Blog

  • Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Nur Cahya

    “Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Hal itu didasarkan penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah binti Maimun tertulis hiasan aksara kaligrafi arab bertarikh tahun 1082 M.”

    Riwayat perkembangan seni kaligrafi di indonesia memiliki akarnya dalam seni kaligrafi Arab. Sebab seni kaligrafi merupakan salah satu tradisi tulis menulis yang sangat kental dengan tulisan arab.  Walaupun jauh sebelum Islam datang bisa dikatakann bahwa bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir tidak mengenal aksara. (D S. A., 1989). Tradisi tulis menulis terbilang cukup tertinggal dibanding dengan bangsa lain (Kharlie, 2003). Seperti contoh di Mesir yang sudah terkenal dengan tulisan Hieroglip, India dengan Devanagari, Assiria dengan Fonogram dan lain-lainnya (D S. A., 1989). Meski mereka sangat dikenal piwai dalam hal sastra. Namun dalam artikel kali ini, kami tidak akan membahas mengenai Seni Kaligrafi Bangsa Arab. Tapi Riwayat seni kaligrafi yang berkembang di Indonesia.

    Asal Mula dari Bangsa Arab

    Orang-orang Arab pra Islam mengandalkan tradisi verbalisme, dalam proses interaksi sehari-hari. Hal membuat mereka tidak terlalu memperdulikan potensi dan kemampuan tulis-menulis yang mereka miliki. Hal itu bisa terlihat pada daya ingat dan tingginya kualitas sastra mereka miliki. Kemudian kehadiran Islam dan perkembangannya mampu membawa perbahan besar dalam tradisi bangsa Arab ini.

    Wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad (al-Alaq 1-5). Surat ini ialah perintah Tuhan agar membaca, menelaah serta menganalisis. Turunya surat ini mampu menghentakan idealisme mereka. Sejak itu, perkembangan tradisi tulis –menulis bangsa Arab benar-benar sangat luar biasa, melompat, bahkan berlari meninggalkan yang lain (Kharlie, 2003).

    Dari Arab menuju Nusantara

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Berita tertua mengabarkan telah terbentuk sebuah komunitas muslim, dengan bertempat di Gresik Jawa Timur. Hal itu didasarkan berdasarkan analisa atas hasil penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah tertulis aksara arab dengan tahun 1082 M.  Berdasarkan analisa para arekolog, nisan tersebut merupakan tanda dari permulaan tulisan kaligrafi di Nusantara.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun dengan hiasan kaligrafi Arab. Salah satu bukti tertua mengenai seni kaligrafi awal di Nusantara.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections

    Menurut Prof. Muarif Ambary terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan jenis khat sebagai simbolisasi dari tulisan nisan tersebut. Jika ini ditelusuri lebih lanjut mengenai intensi gaya penulisan nisan tersebut mengunakan gaya kufi. Maka di Sumatera, khususnya wilayah Aceh gaya yang paling sering digunakan adalah Nasakh dan Tsuluts. Memang pada kenyataanya khat kufi kurang digemari atau bahkan kurang dikenal Muslim Nusantara. Sebaliknya khat Naskh dan Tsuluts sangat digandrungi masyarakat lokal. Pada gilirannya memunculkan istilah “makam tipe Aceh” dan seterusnya  (Ambary, 1998).

    Dua Periodisasi Tradisi Kaligrafi Lokal

    Periodisasi Pertama

    Adapun mengenai riwayat dinamika seni kaligrafi lokal di Indonesia menurut Sirajudin dibagi dalam beberapa tahapan periodisasi (D S. A., 1994). Pertama, angkatan perintis, dalam periode islamisasi tentu bakal terjadi arabisasi, mengingat hampir seluruh rujukan tentang ajaran Islam berbahasa Arab. Apalagi para penyebar yang menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara, terutama pada masa permulaan perkembangan Islam, didominasi oleh ulama-ulama keturunan Arab atau non-arab yang lama belajar di Arab. Sehingga faktor inilah yang kemudian memaksa setiap muallaf  mesti bersentuhan dengan bahasa dan tulisan Arab. Dari titik ini cukup jelas kehadiran Islam menandai babak baru semarak penggunaan tulisan kaligrafi Arab.

    Karena pada praktiknya, tulisan Arab tidak hanya terbatas pada penggunaan teks yang berbahasa Arab atau mushaf al-Qur’an saja, melainkan juga digunakan untuk pergaulan sehari-hari terlebih untuk kebutuhan pengkajian Islam di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, surau, dan lain-lain. Ditambah seperti Pegon, huruf Jawi, atau huruf Melayu. Huruf ini digunakan sebagai medium pengajaran dan penulisan kitab-kitab, terutama di pesantren-pesantren.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Sebuah halaman dari buku Hikayat Abdullah karya Abdullah bin Abdulkadir Al-Munsyi ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Buku ini pertama kali terbit tahun 1849. Halaman demi halaman buku ini menyajikan pada anda tampilan indah seni kaligrafi.
    Sumber : National Library of Singapore

    Perkembangan berikutnya pada abad 17-20

    Pada tahap selanjutnya, kecenderungan tradisi menulis kaligrafi mengalami pergeseran dalam tataran pola. Dimulai dari abad ke 17, para seniman muslim keranjingan memasukkan huruf-huruf Arabdalam lukisan berbentuk hewan atau wujud manusia sebagaimana lazimanya para seniman Persia. Tipologi ini amat lekat dan mudah didapati pada lingkungan kraton seperti Cirebon, Yogjakarta, Surakarta dan Palembang.

    Sementara pada abad ke 18-20, tradisi penulisan kaligrafi tidak hanya tampak dan bersumber pada batu-batu nisan. Tapi Penulisannya telah bergeser dan mengambil ragam media seperti kertas, kayu, logam, kaca, dan lain-lain. Mushaf-mushaf al-Qur’an tua umumnya ditulis di atas kertas Deluang, yang oleh beberapa ahli jenis kertas ini dianggap mark Nusantara.

