Tag: memotong rambut dan identitas

  • Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Tentang Memotong Rambut di Indonesia Tempo Dulu

    Danil Kasputra

    Memotong rambut tentu saja merupakan suatu hal yang umum dalam kehidupan kita. Setidaknya hampir semua orang pernah memotong rambut mereka utamanya mereka para pelajar atau para pegawai negeri sipil juga para pegawai kantoran. Bagi mereka mau tak mau memotong rambut adalah kewajiban. Sebab musababnya ialah mereka dituntut bersih rapih sekaligus necis. Tapi sesungguhnya memotong rambut pendek juga bukan ciri khas ketiga golongan itu, sebagian besar masyarakat Indonesia kini memotong rambut mereka pendek hanya segelintir orang saja membiarkan rambut mereka terurai panjang.

    Di zaman lampau tepatnya di masa sebelum kedatangan agama Islam ke Indonesia, membiarkan rambut panjang terurai entah itu bagi pria maupun wanita Indonesia merupakan fenomena umum. Barulah ketika agama Islam masuk ke Indonesia di abad ke-13, memotong rambut menjadi pendek menjadi lebih banyak dijumpai. Walaupun hingga pertengahan abad ke-9, kita masih banyak menjumpai orang-orang Aceh, Jawa, Bugis tidak memotong rambut pendek rambut mereka. 

    Baca Juga:

    Tapi pada umumnya memotong rambut menjadi lebih pendek telah menjadi suatu hal yang umum. Potongan rambut para bangsawan upamanya potongan rambut para raja dan sultan sangat disukai oleh penduduk di kerajaannya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Begitu juga potongan rambut para orang-orang suci utamanya potongan rambut para ulama, kyai atau para pemuka sangat dihargai.

    Tentang memotong rambut di Indonesia zaman dulu
    Para Prajurit Kesultanan Banten dengan senjata mereka masing masing dari mulai tombak, pedang hingga istinggar. Tampak juga dalam foto seluruh dari mereka telah bercukur pendek. (Rijkmuseum)

    Sebab-Musabab pemotongan rambut

    Anthony Reid mengutip dari  Drewes betapa murkanya seorang pangeran Bali ketika seorang utusan Islam dari Mekah mempersembahkan gunting alat cukur. Dia menyadari bahwa hal itu merupakan suatu ajakan untuk masuk Islam (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: 92). Dalam hal ini tampak sekali bahwa rambut pendek merupakan suatu simbol atau perlambang seseorang telah meninggalkan agama lama menuju agama baru yang telah dipeluknya.  

    Selain sebab musabab konversi agama, pemotongan rambut juga bisa jadi sebagai simbol sukacita entah itu sukacitas kemenangan perang atau memperoleh kebahagian. Aru Palakka dari Bone kompetitor utama Sultan Hasanuddin dalam Perang Makasar memotong rambut panjangnya setelah sukses menumbangkan saingannya itu. Contoh lainnya ada dalam perang suksesi Jawa di abad ke Pakubuwono I raja dari Kraton Kartasura memangkas rambutnya sebagai suatu rasa syukur atas kemenangan yang telah dia raih.

    Sebab musabab lain dari pemotongan rambut selain daripada konversi agama dan simbol sukacita ialah simbol suatu kelompok atau identitas. Hal ini bisa kita temui dalam kisah perang Diponegoro. Dalam Babad Diponegoro sangat jelas dikisahkan bagaimana Pangeran Diponegoro dan pengikutnya memotong pendek rambut mereka untuk membedakan diri mereka dengan orang-orang Jawa yang pro-Belanda.