“Meskipun lebih dikenal sebagai jalur super sibuk saat lebarang. Nyatanya sejarah Nagreg merentang jauh hingga ke masa awal Hindu-Buddha di abad ke 6 dan 7.”
Pada Kamis (6/7/2023), sebuah truk bermuatan pakan ayam mengalami nasib yang tidak mengenakkan di Jalur Cagak Nagreg, Kabupaten Bandung.
Dalam kejadian yang mengejutkan ini, truk tersebut menabrak tiang listrik dan sebuah warung, hingga akhirnya terguling di tengah jalan.
Dampaknya begitu dahsyat sehingga jalan Nagreg pun sementara waktu ditutup.
Tapi tulisan ini tidak akan berpusat pada kejadian itu.
Anggap saja kejadian itu sebagai pembuka cerita inti kita sekaligus jadi ajang pembelajaran bagi kita semua untuk tetap berhati hati dalam mengemudi.
Mari kita menapaki sekilas sejarah jalan Nagreg yang lumayan legendaris ini.
Dibangun Masa Daendels
Ruas jalan atau simpang jalan Nagreg pertama kali dibangun pada tahun 1808 oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan infrastruktur yang memadai guna mendukung distribusi, informasi, mobilitas militer, pos, barang, jasa, dan pertahanan antar kota-kota di Priangan Timur.
Sejak awal, Jalur Nagreg memiliki daya tarik yang tak terbantahkan.
Simpangan lajur ikonik dengan pohon-pohon besar di tengahnya menjadi ciri khas jalan ini.
Jalur tersebut terbagi menjadi dua arah, dengan jalur kanan menuju Garut kota dan jalur kiri menuju Limbangan Garut yang kemudian berlanjut ke Tasikmalaya dan sekitarnya.
Keberadaan Jalur Nagreg telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan kawasan Priangan.
Selain itu pemandangan sekitarnya yang asri berupa perbukitan dan hutan yang menghiasi sekitarnya menjadikan banyak orang Belanda terpesona dengan kawasan ini.
Terlebih lagi, jalur ini juga dikelilingi oleh perkebunan teh yang menambah keindahan alamnya.



Ada Kerajaan Kuno

Apabila ditelusuri riwayat sejarahnya, keberadaan Nagreg telah membentang cukup lama hingga ke masa awal Hindu-Buddha.
Pernah ada sebuah kerajaan yang berdiri tegak di kawasan ini dari abad ke-6 hingga abad ke-7 Masehi.
Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Kendan, dengan pusat kekuasaannya yang terletak di wilayah administratif Desa Nagreg Kendan dan Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
Sang penguasa pertama Kerajaan Kendan adalah Maha Guru Manikmaya, seorang sosok yang memancarkan aura kebijaksanaan.
Ia berasal dari Calankayana, sebuah kawasan di India Selatan.
Sebelum menemukan takhtanya di Kendan, ia menjelajahi berbagai negara, memperkaya pengetahuan dan pengalaman hidupnya.
Jejaknya membawanya mengunjungi tanah-tanah yang jauh, seperti Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Bali, Syangka, Cina, dan tempat-tempat lain yang misterius.
Takdir membawa Manikmaya untuk menemukan cinta sejatinya, Tirtakancana, putri dari Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535–561 M).
Pernikahan mereka menjadi ikatan yang tak terpisahkan antara Kendan dan Tarumanagara, membawa kekayaan dan kehormatan kepada kedua kerajaan tersebut.
Sebagai hadiah pernikahan, Manikmaya diberikan daerah Kendan yang kini menjadi Nagreg, Bandung, lengkap dengan rakyat setianya dan pasukan perkasa yang siap menjaga kerajaan.
Kerajaan Kendan adalah sebuah jalinan sejarah yang mempesona, di mana kebijaksanaan sang Maha Guru Manikmaya dan keelokan Tirtakancana menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Nagreg, dengan keindahan alamnya dan pesona budayanya, menjadi saksi bisu dari kemegahan kerajaan tersebut.
Meskipun hanya meninggalkan jejak yang terpendam dalam sejarah, Kerajaan Kendan tetap menjadi bagian yang mengagumkan dari warisan budaya Tatar Sunda.
Profil Penulis
Danil Kasputra
Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube
Leave a Reply