Tag: Riwayat Seni Kaligrafi Indonesia

  • Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Riwayat Seni Kaligrafi di Indonesia

    Nur Cahya

    “Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Hal itu didasarkan penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah binti Maimun tertulis hiasan aksara kaligrafi arab bertarikh tahun 1082 M.”

    Riwayat perkembangan seni kaligrafi di indonesia memiliki akarnya dalam seni kaligrafi Arab. Sebab seni kaligrafi merupakan salah satu tradisi tulis menulis yang sangat kental dengan tulisan arab.  Walaupun jauh sebelum Islam datang bisa dikatakann bahwa bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang hampir tidak mengenal aksara. (D S. A., 1989). Tradisi tulis menulis terbilang cukup tertinggal dibanding dengan bangsa lain (Kharlie, 2003). Seperti contoh di Mesir yang sudah terkenal dengan tulisan Hieroglip, India dengan Devanagari, Assiria dengan Fonogram dan lain-lainnya (D S. A., 1989). Meski mereka sangat dikenal piwai dalam hal sastra. Namun dalam artikel kali ini, kami tidak akan membahas mengenai Seni Kaligrafi Bangsa Arab. Tapi Riwayat seni kaligrafi yang berkembang di Indonesia.

    Asal Mula dari Bangsa Arab

    Orang-orang Arab pra Islam mengandalkan tradisi verbalisme, dalam proses interaksi sehari-hari. Hal membuat mereka tidak terlalu memperdulikan potensi dan kemampuan tulis-menulis yang mereka miliki. Hal itu bisa terlihat pada daya ingat dan tingginya kualitas sastra mereka miliki. Kemudian kehadiran Islam dan perkembangannya mampu membawa perbahan besar dalam tradisi bangsa Arab ini.

    Wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad (al-Alaq 1-5). Surat ini ialah perintah Tuhan agar membaca, menelaah serta menganalisis. Turunya surat ini mampu menghentakan idealisme mereka. Sejak itu, perkembangan tradisi tulis –menulis bangsa Arab benar-benar sangat luar biasa, melompat, bahkan berlari meninggalkan yang lain (Kharlie, 2003).

    Dari Arab menuju Nusantara

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia sendiri diketahui sejak abad ke 11. Berita tertua mengabarkan telah terbentuk sebuah komunitas muslim, dengan bertempat di Gresik Jawa Timur. Hal itu didasarkan berdasarkan analisa atas hasil penemuan dari makam Fatimah binti Maimun. Nisan Fatimah tertulis aksara arab dengan tahun 1082 M.  Berdasarkan analisa para arekolog, nisan tersebut merupakan tanda dari permulaan tulisan kaligrafi di Nusantara.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Batu nisan makam Fatimah binti Maimun dengan hiasan kaligrafi Arab. Salah satu bukti tertua mengenai seni kaligrafi awal di Nusantara.
    Sumber : Leiden University Libraries Digital Collections

    Menurut Prof. Muarif Ambary terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan jenis khat sebagai simbolisasi dari tulisan nisan tersebut. Jika ini ditelusuri lebih lanjut mengenai intensi gaya penulisan nisan tersebut mengunakan gaya kufi. Maka di Sumatera, khususnya wilayah Aceh gaya yang paling sering digunakan adalah Nasakh dan Tsuluts. Memang pada kenyataanya khat kufi kurang digemari atau bahkan kurang dikenal Muslim Nusantara. Sebaliknya khat Naskh dan Tsuluts sangat digandrungi masyarakat lokal. Pada gilirannya memunculkan istilah “makam tipe Aceh” dan seterusnya  (Ambary, 1998).

