/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Ruang SMA – Page 2

Category: Ruang SMA

  • Manusia Purba di Indonesia: Jenis-jenis hingga Ciri-Cirinya

    Manusia Purba di Indonesia: Jenis-jenis hingga Ciri-Cirinya

    Danil Kasputra

    Oke… sob sekalian, kalian semua pasti tahu atau setidaknya pernah tuh mendengar tentang manusia purba. Yah… dalam benak kalian pastinya manusia purba ini masih primitif, hobinya berburu dan masih belum mengenal pakaian. Pokoknya masih jauh ketinggalan zaman dan hidupnya di gua-gua. Gambaran itu memang sebagian benar tapi juga ada salahnya. Jadi, manusia purba juga walau mereka primitif tapi dalam berbagai hal mereka juga telah mengembangkan budaya walau masih dalam tingkat yang amat rendah. Nah… disini biar nggak berlama-lama kita akan mempelajari beberapa manusia purba yang pernah hidup di Indonesia.

    Megantropus Paleojavanicus

    Ini salah satu manusia purba tertua yang pernah ditemukan di Indonesia juga Dunia. Megantropus Paleojavanicus yang berarti Manusia Besar Tua dari Java pertama kali ditemukan oleh von Koeningswald di Sangiran, Lembah Sungai Bengawan Solo pada tahun 1941. Manusia jenis ini masih menyerupai kera terlihat dari bentuk rahang mereka. Tapi secara budaya mereka telah lebih canggih dimana mereka berhasil mengembangkan peradaban Paleolithikum.

    Gigi dari Megantropus Paleojavanicus (KITLV)

    Paleolithikum sendiri ialah zaman yang berlangsung sekitar 600.000 tahun silam. Pada zaman ini manusia termasuk Megantropus masih hidup dalam tahap yang sederhana. Adapun ciri-ciri budaya manusia zaman ini yaitu,

    • Kehidupan manusia masih nomaden atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
    • Kegiatan manusia masih food gathering yakni mengumpulkan makanan dengan cara berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah buahan.
    • Batu atau kapak yang masih kasar digunakan untuk berburu.

    Pithecantropus Mojokertensis

    Manusia purba ini hampir menyerupai Megantropus dan sama-sama ditemukan oleh von Koeningswald pada tahun 1936. Lokasi penemuannya di Lembah Sungai Brantas. Secara budaya Pithecantropus Mojokertensis nampaknya hidup satu zaman dengan Megantropus Paleojavanicus.

    Benda-benda pendukung Zaman Paleolithikum (KITLV)

    Pithecantropus Erectus

    Eugene Dubois pada tahun 1890 di Trinil, Lembah Sungai Bengawan Solo menemukan sebuah fosil manusia purba. Fosil temuannya ini kemudian dia beri nama Pithecantropus Erectus (Manusia Kera yang berdiri tegak). Manusia jenis ini juga memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan manusia modern, yakni:

    • Volume otak kepalanya masih 900 cc, sedangkan manusia modern memiliki volume otak lebih dari 1000 cc. Maka mudah diperkirakan bahwa kemampuan berfikir manusia jenis ini masih terbilang rendah.
    • Secara budaya manusia jenis ini hidup dalam zaman Paleolithicum sezaman dengan Megantropus dan Pithecantropus Mojokertensis.
    Trinil tempat ditemukannya Pithecantropus Erectus (KITLV)

    Homo Soloensis

    Hidup dalam zaman Paleolithikum akhir, Homo Soloensis amat berbeda jauh dengan Megantropus dan Pithecantropus. Bahkan sebagian ilmuwan menganggap mereka sebagai Homo Sapiens karena hampir menyerupai bentuk manusia modern. Homo Soloensis sendiri ditemukan oleh Ter Haar dan Oppernoorth di Lembah Sungai Bengawan Solo sehingga namanya Homo Soloensis yang berrarti manusia solo.

