Danil Kasputra
Pada mulanya, kedatangan bangsa Eropa di Indonesia cukup mendapat sambutan yang amat hangat. Karena tujuan mereka semula hanya untuk memperoleh rempah-rempah. Akan tetapi setelah diketahui bahwa mereka juga memiliki motif untuk melancarkan praktek imperialisme dan kolonialisme. Respon bangsa Indonesia kemudian berubah banyak dari kerajaan dan kesultanan di Indonesia saat itu melancarkan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme bangsa Eropa.
Kesultanan Aceh melawan Portugis
Pada tahun 1511, Portugis berhasil menaklukan kesultanan Malaka dan menguasai bandar dagang yang kaya itu. Akibatnya banyak dari para pedagang Muslim berpindah ke Kesultanan aceh. Aceh pun makmur dan menjadi bandar dagang dan kota pelabuhan paling sibuk di abad ke-16.

Portugis kemudian mengincar Aceh sebagai sasaran penaklukan berikutnya. Tapi armada dan angkatan perang Aceh sulit untuk ditaklukan malahan beberapa kali Aceh melancarkan pengepungan terhadap kedudukan Portugis di Malaka di bawah Sultan Aceh yang amat terkenal, Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Walaupun pengepungan itu mengalami kegagalan. Tapi berkat bantuan senjata dan hubungannya dengan Kesultanan Turki Utsmani, Aceh terus bisa bertahan menghalau kapal-kapal Portugis yang sering melakukan pembajakan.
Aceh pun terus bertahan hingga kemudian takluk kepada Belanda di tahun 1904.
Serangan Demak terhadap Portugis di Malaka
Kedudukan Portugis di Malaka amat membahayakan bagi lalu lintas perdagangan di Samudera Hindia. Maka pada tahun 1512 setahun setelah penaklukan Portugis di Malaka. Armada Demak dengan kekuatan 100 kapal dan 12.000 prajurit di bawah pimpinan Adipati Unus menyerbu dan mengepung kedudukan Portugis Malaka. Ini juga merupakan salah satu respon awal terhadap imperialisme dan kolonialisme. Akan tetapi kekuatan Portugis cukup kuat untuk menghalau serangan itu.

Namun kembali di tahun 1521, untuk membantu sultan Malaka merebut kembali tahtanya. Demak di bawah Adipati Unus melancarkan lagi serangan kedua kepada orang Portugis. Tapi lagi-lagi serangan ini gagal bahkan Adipati Unus sendiri tewas dalam serangan ini. Oleh karenanya di kemudian mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang bertempur di tanah seberang.
Kesultanan Ternate Mengusir Portugis
Portugis berhasil mencapai Maluku sekitar tahun 1512 dan mereka tahu bahwa disinilah rempah-rempah berasal. Sultan Ternate amat menyambut hangat kedatangan Portugis. Apalagi mereka sedang bermusuhan dengan Kesultanan Tidore. Di tahun 1521 saingan utama Portugis, Spanyol tiba di Maluku dan mereka disambut hangat penguasa Tidore.
Portugis marah melihat kenyataan ini mereka beralasan Spanyol telah melanggar perjanjian Tordesillas. Akibatnya Spanyol kemudian menyingkir dari Maluku dan Portugis tetap bercokol disana.
Baca juga:
- Kolonialisme dan Imperialisme: Pengertian dan Asal Mulanya
- Senjata Api di Kerajaan-kerajaan Indonesia
- Kehidupan Manusia Pra-Aksara Indonesia (1)
Portugis yang tiba di Maluku dengan ambisi menguasai rempah-rempah dan misi penyebaran agama. Lama-lama membuat gerah Sultan Hairun penguasa Ternate, dia menganggap Portugis telah keterlaluan dalam memonopoli rempah-rempah dan penyebaran misi agama Kristen. Portugis dan Sultan pun mengadakan perundingan. Tapi ternyata ini hanyalah taktik Portugis, setelah Sultan bertemu orang Portugis. Mereka malah membunuhnya.
Sultan Baabullah anak sultan Hairun pun berang, dia kemudian memimpin rakyat Maluku untuk menyerang Portugis pada tahun 1570. Benteng Portugis pun berhasil dikepung dan pada tahun 1575 orang Portugis menyerah dan menyingkir dari Maluku. Sultan Baabullah pun berhasil mengusir Portugis.
