/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Tareekh – Page 84

Author: Tareekh

  • Politik Apartheid di Afrika Selatan (1948-1990)

    Politik Apartheid di Afrika Selatan (1948-1990)

    Danil Kasputra

    Tahukan kalian selama abad ke-20, Afrika Selatan banyak menjadi pusat perhatian dunia. Bukan karena prestasi negara ini semisalnya dalam bidang olahraga atau kekuatan negaranya yang adidaya, tapi karena sebuah politik diskriminasi ras yang bernama politik apartheid. Politik Apartheid di Afrika Selatan saat itu banyak dikecam dunia karena membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit. Mayoritas penduduk kulit hitam di Afrika Selatan dipinggirkan sementara minoritas kulit putih mendominasi pemerintahan. Untuk lebih jelasnya dalam pertemuan ini kita akan belajar mengenai bagaimana awal mula politik apartheid muncul, lalu berkembang dan kemudian dihapuskan.

    Kolonisasi Afrika Selatan oleh Bangsa Eropa

    Pada abad ke-17 Belanda tiba di Afrika Selatan dan mulai mendirikan koloni mereka disana. Banyak orang Belanda yang kemudian menetap di koloni ini. Dari merekalah orang Boer atau biasa disebut sebagai Afrikaner lahir, orang Boer sendiri telah menganggap Afrika Selatan sudah menjadi tanah airnya.

    Baca Juga:

    Inggris kemudian tiba disana pada abad ke-19, orang Boer merasa bahwa Inggris telah merebut kemerdekaan mereka. Oleh karena itu muncullah pemberontakan kaum Boer atau biasa dikenal sebagai Perang Boer (1899-1902). Dua negara Boer kemudian lahir selama perang ini yakni, Republik Transvaal dan Negara Bebas Orange. Tapi Inggris lebih kuat dan menghapus dua negara itu. Pemberontakan berakhir dan selanjutnya Afrika Selatan di bawah penguasaan Inggris menjadi Uni Afrika Selatan pada 1910.

    Inggris berkuasa berkuasa dengan menjalankan politik rasial dimana orang-orang non-kulit putih dipinggirkan. Hal ini terus berlangsung hingga 1948. Ketika Afrika Selatan merdeka dan Partai Nasional, Partainya minoritas kelas putih menang pemilu.

    Kemerdekaan Afrika Selatan dan Pelanggengan Politik Rasial bernama Apartheid

    Afrika Selatan memang merdeka tapi hal itu hanya dirasakan oleh golongan minoritas kulit putih saja. Apalagi politik rasial warisan Inggris kemudian dikuatkan dalam sebuah undang-undang bernama Politik Apartheid. Dalam undang-undang itu penduduk Afrika Selatan terbagi ke dalam beberapa ras. Pertama ras kulit putih yang mendominasi, kedua ras orang kulit berwarna dan keturunan Asia. Lalu ketiga kelas terbawah ras kulit hitam.

    Beberapa kebijakan politik Apartheid antara lain,

    • Pelarangan perkawinan antar ras.
    • Pemisahan tempat hunian antar ras.
    • Bangunan dan tempat umum khusus orang kulit putih dilarang dimasuki oleh orang kulit hitam seperti sekolah, bioskop, restoran, dll.

    Politik Aparthied yang kejam, tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia terus bertahan hingga awal dekade 1990-an. Ketika semakin kuatnya perlawanan dari dalam dan luar negeri.

    Perlawanan dan Kecaman Internasional

    Perlawanan paling keras dan kuat berasal dari African National Congress (ANC) yang dipimpin oleh Nelson Mandela. Akibatnya ia kemudian dipenjara di tahun 1962 sampai tahun 1990 ketika pemerinhan Afrika Selatan di bawah Willem de Klerk mulai membuka diri.

    Nelson Mandela tahun 1960. (Siriusalgeria.net)

    Kecaman internasional pun terus berdatangan pada pemerintahan apartheid Afrika Selatan. Embargo politik, sosial dan ekonomi membuat Afrika Selatan dikucilkan dari pergaulan Internasional.

    Pages: 1 2

  • Respon terhadap Imperialisme dan Kolonialisme (1)

    Respon terhadap Imperialisme dan Kolonialisme (1)

    Danil Kasputra

    Pada mulanya, kedatangan bangsa Eropa di Indonesia cukup mendapat sambutan yang amat hangat. Karena tujuan mereka semula hanya untuk memperoleh rempah-rempah. Akan tetapi setelah diketahui bahwa mereka juga memiliki motif untuk melancarkan praktek imperialisme dan kolonialisme. Respon bangsa Indonesia kemudian berubah banyak dari kerajaan dan kesultanan di Indonesia saat itu melancarkan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme bangsa Eropa.

    Kesultanan Aceh melawan Portugis

    Pada tahun 1511, Portugis berhasil menaklukan kesultanan Malaka dan menguasai bandar dagang yang kaya itu. Akibatnya banyak dari para pedagang Muslim berpindah ke Kesultanan aceh. Aceh pun makmur dan menjadi bandar dagang dan kota pelabuhan paling sibuk di abad ke-16.