    Tebak Kata

    1. Zaman dimana Megantropus dan Pithecantropus hidup? P _ L _ O L _ T H _ _ U M
    2. Megantropus Paleojavanicus ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama? _ O N _ O E _ _ N G S _ _ _ _
    3. Manusia yang berdiri tegak dinamakan P _ T _ E _ A _ T _ O _ P _ S E _ E _ T _ S
    4. Pithecantropus Erectus ditemukan oleh? E _ G _ _ E D _ B _ _ S
    5. Homo Soloensis ditemukan oleh? T _ _ H _ _ R

  • Masa Reformasi: Pemerintahan Presiden B.J. Habibie (1)

    Masa Reformasi: Pemerintahan Presiden B.J. Habibie (1)

    Danil Kasputra

    Setelah Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, Indonesia memasuki babak baru yang dinamakan masa reformasi. B.J. Habibie, wakil Presiden Indonesia saat itu tampil menggantikan Soeharto sebagai Presiden ke-3 Indonesia. Pemerintah Presiden B.J. Habibie harus menerima tanggung jawab sedemikian berat diantaranya membawa Indonesia dari keterpurukan krisis ekonomi serta mewujudkan pemerintahan yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Maka pada 22 Mei 1998 Presiden B.J. Habibie membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Reformasi yang terdiri dari 16 Menteri. Adapun beberapa hal yang dibenahi Kabinet ini ialah Dwifungsi ABRI, Kebebasan Berpendapat dan Pemilu 1999.

    Dwifungsi ABRI

    Selama masa pemerintahan Orde Baru, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang merupakan gabungan dari TNI Angkatan Darat, Laut, Udara ditambah Kepolisian. Mereka memainkan peranan penting dalam kehidupan politik. Banyak jabatan-jabatan sipil diisi atau diduduki oleh orang-orang yang berasal ABRI. Salah satu tuntutan Gerakan Reformasi 1998 ialah keiginan untuk mengurangi pengaruh ABRI dalam kehidupan sipil.

    Setelah Gerakan Reformasi 1998 berhasil secara perlahan pengaruh dan peranan ABRI mulai dikurangi diantaraya,

    • Pengurangan perwakilan ABRI di Dewan Perwakilan Rakyat dari 75 orang menjadi hanya 38 orang.
    • Angkatan Kepolisian sebagai salah satu dari unsur ABRI memisahkan diri menjadi sebuah unit independen yang terpisah dari ABRI
    • Penggantian nama ABRI kembali pada nama semula Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri dari Angkatan darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

    Kebebasan Berpendapat

    Setelah hidup dalam 32 tahun masa orde baru yang otoriter, masa Pemerintahan B.J. Habibie menandai awal mula kebebasan berpendapat di Indonesia. Pemerintahan membuka kran kebebasan bagi pers dan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan unek-uneknya pada pemerintah. Pemerintah menjamin tidak akan ada lagi ada pembredelan atau penutupan bagi media massa yang kritis pada pemerintah.

    setelah masa reformasi masyarakat juga diperbolehkan untuk melakukan demonstrasi tapi dengan syarat mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan pemberitahuan dimana lokasi demo akan dilangsungkan.

    PEMILU 1999

    Pemilu 1999 menandai awal mula pembukaan kran politik secara besar-besaran bagi tumbuh dan berkembangnya partai politik. Dari 3 partai yang eksis selama pemerintahan Orde Baru menjadi tumbuh 112 partai politik lalu mengerucut menjadi sebanyak 48 Parpol sebagai hasil seleksi ketat dalam Pemilu 1999.

    Lembaga Pemilihan Umum sebagai lembaga penyelenggara pemilu selama orde baru dibubarkan, lalu perannya digantikan oleh Komisi Pemilihan Umum atau biasa disingkat KPU. Anggota KPU sendiri terdiri dari wakil pemerintah dan wakil peserta pemilihan umum.

    Pemilu 1999 berjalan dengan lancar dan untuk kali pertama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) keluar sebagai pemenang, disusul Partai Golkar ditempat kedua lalu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tempat ketiga.

    LATIHAN

    Cobalah isi kolom di bawah ini!

  • Beberapa Tokoh Nasional  dalam Perjuangan Kemerdekaan

    Beberapa Tokoh Nasional dalam Perjuangan Kemerdekaan

    Danil Kasputra

    Bro… dan Sis…., pastinya tahu bahwa Soekarno dan Hatta telah memainkan peranan penting dalam kemerdekaan bangsa kita. Karena berkat proklamasi kedua-nya lah lahir negara Indonesia pada tahun 1945. Tapi sis dan bro pada tahu nggak nih! selain keduanya banyak lagi beberapa tokoh nasional yang memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Siapa saja mereka? Penasaran? mari bro dan sis semua bisa baca ulasan di bawah ini.

    Sutan Syahrir

    Beberapa Tokoh Nasional Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
    Sutan Syahrir (id.wikipedi.org)

    Dibanding Sukarno dan Hatta, nama Sutan Syahrir nampaknya masih kurang akrab di telinga sebagian rakyat Indonesia. Padahal peranannya dalam fase awal kemerdekaan Indonesia tidak bisa dikatakan kecil. Syahrir bersama Sukarno dan Hatta seakan membentuk triumvirat atau simbol dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sutan Syahrir merupakan Perdana Menteri Indonesia pertama yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada bulan November 1945.

    Beberapa kebijakan Sutan Syahrir selama menjabat Perdana Menteri yakni,

    • Diplomasi Beras, mengirimkan bantuan bahan makanan kepada rakyat India yang sedang dilanda kelaparan.
    • Perundingan dengan Sekutu (Inggris) dan Belanda, Syahrir berhasil mengadakan perundingan dengan tentara sekutu dan kemudian dengan Belanda. Hal ini berhasil membuat perlahan eksistensi Indonesia sebagai negara berdaulat diakui.

    Sutan Syahrir kemudian berhenti sebagai perdana menteri setelah banyak kritikan keras pada isi persetujuan Linggardjati yang ditandatanganinya bersama perwakilan Belanda. Walaupun perundingan itu semakin menegaskan eksistensi negara Indonesia, tapi sebagian pihak kecewa sebab Belanda hanya mengakui kedaulatan Indonesia sebatas Sumatra, Jawa dan Madura.

    Agus Salim

    Ketika sedang memuncaknya perang Kemerdekaan Indonesia dari tahun 1945 hingga 1949, K.H Agus Salim sudah menginjak usia sepuh. Namun itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. K.H Agus Salim berperan penting dalam kancah perjuangan diplomatik. Berkat usahanya, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Indonesia, sebelum kemudian menyusul negara-negara Arab lainnya seperti Saudi Arabia, Lebanon, Yaman dan Iraq.

    Beberapa Tokoh Nasional Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
    K.H Agus Salim bersama Presiden Soekarno selama pengasingan di Bangka (MuseumTropen.nl)

    Adapun beberapa jabatan yang diduduki oleh K.H Agus Salim ialah,

    • Menjabat Menteri Muda Luar Negeri pada Kabinet Syahrir (1946-1947)
    • Menteri Luar Negeri, Kabinet Amir Syarifuddin (1948)
    • Menteri Luar Negeri, Kabinet Hatta (1949)

    Jenderal Oerip Soemohardjo

    Sebagian orang Indonesia pasti tahu Jenderal Sudirman, Abdul Haris Nasution, Ahmad Yani apalagi Jenderal Suharto, tapi tidak banyak yang tahu mengenai Jenderal Oerip Soemohardjo. Padahal dia merupakan beberapa tokoh nasional yang memiliki peranan penting dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Salah satu peran peting Oerip ialah dalam pendirian Tentara Nasional Indonesia sebagai angkatan perang republik dalam menghadapi agresi Belanda. Sebagai seorang bekas mayor KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), Jenderal Oerip memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memegang pucuk angkatan perang.

    Beberapa Tokoh Nasional Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
    Jenderal Oerip Soemohardjo (Domain Umum)

    Maka pada 14 Oktober Presiden Soekarno secara resmi menunjuk Oerip sebagai kepala staf dan panglima sementara Tentara Keamanan Rakyat (Nama awal TNI). Namun pada tanggal 12 November 1945, dalam pemilihan panglima angkatan perang Jenderal Oerip kalah dari Sudirman yang kelas menjadi Panglima Besar TNI selama perang kemerdekaan. Jenderal Oerip sendiri diangkat sebagai kepala staf dan menemani Jenderal Soedirman dalam membangun Tentara Nasional Indonesia hingga wafat pada tahun 1948.

    LATIHAN

    Coba isi kolom kosong di bawah ini!

    Beberapa Tokoh Nasional Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
  • Beberapa Teori Masuknya Agama Hindu Buddha ke Indonesia

    Beberapa Teori Masuknya Agama Hindu Buddha ke Indonesia

    Hallo guys…! materi kali ini kita akan membahas beberapa teori masuknya Agama Hindu-Buddha ke Indonesia. kalian pasti tahu atau bahkan pernah melihat Candi Prambanan, Borobudur hingga Istana Ratu Boko. Betapa megah dan luar biasa ya.. bagunan-bagunan itu membuat siapa saja yang melihatnya dibuat takjub. Kalian juga pasti tahu bangunan-bangunan itu adalah tempat suci bagi penganut agama Hindu-Buddha. Tentu saja salah satu bukti bahwa kedua agama ini pernah eksis Indonesia selama kurun wktu 15 abad kurang lebih dari abad ke 1 M hingga abad ke 15 M.