    Periode Kedua

    Pada periodisasi kedua, adalah angkatan orang-orang pesantren. Pengenalan huruf alphabet Arab yang dilakukan kyai kepada santri baru pada tahap memenuhi kebutuhan tulis-baca, belum sampai pada penekanan nilai-nilai estetisnya. Akan tetapi, keberanian dan kebanggaan menggunakan aksara Arab, terutama untuk gaya-gaya khat yang kubisme, telah tampak pada tulisan-tulisan yang tertera pada nisan-nisan kyai dan tokoh-tokoh agama. Hal ini menunjukan bahwa pada saat itu kaligrafi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, juga telah pula memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat dekoratif.

    Adapun mengenai penggunaan gaya khat yang cenderung estetis seperti naskh, tsuslus,dan faris, bisa digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan, baik berupa kitab-kitab fikih, tauhid, tasawuf, maupun mushaf al-Qur’an. Tradisi menulis mushaf ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama-ulama di pesantren klasik sejak abad ke-16. Langkah ini didorong oleh kelangkaan mushaf karena teknologi penggandaanya belum ditemukan. Sementara pasokan dari timur tengah juga dirasakan masih sangat kurang. Dengan atas dasar itulah muncul gairah dari kalangan pesantren untuk menuliskan al-Qur’an secara manual dengan kualifikasi tulisan yang sangat sederhana.

    Pelopor angkatan pesantren baru menunjukan sosoknya yang lebih nyata dalam kitab-kitab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Muhammad Was’i Abdul Razzaq, Yahya dan Rahmat Arifin, Abdul Razzaq Muhilli dan lain-lain.

    Ketika mengamati tradisi penulisan kaligrafi di interior masjid, akan ditemukan bukti bahwa media untuk mengekspresikan karya kaligrafi di pusat peribadatan tersebut tergolong masa moderen. Sebab, dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau bahka sama sekali tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad ke-16 yang asi dibuat pada zamannya. Kalaupun ada, biasanya menggunakan huruf Jawa seperti di masjid Mantingan Jepara dan Sendang Pacitan, Jawa Timur. Dengan hadirnya para kaligrafer di pesantren ini cukup mempersubur unsur hiasan masjid-masjid moderen yang baru dibangun. Adakalanya, penulisan kaligrafi itu sudah diprogram berbarengan dengan masa penyelesaian bangunan tersebut.

    Tiga Pola Pembinaan

    Pembinaan Pertama

    Secara umum, pengembangan kaligrafi di pesantren dapat dikategorikan dalam tiga pola pembinaan (Karlie, 2003). Pertama, mealui internalisasi materi kaligrafi dalam, kurikulum, intra-kurikuler. Modal ini mengakomodasi materi kaligrafi sebagai bagian integral dari proses belajar dan mengajar. Model ini dipraktekan di pesanren yang bernuansa moderen, seperti KMI Darusallam Gontor beserta seluruh afiliasinya. Meski tidak semua jenis khat dapat dikuasai, namun alumninya, paling tidak dapat menulis khat naskah dengan baik.

    Pembinaan Kedua

    Kedua, unternalisasi materi kaligrafi dalam format ekstra-kulikuler, untuk modal ini idealnya dibentuk wadah khusus yang menangani teknis pembinaan, seperti sanggar, asosiasi, dan lembaga independen lainnya. Ketiga, membangun model pesantren khusus kaligrafi. Dalam teknis pembinaan, pesantren seperti ini memberikan bahan ajar yang lebih filososfis, fokus dan mendalam sehingga santri benar-benar menguasai seluk-beluk kaligrafi, baik secara teoritis maupun praktis.

    Kemudian di tahun 1979, pada pameran lukisan Kalligrafi Nasional 1 berbarengan dengan MTQ XI di Semarang, telah menunjukan momentum awal yang menandakan babak baru seni kaligrafi Islam di Indonesia. Penampilan kaligrafi dalam bingkai seni-lukis tersebut seolah mengehntakan para seniman dan pemerhati kaligrafi. Pada giliranya, semangat memodifikasi kaligrafi murni dengan seni lukis tak lagi menjadi komoditas seniman out-sider, tetapi merasuki alam pikiran para kaligrafer yang sebelumnya tekun mempelajari rumus-rumus kaligrafi baku.

    Kemudian dengan masuknya kaligrafi dalam MTQ telah menjadi salah-satu modal dan basis potensi pengembangan seni kaligrafi Islam Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, meski baru mengambil bentuk eksibisi atau sayembara, ternyata sangat diminati oleh kalangan muda seperti contoh pada cabang kaligrafi MTQ XII 1981 di Aceh. Pada saat itu muncul gagasan agar cabang cabang dalam MTQ ditambha Musabaqah Khattil Qur’an atau lebih dikenal dengan singkatan MKQ.

    Pada pelaksanaan Festival Istiqlal I (1990) dan II (1995), diselenggarakan pula sayembara kaligrafi yang diikuti oleh ribuan peserta. Melihat tingginya animo masyarakat terhadap kaligrafi, maka festival ini mencanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi di seluruh Nusantara. Kemudian setelah itu sanggar-sanggar pembinaan kaligrafi bermunculan yang secara teknis dikawal oleh Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) Jakarta.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/11/resensi-film-muhammad-the-messenger-of-god/

    Lihat juga : https://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi_Islam

  • Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Resensi Film Muhammad: The Messenger of God

    Danil Kasputra

    Muhammad:The Messenger of God, sebuah film yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga pertemuannya dengan pendeta Buhaira di usia 13 tahun. Majid Majidi berperan penting menyutradarai film ini. Majid Majidi tak sendiri, ia juga dibantu bintang-bintang film Iran yang beradu acting memerankan tokoh tokoh di seputar kehidupan Nabi. Mehdi Pakdel memerankan paman Nabi Abu Talib. Lalu Ali Reza Shoja Nouri berperan sebagai Abdul Muttalib kakek Nabi juga Sareh Bayat sebagai Halimah pengasuh Nabi.

    Sinopsis

    Pada bagian permulaan, alur film Muhammad: The Messenger of God maju terlebih dahulu mengisahkan para tetua kaum Quraisy bermusyarah menentukan langkah untuk menghentikan dakwah Nabi. Abu Sufyan sebagai salah satu tetua utama kaum Quraisy bertemu dengan Abu Talib (Paman Nabi). Dia mengancam Abu Talib bahwa kaum Quraisy tak segan untuk memboikot Bani Hasyim apabila tetap melindungi dakwah Nabi.

