Danil Kasputra
Muhammad:The Messenger of God, sebuah film yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga pertemuannya dengan pendeta Buhaira di usia 13 tahun. Majid Majidi berperan penting menyutradarai film ini. Majid Majidi tak sendiri, ia juga dibantu bintang-bintang film Iran yang beradu acting memerankan tokoh tokoh di seputar kehidupan Nabi. Mehdi Pakdel memerankan paman Nabi Abu Talib. Lalu Ali Reza Shoja Nouri berperan sebagai Abdul Muttalib kakek Nabi juga Sareh Bayat sebagai Halimah pengasuh Nabi.
Sinopsis
Pada bagian permulaan, alur film Muhammad: The Messenger of God maju terlebih dahulu mengisahkan para tetua kaum Quraisy bermusyarah menentukan langkah untuk menghentikan dakwah Nabi. Abu Sufyan sebagai salah satu tetua utama kaum Quraisy bertemu dengan Abu Talib (Paman Nabi). Dia mengancam Abu Talib bahwa kaum Quraisy tak segan untuk memboikot Bani Hasyim apabila tetap melindungi dakwah Nabi.
Alur film kemudian mundur membawa anda pada masa awal kelahiran Nabi. Penduduk Mekkah sedang gempar. Raja Habasyah, Abrahah menyerang Mekkah. Dia berniat menghancurkan Kabah. Abdul Muttalib, tetua utama Mekkah pasrah dan menyerahkan Kabah kepada Tuhan pemiliknya. Pasukan Abrahah menyerbu Mekah tapi gajah-gajah pasukannya enggan bergerak. Lalu tak lama kemudian burung-burung ababil datang dan membawa batu batu panas menghujani pasukan Abrahah hingga seluruhnya tewas bertumbangan.
Adegan film lalu mengisahkan kelahiran sang Nabi yang ditandai munculnya bintang terang. Orang-orang Yahudi dan Kristen di Syria melihat hal ini sebagai pertanda muncul Nabi Terakhir. Lalu film berlanjut pada kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Aminah binti Wahab, sang ibu yang kebingungan tidak adanya ASI, sebab Abu Lahab paman nabi sendiri enggan menetekkan ASI budaknya pada Nabi.
Pada usia remaja Nabi, adegan menampilkan beliau sebagai seorang remaja yang sangat pengasih. Saat Nabi sedang menggembala. Ada seorang pria yang ingin membunuh anaknya hanya karena sang anak terlahir sebagai perempuan. Tradisi masyarakat saat itu adalah suatu aib memiliki anak perempuan. Nabi yang masih remaja amat pengasih dan penyayang mengendong bayi itu. Tak disangka setelahnya, kemarahan sang ayah sirna. Kemudian adegan pertemuan Nabi dengan pendeta Buhaira mengakhiri film.
Ada beberapa adegan yang menampilkan karakter tokoh yang berlainan dengan sebagian besar pengetahuan kaum muslim tentang tokoh itu. Salah satunya karakter Abu Talib dan Abdul Mutallib digambarkan sebagai seorang penyembah agama hanif. Mereka berdua tidak pernah menyembah berhala.
Kelebihan
Ada beberapa kelebihan film ini. Pertama dari segi visual film ini tampil mirip film film Holywood. Tak perlu heran, Majid Majidi menggandeng sinemator dan penata musik Hollywood Vittorio Storaro dan Ar Rahman. Kedua latar setting tempat dan waktu film ini pun tampil sangat luar biasa. Kondisi Mekkah dan Madinah tampak terasa hidup dengan kostum dan pembuatan latar tempat kedua itu yang tampak nyata. Ketiga Film ini berusaha menampilkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat pengasih.
Kekurangan
Ada beberapa hal kontroversial yang mengakibatkan film ini kurang begitu disambut terutama bagi mayoritas pemeluk Muslim Sunni. Pertama, tokoh nabi Muhammad ditampilkan walaupun bagian muka dari nabi tidak pernah dimunculkan. Tapi hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan tradisi Islam Sunni agak ketat dalam penggambaran karakter nabi.
Lihat: https://tareekh.my.id/2020/09/07/resensi-buku-sepoer-oeap-di-djawa-tempo-doeloe/

Leave a Reply