir menyamai orang Eropa.

    BACA JUGA:

    Anthony Reid juga menjelaskan rata-rata tinggi badan pasukan marinir Inggris hanya mencapai 162 cm. Apalagi para penduduk miskin kota London, rata-rata tinggi badan mereka hanya setinggi 157 cm. Di awal abad ke-19 pun tinggi badan orang Eropa masih di angka 167 cm. Barulah tinggi mereka mulai bertambah 10 cm di abad ke-20. (2014:55).

    Dari sumber sumber diatas setidaknya satu kesimpulan bahwa di abad-abad yang telah lalu rata-rata tinggi badan orang Eropa tidak berbeda jauh dengan orang Indonesia. Besar sekali kemungkinan

    Sebab Kesenjangan Tinggi diantara Orang-orang Indonesia dan Eropa

    Anthony Reid memaparkan sebab-sebab timbulnya kesenjangan tinggi badan di antara orang Indonesia dan Eropa. Dari bukti yang ada menjelaskan bahwa kesenjangan mulai tampak tatkala nutrisi mulai membaik di sekitar tahun 1800 (2014:55). Maka sejak saat itulah tinggi badan orang Eropa pelan-pelan mulai menjulang tinggi dibandingkan dengan orang-orang Indonesia.

    Orang-orang Indonesia hari ini sendiri malah tampak tidak bertambah tinggi dibanding leluhur mereka di kurun abad lampau. Malahan ada sedikit penurunan tinggi badan di antara mereka.

  • Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Danil Kasputra

    Haji Agus Salim telah dikenal sebagai salah satu manusia jenius yang pernah lahir di Indonesia. Bahkan saking kagumnya dengan kejeniusannya Buya Hamka mengatakan satu orang Agus Salim senilai dengan satu satu juta manusia bahkan lebih. Tapi uniknya kelak kecuali anak bungsunya tidak ada seorang pun anak Haji Agus Salim yang pernah bersekolah formal.

    Sekolah Belanda yang bersifat Kolonial

    Bukan tanpa sebab Haji Agus Salim enggan untuk menyekolahkan anaknya, ia memandang bahwa sekolah-sekolah yang didirikan Belanda waktu itu masih sangat bersifat kolonial. Selain itu, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Roem, koleganya sesama politukus Islam Haji Agus Salim juga tak ingin anak-anaknya melalui jalan “berlumpur” akibat pelajaran kolonial.

    BACA JUGA:

    Sebab musabab ialah gara-gara pendidikan kolonial, Haji Agus Salim merasakan bahwa dia hampir saja menjadi seorang ateis karena skeptis terhadap agama. Perasaan itu mulai hilang tatkala dia bekerja di kantor konsulat Belanda di Jeddah, Arab saudi. Disana dia bertemu dan menimba pada salah seorang kerabatnya yang menjadi ulama besar di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

    Memilih Mendidik Anaknya Sendiri

    Mohammad Roem dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Haji Agus Salim Memimpin adalah Menderita”, sempat terheran-heran sekaligus kagum dengan ketrampilan berbahasa Belanda anak Haji Agus Salim yang bernama Syauket. Mohammad Roem mengisahkan “Kami heran melihat Syauket yang umurnya baru 4 tahun fasih berbahasa Belanda, ia dapat menerangkan badanya gatal dan minta digaruk.”

    Bahkan anak pertama Haji Agus Salim Dolly pada usia enam tahun sudah membaca buku detektif Nick Carter dan Lord Lister. Sementara adiknya Totok, pada usia 13 tahun telah membaca buku Mahabarata dalam bahasa Belanda. Buku bacaan yang menurut Mohammad Roem setara dengan anak AMS (setingkat SMP dengan pengajaran bahasa Belanda) bahkan mungkin lebih.

    Walaupun tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal tidak lantas membuat Haji Agus Salim berlepas tangan terhadap pendidikan anak-anaknya. Dia mendidik sendiri mereka dengan metode dan caranya sendiri. Mungkin cara mendidik Haji Agus Salim ini bisa menjadi referensi bagi orang tua hari ini.

    Haji Agus Salim tidak pernah membatasi waktu belajar dan bermain. Setiap saat dia bisa memberikan pelajaran pada anak-anaknya. Yang lebih terpenting kata Mohammad Roem, Haji Agus Salim selalu menanamkan keinginan untuk mengetahui yang lebih besar dan mencari pengetahuan itu sendiri.

    Tidak Pernah Bersekolah Tapi Berpendidikan.

    Oleh karenanya tak heran banyak yang tak percaya bahwa anak anak Haji Agus Salim tak pernah mengenyam bangku sekolah. Jojet Salah satu anak Haji Agus Salim mengatakan bahwa gara-gara ia menguasai banyak bahasa asing, hafal berbagai macam jenis puisi, penuh humor dan mengasyikan. Tidak ada satu pun yang percaya bahwa dia sebagai anak Haji Agus Salim tidak pernah bersekolah formal.  

  • Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Rendy Kurniawan

                Posisi sejarah dalam perspektif penulisannya banyak mengalami dinamika ketika Romawi berjaya. Kisah sejarah dalam perspektif Romawi mengalir mulai dari perselisihan antara Romulus dan Remus hingga kisah jatuhnya kaisar Augustus. Banyak yang beranggapan bahwa kisah-kisah sejarah tersebut hanyalah sebuah adaptasi dari Kebudayaan Yunani karena mungkin kultur tersebut tersebar bersamaan dengan munculnya Romawi di dalam arus Sejarah. Akan tetapi, anggapan ini nampaknya kurang akurat karena sebenarnya Romawi, secara independen, telah mengembangkan penulisan sejarah bagi mereka sendiri tanpa bergantung penuh pada Yunani baik dalam segi konten maupun model.

    Model Penulisan Sejarah Romawi

                Berbeda dengan penulisan sejarah Yunani yang mulai berkembang lewat penggunaan tradisi lisan dan membentuk sebuah narasi, karya-karya sejarah monumental dari Romawi berkembang dari model kronik. Artinya, para penulis sejarah dari Romawi menuliskan rujukannya dengan menyusun kumpulan peristiwa secara teratur dari tanggal ke tanggal, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Catatan terawal dari model ini adalah karya dari Quintus Fabius Pictor yang kemungkinan lahir pada tahun 270 sebelum Masehi (Cornell, 2013). Ia menulis sebuah kronik yang disusun berdasarkan dimensi waktu dari kisah sang kaisar pertama Romulus hingga Perang Hannibal. Dengan karya sejarah Pictor, Romawi telah membuktikan bahwa penulisan sejarahnya setidaknya tidak bergantung kepada budaya Yunani, meski tidak sepenuhnya.

                Selain itu secara konten, tulisan sejarah masa Romawi mengembangkan beberapa aspek yang tidak ada di dalam budaya tulis sejarah Yunani. Penulis-penulis Romawi secara kreatif mengembangkan konten-konten baru seperti penulisan genealogi, deskrpsi geografis dan mitos-mitos. Hal ini tentu berbeda dengan Yunani yang merangkai cerita perang secara rinci dan menyeluruh. Misalnya, salah satu sejarawan bernama Marcus Porcius Cato menulis Sejarah Perilaku orang-orang Romawi di tahun 170 sebelum Masehi.(Marincola, 2007).

    Pengaruh Yunani

                Bagaimanapun hebatnya penulis Romawi lewat kroniknya, mereka tidak sepenuhnya mengembangkan sejarah secara sempurna. Tulisan sejarah Romawi tentu memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pengaruh Yunani yang melekat kuat dalam penulisan sejarah mereka dalam aspek tertentu. Hal ini terbukti lewat kesamaan tujuan dari penulisan sejarah antara Romawi dan Yunani. Pada masa Romawi, tujuan penulisan sejarah tidak dapat dipisahkan dengan alasan politik, sesuatu yang tidak berbeda dengan para sejarawan Yunani.

    Di dalamnya Bahkan, metode yang digunakan dalam menghimpun fakta sejarah di masa Romawi hampir menyerupai apa yang dilakukan oleh Thucydides dari Yunani. Dengan kata lain, pengalaman dari penulis tersebut yang menjadi rujukan dari karya yang dituliskan. Salah satu contohnya adalah salah seorang sejarawan bernama Sallustius Crispus menuliskan dua buah karya sejarah tentang perang berjudul Perang Catiline dan Perang Jugurtha.(Yarrow, 2006) Dengan persamaan tujuan penulisan sejarah ini, maka posisi tulisan sejarah di Romawi kemungkinan besar bukanlah karangan ilmiah, melainkan alat legitimasi politik sebagaimana Yunani.

    Polybius (Domain Umum)

    Sejarah yang Bertumpu pada Politik dan Militer

    Meskipun bertujuan untuk politik semata, tidak semata-mata orang dapat menulis sejarah secara sembarangan di Romawi. Pada masa tersebut, sejarawan dituntut untuk memiliki pengalaman politik dan militer. Hal ini karena dua pengalaman tersebut sangat penting dalam membentuk sebuah narasi sejarah pada masa tersebut. Contoh sejarawan dengan kedua pengalaman politik dan militer adalah Polybius. Ia berhasil menjawab respon masyarakat Roma dengan menuliskan karya berdasarkan pengalaman objektifnya.(Breisach, 1994) Ia disebut sebagai ‘Thucydides dari Romawi’ karena keahliannya memadukan pengalaman politik serta militernya dalam menuliskan sejarah. Salah satu karya monumentalnya adalah The Histories yang menjelaskan kondisi kerajaan Roma di masa ia hidup.

    Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penulisan sejarah pada masa Romawi memiliki dinamika yang cukup unik. Di satu sisi mereka mengembangkan sejarahnya secara kreatif lewat kronik hingga menjadi narasi dan tidak bergantung pada Yunani. Tetapi di sisi lain, tujuan penulisan sejarah pada masa ini adalah demi alasan politik seperti perang, sama sekali tidak berbeda dengan budaya Yunani sebelumnya.

  • Orang Kaya di Kerajaan-kerajaan Nusantara

    Orang Kaya di Kerajaan-kerajaan Nusantara

    Danil Kasputra

    “Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC.”

    Biasanya setiap tahun Majalah Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial yang berbasis di Amerika Serikat merilis daftar orang terkaya dunia. Nama-nama pengusaha kondang dunia seperti Taipan Teknologi dunia Bill Gates, Centi-Miliarder Jeff Bezos, dan CEO Zoom Eric Yuan selalu muncul mengisi daftar teratas orang terkaya dunia. Juga upamanya di Indonesia Forbes sering merilis daftar orang paling kaya Indonesia. Untuk tahun 2020 ini Budi Hartono muncul sebagai orang paling kaya di Indonesia. Perhitungan harta kekayaan seseorang sendiri didasarkan pada aset, harta turun temurun dan juga saham si-miliuner pun ikut dihitung.

    Singkatnya orang kaya baik di dunia maupun Indonesia ialah mereka yang memiliki begitu banyak uang baik dalam bentuk aset maupun saham. Dalam konteks Sejarah Indonesia, golongan orang kaya sendiri sebenarnya sudah muncul sejak beberapa abad lalu. Orang Kaya di abad yang lalu merujuk pada elite kerajaan pesisiran. Kerajaan Pesisiran sendiri ialah jenis kerajaan yang terletak di tepian pantai dan hidup dari perdagangan, bea-cukai dan ekspor. Malaka, Aceh, Banten, Demak dan Makassar masuk dalam daftar kerajaan jenis itu.

    Menurut sejarawan Ong Hok Ham (2018:48) dalam hubungan dengan rakyat, Orang Kaya hanya berhak mengorganisasi mereka untuk perang. Penghasilan Orang Kaya kebanyakan dari perdagangan dan bea-cukai, seperti sang raja sendiri. Khususnya ketika hasil-hasil perkebunan di pesisiran menjadi monopoli VOC. Dalam tulisan singkat ini, kita akan mengupas sedikit mengenai para Orang Kaya di beberapa kerajaan pesisir Nusantara.

    Orang Kaya di Kesultanan Aceh

    Para Orang Kaya di Kesultanan Aceh memiliki strata sosial tersendiri yang khas juga unik. Mereka tampak sangat menguasai kegiatan ekonomi dan memiliki hubungan dagang yang cukup erat dengan para pedagang China dan India. Jika ada permasalahan atau persengketaan diantara masyarakat mereka akan bersidang dan memutuskan penyelesaian masalah itu. Untuk membedakan diri dari rakyat biasa, para Orang Kaya biasa untuk membiarkan kuku ibu jari dan kelingking tumbuh, tanda mereka tak boleh kerja dengan tangan (Denys Lombard, 2014:90).

    Terkadang golongan Orang Kaya ini berkuasa amat dominan jika yang berkuasa ialah seorang sultan yang lemah. Sultan ‘Ala ad-Din Ri’ayat Syah yang sudah tua naik tahta berkat bantuan para Orang Kaya. Mereka pikir Sultan yang sudah tua itu akan lemah dan tunduk pada mereka. Tapi tanpa diduga justru Sultan tua itu malah membantai dan mengganti mereka dengan kelompok baru. Kelompok baru yang tentu saja pandai menyenangkan hati Sultan dan mengembalikan ketertiban.

    Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada puncak kegemilangan pun coba mengebiri peran para Orang Kaya. Dia mengangkat para Orang Kaya baru dan melarang mereka memiliki Tentara pribadi dengan senjata tradisional dan modern (Ong Hok Ham, 2018:48). Tapi setelah Sultan Iskandar Muda wafat, kebanyakan para penggantinya adalah para Sultan yang lemah. Tak heran, para Orang Kaya akan terus berkuasa hingga pendudukan Belanda di abad 19.

    Baca Juga:

    Para Ponggawa di Banten

    Berlainan dengan di Aceh, para Orang Kaya di Banten lebih dikenal sebagai Para Ponggawa. Peran para ponggawa ini pun amat mirip dengan para Orang Kaya di Aceh. Para Ponggawa di Banten dianggap bukan bangsawan biasanya bergelar tumenggung, Kiai Patih. Mereka mengawasi semua urusan pemerintahan termasuk pejabat-pejabat yang paling tinggi dalam bidang ekonomi, seperti syahbandar, kepala pabean, kepala timbangan umum, yang biasanya orang asing. Singkatnya semua orang yang memperkaya diri dengan menarik pajak atas kegiatan perdagangan (Claude Guillot, 2008:109).

    Sejarah Orang Kaya
    Seorang ponggawa (Orang Kaya) yang bertindak sebagai Waliraja di Banten bersama seorang Qadhi sedang mengadili sebuah perkara.
    Sumber : Claude Guillot. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta:KPG. 2008

    Tahun 1596, Maulana Muhammad, Sultan Banten wafat dalam pengepungan Palembang, sedangkan pewaris tahta-nya masih balita. Salah seorang ponggawa yang memegang jabatan Perdana Menteri dengan dibantu Qadi bertidak sebagai Waliraja. Tahun 1602 Waliraja wafat tapi penggantinya seorang yang lemah. Maka terjadi perselisihan diantara para ponggawa dan bangsawan. Para ponggawa menginginkan waliraja yang tunduk pada mereka. Sementara para bangsawan sudah tidak ingin lagi dipimpin oleh para ponggawa yang bukan bangsawan. Perang berakhir dengan terasingkannya enam hingga delapan ribu ponggawa ke Jakarta.

    Dengan menghilangnya para ponggawa otomatis ekonomi Banten menjadi terpusat pada raja tidak lagi bertumpu pada para ponggawa. Claude Guilllot menganggap ini sebagai politik bunuh diri. Banten tidak lagi menjadi pelabuhan yang bebas bagi para pedagang dan berubah dalam beberapa dasawarsa menjadi kerajaan pertanian.

    Para Orang Kaya di Banda

    Orang-orang Kaya di Kepulauan Maluku memiliki peran dominan dalam perdagangan rempah-rempah. Dalam buku Bescryving Oud en Nieuw Oost-Indien, Francois Valentijn sering menyinggung peran Orang Kaya dalam hubungan perdagangan rempah-rempah diantara orang setempat dan VOC. Tapi pada permulaan kedatangan orang Belanda di Maluku, para Orang Kaya ini sempat dihabisi oleh VOC. Para Orang Kaya Banda lah yang mengalami nasib nahas itu. (Hendri F. Isnaeni, “Genosida VOC”, historia.id, 2010).

    Pada tahun 1921, Jan Pieterszoon Coen mengirim armada besar ke Pulau Banda dan membantai habis hampir seluruh Orang Kaya Banda beserta penduduknya. Kekejaman JP Coen ini disinyalir akibat dari dendam yang ia miliki pada orang Banda. Konon, sepuluh tahun sebelumnya Coen pernah mengunjungi Banda beserta rombongannya. Tapi orang-orang Banda malah membantai rombongannya, beruntungnya Coen bisa melarikan diri dengan selamat.

  • Sejarah Buku Nikah di Nusantara Pra Kemerdekaan

    Sejarah Buku Nikah di Nusantara Pra Kemerdekaan

    Rendy Kurniawan

    “Buku nikah tampak baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan”

    Sejarah buku nikah merupakan salah satu bagian yang cukup menarik dalam sejarah pernikahan, sekaligus salah satu yang paling misterius di Nusantara. Di satu sisi, buku nikah memainkan peranan dalam pencatatan sipil serta menggambarkan administrasi kependudukan yang teratur. Akan tetapi, catatan-catatan atau bukti-bukti terkait pernikahan yang dicatat nampaknya baru mulai mendapat perhatian di akhir masa kerajaan Hindia Belanda. Sebelum itu, acara pernikahan cenderung didominasi oleh hukum adat dan tradisi keagamaan. Tentu model pernikahan yang melibatkan adat dan agama tidak mewajibkan pencatatan sipil, sehingga mustahil nampaknya kita dapat melihat buku nikah di dalam sejarah nusantara sebelum peraturan kerajaan Hindia Belanda tentang akta nikah di awal abad ke-20 diterbitkan. Dengan penjelasan di atas, deskripsi sekilas terkait sejarah buku nikah akan dijelaskan pada tulisan ini, meskipun dengan bukti-bukti yang tidak banyak.

    Masa VOC

    Sebelum masa penjajahan, nampaknya pernikahan dilaksanakan dengan tradisi masyarakat setempat. Ketika kesultanan Islam yang berdiri secara dominan di Nusantara, pernikahan kemungkinan besar diselenggarakan dengan mengacu kepada aturan yang ada di dalam tradisi Islam. Akan tetapi, penguasaan VOC pada abad ke-17 terhadap beberapa wilayah Nusantara memiliki pengaruh terhadap peraturan pernikahan meski nampaknya tidak signifikan. Peraturan pernikahan mungkin berubah dalam beberapa level, meskipun sepertinya tidak ada pengaruh yang berarti karena pengaruh Islam tetap kuat. Tepatnya pada tahun 1760, salah satu jurnal mengklaim bahwa VOC menerbitkan regulasi yang dikenal dengan nama Compendium Freijer untuk mengatur pernikahan bagi orang-orang Islam di bawah pemerintahan VOC.(Hermawati, 2015) Kabarnya, peraturan ini disusun oleh D.W. Freijer bersama beberapa tokoh penghulu.(Mubarok, 2017)

    Masa Hindia Belanda

    Selanjutnya, pada masa Hindia Belanda, beberapa peraturan terkait pernikahan disusun. Pada awalnya, peraturan yang melibatkan akta nikah tidak ditemukan setidaknya hingga abad ke-20. Sebelumnya, pernikahan yang terjadi di Hindia Belanda diserahkan sepenuhnya kepada hukum setempat yang didominasi oleh hukum Islam.(Wahyuni, 2014) Lalu di awal abad ke-20, ditemukan sebuah bukti adanya peraturan pernikahan yang melibatkan pencatatan sipil. Hal ini dirangkum di dalam De Nederlandsch Indie Wetboeken yang diterbitkan di tahun 1910. Berikut adalah kutipan dari pasal-pasal pernikahan yang dimuat dalam peraturan pernikahan kerajaan Hindia Belanda;

    Pasal 83 tentang pernikahan: De buiten ‘s lands hetzij tusschen ingezetenen van Nederlandsch-Indië onderling, hetzij tusschen deze en anderen aangegane huwelijken zijn van waarde, indien dezelve voltrokken zijn naar den vorm, welke gebruikelijk is in het land, waar de voltrekking heeft plaats gehad, en de ecthgenooten die ingezetenen van Nederlandsch-Indië zijn, met hebben gehandeld tegen de bepalingen in de eerste afdeelmg van dezen titel vermeld.(Engelbrecht, 1910)

    Pasal ini menjelaskan bahwa pernikahan dilakukan secara gebruikelijk atau hukum adat yang berlaku di daerah tersebut. Selain pasal ini, berikut adalah pasal yang mendorong pernikahan dicatatat di lembaga secara legal;

     Pasal 100 tentang pernikahan:  Het bestaan van een huwelijk kan niet anders worden bewezen dan door de acte van deszelfs voltrekking, in de registers van den burgerlijken stand ingeschreven behoudens de gevallen bij de volgende artikelen voorzien.(Engelbrecht, 1910)

    Pasal di atas menjelaskan bahwa pernikahan yang sah secara legal haruslah didaftarkan agar memiliki status hukum. Meskipun masih melibatkan hukum adat pada pasal 83, pasal 100 telah mendorong pencatatan pernikahan.