    Alur film kemudian mundur membawa anda pada masa awal kelahiran Nabi. Penduduk Mekkah sedang gempar. Raja Habasyah, Abrahah menyerang Mekkah. Dia berniat menghancurkan Kabah. Abdul Muttalib, tetua utama Mekkah pasrah dan menyerahkan Kabah kepada Tuhan pemiliknya. Pasukan Abrahah menyerbu Mekah tapi gajah-gajah pasukannya enggan bergerak. Lalu tak lama kemudian burung-burung ababil datang dan membawa batu batu panas menghujani pasukan Abrahah hingga seluruhnya tewas bertumbangan.

    Adegan film lalu mengisahkan kelahiran sang Nabi yang ditandai munculnya bintang terang. Orang-orang Yahudi dan Kristen di Syria melihat hal ini sebagai pertanda muncul Nabi Terakhir. Lalu film berlanjut pada kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Aminah binti Wahab, sang ibu yang kebingungan tidak adanya ASI, sebab Abu Lahab paman nabi sendiri enggan menetekkan ASI budaknya pada Nabi.

    Pada usia remaja Nabi, adegan menampilkan beliau sebagai seorang remaja yang sangat pengasih. Saat Nabi sedang menggembala. Ada seorang pria yang ingin membunuh anaknya hanya karena sang anak terlahir sebagai perempuan. Tradisi masyarakat saat itu adalah suatu aib memiliki anak perempuan. Nabi yang masih remaja amat pengasih dan penyayang mengendong bayi itu. Tak disangka setelahnya, kemarahan sang ayah sirna. Kemudian adegan pertemuan Nabi dengan pendeta Buhaira mengakhiri film.

    Ada beberapa adegan yang menampilkan karakter tokoh yang berlainan dengan sebagian besar pengetahuan kaum muslim tentang tokoh itu. Salah satunya karakter Abu Talib dan Abdul Mutallib digambarkan sebagai seorang penyembah agama hanif. Mereka berdua tidak pernah menyembah berhala.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan film ini. Pertama dari segi visual film ini tampil mirip film film Holywood. Tak perlu heran, Majid Majidi menggandeng sinemator dan penata musik Hollywood Vittorio Storaro dan Ar Rahman. Kedua latar setting tempat dan waktu film ini pun tampil sangat luar biasa. Kondisi Mekkah dan Madinah tampak terasa hidup dengan kostum dan pembuatan latar tempat kedua itu yang tampak nyata. Ketiga Film ini berusaha menampilkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat pengasih.

    Kekurangan

    Ada beberapa hal kontroversial yang mengakibatkan film ini kurang begitu disambut terutama bagi mayoritas pemeluk Muslim Sunni. Pertama, tokoh nabi Muhammad ditampilkan walaupun bagian muka dari nabi tidak pernah dimunculkan. Tapi hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan tradisi Islam Sunni agak ketat dalam penggambaran karakter nabi.

    Lihat: https://tareekh.my.id/2020/09/07/resensi-buku-sepoer-oeap-di-djawa-tempo-doeloe/

  • Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Serba Serbi Ganefo Jakarta 1963 (Olimpiade Tandingan Ala Sukarno)

    Danil Kasputra

    “Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam GANEFO. Sebuah olimpiade tandingan ciptaan Sukarno.”

    The Games of The New Emerging Forces (Ganefo) sebenarnya sebuah pesta olahraga yang luar biasa besar dan meriah. Ribuan atlet dari negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Sayangnya akibat konflik Indonesia dengan IOC (Komite Olimpiade Internasional) terkait masalah Taiwan dan Israel dalam Asian Games tahun 1962, IOC memarjinalkan pesta olahraga ini. Meski begitu, penyelenggaraan Ganefo tetap semarak dengan banyaknya rekor dunia dan nasional yang tercipta.

    Permulaan Penuh Tantangan

    Pada mulanya penyelenggaraan GANEFO banyak menimbulkan tantangan. Tantangan ini hadir terutama dalam IOC selaku dewan komite olimpiade internasional. IOC masih mempermasalahkan perlakuan Indonesia yang melarang delagasi atlet dari Israel dan Taiwan untuk ambil bagian dalam Asian Games Jakarta tahun sebelumnya. Alasan Indonesia karena simpati terhadap negara-negara Arab dan Tiongkok yang bermasalah dengan Israel dan Taiwan, tak mudah diterima oleh IOC. Akibatnya, sebagaimana ditulis Kobierrecki (2016:115) jurnalnya Sport as a Tool of Building Political Alliances: The Case of the Games of New emerging Forces (GANEFO) bahwa IOC akan mendiskualifikasi para atlet yang ikut bertanding dalam GANEFO.

    Tapi ini tidak menciutkan nyali Indonesia, Ganefo terus berjalan. Segala persiapan dilakukan. Meski, hampir 20% partisipan Indonesia atau China mengirimkan tidak lebih dari lima atau enam atlet. Negara-negara semacam Uni Soviet, Cekoslowakia, Polandia, Perancis dan Jerman Timur hanya mengirimkan atlet tak resmi tidak mencangkup atlet nomor wahid yang mereka miliki (Kobierrecki, 2016:115). Hal ini tentu saja akibat ketakutan turunnya sanksi IOC.

    Penyelenggaraan Semarak

    Lebih dari 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa berpartisipasi dalam event ini. Benua Asia terwakili oleh Indonesia, China, Iraq, Filiphina, Laos, dll. Sementara Al Jazair, Mali, Republik Arab Bersatu (Nama Mesir hingga tahun 1971), serta Tunisia mewakili Benua Afrika. Negara-negara Amerika Latin seperti Argentina, Brazil, Uruguay, juga ikut turut serta. Para peserta dari Benua Eropa sebagian besar berasal dari negeri negeri Sosialis seperti Uni Soviet, Polandia, Bulgaria, dll.

    Ganefo Jakarta 1963
    Keberangkatan delegasi China menuju Indonesia untuk ambil bagian dalam pesta olahraga GANEFO di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Pada tanggal 10 November 1963 bertepatan dengan hari pahlawan di Indonesia, Presiden Sukarno resmi membuka pesta olahraga The Games of The New Emerging Forces yang pertama di Jakarta. Nyali api olimpiade menandai permulaan dari event ini. Tentu saja ribuan orang memadati Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno yang baru saja selesai pembangunanya dua tahun lalu. Puluhan bendera negara-negara peserta pesta olahraga ini juga berkibar mewarnai semaraknya pesta akbar ini.

