“Selama ribuan tahun kota Jepara dan sekitarnya sempat terpisah dari Pulau Jawa dan membentuk sebuah pulau yang di masanya bernama Pulau Muria.”
Bayangan kita saat ini membayangkan kota Jepara sebagai sebuah tempat yang terkenal akan seni ukir kayunya yang luar biasa. Bahkan, konon Mimbar Masjidil Aqsha di Jerusalem yang megah, dihiasi dengan ukiran kayu Jepara yang memukau.
Sebaliknya, ketika kita memikirkan kota Demak, imajinasi kami terbang ke masa lalu, menggambarkan bagaimana Islam pertama kali menyebar dari sana.
Dua kota ini, Jepara dan Demak, pada pandangan pertama tidak memiliki karakteristik yang aneh.
Namun, ketika kita memandang masa sebelum abad ke-17, kita menemukan bahwa keduanya dipisahkan oleh selat sempit yang disebut Selat Muria.
Ya, selama ribuan tahun, kota-kota ini benar-benar terpisah oleh selat sempit. Sementara daratan yang menghubungkan keduanya, usianya tidak lebih mencapai 500 tahun.
Selat Muria adalah kawasan air yang dulu pernah ada, menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria.
Dahulu, selat ini merupakan pusat perdagangan yang ramai, dengan kota-kota dagang seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana yang sibuk beraktivitas di sekitarnya.
Baca Juga:
- Babad Kadhiri: Kisah Humor tentang Penulisan Sejarah dengan Bantuan Jin
- Jalan Nagreg, Dari Jalanan Sepi hingga Jadi Simpul Kemacetan Lebaran
- Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Namun, sekitar tahun 1657, endapan-endapan sungai yang mengalir ke selat ini akhirnya terbawa ke laut, membuat selat ini semakin dangkal dan akhirnya menghilang. Pulau Muria pun bergabung dengan Pulau Jawa.

Menghilangnya Selat Muria dan Kejatuhan Demak
Menghilangnya Selat Muria kemungkinan besar menjadi salah satu faktor penting dalam runtuhnya Kesultanan Demak pada abad ke-16, selain dari konflik perang saudara dan pertarungan untuk tahta yang sengit.
Fakta ini didasarkan pada catatan sejarah yang dicatat oleh Tome Pires.
Demak pada masa itu merupakan pelabuhan yang berlokasi di tepi Selat Muria.
Di pelabuhan ini, berbagai jenis komoditas diperdagangkan.
Ada kain tradisional indah dari Jepara, garam dan terasi yang terkenal dari Juwana, serta beras yang berasal dari pedalaman Pulau Jawa dan Pulau Muria.
Selain perdagangan, Selat Muria juga menjadi tempat berkembangnya galangan kapal yang memproduksi kapal jung Jawa yang terkenal, terutama karena bahan baku kayu jati yang melimpah dari Pegunungan Kendeng yang terletak di selatan selat ini.
Industri galangan kapal ini memberikan kontribusi besar terhadap kemakmuran kawasan ini. Bahkan, posisinya menjadi lebih makmur dibanding Kerajaan Majapahit.
Namun, akibat pendangkalan lautan di sekitar Demak, kapal-kapal besar mulai enggan untuk berlabuh di pelabuhan ini.
Hal ini secara otomatis merusak perekonomian Demak yang sangat bergantung pada perdagangan maritim.
Selain itu, galangan kapal yang tadinya banyak diproduksi di wilayah ini juga dipindahkan karena kondisi tempat yang tidak lagi strategis.
Semua perubahan ini mengakibatkan kemerosotan ekonomi Demak yang signifikan.
Kondisi ini semakin diperparah oleh ketidakstabilan politik akibat perang saudara yang melanda Kesultanan Demak pada saat itu.
Sebagai akibat dari kombinasi faktor-faktor ini, Kesultanan Demak menghadapi tantangan besar, yang akhirnya berkontribusi pada hancurnya kekuasaannya pada abad ke-16.
Ini adalah periode yang mengakhiri masa keemasan Demak dan memicu perubahan dalam peta politik dan ekonomi wilayah tersebut.
Profil Penulis

Danil Kasputra
Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

Leave a Reply