    Beberapa Permasalahan

    Pengaturan administrasi nikah nampaknya diakibatkan oleh beberapa masalah yang dihadapi masyarakat pada waktu tersebut. Beberapa diantaranya adalah pencegahan pernikahan dini, mencegah kelahiran yang tidak legal, dan melindungi wanita dari proes perceraian yang tidak adil.(Bedner, 2010) Bahkan, di masyarakat Jawa ada sebuah kasus dimana sang suami meninggalkan istrinya secara sepihak.(Amini, 2016) Dengan lahirnya peraturan pernikahan sekaligus buku atau akta nikah, diharapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pernikahan seperti yang telah disebutkan dapat diminimalisir. Peraturan pencatatan nikah berkembang lebih jauh akibat konferensi wanita yang diadakan oleh Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) pada tahun 1928. Karena konferensi ini nampaknya pemerintah menerbitkan Ordonantie op de Ingeschreven Huwelijken pada tahun 1937 sebagai respon dari kongres tersebut.(Sumiwi, 2012) Terbitnya kebijakan ini menjadi akhir dari perkembangan peraturan pernikahan dan buku nikah di Nusantara sebelum merdeka. Perkembangan buku nikah menjadi lebih pesat pada masa setelah Hindia Belanda.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/wp-admin/post.php?post=375&action=e

  • Jalan Jalan ke Bandung di tahun 1852 : Kisah Petualangan Charles Walter Kinloch

    Jalan Jalan ke Bandung di tahun 1852 : Kisah Petualangan Charles Walter Kinloch

    Danil Kasputra

    “Bandung pada abad ke 19 bukanlah sebuah kota besar apalagi kota metropolitan. Bandung mirip sebuah sebuah desa kecil yang besar di pegunungan”

    Kurang lebih lima tahun lalu, entah semester 4 atau 5, saya lupa-lupa ingat. Tapi yang jelas saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung. Bang Anton, begitulah saya sering sebut namanya, pemilik perpustakaan Batu Api di Jatinangor tempat saya sering nongkrong sekaligus baca dan pinjam buku memberi saya sebuah buku. Buku itu judulnya “Rambles in Java and The Straits in 1852”. Katanya ini buku keren tentang petualangan seorang Inggris di Jawa abad 19 juga ada petualangan dia di Bandung. Kebetulan saat itu saya lagi seneng-senengnya tuh baca baca segala hal tentang Bandung zaman kolonial. Tanpa pikir panjang saya pun meminjamnya lalu melahap habis isi buku.

    Tahun 2020 pun telah tiba dan tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saya teringat kembali buku itu dan rasanya ingin menulis sedikit catatan kecil terkait isi buku itu. Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar tentang keseluruhan buku itu. Cukup cerita cerita tentang Bandung saja yang akan saya ceritakan disini. Kebetulan Bandung baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke . Itung-itung ini hadiah saya bagi kota dimana saya telah menghabiskan sebagain besar hidup saya.

    Sekilas tentang Petualangan Charles Walter Kinloch

    Buku “Rambles in Java and Straits in 1852” awalnya merupakan sebuah diary milik Charles Walter Kinloch atau biasa disapa dengan Bengal Civilian. Arti dari judul buku itu sendiri dalam bahasa Indonesia kurang lebih “Pelancongan di Jawa dan Negeri-negeri antar Selat (Nama koloni Inggris yang meliputi Malaka, Penang dan Singapura). Dan memang diary ini banyak mengisahkan petualangan dari penulisnya di negeri-negeri itu pada tahun 1852. Diary ini sendiri mulai diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1853 dengan judul “De Zieke Reiziger”. Lalu pada tahun 1989 Oxford University Press menerbitkan ulang buku ini dengan judul baru “Rambles in Java and Straits in 1852″.

    Cerita buku ini bermula dari kesehatan Charles Walter Kinloch yang kurang baik. Kesehatannya itu akan cepat pulih apabila ia bertraveling. Maka di tahun 1852, Kinloch berpetualang mengunjungi Penang, Singapura dan Jawa. Tapi alih-alih memulihkan kesehatannya dia malah menemui banyak hal yang di luar dugaanya. Mulai dari cuaca Singapura yang dirasanya terlalu panas, masakan-masakan Belanda yang tidak cocok dengan lidahnya, akomodasi hotel yang di bawah standar, hingga perjalanan menggunakan pedati (gerobak yang ditarik kerbau) yang tidak nyaman.

    Jalan-jalan ke Bandung

    Petualangan Kinloch di Bandung tahun 1852 hanyalah rangkaian kecil dari kisah petualangannya mengunjungi Jawa. Hal ini dia lakukan setelah kunjungan ke Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor). Anda janganlah membayangkan perjalanan Batavia menuju Bandung via Buitenzorg sudah semudah dan senyamaan saat ini. Zaman itu bus, kereta api apalagi pesawat terbang belum lah dikenal. Jalan satu-satunya melalui Jalan Raya Pos Daendels dengan menggunakan kereta kuda. Kereta kuda ini kemudian diganti dengan gerobak yang ditarik sapi tatkala melalui Puncak Megamendung yang memiliki belasan tanjakan dan turunan curam.

    Bandung yang lebih mirip

    Sesudah melewati Buitenzorg lalu memasuki Cianjur. Cianjur kala itu masih Ibukota Karesidenan Priangan. Lalu tibalah Kinloch di Bandung, Bandung di mata Kinloch saat itu walaupun tak seluas Cianjur merupakan sebuah tempat yang cukup luas dan padat penduduk. Pedesaanya tampak sedang berkembang pesat dengan jalan-jalan yang saling bersilangan dengan rumah-rumah penduduk yang seragam. Bandung juga memiliki Jalan-jalan luas dengan beragam toko yang menjual barang berbagai jenis.

    Kinloch juga aneh sekaligus tertarik dengan topi jawa yang dijual dalam beragam warna dengan ukuran dengan diameter satu setengah kaki hingga tiga kaki. Topi-topi itu sendiri terbuat dari bambu di bagian luarnya dengan dilapisi pernis tebal. Jadinya dengan topi itu orang Jawa sama sekali tidak memerlukan payung saat hujan.

    Kain-kain jawa juga banyak menarik perhatian Kinloch. Kain-kain itu biasanya terdiri dari kain celup chintze dan warna kain yang paling umum ialah biru dan scarlet. Tapi bagi dia, tidak ada yang lebih menarik perhatiannya daripada makanan-makanan Jawa. Disini sebagai seorang traveller dia bisa memakan daging dan kari kabob, jagung bakar, risolles dari beras yang berwarna dengan buah-buahan, sayur-sayuran serta manisan.

    Bandung tahun 1852
    Jalan Raya Pos menuju Bandung di sekitaran Puncak Cianjur abad ke 19.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections
    Bandung tahun 1852
    Caping atau Topi Jawa yang terbuat dari Bambu dalam narasi Kinloch selama pelancongannya di Bandung.
    Sumber : Domain Umum.
    Bandung tahun 1852
    Seorang kusir dengan topi capingnya atau yang Kinloch sebut sebagai topi khas Jawa yang terbuat dari Bambu.
    Sumber: Charles Walter Kinloch. Rambles in Java and The Straits in 1852. Singapore:Oxford University Press. 1852

    Melancong ke Curug Dago

    Selama di Bandung Kinloch pun tak melewatkan untuk sekedar melancong ke Curug Dago. Tapi pelancongannya kesana tak berjalan mulus. Dia harus melewati jalanan yang demikian rusak ditambah cuaca yang berkabut tebal sehingga menyulitkannya untuk melihat benda apapun dalam jarak seratus meter. Namun setelah tanjakan pendek sekitar seratus kaki, dia begitu takjub dengan indahnya pemandangan yang ada dengan matahari dan langit yang cerah.

    Bandung tahun 1852
    Pemandangan Curug Dago di Abad-19.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections

    Lalu jalanan menurun sekitar setengah mil dan tibalah Kinloch pada curug dago (Bandoong Waterfall). Air terjun yang indah dengan gemuruh suaranya yang gemericik sungguh menyejukkan bagi. Tak heran saking kagumya Kinloch hingga berucap ” ….to be well worthy of a visit..“. Dari cerita nya ini, Bandung tahun 1852 nampak masih sebuah kota yang indah tapi masih belum banyak berkembang mirip sebuah pedesaan.

    Para Tuan Perkebunan Kopi dan Teh

    Selain melancong ke Curug Dago, Kinloch juga banyak bertemu para pemilik perkebunan Teh dan Kopi di Bandung masa itu. Hal ini juga memberikan kita sebuah informasi yang berharga tentang Bandung tahun 1852 yang seakan surga bagi para pekebun. Memang Bandung di masa itu berkat tanahnya yang subur tanaman-tanaman yang laku di pasaran Eropa semacam teh, kopi dan kina tumbuh subur di Bandung.

    Salah satu pemilik besar perkebunan teh di Bandung yang sempat Kinloch temui adalah Tuan L. Entah siapa yang dimaksud dengan Tuan L ini, Kinloch hanya menyebut namanya dengan inisial L. Tapi dia memberikan sedikit bocoran bahwa Tuan L ini bekas pegawai pemerintah dan sempat menjabat sebagai residen di salah satu distrik paling timur pulau Jawa. Setiap tahun keuntungan perkebunan terus bertambah.

    Lalu Teh juga bukan satu-satunya komoditas yang menguntungkan bagi Belanda. Ada kopi yang tumbuh subur di Bandung, bahkan diyakini kopi disini adalah satu dari sekian banyak kopi terbaik di dunia. Kinloch juga mencatat bahwa penanaman kopi disini sangat berlainan dengan di tempat manapun di pulau Jawa. Jadi Kopi setelah ditanam dibiarkan begitu saja hingga dia tumbuh delapan kaki.

    Bandung tahun 1852
    Masjid Agung Bandung tahun 1852 tampak masih rimbun dengan pepohonan serta bentuk arsitektur yang masih menyerupai masjid-masjid tradisional Jawa. (Atas)
    Gambaran pohon dan buah teh. Sebagaimana catatan Kinloch masa itu Bandung banyak dikekelingi perkebunan kopi dan teh (bawah).

    Jalan Kaki ke Tangkuban Perahu

    Rangkaian petualangan Kinloch ke Bandung berakhir di kawah Tangkuban Perahu. Ketika termometer di bawah 60 derajat dia memulai suatu perjalanan yang dia anggap sebagai sebuah jalan kaki yang melelahkan. Jalan kesana seluruhnya tanjakan tidak ada turunan satu pun. Tapi pada akhirnya tibalah dia disana, sekitaran kawah banyak pepohonan hangus dan gundul, juga tiada satu pun suara. semuanya hening.

    Kawah berbetuk melingkar dengan keliling tiga mil dan dalamnya hingga beberapa ratus kaki. Disini dia melukiskan perasaanya antara takjub dengan keheningan yang ada. Kinloch mencatat “There is no single sign or of sound of life and the impressive stillness of the atmosphere is unbroken, save by the monotonous bubbling of the death-dealing volcano” Kinloch pun kemudian melanjutkan perjalanannya keesokan hari nya ke Sumedang dan berakhirlah petualangannya di Bandung.

    Bandung tahun 1852
    Kawah Oepas, Kawah barat dari Tangkuban Perahu sebelum tahun 1860.
    Sumber: Leiden University Library Digital Collections

    Lihat juga : https://de.wikipedia.org/wiki/Franz_Wilhelm_Junghuhn

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/10/08/kisah-isdv-nenek-moyangnya-partai-komunis-indonesia/

  • Kisah Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) : Nenek Moyangnya PKI (Partai Komunis Indonesia)

    Kisah Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) : Nenek Moyangnya PKI (Partai Komunis Indonesia)

    Rendy Kurniawan

    “Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda  mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan”

    Dewasa ini, stigma negatif terhadap komunisme nampak semakin marak. Ketika komunis disebut, secara umum masyarakat teringat dengan tragedi dan pemberontakkan yang pernah terjadi di tahun 1965 karena melibatkan Partai Komunis Indonesia. Stigma ini menjadikan diskursus sejarah komunis Indonesia sebagai sisi gelap sejarah Indonesia yang tak layak untuk dipelajari. Ditambah lagi semangat mempelajari sejarah semakin meredup dari hari ke hari, membuat realitas masa lalu komunisme Indonesia semakin kabur. Hal ini wajar terjadi, karena anggapan negatif terhadap komunisme merupakan propaganda yang memang dilakukan pemerintah Orde Baru.[1] Padahal fakta sejarah mengatakan bahwa sebelum Indonesia merdeka, organisasi yang berlandaskan ideologi komunis bernama Indische Sosialische Democratische Vereeniging atau disingkat ISDV yang sering dianggap sebagai nenek moyangnya PKI juga memperjuangkan kemerdekaan. Sejarah ISDV merupakan sejarah pertentangan kelas antara masyarakat penuh impian kemerdekaan, kelompok feudal dan penjajah Belanda.

    Perkumpulan Diskusi Kaum Kiri Belanda

    Sebagai Nenek moyangnya PKI dan kaum komunis Indonesia, pada awalnya ISDV tidak bergerak di bidang politik dan tidak berhaluan komunis. Ia pada mulanya merupakan wadah diskusi untuk para anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau partai kiri Belanda yang tinggal dan bekerja di Hindia Belanda. ISDV mengedepankan diskusi terkait paham dan teori Marxis. Meski di awal kemunculannya ISDV tidak bergerak di bidang politik, tidak jarang aktivitas yang dilakukannya sering bersinggungan dengan kepentingan politik. Kondisi sosial, politik dan ekonomi di Hindia Belanda  mendukung anggota ISDV untuk menyebarkan paham Marxisme kepada penduduk pribumi. Paham-paham ini yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat, terutama kalangan buruh, untuk melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan.[2]

    Dalam usaha mendekati anggota untuk melakukan diskusi terkait Marxis, anggota ISDV melakukan juga menjalin hubungan serasi dengan Sarekat Islam (SI), khususnya cabang Semarang yang dipimpin oleh Semaoen.[3] Hal ini membuat tokoh Sarekat Islam ini bergabung dengan ISDV secara sukarela demi perjuangan melawan penjajah.

    Seiring berjalannya waktu, berhasilnya Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 menjadi titik balik Marxisme di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda. Dengan semangat untuk membuat sebuah masyarakat yang bebas dari penjajahan, anggota ISDV semakin gencar melakukan agitasi dan propaganda untuk menghancurkan dominasi pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Hal ini membuat ISDV diawasi dan banyak tokohnya dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda akibat ketakutan luar biasa akan terjadinya revolusi akibat visi ISDV. Lalu pada tahun 1919 dengan berdirinya Commintern atau organisasi komunis dunia, ISDV pada akhirnya bergabung dengan mereka dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia di tahun selanjutnya.[4]

    Kedatangan Snievliet

    Meski hanya berdiri dan aktif selama tujuh tahun, ISDV telah merubah konstelasi politik antara pribumi dengan penjajah Belanda. Organisasi tersebut telah mendorong masyarakat pribumi untuk melawan penjajah dengan berbagai cara mulai dari agitasi hingga penerbitan harian. Hal tersebut memang tidak banyak dibahas, karena pengetahuan terkait ISDV didominasi oleh stigma negatif karena ia berideologi komunis. Dengan pertimbangan bahwa ISDV memiliki peran yang signifikan dalam perjuangan kemerdekaan yang bahkan tejadi beberapa dekade setelahnya, artikel ini akan membahas Selayang pandang sejarah ISDV secara singkat.

    Berdirinya Indische Sosialische Demoratische Vereeniging tidak lepas dari peran besar seorang Henk Sneevliet. Ia datang ke tanah Hindia Belanda pada tahun 1913. Terjadi banyak kontroversi terkait dengan tujuan sebenarnya kedatangan Henk Sneevliet ke Hindia Belanda. Di satu sisi ada yang mengatakan bahwa ia memang bertujuan untuk menyebarkan paham Marxisme di Hindia Belanda karena kesuksesannya mendirikan Partai Komunis Belanda.[5] Akan tetapi di sisi lain beberapa sumber mengatakan bahwa ia memang memulai karir di Hindia Belanda sebagai mistikus Katolik dan di kemudian hari mengubah haluannya menjadi sosialis demokrat yang mengharapkan revolusi di kalangan buruh.[6] Terlepas dari kontroversi tersebut, sumber-sumber tersebut mengklaim bahwa Sneevliet berhasil mendirikan Indische Sosialische Democratische Vereeniging pada tahun 1914. Pada awalnya ISDV beranggotakan orang-orang Belanda dan berfokus kepada diskusi-diskusi terkait dengan sosialisme di Semarang pada awalnya, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik sebagai salah satu partai.

    Membangun Basis Ideologi pada Masyarakat Pribumi

    ISDV sebagai partai berideologi kiri sekaligus Nenek Moyangnya PKI ini pada awalnya banyak didominasi oleh orang Belanda. Mereka menyadari bahwa untuk berkembang lebih besar. Mereka harus memperoleh basis di kalangan rakyat Indonesia. Banyak hal yang telah mereka lakukan untuk mewujudkannya, akan tetapi satu-satunya kesuksesan besar mereka adalah dengan menaruh perhatian lebih kepada Sarekat Islam, dengan ribuan anggotanya. Pada 1915, ia berhasil merekerut Semaoen sebagai salah satu anggota ISDV yang sekaligus merangkan sebagai komisaris Sarekat Islam cabang Semarang, sehingga pada tahun 1917 bahwa anggota ISDV telah mencapai 2.000 orang.[7] Dengan bergabungnya Semaoen, ISDV berhasil membumi di kalangan masyarakat pribumi sekaligus memecah Sarekat Islam menjadi dua; SI merah dan SI putih.

    Selain itu, bersamaan dengan keberhasilan revolusi Bolshevick di Rusia pada 1917, Sneevliet menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda mungkin saja dikudeta layaknya apa yang terjadi di Rusia jika rakyat Hindia Belanda terutama dari kalangan buruh menginginkannya. Akibat pernyataan ini, ia pada akhirnya harus dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun selanjutnya.[8] Dengan perginya Sneevliet dari Hindia Belanda, Semaoen sebagai salah satu tokoh berpengaruh di ISDV mengambil alih perannya sebagai ketua.

    Lalu pada kongres besar pertamanya di tahun 1920, anggota ISDV dan Sarekat Islam yang merasa memiliki visi yang sama, meleburkan diri menjadi Partai Komunis Hindia dan menunjuk Semaoen sebagai ketua. [9]  Hal ini menandai akhir kisah Indische Sosialische Democratische Vereeniging yang dilanjutkan oleh Partai Komunis Hindia semenjak bulan Mei 1920 yang kelak dikenal sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Note


    [1] Wahyu Wirayawan, Aksi Partai Komunis 1925-1965 (Yogyakarta), hal 1.

    [2] Guskannur, Pengaruh Sosialisme Terhadap Perjuangan Bangsa Indonesia Masa Pemerintahan Kolonial Belanda (1913-1927) (Lampung), hal 2.

    [3] Yudhi Rachman, ‘Gerakan Anti Kolonialisme Menuju Indonesia Merdeka Dalam Perspektif Smelserian’, Simulacra, 1.2 (2018), hal 195.

    [4] Lihat abstrak skripsi Anton Fitrianto, ‘Indische Sociaal Democratische Vereeniging 1914-1920’ (Universitas Indonesia).

    [5] Yunani Hasan, ‘Indische Sosialische Democratische Vereeniging (ISDV) Merupakan Cikal Bakal Partai Komunis Indonesia (PKI)’, Jurnal Pendidikan Dan Kajian Sejarah, 3.5 (2014), hal 7.

    [6] M. C. Ricklefs, ‘A History of Modern Indonesia since c. 1300’, A History of Modern Indonesia since c. 1300, 2015, hal 370.

    [7] Ricklefs, hal 372.

    [8] Ruth T. McVey, Belanda, Kemunculan Komunisme Di Hindia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hal 59.

    [9] Anastacia Novlina Nurak, Masa Akhir Kolonial Di Indonesia 1920-1942” (Depok, 2018), hal 3.

    Lihat juga : https://nl.wikipedia.org/wiki/Communistische_Partij_van_Indonesi%C3%AB

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/28/jejak-perpustakaan-di-dunia-islam/

  • Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Nur Cahya

    Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas, – M. Hatta  –

    Perpustakaan sering dianggap guru dari para guru, karena disitu terdapat ragam hasil pemikiran atau banyak karya di berbagai disiplin ilmu yang telah terdokumentasikan. Salah satunya adalah hasil pemikiran atau karya dari dunia islam. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford Dunia Islam Modern, perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam pernah mengalami masa kejayaannya. Perpustakaan Islam ini muncul di wilayah Baghdad, Kairo dan Cordova dimana buku-buku banyak tersebar.

    Perpustakaan umum dalam dunia Islam dikenal dengan berbagai nama seperti Bayt al-Hikmah, Khizanat al-Hikmah, Dar al-Hikmah, Dar Ilmi, Dar al-Kutub, Khizanat al-Kutub dan Bayt al-Kutub. Ada perpustakaan madrasah, perpustakaan umum, perpustakaan swasta, perpustakaan istana atau kerajaan, dan perpustakaan yang terhubung dengan rumah sakit.