    Ganefo Jakarta 1963
    Presiden Sukarno dalam pembukaan Ganefo pertama di Jakarta.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Penyalaan api GANEFO sebagai simbol telah dimulainya pesta olahraga ini.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Opening Ceremony.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Suasana meriah di sekitar kompleks olahraga Gelora Bung Karno. Ramai dengan kerumunan manusia juga semarak warna-warni negara-negara peserta GANEFO.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Rekor-rekor

    Meskipun sempat mengalami intimidasi dari IOC, penyelenggaraan GANEFO tetap meriah. Rekor-rekor dunia banyak tercipta. Menurut buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963, Republik Rakyat China dan Republik Demokratik Korean mendominasi event ini dengan lima rekor dunia baru. Rekor-rekor itu tercipta pada trek, lapangan, angkat besi dan panahan. Lebih keren lagi, Sim Kim Dan dari Korea Utara memecahkan dua rekor dunia lari wanita 400 m dan 800 m. Republik Rakyat China juga mampu menciptakan 60 rekor nasional pada menembak, panahan, angkat besi, lari tek dan lapangan.

    Ganefo Jakarta 1963
    Pebalap Sepeda China, Sung Hsi-Yun memimpin kejuaraan wanita perseorangan 45 km dengan waktu tempuh 1 jam 29 menit 12 detik.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Sim Kim Dan, Atlet lari wanita Korea Utara yang mampu menciptakan rekor dunia baru dalam lari jarak 400 m kategori wanita.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sedang bertanding melawan Tim Nasional Republik Rakyat China di Stadion Gelora Bung Karno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Seorang Fotographer Indonesia
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Persaudaraan antar Bangsa

    Pelaksanaan Ganefo juga tidak hanya sekedar kompetisi olahraga di antara negara-negara pesertanya. Tapi jauh dari itu semua, event ini berupaya untuk mempererat hubungan persahabatan dan keakraban di antara semua bangsa. Bahkan buku GANEFO I Djakarta 10-22-Nop. 1963 yang diterbitkan oleh Republik Rakyat China menegaskan perlunya solidaritas bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dalam menentang imperialisme lama dan baru. Tak heran poster-poster GANEFO banyak memberikan gambaran pada hal itu. Lalu selama jalannya penyelenggaraan kita juga banyak disuguhkan pemandangan keakraban dan kedekatan diantara para atlet dari berbagai negara.

    Ganefo Jakarta 1963
    Poster resmi penyelenggaraan GANEFO. Ikatan rantai terputus menyimbolkan dunia yang telah bebas dari imperialisme. Sementara slogan pantang mundur (Onward, No Retreat!) mewakili kehendak umum para negara peserta sebagaimana diucapkan oleh Presiden Sukarno.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Delegasi Atlet Republik Arab Bersatu (Mesir) sedang benyanyi disaksikan oleh delegasi atlet Indonesia dan Republik Rakyat China.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
    Ganefo Jakarta 1963
    Tempat ternyaman dalam menyaksikan adu balap sepeda.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963

    Akhir Penyelenggaraan

    22 november 1963 mengakhiri dua belas hari gelaran pesta olahraga The Games of New Emerging Forces (GANEFO). Tiongkok muncul sebagai juara umum. Uni Soviet dan Republik Arab Bersatu (Mesir) menyusul di tempat kedua dan ketiga. Sementara tuan rumah Indonesia menempati posisi keempat. Presiden Soekarno mewakili Indonesia selaku tuan rumah didaulat menutup event ini. Rencananya Republik Arab Bersatu (Mesir) akan menyelenggarakan GANEFO berikutnya tahun 1967 dengan bertindak sebagai tuan rumah.

    Ganefo Jakarta 1963
    Acara closing ceremony di Gelora Bung Karno 22 November 1963.
    Sumber: GANEFO I Djakarta 10-22-Nop.1963
  • Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Resensi Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

    Danil Kasputra

    Judul Buku : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doloe

    Penulis : olivier Johannes Raap

    Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

    Tahun : 2017

    Kota : Jakarta

    Tebal : 271 hlm

    Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe menjadi bahasan minggu ini. Sebuah karya dari seorang Belanda lulusan Universitas Delft bernama Olivier Johannes Raap. Raap bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ambil bagian sebagai pihak penerbit dan distributor buku ini. Perlu diketahui sejatinya Raap bukanlah seorang sejarawan serta bukan pula seorang yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan Sejarah. Latar belakang pendidikannya di Universitas Delft pun adalah arsitektur. Namun Raap mampu menciptakan sebuah karya sejarah yang unik tapi juga didasarkan pada studi yang serius. Mengandalkan kegemarannya mengoleksi kartu pos kuno, Raap mampu menyusun sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dalam tampilan koleksi kartu pos kuno.

    Sinopsis

    Buku Sepoer di Jawa Tempoe Doeloe berupaya membawa kita menelusuri sejarah panjang perkembangan kereta api di Indonesia melalui media kartu pos kuno. Kartu-kartu pos ini banyak menampilkan wajah kereta api Indonesia tempo dulu. Raap sebagai penulis buku ini kemudian menyusun kumpulan kartu pos kuno itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 17 bab. Setiap bab berisi sejarah perkembangan kereta api di berbagai daerah di Jawa misalnya bab 1 dengan judul Titik Awal: Lintas NIS Semarang-Yogyakarta/Ambarawa, bab ini menjelaskan awal mula kemunculan kereta api di Indonesia.Pada bagian isi setiap bab itu, Raap menyajikan gambar kartu pos, keterangan, beserta penjelasan singkat mengenai objek-objek yang dalam kartu pos itu.

    Sebuah contoh dari kartu pos bergambar Stasiun Bandung Lama. Terdapat keterangan pembuatan tahun kartu pos (1907). Lalu keterangan lokasi menunjukan Stasiun Bandung beserta G Kolff dan Co Bandoeng sebagai penerbitnya. Raap lalu menambahkan sebuah penjelasan bahwa Stasiun Bandung pertama dibuka tahun 1884. Stasiun ini juga memiliki arsitektur yang khas. Bangunan ini terdiri atas bagian muka yang menghadap ke selatan dan dua sayap di sebelah kiri dan kananya. Begitulah seterusnya hingga halaman berikutnya setiap kartu pos yang tampil tak luput dari penjelasan.