    Lukisan Kampanye Armada Turki ustmani di Samudra Hindia (Aramco World).

    Portugis kemudian mengincar Aceh sebagai sasaran penaklukan berikutnya. Tapi armada dan angkatan perang Aceh sulit untuk ditaklukan malahan beberapa kali Aceh melancarkan pengepungan terhadap kedudukan Portugis di Malaka di bawah Sultan Aceh yang amat terkenal, Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Walaupun pengepungan itu mengalami kegagalan. Tapi berkat bantuan senjata dan hubungannya dengan Kesultanan Turki Utsmani, Aceh terus bisa bertahan menghalau kapal-kapal Portugis yang sering melakukan pembajakan.

    Aceh pun terus bertahan hingga kemudian takluk kepada Belanda di tahun 1904.

    Serangan Demak terhadap Portugis di Malaka

    Kedudukan Portugis di Malaka amat membahayakan bagi lalu lintas perdagangan di Samudera Hindia. Maka pada tahun 1512 setahun setelah penaklukan Portugis di Malaka. Armada Demak dengan kekuatan 100 kapal dan 12.000 prajurit di bawah pimpinan Adipati Unus menyerbu dan mengepung kedudukan Portugis Malaka. Ini juga merupakan salah satu respon awal terhadap imperialisme dan kolonialisme. Akan tetapi kekuatan Portugis cukup kuat untuk menghalau serangan itu.

    Senjata Api di Nusantara
    Meriam Cetbang yang digunakan Kesultanan Demak selama pengepungan Portugis di Malaka. (Metmuseum)

    Namun kembali di tahun 1521, untuk membantu sultan Malaka merebut kembali tahtanya. Demak di bawah Adipati Unus melancarkan lagi serangan kedua kepada orang Portugis. Tapi lagi-lagi serangan ini gagal bahkan Adipati Unus sendiri tewas dalam serangan ini. Oleh karenanya di kemudian mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang bertempur di tanah seberang.

    Kesultanan Ternate Mengusir Portugis

    Portugis berhasil mencapai Maluku sekitar tahun 1512 dan mereka tahu bahwa disinilah rempah-rempah berasal. Sultan Ternate amat menyambut hangat kedatangan Portugis. Apalagi mereka sedang bermusuhan dengan Kesultanan Tidore. Di tahun 1521 saingan utama Portugis, Spanyol tiba di Maluku dan mereka disambut hangat penguasa Tidore.

    Portugis marah melihat kenyataan ini mereka beralasan Spanyol telah melanggar perjanjian Tordesillas. Akibatnya Spanyol kemudian menyingkir dari Maluku dan Portugis tetap bercokol disana.

    Baca juga:

    Portugis yang tiba di Maluku dengan ambisi menguasai rempah-rempah dan misi penyebaran agama. Lama-lama membuat gerah Sultan Hairun penguasa Ternate, dia menganggap Portugis telah keterlaluan dalam memonopoli rempah-rempah dan penyebaran misi agama Kristen. Portugis dan Sultan pun mengadakan perundingan. Tapi ternyata ini hanyalah taktik Portugis, setelah Sultan bertemu orang Portugis. Mereka malah membunuhnya.

    Sultan Baabullah anak sultan Hairun pun berang, dia kemudian memimpin rakyat Maluku untuk menyerang Portugis pada tahun 1570. Benteng Portugis pun berhasil dikepung dan pada tahun 1575 orang Portugis menyerah dan menyingkir dari Maluku. Sultan Baabullah pun berhasil mengusir Portugis.

    Pages: 1 2

  • Kehidupan Manusia Pra-Aksara Indonesia (1)

    Kehidupan Manusia Pra-Aksara Indonesia (1)

    Danil Kasputra

    Manusia Pra-Aksara Indonesia walaupun masih hidup dalam keadaan yang masih primitif, akan tetapi mereka telah mengembangkan kebudayaan walau dalam tingkat yang rendah. Beberapa aspek kebudayaan yang berkembang itu antara lain aspek kepercayaan, aspek sosial dan budaya, ekonomi, dan teknologi. Pada bagian ini, kita akan belajar mengenai perkembangan aspek sosial budaya dan kepercayaan.

    Sosial dan Budaya

    Kehidupan Sosial

    Manusia yang hidup selama masa pra-aksara biasanya hidup berkelompok dengan setiap kelompoknya beranggotakan 10 -15 orang. Mereka tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika di satu daerah sumber pangannya telah habis mereka akan berpindah pada tempat lain yang masih menyediakan sumber pangan yang berlimpah.

    Dalam kehidupannya yang masih primitif ini telah ada pembagian tgas kerja yang sederhana. Para Pria bertugas untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sementara para wanita biasanya menghabiskan waktunya dengan memelihara anak. Selain itu untuk setiap kelompok mereka biasanya memilih seseorang yang dituakan sebagai kepala kelompok

    Kehidupan Budaya

    Selain itu Goa-goa berfungsi sebagai tempat tinggal manusia di masa ini. Kemudian juga karena sebagian besar mereka bergantung pada berburu binatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka para manusia purba telah menciptakan beberapa alat-alat yang masih sangat sederhana. Alat-alat itu berfungsi sebagai alat berburu, alat pemotong, alat penggeruk tanah, dll.

