“Masa Keemasan Islam di Al-Andalusia (Spanyol) juga sering dianggap sebagai Zaman Kejayaan Budaya Yahudi.”
Hari ini, seringkali kita menyaksikan adanya stereotip negatif terhadap orang Yahudi di dunia Islam.
Hal ini sebagian besar bersumber pada gerakan Zionisme di kalangan komunitas Yahudi yang dengan bantuan negara-negara Barat sukses melahirkan negara Israel di tahun 1948 walaupun dengan jalan mengorbankan orang-orang Arab Palestina yang mayoritas di antaranya beragama Islam.
Meskipun situasinya kompleks, perlu diingat bahwa hubungan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa Muslim sepanjang sejarah memiliki dimensi yang lebih dekat dan terikat daripada hubungan dengan agama lain, seperti Kekristenan.
Dalam periode Sejarah Islam masa klasik misalnya, terdapat suatu zaman yang dikenal sebagai masa kejayaan Islam di Spanyol, yang berlangsung sekitar abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi.
Fenomena menarik yang terjadi adalah bahwa dalam catatan sejarah Yahudi, periode ini juga dikenal sebagai zaman kejayaan budaya Yahudi.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai rentang waktu yang tepat, mulai dari tahun 711-718 ketika Muslim menguasai Iberia, hingga 1031 ketika Kekhalifahan Córdoba bubar, serta periode-periode lainnya seperti 1066, 1090, atau pertengahan abad ke-12, tapi yang pasti masa kejayaan peradaban Islam di Spanyol juga diakui sebagai periode keemasan budaya Yahudi.
Di dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana bisa Zaman Keemasan Budaya Islam di Spanyol dianggap juga sebagai Masa Kejayaan Budaya Yahudi?
Permulaan Zaman Kejayaan Budaya Yahudi
Setelah keberhasilan mereka menduduki sebagian besar wilayah Semenanjung Iberia di tahun 711 M para penguasa Muslim menjumpai masyarakat yang begitu beragam.
Ada para penduduk asli yang memeluk Kekristenan.
Ada pula komunitas orang Yahudi yang telah menetap di wilayah ini kurang lebih dua abad sebelum kedatangan muslim.
Melihat ini sebagaimana di tempat lain para penguasa muslim lantas memperlakukan kedua pemeluk agama itu sebagai orang-orang Ahli Kitab atau Dzimmi.
María Rosa Menocal dalam The Ornament of The World menyatakan bahwa kaum Dzimmi Yahudi yang hidup di bawah penguasa Muslim diberi hak yang lebih sedikit dibandingkan dengan kaum Muslim, namun kondisi mereka masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kaum Kristen di wilayah Eropa.
Kebijakan para penguasa Muslim yang tidak ikut mencampuri urusan kedua agama itu serta semangat toleransi mereka yang cukup tinggi memicu beberapa penganut Kristen yang sering terpinggirkan karena dianggap sesat oleh Paus di Roma serta orang-orang Yahudi dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa untuk bermigrasi ke Andalusia dan menikmati hidup di bawah penguasa Muslim.
Puncaknya saat masa Pemerintahan Abdul Rahman III dan anaknya Al-Hakam II di abad ke-10.
Rebecca Weiner dalam Judaism: Sephardim mengatakan berkat toleransi para penguasa Muslim orang-orang Yahudi jadi makmur secara ekonomi, maju secara intelektual dengan banyaknya dari mereka yang menguasai filsafat, matematika, astronomi, dan syair serta kuat dalam bidang politik berkat banyaknya orang-orang Yahudi yang menduduki kursi penting di Kekhalifahan.
Pada masa pemerintahan Abdul Rahman III adalah puncak integrasi signifikan komunitas Yahudi di Kekhalifahan Al-Andalus. Abdul Rahman III, selain sebagai pemimpin politik, juga menunjukkan kebijakan inklusifnya melalui penunjukan Hasdai ibn Shaprut sebagai dokter istana dan salah satu menteri kepercayaannya.
Para penyair terkenal Yahudi seperti Menahem Ben Saruq dan Dunash ben Labrat pun sering diundang ke istananya, mencerminkan keberagaman budaya dan kerjasama di antara kelompok agama.
Dalam masa kekuasaannya juga, Kordoba, ibukota Kekhalifahan Al-Andalus, menjadi pusat studi Talmud dan menjadi tempat pertemuan bagi para intelektual Yahudi.
Tindakan ini mencerminkan toleransi dan penghargaan terhadap warisan intelektual dan kebudayaan Yahudi. Mark Cohen dalam bukunya, Under Crescent and Cross: The Jews in the Middle Ages melakukan perbandingan antara perlakuan terhadap orang Yahudi di dunia Islam abad pertengahan dan di Eropa Kristen abad pertengahan.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang Yahudi di dunia Islam abad pertengahan lebih terintegrasi dalam kehidupan politik dan ekonomi masyarakat, menunjukkan adanya kebijakan inklusif dan pengakuan terhadap peran konstruktif komunitas Yahudi dalam pembangunan kebudayaan dan keilmuan.



BACA INI JUGA!
- Kuda Arab: Di Balik Cepatnya Perluasan Islam di Fase Awal
- Jejak Perpustakaan di Dunia Islam
- Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh: Buku Pengantar Ilmu Sejarah Pertama di Dunia Islam
Masa Akhir
Setelah wafatnya Abdul Rahman III, kebijakan inklusif terhadap komunitas Yahudi tetap dipelihara di bawah pemerintahan anaknya, Al-Hakam II.
Dampak positif dari kebijakan ini terlihat melalui munculnya sejumlah intelektual Yahudi terkemuka pada generasi berikutnya, seperti Samuel Ha-Nagid, Moses ibn Ezra, Solomon ibn Gabirol, dan Judah Halevi.
Namun, setelah wafatnya Al-Hakam II, Kekhalifahan Al-Andalus mulai mengalami ketidakstabilan politik yang berujung pada keruntuhan pada tahun 1031.
Banyak sejarawan melihat periode ini sebagai akhir dari apa yang disebut sebagai zaman kejayaan Yahudi di Al-Andalus.
Meskipun komunitas Muslim masih dapat mempertahankan kehadirannya selama empat abad berikutnya, ketidakstabilan politik memicu migrasi besar-besaran orang Yahudi ke wilayah-wilayah Muslim yang lebih stabil secara politik.
Meskipun berakhirnya kekhalifahan dianggap sebagai titik akhir masa kejayaan Yahudi di Al-Andalus, pengaruh budaya dan intelektual mereka tetap membentuk dan memberi kontribusi pada perkembangan selanjutnya dalam sejarah wilayah tersebut.
Profil Penulis
Danil Kasputra
Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube
Leave a Reply