Over the last decade, social media platforms have become significant in the way they influence societies culturally. The penetration of social media with or without consiousnes affected the whole modern culture in the 21st century . Together with the emerge of virtual world and its platforms, social patterns and behaviors is transforming in many ways. Within this focus, Jose Van Dijck might be able to clear our path through the understanding of history of social media and its influence to the social life as well.
In many ways, social media did not just suddenly appeared. Their emergence have quite historical background. Within the last decade, it transforms from the simple coding to the complex networks within the internet connection, from the insignificant programs to the most reliable application on earth. With the development of many features of social media, people is now having their pleasure through the social media rather than social life. Despite of its pleasure, some people getting their financial profit using social media. In turn, these platforms become the arena of public communication where contested rules. The private and public sphere are now obscure. The social amusement is now could be counted by coding number of like and dislike. This reality reflects the dramatic evolution of human behavior because of social media. In the other words, the social media have changed not simply culture but politic, communication, social life and economic as well.
Due to the explanation above, the works of Jose is explaining the whole development and influences of social media with multidisciplanaries approach, namely actor-network theory (ANT) and Political Economy. With these two, the prevailing objects are ownership, governance, business model, content, users and technology. Jose is figuring out the mentioned six points in five different forms of social media, it is ; Facebook, Twitter, Youtube , Flickr and Wikipedia. It means that Jose tries to discuss the influence of each social media culturally, socially, politically, technologically and economically.
Eventhough social media seems to be comprehensively discussed in this book, there is no chance that this condition will last long. Concerning the rapid development of social media, Jose’s work which is published in 2012 might need some kind of addition and deeper researches. For exampele, only four years after this book was published, one by another social media is gradually appearing. look at the recent time when instagram and whatsapp is now conquering the virtual world. Therefore, the research of social media is hardly dynamic and challenging as well.
Memotong rambut tentu saja merupakan suatu hal yang umum dalam kehidupan kita. Setidaknya hampir semua orang pernah memotong rambut mereka utamanya mereka para pelajar atau para pegawai negeri sipil juga para pegawai kantoran. Bagi mereka mau tak mau memotong rambut adalah kewajiban. Sebab musababnya ialah mereka dituntut bersih rapih sekaligus necis. Tapi sesungguhnya memotong rambut pendek juga bukan ciri khas ketiga golongan itu, sebagian besar masyarakat Indonesia kini memotong rambut mereka pendek hanya segelintir orang saja membiarkan rambut mereka terurai panjang.
Di zaman lampau tepatnya di masa sebelum kedatangan agama Islam ke Indonesia, membiarkan rambut panjang terurai entah itu bagi pria maupun wanita Indonesia merupakan fenomena umum. Barulah ketika agama Islam masuk ke Indonesia di abad ke-13, memotong rambut menjadi pendek menjadi lebih banyak dijumpai. Walaupun hingga pertengahan abad ke-9, kita masih banyak menjumpai orang-orang Aceh, Jawa, Bugis tidak memotong rambut pendek rambut mereka.
Tapi pada umumnya memotong rambut menjadi lebih pendek telah menjadi suatu hal yang umum. Potongan rambut para bangsawan upamanya potongan rambut para raja dan sultan sangat disukai oleh penduduk di kerajaannya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Begitu juga potongan rambut para orang-orang suci utamanya potongan rambut para ulama, kyai atau para pemuka sangat dihargai.
Para Prajurit Kesultanan Banten dengan senjata mereka masing masing dari mulai tombak, pedang hingga istinggar. Tampak juga dalam foto seluruh dari mereka telah bercukur pendek. (Rijkmuseum)
Sebab-Musabab pemotongan rambut
Anthony Reid mengutip dari Drewes betapa murkanya seorang pangeran Bali ketika seorang utusan Islam dari Mekah mempersembahkan gunting alat cukur. Dia menyadari bahwa hal itu merupakan suatu ajakan untuk masuk Islam (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: 92). Dalam hal ini tampak sekali bahwa rambut pendek merupakan suatu simbol atau perlambang seseorang telah meninggalkan agama lama menuju agama baru yang telah dipeluknya.
Selain sebab musabab konversi agama, pemotongan rambut juga bisa jadi sebagai simbol sukacita entah itu sukacitas kemenangan perang atau memperoleh kebahagian. Aru Palakka dari Bone kompetitor utama Sultan Hasanuddin dalam Perang Makasar memotong rambut panjangnya setelah sukses menumbangkan saingannya itu. Contoh lainnya ada dalam perang suksesi Jawa di abad ke Pakubuwono I raja dari Kraton Kartasura memangkas rambutnya sebagai suatu rasa syukur atas kemenangan yang telah dia raih.