    Agama Hindu-Buddha sendiri guys berasal dari negeri India. Tapi ada tapinya nih…. guys, siapa pembawa dan penyebar agama ini di Indonesia masih belum jelas. Para sejarawan masih berdebat tentang siapa pembawa kedua agama ini. Ada kurang lebih empat teori masuknya Agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia. Keempat teori itu ialah Teori Brahmana, Teori Ksatria, Teori Waisya, Teori Sudra. Oke deh… kita akan jelasin buat kalian di bawah ini:

    Teori Brahmana

    Teori ini menyatakan bahwa kaum Brahmana yang menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Kaum Brahmana sendiri adalah kaum agamawan dalam agama Hindu. Tentu saja mereka sangat menguasai persoalan agama. Maka tak heran mereka lah satu-satunya kelompok yang mampu menjelaskan konsep agama Hindu-Buddha kepada bangsa Indonesia. J.C van Leur, seorang ilmuwan Belanda merupakan pencetus Teori ini.

    Teori Ksatria

    F.D.K. Bosch merupakan pencetusnya. Dia berpendapat bahwa banyak dari kaum Ksatria India baik yang melarikan diri akibat kalah perang atau sesuai kehendaknya sendiri datang menaklukan daerah di Indonesia, membangun kerajaan lalu menghindukan penduduknya. Kaum Ksatria sendiri ialah para raja, bangsawan, pangeran, dll.

    Tapi teori ini memiliki beberapa kelemahan sebagaimana disebutkan oleh Van Leur,

    • Tidak ada catatan tertulis mengenai penaklukan wilayah oleh kaum ksatria di Indonesia.
    • Tidak pernah ditemukan tugu kemenangan atau Jayastamba sebagai bukti penaklukan.

    Teori Waisya

    Para pedagang India berperan penting dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia. Para pedagang dalam agama Hindu termasuk kasta Waisya. Oleh karena nya teori ini dinamakan teori Waisya. Adapun beberapa hal yang menguatkan hal ini menurut N.J Krom ialah,

    • Para pedagang India merupakan golongan terbesar yang datang ke Indonesia.
    • Kebanyakan para pedagang ini selama berdagang mereka menetap dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Salah satu saluran interaksi yang memudahkan penyebaran agama Hindu-Buddha ialah perkawinan. Para pedagang ini menikahi penduduk setempat dan bersamaan itu mereka mengonversi secara perlahan penduduk itu ke dalam agama Hindu.

    Teori Sudra

    Golongan Sudra merupakan golongan terendah dalam kasta agama Hindu di India. Mereka kemudian berpindah ke Indonesia dengan tujuan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Begitulah bunyi dari Teori Sudra, tapi teori ini banyak mendapat penyangkalan.

    Yaps… begitulah guys penjelasan mengenai keempat masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia.

    LATIHAN!

    Coba isi kolom kosong di bawah ini!

    Author : Danil Kasputra

  • Historiografi

    Historiografi

    Danil Kasputra

    Historiografi? apaan tuh? namanya grafi-grafian gitu… apa mungkin dia masih temenan ama Geografi. aduh…! sumpah baru denger. Pasti kata-kata itulah yang pertama kali yang merasuki pikiran sebagian besar dari kalian. Oke deh…, jadi Historiografi itu ialah segala karya yang dipublikasikan pada masa lampau mengenai sebuah peristiwa. Contohnya kalian pasti tahu kan atau setidaknya pernah mendengar tentang kepahlawanan dan kehebatan Pangeran Diponegoro. Semua kisah kisah itu bisa kita ketahui dari Babad Diponegoro dimana Babad itu ditulis oleh pangeran diponegoro sendiri.

    Biar lebih paham dan biar nggak gagal paham juga, kita jelasin lebih rinci deh!. Jadi Historiografi ini terbagi tiga, tradisional, kolonial dan nasional.