    Kelebihan

    Ada beberapa kelebihan buku ini. Pertama buku ini tampil dalam balutan sederhana tapi dilakukan dengan studi yang serius. Hal ini terlihat uraian-uraian telah dipaparkan Raap dalam setiap penjelasan kartu posnya. Daftar pustaka yang telah ia lampirkan seperti buku-buku karya Reitsma S.A, DJ Stam hingga kuncen Bandung Haryoto Kunto di bagian akhir telah memperkuat hal itu. Kedua, cara penulis menampilkan sejarah dalam bingkai kartu pos kuno patut menjadi diapresiasi. Raap mampu menjadikan sebuah kisah sejarah hidup, mengajak para pembacanya untuk berimajinasi lebih dalam serta enak dipandang.

    Kekurangan

    Kekurangan buku ini ialah ketiadaan in-note dalam setiap penjelasan yang penulis sampaikan. Memang pada bagian akhir penulis melampirkan daftar pustaka. Tapi pada bagian penjelasan penulis jarang merujuk pada apa yang dia gunakan. Tapi tidak berarti buku ini tidak layak, buku ini sangat layak untuk dibaca sebab akan memberikan anda sebuah perspektif baru dalam memahami sejarah.

  • Resensi Film Katyn

    Resensi Film Katyn

    Danil Kasputra

    Resensi Film minggu ini, anda akan kami perkenalkan dengan sebuah film yang didasarkan kisah nyata dari sebuah negeri Eropa Tengah bernama Polandia. Katyn begitulah nama judul film ini, merujuk pada suatu hutan di Rusia. Tempat pembantaian 22.000 perwira dan kaum intelektual Polandia pada tahun 1940 yang dilakukan oleh Uni Soviet. Film ini sendiri disutradarai oleh Andrzej Wajda, dengan mengadaptasi sebuah buku berjudul Post Mortem: The Story of Katyn karya Andrej Mularczyk. Bintang bintang ternama Polandia seperti Andrezej Chyra (Jerzy, seorang perwira berpangkat yang selamat dalam pembataian),  Maja Ostaszewska (Anna, istri dari Andrzej), Danuta Stenka (Roza, istri seorang Jenderal Polandia), Artur Zmijewski (Andrzej, seorang perwira berpangkat Kapten) dan Pawel Malaszynski (Piotr Baszkowski, Letnan Penerbang) terlibat dalam pembuatan film ini. Film ini dirilis pada tahun 2007 bertepatan dengan peringatan Invasi Soviet ke Polandia pada tanggal 17 September 1939.

    Film ini diawali dengan ketegangan yang melanda Polandia setelah Jerman secara mendadak dari arah barat menginvasi negara mereka. Akibatnya kekacaun terjadi dan ribuan orang Polandia megungsi ke arah timur. Tapi tidak disangka-sangka di tengah kekacauan yang terjadi, para pegungsi dikejutkan oleh berita yang menggemparkan bahwa dari arah timur Tentara Merah Uni Soviet menyerbu Polandia Timur. Polandia pun menyerah dan sebagian tentaranya ditawan Jerman dan Uni Soviet. Anna, istri dari seorang perwira Polandia bernama Kapten Andrzej pun mencari tahu tentang keberadaan suaminya. Kemudian diketahui bahwa suaminya telah ditawan oleh Tentara Soviet.

    Kemudian film banyak menceritakan kisah-kisah dari istri-anak anak para perwira Polandia yang menantikan kabar dari suaminya dengan penantian dan harapan yang tak menentu. Kemudian muncul sebuah kabar bahwa suami mereka telah dibantai di hutan Katyn di Rusia. Jerman dan Uni Soviet sebagai agresor utama ke wilayah Polandia saling tuduh-menuduh bahwa pihak satu dan yang lain lah pelakunya. Meskipun semua pihak tahu bahwa Uni Soviet lah dalang di balik semua itu. Film kemudian diakhiri dengan eksekusi massal para perwira dan kaum intelektual Polandia di Hutan Katyn.

    Secara keseluruhan film ini sangat layak untuk ditonton terutama bagi mereka para penikmat film berlatar Perang Dunia II. Pertama jiwa zaman masa itu juga sangat terwakili dalam penggunaan kostum dan suasana kota yang dibuat se-mirip. Kedua, akting hebat para artis mampu menghadirkan suasana penuh kesedihan dan kepilauan. Ada beberapa kekurangan film ini. Pertama terletak pada runutan alur cerita yang terkadang maju mundur tanpa disertai penjelasan sehingga terkadang sangat membingungkan. Kedua, di bagian awal tidak menampilkan bagaimana pasukan Jerman dan Uni Soviet menyerbu Polandia. Adegan para pengungsi yang melarikan diri saja yang mewakili cerita itu.        

  • Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    Potret Rupa Sukabumi Tempo Dulu.

    “Sukabumi tempo dulu menyajikan sebuah kota indah dengan danau-danaunya yang jernih, pegunungan hijau juga tak lupa pantai-pantainya yang eksotik.”

    Sebuah air terjun di Sukabumi, foto diambil kemungkinan diantara 1936 dan 1938.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sebuah Danau di Sukabumi tahun 1910.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Sekolah calon polisi di Sukabumi kemungkinan tahun 1927.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Seorang pribumi sedang berpose di atas jembatan bambu.
    Sumber : collectie.wereldculturen
    Potret sekelompok murid sekolah frobel di Sukabumi.
    Sumber : Collectie.wereldculturen
    Panorama Taman Nasional Cibodas di Sukabumi tahun 1930
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Bangunan Stasiun Sukabumi diantara tahun 1895 dan 1908.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    sebuah Masjid di Sukabumi dengan pekarangan yang hijau.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections
    Pantai Pelabuhan Ratu tahun 1940
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Pengrajin Wayang tahun 1911
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Anak-anak desa sedang bermain egrang. Foto kemungkinan diambil diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Telaga Warna di utara Sukabumi. Foto kemungkinan bertanggal diantara 1930 dan 1935.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections.
    Sekelompok Tentara Belanda dari Brigade Infantrie 1e selama Agresi Militer Belanda I di Sukabumi.
    Sumber : National Archief
    Sebuah buldoser diangkut dengan rakit sebagai upaya percobaan untuk mengangkut berbagai macam peralatan.
    Sumber : National Archief
  • Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Buletin Pariwisata yang Pernah Terbit di Bandung dan Garut pada Era Kolonial

    Danil Kasputra

    “Berbagai macam buletin wisata hadir dan terbit menampilkan Bandung dan Garut yang indah serta eksotis sebagai daya pikat utamanya untuk menarik minat para turis untuk berkunjung.”

