Danil Kasputra
Tahukan kalian selama abad ke-20, Afrika Selatan banyak menjadi pusat perhatian dunia. Bukan karena prestasi negara ini semisalnya dalam bidang olahraga atau kekuatan negaranya yang adidaya, tapi karena sebuah politik diskriminasi ras yang bernama politik apartheid. Politik Apartheid di Afrika Selatan saat itu banyak dikecam dunia karena membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit. Mayoritas penduduk kulit hitam di Afrika Selatan dipinggirkan sementara minoritas kulit putih mendominasi pemerintahan. Untuk lebih jelasnya dalam pertemuan ini kita akan belajar mengenai bagaimana awal mula politik apartheid muncul, lalu berkembang dan kemudian dihapuskan.
Kolonisasi Afrika Selatan oleh Bangsa Eropa
Pada abad ke-17 Belanda tiba di Afrika Selatan dan mulai mendirikan koloni mereka disana. Banyak orang Belanda yang kemudian menetap di koloni ini. Dari merekalah orang Boer atau biasa disebut sebagai Afrikaner lahir, orang Boer sendiri telah menganggap Afrika Selatan sudah menjadi tanah airnya.
Baca Juga:
- Respon terhadap Imperialisme dan Kolonialisme (1)
- Kolonialisme dan Imperialisme: Pengertian dan Asal Mulanya
- Perang Vietnam dan Keruntuhan Vietnam Selatan
Inggris kemudian tiba disana pada abad ke-19, orang Boer merasa bahwa Inggris telah merebut kemerdekaan mereka. Oleh karena itu muncullah pemberontakan kaum Boer atau biasa dikenal sebagai Perang Boer (1899-1902). Dua negara Boer kemudian lahir selama perang ini yakni, Republik Transvaal dan Negara Bebas Orange. Tapi Inggris lebih kuat dan menghapus dua negara itu. Pemberontakan berakhir dan selanjutnya Afrika Selatan di bawah penguasaan Inggris menjadi Uni Afrika Selatan pada 1910.
Inggris berkuasa berkuasa dengan menjalankan politik rasial dimana orang-orang non-kulit putih dipinggirkan. Hal ini terus berlangsung hingga 1948. Ketika Afrika Selatan merdeka dan Partai Nasional, Partainya minoritas kelas putih menang pemilu.
Kemerdekaan Afrika Selatan dan Pelanggengan Politik Rasial bernama Apartheid
Afrika Selatan memang merdeka tapi hal itu hanya dirasakan oleh golongan minoritas kulit putih saja. Apalagi politik rasial warisan Inggris kemudian dikuatkan dalam sebuah undang-undang bernama Politik Apartheid. Dalam undang-undang itu penduduk Afrika Selatan terbagi ke dalam beberapa ras. Pertama ras kulit putih yang mendominasi, kedua ras orang kulit berwarna dan keturunan Asia. Lalu ketiga kelas terbawah ras kulit hitam.
Beberapa kebijakan politik Apartheid antara lain,
- Pelarangan perkawinan antar ras.
- Pemisahan tempat hunian antar ras.
- Bangunan dan tempat umum khusus orang kulit putih dilarang dimasuki oleh orang kulit hitam seperti sekolah, bioskop, restoran, dll.
Politik Aparthied yang kejam, tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia terus bertahan hingga awal dekade 1990-an. Ketika semakin kuatnya perlawanan dari dalam dan luar negeri.
Perlawanan dan Kecaman Internasional
Perlawanan paling keras dan kuat berasal dari African National Congress (ANC) yang dipimpin oleh Nelson Mandela. Akibatnya ia kemudian dipenjara di tahun 1962 sampai tahun 1990 ketika pemerinhan Afrika Selatan di bawah Willem de Klerk mulai membuka diri.

Kecaman internasional pun terus berdatangan pada pemerintahan apartheid Afrika Selatan. Embargo politik, sosial dan ekonomi membuat Afrika Selatan dikucilkan dari pergaulan Internasional.

Leave a Reply