Sebab musabab lain dari pemotongan rambut selain daripada konversi agama dan simbol sukacita ialah simbol suatu kelompok atau identitas. Hal ini bisa kita temui dalam kisah perang Diponegoro. Dalam Babad Diponegoro sangat jelas dikisahkan bagaimana Pangeran Diponegoro dan pengikutnya memotong pendek rambut mereka untuk membedakan diri mereka dengan orang-orang Jawa yang pro-Belanda.
“Rata-rata tinggi badan orang Indonesia di abad ke 17 relatif sama dengan orang Eropa, kesenjangan mulai terjadi tatkala tingkat nutrisi mulai meningkat di kalangan penduduk Eropa pada akhir abad ke ke 18”
Beberapa waktu lalu laman berita online BBC News memuat suatu artikel mengenai mengapa rata-rata tinggi badan orang Belanda tinggi-tinggi. Artikel juga memuat daftar peringkat negara dengan rata-rata tinggi badan tertinggi di dunia. Belanda tentu saja menempati urutan pertama pria dengan rata-rata tinggi badan 183 cm. Belgia bekas wilayahnya menduduki urutan kedua. Sementara duo negara Baltik, Estonia dan Latvia masing-masing berada ketiga dan keempat. Melihat Belanda di urutan teratas semakin terbuktilah omongan dari para kakek nenek kita dulu Kompeni tuh badanya tinggi-tinggi.
Sementara itu dalam kategori wanita, Lithuania menduduki peringkat pertama dengan rata-rata tinggi badan wanita mereka mencapai 170 cm. Sementara itu di urutan kedua, ketiga dan keempat lagi-lagi ditempati Belanda, Estonia dan Republik Ceko.(Mengapa orang Belanda tinggi tinggi?)
Nah lalu … begimana dengan rata-rata tinggi badan orang Indonesia? Kaum Pria Indonesia tentu saja masuk kategori dalam salah satu kategori teratas. Yap, para Pria Indonesia masuk kategori teratas dengan rata-rata tinggi badan terpendek dunia hanya sekitar 160 cm. Begitu pula dengan para wanita Indonesia, rata-rata tinggi badan mereka hanya berkisar di angka 159 cm. (Berapa Tinggi Badan Ideal untuk Anak Laki-Laki?)
Jika ditelisik lebih lanjut di masa lalu, sebenernya rata-rata tinggi badan orang Indonesia tidak begitu jauh dengan orang Eropa. Anthony Reid salah seorang sejarawan Asia Tenggara asal Selandia Baru dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450 -1680 (2014:55) menjelaskan bahwa jika kita melihat kembali ke abad delapan belas, perbedaan antara orang Eropa dan Asia Tenggara nyaris lenyap.
Tinggi Badan Orang Indonesia di abad ke 17 Hingga abad ke 19
Laporan para petualang Eropa di abad ke 16 dan 17 sering menegaskan orang-orang Jawa dan Maluku relatif berbadan pendek. Lain halnya dengan orang-orang Makasar yang berbadan relatif lebih tinggi kurang lebih sama dengan orang Eropa.
Lukisan sekolah tentang kedatangan pertama Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten di akhir abad ke 17. Tampak pada lukisan tinggi badan Cornelis de Houtman dan para anak buahnya tidak jauh berbeda dengan bangsawan Banten yang menyambut kedatangan mereka. (Tropenmuseum)
John Crawfurd seorang dokter sekaligus administrator kolonial Inggris yang pernah bertugas di Asia Tenggara. Dalam bukunya The History of India Archipelago jilid 3, dia menulis tinggi orang Melayu sekitar 157 cm. Sementara tinggi badan orang Eropa kira-kira 6 inci lebih tinggi dari orang Melayu. The History of Sumatra, karya William Marsden seorang orieantalis Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu menjelaskan bahwa orang Eropa tidak lebih tinggi dari orang Sumatra.
Satu kesaksian di tahun 1793 tinggi badan orang Jawa sama dengan ukuran menengah orang Eropa. Begitu juga dengan tinggi badan orang Bugis dari Sulawesi, mereka memiliki tinggi badan yang hampir menyamai orang Eropa.
Anthony Reid juga menjelaskan rata-rata tinggi badan pasukan marinir Inggris hanya mencapai 162 cm. Apalagi para penduduk miskin kota London, rata-rata tinggi badan mereka hanya setinggi 157 cm. Di awal abad ke-19 pun tinggi badan orang Eropa masih di angka 167 cm. Barulah tinggi mereka mulai bertambah 10 cm di abad ke-20. (2014:55).
Dari sumber sumber diatas setidaknya satu kesimpulan bahwa di abad-abad yang telah lalu rata-rata tinggi badan orang Eropa tidak berbeda jauh dengan orang Indonesia. Besar sekali kemungkinan
Sebab Kesenjangan Tinggi diantara Orang-orang Indonesia dan Eropa
Anthony Reid memaparkan sebab-sebab timbulnya kesenjangan tinggi badan di antara orang Indonesia dan Eropa. Dari bukti yang ada menjelaskan bahwa kesenjangan mulai tampak tatkala nutrisi mulai membaik di sekitar tahun 1800 (2014:55). Maka sejak saat itulah tinggi badan orang Eropa pelan-pelan mulai menjulang tinggi dibandingkan dengan orang-orang Indonesia.