    Priangan terletak di pedalaman pulau Jawa bagian barat. Wilayahnya terkurung oleh rangkaian pegunungan dan perbukitan. Meski terpencil secara geografis, Priangan adalah daerah yang sangat disukai oleh para turis terutama berkat udaranya yang sejuk dan panorama keindahan dari rangkaian pegunungannya yang hijau. Karena semua itu pula tak aneh bilamana di era kolonial banyak sekali buletin pariwisata terbit khusus menampilkan lanskap Priangan yang indah untuk menarik minat para wisatawan. Buletin-buletin ini biasanya diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran serta berbagai macam perkumpulan yang memajukan pariwisata. Anda tentu saja mengenai buletin-buletin itu dan apa saja yang mereka tampilkan. Maka kali kami akan mengenalkan anda pada beberapa buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan

    1. Gids voor Bandoeng

    Pertama kami akan memperkenalkan kepada anda salah satu buletin wisata tertua, Gids voor Bandoeng. Dari namanya saja, anda pasti sudah bisa menebak bahwa buletin ini tentu saja akan banyak mengenalkan anda pada Bandung. Jika tebakan anda demikian, maka tebakan anda tepat sekali. Buletin ini memang banyak menampilkan berbagai macam panorama objek wisata Bandung. De Naamlooze Vennootschap Hotel Homan pertama kali menerbitkannya tahun 1908. Secara isi, buletin ini bisa dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama banyak bercerita mengenai Bandung, dari mulai letak geografis, kondisi alam, jumlah penduduk dari masa ke masa hingga surat-surat kabar dan sekolah apa saja yang ada di Bandung.

    Sampul Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng yang terbit pada tahun 1908

    Sementara itu di bagian kedua, buletin ini mengajak anda pada rute rute mana saja yang harus dilewati untuk mencapai objek objek wisata yang ada di Bandung.  “Dien men per kar heen in 1′., uur en terug in 1 uur aflegt. De kosten zijn f 5.— voor 2 personen en f 4.50 voor een persoon, op denzelfden dag terug. Lembang ligt ~>26 M. Hooger dan Bandot ng. Men kan te Lembang wandelen in het mooie kinaplantsoen en vindt daar het graf van den nog niet overtroffen Junghuhn, een naald staande op een heuvel, door de bevolking „PasirJoengkoen” genoemd” (Orang orang dapat diangkut oleh satu kendaraan dalam waktu 1 jam dan kembali dalam 1 jam. Biayanya adalah f 5 (Dua orang) dan f 4.50 untuk satu orang, kembali pada hari yang sama. Lembang lebih tinggi kurang lebih 26 M dari Bandung. Anda bisa berjalan-jalan di Lembang di perkebunan kina yang indah dan disana anda akan menemukan makam Junghuhn yang terletak di atas sebuah bukit. Penduduk sekita menyebutnya sebagai “Pasir Joengkoen”.

    Lukisan Alun-alun Bandung dengan dua pohon beringin kembar sebagaimana umumnya alun alun di Jawa.
    Lukisan Kawah Upas di objek wisata alam Gunung Tangkuban Perahu

    2. Garoet en Omstreken

    Kurang lebih 14 tahun setelah Gids voor Bandoeng hadir, di tahun 1922 buletin pariwisata Garoet en Omstreken terbit di Batavia atas prakarsa J.Z. Van Dyck. Melalui buletin ini anda akan diajak berimajinasi mengunjungi alam alam Garut yang indah. Mulai dari kawah Cipanas, Situ Cangkuang dan situ Bagendit hingga bangunan-bangunan tradisional dan modern yang tersebar di seluruh Garut. Maka Tak aneh rasanya di era kolonial dahulu, turis-turis mengenal Garut sebagai Swiss dari Jawa. Buletin ini juga akan menunjukkan pada anda tentang keseharian kehidupan masyarakat Garut baik yang berasal dari penduduk pribumi maupun orang Eropa.      

    Sampul Buletin Pariwisata Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1922.
    Gadis muda penjual kain di Garut
    Kerumunan orang di Situ Bagendit menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

    3. Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken

    Hampir sangat serupa dengan buletin pariwisata yang pertama, hanya saja objek-objek wisata Garut dan sekitarnya yang kali ini ikut tampil sebagai pewarna baru, Gids voor Bandoeng Garoet en Omstreken adalah buletin pariwisata ketiga yang akan kami perkenalkan kepada anda. Buletin ini hadir berkat sumbangsih De Vennootschappen Hotel Homann en Hotel van Horck Te Bandoeng en Garoet pada tahun 1930.  Buletin ini bisa kita kategorikan ke dalam dua bagian. Bagian pertama mengenalkan kita kita tentang Bandung beserta objek-objek wisatanya. Isinya sama persis dengan buletin pariwisata Gids voor Bandoeng. Sementara itu di bagian kedua, kita akan diperkenalkan oleh buletin ini mengenai Garut beserta dengan objek-objek wisatanya yang indah.

    Sampul depan Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken yang terbit tahun 1933.

    Keunikan dari buletin pariwisata ini kita akan dibuat kagum oleh cara penulis mengenalkan dan menampilkan berbagai macam keindahan objek wisata yang ada di Garut dan Bandung dalam bentuk visualisasi lukisan. Beberapa objek wisata itu melingkupi pemandangan danau yang jernih dengan latar belakang perbukitan hijau Situ Bagendit, Kawah Guntur yang eksotik, juga Kawah Putih yang indah lagi misterius dengan latar gunung Patuha yang menawan.