    Kehidupan Pra_aksara Indonesia
    Alat-alat yang digunakan oleh Manusia Praaksara. (KITLV)

    Alat-alat itu sendiri terdiri dari:

    • Kapak Perimbas, Kapak ini tidak bertangkai dan digunakan dengan cara menggenggam
    • Penetak, lebih besar dari kapak perimbas kapak penetak memiliki fungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu, dll
    • Kapak Genggam, secara ukuran lebih kecil dari kapak perimbas dan penetak, belum diasah dan amat kasar.
    • Alat-alat dari Tulang, pisau, belati, mata tombak dan mata panah merupakan alat-alat yang berasal dari tulang binatang.

    Pages: 1 2

  • Kondisi Sosial dan Ekonomi Indonesia Masa Reformasi

    Kondisi Sosial dan Ekonomi Indonesia Masa Reformasi

    Danil Kasputra

    Kejatuhan rezim orde baru yang mengantarkan pada masa reformasi tahun 1998 tidak serta merta langsung membawa kondisi Indonesia menjadi lebih baik. Indonesia mengalami fase masa transisi yang cukup bergejolak terutama dalam lapangan kondisi sosial dan ekonomi. Dalam tulisan singkat kali kita akan mempelajari mengenai kondisi sosial dan ekonomi Indonesia masa reformasi.

    Kondisi Sosial Masyarakat Indonesia

    Sejak sebelum kejatuhan rezim orde baru, krisis moneter telah melanda Indonesia. Krisis itu juga yang menjadi salah satu sebab tumbangnya rezim orde baru. Secara otomatis pemerintahan B.J. Habibie yang membawa agenda reformasi harus mewarisi kerusakan sosial dan ekonomi yang cukup parah akibat krisis itu.

    Banyak perusahaan gulung tikar dan kesulitan untuk menggaji pegawainya. Pada akhirnya Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK terjadi dimana-mana ditambah inflasi yang terus naik membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi.

    Hasilnya ialah pengangguran dimana-mana. Para pengangguran ini kemudian banyak menciptakan masalah sosial baru seperti tingginya tingkat kriminalitas dari perampokan, pencopetan hingga pencurian.

    Kondisi Ekonomi Masyarakat Indonesia

    Krisis ekonomi 1997 juga membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia goncang. Inflasi terus meningkat, nilai tukar rupiah terhadap dollar melorot dan kondisi politik Indonesia belum stabil setelah orde baru tumbang. Akibat investasi baik dalam maupun luar negeri mandeg bahkan para investor asing banyak yang lari ke luar negeri. Hasilnya mudah ditebak pengangguran meningkat dan pendapatan per kapita Indonesia memburuk.

    Baca Juga:

    Oleh karenanya pemerintahan di masa reformasi baik masa kepresiden B.J. Habibie, Abdurahman Wahid dan Megawati selalu memusatkan perhatiannya pada perbaikan ekonomi. Perbaikan-perbaikan ekonomi itu meliputi,

    • Membuka lapangan kerja.
    • Memperbaiki nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika.
    • Menarik kembali investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia
    • Penyediaan bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari seperti sembako (sembilan bahan pokok) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) agar harganya turun dan tidak langka di pasaran.

    untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masa reformasi yang goncang warisan dari Presiden Soeharto ini tak mudah. Karena perlu melewati beberapa pergantian pemerintahan untuk mencapai kestabilan seperti sedia kala.

    Latihan!

    1. Bagaimana kondisi Sosial Masyarakat Indonesia di Masa Reformasi?
    2. Bagaimana pengaruh krisis moneter 1997 terhadap kondisi ekonomi Indonesia masa reformasi?
    3. Apa perbaikan-perbaikan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah masa reformasi?
  • Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

    Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

    Danil Kasputra

    Ratusan tahun perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan bangsa asing berakhir pada 17 Agustus 1945. Ketika Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu menandai awal mula kelahiran bangsa Indonesia sekaligus dimulainya sebuah perjuangan panjang untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Tapi perlu diketahui, peristiwa proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa peristiwa penting yang melatarbelakangi peristiwa itu.

    Kekalahan Jepang

    Sejak 1942, Jepang telah menggantikan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Indonesia. Tak jauh berbeda dengan Belanda penguasa Jepang saat itu terkenal amat bengis bahkan lebih kejam. Tapi saat itu Jepang sedang terlibat dalam perang Pasifik (Bagian Perang Dunia II) melawan pasukan sekutu (Amerika, Inggris, China, dan Belanda) dan semenjak 1943 mereka banyak mengalami kekalahan.

    Penyerahan Jepang kepada Tentara Sekutu (Naval Historical Center Photo)

    Pada tanggal 06 dan 09 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagashaki. Tepat pada waktu yang bersamaan, Uni Soviet menyatakan Perang terhadap Jepang dan menyerbu wilayah jajahan Jepang di Manchuria dan Semenanjung Korea.