Orang-orang Indonesia hari ini sendiri malah tampak tidak bertambah tinggi dibanding leluhur mereka di kurun abad lampau. Malahan ada sedikit penurunan tinggi badan di antara mereka.
Masa Hindu-Buddha di Indonesia mengawali tumbuh dan berkembangnya sistem kerajaan. Sebelum masa Hindu-Buddha bangsa Indonesia tidak pernah menganal jabatan raja. Kepala wilayah tertinggi hanyalah seorang ketua adat atau kepala suku. Tapi setelah masuknya pengaruh budaya India, jabatan raja dan sistem kerajaan kemudian mulai diperkenalkan. Disini kita akan mengenal beberapa kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Kerajaan Kutai
Kutai merupakan kerajaan Hindu-Buddha pertama yang diketahui di Indonesia berdasarkan bukti tertulis. Kerajaan ini terletak di tepian sungai Mahakam, Kutai, Kalimantan Timur dan kemungkinan ada sekitar abad ke-5 M. Hal didasarkan dari temuan Prasasti Yupa yang ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.
Enam Buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Kutai, kalimantan Timur. (KITLV)
Isi dari prasasti Yupa sendiri menginformasikan beberapa hal penting tentang Kerajaan Kutai,
Prasasti Yupa ini ditulis semasa pemerintahan raja Mulawarman untuk mengenang kemurahan hati raja atas pemberian korban seribu ekor sapi kepada para pendeta agama Hindu.
Raja Mulawarman juga disebutkan sebagai seorang raja yang amat berbudi baik lagi mulia.
Dari prasasti ini juga, kita mengetahui asal usul dan leluhur raja Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan memiliki seorang ayah bernama Aswawarman, sedangkan kakeknya bernama Kudungga.
Walaupun Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu-Buddha tertua di Indonesia tapi tidak diketahui secara pasti kapan agama Hindu-Buddha masuk ke kerajaan ini. Tapi kita bisa menduga bahwa agama Hindu-Buddha mulai masuk di masa pemerintahan ayahnya yang bernama Aswawarman. Ini dilihat dari namanya yang sudah terpengaruh nama India. Sementara kakeknya Kuddungga masih menggunakan masa asli Indonesia.
Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya muncul di abad ke-7 sebagai kerajaan Buddha maritim atau bahari terbesar di Nusantara. Kota Palembang merupakan pusat pemerintahannya. Sementara Sri Jayanasa adalah raja pertama kerajaan ini.
Catatan terawal mengenai Sriwijaya diketahui dari berita seorang pendeta Buddha China bernama I-Tsing. Di 671 M I-Tsing berencana untuk berziarah ke India, tapi selama pelayarannya dia sempat tinggal selama 4 bulan di Sriwijaya untuk Belajar bahasa Sanskerta. Beberapa prasasti yang ditemukan juga banyak memberikan informasi mengenai kerajaan ini seperti Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Telaga Batu di Palembang, Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka, dan Prasasti Karang Berahi di Jambi.
Reruntuhan Candi Muara Takus Salah satu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Jambi (KITLV)
Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan di abad ke-9 ketika Balaputradewa yang berasal dari Wangsa Syailendra di Jawa berkuasa. Dia mampu memanfaatkan letak Sriwijaya yang strategis di antara jalur perdagangan India dan China. Pelabuhan-pelabuhan di kerajaan Sriwijaya bayak disinggahi kapal-kapal dagang yang hendak berlayar ke China atau ke India. Raja Sriwijaya juga banyak mengirim para pelajar untuk belajar agama Buddha ke India.
Kerajaan Sriwijaya mulai melemah sejak serbuan Kerajaan Cholamandala dari India Selatan di abad ke 11. Tapi kerajaan ini masih berdiri untuk tahun-tahun setelahnya. Namu di abad berikutnya, nama Sriwijaya menghilang dari sejarah dan bisa dikatakan tamat riwayatnya.
Kerajaan Tarumanegara
Tarumanegara mewakili salah satu kerajaan Hindu-Buddha terawal di Nusantara. Muncul di abad ke-6 M, kerajaan ini kemungkinan terletak di kota Bogor, Jawa barat hari ini. Berita mengenai kerajaan ini banyak berasal dari beberapa prasasti yang ditemukan seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi I dan II, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Aw dan Muara Cianten di Bogor. Ada juga beberapa prasasti yang ditemukan di Jakarta dan Banten seperti Prasasti Tugu dan Kabantenan.
