“Dipersatukan dari klan-klan Arab yang awalnya saling berperang satu sama lain, Tentara Kekhalifahan Rasyidin menjelman menjadi salah satu pasukan militer paling efektif dan berdisiplin dalam sejarah.”
Sejarah ekspansi masa awal Kekhalifahan Islam di abad ke-7 tidak bisa dilepaskan dari peran Angkatan bersenjata Kekhalifahan Rasyidin.
Pasukan yang terbentuk dari berbagai macam klan dan suku-suku Arab yang dulunya saling berperang dan bertikai satu sama lain sebelum kedatangan Islam menjadi salah satu pasukan paling berdisiplin, memiliki kecakapan strategis, dan tingkat organisasi tinggi (Glubb: 1959).
Tiga jenderal paling suksesnya adalah Khalid ibn al-Walid, yang menaklukkan Mesopotamia Persia dan Provinsi Suriah Romawi, Saad bin Abi Waqqas yang membenamkan Dinasti Sasanid, Kekaisaran Persia Pra-Islam terakhir, dan Amr ibn al-As, yang mengambil alih Mesir dan Alexandria dari tangan Kekaisaran Romawi Timur.
Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana peralatan militer pasukan Kekhalifan Rasyidin berdasarkan sumber-sumber yang ada.
Menjadi Tentara Kekhalifahan
Menjadi seorang Muslim adalah syarat utama untuk masuk kesatuan tentara Kekhalifahan Rasyidin (Al-Mubarak 1997).
Bahkan di masa dua khalifah awal Abu Bakar dan Umar, orang-orang bekas pemberontak sama sekali tidak diperkenankan untuk menjadi tentara.
Meskipun mereka telah menyatakan kesetiaan kembali dan bertaubat. Namun ekspansi Islam di Timur yang semakin meluas di masa Umar memberikan kesempatan bagi para bekas pemberontak ini untuk menjadi bagian tentara Kekhalifahan.
Tulaihah al-Asadi adalah contoh nyata untuk kasus ini. Mengaku sebagai seorang Nabi yang mendapat wahyu dari Malaikat Jibril setelah kematian Nabi Muhammad, Tulaihah al-Asadi mendapat pengampunan dari Abu Bakar setelah pasukan pengikut setianya dihancurkan oleh Tentara Kekhalifahan Rasyidin.
Di masa Umar dia turut bergabung dalam barisan pasukan Saad bin Abi Waqqas yang menginvasi Persia dan memainkan peranan pentingnya disana (Brill: 1993).
Tulaihah kemudian tewas selama pertempuran Nahawand.
Perubahan kebijakan ini membuka pintu bagi inklusivitas, mencerminkan perubahan dinamis dalam strategi perekrutan tentara Rasyidin.
Dengan ini, Kekhalifahan mengakomodasi berbagai elemen masyarakat, memberikan nuansa kisah heroik yang semakin kaya dengan warna keberagaman.
Kesatuan Infanteri

Dalam aksi penuh semangat, mereka melancarkan serangan dan mundur berulang kali, suatu taktik yang dikenal sebagai karr wa farr.
Senjata andalan mereka adalah tombak dan pedang, ditemani dengan hujan panah untuk melemahkan musuh dan menguras tenaganya.
Meski begitu, fokus utama selalu ditempatkan pada serangan balik, dengan dukungan kuat dari pasukan kavaleri yang menguasai seni gerakan mengapit dan mengepung.
Pasukan infanteri adalah tulang punggung utama Tentara Kekhalifahan Rasyidin (Archer, 2002)
Ketika waktunya untuk bertahan tiba, para pemanah Muslim membentuk barisan rapat dengan tombak setinggi dua setengah meter, menciptakan tembok pelindung yang disebut sebagai Tabi’a.
Dalam formasi jarak dekat ini, mereka bertahan dengan gagah berani, membuktikan ketangguhan mereka selama empat hari pertama dalam Pertempuran Yarmouk.