    Kota Hiroshima setelah Pengeboman oleh Amerika Serikat (U.S. Navy Public Affairs Resources Website)

    Karena kondisi Jepang yang telah hancur akibat perang, Kaisar Jepang Hirohito pada 15 Agustus 1945 mengumumkan penyerahan diri kepada tentara sekutu. Perang Pasifik sebagai bagian Perang Dunia II di Asia pun berakhir. Semua jajahan Jepang akan diambil alih oleh tentara Sekutu.

    Kekosongan Kekuasaan

    Jepang telah kalah dalam perang dan sekutu sebagai pemenang perang belum mengambil alih kekuasaan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah jajahan Jepang mengalami kekosongan kekuasaan.

    Kelompok pemuda yang bermarkas di Menteng 31 mendengar berita kekalahan Jepang ini melalui radio. Dengan tokoh-tokohnya seperti B.M. Diah, Sukarni, Sudiro, Chaerul Saleh, Wikana dan Supeno, mereka berkonsolidasi untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa bantuan Jepang.

    Saat itu tanggal 15 Agustus 1945, Bung Karno bersama Bung Hatta baru saja tiba dari Dalat, Vietnam. Mereka baru saja bertemu penguasa Jepang Jenderal Terauchi, tanpa mengetahui sedikit pun berita kekalahan Jepang.

    Para pemuda langsung menemui Bung Karno dan memintanya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa sangkut paut Jepang. Tapi Bung Karno menolaknya ia ingin bahwa Proklamasi kemerdekaan harus dikonsultasikan terlebih dahulu dalam sidang PPKI. Bung Hatta pun berpikiran sama dengan Bung Karno. Peristiwa ini membuat kecewa golongan pemuda.

    Peristiwa Rengasdengklok

    Para pemuda yang kekeh dengan pendiriannya akhirnya menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, sebuah kota kecil di Karawang pada 16 Agustus 1945. Hal ini sengaja dilakukan agar Bung Karno dan Bung Hatta tidk dipengaruhi Jepang.

    Di Rengasdengklok Keduanya berada di rumah seorang keturunan Tionghoa bernama Jo Ki Song. Disana para pemuda menekan Bung Karno dan Bung Hatta untuk secepatnya memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang. Pada awalnya Bung Karno menolak dan hal ini memicu perdebatan panjang dengan para pemuda.

    Baca Juga:

    Tapi pada akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan bersedia menuruti permintaan para pemuda. Maka setelah seharian di Rengasdengklok keduannya kemudian kembali ke Jakarta pada malam hari. Disana terjadi perundingan diantara Ahmad Soebardjo mewakili golongan tua dan Wikana mewakili golongan muda. Hasilnya Proklamasi kemerdekaan akan dilangsungkan di Jakarta dan rumah Laksamana Maeda akan dijadikan sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.

    Perumusan Naskah Proklamasi

    Rumah Laksamana Maeda, seorang perwira angkatan laut Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia menjadi tempat perumusan naskah proklamasi. Soekarno, Hatta dan Ahmad Subardjo berperan penting dalam perumusan naskah itu.

    Ketika ketiganya telah menyelesaikan naskah itu. Terjadi sedikit perdebatan tentang siapa saja yang harus menandatangani naskah itu. Apakah semua hadirin yang ada di tempat itu harus ikut menandatanganinya. Namun atas usul Soekarni cukup Bung Hatta dan Bung Karno saja yang menandatanganinya dengan mengatasnamakan bangsa Indonesia. Para hadirin pun setuju dan naskah hasil tulis tangan Bung karno kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik.

    Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan

    Pada awalnya proklamasi kemerdekaan akan dilakukan di Lapangan Ikada. Namun disana tentara Jepang berjaga begitu ketat dan sangat rawan untuk terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu tempat proklamasi dipindah ke kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.

    Bung Karno Berdoa sebelum Memimpin Proklamasi (Frans Mendur)
    Bung Karno dengan Mikrofon Membacakan Teks Proklamasi didampingin oleh Bung Hatta. (Frans Mendur).

    Sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan, S. Suhud menyiapkan tiang bendera sederhana yang terbuat dari Bambu. Mr. wilopo menyediakan pengeras suara. Sementara istri Bung Karno, Fatmawati Soekarno menjahit bendera merah putih yang akan dikibarkan.

    Tepat pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dengan didampingi Muhammad Hatta membacakan teks proklamasi. Pembacaan teks proklamasi ini kemudian diikuti dengan pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    Maka kemudian 17 Agustus dikenang sebagai hari proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menjadi momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia.

  • Pengaruh Budaya India di Indonesia dalam Berbagai aspek

    Pengaruh Budaya India di Indonesia dalam Berbagai aspek

    Danil Kasputra

    Sudah lebih dari ribuan tahun, hubungan bangsa India dan Indonesia telah terjalin. Bahkan pengaruh budaya India telah meresap begitu mendalam pada diri bangsa Indonesia. Apalagi Agama Hindu-Buddha yang berasal dari India sempat menjadi agama utama di Indonesia. Jika ditelisik lebih dalam pengaruh-pengaruh itu tampak terlihat dalam beberapa hal seperti: agama, bahasa dan tulisan, sastra, arsitektur dan pemerintahan.

    Agama

    Kurang lebih untuk 1500 tahun (abad ke- 1 M -1500 M), Agama Hindu-Buddha sempat menjadi agama paling dominan di Indonesia. Keduanya bahkan menjadi agama resmi atau utama di kerajaan-kerajaan kuno Indonesia seperti Sriwijaya, Majapahit, Singasari, dll.

    Pengaruh Budaya India
    Seorang penganut agama Hindu dan dua orang anak kecil di sebuah Pura di Bali. (KITLV)

    Namun dengan kedatangan agama Islam di abad ke-13, pengaruh kedua agama ini kian surut. Apalagi dengan kejatuhan kerajaan Hindu terakhir Majapahit di abad ke-16, pengaruh agama ini kian susut. Kini populasi penganut agama Hindu yang tersisa bisa kita jumpai di Bali juga pada suku Tengger di pegunungan Bromo. Ada juga populasi kecil penganut agama Hindu di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara Agama Buddha kebanyakan dianut oleh orang Tionghoa.

    Bahasa dan Tulisan

    Kitab suci agama Hindu sendiri banyak ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan Huruf Pallawa. Pengaruh keduanya amat kental terasa bahkan hingga saat ini.

    Baca Juga:

    Prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja masa Hindu-Buddha kerap menggunakan bahasa Sanskerta selain daripada penggunaan aksara Pallawa. Prasasti Ciaruteun merupakan satu contoh prasasti masa Hindu-Buddha yang menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

    Pengaruh Budaya India
    Prasasti Ciarutuen ditulis dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sanskerta (KITLV)

    Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Indonesia masih banyak menyerap perbedaharaan kata dari bahasa Sanskerta. Kata kata seperti angkara, gusti, cahaya, guru, dll masih sering kita dengar dituturkan oleh orang Indonesia.

    Pengaruh Budaya India

    Tak lupa juga, huruf tradisional suku-suku di Indonesia seperti Sunda, Jawa dan Bali kuno merupakan turunan langsung dari huruf Pallawa.

    Sastra

    Satu dari sekian banyak budaya India yang masih bertahan hingga kini ialah sastra. Sastra-sastra India masih sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kisah Ramayana dan Mahabarata adalah yang paling dikenal dan telah banyak disadur ke berbagai bahasa daerah.

    Pengaruh Budaya India
    Kisah Cerita Panji banyak diadaptasi dari India (KITLV)

    Dalam pentas wayang mereka banyak ditampilkan. Selama masa kerajaan Kediri, kisah Ramayana dan Mahabarata diadaptasi dalam cerita lokal. Salah satunya ialah kitab Arjunawiwaha.

    Arsitektur

    Selama masa Hindu-Buddha, seni arsitektur Indonesia berkembang pesat. Seni arsitektur Indonesia asli seperti punden berundak-undak mempengaruhi gaya tempat-tempat suci dan ibadah agama Hindu-Buddha. Perpaduan diantara keduanya menghasilkan komplek-komplek peribadatan yang dinamakan Candi. Candi-candi ini banyak tersebar dan salah satu yang paling dikena ialah Candi Borobudur dan Prambanan.

    Pengaruh Budaya India
    Candi Borobudur salah satu warisan Peradaban Hindu Jawa yang dipengaruhi budaya India (Museum Tropen)

    Pemerintahan

    Sebelum masuknya pengaruh budaya India, orang Indonesia asli hanya mengenal kepala suku atau kepala adat sebagai struktur tertinggi dalam pemerintahan. Keduanya pun menduduki jabatan itu melalui pemilihan oleh masyarakat.

    Namun dengan datangnya pengaruh India, jabatan kepala suku itu pun tidak lagi didsarkan pemilihan rakyat. Tapi jabatan kepala suku menjadi diwariskan secara turun temurun diantara kepala suku dan keluarganya. Kepala suku ini pun mendapat panggilan baru yaitu raja atau maharaja. Wilayah kekuasaannya dinamakan Kerajaan.

    Latihan!

    1. Pulau penganut agama Hindu terbesar di indonesia adalah pulau ….?
    2. Salah satu contoh penyerapan kata bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Indonesia ialah …..?
    3. Huruf Sunda Kuno dan Jawa Kuno dipengaruhi oleh Huruf…?
    4. Salah satu pengaruh budaya India dalam bidang Sastra …..?
    5. Sebutkan dua bangunan yang mendapat banyak pengaruh India dalam bidang arsitektur….?
  • Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Ketika Anak-anak Haji Agus Salim Tidak Bersekolah Formal

    Danil Kasputra

    Haji Agus Salim telah dikenal sebagai salah satu manusia jenius yang pernah lahir di Indonesia. Bahkan saking kagumnya dengan kejeniusannya Buya Hamka mengatakan satu orang Agus Salim senilai dengan satu satu juta manusia bahkan lebih. Tapi uniknya kelak kecuali anak bungsunya tidak ada seorang pun anak Haji Agus Salim yang pernah bersekolah formal.

    Sekolah Belanda yang bersifat Kolonial

    Bukan tanpa sebab Haji Agus Salim enggan untuk menyekolahkan anaknya, ia memandang bahwa sekolah-sekolah yang didirikan Belanda waktu itu masih sangat bersifat kolonial. Selain itu, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Roem, koleganya sesama politukus Islam Haji Agus Salim juga tak ingin anak-anaknya melalui jalan “berlumpur” akibat pelajaran kolonial.

    BACA JUGA:

    Sebab musabab ialah gara-gara pendidikan kolonial, Haji Agus Salim merasakan bahwa dia hampir saja menjadi seorang ateis karena skeptis terhadap agama. Perasaan itu mulai hilang tatkala dia bekerja di kantor konsulat Belanda di Jeddah, Arab saudi. Disana dia bertemu dan menimba pada salah seorang kerabatnya yang menjadi ulama besar di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

    Memilih Mendidik Anaknya Sendiri

    Mohammad Roem dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Haji Agus Salim Memimpin adalah Menderita”, sempat terheran-heran sekaligus kagum dengan ketrampilan berbahasa Belanda anak Haji Agus Salim yang bernama Syauket. Mohammad Roem mengisahkan “Kami heran melihat Syauket yang umurnya baru 4 tahun fasih berbahasa Belanda, ia dapat menerangkan badanya gatal dan minta digaruk.”

    Bahkan anak pertama Haji Agus Salim Dolly pada usia enam tahun sudah membaca buku detektif Nick Carter dan Lord Lister. Sementara adiknya Totok, pada usia 13 tahun telah membaca buku Mahabarata dalam bahasa Belanda. Buku bacaan yang menurut Mohammad Roem setara dengan anak AMS (setingkat SMP dengan pengajaran bahasa Belanda) bahkan mungkin lebih.

    Walaupun tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal tidak lantas membuat Haji Agus Salim berlepas tangan terhadap pendidikan anak-anaknya. Dia mendidik sendiri mereka dengan metode dan caranya sendiri. Mungkin cara mendidik Haji Agus Salim ini bisa menjadi referensi bagi orang tua hari ini.

    Haji Agus Salim tidak pernah membatasi waktu belajar dan bermain. Setiap saat dia bisa memberikan pelajaran pada anak-anaknya. Yang lebih terpenting kata Mohammad Roem, Haji Agus Salim selalu menanamkan keinginan untuk mengetahui yang lebih besar dan mencari pengetahuan itu sendiri.

    Tidak Pernah Bersekolah Tapi Berpendidikan.

    Oleh karenanya tak heran banyak yang tak percaya bahwa anak anak Haji Agus Salim tak pernah mengenyam bangku sekolah. Jojet Salah satu anak Haji Agus Salim mengatakan bahwa gara-gara ia menguasai banyak bahasa asing, hafal berbagai macam jenis puisi, penuh humor dan mengasyikan. Tidak ada satu pun yang percaya bahwa dia sebagai anak Haji Agus Salim tidak pernah bersekolah formal.  

  • Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Ikhtisar Sejarah dalam Perspektif Romawi

    Rendy Kurniawan

                Posisi sejarah dalam perspektif penulisannya banyak mengalami dinamika ketika Romawi berjaya. Kisah sejarah dalam perspektif Romawi mengalir mulai dari perselisihan antara Romulus dan Remus hingga kisah jatuhnya kaisar Augustus. Banyak yang beranggapan bahwa kisah-kisah sejarah tersebut hanyalah sebuah adaptasi dari Kebudayaan Yunani karena mungkin kultur tersebut tersebar bersamaan dengan munculnya Romawi di dalam arus Sejarah. Akan tetapi, anggapan ini nampaknya kurang akurat karena sebenarnya Romawi, secara independen, telah mengembangkan penulisan sejarah bagi mereka sendiri tanpa bergantung penuh pada Yunani baik dalam segi konten maupun model.

    Model Penulisan Sejarah Romawi

                Berbeda dengan penulisan sejarah Yunani yang mulai berkembang lewat penggunaan tradisi lisan dan membentuk sebuah narasi, karya-karya sejarah monumental dari Romawi berkembang dari model kronik. Artinya, para penulis sejarah dari Romawi menuliskan rujukannya dengan menyusun kumpulan peristiwa secara teratur dari tanggal ke tanggal, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Catatan terawal dari model ini adalah karya dari Quintus Fabius Pictor yang kemungkinan lahir pada tahun 270 sebelum Masehi (Cornell, 2013). Ia menulis sebuah kronik yang disusun berdasarkan dimensi waktu dari kisah sang kaisar pertama Romulus hingga Perang Hannibal. Dengan karya sejarah Pictor, Romawi telah membuktikan bahwa penulisan sejarahnya setidaknya tidak bergantung kepada budaya Yunani, meski tidak sepenuhnya.

                Selain itu secara konten, tulisan sejarah masa Romawi mengembangkan beberapa aspek yang tidak ada di dalam budaya tulis sejarah Yunani. Penulis-penulis Romawi secara kreatif mengembangkan konten-konten baru seperti penulisan genealogi, deskrpsi geografis dan mitos-mitos. Hal ini tentu berbeda dengan Yunani yang merangkai cerita perang secara rinci dan menyeluruh. Misalnya, salah satu sejarawan bernama Marcus Porcius Cato menulis Sejarah Perilaku orang-orang Romawi di tahun 170 sebelum Masehi.(Marincola, 2007).

    Pengaruh Yunani

                Bagaimanapun hebatnya penulis Romawi lewat kroniknya, mereka tidak sepenuhnya mengembangkan sejarah secara sempurna. Tulisan sejarah Romawi tentu memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pengaruh Yunani yang melekat kuat dalam penulisan sejarah mereka dalam aspek tertentu. Hal ini terbukti lewat kesamaan tujuan dari penulisan sejarah antara Romawi dan Yunani. Pada masa Romawi, tujuan penulisan sejarah tidak dapat dipisahkan dengan alasan politik, sesuatu yang tidak berbeda dengan para sejarawan Yunani.

    Di dalamnya Bahkan, metode yang digunakan dalam menghimpun fakta sejarah di masa Romawi hampir menyerupai apa yang dilakukan oleh Thucydides dari Yunani. Dengan kata lain, pengalaman dari penulis tersebut yang menjadi rujukan dari karya yang dituliskan. Salah satu contohnya adalah salah seorang sejarawan bernama Sallustius Crispus menuliskan dua buah karya sejarah tentang perang berjudul Perang Catiline dan Perang Jugurtha.(Yarrow, 2006) Dengan persamaan tujuan penulisan sejarah ini, maka posisi tulisan sejarah di Romawi kemungkinan besar bukanlah karangan ilmiah, melainkan alat legitimasi politik sebagaimana Yunani.

    Polybius (Domain Umum)

    Sejarah yang Bertumpu pada Politik dan Militer

    Meskipun bertujuan untuk politik semata, tidak semata-mata orang dapat menulis sejarah secara sembarangan di Romawi. Pada masa tersebut, sejarawan dituntut untuk memiliki pengalaman politik dan militer. Hal ini karena dua pengalaman tersebut sangat penting dalam membentuk sebuah narasi sejarah pada masa tersebut. Contoh sejarawan dengan kedua pengalaman politik dan militer adalah Polybius. Ia berhasil menjawab respon masyarakat Roma dengan menuliskan karya berdasarkan pengalaman objektifnya.(Breisach, 1994) Ia disebut sebagai ‘Thucydides dari Romawi’ karena keahliannya memadukan pengalaman politik serta militernya dalam menuliskan sejarah. Salah satu karya monumentalnya adalah The Histories yang menjelaskan kondisi kerajaan Roma di masa ia hidup.

    Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penulisan sejarah pada masa Romawi memiliki dinamika yang cukup unik. Di satu sisi mereka mengembangkan sejarahnya secara kreatif lewat kronik hingga menjadi narasi dan tidak bergantung pada Yunani. Tetapi di sisi lain, tujuan penulisan sejarah pada masa ini adalah demi alasan politik seperti perang, sama sekali tidak berbeda dengan budaya Yunani sebelumnya.

  • Perang Vietnam dan Keruntuhan Vietnam Selatan

    Perang Vietnam dan Keruntuhan Vietnam Selatan

    Danil Kasputra

    Kalian semua tentu nya tahu dengan negara Vietnam. Salah satu negara Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi paling dinamis di abad 21. Tapi tahukah kalian bahwa selama pertengahan abad ke 20, Vietnam menjadi salah satu wilayah konflik paling mematikan di muka bumi. Bahkan negara Vietnam sendiri terpecah menjadi dua negara, satu di utara bernama Republik Demokratik Vietnam atau akrab disebut Vietnam Utara. Satu-nya lagi di selatan biasa disebut sebagai Republik Vietnam atau Vietnam Selatan.

    Latar Belakang Perang Vietnam

    Hingga tahun 1950-an, wilayah Vietnam saat ini ditambah Laos dan kamboja merupakan wilayah jajahan Perancis dengan nama Indochina Perancis. Pada tahun 1956, Tentara Perancis mengalami kekalahan dalam pertempuran Dien Bien Phu yang mengakhiri penjajahan Perancis di Indochina.

    Seusai kekalahan Perancis diadakan konferensi Jenewa disana dinyatakan bahwa Vietnam secara resmi dibagi menjadi dua negara. Satu negara Komunis di utara bernama Republik Demokratik Vietnam yang didukung Uni Soviet, Republik Rakyat China dan Korea Utara. Satu lagi sebuah negara demokratis pro-Barat di selatan didukung Amerika Serikat dan negara barat.

    Persetujuan Jenewa nyatanya bukan akhir dari sebuah konflik tapi merupakan permulaan satu konflik lainnya yang letupan amat besar juga mematikan. Pembagian Vietnam malah melahirkan konflik baru yaitu perang Vietnam yang berlangsung selama 18 tahun (1957-1975).

    Perang Vietnam

    Perang Vietnam merupakan salah konflik paling mematikan selama perang dingin. Vietnam menjadi tempat pertempuran besar dua ideologi besar yang saling bersebrangan yakni ideologi komunis dan liberal.