    Tradisional

    Historiografi Tradisional pada intinya ialah suatu peristiwa sejarah ditulis oleh para bangsawan atau pujangga istana. Jadi orang-orang yang menulis sejarah ialah orang-orang yang hidup di sekitaran istana baik pangeran, pujangga keraton atau bahkan raja sendiri.

    Ciri-ciri Historiografi Tradisional

    • Istanasentris, para pelaku sejarah hanya kalangan yang hidup disekitaran Istana seperti Raja, Pangeran, Patih, dll.
    • Bercampur dengan Mitos, banyak peristiwa sejarah bercampur dengan mitos dan legenda misalnya Raja Singasari dikatakan sebagai keturunan dewa Siwa.

    Contoh-contohnya dapat bagi menjadi dua yakni masa Hindu-Buddha dan Islam. Masa Hindu Buddha seperti Negarakertagama, Pararaton dan berbagai naskah yang diawali oleh nama Kakawin, Kidung, dan Carita.

    Sementara masa Islam karya-karyanya biasanya memiliki nama awalan Babad, Sajarah, Hikayat seperti Babad Cirebon, Sajarah Banten dan Hikayat Hang Tuah.

    Kolonial

    Historiografi Kolonial sesuai namanya tentu saja mengartikan peranan yang sangat menonjol dari Bangsa Belanda dalam peristiwa sejarah. Dalam sudut pandang ini Bangsa Belanda adalah di pihak pemenang dan yang benar contohnya Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar merupakan pahlawan bagi bangsa Indonesia. Dalam hal ini mereka tak lebih dari pemberontak dan pengacau.

    Ciri-Ciri Historiografi Kolonial

    • Europasentris, Sejarah ditulis oleh orang Belanda sehingga segala peristiwa diambil dari sudut pandang orang Belanda.
    • Diskriminatif, orang Indonesia dianggap hanya figuran Belanda.

    Untuk mengindentifikasi karya-karyanya sangatlah mudah. Kebanyakan karya-karya ini ditulis dalam bahasa Portugis, Belanda dan Inggris seperti Summa Oriental karya Tome Pires, The History of Java karya Thomas Stamford Raffles dan Geschidenis van Indonesia karya H.J De Graaf

    Historiografi Nasional

    Historiografi Nasional lahir setelah Indonesia merdeka bertujuan untuk merintis penulisan sejarah yang menunjukan jatidiri bangsa serta memberikan legistimasi bagi keberadaan bangsa Indonesia yang selama terjajah. Seminar Nasional Sejarah Pertama di Yogyakarta pada tahun 1955 merupakan usaha pertama menuju kebangkitan penulisan sejarah nasional.

    Contohnya ialah Buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh beberapa sejarawan besar seperti Sartono Kartodirjo.

    TEKA TEKI MATERI

    Jawab pertanyaan di bawah ini dan cari jawabanya pada kotak huruf diatas. Setelah kalian menemukan jawabanya coba kalian garis bawahi dan tulis jawabannya di buku kalian!
    1. segala karya yang dipublikasikan pada masa lampau mengenai sebuah peristiwa adalah ….
    2. Istanasentris adalah salah satu ciri dari Historiografi …..
    3. Selalu menekankan peran orang Eropa dan Belanda salah satu ciri Historiografi …..
    4. Buku Sejarah Nasional Indonesia merupakan salah satu ciri dari Historiografi …
    5. Salah contoh Historiografi Tradisional ialah Babad ….
  • Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    Alun-alun di Priangan pada Awal Abad 20 dalam Jepretan Foto

    “Tidak jauh berbeda dengan saat ini, di masa kolonial alun-alun kabupaten maupun kota tetap menjadi tempat utama berkumpulnya warga masyarakat terutama dalam perayaan-perayaan besar keagamaan bahkan hingga menjadi arena pertandingan olahraga”

    Kompetisi balapan kuda di Alun-alun Sukabumi tahun 1933.
    Sumber : Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Cimahi Tahun 1910 nampak masih asri dengan rerimbunan pohon dan lapangan berumput hijau yang luas.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Alun-alun Garut masih sangat asri dan rimbun dengan pepohonan. Tampak terlihat di tengahnya Babancong, sebuah podium tempat dimana Bupati berpidato pada rakyatnya tahun 1900.
    Sumber: Leiden University Digital Collection.
    Adu domba
    Masyarakat pribumi dan beberapa tentara Belanda menyaksikan adu domba di Alun-alun Garut.
    Sumber: National Archief