Prasasti Ciaruteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara di Bogor (KITLV)
Raja terkenal kerajaan ini ialah raja Purnawarman yang dikisahkan bahwa dia seorang raja arif dan bijaksana. Bahkan untuk meningkatkan hasil pertanian raja berinisiatif untuk membangun sungai Gomati sepanjang 12 km. Tak heran pemerintahannya membawa kemakmuran dan kesejahtraan bagi rakyatnya.
Riwayat kerajaan ini kemudian berakhir ketika Tarusbawa memindahkan pusat pemerintahannya dari Taruma ke Sundapura.
Tarusbawa menantu dari raja Tarumanegara terakhir memindahkan ibu kota dari Taruma ke Sundapura. Hal ini membuat penguasa Galuh Wretikandayun bawahan dari Tarumanegara memilih memisahkan diri dan membuat kerajaan sendiri bernama Galuh. Maka secara otomatis sisa kerajaan Tarumanegara terbagi dua yakni satu di Sundapura membentuk kerajaan Sunda, satu lagi di Galuh dikenal sebagai Kerajaan Galuh.
Kedua kerajaan ini kemudian bersatu kembali di bawah Sri Baduga Maharaja di tahun 1482. Sri Baduga kemudian memusatkan kekuasaannya di Pakuan Pajajaran (Bogor). Kerajaannya masih bernama kerajaan Sunda tapi kini lebih dikenal sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Kerajaan ini berakhir di tahun 1579 ketika Sultan Banten Maulana Yusuf menyerbu Istana Pakuan dan menaklukan kerajaan ini.
Tahukan kalian selama abad ke-20, Afrika Selatan banyak menjadi pusat perhatian dunia. Bukan karena prestasi negara ini semisalnya dalam bidang olahraga atau kekuatan negaranya yang adidaya, tapi karena sebuah politik diskriminasi ras yang bernama politik apartheid.Politik Apartheid di Afrika Selatan saat itu banyak dikecam dunia karena membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit. Mayoritas penduduk kulit hitam di Afrika Selatan dipinggirkan sementara minoritas kulit putih mendominasi pemerintahan. Untuk lebih jelasnya dalam pertemuan ini kita akan belajar mengenai bagaimana awal mula politik apartheid muncul, lalu berkembang dan kemudian dihapuskan.
Kolonisasi Afrika Selatan oleh Bangsa Eropa
Pada abad ke-17 Belanda tiba di Afrika Selatan dan mulai mendirikan koloni mereka disana. Banyak orang Belanda yang kemudian menetap di koloni ini. Dari merekalah orang Boer atau biasa disebut sebagai Afrikaner lahir, orang Boer sendiri telah menganggap Afrika Selatan sudah menjadi tanah airnya.
Inggris kemudian tiba disana pada abad ke-19, orang Boer merasa bahwa Inggris telah merebut kemerdekaan mereka. Oleh karena itu muncullah pemberontakan kaum Boer atau biasa dikenal sebagai Perang Boer (1899-1902). Dua negara Boer kemudian lahir selama perang ini yakni, Republik Transvaal dan Negara Bebas Orange. Tapi Inggris lebih kuat dan menghapus dua negara itu. Pemberontakan berakhir dan selanjutnya Afrika Selatan di bawah penguasaan Inggris menjadi Uni Afrika Selatan pada 1910.
Inggris berkuasa berkuasa dengan menjalankan politik rasial dimana orang-orang non-kulit putih dipinggirkan. Hal ini terus berlangsung hingga 1948. Ketika Afrika Selatan merdeka dan Partai Nasional, Partainya minoritas kelas putih menang pemilu.
Kemerdekaan Afrika Selatan dan Pelanggengan Politik Rasial bernama Apartheid
Afrika Selatan memang merdeka tapi hal itu hanya dirasakan oleh golongan minoritas kulit putih saja. Apalagi politik rasial warisan Inggris kemudian dikuatkan dalam sebuah undang-undang bernama Politik Apartheid. Dalam undang-undang itu penduduk Afrika Selatan terbagi ke dalam beberapa ras. Pertama ras kulit putih yang mendominasi, kedua ras orang kulit berwarna dan keturunan Asia. Lalu ketiga kelas terbawah ras kulit hitam.
Beberapa kebijakan politik Apartheid antara lain,
Pelarangan perkawinan antar ras.
Pemisahan tempat hunian antar ras.
Bangunan dan tempat umum khusus orang kulit putih dilarang dimasuki oleh orang kulit hitam seperti sekolah, bioskop, restoran, dll.
Politik Aparthied yang kejam, tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia terus bertahan hingga awal dekade 1990-an. Ketika semakin kuatnya perlawanan dari dalam dan luar negeri.
Perlawanan dan Kecaman Internasional
Perlawanan paling keras dan kuat berasal dari African National Congress (ANC) yang dipimpin oleh Nelson Mandela. Akibatnya ia kemudian dipenjara di tahun 1962 sampai tahun 1990 ketika pemerinhan Afrika Selatan di bawah Willem de Klerk mulai membuka diri.