    Kaum komunis di utara mendapat bantuan baik militer maupun persenjataan dari sekutu komunisnya seperti Uni Soviet, Republik Rakyat China, Korea Utara, Kuba dan Mongolia.

    Sementara kaum liberal pro-barat mendapat sokongan kuat dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Philiphina.

    Hampir dua juta orang baik sipil maupun militer tewas selama perang ini. Jutaan orang Vietnam mencari suaka hingga bahkan melarikan diri dengan perahu-perahu kecil keluar dari Vietnam. Banyak dari mereka lari ke Amerika Serikat, Australia dan negara-negara barat lainnya atau ditampung sebagai pengungsi perang di negara-negara Asia Tenggara lain. Salah satu tempat penampungan para pengungsi Vietnam di Indonesia yang paling terkenal ialah pulau Galang di Batam.

    Kekalahan Vietnam Selatan

    Perang Vietnam berakhir dengan jatuhnya ibu kota Vietnam Selatan, Saigon ke tangan pasukan komunis Vietnam Utara sekaligus menandai kekalahan Vietnam Selatan. 30 April 1975 menandai reunifikasi kembali Vietnam di bawah pihak komunis. Kejatuhan Vietnam Selatan menjadi salah satu peristiwa memalukan bagi Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

    Latihan

    Jodohkan pernyataan di atas dengan benar dan tepat!
  • Kolonialisme dan Imperialisme: Pengertian dan Asal Mulanya

    Kolonialisme dan Imperialisme: Pengertian dan Asal Mulanya

    Danil Kasputra

    Sebagian besar kita seringkali memandang bahwa Imperialisme dan Kolonialisme dua buah kata yang memiliki makna serupa. Keduanya seakan berjalan saling beriringan dan terikat satu sama lain. Padahal jika kita telisik lebih dalam Imperialisme dan kolonialisme merupakan dua buah kata yang berbeda baik dari segi asal kata, pengertian dan makna.

    Kolonialisme

    Kolonialisme berasal dari kata koloni yang mempunyai arti ‘daerah’, ‘wilayah’ atau ‘territorial’. Maka bisa diartikan kolonialisme ialah suatu paham yang ingin menjadikan daerah atau wilayah di luar kekuasaanya sebagai bagian dari wilayahnya.

    Imperialisme

    Kata Imperium merupakan asal kata dari Imperialisme yang berarti ‘wilayah kekuasaan penguasa’. Walaupun secara definisi nampak sekali bahwa imperialisme hampir serupa dengan kolonialisme, tapi terdapat perbedaan diantara keduanya. Imperialisme lebih menekankan pada campur tangan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya dengan maksud untuk menguasainya.

    Asal Mula Kolonialisme dan Imperialisme

    Kejatuhan Konstatinopel pada tahun 1453 dari tangan Byzantium kepada Bangsa Turki Utsmani berperan penting dalam berkembangnya Kolonialisme dan Imperialisme di negara- negara Eropa. Bandar Konstantinopel tempat orang Eropa bisa memperoleh rempah-rempah dengan mudah ditutup setelah kejatuhan kota itu. Bersamaan dengan itu harga rempah-rempah ikut naik karena persediaan yang semakin langka dan terbatas.

    Pada tahun 1492 Kesultanan Muslim terakhir di Granada, Spanyol jatuh dan menyerah pada dua penguasa Katolik Kerajaan Spanyol Ratu Isabella dan Ferdinand. Di saat Kerajaan Spanyol sedang merayakan kemenangannya dalam mengakhiri 7 abad dominasi penguasa muslim, Colombus datang dan menawarkan pencarian rempah rempah menuju India. Colombus menyakinkan bahwa jalan yang dia tempuh ke India adalah menuju barat dan ini merupakan jalan baru tiada satu pun pelaut yang pernah melaluinya. Karena tergiur dengan keuntungan dari rempah-rempah dan juga ambisi perluasan wilayah, penguasa Spanyol setuju terhadap tawaran itu.

    Maka Colombus pun berangkat dan tiba di sebuah benua baru yang kelak bernama Amerika. Karena Colombus masih belum sadar dan mengira ia telah tiba di India. Maka penduduk setempat ia beri nama orang Indian. Disana ia menancapkan sebuah tugu peringatan bahwa wilayah ini merupakan bagian dari kerajaan Spanyol. Setelah pelayaran Colombus berbondong-bondong orang Eropa berlomba-lomba mencari jalan ke dunia timur tempat dimana rempah-rempah berada.

    Dua Jenis Imperialisme

    1. Jenis Imperialisme Kuno, jenis imperialisme berwujud pada tiga tujuan untuk mencari kekayaan khususnya rempah-rempah (gold), memperluas wilayah kekuasaan sebagai simbol kejayaan (glory), dan menyebarkan agama (gospel). Imperialisme jenis ini dijalankan oleh dua negara pelopor Imperialisme yakni Portugal dan Spanyol
    2. Imperialisme Modern, imperialisme jenis ini kelak banyak dijalankan oleh negara-negara Eropa yang telah mengalami industrialisasi. Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dan Denmark adalah negara yang masuk dalam kategori ini.

    Latihan

    Jodohkan pertanyaan di atas!