    Dua Periodisasi Tradisi Kaligrafi Lokal

    Periodisasi Pertama

    Adapun mengenai riwayat dinamika seni kaligrafi lokal di Indonesia menurut Sirajudin dibagi dalam beberapa tahapan periodisasi (D S. A., 1994). Pertama, angkatan perintis, dalam periode islamisasi tentu bakal terjadi arabisasi, mengingat hampir seluruh rujukan tentang ajaran Islam berbahasa Arab. Apalagi para penyebar yang menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara, terutama pada masa permulaan perkembangan Islam, didominasi oleh ulama-ulama keturunan Arab atau non-arab yang lama belajar di Arab. Sehingga faktor inilah yang kemudian memaksa setiap muallaf  mesti bersentuhan dengan bahasa dan tulisan Arab. Dari titik ini cukup jelas kehadiran Islam menandai babak baru semarak penggunaan tulisan kaligrafi Arab.

    Karena pada praktiknya, tulisan Arab tidak hanya terbatas pada penggunaan teks yang berbahasa Arab atau mushaf al-Qur’an saja, melainkan juga digunakan untuk pergaulan sehari-hari terlebih untuk kebutuhan pengkajian Islam di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, surau, dan lain-lain. Ditambah seperti Pegon, huruf Jawi, atau huruf Melayu. Huruf ini digunakan sebagai medium pengajaran dan penulisan kitab-kitab, terutama di pesantren-pesantren.

    Riwayat seni kaligrafi di Indonesia
    Sebuah halaman dari buku Hikayat Abdullah karya Abdullah bin Abdulkadir Al-Munsyi ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Buku ini pertama kali terbit tahun 1849. Halaman demi halaman buku ini menyajikan pada anda tampilan indah seni kaligrafi.
    Sumber : National Library of Singapore

    Perkembangan berikutnya pada abad 17-20

    Pada tahap selanjutnya, kecenderungan tradisi menulis kaligrafi mengalami pergeseran dalam tataran pola. Dimulai dari abad ke 17, para seniman muslim keranjingan memasukkan huruf-huruf Arabdalam lukisan berbentuk hewan atau wujud manusia sebagaimana lazimanya para seniman Persia. Tipologi ini amat lekat dan mudah didapati pada lingkungan kraton seperti Cirebon, Yogjakarta, Surakarta dan Palembang.

    Sementara pada abad ke 18-20, tradisi penulisan kaligrafi tidak hanya tampak dan bersumber pada batu-batu nisan. Tapi Penulisannya telah bergeser dan mengambil ragam media seperti kertas, kayu, logam, kaca, dan lain-lain. Mushaf-mushaf al-Qur’an tua umumnya ditulis di atas kertas Deluang, yang oleh beberapa ahli jenis kertas ini dianggap mark Nusantara.

    Periode Kedua

    Pada periodisasi kedua, adalah angkatan orang-orang pesantren. Pengenalan huruf alphabet Arab yang dilakukan kyai kepada santri baru pada tahap memenuhi kebutuhan tulis-baca, belum sampai pada penekanan nilai-nilai estetisnya. Akan tetapi, keberanian dan kebanggaan menggunakan aksara Arab, terutama untuk gaya-gaya khat yang kubisme, telah tampak pada tulisan-tulisan yang tertera pada nisan-nisan kyai dan tokoh-tokoh agama. Hal ini menunjukan bahwa pada saat itu kaligrafi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, juga telah pula memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat dekoratif.

    Adapun mengenai penggunaan gaya khat yang cenderung estetis seperti naskh, tsuslus,dan faris, bisa digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan, baik berupa kitab-kitab fikih, tauhid, tasawuf, maupun mushaf al-Qur’an. Tradisi menulis mushaf ini sebenarnya telah dimulai oleh ulama-ulama di pesantren klasik sejak abad ke-16. Langkah ini didorong oleh kelangkaan mushaf karena teknologi penggandaanya belum ditemukan. Sementara pasokan dari timur tengah juga dirasakan masih sangat kurang. Dengan atas dasar itulah muncul gairah dari kalangan pesantren untuk menuliskan al-Qur’an secara manual dengan kualifikasi tulisan yang sangat sederhana.