Kecaman internasional pun terus berdatangan pada pemerintahan apartheid Afrika Selatan. Embargo politik, sosial dan ekonomi membuat Afrika Selatan dikucilkan dari pergaulan Internasional.
Pada mulanya, kedatangan bangsa Eropa di Indonesia cukup mendapat sambutan yang amat hangat. Karena tujuan mereka semula hanya untuk memperoleh rempah-rempah. Akan tetapi setelah diketahui bahwa mereka juga memiliki motif untuk melancarkan praktek imperialisme dan kolonialisme. Respon bangsa Indonesia kemudian berubah banyak dari kerajaan dan kesultanan di Indonesia saat itu melancarkan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme bangsa Eropa.
Kesultanan Aceh melawan Portugis
Pada tahun 1511, Portugis berhasil menaklukan kesultanan Malaka dan menguasai bandar dagang yang kaya itu. Akibatnya banyak dari para pedagang Muslim berpindah ke Kesultanan aceh. Aceh pun makmur dan menjadi bandar dagang dan kota pelabuhan paling sibuk di abad ke-16.
Lukisan Kampanye Armada Turki ustmani di Samudra Hindia (Aramco World).
Portugis kemudian mengincar Aceh sebagai sasaran penaklukan berikutnya. Tapi armada dan angkatan perang Aceh sulit untuk ditaklukan malahan beberapa kali Aceh melancarkan pengepungan terhadap kedudukan Portugis di Malaka di bawah Sultan Aceh yang amat terkenal, Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Walaupun pengepungan itu mengalami kegagalan. Tapi berkat bantuan senjata dan hubungannya dengan Kesultanan Turki Utsmani, Aceh terus bisa bertahan menghalau kapal-kapal Portugis yang sering melakukan pembajakan.
Aceh pun terus bertahan hingga kemudian takluk kepada Belanda di tahun 1904.
Serangan Demak terhadap Portugis di Malaka
Kedudukan Portugis di Malaka amat membahayakan bagi lalu lintas perdagangan di Samudera Hindia. Maka pada tahun 1512 setahun setelah penaklukan Portugis di Malaka. Armada Demak dengan kekuatan 100 kapal dan 12.000 prajurit di bawah pimpinan Adipati Unus menyerbu dan mengepung kedudukan Portugis Malaka. Ini juga merupakan salah satu respon awal terhadap imperialisme dan kolonialisme. Akan tetapi kekuatan Portugis cukup kuat untuk menghalau serangan itu.
Meriam Cetbang yang digunakan Kesultanan Demak selama pengepungan Portugis di Malaka. (Metmuseum)
Namun kembali di tahun 1521, untuk membantu sultan Malaka merebut kembali tahtanya. Demak di bawah Adipati Unus melancarkan lagi serangan kedua kepada orang Portugis. Tapi lagi-lagi serangan ini gagal bahkan Adipati Unus sendiri tewas dalam serangan ini. Oleh karenanya di kemudian mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang bertempur di tanah seberang.
Kesultanan Ternate Mengusir Portugis
Portugis berhasil mencapai Maluku sekitar tahun 1512 dan mereka tahu bahwa disinilah rempah-rempah berasal. Sultan Ternate amat menyambut hangat kedatangan Portugis. Apalagi mereka sedang bermusuhan dengan Kesultanan Tidore. Di tahun 1521 saingan utama Portugis, Spanyol tiba di Maluku dan mereka disambut hangat penguasa Tidore.
Portugis marah melihat kenyataan ini mereka beralasan Spanyol telah melanggar perjanjian Tordesillas. Akibatnya Spanyol kemudian menyingkir dari Maluku dan Portugis tetap bercokol disana.
Portugis yang tiba di Maluku dengan ambisi menguasai rempah-rempah dan misi penyebaran agama. Lama-lama membuat gerah Sultan Hairun penguasa Ternate, dia menganggap Portugis telah keterlaluan dalam memonopoli rempah-rempah dan penyebaran misi agama Kristen. Portugis dan Sultan pun mengadakan perundingan. Tapi ternyata ini hanyalah taktik Portugis, setelah Sultan bertemu orang Portugis. Mereka malah membunuhnya.
Sultan Baabullah anak sultan Hairun pun berang, dia kemudian memimpin rakyat Maluku untuk menyerang Portugis pada tahun 1570. Benteng Portugis pun berhasil dikepung dan pada tahun 1575 orang Portugis menyerah dan menyingkir dari Maluku. Sultan Baabullah pun berhasil mengusir Portugis.
Manusia Pra-Aksara Indonesia walaupun masih hidup dalam keadaan yang masih primitif, akan tetapi mereka telah mengembangkan kebudayaan walau dalam tingkat yang rendah. Beberapa aspek kebudayaan yang berkembang itu antara lain aspek kepercayaan, aspek sosial dan budaya, ekonomi, dan teknologi. Pada bagian ini, kita akan belajar mengenai perkembangan aspek sosial budaya dan kepercayaan.