    Perpustakaan di Damaskus

    Jejak perpustakaan di Dunia Islam pertama didirikan oleh khalifah Umayyah yakni Mu’awiyah bin Abi Sufyan  (602-680) di Damaskus. Buku-buku pada masa ini sebagian besar berputar di sekitar mesjid. Pada waktu itu tujuan utamanya adalah menyalin buku-buku dari bahasa Yunani, Pahlavi, Siria, dan Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Selain itu, di mesjid juga dipergunakan tempat pengadilan serta ceramah, debat, dan diskusi tentang berbagai masalah agama, ilmiah, dan filosofis. Secara tradisi tradisional, Muslim mewariskan koleksi buku mereka ke mesjid.

    Baru sejak abad ke-9, kebanyakan perpustakaan menyimpan buku-buku  ilmu eksaktra. Beberapa dari perpustakaan ini adalah milik pribadi, sementara yang lainnya didirikan oleh Khalifah, Amir (Gubernur), Sultan, dan Wazir (mentri). Misalnnya pada masa Abbasiyyah di Mosul terdapat perpustakaan besar bernama Khizanat al-Kutub. Demikian pula seorang pedagang kaya raya yang bernama Ali bin Muhammad al-Bazzaz (942) dikatakan memiliki Bayt al-‘ilmi (perpustakaan/rumah ilmu). Baru ketika abad ke-10 perpustakaan telah mengalami perkembangan. Ketika banyak sekolah telah didirikan di Baghdad, Fez, Cordova, Persia, Kairo, Basrah, Isfahan, Nishapur, Mughal dan lainnya..

    Bayt al-Hikmah di Baghdad

    Bayt al-Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (memerintah 786-809). Perpustakaan ini bisa dikatakan sebagai salah satu perpustakaan terbesar di dunia Islam. Perpustakaan ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun (memerintah 813-833) yang dikreditkan dengan lembaga formal. Al-Ma’mun juga berjasa membawa banyak ulama terkenal untuk berbagi informasi, ide, dan budaya di Bayt al-Hikmah. Selain para cendikiawan Muslim, cendikiawan Hindu, Yahudi dan Kristen diizinkan untuk belajar disini. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para cendikiawan di Bayt al-Hikmah telah memberikan banyak konstribusi orisinal yang cukup luar biasa dalam berbagai bidang.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Ilustrasi abad ke-13 melukiskan kegiatan belajar mengajar antara guru dan muridnya dalam sebuah perpustakaan publik di Baghdad.
    Sumber: Bibliotheque Nationale de France
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Al-Khawarizmi salah satu ahli Matematika paling berpengaruh di Baitul Hikmah, Baghdad dalam perangko terbitan Uni Soviet.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Bayt al-Hikmah terdiri dari perpustakaan, biro penerjemahan, observasium, ruang baca, tempat tinggal ilmuwan dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang bekerja disana yaitu Elan al-Sha’oobi, dibawah pengawasannya, naskah-naskah kuno disalin. Abu Sahl dan Abu al-Fazal bin Naubakht diutus dengan tugas memperluas perpustakaan. Seorang wazir (pada masa Harun al-Rasyid)Yahya bin Khalid Barmaki mengundang para ilmuwan Hindu dan menerjemahkan buku-buku Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Karena Yahya Khalid Barnaki adalah orang persia, maka dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.

    Pusat Pengumpulan Manuskrip Kuno

    Demi mendapatkan banyak buku, Khalifah Harun al-Rasyid mengirim utusan ke berbagai negara untuk mendapatkan manuskrip langka. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dalam beragam bahasa meliputi bahasa Sansakerta, Zend-Avista, Persia, Syiria, Koptik. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid  menerima buku dari petualangannya di Roma dan Amudiyya, dia megintruksikan Yohanna ma-Sawiyya untuk menerjemahkan karya Yunani ini ke dalam bahasa Arab.

    Kemudian al-Ma’mun membeli manuskrip-manuskrip langka untuk perpustakaan seperti puisi dari masa pra islam serta dokumen pemerintah, surat dan perjanjian negara misalnya perjanjian pembayaran pinjaman yang ditandatangani oleh Abdul Muthalib bin Hasyim (578). Khalifah al-Ma’mun dikatakan pernah meminta penguasa Sisilia untuk mengirim semua buku yang dikurung di sebuah rumah terlantar di pulau tersebut. Setelah Khalifah al-Ma’mun menerima buku-buku tersebut, kemudian dia memberikannya kepada direktur perpustakaan saat itu yakni Sahal bin Harun. Selain itu, ketika Khalifah al-Ma’mun menang perang melawan Bizantium, dia menetapkan bahwa naskah Yunani tertentu akan dikirim ke Baghdad. Untuk tujuan tersebut, seorang ahli matematika dan penerjemah al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (833) dipilih untuk membawa naskah-naskah tersebut ke Baghdad. Untuk lebih jelasnya lihat Ibnu Nadiim (990) dalam kitab Fihrist-nya dan Haji Khalifa (1657) dalam kitabnya Kasyfu al-Dzunun..

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad mengenai alat cuci tangan berbentuk perempuan memegang kendi.
    Sumber : Asia.si.edu
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad.
    Sumber : Asia.si.edu

    Perpustakaan Keluarga Barmaki

    Selain Bayt al-Hikmah, di Baghdad terdapat juga perpustakaan-perpustakaan pribadi seperti perpustakaan yang didirikan oleh wazir Harun al-Rasyid yang bernama Yahya bin Khalid Barmaki (806),  perpustakaan pribadi Yaqub bin Ishaq al-Kindi (866), perpustakaan pribadi  Fatah bin Khaqan (861) sahabat dari khalifah Mutawakkil (822-861), perpustakaan pribadi Ishaq Mosuli (850) seorang master hadis serta tata bahasa dan perpustakaan pribadi lainnya

    Al-Qarawiyyan di Fez

    Al-Qawariyyan juga merupakan sebuah perpustakaan penting di dunia Islam. Perpustakaan ini didirikan pada 859 di Fez, Maroko oleh Fatimah al-Fihriyah, putri dari seorang imigran kara dari Tunisia modern.  Fatimah al-Fihriyah seorang wanita Muslim yang berpendidikan tinggi dan taat, dia memutuskan untuk mendedikasikan warisannya yang kaya untuk kemajuan pendidikan agama dan sains. Dia mendirikan pusat pendidikan dan perpustakaan. Dia banyak menyimpan manuskrip kuno dalam bidang teologi, hukum, astronomi, dan tata bahasa yang berasal dari abad ke-7. (lihat dalam Hugh Kennedy when Baghdad Ruled the Muslim World).

    Di perpustakaan ini, yang paling menonjol yaitu terdapat kitab Muqaddimah karangan Ibnu Kholdun. Sebuah al-Qur’an abad ke-9 yang ditulis dalam kaligrafi kufi, dan karya dari ahli hukum dan filsuf Spanyol yaitu Ibn Rusyd.  Selain itu, dikatakan bahwa seorang penyair dan filsuf Ibn al-Arabi (1165-1240) pernah belajar disana pada abad ke-12. Begitu juga sejarawan dan ekonom muslim Ibn Khaldun pernah hadir pada abad ke-14. Sedangkan pada abad pertengahan, al-Qarawiyyan memainkan peran utama dalam transfer ilmu pengetahuan antar dunia muslim.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Univeritas Qawariyyan di Fez Maroko. Salah satu dari Universitas tertua di dunia.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Perpustakaan Cordova di Andalusia

    Setelah berdirinya kekuasaan Islam di Andalus, Cordova menjadi permata kekhalifahan. Disana terdapat 380 mesjid, 800 madrasah dan banyak perpustakaan pribadi dan 70 perpustakaan umum. Pada masa Umayyah Spanyol, Cordova  menjadi pusat pembelajaran dan kehidupan intelektual. Orang-orang Cordova juga mengumpulkan buku untuk rumah mereka. Mereka yang memiliki perpustakaan pribadi dianggap sebagai tokoh penting dalam masyarakat Cordovan. Maka tak heran bisa dikatakan bahwa Cordova adalah rumah besar bagi perpustakaan di dunia Islam. Menurut sejarawan al-Maqqari berkata bahwa orang Andalus sangat ahli dalam memiliki perpustakaan. Ada begitu banyak orang kaya yang buta huruf,  akan tetapi bangga memiliki perpustakaan di rumah mereka. 

    Buku disimpan di lemari kayu cendana dengan daftar yang menunjukan buku disetiap  kabinet. Kulit digunakan untuk penjilidan buku, beberapa buku memiliki tulisan perak atau emas. Adapun Mesjid Cordova merupakan salah satu bangunan yang paling terkenal dan merupakan universitas terbesar di eropa. Disana terdapat Dar al-Kitabah, yang didalamnya ada sekumpulan juru tulis yang terlibat dalam penyalinan buku dan jumlah penjilid buku yang sama.

    Salah satunya adalah Lubna. Dia adalah direktur perpustakaan Cordova dan dia juga bertanggung jawab untuk memproduksi, menulis dan menerjemahkan volume baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III (961) dan putranya al-Hakam (976).

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Pengajaran filsafat Aristoteles di Cordoba
    Sumber : Domain umum

    Perpustakaan Pribadi Al-Hakam

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Patung Al-Hakam II di Cordoba.
    Domain umum

    Al-Hakam memiliki perpustakaan, dengan memiliki 400.000 volume, katalognya ada di 44 register dengan masing-masing 20 lembar yang dikelola oleh Kasim Bakiya. Kemudian  menurut kronik Arab, pada masa al-Hakam II di beberapa daerah di Cordova terdapat lebih dari 170 wanita yang menyalin buku dan mereka juga memberikan gagasan tentang budaya.

    Perpustakaan khalifah al-Hakam II adalah perpustakaan paling terkenal. Dikatakan menurut Richard Erdose “Andalusia diatas segalanya, terkenal sebagai tanah para sarjana, perpustakaan, pecinta dan kolektor buku. Di Cordova buku-buku lebih dicari daripada selir atau permata cantik. Kejayaan kota adalah perpustakaan besar yang didirikan oleh al-Hakam II. Dengan berisi empat ratus ribu jilid, pada halaman pembuka setiap buku tertulis nama, tanggal, tempat lahir dan nenek moyang pengarangnya, beserta judul karyanya, empat puluh delapan jilid katalog terus-menerus diubah, didadftarkan dan dideskripsikan semua judul dan berisi petunjuk tentang di mana karya tertentu dapat ditemukan”.

    Selain itu, perpustakaan islam di Andalus mampu membawa kebangkitan pemikiran dan sains di Eropa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Bokenkotter dalam A Concise History of the Catholic Chruch bahwa selama periode kira-kira seratus tahun  (1150-1250) semua tulisan Aristoteles diterjemahkan dan diperkenalkan ke Barat, disertai dengan sejumlah besar koomentar Arab. Komentar-komentar filsuf Arab seperti Ibnu Sina dan Averoes yang menekankan karakter pemikiran filsuf yang tidak religius dan tidak spritual. Hal ini memicu krisis para pemimpin intelektual barat. Hal itu merupakan awal periode aktivitas intelektual yang tak tertandingi yang mencapai klimaksnya pada abad ke-13 terutama di Paris dan Oxford.

    Shiraz di Persia

    Bangsa Persia juga turut berperan besar dalam berlimpahnya perpustakaan di Dunia Islam. Adud al-Daula meruapakan salah satu tokoh yang berperan penting. Adud al-Daula (949-982) adalah seorang amir dari dinasti Buyid. Di Shiraz, Adud al-Daula mendirikan perpustakaan yang megah dengan buku-buku yang ditulis dari masa permulaan islam hingga masanya, perpustakaan ini terletak dalam istana kerajaan. Terdapat banyak sekali rak buku tinggi, kayunya dicat dengan warna emas dan juga terdapat ruang terpisah untuk setiap cabang ilmu. Perpustakaan ini diurus oleh bendahara dan direktur, hanya para sarjana terkemuka yang memiliki akses masuk ke perpustakaan tersebut. Direkturnya adalah Ibn Miskawaih (932-1030) yang merupakan filsuf dan sejarawan dari Rey Iran. Dia bekerja sebagai sekertaris dan pustakawan sejumlah wazir termasuk Adud al-Daula.

    Bahkan ada salah satu sekertaris dari Adud al-Daula yaitu  Abu Qasim Ismail yang memiliki perpustakaan yang luar biasa di Shiraz. Dia tidak hanya tertarik mengooleksi buku, tapi dia juga ditemani oleh penulis, penyair dan debat. Menurut Stuart Murray dalam The Libraries mengatakan bahwa “perpustakaan Islam dulu kaya akan keragaman, memungkinkan para sarjana dari negeri lain untuk berbagi fasilitas. Perpustakaan-perpustakaan ini terkenal akan daya tarik dan kenyamanannya, banyak yang dihiasi dengan kubah islam klasik, beberapa dikelilingi oleh jalan setapak dan taman dengan kolam. Dianatar perpustakaan paling legendaris adalah perpustakaan kota Shiraz di Persia, dimana terdapat lebih dari 300 kamar yang dilengkapi dengan karpet mewah. Perpustakaannya memiliki katalog yang lengkap untuk membantu menemukan teks yang disimpan di ruang penyimpanan dan diatur sesuai dengan setiap cabang pembelajaran”.   

    Perpustakaan di Kairo

                Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz Billah (955-996) selain khalifah dia juga merupakan seorang ulama, penulis puisi, menyalin buku dan juga mendirikan buku di istanyana (Fathimiyyah) di Kairo Khaa’in al-Qashaar yang terdiri dari 40 ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu hadis, fiqih, tata bahasa, sastra, sejarah, astronomi dan kimia. Disana juga terdapat 30 eksamplar “Kitab al-Ain” Khalil bin Ahmad Nahvi, 1200 examplar Tarikh al-Thabari dan masih banyak yang lainnya. Kemudian setelah kematian Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz,  koleksi-koleksi tersebut dipindahkan ke perpustakaan penerusnya al-Hakim bin Amr Allah (996-1021).

    Al-Hakim bin Amr Allah mendirikan perpustakaan di Kairo dengan nama Darul Hikmah (rumah ilmu pengetahuan), tujuannya adalah untuk menyebarkan keimanan Syi’ah. Para ilmuwan, ahli logika, ahli hukum, astronomi  dan dokter terkenal mengambil bagian dalam pengukuhannya dan bekerja disini. Suatu ketika Hakim bin Amr Allah mengunadang para ulama ini untuk berdebat, setelah itu setiap orang diberi uang dalam jumlah besar.

    Selain itu, ada juga perpustakaan Jami’ah al-Azhar yang didirikan pada masa Khalifah Muizz al-Din Allah (953-975). Perpustakaan ini menampung lebih dari dua ratus ribu jilid. Menurut hitungan tertentu, koleksinya mencakup 9.062 buku dan 595.668 manuskrip yang setidaknya berasal dari abad ke-8, untuk lebih jelasnya lihat libararything.com.

    Ada juga perpustakaan Mahmudiyya, perpustakaan ini merupakan bagian dari madrasah Mahmudiyya yang didirikan oleh seoorang negarawan Mesir Jamal al-Din Mahmud, penasihat dari Sultan Malik al-Zahif Sayf al-Din Barquq (1382-1399). Di perpustakaan ini terdapat beberapa ulama terkemuka yang menjadi direktur perpustakaan ini, salah satunya adalah Syeikh al-Islam Hafidz ibn Hajar al-Atsqalani yang menyiapkan dua katalog perpustakaan ini. Satu katalog disusun menurut abjad dan yang lainnya menurut materi pelajaran.

    Bukhara dan Samarkand

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Masjid Agung Samarkand pusat pembelajaran dan kegiatan intelektual Abad Pertengahan.
    Sumber : Museum.ru

    Bukhara dan Samarkand adalah dua pusat budaya Samanid (819-999). Kota ini telah lama menjadi pusat perdagangan, beasiswa, budaya dan agama. Di kota ini lahir Muhammad al-Bukhari (870), penulis dari kumpulan hadis Shahih al-Bukhari. Selain itu kota ini merupakan rumah bagi seorang tabib Syeikh Abu Ali Ibnu Sina (980-1037). Penguasa Samanid, Sultan Bukhara Amir Nuh bin Mansur (berkuasa 976-997) telah mendirikan perpustakaan yang luar biasa disini, dan Syeikh Abu Ali Ibnu Sina banyak memperoleh ilmu di perpustakaan ini.

    Hal tersebut dipertegas oleh perkataan Ibnu Khallikan dalam…. “Abu Ali Ibnu Sina sering mengunjungi perpustakaannya, yang kekayaannya tak tertandingi, karena tidak hanya berisi semua karya terkenal yang ditemukan di tangan publuk, tetapi yang lain tidak dapat ditemui di tempat lain dan yang tidak hanya judulnya tetapi juga isinya tidak diketahui. Disini Abu Ali menemukan risalah tentang ilmu-ilmu kuno, dan subjek-subjek lain, yang intinya dia luar biasa dengan sebagian besar ilmu-ilmu yang ia ketahui. kebetulan beberapa waktu kemudian perpustakaan ini habis terbakar,  dan Abu Ali tetap menjadi satu satunya penyimpan ilmu yang dikandungnya. Beberapa oorang bahkan mengatakan bahwa dialah yang membakar perpustakaan’.

    Perpustakaan-Perpustakaan Di Dunia Islam Lainnya

    Kemaharajaan Mughal

                Masih banyak lagi perpustakaan-perpustakaan yang lahir dan berkembang di wilayah-wilayah dunia muslim lain seperti perpustakaan di Mughal India. Muhammad Taher dalam Stuart Murray The Library mengatakan ‘perpustakaan kekaisaran sangat ditingkatkan oleh Mughal Muhyaddin Aurangzeb Alamgir yang terakhir. Terlepas dari bahasa lain, dia tahu bahasa Hindustan dengan sangat baik. Aurangzeb mendukung penyair Hindi, oleh karena itu perpustakaan kekaisaran pasti memiliki variasi yang jauh lebih besar daripada Akbar dalam bahasa utama di timur dan barat. Perpustakaan menambah koleksinya dan menjadi basis kegiatan sastra kaisar.

    Fataw’ay Alamgiri, intisari hukum Muslim terbesar di India, disusun oleh dewan ahli hukum terkemuka dibawah pengawasan pribadinya. Kompilasi ini membutuhkan akumulasi dari berbagai buku yang berhubungan dengan hukum dalam bahasa-bahasa utama Islam. Dalam perjalanan Deccan, tentang Mughal dapat menemukan perpustakaan Mahmud Gawan. Ini dipindahkan ke Delhi dan ditambahkan ke koleksi kekaisaran atas perintah Aurangzeb. Selera bacanya merupakan replika dari nenek moyangnya sendiri, dan kabarnya jam bacanya dimulai pukul 2 siang setiap hari. Para Nazim dari perpustakaan kakaisaran ini yang telah disebutkan dalam sejarah yaitu Muhammad Saleh bin Isa Khan, Syed Ali Tabrizi, dan para muhtamim yaitu Muhammad Mansur, Syed Ali al Hussaini dan Kabir Khan”.

    Kekaisaran Ottoman

    Kemudian perpustakaan di kekaisaran Ottoman/Utsmani Turkey, kekaisaran Utsmani menguasai wilayah Baghdad, kairo, Damaskus, Mekah, Madinah dan Yerusalem. Mesjid, perguruan tinggi dan perpustakaan baru mulai didirikan pada abad ke-17. Pada masa kekaisaran Utsmani, koleksi buku tumbuh dengan pesat, terutama karena wakaf-wakaf untuk kepentingan umum. Pada 1678 sebuah perpustakaan didirikan di Istanbul di gedung khsus, dan itu menyimpan koleksi Manuskrip Arab terbesar sebagaimana dikatakan oleh Can Karametil dalam The Turkish Journal of Collectable Art bahwa “Ada sekitar 14.000 manuskrip di perpustakaan. Ada hampir 18.000 miniatur, yang sebagian besar berada di Perpustakaan Perbendaharaan yang memamerkan karakteristik dari berbagai aliran dan gaya terbesar dari seni representasi Islam. Album dan buku terbaik dari Arab, Saljuk, Mongol, Timurid, Uzbek, Karakoyunlu dan Akkoyunlu Turkmen, Safawia, Mamluk dan para kaligrafi istana Ottoman merupakan bagian paling berharga dari perpustakaan Istana”.             

    Perpustakaan El Escorial di Spanyol

    Menurut Murray dalam The libraries mengatakan bahwa perpustakaan ini didirikan oleh Philip II pada tahun 1563, koleksi manuskrip tulisan Islam terbesar ada di Istana El Escorial di Kota Madrid. Terdapat sebuah ruangan di lantai atas yang berisi buku-buku yang dilarang dan telah membakar 70.000 volume. Kemudian sisa-sisa ini mencakup lebih dari 1.800 gelar Arab yang diperoleh dengan pengusiran Muslim dari Spanyol”, dan masih banyak lagi perpustakan-perpustakan lainnya yang tidak disebutkan dalam artikel ini.

    Terima Kasih dan Allahu’alam bishawwab.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/26/dari-moskow-ke-madiun-stalin-pki-dan-hubungan-diplomatik-uni-soviet-indonesia-1947-1953/

    Lihat juga : https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A8%D9%8A%D8%AA_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9

  • Dari Moskow ke Madiun: Stalin PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia 1947-1953.

    Dari Moskow ke Madiun: Stalin PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia 1947-1953.

    Danil Kasputra

    “Ketika seorang sejarawan Rusia berupaya mengumpulkan lembaran-lembaran arsip usang Uni Soviet yang selama ini tersimpan rapat dan jarang diketahui. Untuk merangkai kisah-kisah awal hubungan Indonesia dan Soviet”

    Kurang lebih dua tahun lalu saya membaca sebuah buku karya seorang Sejarawan Rusia bernama Larissa M. Efimova. Judul bukunya Dari Moskow ke Madiun. Kebetulan saat itu saya membuat beberapa catatan kecil mengenai buku itu. Beberapa catatan kecil yang akan saya tuangkan dalam suatu wadah tulisan dalam bentuk sebuah resensi.  Berikut ini isi resensinya.

    Pengantar Penerbit

    Di bagian awal tidak ada pengantar penulis atau sekadar sekapur sirih sebagaimana buku-buku akademis biasanya. Pada bagian ini hanya pengantar penerbit saja yang tampil. Dalam pengantar itu, ada beberapa hal yang ingin penerbit sampaikan. Pertama, perlunya pembukaan dokumen atas peristiwa Madiun seluas mungkin. Baik itu berupa tulisan individu-individu yang terlibat maupun penelusuran historiografi berbagai pihak yang dapat diandalkan.

    Kedua, patut dipertanyakan kembali apakah benar Uni Soviet terlibat secara penuh dalam petualangan di Madiun tahun 1948. Ketiga, nyatanya dari penelusuran Afimova dalam Arsip-arsip Soviet, negara superpower ini agak cuek dengan permasalahan Indonesia. Tapi walaupun cuek, Uni Soviet jugalah yang merupakan negara pertama menyeret Indonesia ke dalam kancah perang dingin. Keempat adalah  dinamika hubungan antara kedua negara. Bagaimana Soviet menjadi sponsor utama Republik yang baru lahir untuk masuk ke dalam PBB. Sungguh suatu pengantar yang menarik. Orang-orang pun saya rasa akan semakin penasaran jika membaca terlebih dahulu pengantar buku ini.

    Rincian Buku

    Buku Dari Moskow ke Madiun ini sangat tipis. Jumlah halaman memuat teks, daftar pustaka, indeks, dan dll. Sayangnya foto-foto sebagai pewarna buku tidak penulis cantumkan, sehingga terasa seperti ada yang hilang. Ada 171 halaman tapi hanya 157 yang memuat deskripsi utama. Cukup renyahlah bagi para pembaca pemula juga santapan lezat bagi para kutu buku. Saya pun tidak perlu berjuang keras untuk membaca uraian deskripsinya. Apalagi dari aspek bahasa, penulis menyampaikan gagasannya begitu mengalir tidak bertele-tele. Campur tangan penerjemah juga ikut bermain disana. Tanpa penerjemah yang kompeten, tidaklah mungkin hadir bacaan yang senyaman ini.

    Lalu Sang Penulis membagi buku ini ke dalam empat bab dilakukan secara tematis. Permulaan dan Proses pembukaan hubungan diplomatik antara Soviet dan Republik Indonesia mengawali permulaan buku ini. Kemudian, Siapakah yang memberi perintah pada Musso dalam petualangannya di Madiun tahun 1948. Lalu masuk pada bagian hubungan Stalin dan bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pemberontakan tahun 1926. Di bagian akhir, Efimova memaparkan bukti-bukti baru tentang pembukaan hubungan diplomatik Soviet Indonesia (1949-1953).

    Arsip-Arsip Langka Soviet

    Satu hal yang menarik. Dari Moskow ke Madiun bukan saja karena penulisan sejarah Indonesia dari kacamata seorang sejarawan Rusia yang selama ini sering terbaikan, melainkan arsip-arsip Soviet yang hadir sebagai sumber primer yang membentuk fondasi dasar penulisan buku ini. Arsip-arsip Soviet yang sebelumnya tersimpan rapat di Kremlin dan bersifat sangat rahasia, mulai bisa dijamah publik sejak kejatuhan rezim komunis di Rusia awal dekade 90-an. Tentu saja banyak informasi baru disana.

    Informasi baru itu lumayan juga banyak yang merekam kejadian-kejadian di Indonesia terutama hubungan Kremlin sebagai pusat dari poros utama partai komunis dunia dengan partai komunis di Indonesia. Dari sana ada banyak hal yang telah kita ketahui seperti Musso yang meminta bantuan Stalin selama pemberontakan PKI tahun 1926. Tapi banyak juga informasi yang tidak pernah kita ketahui sekali.

    Indonesia di Luar Kepentingan Soviet

    Sebagai negara yang lahir setelah perang Dunia II, sebagian dari kita sering menyakini bahwa Indonesia berada dalam perebutan pengaruh dua kekuatan besar dunia yang lahir setelah perang usai, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Narasi-narasi yang ada sering menggambarkan bagaimana Amerika Serikat berusaha pada satu sisi membela kepentingan Belanda sebagai sekutunya. Tapi pada sisi yang lain, Amerika Serikat juga tidak rela Indonesia jatuh ke dalam kubangan komunisme. Sementara itu Narasi lain mengisahkan upaya Soviet membawa Indonesia ke dalam pusaran pengaruhnya dengan mengutus seorang petualang sekaligus dedengkot PKI yang hidup dalam pengasingan di Moskow, Musso ke Indonesia.

    Melalui tulisan Dari Moskow ke Madiun ini juga kita menemukan suatu hal yang tak terduga bahwa selama tahun-tahun awal seusai perang, Indonesia berada di luar kepentingan besar Uni Soviet. Terlihat dari diplomasi politik awal Soviet yang nampak sangat terkesan hati-hati untuk berkenalan negara baru itu. Uni Soviet bukan tidak tahu Indonesia sebagai sebuah negeri yang sedang berjuang untuk merdeka. Namun bagi Soviet negara itu tidak begitu menarik perhatiannya. Biro Asia Tenggara Soviet pun menyarankan perlunya sikap hati-hati untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Apalagi dalam perjanjian diantara anggota sekutu sesudah perang terkait pembagian pengaruh dunia, Asia Tenggara bukanlah dalam lingkup pengaruh Soviet.

    Janganlah heran, hubungan kedua negara baru terjalin kurang lebih tiga tahun kemudian melalui Suripno sebagai utusan Indonesia untuk negara-negara blok Timur. Lagi-lagi Biro Asia Tenggara pun menyarankan untuk lebih berhati-hati. Tapi akhirnya Uni Soviet menyetujui hubungan antara dua negara.

    Tentang Musso

    Walaupun di luar kepentingan besar Uni Soviet, para pemimpin Soviet juga tetap mengamati perkembangan Indonesia dari kejauhan. Tapi mereka sangat kekurangan bahan dan informasi yang mendalam tentang apa saja yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bahan informasi yang ada hanya mereka peroleh dari para komunis pelarian asal Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Musso. Musso sendiri pemimpin utama PKI yang melarikan diri ke Moskow setelah gagalnya pemberontakan PKI tahun 1926. Meskipun begitu dia sempat kembali ke Indonesia tahun 1935 untuk membangun PKI di bawah tanah.    

    Pada awalnya Musso sangat mendukung berbagai kebijakan yang digariskan oleh kawan-kawannya di Indonesia. Apalagi kaum kiri Indonesia memegang pucuk pemerintahan. Musso juga tak mempermasalahkan dengan berbagai perundingan yang dilakukan dengan Belanda.  Mengenai kaum kiri yang terpecah dan berinfiltrasi dalam berbagai macam partai, Musso juga tak mau ambil pusing. Karena bagi Musso situasi dan kondisi memang mengharuskan kaum kirim melakukan tindakan demikian. Ketika Musso melaporkan situasi dan keadaan Indonesia yang demikian, para pejabat Soviet pun sebenarnya sering mengkritiknya. Tapi Musso malah membantah dan teguh pada pendiriannya. Musso juga membela mati-matian apa yang dilakukan kaan-kawannya di Indonesia.

    Musso Frustasi

    Tapi awal Januari 1948 kabinet kaum kiri di Indonesia jatuh, Hatta seorang nasionalis naik memegang kendali pemerintahan Indonesia. Kabinet Hatta mendapat dukungan Masyumi dan PNI yang notabene mewakili kelompok agama dan nasionalis. Partai Sosialis yang mewakili sebagian besar suara kaum kiri terpecah. Orang-orang yang berkecenderungan kanan dalam partai itu dipimpin Syahrir menyokong kabinet Hatta dan keluar dari partai membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia. Kaum kiri pun tersisih dari Kabinet dan mereka tidak terwakili. Satu hal yang lucu, mungkin akibat kekurangan bahan informasi, orang-orang di Soviet pada awalnya menganggap Syahrir sebagai seorang komunis yang dapat dipercaya. Baru diketahui kemudian Syahrir bukan seorang komunis.

    Kejatuhan pemerintahan kaum kiri di Indonesia sampai telinga para pejabat Soviet, mereka marah mendengar ini dan menyalahkan Musso atas keterkekehannya dulu dalam membela kebijakan salah kawan-kawannya di Indonesia. Akibatnya kata mereka pemerintahan Indonesia jatuh pada kendali kaum nasionalis borjuis. Mereka kemudian meminta Musso untuk kembali ke Indonesia dengan doktrin yang telah mereka gariskan. Musso kemudian kembali ke Indonesia dengan membawa doktrin yang digariskan Moskow. Tapi doktrin itu sendiri sempat ia ubah dan otak-atik bersama seorang tokoh komunis Belanda. Doktrin itu kelak muncul dalam judul “Jalan Baru Revolusi Indonesia”. Musso sendiri yang sempat dihujat dan disalahkan kemudian datang ke Indonesia sdengan rasa frustasi.

    Musso ke Indonesia

    Setelah tiba di Indonesia, Musso menyatukan beberbagai kelompok kiri yang terpecah ke dalam satu partai Partai Komunis Indonesia. Musso keliling wilayah Republik di Jawa, memimpin rapat umum dan berpidato di tengah rakyat. Musso menyalahkan pemimpin Republik yang malah menjalankan perundingan Renville yang tak adil, padahal kawannya dulu lah yang menandatangani perundingan itu. Kurang dari seratus hari setelah kedatangannya, pertengahan 1948 meletus peritiwa Madiun.

    Musso dengan percaya diri dalam sebuah radio menyerang pemerintahan Soekarno-Hatta. Musso juga menyerukan agar rakyat ikut bersamanya. Soekarno yang tak kalah berani lalu menyerang Musso dalam siaran radio dengan suara lantang “Pilih Musso atau Sukarno”ucapnya. Tentara Siiwangi yang terusir dari Jawa Barat akibat perundingan renville dan kebetulan bermarkas di Solo bergerak ke Madiun. Dalam waktu kurang dari dua minggu, mereka telah mematahkan perlawanan Musso. Madiun pun kembali dalam genggaman Republik.

    Sementara itu Musso tahu perlawannya gagal melarikan diri bersama sisa pengikutnya. Tapi dalam pelarian, langkahnya terhadang oleh satuan-satuan Siliwangi. Dalam suatu rumah Musso kemudian terkepung dan tewas tertembak. Maka tamatlah riwayat Musso. Itulah cerita singkat tentang pengelanaan Musso selama kurang dari seratus hari di Indonesia. Cerita ini telah banyak dketahui. Tapi ada satau informasi yang baru kita ketahui setelah membaca buku kerangan Larissa Efimova ini.

    Musso Malah Memimpin PKI

    Para pejabat Soviet sebenernya tidak pernah menyarankan Musso untuk kembali ke Indonesia untuk memimpin PKI. Mereka justru lebih menyarankan tokoh senior PKI semacam Alimin daripada Musso. Para pejabat Soviet malah lebih senang jika Musso cukup ditempatkan sebagai penasehat partai atau sejenisnya dengan pengaruh besar untuk menjalankan agendanya. Alasan utama para pejabat Soviet ialah Musso telah lama meninggalkan Indonesia, sehingga dia sudah tidak mengetahui lagi secara utuh seluk beluk situasi dan kondisi di Indonesia. Informasi yang dia dapatkan pun selama di Indonesia hanyalah dari para mahasiswa, anggota partai yang kebetulan sedang di Moskow. Itupun dengan bahan informasi yang sepotong-sepotong. Oleh karenanya, mereka cukup kaget ketika Musso kembali ke Indonesia malah memimpin PKI.

    Begitulah kurang lebih resensi saya mengenai buku Lariisa Efimova ini. Buku ini layak untuk anda baca terutama bagi anda penggemar kisah-kisah masa revolusi serta juga pengkaji sejarah revolusi Indonesia.

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/22/mabadi-ilmu-tarikhseluk-beluk-mengenai-ilmu-sejarah/

  • Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah

    Nur Cahya

    “Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari).“

    Dahulu di pondok pesantren ketika kita ingin membuka sebagian kitab ulama. Maka pertama-tama kita akan terlebih dahulu diperkenalkan kepada sebuah pengantar untuk mengenalkan ilmu yang akan digeluti dalam kitab tersebut.  Pengantar tersebut pada umumnya dijabarkan menjadi sepuluh poin, namun ada juga yang kurang dari itu. Sepuluh poin inilah yang oleh para ahli dan pakar disebut sebagai pengantar ilmu atau “Mabadi Asyrah”.

    Mabadi Asyrah

    Istilah “Mabadi Asyrah” belumlah dikenal oleh para ulama terdahulu.  Menurut Dr. Musthafa Ridha, salah satu seorang guru di al-Azhar, mengatakan bahwa gagasan ini dilafalkan pertama kali oleh imam Sa’adudin  al-Taftazani dalam kitabnya yang berjudul المطول “al-Muthawwal” sebagai penjelas dari kitab Talkhis al-Miftah milik imam Qazwani dalam ilmu balaghah. Namun, hal itu belum dinamai sebagai Mabadi Asyrah sebab dalam kitabnya ia hanya menjelaskan tiga hal saja. Ketiga hal itu ialah definisi, pembahasan, dan faidah.

    Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu  kreativitas para ahli dalam Islam tidak pernah berhenti.  Mereka terus mencoba untuk membuka gagasan yang belum pernah dilakukan para pendahulunya. Jika sudah ada yang mencetuskan, maka mereka akan coba mengembangkan dan memperluas apa yang telah dikemukakan oleh para pendahulu mereka. Diantara para ahli itu yaitu imam Abu Irfan al-Shabban, penulis dari kitab yang berjudul حاشيه صبان على الملوى yang mencoba memperluas gagasan apa yang telah dikemukakan oleh al-Taftazani.

    Syair Mabadi Asyarah

    Dalam kitab tersebut imam al-Shabban menjadikan tiga hal yang dijelaskan oleh al-Taftazani menjadi sepuluh. Imam al-Shabban merangkum sepuluh poin ini dalam bentuk syair yaitu:

    إِنَّ مَبَادِي كُلِّ فَنٍّ عَشرَةْ           الحَدُّ وَالمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَّمرَةْ

    وَنِسْبَةٌ وَفَضْلُهُ وَالوَاضِعُ           وَالاسْمُ الاِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعُ

    مَسَائِلُ وَالبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى   وَمَنْ دَرَى الجَمِيْعَ حَازَ الشَّرَفَا    

    Artinya:  “Sesungguhnya Maba>di (pengantar dasar dalam setiap disiplin ilmu) itu ada sepuluh, yaitu (1) Batasan definisi, (2) Ruang lingkup kajian, (3) Manfaat kajian,

    (4) Perbandingan dan Hubungan dengan kajian yang lain, (5) Keistimewaan, (6) Perintis, (7) Sebutan resmi, (8) Sumber pengambilan kajian, (9) Hukum mempelajari,

     (10) Masail (pokok permasalahan yang dikaji). Mengetahui sebagainya memadai untuk sebagian yang lain dan siapa yang menguasai semuanya maka akan meraih kemuliaan”.

    Hingga sampai sekarang sebuah pengantar ilmu dikenal dengan sebutan “Mabadi Asyrah” yaitu sepuluh poin penting yang harus diketahui oleh pelajar sebelum membuka atau memasuki suatu disiplin ilmu.

    Ilmu Tarikh

    Salah satu dari disiplin ilmu yang ada yaitu ilmu tarikh. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika pelajar ingin memasuki suatu disiplin ilmu termasuk ilmu tarikh. Maka pelajar itu harus mengetahui terlebih dahulu sebuah pengantar dari disiplin ilmu tarikh itu sendiri.  Disiplin ilmu tarikh disebutkan oleh imam As-Sakhawi dalam kitabnya yang berjudul الأعلان بالتوبيخ لمن ذم اهل التاريخ  terdapat sepuluh pengantar atau Mabadi Asyrah. Meskipun susunannya itu tidak sama persis dengan syair imam al-Shabban. Mabadi Asyrah yang disebut imam Al-Sakhawi dalam kitabnya yaitu: definisi tarikh, ruang lingkup ilmu tarikh, Manfaat ilmu tarikh, hubungan ilmu tarikh dengan ilmu lain, tujuan ilmu tarikh, hukum tarikh, syarat menjadi Muarikh, Nama tarikh/sebutan resmi, perintis tarikh, dan pokok permasalahan yang dikaji.

    Definisi Ilmu Tarikh

    Definisi tarikh berdasarkan لغة atau bahasa yaitu الاعلام بالوقت   (pengetahuan tentang waktu/ tanggal). Sedangkan menurut Abu al-Faraj Qudamah bin ja’far al-Kaaib dalam kitab الخراج kata tarikh yaitu peristiwa-peristiwa yang terkenal atau masyhur (padanan dengan term sejarah).

    Adapun tarikh menurut العرف (adat)  memiliki arti fiksasi umum waktu untuk tujuan yang berkaitan pada satu bagian masa (jaman), baik dari masa lalu, masa sekarang atau bahkan masa depan. Sedangkan secara  اصطلاح (terminlogi) yaitu indikasi waktu dengan menghubungkan pada peristiwa pertama dari berbagai banyak perhatian, seperti penampilan sebuah agama, atau kejadian yang menakutkan seperti peristiwa banjir, gempa bumi besar atau sejenisnya, atau tanda dan fenomena teresterial (hal yang terkait dengan tanah atau permukaan tanah).  

    Selanjutnya ilmu tarikh menurut Imam As-Sakhawi adalah ilmu yang membahas tentang fakta waktu. Fakta waktu disini meliputi dalam hal pengangkatan dan pencegahan yang terjadi di dunia. Sedangkan menurut imam al-Kafiyaji ilmu tarikh berarti membicarakan cabang ilmu yang dikodifikasikan. Sedangnkan cabang ilmu yang dikodifikasikan itu harus memiliki masalah beserta objeknya dan ilmu tarikh memiliki hal itu.

    Ruang Lingkup Ilmu Tarikh

    Ruang lingkup ilmu tarikh adalah manusia dan waktu.

    Manfaat Ilmu Tarikh

    Manfaat mempelajarri ilmu tarikh adalah mengetahui peristiwa-peritiwa tertentu yang nantinya dijadikan suatu pembelajaran. Ilmu tarikh juga sangat bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain seperti ilmu siyasah (politik), sosial, filsafat, fikih dan lainnya.

    Hubungan Ilmu Tarikh dengan Ilmu Lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Hadis

    Ilmu Tarikh dengan ilmu hadis, bukti sejarah sangat membantu sekali terhadap keaslian dan kredibilitas seorang periwayat (sanad) beserta redaksi (matan) hadisnya dan jarh wa tadiil, contoh seperti tarikh al-Hufadz, Tarikh Muhadisin, Thabaqat dan lainnya. Begitupun sebaliknya, ilmu hadis sangat membantu sekali ilmu tarikh hal itu bisa terlihat sekali dimasa ilmu tarikh pertama kali berkembang didunia Islam, dimana metode ilmu hadis banyak diterapkan juga terhadap ilmu tarikh. Bahkan beberapa penulisan sejarah islam ada yang mesti menggunakan sumber ilmu hadis/hadis ini contoh seperti penulisan سيرة النبي, مغازي, اسباب النزول, اسباب الورود,  تاريخ الحفاظ , تاريخ المحدثين dan lain-lain.

    Hubungan Ilmu Tarikh dan Politik

    Kedua Ilmu sangat berhubungan juga dengan politik begitupun sebaliknya, dimana hal itu bisa terlihat dalam penulisan تاريخ الخلفاء (para khalifah), تاريخ الوزراء (para menteri),  تاريخ الملوك(kerajaan) dan lain-lain.

    Antara Ilmu Tarikh dengan Ilmu Akhlaq dan Tasawuf

    Ilmu Tasawuf juga saling berhubungan dengan Ilmu Sejarah contoh seperti penulisan تاريخ العباد والصوفية., تاريخ الاشراف , dan lain-lain

    Relasi Ilmu Tarikh dan Ilmu Fiqh

    tarikh sangat membantu terhadap fikih islam karena fikih atau hukum  islam tidak lahir sebagai produk yang instan yang langsung jadi, namun itu melewati masa dan priodik cukup lama. Sehingga mempelajari tarikh pembentukan fikih tersebut memiliki manfaat dan urgensi yang sangat penting. Contoh kitab تاريخ الفقهاء, النسخ dan lain-lain.

    Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lain yang membutuhkan ilmu tarikh, begitupun sebaliknya seperti kedokteran, filsafat, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.

    Tujuan Ilmu Tarikh

    Tujuan dari ilmu tarikh ini adalah semata-mata mengharapkan Ridha Allah. Karena hal itu tidak mengharapkan upah atau pahala dari sebaik-baiknya perbuatan dan perbuatan itu tergantung dengan niatnya.