    Pelopor angkatan pesantren baru menunjukan sosoknya yang lebih nyata dalam kitab-kitab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: Muhammad Was’i Abdul Razzaq, Yahya dan Rahmat Arifin, Abdul Razzaq Muhilli dan lain-lain.

    Ketika mengamati tradisi penulisan kaligrafi di interior masjid, akan ditemukan bukti bahwa media untuk mengekspresikan karya kaligrafi di pusat peribadatan tersebut tergolong masa moderen. Sebab, dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau bahka sama sekali tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad ke-16 yang asi dibuat pada zamannya. Kalaupun ada, biasanya menggunakan huruf Jawa seperti di masjid Mantingan Jepara dan Sendang Pacitan, Jawa Timur. Dengan hadirnya para kaligrafer di pesantren ini cukup mempersubur unsur hiasan masjid-masjid moderen yang baru dibangun. Adakalanya, penulisan kaligrafi itu sudah diprogram berbarengan dengan masa penyelesaian bangunan tersebut.

    Tiga Pola Pembinaan

    Pembinaan Pertama

    Secara umum, pengembangan kaligrafi di pesantren dapat dikategorikan dalam tiga pola pembinaan (Karlie, 2003). Pertama, mealui internalisasi materi kaligrafi dalam, kurikulum, intra-kurikuler. Modal ini mengakomodasi materi kaligrafi sebagai bagian integral dari proses belajar dan mengajar. Model ini dipraktekan di pesanren yang bernuansa moderen, seperti KMI Darusallam Gontor beserta seluruh afiliasinya. Meski tidak semua jenis khat dapat dikuasai, namun alumninya, paling tidak dapat menulis khat naskah dengan baik.

    Pembinaan Kedua

    Kedua, unternalisasi materi kaligrafi dalam format ekstra-kulikuler, untuk modal ini idealnya dibentuk wadah khusus yang menangani teknis pembinaan, seperti sanggar, asosiasi, dan lembaga independen lainnya. Ketiga, membangun model pesantren khusus kaligrafi. Dalam teknis pembinaan, pesantren seperti ini memberikan bahan ajar yang lebih filososfis, fokus dan mendalam sehingga santri benar-benar menguasai seluk-beluk kaligrafi, baik secara teoritis maupun praktis.

    Kemudian di tahun 1979, pada pameran lukisan Kalligrafi Nasional 1 berbarengan dengan MTQ XI di Semarang, telah menunjukan momentum awal yang menandakan babak baru seni kaligrafi Islam di Indonesia. Penampilan kaligrafi dalam bingkai seni-lukis tersebut seolah mengehntakan para seniman dan pemerhati kaligrafi. Pada giliranya, semangat memodifikasi kaligrafi murni dengan seni lukis tak lagi menjadi komoditas seniman out-sider, tetapi merasuki alam pikiran para kaligrafer yang sebelumnya tekun mempelajari rumus-rumus kaligrafi baku.

    Kemudian dengan masuknya kaligrafi dalam MTQ telah menjadi salah-satu modal dan basis potensi pengembangan seni kaligrafi Islam Indonesia. Bahkan yang mengejutkan, meski baru mengambil bentuk eksibisi atau sayembara, ternyata sangat diminati oleh kalangan muda seperti contoh pada cabang kaligrafi MTQ XII 1981 di Aceh. Pada saat itu muncul gagasan agar cabang cabang dalam MTQ ditambha Musabaqah Khattil Qur’an atau lebih dikenal dengan singkatan MKQ.

    Pada pelaksanaan Festival Istiqlal I (1990) dan II (1995), diselenggarakan pula sayembara kaligrafi yang diikuti oleh ribuan peserta. Melihat tingginya animo masyarakat terhadap kaligrafi, maka festival ini mencanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi di seluruh Nusantara. Kemudian setelah itu sanggar-sanggar pembinaan kaligrafi bermunculan yang secara teknis dikawal oleh Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) Jakarta.

    Lihat juga : https://tareekh.my.id/2020/09/11/resensi-film-muhammad-the-messenger-of-god/

    Lihat juga : https://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi_Islam