Sosial dan Budaya
Kehidupan Sosial
Manusia yang hidup selama masa pra-aksara biasanya hidup berkelompok dengan setiap kelompoknya beranggotakan 10 -15 orang.Mereka tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika di satu daerah sumber pangannya telah habis mereka akan berpindah pada tempat lain yang masih menyediakan sumber pangan yang berlimpah.
Dalam kehidupannya yang masih primitif ini telah ada pembagian tgas kerja yang sederhana. Para Pria bertugas untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sementara para wanita biasanya menghabiskan waktunya dengan memelihara anak. Selain itu untuk setiap kelompok mereka biasanya memilih seseorang yang dituakan sebagai kepala kelompok
Kehidupan Budaya
Selain itu Goa-goa berfungsi sebagai tempat tinggal manusia di masa ini. Kemudian juga karena sebagian besar mereka bergantung pada berburu binatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka para manusia purba telah menciptakan beberapa alat-alat yang masih sangat sederhana. Alat-alat itu berfungsi sebagai alat berburu, alat pemotong, alat penggeruk tanah, dll.
Alat-alat yang digunakan oleh Manusia Praaksara. (KITLV)
Alat-alat itu sendiri terdiri dari:
Kapak Perimbas, Kapak ini tidak bertangkai dan digunakan dengan cara menggenggam
Penetak, lebih besar dari kapak perimbas kapak penetak memiliki fungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu, dll
Kapak Genggam, secara ukuran lebih kecil dari kapak perimbas dan penetak, belum diasah dan amat kasar.
Alat-alat dari Tulang, pisau, belati, mata tombak dan mata panah merupakan alat-alat yang berasal dari tulang binatang.
Kejatuhan rezim orde baru yang mengantarkan pada masa reformasi tahun 1998 tidak serta merta langsung membawa kondisi Indonesia menjadi lebih baik. Indonesia mengalami fase masa transisi yang cukup bergejolak terutama dalam lapangan kondisi sosial dan ekonomi. Dalam tulisan singkat kali kita akan mempelajari mengenai kondisi sosial dan ekonomi Indonesia masa reformasi.
Kondisi Sosial Masyarakat Indonesia
Sejak sebelum kejatuhan rezim orde baru, krisis moneter telah melanda Indonesia. Krisis itu juga yang menjadi salah satu sebab tumbangnya rezim orde baru. Secara otomatis pemerintahan B.J. Habibie yang membawa agenda reformasi harus mewarisi kerusakan sosial dan ekonomi yang cukup parah akibat krisis itu.
Banyak perusahaan gulung tikar dan kesulitan untuk menggaji pegawainya. Pada akhirnya Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK terjadi dimana-mana ditambah inflasi yang terus naik membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Hasilnya ialah pengangguran dimana-mana. Para pengangguran ini kemudian banyak menciptakan masalah sosial baru seperti tingginya tingkat kriminalitas dari perampokan, pencopetan hingga pencurian.
Kondisi Ekonomi Masyarakat Indonesia
Krisis ekonomi 1997 juga membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia goncang. Inflasi terus meningkat, nilai tukar rupiah terhadap dollar melorot dan kondisi politik Indonesia belum stabil setelah orde baru tumbang.Akibat investasi baik dalam maupun luar negeri mandeg bahkan para investor asing banyak yang lari ke luar negeri. Hasilnya mudah ditebak pengangguran meningkat dan pendapatan per kapita Indonesia memburuk.
Oleh karenanya pemerintahan di masa reformasi baik masa kepresiden B.J. Habibie, Abdurahman Wahid dan Megawati selalu memusatkan perhatiannya pada perbaikan ekonomi. Perbaikan-perbaikan ekonomi itu meliputi,
Membuka lapangan kerja.
Memperbaiki nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika.
Menarik kembali investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia
Penyediaan bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari seperti sembako (sembilan bahan pokok) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) agar harganya turun dan tidak langka di pasaran.
untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masa reformasi yang goncang warisan dari Presiden Soeharto ini tak mudah. Karena perlu melewati beberapa pergantian pemerintahan untuk mencapai kestabilan seperti sedia kala.
Latihan!
Bagaimana kondisi Sosial Masyarakat Indonesia di Masa Reformasi?
Bagaimana pengaruh krisis moneter 1997 terhadap kondisi ekonomi Indonesia masa reformasi?
Apa perbaikan-perbaikan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah masa reformasi?
Ratusan tahun perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan bangsa asing berakhir pada 17 Agustus 1945. Ketika Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu menandai awal mula kelahiran bangsa Indonesia sekaligus dimulainya sebuah perjuangan panjang untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Tapi perlu diketahui, peristiwa proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa peristiwa penting yang melatarbelakangi peristiwa itu.