    Hukum Tarikh

    Adapun hukum memplajari  tarikh menurut as-Sakhawi itu tidak tertuju pada satu hukum. Pertama seseorang (muslim) dihukumi wajib jika dia menentukan cara untuk mengetahui yang berhubungan dengan suatu Khabar seperti silsilah perriwayatan dan sejenisnya, mengetahui naskh,dan  hal yang berhubgan dengan nasab seperti waris dan …. Kedua, adapun jika selain hal itu tarikh dihukumi fardhu kifayah, yakni status hukum dari sebuah aktifitas dalam islam yang wajib dilakukan. Akan tetapi apabila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur.

    Syarat Menjadi Muarikh (Sejarawan)

    Untuk menjadi seorang sejarawan, as-Sakhawi memberikan empat kriteria. kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang sejarawan. Keempat kriteria itu serupa dengan syarat kriteria yang harus dimiliki oleh seorang perawi hadis. Hal itu guna mengetahui kualitas seorang sejarawan, baik kualitas intelektual maupun kepribadiannya. Sejarawan dituntut harus al-aql (cerdas), yang dhabit (akurat), beragama islam dan adil.

    Tradisi ini sangat diandalkan khususnya dalam mengetahui kualitas serta kredibilitas seorang perawi dan dapat dipercaya. Karena itu, karya sejarwan akan lebih diinginkan dan lebih terpercaya. Hal itu supaya ada peningkatan kewaspadaan terhadap cerita yang tanpa dasar. Sejarawan juga akan dilindungi dari kesalahan dan menyesatkan pernyataannya.

    Nama Tarikh

    Kata tarikh bukanlah dari bahasa arab asli, tetapi suatu kata yang diarabkan yang diambil dari bahasa persia yaitu ماه روز  (mahurauj). Kata ماه berarti القمر (bulan) dan kata روز   berarti اليوم (hari). Abu Mansur al-Juwaliqi dalam kitabnya المعرب من الكلام الأعجمي berkata bahwa tarikh adalah bukan bahsa arab murni, karena orang-orang muslim mengambilnya dari ahlu kitab (orang Farsi). Al-Kafiyaji dalam kitabnya  مختصر في علم التاريخ  mengatakan bahwa awalnya kata tarikh ini tercipta ketika Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa al-Asy’ari yang tanpa disertai titik mangsa dan hari pengirimannya. Kemudian Umar menydari adanya kesulitan pada saat melakukan pengarsipan dan seleksi urutan surat.

    Oleh karena itu, Umar kemudian memerintahkan adanya musyawarah yang melibatkan para ahli dan sahabat Nabi SAW. Musyawarah ini bertujuan untuk menyusun penanggalan yang khusus berlaku dalam Islam. Singkat cerita, Umar menetapkan penanggalan atau kalender resmi umat Islam pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 17 H. Nama kalender umat Islam ini adalah Hijriah karena menjadikan peristiwa  hijrah Nabi SAW sebagai permulaan penanggalan.

    Dari peristiwa ini pula lahirlah kata tarikh yaitu ketika umat muslim menaklukan Persia dan seorang al-Hurmujan (dia adalah raja al-Ahwaz) masuk islam menceritakan bahwa bangsa ajam mengukur perhitungan waktu dinamakan  ماه روز dan dihubungkan dengan kebiasaan mereka dari الاكاسره . Kemudian kata tersebut diarabkan menjadi مورخ kemudian diambilah bentuk masdharnya yaitu تاريخ , maka jadilah tarikh dengan arti tanggal atau term sejarah dalam bahasa arab dan itu digunakan hingga sekarang.

    Para Perintis Ilmu Tarikh

    Siapa perintis penulis sejarah  (muslim), maka jawaban imam As-Sakhawi adalah banyak sekali. Karena dia membagi lagi tulisan-tulisan sejarah para ulama dimana penulisan sejarah dan masing-masingnya berbeda orang  pertama yang menulisnya. سيرة النبي dan المغازى ditulis pertama kali oleh Musa bin Uqbah al-Asadi al-Madani (salah satu tabi’in), Muhammad bin Ishaq al-Muthalabii (salah satu tabi’in juga).

    1. قصص الانبياء (kisah-kisah para Nabi) ditulis petama kali leh Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Muthalabi
    2. Penulisan تاريخ الصحابة (sejarah para sahabat) ditullis pertama kali oleh Ali bin Al-Madani dengan judul kitab معرفة من نزل من الصحابة سائر البلذان yang terdiri dari 5 juz.
    3. تاريخ الخلفاء (sejarah para khalifah) yang didalamnya diceritakan dari pemimpin masa shabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, dan Mu’awiyah), khalifah-khalifah dinasti Umayah, Khalifah-khalifah dinasti Abasiyah, Khalifah-khalifah dinasti Umayah 2 (Andalus), khalifah-khalih dinasti Mamluk hingga khalifah-khalifah dinasti fatimiyyah ditulis pertama kali oleh Abu Abdullah Muhammad bin Husain al-Mahdi.
    4. تاريخ الملوك الاسلام  (sejarah kerajan-kerajan/daulah Islam) ditulis pertama kali oleh Muhammad bin Abdul Mulki al-Hamdaani, Abu Hasan Ali bin Abu Manshur al-Ajadi.

    Masail Ilmu Tarikh

    Mengenai objek atau masail yang dibahas dalam ilmu tarikh yaitu peristiwa atau kejadian yang menarik, kejadian yang mampu menciptakan untuk tindakan yang baik, kejadian yang mengandung peringatan serta menentang melakukann kejahatan, kejadian yang mampu meghasilkan melakukan perbuatan baik dan halangan melakukan kejahatan, peristiwa atau kejadian yang mampu memberikan nasihat, berisi intruksi dan kejadian yang mengesankan.

    Akan tetapi, tidak semua kejadian yang disebutkan diatas bisa dituliskan. Al-Kafiyaji dalam kitabnya dengan judul مختصر في علم التاريخ memberikan syarat bahwa kejadian-kejadian tersebut mesti dideinisikan dengan jelas, waktu kejadiannya mesti ditetapkan dengan penuh kehati-hatian dan mesti memiliki tujuan yang jelas.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/21/senjata-api-di-kerajaan-kerajaan-indonesia/

  • Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia

    Danil Kasputra

    “Kerajaan-kerajaan Indonesia kuno juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.”

    Seringkali saya mendengar dalam satu bincang-bincang katanya kerajaan-kerajaan Indonesia zaman dulu itu berperang hanya modal golok dan bambu runcing saja. Sementara Belanda datang ke tanah air kita dengan teknologi canggih senjata api. Jadinya, niat kita mau serang Belanda malah kita yang sudah kena dor duluan. Jadilah kita selalu saja kalah dan kalah. Jangan heran deh! akhinya Belanda menjajah tanah air kita tercinta ini hingga 350 tahun. Saya sebagai penyimak seringkali merenung sekaligus mengingat-ingat berbagai referensi buku yang pernah saya baca. Dalam benak saya, terbersit, Ini beneran nggak sih!!!. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya menyimpulkan bahwa opini ini tak sepenuhnya benar. Loh Kok bisa gitu? oke deh klo gitu ada baiknya saya ajak anda menengok kebelakang.

    Anggapan bambu runcing, golok, parang, dan berbagai senjata tradisional khas nusantara lainnya sebagai senjata utama peperangan kerajaan-kerajaan Indonesia tempo dulu tidaklah salah. Tapi perlu diketahui sebagaimana Belanda kerajaan-kerajaan itu juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu nampaknya jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

    William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra (2016:518) mengatakan bahwa meriam sudah dikenal di sana (Hindia) jauh sebelum penemuan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan. Penemuan jalur menuju Tanjung Harapan sendiri baru terjadi pada akhir abad ke 15. Setidaknya, kita bisa menduga bahwa sebelum abad ke 15 kerajaan-kerajaan Indonesia telah mengenal senjata api. Jadi supaya lebih jelas berikut ini saya uraikan beberapa kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lalu dengan senjata api yang mereka miliki.

    Artileri dan Pasukan Musketir Majapahit

    Majapahit yang dikenang sebagai kerajaan terbesar dalam memori orang Indonesia diketahui telah mengenal teknologi senjata api. Thomas Stanford Raffles dalam bukunya The History of Java Volume II (1817:99) menulis bahwa di tahun 1247 Saka (sekitar 1325 M) negeri-negeri bawahan Majapahit mengirimkan sebuah meriam bernama Ng’ai stomi (Nyai Satomi) dan beberapa meriam berkaliber kecil.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sebuah Meriam Perunggu Majapahit bertarikh abad ke 14 M. Lambang Surya Majapahit tampak terdapat di bagian tengah meriam.
    Sumber: Metmuseum.org

    Buku A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century (1866:198) dari Duarte da Barbossa yang singgah di Jawa tahun 1510 M menguatkan kata-kata Raffles. Orang-orang Jawa kata Barbosa memiliki beragam jenis meriam, musket atau senapan panjang, serta banyak senjata api lainnya. Senjata-senjata ini memiliki manfaat yang besar dan amat berguna sebagai artileri. Barbossa juga tampak terkagum -kagum sekaligus keheranan bagaimana baja-baja terbaik ditempa dengan amat cantik lalu ditahtakan emas dan gading.

    Kesaksian Barbosa tentang adanya musket atau senapan panjang kembali diperkuat oleh kesaksian dari seorang pelawat barat lainnya dari Portugis. Nama pelawat itu adalah Tome Pires. Dalam kesaksiannya yang dituangkan dalam buku The Suma Oriental of the Tome Pires and The book of Francisco Rodrigues (1944:176) Pires mencatat bahwa Raja Jawa Gusti Pate (Gusti Patih) memiliki sekitar empat ribu pasukan musketir. Pasukan ini dia gunakan dalam peperangan dengan raja-raja pesisir yang telah terislamkan utamanya raja Demak.

    Meriam-meriam Kesultanan Demak

    Pada abad ke 16, saat Majapahit telah terbenam. Mantan bawahan sekaligus saingannya Demak telah muncul dalam panggung politik Jawa sebagai penerus Majapahit namun dalam balutan agama baru, agama Islam. Tentu saja sebagai penerus Majapahit, Demak juga telah banyak berkenalan dengan berbagai jenis senjata api.

    Apalagi dalam rangka perluasan kerajaannya, senjata api merupakan senjata yang penting bagi kesultanan Demak. Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:377) mengatakan dari sumber Portugis dan lokal bahwa meriam banyak digunakan tahun 1511 dalam pertempuran merebut Melaka yang berujung kekalahan menyakitkan bagi Demak.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Meriam Ki Amuk konon meriam buatan Demak yang dihadiahkan pada Sultan Banten sebagai hadiah pernikahan pada tahun 1579.
    Sumber: Leiden University Libraries Collection

    Mengenai darimana meriam-meriam itu berasal dan siapa pembuatnya, The Adventures of Mindes Pinto (1663:378), mengabarkan pada kita betapa pentingnya peran Orang Aceh dan Turki dalam pembuatan meriam-meriam Demak. Kemudian ada juga seorang pembelot Portugis bernama Coai Geinal (Khoja Zainal) berperan amat penting sebagai pimpinan pabrik pembuatan senjata api.

    K.C.Crucq dikutip dari Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:380) telah melakukan serangkain penelitian serius. Hasilnya kemungkinan Meriam Ki Amuk yang tersimpan di Banten hari ini merupakan satu dari sedikit meriam produksi Demak yang tersisa. Crucq mendasarakan pada catatan Valentijn bahwa Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanudin Banten sewaktu pernikahnnya dengan putrinya. Maka Meriam Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tanggal adalah 1450 Saka, yakn 1528/9 yang kiranya sesuai dengan pernikahan Hasanudin.

    Artileri-Artileri Kesultanan Aceh

    Dari segi persenjataan, Kerajaan-kerajaan Indonesia dari Sumatera juga tak kalah gaul dalam perkenalan dengan teknologi senjata api. Bahkan berkat perkenalan itu Aceh tampil sebagai satu kerajaan besar di abad ke 17. Kekuatannya sanggup setidaknya membuat negara-negara Eropa macam Portugis agak keteteran. Aceh yang di abad itu telah terislamisasi banyak mendapat bantuan persenjataan dari Turki (Kesultanan Ottoman) sebagai poros utama dunia Islam.

    J.R Verbeek dalam De Geschiedenis van Atjeh Sultanaat in Vogelvlucht mengatakan berkat kerjasama militer dengan Turki meliputi bantuan senjata api. Tak perlu heran, Aceh di masa Sultan Alaudin mampu merontokkan semua kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu saingannya. Orang Portugis di Malaka pun ketar-ketir dibuatnya. Tiga kali serangan orang Aceh selama rentang waktu 1537 hingga 1547 sempat membuat Portugis kerepotan.

    Kabar yang beredar konon di masa jayanya pada zaman Sultan Iskandar Muda yang termashur, Aceh punya 5000 pucuk meriam. Jumlah itu cukup setidaknya menggambarkan betapa perkasanya kesultanan itu di zamannya. Tapi jumlah itu ternyata tidaklah benar juga. Seorang pengelana Perancis Beaulieu mengabarkan pada kita dikutip dari buku Kerajaan Aceh (2014:132) karya seorang Indonesianis bernama Denys Lombard jumlah itu telah dilebih-lebihkan. Pada kenyataannya 5000 itu meliputi 1200 meriam berkaliber sedang, 800 meriam besar serta sisanya hanya istinggar. Itu pun kata Beaulieu dengan nada agak sinis pendek dan kurang baik pemasangannya.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Sejenis senjata api musket atau istinggar dari Kesultanan Aceh abad-19.
    Sumber: Tropen Museum.

    Tentang Meriam dan Istinggar

    Orang Aceh sendiri pun sebetulnya sudah terampil menuang meriam sendiri. Tapi sultan pun akan senang apabila ada para pengelana asing yang menghadiahinya meriam. Beberapa hadiah bahkan jadi benda kesayangan Sultan (2014:133). Ada juga satu kebiasaan unik sultan. Senjata dan mesiu akan disembunyikan pada suatu tempat rahasia hingga suatu peperangan tiba. Rupanya Sultan takut sewaktu-waktu senjata api dan mesiu ini digunakan untuk pemberontakan melawan dirinya.

    Istinggar sendiri bukanlah meriam tapi senjata api sejenis bedil. Senjata ini banyak tersebar di se-antero negeri Melayu. Wan Mohd Dasuki dan Siti Radziah dalam Manuskrip Ilmu Bedil sebagai Sumber Etnosejarah Teknologi Senjata Api Melayu (2014:64) sumbu pencucuh istinggar yang berbara tersebut dikepit pada hujung pemegang sumbu. ketika picu ditarik, pemegang sumbu akan menolak sumbu berbara ke lubang penggalak yang berisi ubat bedil. dengan itu ubat bedil akan terbakar dan menghasilkan daya yang membolehkan peluru timah hitam dilepaskan dengan halaju tinggi melalui muncung istinggar.

    Matchlock dan Snapang Minangkabau

    Tidak jauh dari Aceh, di pantai barat Sumatra, Sumatra Barat adalah rumah bagi orang-orang Minangkabau. Sebagaimana di Aceh, disini orang Minangkabau juga telah berkenalan dengan teknologi senjata api. Matchlock dan Snapang adalah dua senjata api yang umum digunakan disini. Matchlock sebagaimana dicatat William Marsden (2016:517) larasnya dipadatkan dengan baik dan dilubangi dengan tepat, terbukti dengan bagusnya bidikan mereka. Mereka selalu membidik dengan merendahkan larasnya, alih alih menaikkan ujung ke arah sasaran.

    Senjata Api Kerajaan Indonesia
    Matchlock yang digunakan oleh kaum Padri ketika meletusnya perang Padri.
    Sumber: Domain Publik

    lalu ada snapang yang berasal dari istilah Belanda. Istinggar yang telah kita jelaskan sebelumnya terkategorikan sebagai snapang. Tapi dalam teks-teks historiografi Melayu snapang ini lebih dikenal dengan nama terakul. Snapang ini dilengkapi mekanisme bidasan spring-batu api, dengan memanfaatkan percikan api akibat geseran batu api tersebut ke arah pengadang besi yang tersedia untuk menyalakan ubat bedil (Wan Mohd Dasuki, 2014:64). Berlainan dengan senjata api milik Kesultanan Aceh, Senjata ini diadaptasi dari teknologi senjata api bangsa Eropa.

    Serupa orang Aceh, orang Minangkabau juga terampil menuang meriam. Meriam ditempa dengan menggulingkan batangan besi yang rata yang memiliki dimensi proporsional. Pengerjaannya dilakukan secara spiral, mengelilingi batang bulat dan memukul-mukulnya sampai bagian-bagian besi tersebut telah menyatu. Senjata-senjata ini terus digunakan hingga abad ke 19 ketika perang Padri meletus di Sumatra Barat. Berkat itu, Belanda sempat kewalahan terutama di masa awal peperangan.

    Nah, jadi tidak sepenuhnya benar kan! Nenek moyang kita dulu perang hanya pakai golok dan bambu runcing saja. Mereka juga sudah kenal senapan dan meriam. Lantas, timbul pertanyaan, mengapa kita dijajah sampai ratusan tahun? lama bener kalau dihitung katanya sampai tujuh turunan. Soal itu tentu saja ada faktor dan sebab tertentu. Nanti deh… bisa kita jelaskan di lain tempat. Semoga!!!

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/18/wawacan-pagerageungan-ketika-seni-meng-islamisasi-masyarakat/

    Lihat juga: https://en.wikipedia.org/wiki/Cetbang

  • Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Wawacan Pagerageungan: Ketika Seni Meng-Islamisasi Masyarakat

    Nur Cahya

    “Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung.”

    Dulu di serambi rumah, masyarakat Ciawi suka melantunkan tembang wawacan pagerageungan sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran bayi.  Semalam suntuk mereka habiskan dengan bernyanyi, layaknya lantunan takbir di kala menjelang lebaran. Pada jaman sekarang, tradisi wawacan pagerageungan itu hanya sebatas hiburan seremonial pariwisata, bahkan hampir tinggal nama, karena tidak adanya regenarasi. Padahal memiliki nilai seni dan sastra yang tinggi dalam tembang wawacan pagerageungan.

     Wawacan pagerageungan yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Asal-Usul

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Bagaimana Tembang dilantunkan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

    Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

                Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    • Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

                Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Cara Permainan

    Semua itu biasanya dimainkan oleh sekitar 5 atau 10 orang, ucap  Ahmad. Hal itu bisa terlihat dari jumlah personil pagerageungan Argagurnita dengan hanya berisikan sepuluh orang pemain, yang semua ini dipimpin oleh almarhum bapak Ili Suhaeili. Akan tetapi, kini dari sepuluh pemain kesenian ini hanya tinggal 4 orang yang masih hidup. Tokoh tokoh tersebut yaitu Ahmad, Odo, Uun, dan  Ade. Selainnya sudah meninggal dunia termasuk Ili Suhaeli selaku pimpinan dari pagerageungan Argargurnita ini. Yang sekarang pimpinan ini diemban oleh Ahmad Rifa’i selaku orang yang paling senior diantara empat orang yang masih hidup.

    yang dilantunkan dengan tembang ini sangat indah didengar dan membuat kita berimajinasi tentang desa dan kehidupan masyarakat pagerageung. Hal itu dibenarkan oleh Ahmad Rifa’i (67 tahun) dan Uun (52 tahun) selaku  tokoh Pagerageung. “Jika ingin mengenal desa Ciawi atau Pagerageung maka baca wawacan ini,” ucap Ahmad Rifa’i ketika ditemui di rumahnya hari sabtu (24/03/2018). Menurut mereka Wawacan pagerageungan sebagai perwujudan dari gambaran desa pagerageung dan kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran jika pendengar dibuat berimajinasi tentang desa pageraegung.

    Menurut Ahmad Rifa’i lagi, pagerageungan ini merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Pagerageung. Konon katanya cerita dari para leluhur di Pagerageung bahwa pagerageungan ini berasal dari Cirebon yang dibawa oleh Mbah Iru atas perintah dari Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di tanah Pagerageung yang terjadi sekitar tahun 1600-an. Katanya lagi berdasarkan perkataan para leluhur masyarakat Pagerageung bahwa cara Mbah Iru dalam  menyebarkan ajaran Islam di bumi Pagerageung salah satunya dengan cara memakai seni tembang wawacan, begitupun kata Uun. Hal itu dipertegas dengan Sajarah Tembang Pageurageungan yang telah berbentuk syair dengan bernada pupuh sinom, yaitu:

    Tembang

    Anu mawa eta tembang

    Nyaeta hiji K ai

    Diutus ku kanjeung Sunan

    Ngembangkeun agama suci

    Saur Sunan Gunung Jati

    Embah Iru nu diutus

    Indit ka Pageurageung mah

    Nya eta ka jalma seni

    Embah Iru resepna kana wawacan

    dan seterusnya.

    Cara Melantunkan Tembang Wawacan

    Tembang wawacan ini menurut Ahmad Rifa’’i di lakukan dengan cara melantunkan tembang yang berisikan mamaos atau wawacan  sejarah Pagerageung. Di setiap tembang diisi oleh pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula atau sering disingkat dengan sebutan  KSAD bagaimana yang diseutkan dalam tembangnya, yaitu:

                “Pageurageung boga tembang

                Warisan ti nini aki

                Katelah Pageurageungan

                Pupuhna ngan opat siki

                Nu kahiji mah kinanti

                Sinom mah anu geus matuh

                Katiluna Asmarandana

                Dangdanggula pilalegih\

                Ka Es A De eta pingaransunnana”

    Dalam laras tembangnya, pagergaeungan hanya  menggunakan laras salendro. Tembangnya pun dilantunkan dengan memakai lagam yang menjadi ciri khas dari desa pagerageung. Kemudian selain itu, tembang pagerageungan suka diiringi oleh suara musik kecapi atau memakai gamang. Berikut sebagian teks tembang wawacan pageurageungan yang berdasarkan pada pupuh KSAD:

    Kinanti

    1. Riung riung silih pulung

    Ngawicrik usiking diri

    Nyungsi harti nambah luang

    Bisi kaduhung di ahir

    Meungpeung can tumiba mangsa

    Madep ka Gusti Yang Widi

    • Ngaguruh sora nu hirup

    Handaruan lir jatidiri

    Patentongan pabentaran

    Balap hirup bela diri

    Jadi papaeh kahayang

    Nu tewas kana diri

    • Seni Sore nu diayun

    Pangleumpeuh rasa rohani

    Mawatna kana jatrika

    Pangjaring pangaping diri

    Sora saumur jeung raga

    Piraku tan daya harti

                Sinom

    1. Sinom sulukna nonoman

    Bangsa boros harta surti

    Tindak pupuh papadaan

    Robah sari nu kawarti

    Pindah rasa nu kawarti

    Pindah rasa sanubari

    Saleuresna nu kacatur

    Sanggeus kabawah Sumedang

    Pagerageung salin jinis

    Ganti jaman turun jadi kawadana

    • Bupatina nu harita

    Tiren tina nyakriwali

    Nya nu asal paphitna

    Jadi wadana mimiti

    Harita taun Masehi

    Ka dalapan welas ratus

    Dipunjulan duawelas

    Kitu ceuk bukti tulis

    Beak taun ganti ku Argagurnita

    Asmarandana

    1. Kasmaran maka dangding

    Kelar kabawa carita

    Nurut gatur buku kathot

    Caritana tatalepa

    Ngawawaas baheula

    Pasambung dongeng karuhun

    Pageurageung nu baheula

    Di ditu tepisiwing

    Aya lembur nu baheula

    Kawilang lembur geus kolot

    Baheula teh mimitina

    Aya urang Talaga

    Ngalakana reureuh diuk

    Kana tangkai kai nyanda

    Dangdanggula

    1. Lingkung lembur ceuk si jago rintil

    Ngelak lambat samemeh balebat

    Petembalan kongkorongok

    Ngembaran lereh isuk

    Geus waktuna yen kudu nyaring

    Ibadah kawalihan

    Meungpeung aya umur

    Elmu tungtut dunya

    Memeh liar beberasih ahir batin

    Neda rida Pangeran

    • Celak celak bentang di nu tebih

    Sajorelat mutangkeun ingetan

    Kana hate ngaharewos

    Geura mulang ka lembur

    Nya ka bali geusan ngajadi

    Ka karang pamidangan

    Asal karang pamidangan

    Asal tempat matuh

    Piraku kadungsang dungsang

    Ngumbara teh kamalinaan nya diri

    Poho ka sarakan

    Lihat juga:https://tareekh.my.id/

  • Censors at Work: How State Shaped Literature

    Censors at Work: How State Shaped Literature

    Rendy Kurniawan

     The term “censor” has no acceptable definition throughout the history. Periodically, the meaning of “censor” sometimes different and debatable. Because of this fact, indeed there is no exact answer about what is censor. Rather than confused defining censors, Darnton with his work tried to figure it out differently.  Three distinctive cases of literature suppression in France in Eighteenth century, India in Colonial reign and East German under the hand of Communism are being the concern of this book. In turn, these comparative study might help the readers to find out what is censorship and its history.

     The kingdom possessed the censor of early Eighteenth century France. In the other words, the court seized the control over literature distribution. There is no editor nor bookseller except the royal representatives. At least, this might be occurred until the French Revolution in the end of Eighteenth centuries. The whole story went extremely different in the India under the British reign. In this different place, nineteenth century was an important period over India censhorship history. Generally, British Government had no censor institution to restrict any book or document.

    However, the state would impose certain law whenever it felt threatened by this ‘freedom of speech’. For instance, James Long of Bengal who write ethnographic study was imprisoned because of his work. It  suspected to be an insult to the british rule over India. Move toward the heart of Europe in different time, East German under the Communism had unbelievable censorship.

    In investigating the East German, Darnton was able to meet the person in charge. He met a man and a woman which is worked for Communist in East German. Compared with France and India before, The censor of East German is quite different. Rather than limiting and restricting the censor of East German is planning the whole literature. It means that, the state arranged the published literature. Darnton had found the annual list of East German’s planned literature. In this case, the state hardly intervened with the literature publication.            

    From the observation of three distinctive cases, thanks to Darnton, people might be concerned about what is censor and its history. In addition, From this comparative study, there is a critical point. Censor had and may still have a strong connection to the state intervention. Eighteenth century France, Nineteenth Century India and Twentieth Century East German was a notable example over this statement.

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/14/mukhtasar-al-mufid-fi-ilmi-tarikh/

    Lihat juga : https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Darnton

  • Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh: Buku Pengantar Ilmu Sejarah Pertama di Dunia Islam

    Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh: Buku Pengantar Ilmu Sejarah Pertama di Dunia Islam

    Nur Cahya

    Judul Kitab: Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh

    Penulis: Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji

    Penyalin: Muhammad al-Damisi

    Penerbit: Perpustakaan Aya Sofia

    Tahun: 8 Rajab 867 H

    Kota: Anatolia

    Tebal: 54

    Mukhtasar al-Mufid fi ilmi Tarikh sangat menarik untuk dibahas. Sebuah karya dari seorang ulama yang bernama Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji, yang disalin ulang oleh salah satu muridnya yaitu al-Damisi. Perlu dicatat, al-Kafiyaji bukanlah sejarawan terkemuka layaknya Ibnu Kholdun. Al-Kafiyaji cenderung lebih dikenal seorang ahli Kafiyah (kitab nahwu) Ibnu Haajib. Sehingga kemudian namanya dilaqobkan dengan nama al-Kafiyah. Namun, al-Kafiyaji mampu menciptakan sebuah karya Mabadi ilmu tarikh atau pengantar ilmu sejarah (histriografi) pertama yang ditulis dikalangan muslim. Mengupas kata Tarikh dari mulai definisi, sejarah dari kata tarikh, prinsip-prinsip serta dasar-dasar ilmu Tarikh dan tujuan. Kitab ini juga memaparkan syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan menulis sejarah.

    Sinopsis

    Kitab Mukhtasar ini jika dilihat sepintas, gaya penulisannya hampir sama dengan gaya penulisan dalam metodologi penelitian ilmu fikih. Kemungkinan memang terinspirasi dari sana. Uraian-uraian yang disajikan dalam kitab Mukhtasar al-Mufid fi Ilmi al-Tarikh ini pada garis besarnya membahas 10 Fan ilmu. 10 Fan ini dalam kajian klasik sangat populer tentang Mabadi Asyrah atau sepuluh prinsip dasar dari bangunan sebuah ilmu. Al-Kafiyaji sebagai penulis buku ini kemudian menuliskan disiplin ilmu tarikh dengan membaginya menjadi 3 fasal atau bagian. Pertama membahas al-Had dalam ilmu tarikh, kedua membahas objek dan permasalahan ilmu tarikh, dan ketiga menjelaskan tentang kemulian ahli ilmu, keutamaanya, dan hasil pelajaran dan renungan yang mengandung pengajaran (dalam ilmu tarikh).

    Sebagai contoh, pada pembahasan pertama al-Kafiyaji membicarakan mengenai prinsip-prinsip historiografi dimana didalamnya membicarakan Had (definisi) tarikh wa ilmi tarikh, sebab pemakaian kata tarikh, menjelaskan isyarat dari objek sejarah yang harus ditulis oleh seorang sejarawan, menjelaskan hukum mempelajari ilmu tarikh atau historiografi dan menjelaskan mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang sejarawan. Kemudian pada pembahasan kedua al-kafiyaji menjelaskan prinsip dan permasalahan dasar yang dibahan dalam ilmu tarikh.  

    Kelebihan

    Terdapat beberapa kelebihan dalam kitab ini. Pertama, kitab ini tampil dengan tulisan unik tapi dilakukan dengan studi yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Hal ini bisa terlihat dari tulisannya yang hampir sama dengan metode ilmu fikih dimana menggunakan konsep Mabadi Asyrah, walaupun secara susunan tidak runtut sebagaimana yang disebutkan dalam syair Ali al-Shabhani. Selain itu kitab ini cukup menarik dan bisa dikatakan kitab ilmu tarikh atau pengantar penulisan sejarah pertama yang ditulis oleh muslim.   

    Kekurangan

    Kekurangan kitab ini ialah cukup minimnya penjelasan terhadap beberapa istilah yang dipakai oleh penulis sehingga membuat para pembaca harus membuka sumber lain untuk bisa memahaminya. Namun, tidak berarti kitab ini tidak layak, kitab layak dibaca terlebih oleh orang yang menggeluti sejarah muslim, karena bakal menambah dan memberikan mereka tambahan dalam perspektif baru mengenai histriografi muslim.  

    Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/13/riwayat-seni-kaligrafi-di-indonesia/

  • Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Nur Cahya

    “Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Hal itu didasarkan penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah binti Maimun tertulis hiasan aksara kaligrafi arab bertarikh tahun 1082 M.”

    Riwayat perkembangan seni kaligrafi di indonesia memiliki akarnya dalam seni kaligrafi Arab. Sebab seni kaligrafi merupakan salah satu tradisi tulis menulis yang sangat kental dengan tulisan arab.  Walaupun jauh sebelum Islam datang bisa dikatakann bahwa bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir tidak mengenal aksara. (D S. A., 1989). Tradisi tulis menulis terbilang cukup tertinggal dibanding dengan bangsa lain (Kharlie, 2003). Seperti contoh di Mesir yang sudah terkenal dengan tulisan Hieroglip, India dengan Devanagari, Assiria dengan Fonogram dan lain-lainnya (D S. A., 1989). Meski mereka sangat dikenal piwai dalam hal sastra. Namun dalam artikel kali ini, kami tidak akan membahas mengenai Seni Kaligrafi Bangsa Arab. Tapi Riwayat seni kaligrafi yang berkembang di Indonesia.

    Asal Mula dari Bangsa Arab

    Orang-orang Arab pra Islam mengandalkan tradisi verbalisme, dalam proses interaksi sehari-hari. Hal membuat mereka tidak terlalu memperdulikan potensi dan kemampuan tulis-menulis yang mereka miliki. Hal itu bisa terlihat pada daya ingat dan tingginya kualitas sastra mereka miliki. Kemudian kehadiran Islam dan perkembangannya mampu membawa perbahan besar dalam tradisi bangsa Arab ini.

    Wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad (al-Alaq 1-5). Surat ini ialah perintah Tuhan agar membaca, menelaah serta menganalisis. Turunya surat ini mampu menghentakan idealisme mereka. Sejak itu, perkembangan tradisi tulis –menulis bangsa Arab benar-benar sangat luar biasa, melompat, bahkan berlari meninggalkan yang lain (Kharlie, 2003).

    Dari Arab menuju Nusantara

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Berita tertua mengabarkan telah terbentuk sebuah komunitas muslim, dengan bertempat di Gresik Jawa Timur. Hal itu didasarkan berdasarkan analisa atas hasil penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah tertulis aksara arab dengan tahun 1082 M.  Berdasarkan analisa para arekolog, nisan tersebut merupakan tanda dari permulaan tulisan kaligrafi di Nusantara.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun dengan hiasan kaligrafi Arab. Salah satu bukti tertua mengenai seni kaligrafi awal di Nusantara.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections

    Menurut Prof. Muarif Ambary terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan jenis khat sebagai simbolisasi dari tulisan nisan tersebut. Jika ini ditelusuri lebih lanjut mengenai intensi gaya penulisan nisan tersebut mengunakan gaya kufi. Maka di Sumatera, khususnya wilayah Aceh gaya yang paling sering digunakan adalah Nasakh dan Tsuluts. Memang pada kenyataanya khat kufi kurang digemari atau bahkan kurang dikenal Muslim Nusantara. Sebaliknya khat Naskh dan Tsuluts sangat digandrungi masyarakat lokal. Pada gilirannya memunculkan istilah “makam tipe Aceh” dan seterusnya  (Ambary, 1998).

    Dua Periodisasi Tradisi Kaligrafi Lokal

    Periodisasi Pertama

    Adapun mengenai riwayat dinamika seni kaligrafi lokal di Indonesia menurut Sirajudin dibagi dalam beberapa tahapan periodisasi (D S. A., 1994). Pertama, angkatan perintis, dalam periode islamisasi tentu bakal terjadi arabisasi, mengingat hampir seluruh rujukan tentang ajaran Islam berbahasa Arab. Apalagi para penyebar yang menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara, terutama pada masa permulaan perkembangan Islam, didominasi oleh ulama-ulama keturunan Arab atau non-arab yang lama belajar di Arab. Sehingga faktor inilah yang kemudian memaksa setiap muallaf  mesti bersentuhan dengan bahasa dan tulisan Arab. Dari titik ini cukup jelas kehadiran Islam menandai babak baru semarak penggunaan tulisan kaligrafi Arab.

    Karena pada praktiknya, tulisan Arab tidak hanya terbatas pada penggunaan teks yang berbahasa Arab atau mushaf al-Qur’an saja, melainkan juga digunakan untuk pergaulan sehari-hari terlebih untuk kebutuhan pengkajian Islam di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, surau, dan lain-lain. Ditambah seperti Pegon, huruf Jawi, atau huruf Melayu. Huruf ini digunakan sebagai medium pengajaran dan penulisan kitab-kitab, terutama di pesantren-pesantren.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Sebuah halaman dari buku Hikayat Abdullah karya Abdullah bin Abdulkadir Al-Munsyi ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Buku ini pertama kali terbit tahun 1849. Halaman demi halaman buku ini menyajikan pada anda tampilan indah seni kaligrafi.
    Sumber : National Library of Singapore

    Perkembangan berikutnya pada abad 17-20

    Pada tahap selanjutnya, kecenderungan tradisi menulis kaligrafi mengalami pergeseran dalam tataran pola. Dimulai dari abad ke 17, para seniman muslim keranjingan memasukkan huruf-huruf Arabdalam lukisan berbentuk hewan atau wujud manusia sebagaimana lazimanya para seniman Persia. Tipologi ini amat lekat dan mudah didapati pada lingkungan kraton seperti Cirebon, Yogjakarta, Surakarta dan Palembang.

    Sementara pada abad ke 18-20, tradisi penulisan kaligrafi tidak hanya tampak dan bersumber pada batu-batu nisan. Tapi Penulisannya telah bergeser dan mengambil ragam media seperti kertas, kayu, logam, kaca, dan lain-lain. Mushaf-mushaf al-Qur’an tua umumnya ditulis di atas kertas Deluang, yang oleh beberapa ahli jenis kertas ini dianggap mark Nusantara.

    Periode Kedua

    Pada periodisasi kedua, adalah angkatan orang-orang pesantren. Pengenalan huruf alphabet Arab yang dilakukan kyai kepada santri baru pada tahap memenuhi kebutuhan tulis-baca, belum sampai pada penekanan nilai-nilai estetisnya. Akan tetapi, keberanian dan kebanggaan menggunakan aksara Arab, terutama untuk gaya-gaya khat yang kubisme, telah tampak pada tulisan-tulisan yang tertera pada nisan-nisan kyai dan tokoh-tokoh agama. Hal ini menunjukan bahwa pada saat itu kaligrafi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, juga telah pula memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat dekoratif.

    Adapun mengenai penggunaan gaya khat yang cenderung estetis seperti naskh, tsuslus,dan faris, bisa digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan, baik berupa kitab-kitab fikih, tauhid, tasawuf, maupun mushaf al-Qur’an. Tradisi menulis mushaf ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama-ulama di pesantren klasik sejak abad ke-16. Langkah ini didorong oleh kelangkaan mushaf karena teknologi penggandaanya belum ditemukan. Sementara pasokan dari timur tengah juga dirasakan masih sangat kurang. Dengan atas dasar itulah muncul gairah dari kalangan pesantren untuk menuliskan al-Qur’an secara manual dengan kualifikasi tulisan yang sangat sederhana.

    Pelopor angkatan pesantren baru menunjukan sosoknya yang lebih nyata dalam kitab-kitab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Muhammad Was’i Abdul Razzaq, Yahya dan Rahmat Arifin, Abdul Razzaq Muhilli dan lain-lain.

    Ketika mengamati tradisi penulisan kaligrafi di interior masjid, akan ditemukan bukti bahwa media untuk mengekspresikan karya kaligrafi di pusat peribadatan tersebut tergolong masa moderen. Sebab, dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau bahka sama sekali tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad ke-16 yang asi dibuat pada zamannya. Kalaupun ada, biasanya menggunakan huruf Jawa seperti di masjid Mantingan Jepara dan Sendang Pacitan, Jawa Timur. Dengan hadirnya para kaligrafer di pesantren ini cukup mempersubur unsur hiasan masjid-masjid moderen yang baru dibangun. Adakalanya, penulisan kaligrafi itu sudah diprogram berbarengan dengan masa penyelesaian bangunan tersebut.

    Tiga Pola Pembinaan

    Pembinaan Pertama

    Secara umum, pengembangan kaligrafi di pesantren dapat dikategorikan dalam tiga pola pembinaan (Karlie, 2003). Pertama, mealui internalisasi materi kaligrafi dalam, kurikulum, intra-kurikuler. Modal ini mengakomodasi materi kaligrafi sebagai bagian integral dari proses belajar dan mengajar. Model ini dipraktekan di pesanren yang bernuansa moderen, seperti KMI Darusallam Gontor beserta seluruh afiliasinya. Meski tidak semua jenis khat dapat dikuasai, namun alumninya, paling tidak dapat menulis khat naskah dengan baik.

    Pembinaan Kedua

    Kedua, unternalisasi materi kaligrafi dalam format ekstra-kulikuler, untuk modal ini idealnya dibentuk wadah khusus yang menangani teknis pembinaan, seperti sanggar, asosiasi, dan lembaga independen lainnya. Ketiga, membangun model pesantren khusus kaligrafi. Dalam teknis pembinaan, pesantren seperti ini memberikan bahan ajar yang lebih filososfis, fokus dan mendalam sehingga santri benar-benar menguasai seluk-beluk kaligrafi, baik secara teoritis maupun praktis.

    Kemudian di tahun 1979, pada pameran lukisan Kalligrafi Nasional 1 berbarengan dengan MTQ XI di Semarang, telah menunjukan momentum awal yang menandakan babak baru seni kaligrafi Islam di Indonesia. Penampilan kaligrafi dalam bingkai seni-lukis tersebut seolah mengehntakan para seniman dan pemerhati kaligrafi. Pada giliranya, semangat memodifikasi kaligrafi murni dengan seni lukis tak lagi menjadi komoditas seniman out-sider, tetapi merasuki alam pikiran para kaligrafer yang sebelumnya tekun mempelajari rumus-rumus kaligrafi baku.

    Kemudian dengan masuknya kaligrafi dalam MTQ telah menjadi salah-satu modal dan basis potensi pengembangan seni kaligrafi Islam Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, meski baru mengambil bentuk eksibisi atau sayembara, ternyata sangat diminati oleh kalangan muda seperti contoh pada cabang kaligrafi MTQ XII 1981 di Aceh. Pada saat itu muncul gagasan agar cabang cabang dalam MTQ ditambha Musabaqah Khattil Qur’an atau lebih dikenal dengan singkatan MKQ.

    Pada pelaksanaan Festival Istiqlal I (1990) dan II (1995), diselenggarakan pula sayembara kaligrafi yang diikuti oleh ribuan peserta. Melihat tingginya animo masyarakat terhadap kaligrafi, maka festival ini mencanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi di seluruh Nusantara. Kemudian setelah itu sanggar-sanggar pembinaan kaligrafi bermunculan yang secara teknis dikawal oleh Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) Jakarta.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/11/resensi-film-muhammad-the-messenger-of-god/

    Lihat juga : https://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi_Islam

  • Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Danil Kasputra

    Muhammad:The Messenger of God, sebuah film yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga pertemuannya dengan pendeta Buhaira di usia 13 tahun. Majid Majidi berperan penting menyutradarai film ini. Majid Majidi tak sendiri, ia juga dibantu bintang-bintang film Iran yang beradu acting memerankan tokoh tokoh di seputar kehidupan Nabi. Mehdi Pakdel memerankan paman Nabi Abu Talib. Lalu Ali Reza Shoja Nouri berperan sebagai Abdul Muttalib kakek Nabi juga Sareh Bayat sebagai Halimah pengasuh Nabi.

    Sinopsis

    Pada bagian permulaan, alur film Muhammad: The Messenger of God maju terlebih dahulu mengisahkan para tetua kaum Quraisy bermusyarah menentukan langkah untuk menghentikan dakwah Nabi. Abu Sufyan sebagai salah satu tetua utama kaum Quraisy bertemu dengan Abu Talib (Paman Nabi). Dia mengancam Abu Talib bahwa kaum Quraisy tak segan untuk memboikot Bani Hasyim apabila tetap melindungi dakwah Nabi.

    Alur film kemudian mundur membawa anda pada masa awal kelahiran Nabi. Penduduk Mekkah sedang gempar. Raja Habasyah, Abrahah menyerang Mekkah. Dia berniat menghancurkan Kabah. Abdul Muttalib, tetua utama Mekkah pasrah dan menyerahkan Kabah kepada Tuhan pemiliknya. Pasukan Abrahah menyerbu Mekah tapi gajah-gajah pasukannya enggan bergerak. Lalu tak lama kemudian burung-burung ababil datang dan membawa batu batu panas menghujani pasukan Abrahah hingga seluruhnya tewas bertumbangan.

    Adegan film lalu mengisahkan kelahiran sang Nabi yang ditandai munculnya bintang terang. Orang-orang Yahudi dan Kristen di Syria melihat hal ini sebagai pertanda muncul Nabi Terakhir. Lalu film berlanjut pada kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Aminah binti Wahab, sang ibu yang kebingungan tidak adanya ASI, sebab Abu Lahab paman nabi sendiri enggan menetekkan ASI budaknya pada Nabi.

    Pada usia remaja Nabi, adegan menampilkan beliau sebagai seorang remaja yang sangat pengasih. Saat Nabi sedang menggembala. Ada seorang pria yang ingin membunuh anaknya hanya karena sang anak terlahir sebagai perempuan. Tradisi masyarakat saat itu adalah suatu aib memiliki anak perempuan. Nabi yang masih remaja amat pengasih dan penyayang mengendong bayi itu. Tak disangka setelahnya, kemarahan sang ayah sirna. Kemudian adegan pertemuan Nabi dengan pendeta Buhaira mengakhiri film.

    Ada beberapa adegan yang menampilkan karakter tokoh yang berlainan dengan sebagian besar pengetahuan kaum muslim tentang tokoh itu. Salah satunya karakter Abu Talib dan Abdul Mutallib digambarkan sebagai seorang penyembah agama hanif. Mereka berdua tidak pernah menyembah berhala.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan film ini. Pertama dari segi visual film ini tampil mirip film film Holywood. Tak perlu heran, Majid Majidi menggandeng sinemator dan penata musik Hollywood Vittorio Storaro dan Ar Rahman. Kedua latar setting tempat dan waktu film ini pun tampil sangat luar biasa. Kondisi Mekkah dan Madinah tampak terasa hidup dengan kostum dan pembuatan latar tempat kedua itu yang tampak nyata. Ketiga Film ini berusaha menampilkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat pengasih.

    Kekurangan

    Ada beberapa hal kontroversial yang mengakibatkan film ini kurang begitu disambut terutama bagi mayoritas pemeluk Muslim Sunni. Pertama, tokoh nabi Muhammad ditampilkan walaupun bagian muka dari nabi tidak pernah dimunculkan. Tapi hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan tradisi Islam Sunni agak ketat dalam penggambaran karakter nabi.

    Lihat: https://tareekh.my.id/2020/09/07/resensi-buku-sepoer-oeap-di-djawa-tempo-doeloe/

  • Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Danil Kasputra

    “Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam GANEFO. Sebuah olimpiade tandingan ciptaan Sukarno.”

    The Games of The New Emerging Forces (Ganefo) sebenarnya sebuah pesta olahraga yang luar biasa besar dan meriah. Ribuan atlet dari negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Sayangnya akibat konflik Indonesia dengan IOC (Komite Olimpiade Internasional) terkait masalah Taiwan dan Israel dalam Asian Games tahun 1962, IOC memarjinalkan pesta olahraga ini. Meski begitu, penyelenggaraan Ganefo tetap semarak dengan banyaknya rekor dunia dan nasional yang tercipta.

    Permulaan Penuh Tantangan

    Pada mulanya penyelenggaraan GANEFO banyak menimbulkan tantangan. Tantangan ini hadir terutama dalam IOC selaku dewan komite olimpiade internasional. IOC masih mempermasalahkan perlakuan Indonesia yang melarang delagasi atlet dari Israel dan Taiwan untuk ambil bagian dalam Asian Games Jakarta tahun sebelumnya. Alasan Indonesia karena simpati terhadap negara-negara Arab dan Tiongkok yang bermasalah dengan Israel dan Taiwan, tak mudah diterima oleh IOC. Akibatnya, sebagaimana ditulis Kobierrecki (2016:115) jurnalnya Sport as a Tool of Building Political Alliances: The Case of the Games of New emerging Forces (GANEFO) bahwa IOC akan mendiskualifikasi para atlet yang ikut bertanding dalam GANEFO.

    Tapi ini tidak menciutkan nyali Indonesia, Ganefo terus berjalan. Segala persiapan dilakukan. Meski, hampir 20% partisipan Indonesia atau China mengirimkan tidak lebih dari lima atau enam atlet. Negara-negara semacam Uni Soviet, Cekoslowakia, Polandia, Perancis dan Jerman Timur hanya mengirimkan atlet tak resmi tidak mencangkup atlet nomor wahid yang mereka miliki (Kobierrecki, 2016:115). Hal ini tentu saja akibat ketakutan turunnya sanksi IOC.

    Penyelenggaraan Semarak

    Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Benua Asia terwakili oleh Indonesia, China, Iraq, Filiphina, Laos, dll. Sementara Al Jazair, Mali, Republik Arab Bersatu (Nama Mesir hingga tahun 1971), serta Tunisia mewakili Benua Afrika. Negara-negara Amerika Latin seperti Argentina, Brazil, Uruguay, juga ikut turut serta. Para peserta dari Benua Eropa sebagian besar berasal dari negeri negeri Sosialis seperti Uni Soviet, Polandia, Bulgaria, dll.

    Ganefo Jakarta 1963
    Keberangkatan delegasi China menuju Indonesia untuk ambil bagian dalam pesta olahraga GANEFO di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Pada tanggal 10 November 1963 bertepatan dengan hari pahlawan di Indonesia, Presiden Sukarno resmi membuka pesta olahraga The Games of The New Emerging Forces yang pertama di Jakarta. Nyali api olimpiade menandai permulaan dari event ini. Tentu saja ribuan orang memadati Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno yang baru saja selesai pembangunanya dua tahun lalu. Puluhan bendera negara-negara peserta pesta olahraga ini juga berkibar mewarnai semaraknya pesta akbar ini.

    Ganefo Jakarta 1963
    Presiden Sukarno dalam pembukaan Ganefo pertama di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Penyalaan api GANEFO sebagai simbol telah dimulainya pesta olahraga ini.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Opening Ceremony.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Suasana meriah di sekitar kompleks olahraga Gelora Bung Karno. Ramai dengan kerumunan manusia juga semarak warna-warni negara-negara peserta GANEFO.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Rekor-rekor

    Meskipun sempat mengalami intimidasi dari IOC, penyelenggaraan GANEFO tetap meriah. Rekor-rekor dunia banyak tercipta. Menurut buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963, Republik Rakyat China dan Republik Demokratik Korean mendominasi event ini dengan lima rekor dunia baru. Rekor-rekor itu tercipta pada trek, lapangan, angkat besi dan panahan. Lebih keren lagi, Sim Kim Dan dari Korea Utara memecahkan dua rekor dunia lari wanita 400 m dan 800 m. Republik Rakyat China juga mampu menciptakan 60 rekor nasional pada menembak, panahan, angkat besi, lari tek dan lapangan.

    Ganefo Jakarta 1963
    Pebalap Sepeda China, Sung Hsi-Yun memimpin kejuaraan wanita perseorangan 45 km dengan waktu tempuh 1 jam 29 menit 12 detik.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Sim Kim Dan, Atlet lari wanita Korea Utara yang mampu menciptakan rekor dunia baru dalam lari jarak 400 m kategori wanita.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sedang bertanding melawan Tim Nasional Republik Rakyat China di Stadion Gelora Bung Karno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Seorang Fotographer Indonesia
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Persaudaraan antar Bangsa

    Pelaksanaan Ganefo juga tidak hanya sekedar kompetisi olahraga di antara negara-negara pesertanya. Tapi jauh dari itu semua, event ini berupaya untuk mempererat hubungan persahabatan dan keakraban di antara semua bangsa. Bahkan buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963 yang diterbitkan oleh Republik Rakyat China menegaskan perlunya solidaritas bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dalam menentang imperialisme lama dan baru. Tak heran poster-poster GANEFO banyak memberikan gambaran pada hal itu. Lalu selama jalannya penyelenggaraan kita juga banyak disuguhkan pemandangan keakraban dan kedekatan diantara para atlet dari berbagai negara.

    Ganefo Jakarta 1963
    Poster resmi penyelenggaraan GANEFO. Ikatan rantai terputus menyimbolkan dunia yang telah bebas dari imperialisme. Sementara slogan pantang mundur (Onward, No Retreat!) mewakili kehendak umum para negara peserta sebagaimana diucapkan oleh Presiden Sukarno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Delegasi Atlet Republik Arab Bersatu (Mesir) sedang benyanyi disaksikan oleh delegasi atlet Indonesia dan Republik Rakyat China.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tempat ternyaman dalam menyaksikan adu balap sepeda.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Akhir Penyelenggaraan

    22 november 1963 mengakhiri dua belas hari gelaran pesta olahraga The Games of New Emerging Forces (GANEFO). Tiongkok muncul sebagai juara umum. Uni Soviet dan Republik Arab Bersatu (Mesir) menyusul di tempat kedua dan ketiga. Sementara tuan rumah Indonesia menempati posisi keempat. Presiden Soekarno mewakili Indonesia selaku tuan rumah didaulat menutup event ini. Rencananya Republik Arab Bersatu (Mesir) akan menyelenggarakan GANEFO berikutnya tahun 1967 dengan bertindak sebagai tuan rumah.

    Ganefo Jakarta 1963
    Acara closing ceremony di Gelora Bung Karno 22 November 1963.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
  • Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Danil Kasputra

    Judul Buku : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doloe

    Penulis : olivier Johannes Raap

    Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

    Tahun : 2017

    Kota : Jakarta

    Tebal : 271 hlm

    Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe menjadi bahasan minggu ini. Sebuah karya dari seorang Belanda lulusan Universitas Delft bernama Olivier Johannes Raap. Raap bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ambil bagian sebagai pihak penerbit dan distributor buku ini. Perlu diketahui sejatinya Raap bukanlah seorang sejarawan serta bukan pula seorang yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan Sejarah. Latar belakang pendidikannya di Universitas Delft pun adalah arsitektur. Namun Raap mampu menciptakan sebuah karya sejarah yang unik tapi juga didasarkan pada studi yang serius. Mengandalkan kegemarannya mengoleksi kartu pos kuno, Raap mampu menyusun sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dalam tampilan koleksi kartu pos kuno.

    Sinopsis

    Buku Sepoer di Jawa Tempoe Doeloe berupaya membawa kita menelusuri sejarah panjang perkembangan kereta api di Indonesia melalui media kartu pos kuno. Kartu-kartu pos ini banyak menampilkan wajah kereta api Indonesia tempo dulu. Raap sebagai penulis buku ini kemudian menyusun kumpulan kartu pos kuno itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 17 bab. Setiap bab berisi sejarah perkembangan kereta api di berbagai daerah di Jawa misalnya bab 1 dengan judul Titik Awal: Lintas NIS Semarang-Yogyakarta/Ambarawa, bab ini menjelaskan awal mula kemunculan kereta api di Indonesia.Pada bagian isi setiap bab itu, Raap menyajikan gambar kartu pos, keterangan, beserta penjelasan singkat mengenai objek-objek yang dalam kartu pos itu.

    Sebuah contoh dari kartu pos bergambar Stasiun Bandung Lama. Terdapat keterangan pembuatan tahun kartu pos (1907). Lalu keterangan lokasi menunjukan Stasiun Bandung beserta G Kolff dan Co Bandoeng sebagai penerbitnya. Raap lalu menambahkan sebuah penjelasan bahwa Stasiun Bandung pertama dibuka tahun 1884. Stasiun ini juga memiliki arsitektur yang khas. Bangunan ini terdiri atas bagian muka yang menghadap ke selatan dan dua sayap di sebelah kiri dan kananya. Begitulah seterusnya hingga halaman berikutnya setiap kartu pos yang tampil tak luput dari penjelasan.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan buku ini. Pertama buku ini tampil dalam balutan sederhana tapi dilakukan dengan studi yang serius. Hal ini terlihat uraian-uraian telah dipaparkan Raap dalam setiap penjelasan kartu posnya. Daftar pustaka yang telah ia lampirkan seperti buku-buku karya Reitsma S.A, DJ Stam hingga kuncen Bandung Haryoto Kunto di bagian akhir telah memperkuat hal itu. Kedua, cara penulis menampilkan sejarah dalam bingkai kartu pos kuno patut menjadi diapresiasi. Raap mampu menjadikan sebuah kisah sejarah hidup, mengajak para pembacanya untuk berimajinasi lebih dalam serta enak dipandang.

    Kekurangan

    Kekurangan buku ini ialah ketiadaan in-note dalam setiap penjelasan yang penulis sampaikan. Memang pada bagian akhir penulis melampirkan daftar pustaka. Tapi pada bagian penjelasan penulis jarang merujuk pada apa yang dia gunakan. Tapi tidak berarti buku ini tidak layak, buku ini sangat layak untuk dibaca sebab akan memberikan anda sebuah perspektif baru dalam memahami sejarah.

  • Resensi Film Katyn

    Resensi Film Katyn

    Danil Kasputra

    Resensi Film minggu ini, anda akan kami perkenalkan dengan sebuah film yang didasarkan kisah nyata dari sebuah negeri Eropa Tengah bernama Polandia. Katyn begitulah nama judul film ini, merujuk pada suatu hutan di Rusia. Tempat pembantaian 22.000 perwira dan kaum intelektual Polandia pada tahun 1940 yang dilakukan oleh Uni Soviet. Film ini sendiri disutradarai oleh Andrzej Wajda, dengan mengadaptasi sebuah buku berjudul Post Mortem: The Story of Katyn karya Andrej Mularczyk. Bintang bintang ternama Polandia seperti Andrezej Chyra (Jerzy, seorang perwira berpangkat yang selamat dalam pembataian),  Maja Ostaszewska (Anna, istri dari Andrzej), Danuta Stenka (Roza, istri seorang Jenderal Polandia), Artur Zmijewski (Andrzej, seorang perwira berpangkat Kapten) dan Pawel Malaszynski (Piotr Baszkowski, Letnan Penerbang) terlibat dalam pembuatan film ini. Film ini dirilis pada tahun 2007 bertepatan dengan peringatan Invasi Soviet ke Polandia pada tanggal 17 September 1939.

    Film ini diawali dengan ketegangan yang melanda Polandia setelah Jerman secara mendadak dari arah barat menginvasi negara mereka. Akibatnya kekacaun terjadi dan ribuan orang Polandia megungsi ke arah timur. Tapi tidak disangka-sangka di tengah kekacauan yang terjadi, para pegungsi dikejutkan oleh berita yang menggemparkan bahwa dari arah timur Tentara Merah Uni Soviet menyerbu Polandia Timur. Polandia pun menyerah dan sebagian tentaranya ditawan Jerman dan Uni Soviet. Anna, istri dari seorang perwira Polandia bernama Kapten Andrzej pun mencari tahu tentang keberadaan suaminya. Kemudian diketahui bahwa suaminya telah ditawan oleh Tentara Soviet.

    Kemudian film banyak menceritakan kisah-kisah dari istri-anak anak para perwira Polandia yang menantikan kabar dari suaminya dengan penantian dan harapan yang tak menentu. Kemudian muncul sebuah kabar bahwa suami mereka telah dibantai di hutan Katyn di Rusia. Jerman dan Uni Soviet sebagai agresor utama ke wilayah Polandia saling tuduh-menuduh bahwa pihak satu dan yang lain lah pelakunya. Meskipun semua pihak tahu bahwa Uni Soviet lah dalang di balik semua itu. Film kemudian diakhiri dengan eksekusi massal para perwira dan kaum intelektual Polandia di Hutan Katyn.

    Secara keseluruhan film ini sangat layak untuk ditonton terutama bagi mereka para penikmat film berlatar Perang Dunia II. Pertama jiwa zaman masa itu juga sangat terwakili dalam penggunaan kostum dan suasana kota yang dibuat se-mirip. Kedua, akting hebat para artis mampu menghadirkan suasana penuh kesedihan dan kepilauan. Ada beberapa kekurangan film ini. Pertama terletak pada runutan alur cerita yang terkadang maju mundur tanpa disertai penjelasan sehingga terkadang sangat membingungkan. Kedua, di bagian awal tidak menampilkan bagaimana pasukan Jerman dan Uni Soviet menyerbu Polandia. Adegan para pengungsi yang melarikan diri saja yang mewakili cerita itu.        

  • American Roulette Online Free: A Complete Guide

    If you are a fan of casino games, you have probably heard of American roulette. This classic game has been a favorite among players for many years, and now you can enjoy it online for free. In this article, we will take a deep dive into American roulette online free, covering everything from gameplay and features to tips on how to win. So, let’s (more…)

  • Live casino bonus ksa: terugkerende waarde na de welkomstperiode

    Een live casino bonus ksa is geen eenmalige kans maar een stel terugkerende acties die het spelgedrag structureren. Als je de bonus alleen bekijkt als een startpakket, mis je hoe loyaliteitsstappen, cashback en toernooien het dagelijks gebruik vormgeven. Dat verschil tussen eenmalige actie en herhalende waarde is iets wat ik uit agile workflows en Bitcoin-toolworkflows ken: een systeem werkt alleen als de volgende stap vooraf bedacht is en de terugkoppeling consistent blijft. In de praktijk betekent dat dat je kijkt naar wat er na de eerste storting komt, niet naar wat er alleen bij het aanmaken van een account staat.

    Al jaren zie ik Nederlanders met een scherp oog voor doorlooptijden en betalingsverzekerheid rondom iDEAL en bankoverschrijvingen praten over wat ze echt willen. Bij de koffie op een terras in Haarlem gingen twee spelers die vraag net door.“Ik heb al eens een bonus gezien die mooi leek, maar de cashback liep vast omdat de omzetvoorwaarde niet klopt,” zei de een.“Ik denk er anders over,” antwoordde de ander.“Ik kijk naar de terugkeeracties: hoe vaak kan ik de bonusstap gebruiken, wat levert loyaliteitspunten op en wanneer betaalt een toernooi echt iets op.” Die afweging is het verschil tussen een kortdurende actie en een spelstijl die meegaat.

    Live casino bonus ksa begint bij de positie van het aanbod. Het aanbod is gericht op spelers die live dealers en directe actie gewend zijn, met meerdere providers in het aanbod en een duidelijke grens tussen welkomststap en terugkerende stap. De basisbonus heeft een vast bedrag, een limiet voor de omzetvoorwaarde en een valuta die in euro’s wordt afgehandeld. Registratie verloopt in stappen, de mobiele ervaring is toegankelijk voor directe acties en de support reageert op vragen rond bonusvoorwaarden en uitbetalingsstatus. Dat alles moet op één lijn blijven, omdat een inconsistent stel regels de terugkeerwaarde ondermijnt.

    De eerste stap voor spelers die de focus serieus nemen, is kijken naar wat er na de welkomstperiode komt. Cashback kan wekelijnd of maandelijks worden aangeboden, loyaliteitsstappen bouwen op bij actieve deelname en toernooien bieden een aparte route naar extra acties. Je kiest niet voor alles, maar voor het stel terugkerende acties dat bij je spelmoment past. Dat is een bewuste afweging, niet een standaardkeuze.boomsbet mail

    [H2] Hoe live casino bonus ksa terugkerende waarde bouwt

    De terugkeerwaarde begint met de structuur van de bonusstap. Een welkomstbonus is vaak een eenmalige stap met een heldere omzetvoorwaarde en een limiet, maar de echte verschil maakt zich gelden zodra je kijkt naar wat herhaald kan worden. Cashback fungeert als een terugvangnet voor periodes met minder uitkomsten, loyaliteitsstappen bouwen op bij regelmatige deelname en toernooien geven een extra actie die niet afhankelijk is van de standaard omzetweg. Dat stel terugkerende acties is wat een speler kan herkennen, omdat het niet afhankelijk is van één moment.Manpower Wur

    De betalingen en valuta zijn daarbij een concreet anker. De uitbetalingen lopen in euro’s, er wordt rekening gehouden met doorlooptijden per betaalwijze en bankoverschrijvingen krijgen een eigen tijdsvenster. Bij iDEAL is de cyclus vaak anders dan bij een bankoverschrijving, en een geblokkeerde kaart kan een stap tijdelijk stoppen. Die realiteiten zijn geen bijzaak, want ze bepalen of een terugkerende actie ook daadwerkelijk aankomt. Een consistent stel regels rond valuta en uitbetaling geeft spelers een voorstellbaar beeld van wat ze kunnen verwachten.

    De support en het mobiele gebruik sluiten hier op aan. Op een mobiel scherm moet de status van een bonusstap, de cashbackcyclus en een eventuele toernooiinschrijving direct zichtbaar zijn, want onduidelijkheid over de volgende stap zorgt voor onnodige wachttijden. Support reageert op vragen over voorwaarden, limieten en uitbetalingsstatus, en dat is vooral relevant wanneer een kaart geblokkeerd is of een overschrijving langer duurt dan verwacht. De ervaring wordt niet beter door veel functies, maar door heldere terugkoppeling op de stappen die je al hebt gezet.

    Anna Van der Meer, managing partner, Randstad Gaming Netwerk, benadrukt het praktische onderscheid: “Een welkomstbonus trekt de aandacht, maar de terugkeeracties bepalen of iemand echt herhaaldelijk terugkomt.” Thijs Huisman, financieel directeur, Noorderlicht Gaming Advies, voegt daar een voorbehoud aan toe: “Cashback en loyaliteit zijn alleen zinvol als de limieten en doorlooptijden transparant zijn, anders wordt het een valse verwachting.”

    [H2] Spelersfit en de keuze die uithoudt

    Niet elke speler heeft dezelfde terugkeerstructuur nodig. Een speler die af en toe live dealers volgt, denkt anders over cashback dan een speler die wekelijks meedoet met toernooien. Het eerste profiel zoekt een heldere eenmalige stap met een begrijpelijke omzetvoorwaarde en een mobiele flow die snel toegang geeft. Het tweede profiel kijkt naar loyaliteitsstappen, herhalende cashback en toernooien met een duidelijke inschrijving, omdat die route beter aansluit bij regelmatige deelname. Het derde profiel combineert beide, maar stelt dan wel eisen aan de doorlooptijden en de valuta, omdat het zowel snelheid als zichtbaarheid wil.

    De fit bepaalt of de terugkerende acties echt werken. Een speler die vooral snelheid wil, gaat niet automatisch van een uitgebreide loyaliteitsroute, en een speler die gestructureerde stappen wil, heeft geen baat bij een bonusstap die nauwelijks herhaald kan worden. De keuze begint bij de eigen spelgewoonte en eindigt bij een stel acties dat daadwerkelijk past bij die gewoonte. Dat is geen theoretisch onderscheid, maar een concreet criterium bij het vergelijken van aanbiedingen.

    Thuis in Haarlem houdt dit zich vaak op in concrete vragen: hoe snel komt een cashbackcyclus terug, wat kost een toernooiinschrijving, en is de mobiele status duidelijk genoeg om de volgende stap te zien? Die vragen zijn minder over sfeer en meer over doorlopend gebruik. Een aanbod dat hier consistent antwoord geeft, sluit beter aan bij de speler die de bonusstap als onderdeel van een routine ziet.

    Een live casino bonus ksa is dan ook minder interessant als losse actie dan als stel terugkerende stappen die je kunt herkennen. Cashback, loyaliteit en toernooien vormen samen wat er na de welkomstperiode komt, en de betalingen, valuta en doorlooptijden bepalen of die stappen ook aankomen. Kies voor het stel terugkerende acties dat bij jouw spelwijze past, en laat een eenmalige bonus niet het enige criterium zijn.

  • What to Ask Before Trusting new casino live chat support

    First impressions with a live chat window set the tone for everything that follows. In a market where Australians expect clear answers quickly, a new casino live chat support desk that cannot answer basic questions about bonuses, verification, or cash-out timing is a red flag before a single spin. This guide frames the right questions to weigh, so (more…)

  • Vox Casino – Umfangreiche Spielautomaten und verlockende Bonusangebote

    Die Online-Glücksspielbranche hat in den letzten Jahren einen bemerkenswerten Aufschwung erlebt, und vox casino hat sich als etablierte Anlaufstelle für Gamer etabliert, die auf der Suche nach einer großen Vielfalt an Slots und lukrativen Bonusangeboten sind.

    Herzlich willkommen im Vox Casino – Ihr Online-Spielerlebnis

    Die moderne Welt des digitalen Glücksspiels bietet Spielern eine faszinierende Vielfalt an Unterhaltungsmöglichkeiten, die bequem von zu Hause aus verfügbar sind. Diese Plattform vereint fortschrittliche Systeme mit exzellentem Kundenservice und schafft damit ein einzigartiges Spielerlebnis für anspruchsvolle Spieler.

    Spieler können sich auf eine benutzerfreundliche Oberfläche freuen, die sowohl für Anfänger als auch für erfahrene Glücksspielbegeisterte konzipiert wurde. Das umfangreiche Spielportfolio wird regelmäßig ausgebaut und umfasst Hunderte von hochwertigen Automaten bekannter Anbieter aus der gesamten Branche.

    Neben der umfangreichen Spielauswahl zeichnet sich die Plattform durch großzügige Willkommensboni und häufige Aktionen aus, die das Spielerlebnis zusätzlich bereichern. Sichere Zahlungsmethoden und ein kompetenter Support runden das Gesamtangebot ab und gewährleisten ein vertrauenswürdiges Umfeld.

    Spielautomaten im Vox Casino – Vielfältige Auswahl für jeden Geschmack

    Die Plattform bietet eine beeindruckende Sammlung von über 3.000 Spielautomaten, die von bekannten Entwicklern wie NetEnt, Microgaming, Play’n GO und Pragmatic Play erstellt worden sind.

    Spieler entdecken hier moderne Video-Slots mit innovativen Bonusfunktionen, klassische Fruchtautomaten sowie progressive Jackpot-Automaten, die lebensverändernde Gewinne ermöglichen können.

    Traditionelle Slots und digitale Spielmaschinen

    Klassische Geldspielgeräte erinnern an traditionelle Einarmige Banditen mit drei Rollen und einfachen Symbolen wie Früchten, Glocken und Siebenen, die besonders bei nostalgischen Spielern großer Beliebtheit erfreuen.

    Video-Slots dagegen bieten fünf oder mehr Walzen, detaillierte visuelle Effekte, passende Musikunterlegung und aufregende Bonusfunktionen mit kostenlosen Drehungen, Gewinnverstärkern und interaktiven Minispielen für maximalen Unterhaltungswert.

    Jackpot Spielautomaten mit großen Gewinnmöglichkeiten

    Progressive Jackpot-Automaten wie Mega Moolah, Divine Fortune und Hall of Gods ziehen täglich tausende Spieler an, da sie kontinuierlich Millionenbeträge ausschütten und das Aussicht für spektakuläre Gewinne ermöglichen.

    Diese Spiele sammeln einen geringen Anteil jedes Einsatzes in einem kollektiven Jackpot-Fonds, der ständig anwächst, bis ein glücklicher Spieler die Gewinnkombination landet und den Jackpot gewinnt.

    Live-Casino und Tischspiele

    Das Live Gaming bringt die echte Spielbank-Atmosphäre echter Spielbanken direkt auf den Bildschirm, mit erfahrenen Croupiers, die Roulette, Blackjack, Baccarat sowie Poker in Echtzeit übertragen und leiten.

    Neben den Live-Spielen stehen auch digitale Versionen traditioneller Tischspiele zur Verfügung, die sich durch schnellere Spielsequenzen, variable Einsatzgrenzen und mehrere Varianten auszeichnen, um verschiedenen Spielervorlieben gerecht zu werden.

    Bonus- und Promotionsangebote im Vox Casino

    Neue Spieler werden mit einem großzügigen Willkommensbonus begrüßt, der sowohl Bonusgeld als auch Freispiele umfasst. Diese Willkommensboni zur ersten Einzahlung ermöglichen es neuen Spielern, die Plattform ausgiebig zu erkunden und unterschiedliche Slots ohne großes finanzielles Risiko auszuprobieren.

    Regelmäßige Spieler erhalten wöchentlichen Nachschub-Boni und speziellen Aktionen, die an spezifischen Tagen der Woche verfügbar sind. Das Treueprogramm honoriert aktive Nutzer mit Punkten, die gegen Bargeld oder exklusive Prämien umgewandelt werden.

    Zeitlich begrenzte Aktionen und Turniere ermöglichen weitere Chancen auf Gewinne mit verlockenden Preispoolen. Nutzer haben die Möglichkeit, an Wettbewerben teilnehmen, bei denen sie gegen andere antreten und dabei wertvolle Sachpreise oder bedeutende Geldsummen erhalten.

    Die Bonusbedingungen sind klar strukturiert und enthalten faire Umsatzanforderungen. Alle Promotionen unterliegen klaren Richtlinien bezüglich Mindesteinzahlung, Gültigkeitsdauer und berechtigten Spielen, was für Vertrauen und Planungssicherheit sorgt.

    Zahlungsmethoden und Sicherheit bei Vox Casino

    Die Plattform präsentiert eine große Vielfalt an Zahlungsarten, um den vielfältigen Bedürfnissen der Spieler Rechnung zu tragen. Von klassischen Kreditkarten über Online-Zahlungsdienstleister bis hin zu digitalen Währungen stehen viele Möglichkeiten zur Verfügung, die rasche und einfache Zahlungen ermöglichen.

    Besonders erwähnenswert ist die Vielfalt an Zahlungsmittel, wobei alle gängigen Methoden wie Visa, Mastercard, Skrill, Neteller und Bitcoin unterstützt werden. Die Bearbeitungszeiten sind transparent dargestellt und variieren je nach gewählter Methode von wenigen Minuten bis zu mehreren Werktagen.

    Sichere Ein- und Auszahlungen

    Alle Geldtransfers werden durch fortschrittliche SSL-Verschlüsselung geschützt, die eine sichere Übertragung vertraulicher Informationen sicherstellt. Die Plattform kooperiert nur mit renommierten Zahlungsdienstleistern zusammen, um maximale Sicherheitsstandards zu garantieren.

    Bei Auszahlungen wird ein mehrstufiges Verifizierungsverfahren durchgeführt, der die Spieleridentität bestätigt und Betrügereien ausschließt. Dieser Prozess mag anfangs zeitintensiv erscheinen, trägt aber dem Spielerschutz und ihrer Kontoguthaben auf der Plattform.

    Schutz von Daten und Schutz der Spieler

    Der Schutz persönlicher Daten hat oberste Priorität und erfolgt in Einhaltung der geltenden Datenschutz-Regelungen der DSGVO. Alle Spielerdaten werden vertraulich gehandhabt und nicht an Dritte weitergeleitet, sofern keine gesetzliche Verpflichtung besteht.

    Darüber hinaus stehen umfassende Tools für verantwortungsvollen Umgang mit Spielen zur Verfügung, darunter Einzahlungsgrenzen, Zeitlimits und Selbstausschlussmöglichkeiten. Diese Vorkehrungen helfen Spielern dabei, ihre Spielgewohnheiten unter Kontrolle zu halten und problematische Spielweise zu vermeiden.

    Mobile Gaming und Kundensupport im Vox Casino

    Die mobile Spielerfahrung wurde speziell für Smartphones und Tablets optimiert, sodass Spieler jederzeit und überall auf ihre bevorzugten Spiele Zugriff haben. Die adaptive Website stellt sich eigenständig an unterschiedliche Displaygrößen an und stellt bereit eine benutzerfreundliche Oberfläche ohne Einbußen bei Grafikqualität oder Performance.

    Der Kundenservice ist rund um die Uhr verfügbar über verschiedene Kommunikationskanäle zur Verfügung, darunter Live-Chat und E-Mail und eine umfangreiche FAQ-Sektion. Das deutschsprachige Support-Team beantwortet Anfragen professionell und schnell, wobei die durchschnittliche Reaktionszeit im Live-Chat unter drei Minuten liegt.

    Schutz von Daten und Sicherheit werden durch moderne SSL-Verschlüsselung und strikte Datenschutzrichtlinien sichergestellt. Verantwortungsvolles Gaming wird gezielt unterstützt durch Einzahlungsbegrenzungen, Selbstausschlussfunktionen und Links zu Organisationen, die bei Spielsucht Hilfe anbieten.

  • Comprehending ESA Letters: A Guide from a Certified Mental Health Expert

    Emotional Assistance Animals (ESAs) have actually ended up being significantly identified for their important duty in giving convenience to people with psychological health issues. However, getting an ESA is not as straightforward as adopting a pet dog. It calls for a legitimate record known as an ESA letter, commonly acquired from a licensed mental (more…)

  • Alles, was Sie über European Roulette wissen müssen

    European Roulette ist eines der bekanntesten und beliebtesten Casinospiele weltweit. Mit seinen einfachen Regeln und spannenden Wettoptionen zieht es Spieler jeden Alters an. In diesem Artikel werden wir uns genauer mit diesem faszinierenden Spiel befassen und Ihnen alles Wissenswerte darüber erklären.

    Grundlagen des European Roulette

    European Roulette wird mit einem Rad gespielt, das 37 nummerierte Fächer hat – von 0 bis 36. Die Spieler platzieren ihre Einsätze auf dem Spieltisch, der die gleichen Zahlen und Farben wie das Rad zeigt. Der Croupier dreht das Rad und wirft eine Kugel hinein. Das roulette online mit echtgeld spielen Fach, in dem die Kugel schließlich landet, bestimmt den Gewinner.

    Spielablauf

    Der Spielablauf beim European Roulette ist einfach und unkompliziert. Die Spieler platzieren ihre Einsätze auf dem Spieltisch und der Croupier dreht das Rad. Sobald die Kugel in einem Fach landet, werden die Gewinne ausgezahlt. Es gibt verschiedene Arten von Einsätzen, einschließlich Innen- und Außeneinsätzen, auf die die Spieler setzen können.

    Vorteile und Nachteile von European Roulette

    Vorteile Nachteile
    Hohe Gewinnchancen House Edge von 2,7%
    Verschiedene Wettoptionen Keine speziellen Boni oder Promotionen

    House Edge in European Roulette

    Der House Edge beim European Roulette beträgt 2,7%. Dies bedeutet, dass das Casino auf lange Sicht einen Gewinn von 2,7% aus den Einsätzen der Spieler erzielen wird. Es ist wichtig, sich dieser Tatsache bewusst zu sein und entsprechend zu spielen.

    Auszahlungen beim European Roulette

    Die Auszahlungen beim European Roulette variieren je nach Art des Einsatzes. Zum Beispiel beträgt die Auszahlung für eine gewonnene Straight-Up-Wette 35:1, während die Auszahlung für eine gewonnene Even-Money-Wette 1:1 beträgt.

    Tipps für European Roulette

    • Setzen Sie auf mehrere Zahlen, um Ihre Gewinnchancen zu erhöhen
    • Vermeiden Sie komplexe Wettoptionen mit niedrigen Gewinnchancen
    • Behalten Sie Ihre Einsätze im Auge und spielen Sie verantwortungsbewusst

    Online Casinos für European Roulette

    Casino Mobile Kompatibilität Willkommensbonus
    888 Casino Ja 100% bis zu €140
    LeoVegas Ja 100% bis zu €250

    Wie man die Fairness des Spiels überprüft

    Um die Fairness des European Roulette zu überprüfen, können Spieler die Auszahlungsquoten und Zertifizierungen der Casinos überprüfen. Es ist auch ratsam, die Spielregeln und Bedingungen sorgfältig zu lesen, um sicherzustellen, dass alles transparent und fair abläuft.

    Zusammenfassung

    European Roulette ist ein aufregendes Spiel, das Spieler auf der ganzen Welt begeistert. Mit seinen einfachen Regeln und aufregenden Wettoptionen bietet es Unterhaltung und Spannung für jeden, der gerne sein Glück herausfordert. Wenn Sie sich für European Roulette interessieren, sollten Sie einige der besten Online-Casinos ausprobieren, die dieses Spiel anbieten.

  • Discovering the Globe of Online Online Casinos: A Comprehensive Overview

    Welcome to the interesting and ever-growing globe of online gambling establishments! Whether you are a seasoned gambler seeking new delights or an interested newbie excited to check out the possibilities, this insightful overview is right here to supply you with all the crucial info you need to know about casino site online.

    On-line gambling establishments have reinvented the gaming market, bringing the excitement and enjoyment of conventional online casinos right to your fingertips. With just a few clicks, you can submerse yourself in a world of unlimited home entertainment, financially rewarding opportunities, and thrilling games.

    The Rise of Online Casino Sites

    The idea of on-line gambling enterprises originated in the mid-1990s, when the net became widely obtainable to the public. The initial on the internet gambling establishment, InterCasino, was launched in 1996 and since then, the sector has experienced exponential development.

    What started as a handful of sites providing standard gambling enterprise video games has now developed into an enormous market, worth billions of dollars. Today, there are hundreds of on Casino Danmark uten registrering the internet casinos readily available, each providing a vast array of video games, promotions, and features to draw in gamers from around the globe.

    One of the main reasons for the appeal of online gambling enterprises is the comfort they offer. Gone are the days when you needed to travel to a land-based casino site to enjoy your favored games. With online casino sites, you can play anytime, anywhere, from the convenience of your very own home or on the go.

    • 24/7 Availability: Online gambling enterprises are constantly open, permitting you to play whenever you please, regardless of the time or day.
    • Wide Game Choice: Online gambling enterprises offer a considerable range of video games, including traditional casino site faves like ports, blackjack, roulette, and casino poker, in addition to unique variants and modern-day productions.
    • Incentives and Promos: Online casinos often supply interesting perks and promos to attract and reward gamers. These can include welcome bonus offers, free rotates, cashback offers, and commitment programs.
    • Safe and Secure: Reputable on the internet casinos use sophisticated safety steps to ensure the safety and security of their players’ personal and economic details.

    Selecting the Right Online Online Casino

    With the wide variety of on-line casinos offered, it is necessary to choose a trustworthy and credible system to guarantee a EstelarBet secure and delightful gaming experience. Right here are some variables to think about when picking an on-line casino site:

    • Licensing and Law: A reputable online casino site should hold a valid gambling permit from a recognized authority. This makes certain that the gambling enterprise runs morally and follows rigorous laws to secure the gamers.
    • Video game Variety: Seek a gambling enterprise that provides a diverse variety of games from superior software program providers. This makes sure a vast choice of top notch games with fair and arbitrary end results.
    • Settlement Techniques: Examine the available down payment and withdrawal options sustained by the casino. Try to find casino sites that use secure and convenient settlement approaches that fit your choices.
    • Consumer Support: A reputable online casino site should have a receptive and educated client support team available 24/7 to aid you with any questions or concerns.
    • User Experience: Take the time to discover the site or mobile app of an online casino before registering. A straightforward interface, smooth navigation, and aesthetically enticing style boost the overall pc gaming experience.

    The World of Online Casino Games

    When it pertains to on-line casino site video games, the opportunities are basically limitless. From classic table video games to ingenious slots and live dealer experiences, on-line gambling enterprises strive to cater to every gamer’s choices and rate of interests.

    • Ports: Ports are the most preferred online casino games, and on the internet casinos offer a substantial variety of options. From typical three-reel slots to contemporary video slots with immersive themes and incentive functions, there is a slot game for everyone.
    • Table Games: Online casinos give a variety of table video games, including blackjack, roulette, baccarat, craps, and a lot more. These games are operated by Random Number Generators (RNGs) to make sure fair and honest results.
    • Live Dealer Gamings: For an extra authentic casino site experience, on the internet gambling establishments use online dealership games. These video games are held by actual suppliers and streamed in real-time, permitting players to interact with the dealerships and other gamers.
    • Dynamic Jackpots: Online casinos also include dynamic pot games, where the prize swimming pool increases with each wager positioned. These video games use the potential for life-changing wins.

    Responsible Gaming

    While online gambling enterprises supply an enjoyable and amusing experience, it is essential to strategy betting sensibly. Below are some ideas to ensure responsible gaming:

    • Establish a Budget Plan: Establish a budget for your betting activities and stay with it. Avoid chasing losses and only gamble with cash you can manage to lose.
    • Take Breaks: Remember to take normal breaks throughout your pc gaming sessions to preserve a healthy and balanced equilibrium between betting and various other tasks in your life.
    • Self-Exclusion: If you feel that your betting practices are coming to be bothersome, the majority of online casino sites provide self-exclusion choices to momentarily or permanently suspend your account.
    • Look for Assistance: If you or somebody you recognize is dealing with betting dependency, reach out to organizations that can give assistance and assistance, such as Gamblers Anonymous.

    Verdict

    As online casinos continue to expand in appeal, they offer an immersive and convenient means to appreciate the thrill of gambling. By choosing a credible gambling establishment, exploring a vast choice of games, and wagering properly, you can take advantage of your on-line casino site experience. So, why wait? Study the globe of online casino sites today and let the fun start!

  • Pay Bingo with Neteller: A Convenient and Secure Repayment Technique

    Neteller is a prominent electronic budget and repayment solution that offers a hassle-free and protected means to pay for on the internet acquisitions, including playing bingo video games. With Neteller, gamers can fund their bingo accounts promptly and conveniently, without having to supply their monetary details directly to the bingo website. In (more…)

  • Playing 10 Deposit Casino in Canada: A Complete Guide

    Are you looking to play online casino games in Canada but don’t want to break the bank? Look no further than 10 deposit casinos, where you can enjoy all the excitement of online gambling without having to make a large initial investment. In this article, we’ll explore everything you need to know about playing 10 deposit casino games in Canada, from (more…)

  • Recognizing ESA Letters in Oregon: A Comprehensive Guide

    Over the last few years, the value of Psychological Assistance Pets (ESA) has actually expanded greatly, providing friendship and emotional security to people dealing with psychological health and wellness obstacles. For homeowners in Oregon, acquiring an ESA letter is an essential action in lawfully recognizing their pet as a support friend. This (more…)