/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Perpustakaan di Dunia Islam

Tag: Perpustakaan di Dunia Islam

  • Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Jejak Perpustakaan di Dunia Islam

    Nur Cahya

    Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas, – M. Hatta  –

    Perpustakaan sering dianggap guru dari para guru, karena disitu terdapat ragam hasil pemikiran atau banyak karya di berbagai disiplin ilmu yang telah terdokumentasikan. Salah satunya adalah hasil pemikiran atau karya dari dunia islam. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford Dunia Islam Modern, perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam pernah mengalami masa kejayaannya. Perpustakaan Islam ini muncul di wilayah Baghdad, Kairo dan Cordova dimana buku-buku banyak tersebar.

    Perpustakaan umum dalam dunia Islam dikenal dengan berbagai nama seperti Bayt al-Hikmah, Khizanat al-Hikmah, Dar al-Hikmah, Dar Ilmi, Dar al-Kutub, Khizanat al-Kutub dan Bayt al-Kutub. Ada perpustakaan madrasah, perpustakaan umum, perpustakaan swasta, perpustakaan istana atau kerajaan, dan perpustakaan yang terhubung dengan rumah sakit.

    Perpustakaan di Damaskus

    Jejak perpustakaan di Dunia Islam pertama didirikan oleh khalifah Umayyah yakni Mu’awiyah bin Abi Sufyan  (602-680) di Damaskus. Buku-buku pada masa ini sebagian besar berputar di sekitar mesjid. Pada waktu itu tujuan utamanya adalah menyalin buku-buku dari bahasa Yunani, Pahlavi, Siria, dan Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Selain itu, di mesjid juga dipergunakan tempat pengadilan serta ceramah, debat, dan diskusi tentang berbagai masalah agama, ilmiah, dan filosofis. Secara tradisi tradisional, Muslim mewariskan koleksi buku mereka ke mesjid.

    Baru sejak abad ke-9, kebanyakan perpustakaan menyimpan buku-buku  ilmu eksaktra. Beberapa dari perpustakaan ini adalah milik pribadi, sementara yang lainnya didirikan oleh Khalifah, Amir (Gubernur), Sultan, dan Wazir (mentri). Misalnnya pada masa Abbasiyyah di Mosul terdapat perpustakaan besar bernama Khizanat al-Kutub. Demikian pula seorang pedagang kaya raya yang bernama Ali bin Muhammad al-Bazzaz (942) dikatakan memiliki Bayt al-‘ilmi (perpustakaan/rumah ilmu). Baru ketika abad ke-10 perpustakaan telah mengalami perkembangan. Ketika banyak sekolah telah didirikan di Baghdad, Fez, Cordova, Persia, Kairo, Basrah, Isfahan, Nishapur, Mughal dan lainnya..

    Bayt al-Hikmah di Baghdad

    Bayt al-Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (memerintah 786-809). Perpustakaan ini bisa dikatakan sebagai salah satu perpustakaan terbesar di dunia Islam. Perpustakaan ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun (memerintah 813-833) yang dikreditkan dengan lembaga formal. Al-Ma’mun juga berjasa membawa banyak ulama terkenal untuk berbagi informasi, ide, dan budaya di Bayt al-Hikmah. Selain para cendikiawan Muslim, cendikiawan Hindu, Yahudi dan Kristen diizinkan untuk belajar disini. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para cendikiawan di Bayt al-Hikmah telah memberikan banyak konstribusi orisinal yang cukup luar biasa dalam berbagai bidang.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Ilustrasi abad ke-13 melukiskan kegiatan belajar mengajar antara guru dan muridnya dalam sebuah perpustakaan publik di Baghdad.
    Sumber: Bibliotheque Nationale de France
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Al-Khawarizmi salah satu ahli Matematika paling berpengaruh di Baitul Hikmah, Baghdad dalam perangko terbitan Uni Soviet.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Bayt al-Hikmah terdiri dari perpustakaan, biro penerjemahan, observasium, ruang baca, tempat tinggal ilmuwan dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang bekerja disana yaitu Elan al-Sha’oobi, dibawah pengawasannya, naskah-naskah kuno disalin. Abu Sahl dan Abu al-Fazal bin Naubakht diutus dengan tugas memperluas perpustakaan. Seorang wazir (pada masa Harun al-Rasyid)Yahya bin Khalid Barmaki mengundang para ilmuwan Hindu dan menerjemahkan buku-buku Sansakerta ke dalam bahasa Arab. Karena Yahya Khalid Barnaki adalah orang persia, maka dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.