Kekalahan Jepang
Sejak 1942, Jepang telah menggantikan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Indonesia. Tak jauh berbeda dengan Belanda penguasa Jepang saat itu terkenal amat bengis bahkan lebih kejam. Tapi saat itu Jepang sedang terlibat dalam perang Pasifik (Bagian Perang Dunia II) melawan pasukan sekutu (Amerika, Inggris, China, dan Belanda) dan semenjak 1943 mereka banyak mengalami kekalahan.
Penyerahan Jepang kepada Tentara Sekutu (Naval Historical Center Photo)
Pada tanggal 06 dan 09 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagashaki. Tepat pada waktu yang bersamaan, Uni Soviet menyatakan Perang terhadap Jepang dan menyerbu wilayah jajahan Jepang di Manchuria dan Semenanjung Korea.
Karena kondisi Jepang yang telah hancur akibat perang, Kaisar Jepang Hirohito pada 15 Agustus 1945 mengumumkan penyerahan diri kepada tentara sekutu. Perang Pasifik sebagai bagian Perang Dunia II di Asia pun berakhir. Semua jajahan Jepang akan diambil alih oleh tentara Sekutu.
Kekosongan Kekuasaan
Jepang telah kalah dalam perang dan sekutu sebagai pemenang perang belum mengambil alih kekuasaan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah jajahan Jepang mengalami kekosongan kekuasaan.
Kelompok pemuda yang bermarkas di Menteng 31 mendengar berita kekalahan Jepang ini melalui radio. Dengan tokoh-tokohnya seperti B.M. Diah, Sukarni, Sudiro, Chaerul Saleh, Wikana dan Supeno, mereka berkonsolidasi untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa bantuan Jepang.
Saat itu tanggal 15 Agustus 1945, Bung Karno bersama Bung Hatta baru saja tiba dari Dalat, Vietnam. Mereka baru saja bertemu penguasa Jepang Jenderal Terauchi, tanpa mengetahui sedikit pun berita kekalahan Jepang.
Para pemuda langsung menemui Bung Karno dan memintanya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa sangkut paut Jepang. Tapi Bung Karno menolaknya ia ingin bahwa Proklamasi kemerdekaan harus dikonsultasikan terlebih dahulu dalam sidang PPKI. Bung Hatta pun berpikiran sama dengan Bung Karno. Peristiwa ini membuat kecewa golongan pemuda.
Peristiwa Rengasdengklok
Para pemuda yang kekeh dengan pendiriannya akhirnya menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, sebuah kota kecil di Karawang pada 16 Agustus 1945. Hal ini sengaja dilakukan agar Bung Karno dan Bung Hatta tidk dipengaruhi Jepang.
Di Rengasdengklok Keduanya berada di rumah seorang keturunan Tionghoa bernama Jo Ki Song. Disana para pemuda menekan Bung Karno dan Bung Hatta untuk secepatnya memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang. Pada awalnya Bung Karno menolak dan hal ini memicu perdebatan panjang dengan para pemuda.
Tapi pada akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan bersedia menuruti permintaan para pemuda. Maka setelah seharian di Rengasdengklok keduannya kemudian kembali ke Jakarta pada malam hari. Disana terjadi perundingan diantara Ahmad Soebardjo mewakili golongan tua dan Wikana mewakili golongan muda. Hasilnya Proklamasi kemerdekaan akan dilangsungkan di Jakarta dan rumah Laksamana Maeda akan dijadikan sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.
Perumusan Naskah Proklamasi
Rumah Laksamana Maeda, seorang perwira angkatan laut Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia menjadi tempat perumusan naskah proklamasi. Soekarno, Hatta dan Ahmad Subardjo berperan penting dalam perumusan naskah itu.
Ketika ketiganya telah menyelesaikan naskah itu. Terjadi sedikit perdebatan tentang siapa saja yang harus menandatangani naskah itu. Apakah semua hadirin yang ada di tempat itu harus ikut menandatanganinya. Namun atas usul Soekarni cukup Bung Hatta dan Bung Karno saja yang menandatanganinya dengan mengatasnamakan bangsa Indonesia. Para hadirin pun setuju dan naskah hasil tulis tangan Bung karno kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik.
Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan
Pada awalnya proklamasi kemerdekaan akan dilakukan di Lapangan Ikada. Namun disana tentara Jepang berjaga begitu ketat dan sangat rawan untuk terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu tempat proklamasi dipindah ke kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.
Bung Karno Berdoa sebelum Memimpin Proklamasi (Frans Mendur)Bung Karno dengan Mikrofon Membacakan Teks Proklamasi didampingin oleh Bung Hatta. (Frans Mendur).
Sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan, S. Suhud menyiapkan tiang bendera sederhana yang terbuat dari Bambu. Mr. wilopo menyediakan pengeras suara. Sementara istri Bung Karno, Fatmawati Soekarno menjahit bendera merah putih yang akan dikibarkan.
