/*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
.elementor-widget-image{text-align:center}.elementor-widget-image a{display:inline-block}.elementor-widget-image a img[src$=”.svg”]{width:48px}.elementor-widget-image img{vertical-align:middle;display:inline-block}

Abad ke-19 memiliki berbagai tokoh menarik dalam bidang sosial dan keagamaan, salah satunya adalah Albertus Christiaan Kruyt. Ia memainkan peranan penting dalam misi penyebaran Kristen di tanah Sulawesi.
Dalam upaya penyebarannya, Kruyt memiliki pendekatan unik dengan etnografi sebagai metode penyebaran. Ia mempelajari kebudayaan dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pekerjaan untuk menyebarkan agama kristiani di tanah Sulawesi. Dirinya dikenal dengan beberapa tulisannya.
Dengan karya tersebut, ia dikenal sebagai misionaris dan etnograf. Pada tulisan ini, pembahasan akan fokus kepada beberapa hal menarik dari tokoh yang cukup terkenal pada masanya ini.
/*! elementor – v3.7.2 – 21-08-2022 */
.elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px}
Jejak Sang Missionaris di Tanah Sulawesi
Memiliki pengaruh kuat terhadap penyebaran Kristen di tanah Sulawesi, dirinya dilahirkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya pada tahun 1869 di tanah Jawa, Kruyt kecil lahir dan tumbuh. Pada tahun 1877, ia dikirimkan ke Belanda untuk mendalami ilmu misionaris.
Setelah menempuh Pendidikan, Nederland Zendeling Genootschap atau Lembaga misionaris Belanda memberikan tugas kepada Kruyt untuk membuka pos pekabaran injil di Poso.[1] Dalam sebuah tulisan, dijelaskan bahwa tugas yang diemban misionaris muda Kruyt ke daerah Poso bukanlah tugas yang mudah, ia berusia sekitar 21 tahun ketika diberikan tugas untuk menyebarkan dan mengenalkan agama Kristiani di tanah Sulawesi tersebut. Dalam ungkapan nya;
“De beslissing, die de bestuurders van het Nederlandsche Zen delinggenootschap in 1890 namen, lijkt hoogst onverantwoord en gevaarlijk: als eerste zendeling voor een nieuw arbeids veld kozen ze een jongeman van nauwelijks twintig jaar. Zeker, de jonge Albert Kruyt was een loot van het geslacht Kruyt, dat reeds verschillende zendelingen en zendelingsvrou wen had geleverd en toen al een gunstige klank had. Maar hijzelf was toch gespeend van alle ervaring; en dan déze jongeman te belasten met een taak, die zelfs een ervaren zendingsarbeider niet gemakkelijk zou hebben geschenen — dit lijkt een zeer roekeloos waagstuk.”[2]
Dalam ungkapan tersebut, dijelaskan bahwa tugas untuk menyebarkan agama Kristen di daerah tersebut adalah sesuatu yang sulit meskipun dikerjakan oleh misionaris berpengalaman sekalipun. Sehingga pada awal masa kerja, performa Kruyt dinilai buruk hingga memasuki abad ke-20. Di tahun 1909, pembaptisan pertama terjadi diikuti oleh banyak pembaptisan serupa di tahun-tahun setelahnya hingga dirinya meninggalkan Hindia Belanda dan Kembali ke tanah Belanda.
Catatan Etnografi
Foto yang berisi Kruyt beserta istri dan anak-anaknya serta seorang cucu dari Kruyt di atas diambil sebelum kepergiannya ke tanah Belanda sekitar tahun 1930. Foto memperlihatkan Kruyt yang duduk di sebelah kanan dengan kacamata dan janggut khasnya, ditemani sang istri yang duduk di sampingnya. Lalu, kita juga melihat anak lelaki Kruyt Bernama Ds J. Kruyt dan istrinya J. Kruyt-Ostorlee. Setelah selesai merampungkan pekerjaannya sebagai seorang misionaris di Sulawesi, Kruyt pergi dari tanah Hindia Belanda di tahun 1932 hingga wafat 17 tahun setelahnya.
Selain dikenal sebagai seorang misionaris, Kruyt juga terkenal dengan karya etnografinya. Dua karya terkenal yang telah disebutkan di awal memainkan peranan penting sebagai sumber yang mengungkap kepercayaan serta adat istiadat dari masyarakat Sulawesi di awal abad ke-20. Karya pertama berjudul Het Animisme in Den Indische Archipel yang terbit di tahun 1908. Karya ini membahas konsep animisme dalam pemahaman Kruyt yang mungkin menjadi representasi dari keyakinan orang-orang Sulawesi pada awal abad ke-19.[3]
Sedangkan karya kedua yang juga memiliki pengaruh penting berjudul De Bare’s Sprekende Toradja’s van Midden Celebes yang terbit pada tahun 1912. Tulisan ini membahas secara rinci mengenai kehidupan suku Toraja dan juga dialek yang mereka gunakan. Ditulis Bersama Nicolaus Adriani, seorang ahli Bahasa, tulisan mereka menjadi sumber informasi penting tentang suku Toraja.
Dengan dua peran baik sebagai misionaris ataupun etnograf yang meneliti dan terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat Sulawesi, Kruyt merupakan tokoh yang cenderung penting dalam penyebaran agama Kristen di daerah tersebut dan juga mengungkap informasi terkait kehidupan hingga kebudayaan masyarakat setempat.
Reference
[1] Ido Hendricus (1978), Biografisch Lexicon voor de geschiedenis van het Nederlands Protestantisme, Amsterdam, hal 113.
[1] M.C Capelle (1951), Dr Alb. C. Kruyt Pioner van Poso, Den Haag, hal 3.
[1] Albert Christiaan Kruyt (1970), Het Animisme in den Indischen Archipel, University of Toronto, hal 16.
Profil Penulis

Rendy Kurniawan
Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube
Leave a Reply