Rendy Kurniawan
Posisi sejarah dalam perspektif penulisannya banyak mengalami dinamika ketika Romawi berjaya. Kisah sejarah dalam perspektif Romawi mengalir mulai dari perselisihan antara Romulus dan Remus hingga kisah jatuhnya kaisar Augustus. Banyak yang beranggapan bahwa kisah-kisah sejarah tersebut hanyalah sebuah adaptasi dari Kebudayaan Yunani karena mungkin kultur tersebut tersebar bersamaan dengan munculnya Romawi di dalam arus Sejarah. Akan tetapi, anggapan ini nampaknya kurang akurat karena sebenarnya Romawi, secara independen, telah mengembangkan penulisan sejarah bagi mereka sendiri tanpa bergantung penuh pada Yunani baik dalam segi konten maupun model.
Model Penulisan Sejarah Romawi
Berbeda dengan penulisan sejarah Yunani yang mulai berkembang lewat penggunaan tradisi lisan dan membentuk sebuah narasi, karya-karya sejarah monumental dari Romawi berkembang dari model kronik. Artinya, para penulis sejarah dari Romawi menuliskan rujukannya dengan menyusun kumpulan peristiwa secara teratur dari tanggal ke tanggal, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Catatan terawal dari model ini adalah karya dari Quintus Fabius Pictor yang kemungkinan lahir pada tahun 270 sebelum Masehi (Cornell, 2013). Ia menulis sebuah kronik yang disusun berdasarkan dimensi waktu dari kisah sang kaisar pertama Romulus hingga Perang Hannibal. Dengan karya sejarah Pictor, Romawi telah membuktikan bahwa penulisan sejarahnya setidaknya tidak bergantung kepada budaya Yunani, meski tidak sepenuhnya.
- Dari Cerita-Cerita Tertua : Sebuah Pengantar Sejarah dari Yunani Klasik
- Mabadi Ilmu Tarikh: Seluk Beluk mengenai Ilmu Sejarah
Selain itu secara konten, tulisan sejarah masa Romawi mengembangkan beberapa aspek yang tidak ada di dalam budaya tulis sejarah Yunani. Penulis-penulis Romawi secara kreatif mengembangkan konten-konten baru seperti penulisan genealogi, deskrpsi geografis dan mitos-mitos. Hal ini tentu berbeda dengan Yunani yang merangkai cerita perang secara rinci dan menyeluruh. Misalnya, salah satu sejarawan bernama Marcus Porcius Cato menulis Sejarah Perilaku orang-orang Romawi di tahun 170 sebelum Masehi.(Marincola, 2007).
Pengaruh Yunani
Bagaimanapun hebatnya penulis Romawi lewat kroniknya, mereka tidak sepenuhnya mengembangkan sejarah secara sempurna. Tulisan sejarah Romawi tentu memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pengaruh Yunani yang melekat kuat dalam penulisan sejarah mereka dalam aspek tertentu. Hal ini terbukti lewat kesamaan tujuan dari penulisan sejarah antara Romawi dan Yunani. Pada masa Romawi, tujuan penulisan sejarah tidak dapat dipisahkan dengan alasan politik, sesuatu yang tidak berbeda dengan para sejarawan Yunani.
Di dalamnya Bahkan, metode yang digunakan dalam menghimpun fakta sejarah di masa Romawi hampir menyerupai apa yang dilakukan oleh Thucydides dari Yunani. Dengan kata lain, pengalaman dari penulis tersebut yang menjadi rujukan dari karya yang dituliskan. Salah satu contohnya adalah salah seorang sejarawan bernama Sallustius Crispus menuliskan dua buah karya sejarah tentang perang berjudul Perang Catiline dan Perang Jugurtha.(Yarrow, 2006) Dengan persamaan tujuan penulisan sejarah ini, maka posisi tulisan sejarah di Romawi kemungkinan besar bukanlah karangan ilmiah, melainkan alat legitimasi politik sebagaimana Yunani.

Sejarah yang Bertumpu pada Politik dan Militer
Meskipun bertujuan untuk politik semata, tidak semata-mata orang dapat menulis sejarah secara sembarangan di Romawi. Pada masa tersebut, sejarawan dituntut untuk memiliki pengalaman politik dan militer. Hal ini karena dua pengalaman tersebut sangat penting dalam membentuk sebuah narasi sejarah pada masa tersebut. Contoh sejarawan dengan kedua pengalaman politik dan militer adalah Polybius. Ia berhasil menjawab respon masyarakat Roma dengan menuliskan karya berdasarkan pengalaman objektifnya.(Breisach, 1994) Ia disebut sebagai ‘Thucydides dari Romawi’ karena keahliannya memadukan pengalaman politik serta militernya dalam menuliskan sejarah. Salah satu karya monumentalnya adalah The Histories yang menjelaskan kondisi kerajaan Roma di masa ia hidup.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penulisan sejarah pada masa Romawi memiliki dinamika yang cukup unik. Di satu sisi mereka mengembangkan sejarahnya secara kreatif lewat kronik hingga menjadi narasi dan tidak bergantung pada Yunani. Tetapi di sisi lain, tujuan penulisan sejarah pada masa ini adalah demi alasan politik seperti perang, sama sekali tidak berbeda dengan budaya Yunani sebelumnya.

Leave a Reply