Cukup sulit untuk memberikan gambaran sempurna tentang peralatan militer Tentara Kekhalifahan Rasyidin. Gambaran visual tentangnya nyaris tidak ada.
Namun David Nicolle, seorang Sejarawan dari Britania menyakini bahwa para tentara Rasyidin setidaknya baju besi berbentuk sisik kulit yang diperkeras, atau zirah pipih yang diproduksi di daerah-daerah seperti Yaman, Irak, dan sepanjang pantai Teluk Persia. Baju besi berbentuk surat-surat menjadi pilihan yang diunggulkan, dan seiring berjalannya waktu, semakin umum digunakan selama penaklukan terhadap kerajaan tetangga, seringkali diambil sebagai barang jarahan perang.
Mereka dikenal dengan sebutan Dir, dengan ciri khas bagian dada yang terbuka sedikit. Untuk mencegah karat, baju besi ini diasapi dan disimpan dalam campuran debu dan minyak (Nicolle, 1994) Namun bukti-bukti arkeologi belum bisa menguatkan keyakinan Nicolle.
Tapi yang pasti pedang adalah jadi komponen utama peralatan militer muslim awal. Dalam catatan sejarah Arab awal, disebutkan dua varian utama dari pedang ini: Saif Anith yang Terbuat dari besi dan Saif Fulath atau Muzakka yang terbuat dari bahan baja (Zaky, 1961).
Orang-orang Arab sendiri sudah mampu memproduksi pedang-pedang ini secara mandiri. Selain itu orang-orang Arab juga telah menggunakan pedang jenis Shamshir yang berasal dari Asia Tengah.
David Nicolle menyakini orang-orang Arab tidak secara langsung mendapatkan pedang ini dari Asia Tengah. Namun mereka memperolehnya melalui perjumpaan dan kontak dengan orang-orang Byzantium (Nicole, 1982)
Tombak panjang yang menjadi senjata pilihan bagi infanteri diproduksi secara lokal dengan mengandalkan alang-alang yang tumbuh di pantai Teluk Persia, menyerupai keberadaan bambu (Walker, 1917).
Para pandai besi Arab mempraktikkan keahlian mereka dalam menciptakan tombak infanteri yang dikenal sebagai al-Ramh. Dua varian tombak ini menjadi populer di antara pasukan Rashidun.
Tombak dengan Ujung Tanduk Binatang yang mana para pandai besi Arab memanfaatkan tanduk binatang yang diasah dengan cermat sebagai ujung bilahnya. Lalu yang kedua ialah tombak dengan Bilah dari Besi Biasa. Bilah tombak ini diasah dan dipalu dengan teliti, menciptakan senjata yang tangguh (Al-Jawhari, 1987).
Kesatuan Kavaleri
Pasukan kavaleri Kekhalifan Rasyidin memperoleh penghormatan yang cukup signifikan di mata para penguasa.
Sejarawan Muslim awal mencatat bahwa inti mobile guard awalnya terbentuk dari veteran korps kavaleri di bawah pimpinan Khalid bin Walid selama penaklukan Irak.
Mereka terdiri dari setengah pasukan yang dibawa oleh Khalid dari Irak ke Suriah, mencapai jumlah 4.000 tentara dari total 8.000 tentara (Akram, 2006) Divisi kavaleri kejutan ini memainkan peran penting dalam sejumlah kemenangan melawan Bizantium dan Sassanid.
Jangan dilupakan pula ketangguhan pasukan kavaleri muslim awal ini juga terjadi berkat ras kuda mereka yang legendaris.
Ras kuda Arab yang sering ditunggangi oleh para prajurit kekhalifahan memiliki kecepatan, daya tahan, dan naluri hewan yang luar biasa bahkan untuk standar era modern pun.
Oleh karena itu tidak mengherankan dalam waktu tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi kita bisa menyaksikan bagaimana kuda-kuda Arab ini telah membawa tuan-tuan mereka sejauh Samudra Atlantik di Barat dan wilayah Hind di Timur.
Profil Penulis
Danil Kasputra
Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

Leave a Reply