    Makam Keramat Godog dalam sketsa Buletin Pariwisata Gids voor Bandoeng, Garoet en Omstreken.
    Panorama Situ Cangkuang dilihat dari Pesanggrahan.

    4. Bandung The Mountain City of Netherlands Indies

    Sementara buletin pariwisata kita yang kelima ini, bernama Bandung The Mountain City of Netherlands Indies. Buletin ini hadir atas campur tangan Reitsma, seorang anggota sekaligus ketua perhimpunan Bandung Vooruit, sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan untuk memajukan pariwisata di kota Bandung. Lewat buku ini, repsentasi keindahan alam dan keanggunan bangunan-bangunan modern di kota Bandung muncul melalui berbagai gambar dan foto yang disajikan secara mengagumkan meliputi gemericik air terjuan yang berjatuhan di celah-celah bebatuan Curug Cimahi, Lokomotif Kereta Api dengan asap yang mengepul sebagai tanda kemodernan serta Stasiun Radio Malabar yang terletak pada lereng Gunung Malabar berdiri kokoh sebagai kebanggan Bandung dan Hindia Belanda.

    Sampul Depan Buletin Wisata Bandoeng The Mountain City of Netherlands India dengan seorang wanita tampak sedang memanah.
    Situ Cileunca di kala senja (atas)
    Jalan raya diantara hutan Rancabali dan Talaga Patengan (Bawah)

    5. Gids van en Midden Priangan

    Masih dengan nama penulis yang sama, Reitsma namun kali ini ia dibantu oleh Hoogland koleganya di perkumpulan Bandoeng Vooruit menerbitkan sebuah buletin pariwisata yang ditulis dalam bahasa Belanda dengan judul Gids van Bandong en Midden Priangan. Buletin ini memuat berbagai macam narasi mengenai objek wisata, jalan-jalan hingga sekilas pandang sejarah asal mula kota Bandung beserta berbagai ilustrasi.  Serupa dengan rupa rupa buletin wisata yang telah kami perkenalkan pada anda, buletin ini juga tentu saja sama banyak menampilkan pemandangan alam yang indah, bangunan-bangunan modern serta peta peta wilayah. Tapi kelebihannya dibanding yang lain buletin ini sarat dengen deskripsi tentang jalan-jalan kecil yang tersebar di kota Bandung, semisal jalan Buahbatu, Arcamanik, Ujung Berung, Tjihampelas, Lembang, dll.

    6. Tourist-Note

    Tidak terasa kami telah mengenalkan anda pada lima buletin pariwisata yang pernah hadir di Priangan. Kini tiba saatnya pada buletin yang terakhir. Buletin terakhir ini amat berlainan dengan kelima buletin sebelumnya yang lebih ditujukan bagi para turis Eropa. Buletin Tourist-Note hadir sebagai petunjuk wisata bagi para wisatawan China yang ingin berkunjung ke Bandung. Tak aneh bilamana anda akan mendapat beragam hal yang berbau China, mulai dari iklan-iklan hingga narasi nya yang seakan mengajak wisatawan China untuk datang. Pola narasi catatan harian lebih ditonjokan dalam buletin pariwisata ini sebagaimana yang akan kita lihat di bawah ini, Liwat Dajeuhkolot, Badjaran, naek di Goenoeng Poentang ke Malabar Radio Station, atawa ke Pengalengan

    Jadwal perjalanan berbagai macam transportasi di buletin pariwisata tourist note
  • Resensi Buku The Cartoon History of Universe Volume 1-7 (Ketika Peristiwa Sejarah DItampilkan dalam Balutan Komik)

    Resensi Buku The Cartoon History of Universe Volume 1-7 (Ketika Peristiwa Sejarah DItampilkan dalam Balutan Komik)

    Danil Kasputra

    Judul Buku : The Cartoon History of The Universe

    Penulis : Larry Gonick

    Penerbit : Doubleday

    Kota Penerbit : New York

    Tahun Terbit : 1990

    Tebal : 365 hal

    Larry Gonick, seorang sarjana matematika lulusan Universitas Oxford mencoba menyajikan suatu karya sejarah yang unik dan menarik terkait Sejarah Peradaban Dunia. Gonick memiliki metode yang berbeda dengan kebanyakan sarjana atau para penulis sejarah umumnya, yang menampilkan kronologis sebuah peristiwa sejarah melalui jurnal, dan buku. Gonick membuat suatu inovasi tak biasa sekaligus luar biasa. Dia mengandalkan kemampuannya dalam menggambar dengan menuangkan berbagai peristiwa sejarah dunia melalui media komik. Hasil kreativitasnya itu tertuang dalam komik The Cartoon History of The Universe. cerita-cerita sejarah yang selama ini dianggap kaku dan menjenuhkan menjadi sesuatu yang hidup dan mengasyikan. 

    The Cartoon History of The Universe sendiri bermula dari teori Big Bang terkait penciptaan alam semesta hingga penaklukan Alexander Agung dari Makedonia. Seluruhnya terbagi ke dalam tujuh volume. Pada setiap volumenya, Gonick selalu menampilkan sebuah pengantar. Tentu saja kata-kata pengantarnya berbeda dengan kata pengantar umumnya yang digunakan oleh para akademisi. Gonick selalu menyelipkan lelucon-lelucon lucu tetapi sarat isi. Misalnya dalam volume ke-6 ketika ia membela Herodotus dari cercaan para sejarawan modern yang menganggapnya sebagai Bapak Kebohongan. Gonick memvisualisasi dirinya dalam tokoh komik dengan raut muka terlihat marah sambil berucap bahwa tiada yang mampu menandingi Herodotus dalam bakat sastranya    dan pemahamanya tentang karakter.

    Gambar 1. Salah satu rekaan adegan peristiwa sejarah dalam cerita komik karya Larry Gonick yang menampilkan Alexander yang Agung dan Aristoteles.