    Pusat Pengumpulan Manuskrip Kuno

    Demi mendapatkan banyak buku, Khalifah Harun al-Rasyid mengirim utusan ke berbagai negara untuk mendapatkan manuskrip langka. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dalam beragam bahasa meliputi bahasa Sansakerta, Zend-Avista, Persia, Syiria, Koptik. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid  menerima buku dari petualangannya di Roma dan Amudiyya, dia megintruksikan Yohanna ma-Sawiyya untuk menerjemahkan karya Yunani ini ke dalam bahasa Arab.

    Kemudian al-Ma’mun membeli manuskrip-manuskrip langka untuk perpustakaan seperti puisi dari masa pra islam serta dokumen pemerintah, surat dan perjanjian negara misalnya perjanjian pembayaran pinjaman yang ditandatangani oleh Abdul Muthalib bin Hasyim (578). Khalifah al-Ma’mun dikatakan pernah meminta penguasa Sisilia untuk mengirim semua buku yang dikurung di sebuah rumah terlantar di pulau tersebut. Setelah Khalifah al-Ma’mun menerima buku-buku tersebut, kemudian dia memberikannya kepada direktur perpustakaan saat itu yakni Sahal bin Harun. Selain itu, ketika Khalifah al-Ma’mun menang perang melawan Bizantium, dia menetapkan bahwa naskah Yunani tertentu akan dikirim ke Baghdad. Untuk tujuan tersebut, seorang ahli matematika dan penerjemah al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (833) dipilih untuk membawa naskah-naskah tersebut ke Baghdad. Untuk lebih jelasnya lihat Ibnu Nadiim (990) dalam kitab Fihrist-nya dan Haji Khalifa (1657) dalam kitabnya Kasyfu al-Dzunun..

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad mengenai alat cuci tangan berbentuk perempuan memegang kendi.
    Sumber : Asia.si.edu
    Perpustakaan di Dunia Islam
    Manuskrip Kitab fi ma`arifat al-hiyal al-handisaya di Baghdad.
    Sumber : Asia.si.edu

    Perpustakaan Keluarga Barmaki

    Selain Bayt al-Hikmah, di Baghdad terdapat juga perpustakaan-perpustakaan pribadi seperti perpustakaan yang didirikan oleh wazir Harun al-Rasyid yang bernama Yahya bin Khalid Barmaki (806),  perpustakaan pribadi Yaqub bin Ishaq al-Kindi (866), perpustakaan pribadi  Fatah bin Khaqan (861) sahabat dari khalifah Mutawakkil (822-861), perpustakaan pribadi Ishaq Mosuli (850) seorang master hadis serta tata bahasa dan perpustakaan pribadi lainnya

    Al-Qarawiyyan di Fez

    Al-Qawariyyan juga merupakan sebuah perpustakaan penting di dunia Islam. Perpustakaan ini didirikan pada 859 di Fez, Maroko oleh Fatimah al-Fihriyah, putri dari seorang imigran kara dari Tunisia modern.  Fatimah al-Fihriyah seorang wanita Muslim yang berpendidikan tinggi dan taat, dia memutuskan untuk mendedikasikan warisannya yang kaya untuk kemajuan pendidikan agama dan sains. Dia mendirikan pusat pendidikan dan perpustakaan. Dia banyak menyimpan manuskrip kuno dalam bidang teologi, hukum, astronomi, dan tata bahasa yang berasal dari abad ke-7. (lihat dalam Hugh Kennedy when Baghdad Ruled the Muslim World).

    Di perpustakaan ini, yang paling menonjol yaitu terdapat kitab Muqaddimah karangan Ibnu Kholdun. Sebuah al-Qur’an abad ke-9 yang ditulis dalam kaligrafi kufi, dan karya dari ahli hukum dan filsuf Spanyol yaitu Ibn Rusyd.  Selain itu, dikatakan bahwa seorang penyair dan filsuf Ibn al-Arabi (1165-1240) pernah belajar disana pada abad ke-12. Begitu juga sejarawan dan ekonom muslim Ibn Khaldun pernah hadir pada abad ke-14. Sedangkan pada abad pertengahan, al-Qarawiyyan memainkan peran utama dalam transfer ilmu pengetahuan antar dunia muslim.

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Univeritas Qawariyyan di Fez Maroko. Salah satu dari Universitas tertua di dunia.
    Sumber: Commons.wikimedia.org

    Perpustakaan Cordova di Andalusia

    Setelah berdirinya kekuasaan Islam di Andalus, Cordova menjadi permata kekhalifahan. Disana terdapat 380 mesjid, 800 madrasah dan banyak perpustakaan pribadi dan 70 perpustakaan umum. Pada masa Umayyah Spanyol, Cordova  menjadi pusat pembelajaran dan kehidupan intelektual. Orang-orang Cordova juga mengumpulkan buku untuk rumah mereka. Mereka yang memiliki perpustakaan pribadi dianggap sebagai tokoh penting dalam masyarakat Cordovan. Maka tak heran bisa dikatakan bahwa Cordova adalah rumah besar bagi perpustakaan di dunia Islam. Menurut sejarawan al-Maqqari berkata bahwa orang Andalus sangat ahli dalam memiliki perpustakaan. Ada begitu banyak orang kaya yang buta huruf,  akan tetapi bangga memiliki perpustakaan di rumah mereka. 

    Buku disimpan di lemari kayu cendana dengan daftar yang menunjukan buku disetiap  kabinet. Kulit digunakan untuk penjilidan buku, beberapa buku memiliki tulisan perak atau emas. Adapun Mesjid Cordova merupakan salah satu bangunan yang paling terkenal dan merupakan universitas terbesar di eropa. Disana terdapat Dar al-Kitabah, yang didalamnya ada sekumpulan juru tulis yang terlibat dalam penyalinan buku dan jumlah penjilid buku yang sama.

    Salah satunya adalah Lubna. Dia adalah direktur perpustakaan Cordova dan dia juga bertanggung jawab untuk memproduksi, menulis dan menerjemahkan volume baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III (961) dan putranya al-Hakam (976).

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Pengajaran filsafat Aristoteles di Cordoba
    Sumber : Domain umum

    Perpustakaan Pribadi Al-Hakam

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Patung Al-Hakam II di Cordoba.
    Domain umum

    Al-Hakam memiliki perpustakaan, dengan memiliki 400.000 volume, katalognya ada di 44 register dengan masing-masing 20 lembar yang dikelola oleh Kasim Bakiya. Kemudian  menurut kronik Arab, pada masa al-Hakam II di beberapa daerah di Cordova terdapat lebih dari 170 wanita yang menyalin buku dan mereka juga memberikan gagasan tentang budaya.

    Perpustakaan khalifah al-Hakam II adalah perpustakaan paling terkenal. Dikatakan menurut Richard Erdose “Andalusia diatas segalanya, terkenal sebagai tanah para sarjana, perpustakaan, pecinta dan kolektor buku. Di Cordova buku-buku lebih dicari daripada selir atau permata cantik. Kejayaan kota adalah perpustakaan besar yang didirikan oleh al-Hakam II. Dengan berisi empat ratus ribu jilid, pada halaman pembuka setiap buku tertulis nama, tanggal, tempat lahir dan nenek moyang pengarangnya, beserta judul karyanya, empat puluh delapan jilid katalog terus-menerus diubah, didadftarkan dan dideskripsikan semua judul dan berisi petunjuk tentang di mana karya tertentu dapat ditemukan”.

    Selain itu, perpustakaan islam di Andalus mampu membawa kebangkitan pemikiran dan sains di Eropa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Bokenkotter dalam A Concise History of the Catholic Chruch bahwa selama periode kira-kira seratus tahun  (1150-1250) semua tulisan Aristoteles diterjemahkan dan diperkenalkan ke Barat, disertai dengan sejumlah besar koomentar Arab. Komentar-komentar filsuf Arab seperti Ibnu Sina dan Averoes yang menekankan karakter pemikiran filsuf yang tidak religius dan tidak spritual. Hal ini memicu krisis para pemimpin intelektual barat. Hal itu merupakan awal periode aktivitas intelektual yang tak tertandingi yang mencapai klimaksnya pada abad ke-13 terutama di Paris dan Oxford.

    Shiraz di Persia

    Bangsa Persia juga turut berperan besar dalam berlimpahnya perpustakaan di Dunia Islam. Adud al-Daula meruapakan salah satu tokoh yang berperan penting. Adud al-Daula (949-982) adalah seorang amir dari dinasti Buyid. Di Shiraz, Adud al-Daula mendirikan perpustakaan yang megah dengan buku-buku yang ditulis dari masa permulaan islam hingga masanya, perpustakaan ini terletak dalam istana kerajaan. Terdapat banyak sekali rak buku tinggi, kayunya dicat dengan warna emas dan juga terdapat ruang terpisah untuk setiap cabang ilmu. Perpustakaan ini diurus oleh bendahara dan direktur, hanya para sarjana terkemuka yang memiliki akses masuk ke perpustakaan tersebut. Direkturnya adalah Ibn Miskawaih (932-1030) yang merupakan filsuf dan sejarawan dari Rey Iran. Dia bekerja sebagai sekertaris dan pustakawan sejumlah wazir termasuk Adud al-Daula.

    Bahkan ada salah satu sekertaris dari Adud al-Daula yaitu  Abu Qasim Ismail yang memiliki perpustakaan yang luar biasa di Shiraz. Dia tidak hanya tertarik mengooleksi buku, tapi dia juga ditemani oleh penulis, penyair dan debat. Menurut Stuart Murray dalam The Libraries mengatakan bahwa “perpustakaan Islam dulu kaya akan keragaman, memungkinkan para sarjana dari negeri lain untuk berbagi fasilitas. Perpustakaan-perpustakaan ini terkenal akan daya tarik dan kenyamanannya, banyak yang dihiasi dengan kubah islam klasik, beberapa dikelilingi oleh jalan setapak dan taman dengan kolam. Dianatar perpustakaan paling legendaris adalah perpustakaan kota Shiraz di Persia, dimana terdapat lebih dari 300 kamar yang dilengkapi dengan karpet mewah. Perpustakaannya memiliki katalog yang lengkap untuk membantu menemukan teks yang disimpan di ruang penyimpanan dan diatur sesuai dengan setiap cabang pembelajaran”.   

    Perpustakaan di Kairo

                Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz Billah (955-996) selain khalifah dia juga merupakan seorang ulama, penulis puisi, menyalin buku dan juga mendirikan buku di istanyana (Fathimiyyah) di Kairo Khaa’in al-Qashaar yang terdiri dari 40 ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu hadis, fiqih, tata bahasa, sastra, sejarah, astronomi dan kimia. Disana juga terdapat 30 eksamplar “Kitab al-Ain” Khalil bin Ahmad Nahvi, 1200 examplar Tarikh al-Thabari dan masih banyak yang lainnya. Kemudian setelah kematian Khalifah Abu Mansur Nizar al-Aziz,  koleksi-koleksi tersebut dipindahkan ke perpustakaan penerusnya al-Hakim bin Amr Allah (996-1021).

    Al-Hakim bin Amr Allah mendirikan perpustakaan di Kairo dengan nama Darul Hikmah (rumah ilmu pengetahuan), tujuannya adalah untuk menyebarkan keimanan Syi’ah. Para ilmuwan, ahli logika, ahli hukum, astronomi  dan dokter terkenal mengambil bagian dalam pengukuhannya dan bekerja disini. Suatu ketika Hakim bin Amr Allah mengunadang para ulama ini untuk berdebat, setelah itu setiap orang diberi uang dalam jumlah besar.

    Selain itu, ada juga perpustakaan Jami’ah al-Azhar yang didirikan pada masa Khalifah Muizz al-Din Allah (953-975). Perpustakaan ini menampung lebih dari dua ratus ribu jilid. Menurut hitungan tertentu, koleksinya mencakup 9.062 buku dan 595.668 manuskrip yang setidaknya berasal dari abad ke-8, untuk lebih jelasnya lihat libararything.com.

    Ada juga perpustakaan Mahmudiyya, perpustakaan ini merupakan bagian dari madrasah Mahmudiyya yang didirikan oleh seoorang negarawan Mesir Jamal al-Din Mahmud, penasihat dari Sultan Malik al-Zahif Sayf al-Din Barquq (1382-1399). Di perpustakaan ini terdapat beberapa ulama terkemuka yang menjadi direktur perpustakaan ini, salah satunya adalah Syeikh al-Islam Hafidz ibn Hajar al-Atsqalani yang menyiapkan dua katalog perpustakaan ini. Satu katalog disusun menurut abjad dan yang lainnya menurut materi pelajaran.

    Bukhara dan Samarkand

    Perpustakaan di Dunia Islam
    Masjid Agung Samarkand pusat pembelajaran dan kegiatan intelektual Abad Pertengahan.
    Sumber : Museum.ru

    Bukhara dan Samarkand adalah dua pusat budaya Samanid (819-999). Kota ini telah lama menjadi pusat perdagangan, beasiswa, budaya dan agama. Di kota ini lahir Muhammad al-Bukhari (870), penulis dari kumpulan hadis Shahih al-Bukhari. Selain itu kota ini merupakan rumah bagi seorang tabib Syeikh Abu Ali Ibnu Sina (980-1037). Penguasa Samanid, Sultan Bukhara Amir Nuh bin Mansur (berkuasa 976-997) telah mendirikan perpustakaan yang luar biasa disini, dan Syeikh Abu Ali Ibnu Sina banyak memperoleh ilmu di perpustakaan ini.

    Hal tersebut dipertegas oleh perkataan Ibnu Khallikan dalam…. “Abu Ali Ibnu Sina sering mengunjungi perpustakaannya, yang kekayaannya tak tertandingi, karena tidak hanya berisi semua karya terkenal yang ditemukan di tangan publuk, tetapi yang lain tidak dapat ditemui di tempat lain dan yang tidak hanya judulnya tetapi juga isinya tidak diketahui. Disini Abu Ali menemukan risalah tentang ilmu-ilmu kuno, dan subjek-subjek lain, yang intinya dia luar biasa dengan sebagian besar ilmu-ilmu yang ia ketahui. kebetulan beberapa waktu kemudian perpustakaan ini habis terbakar,  dan Abu Ali tetap menjadi satu satunya penyimpan ilmu yang dikandungnya. Beberapa oorang bahkan mengatakan bahwa dialah yang membakar perpustakaan’.

    Perpustakaan-Perpustakaan Di Dunia Islam Lainnya

    Kemaharajaan Mughal

                Masih banyak lagi perpustakaan-perpustakaan yang lahir dan berkembang di wilayah-wilayah dunia muslim lain seperti perpustakaan di Mughal India. Muhammad Taher dalam Stuart Murray The Library mengatakan ‘perpustakaan kekaisaran sangat ditingkatkan oleh Mughal Muhyaddin Aurangzeb Alamgir yang terakhir. Terlepas dari bahasa lain, dia tahu bahasa Hindustan dengan sangat baik. Aurangzeb mendukung penyair Hindi, oleh karena itu perpustakaan kekaisaran pasti memiliki variasi yang jauh lebih besar daripada Akbar dalam bahasa utama di timur dan barat. Perpustakaan menambah koleksinya dan menjadi basis kegiatan sastra kaisar.

    Fataw’ay Alamgiri, intisari hukum Muslim terbesar di India, disusun oleh dewan ahli hukum terkemuka dibawah pengawasan pribadinya. Kompilasi ini membutuhkan akumulasi dari berbagai buku yang berhubungan dengan hukum dalam bahasa-bahasa utama Islam. Dalam perjalanan Deccan, tentang Mughal dapat menemukan perpustakaan Mahmud Gawan. Ini dipindahkan ke Delhi dan ditambahkan ke koleksi kekaisaran atas perintah Aurangzeb. Selera bacanya merupakan replika dari nenek moyangnya sendiri, dan kabarnya jam bacanya dimulai pukul 2 siang setiap hari. Para Nazim dari perpustakaan kakaisaran ini yang telah disebutkan dalam sejarah yaitu Muhammad Saleh bin Isa Khan, Syed Ali Tabrizi, dan para muhtamim yaitu Muhammad Mansur, Syed Ali al Hussaini dan Kabir Khan”.

    Kekaisaran Ottoman

    Kemudian perpustakaan di kekaisaran Ottoman/Utsmani Turkey, kekaisaran Utsmani menguasai wilayah Baghdad, kairo, Damaskus, Mekah, Madinah dan Yerusalem. Mesjid, perguruan tinggi dan perpustakaan baru mulai didirikan pada abad ke-17. Pada masa kekaisaran Utsmani, koleksi buku tumbuh dengan pesat, terutama karena wakaf-wakaf untuk kepentingan umum. Pada 1678 sebuah perpustakaan didirikan di Istanbul di gedung khsus, dan itu menyimpan koleksi Manuskrip Arab terbesar sebagaimana dikatakan oleh Can Karametil dalam The Turkish Journal of Collectable Art bahwa “Ada sekitar 14.000 manuskrip di perpustakaan. Ada hampir 18.000 miniatur, yang sebagian besar berada di Perpustakaan Perbendaharaan yang memamerkan karakteristik dari berbagai aliran dan gaya terbesar dari seni representasi Islam. Album dan buku terbaik dari Arab, Saljuk, Mongol, Timurid, Uzbek, Karakoyunlu dan Akkoyunlu Turkmen, Safawia, Mamluk dan para kaligrafi istana Ottoman merupakan bagian paling berharga dari perpustakaan Istana”.             

    Perpustakaan El Escorial di Spanyol

    Menurut Murray dalam The libraries mengatakan bahwa perpustakaan ini didirikan oleh Philip II pada tahun 1563, koleksi manuskrip tulisan Islam terbesar ada di Istana El Escorial di Kota Madrid. Terdapat sebuah ruangan di lantai atas yang berisi buku-buku yang dilarang dan telah membakar 70.000 volume. Kemudian sisa-sisa ini mencakup lebih dari 1.800 gelar Arab yang diperoleh dengan pengusiran Muslim dari Spanyol”, dan masih banyak lagi perpustakan-perpustakan lainnya yang tidak disebutkan dalam artikel ini.

    Terima Kasih dan Allahu’alam bishawwab.

    Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/26/dari-moskow-ke-madiun-stalin-pki-dan-hubungan-diplomatik-uni-soviet-indonesia-1947-1953/

    Lihat juga : https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A8%D9%8A%D8%AA_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9