Tepat pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dengan didampingi Muhammad Hatta membacakan teks proklamasi. Pembacaan teks proklamasi ini kemudian diikuti dengan pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Maka kemudian 17 Agustus dikenang sebagai hari proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menjadi momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Sudah lebih dari ribuan tahun, hubungan bangsa India dan Indonesia telah terjalin. Bahkan pengaruh budaya India telah meresap begitu mendalam pada diri bangsa Indonesia. Apalagi Agama Hindu-Buddha yang berasal dari India sempat menjadi agama utama di Indonesia. Jika ditelisik lebih dalam pengaruh-pengaruh itu tampak terlihat dalam beberapa hal seperti: agama, bahasa dan tulisan, sastra, arsitektur dan pemerintahan.
Agama
Kurang lebih untuk 1500 tahun (abad ke- 1 M -1500 M), Agama Hindu-Buddha sempat menjadi agama paling dominan di Indonesia. Keduanya bahkan menjadi agama resmi atau utama di kerajaan-kerajaan kuno Indonesia seperti Sriwijaya, Majapahit, Singasari, dll.
Seorang penganut agama Hindu dan dua orang anak kecil di sebuah Pura di Bali. (KITLV)
Namun dengan kedatangan agama Islam di abad ke-13, pengaruh kedua agama ini kian surut. Apalagi dengan kejatuhan kerajaan Hindu terakhir Majapahit di abad ke-16, pengaruh agama ini kian susut. Kini populasi penganut agama Hindu yang tersisa bisa kita jumpai di Bali juga pada suku Tengger di pegunungan Bromo. Ada juga populasi kecil penganut agama Hindu di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara Agama Buddha kebanyakan dianut oleh orang Tionghoa.
Bahasa dan Tulisan
Kitab suci agama Hindu sendiri banyak ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan Huruf Pallawa. Pengaruh keduanya amat kental terasa bahkan hingga saat ini.
Prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja masa Hindu-Buddha kerap menggunakan bahasa Sanskerta selain daripada penggunaan aksara Pallawa. Prasasti Ciaruteun merupakan satu contoh prasasti masa Hindu-Buddha yang menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.
Prasasti Ciarutuen ditulis dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sanskerta (KITLV)
Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Indonesia masih banyak menyerap perbedaharaan kata dari bahasa Sanskerta. Kata kata seperti angkara, gusti, cahaya, guru, dll masih sering kita dengar dituturkan oleh orang Indonesia.
Tak lupa juga, huruf tradisional suku-suku di Indonesia seperti Sunda, Jawa dan Bali kuno merupakan turunan langsung dari huruf Pallawa.
Sastra
Satu dari sekian banyak budaya India yang masih bertahan hingga kini ialah sastra. Sastra-sastra India masih sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kisah Ramayana dan Mahabarata adalah yang paling dikenal dan telah banyak disadur ke berbagai bahasa daerah.
Kisah Cerita Panji banyak diadaptasi dari India (KITLV)
Dalam pentas wayang merekabanyak ditampilkan. Selama masa kerajaan Kediri, kisah Ramayana dan Mahabarata diadaptasi dalam cerita lokal. Salah satunya ialah kitab Arjunawiwaha.
Arsitektur
Selama masa Hindu-Buddha, seni arsitektur Indonesia berkembang pesat. Seni arsitektur Indonesia asli seperti punden berundak-undak mempengaruhi gaya tempat-tempat suci dan ibadah agama Hindu-Buddha. Perpaduan diantara keduanya menghasilkan komplek-komplek peribadatan yang dinamakan Candi. Candi-candi ini banyak tersebar dan salah satu yang paling dikena ialah Candi Borobudur dan Prambanan.
Candi Borobudur salah satu warisan Peradaban Hindu Jawa yang dipengaruhi budaya India (Museum Tropen)
Pemerintahan
Sebelum masuknya pengaruh budaya India, orang Indonesia asli hanya mengenal kepala suku atau kepala adat sebagai struktur tertinggi dalam pemerintahan. Keduanya pun menduduki jabatan itu melalui pemilihan oleh masyarakat.
Namun dengan datangnya pengaruh India, jabatan kepala suku itu pun tidak lagi didsarkan pemilihan rakyat. Tapi jabatan kepala suku menjadi diwariskan secara turun temurun diantara kepala suku dan keluarganya. Kepala suku ini pun mendapat panggilan baru yaitu raja atau maharaja. Wilayah kekuasaannya dinamakan Kerajaan.
Latihan!
Pulau penganut agama Hindu terbesar di indonesia adalah pulau ….?
Salah satu contoh penyerapan kata bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Indonesia ialah …..?
Huruf Sunda Kuno dan Jawa Kuno dipengaruhi oleh Huruf…?
Salah satu pengaruh budaya India dalam bidang Sastra …..?
Sebutkan dua bangunan yang mendapat banyak pengaruh India dalam bidang arsitektur….?