    Lalu pada bagian isi, pembaca akan dibuat kagum dan terpesona melihat bagaimana Gonick mampu menghadirkan sebuah kisah sejarah yang unik dan menarik.  Keunikannya itu terletak pada gambaran tokoh-tokoh dan karakater yang gonick buat. Pada satu sisi tampak adegan-adegan tokoh-tokoh dan karakter sejarah itu seakan penuh dengan lelucon yang mengundang tawa bagi para pembacanya, tapi pada sisi lainnya pesan yang dia sampaikan melalui adegan mereka memang sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Satu contoh dalam bagian akhir komiknya di volume 7 Gonick mengulas terkait tokoh Alexander yang Agung dari Makedonia. Alexander yang Agung oleh Gonick digambarkan pernah belajar pada salah seorang filosof besar Yunani Aristoteles. Tentu saja hal ini sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Tapi uniknya, Gonick menggambarkan karakter dua tokoh itu dengan penuh kelucuan jauh dari apa yang dibayangkan orang-orang saat ini.

    Di bagian akhir setiap volume bukunya sebagaimana umumnya para akademisi, Gonick mencantumkan daftar sumber yang ia gunakan dalam karyanya ini. Dari sini terlihat jauh dari lelucon-lelucon lucu yang ia tampilkan, Gonick benar benar melakukan sebuah studi yang serius dan mendalam untuk menciptakan komik sejarah dunianya ini. Hal ini terlihat dari sumber-sumber yang ia jadikan bahan rujukan. Jadi buku ini sangat disarankan untuk dibaca terutama bagi mereka para pemula yang ingin mengetahui Sejarah Peradaban Dunia. Karena begitu jarang orang-orang yang mampu menampilkan kronologis Sejarah Peradaban Dunia secara menarik, ringan dan mudah dipahami dibarengi humor-humor yang menggelitik.  

  • Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    “Tidak jauh berbeda dengan saat ini, di masa kolonial alun-alun kabupaten maupun kota tetap menjadi tempat utama berkumpulnya warga masyarakat terutama dalam perayaan-perayaan besar keagamaan bahkan hingga menjadi arena pertandingan olahraga”

    Kompetisi balapan kuda di Alun-alun Sukabumi tahun 1933.
    Sumber : Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Cimahi Tahun 1910 nampak masih asri dengan rerimbunan pohon dan lapangan berumput hijau yang luas.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Garut masih sangat asri dan rimbun dengan pepohonan. Tampak terlihat di tengahnya Babancong, sebuah podium tempat dimana Bupati berpidato pada rakyatnya tahun 1900.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Adu domba
    Masyarakat pribumi dan beberapa tentara Belanda menyaksikan adu domba di Alun-alun Garut.
    Sumber: National Archief
  • Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Vandalisme di Objek Wisata Zaman Belanda

    Danil Kasputra

    “Fenomena vandalisme di objek wisata bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku seperti ini sudah pernah sering terjadi.”

    Cerita-cerita vandalisme para turis masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Perbincangan-perbincangan itu berpusat pada tangan-tangan jahil para turis yang entah karena iseng, untuk sekedar pamer di medsos atau gaya-gayaan merusak dan mengotori tempat-tempat pariwisata. Tidak mengherankan, tempat-tempat wisata yang seharusnya terlihat indah, eksotik dan penuh dengan nuansa kenyamanan menjadi tempat yang sangat tidak layak untuk dikunjungi. Mirisnya, jika ditelisik kebelakang, fenomena semacam ini bukanlah suatu fenomena baru. Bahkan puluhan tahun yang lalu di zaman kolonial Belanda, perilaku serupa sudah pernah sering terjadi. Satu dari sekian banyak cerita vandalisme para turis di zaman itu yang tercatat ialah vandalisme yang terjadi di objek wisata Kawah Papandayan.

    Ada dua cerita terkait vandalisme turis di tempat wisata ini. Cerita pertama muncul dalam harian Het Nieuws van Den Dag, yang terbit pada tanggal 09 Juli 1930 melaporkan bahwa para turis yang bandel secara sengaja membuat api di Kawah Papandayan, walaupun telah ada larangan sebelumnya dari Dinas Vulkanologi. Akibatnya, terjadi kebakaran belerang di Kawah Papandayan. Untung saja, berkat campur tangan para ahli dan melalui upaya yang sekuat tenaga api dari kebarakan ini mampu untuk dipadamkan.   

    Cerita lainnya muncul kembali delapan tahun kemudian dengan sebab akibat yang berbeda, tapi tetap saja akibat ulah dari para turis vandal ini. Kawah Papandayan sebagai kawah yang terbentuk sebagai hasil dari gejala vulkanis tentu saja memiliki kolom-kolom belerang yang indah. Kolom-kolom belerang itu biasanya memiliki pohon-pohon belerang yang eksotik. Sebab keeksotikannya itulah, Pohon-pohon ini tidak pernah luput dari tangan-tangan jahil para turis yang merusak rusak untuk menjadikannya sebagai cendera mata. Hal ini yang dicatat oleh urat kabar Indische Courant yang terbit pada tanggal 26 oktober 1938 bahwa “De vulkaandienst ondervindt naar Aneta uit Bandoeng verneemt, in den laatsten tijd veel hinder van vernielzuchtige touristen. Deze souvenirjagers hebben het voornamelijk gemunt op de fraaie zwavelzuilen welke voorkomen in den krater.” (Dinas Vulkanologi, sebagaimana diinformasikan oleh Aneta dari Bandung, akhir-akhir ini banyak menemukan para turis yang berperilaku merusak. Para pemburu suvernir ini terutama mengincar kolom belerang yang ada di dalam kawah).

    Gambar 1. Berita Harian Indische Courant Terkait Maraknya Vandalisme di Objek Wisata Kawah Papandayan.

    Mirisnya kejadian itu bukanlah kejadian yang terjadi sekali dua kali, masih menurut berita yang sama juga lima tahun lalu juga ada kejadian serupa. Sebuah pohon belerang yang indah dan cantik tumbuh disana. Tentu saja hal ini merupakan sebuah fenomena alam langka dan perlu waktu bertahun-tahun untuk melihatnya terbentuk. Tapi para turis yang berperilaku vandal malah merusaknya untuk dijadikan sekedar sebagai cenderamata. Maka sejak saat itu tidak pernah ada lagi fenomena langka semacam itu. Adapun kolom-kolom lain yang baru tumbuh juga dirusak oleh para turis ini. Dinas Vulkanologi yang berang dengan kelakuan para turis yang bandel ini kemudian mengeluarkan sebuah aturan baru. Agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa.