Danil Kasputra
“Kerajaan-kerajaan Indonesia kuno juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.”
Seringkali saya mendengar dalam satu bincang-bincang katanya kerajaan-kerajaan Indonesia zaman dulu itu berperang hanya modal golok dan bambu runcing saja. Sementara Belanda datang ke tanah air kita dengan teknologi canggih senjata api. Jadinya, niat kita mau serang Belanda malah kita yang sudah kena dor duluan. Jadilah kita selalu saja kalah dan kalah. Jangan heran deh! akhinya Belanda menjajah tanah air kita tercinta ini hingga 350 tahun. Saya sebagai penyimak seringkali merenung sekaligus mengingat-ingat berbagai referensi buku yang pernah saya baca. Dalam benak saya, terbersit, Ini beneran nggak sih!!!. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya menyimpulkan bahwa opini ini tak sepenuhnya benar. Loh Kok bisa gitu? oke deh klo gitu ada baiknya saya ajak anda menengok kebelakang.
Anggapan bambu runcing, golok, parang, dan berbagai senjata tradisional khas nusantara lainnya sebagai senjata utama peperangan kerajaan-kerajaan Indonesia tempo dulu tidaklah salah. Tapi perlu diketahui sebagaimana Belanda kerajaan-kerajaan itu juga telah mengenal teknologi senjata api. Bahkan perkenalan mereka dengan teknologi itu nampaknya jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra (2016:518) mengatakan bahwa meriam sudah dikenal di sana (Hindia) jauh sebelum penemuan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan. Penemuan jalur menuju Tanjung Harapan sendiri baru terjadi pada akhir abad ke 15. Setidaknya, kita bisa menduga bahwa sebelum abad ke 15 kerajaan-kerajaan Indonesia telah mengenal senjata api. Jadi supaya lebih jelas berikut ini saya uraikan beberapa kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lalu dengan senjata api yang mereka miliki.
Artileri dan Pasukan Musketir Majapahit
Majapahit yang dikenang sebagai kerajaan terbesar dalam memori orang Indonesia diketahui telah mengenal teknologi senjata api. Thomas Stanford Raffles dalam bukunya The History of Java Volume II (1817:99) menulis bahwa di tahun 1247 Saka (sekitar 1325 M) negeri-negeri bawahan Majapahit mengirimkan sebuah meriam bernama Ng’ai stomi (Nyai Satomi) dan beberapa meriam berkaliber kecil.

Sumber: Metmuseum.org
Buku A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century (1866:198) dari Duarte da Barbossa yang singgah di Jawa tahun 1510 M menguatkan kata-kata Raffles. Orang-orang Jawa kata Barbosa memiliki beragam jenis meriam, musket atau senapan panjang, serta banyak senjata api lainnya. Senjata-senjata ini memiliki manfaat yang besar dan amat berguna sebagai artileri. Barbossa juga tampak terkagum -kagum sekaligus keheranan bagaimana baja-baja terbaik ditempa dengan amat cantik lalu ditahtakan emas dan gading.
Kesaksian Barbosa tentang adanya musket atau senapan panjang kembali diperkuat oleh kesaksian dari seorang pelawat barat lainnya dari Portugis. Nama pelawat itu adalah Tome Pires. Dalam kesaksiannya yang dituangkan dalam buku The Suma Oriental of the Tome Pires and The book of Francisco Rodrigues (1944:176) Pires mencatat bahwa Raja Jawa Gusti Pate (Gusti Patih) memiliki sekitar empat ribu pasukan musketir. Pasukan ini dia gunakan dalam peperangan dengan raja-raja pesisir yang telah terislamkan utamanya raja Demak.
Meriam-meriam Kesultanan Demak
Pada abad ke 16, saat Majapahit telah terbenam. Mantan bawahan sekaligus saingannya Demak telah muncul dalam panggung politik Jawa sebagai penerus Majapahit namun dalam balutan agama baru, agama Islam. Tentu saja sebagai penerus Majapahit, Demak juga telah banyak berkenalan dengan berbagai jenis senjata api.
Apalagi dalam rangka perluasan kerajaannya, senjata api merupakan senjata yang penting bagi kesultanan Demak. Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:377) mengatakan dari sumber Portugis dan lokal bahwa meriam banyak digunakan tahun 1511 dalam pertempuran merebut Melaka yang berujung kekalahan menyakitkan bagi Demak.

Sumber: Leiden University Libraries Collection
Mengenai darimana meriam-meriam itu berasal dan siapa pembuatnya, The Adventures of Mindes Pinto (1663:378), mengabarkan pada kita betapa pentingnya peran Orang Aceh dan Turki dalam pembuatan meriam-meriam Demak. Kemudian ada juga seorang pembelot Portugis bernama Coai Geinal (Khoja Zainal) berperan amat penting sebagai pimpinan pabrik pembuatan senjata api.
K.C.Crucq dikutip dari Claude Guillot dalam karyanya Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008:380) telah melakukan serangkain penelitian serius. Hasilnya kemungkinan Meriam Ki Amuk yang tersimpan di Banten hari ini merupakan satu dari sedikit meriam produksi Demak yang tersisa. Crucq mendasarakan pada catatan Valentijn bahwa Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanudin Banten sewaktu pernikahnnya dengan putrinya. Maka Meriam Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tanggal adalah 1450 Saka, yakn 1528/9 yang kiranya sesuai dengan pernikahan Hasanudin.
Artileri-Artileri Kesultanan Aceh
Dari segi persenjataan, Kerajaan-kerajaan Indonesia dari Sumatera juga tak kalah gaul dalam perkenalan dengan teknologi senjata api. Bahkan berkat perkenalan itu Aceh tampil sebagai satu kerajaan besar di abad ke 17. Kekuatannya sanggup setidaknya membuat negara-negara Eropa macam Portugis agak keteteran. Aceh yang di abad itu telah terislamisasi banyak mendapat bantuan persenjataan dari Turki (Kesultanan Ottoman) sebagai poros utama dunia Islam.
J.R Verbeek dalam De Geschiedenis van Atjeh Sultanaat in Vogelvlucht mengatakan berkat kerjasama militer dengan Turki meliputi bantuan senjata api. Tak perlu heran, Aceh di masa Sultan Alaudin mampu merontokkan semua kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu saingannya. Orang Portugis di Malaka pun ketar-ketir dibuatnya. Tiga kali serangan orang Aceh selama rentang waktu 1537 hingga 1547 sempat membuat Portugis kerepotan.
Kabar yang beredar konon di masa jayanya pada zaman Sultan Iskandar Muda yang termashur, Aceh punya 5000 pucuk meriam. Jumlah itu cukup setidaknya menggambarkan betapa perkasanya kesultanan itu di zamannya. Tapi jumlah itu ternyata tidaklah benar juga. Seorang pengelana Perancis Beaulieu mengabarkan pada kita dikutip dari buku Kerajaan Aceh (2014:132) karya seorang Indonesianis bernama Denys Lombard jumlah itu telah dilebih-lebihkan. Pada kenyataannya 5000 itu meliputi 1200 meriam berkaliber sedang, 800 meriam besar serta sisanya hanya istinggar. Itu pun kata Beaulieu dengan nada agak sinis pendek dan kurang baik pemasangannya.

Sumber: Tropen Museum.
Tentang Meriam dan Istinggar
Orang Aceh sendiri pun sebetulnya sudah terampil menuang meriam sendiri. Tapi sultan pun akan senang apabila ada para pengelana asing yang menghadiahinya meriam. Beberapa hadiah bahkan jadi benda kesayangan Sultan (2014:133). Ada juga satu kebiasaan unik sultan. Senjata dan mesiu akan disembunyikan pada suatu tempat rahasia hingga suatu peperangan tiba. Rupanya Sultan takut sewaktu-waktu senjata api dan mesiu ini digunakan untuk pemberontakan melawan dirinya.
Istinggar sendiri bukanlah meriam tapi senjata api sejenis bedil. Senjata ini banyak tersebar di se-antero negeri Melayu. Wan Mohd Dasuki dan Siti Radziah dalam Manuskrip Ilmu Bedil sebagai Sumber Etnosejarah Teknologi Senjata Api Melayu (2014:64) sumbu pencucuh istinggar yang berbara tersebut dikepit pada hujung pemegang sumbu. ketika picu ditarik, pemegang sumbu akan menolak sumbu berbara ke lubang penggalak yang berisi ubat bedil. dengan itu ubat bedil akan terbakar dan menghasilkan daya yang membolehkan peluru timah hitam dilepaskan dengan halaju tinggi melalui muncung istinggar.
Matchlock dan Snapang Minangkabau
Tidak jauh dari Aceh, di pantai barat Sumatra, Sumatra Barat adalah rumah bagi orang-orang Minangkabau. Sebagaimana di Aceh, disini orang Minangkabau juga telah berkenalan dengan teknologi senjata api. Matchlock dan Snapang adalah dua senjata api yang umum digunakan disini. Matchlock sebagaimana dicatat William Marsden (2016:517) larasnya dipadatkan dengan baik dan dilubangi dengan tepat, terbukti dengan bagusnya bidikan mereka. Mereka selalu membidik dengan merendahkan larasnya, alih alih menaikkan ujung ke arah sasaran.

Sumber: Domain Publik
lalu ada snapang yang berasal dari istilah Belanda. Istinggar yang telah kita jelaskan sebelumnya terkategorikan sebagai snapang. Tapi dalam teks-teks historiografi Melayu snapang ini lebih dikenal dengan nama terakul. Snapang ini dilengkapi mekanisme bidasan spring-batu api, dengan memanfaatkan percikan api akibat geseran batu api tersebut ke arah pengadang besi yang tersedia untuk menyalakan ubat bedil (Wan Mohd Dasuki, 2014:64). Berlainan dengan senjata api milik Kesultanan Aceh, Senjata ini diadaptasi dari teknologi senjata api bangsa Eropa.
Serupa orang Aceh, orang Minangkabau juga terampil menuang meriam. Meriam ditempa dengan menggulingkan batangan besi yang rata yang memiliki dimensi proporsional. Pengerjaannya dilakukan secara spiral, mengelilingi batang bulat dan memukul-mukulnya sampai bagian-bagian besi tersebut telah menyatu. Senjata-senjata ini terus digunakan hingga abad ke 19 ketika perang Padri meletus di Sumatra Barat. Berkat itu, Belanda sempat kewalahan terutama di masa awal peperangan.
Nah, jadi tidak sepenuhnya benar kan! Nenek moyang kita dulu perang hanya pakai golok dan bambu runcing saja. Mereka juga sudah kenal senapan dan meriam. Lantas, timbul pertanyaan, mengapa kita dijajah sampai ratusan tahun? lama bener kalau dihitung katanya sampai tujuh turunan. Soal itu tentu saja ada faktor dan sebab tertentu. Nanti deh… bisa kita jelaskan di lain tempat. Semoga!!!
Lihat juga: https://tareekh.my.id/2020/09/18/wawacan-pagerageungan-ketika-seni-meng-islamisasi-masyarakat/
Lihat juga: https://en.wikipedia.org/wiki/Cetbang