“Para pemilik kuda ras Arab murni akan memperoleh harta hasil rampasan perang tiga kali lipat dari prajurit infanteri biasa, sementara para pemilik kuda campuran hanya menerima dua kali bagian saja.”
Dalam waktu kurang lebih 30 tahun setelah kematian Nabi, para penggantinya yang kita kenal sebagai para khalifah menciptakan suatu imperium besar Islam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Imperium Islam itu merentang jauh dari batas-batas territorial terjauhnya saat sang Nabi masih hidup.
Dari ujung barat wilayah Magrib (Maroko, Al-Jazair, dan Tunisi kini) di Afrika Utara hingga di ujung timur wilayah bekas Kekaisaran Persia, disanalah wilayah Islam terbentang.
Para ahli sejarah percaya bahwa ratusan tahun peperangan yang melelahkan antara Romawi Timur dan Kekaisaran Persia, serta kedisiplinan pasukan Kekhalifahan Rashidin adalah faktor penyebab begitu cepatnya Islam meluaskan wilayahnya.
Namun ada sebagian ahli lagi yang percaya bahwa kuda-kuda Arab turut berkontribusi besar dalam ekspansi Islam di masa awal.
Sejarawan David James adalah salah satu orang yang percaya akan hal itu. Dalam The Arabia Horse: At War mengatakan bahwa kuda-kuda Arab dan kuda Barbar memiliki peranan penting dalam meluasnya Islam di seluruh Timur Tengah hingga sejauh Afrika Utara.
Pembiakan Kuda yang ketat
Kehebatan kuda-kuda Arab ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas pembiakan kuda yang dilakukan orang-orang Arab di masa itu.
Dari Kitab Sirah Nabawiyahnya Ibnu Hisyam menginformasikan kepada kita bagaimana Nabi memerintahkan adanya pemisahan antara ras kuda Arab murni dan ras kuda kelas hibrida.
BACA INI JUGA!
- Bagaimana Rupa Peralatan Militer Tentara Kekhalifahan Rasyidin?
- Teori Gujarat: Menelusuri Proses Islamisasi di Indonesia
- Jejak Perpustakaan di Dunia Islam
Perintah ini dilakukan persis setelah Nabi dan para sahabatnya memperoleh kuda-kuda hasil rampasan perang selepas menyerahnya orang Yahudi di Benteng Khaibar.
Ini dilakukan untuk menjaga kemurnian ras kuda-kuda Arab itu.
Oleh karena itu tidak cukup mengherankan betapa orang-orang Arab selain sangat fasih dalam mengingat runtutan silsilah leluhur mereka.
Mereka juga sangat hafal silsilah kuda-kuda mereka.
Dan memang benar saja pemisahan ras kuda yang sedemikian ketat itu sukses menghasilkan kuda-kuda yang memiliki kecepatan dan stamina yang tinggi (Rosemary, 1992 in Arabian Horse).


Dikuatkan oleh Para Pengganti Nabi
Setelah Nabi wafat pada tahun 632 M, para penerusnya tetap mempertahankan dan menguatkan aturan ini.
Di masa kepemimpinan Umar, dia bahkan memerintahkan Salman Ibnu Rabi’ah untuk merancang suatu kebijakan yang wajib diikuti oleh para pejabat di wilayahnya.
Salah satu fokus kebijakan tersebut adalah pemeliharaan kualitas kuda.
Isi kebijakan tersebut mencakup hal-hal seperti perhatian yang cermat terhadap perbedaan antara ras murni Arab dan ras hibrida.
Dalam pelaksanaan kebijakan, dilakukan pelatihan respon kolektif kuda secara rutin, termasuk pelatihan respons individu pada tingkat mahir.
Aspek lain yang ditekankan adalah pelatihan ketahanan dan temperamen agar kuda dapat tampil optimal di tempat-tempat yang ramai dan bising, serta situasi perang (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam).
Pada akhir program, baik penunggang maupun kuda diwajibkan untuk mengikuti kompetisi formal yang disponsori oleh Diwan al-Jund.
Kompetisi tersebut terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu balap untuk mengukur kecepatan dan stamina setiap kuda hibrida, serta kompetisi akrobat untuk mengukur kemampuan kuda dalam melakukan manuver sulit selama perang.
Semua upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas kuda tetap terjaga dan dapat memberikan kontribusi optimal dalam konteks militer pada masa itu (Al-Mubarak, 1997).
Perlu diingat juga menurut Schiettecatte dan Abbes Zouache dalam The Horse in Arabia dan the Arabian Horse: Origins, Myths and Realities mengatakan bahwa kualitas kuda juga akan mempengaruhi hasil rampasan yang akan didapat sang pemilik kuda.
Para pemilik kuda ras Arab murni akan memperoleh harta hasil rampasan perang tiga kali lipat dari prajurit infanteri biasa, sementara para pemilik kuda campuran hanya menerima dua kali bagian saja.
Profil Penulis
Danil Kasputra
Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

Leave a Reply