/** * Twenty Twenty-Five functions and definitions. * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package WordPress * @subpackage Twenty_Twenty_Five * @since Twenty Twenty-Five 1.0 */ // Adds theme support for post formats. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) : /** * Adds theme support for post formats. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_post_format_setup() { add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' ); // Enqueues editor-style.css in the editors. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) : /** * Enqueues editor-style.css in the editors. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_editor_style() { add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) ); } endif; add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' ); // Enqueues style.css on the front. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) : /** * Enqueues style.css on the front. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_enqueue_styles() { wp_enqueue_style( 'twentytwentyfive-style', get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ), array(), wp_get_theme()->get( 'Version' ) ); } endif; add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ); // Registers custom block styles. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) : /** * Registers custom block styles. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_block_styles() { register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ), 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' ); // Registers pattern categories. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) : /** * Registers pattern categories. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_page', array( 'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ), ) ); register_block_pattern_category( 'twentytwentyfive_post-format', array( 'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ), 'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' ); // Registers block binding sources. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) : /** * Registers the post format block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return void */ function twentytwentyfive_register_block_bindings() { register_block_bindings_source( 'twentytwentyfive/format', array( 'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ), 'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding', ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ); // Registers block binding callback function for the post format name. if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) : /** * Callback function for the post format name block binding source. * * @since Twenty Twenty-Five 1.0 * * @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'. */ function twentytwentyfive_format_binding() { $post_format_slug = get_post_format(); if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) { return get_post_format_string( $post_format_slug ); } } endif; Sejarah https://tareekh.my.id Sun, 07 Jan 2024 14:06:29 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.10 Bagaimana Bisa Zaman Keemasan Islam di Spanyol Juga Dianggap Sebagai Zaman Kejayaan Budaya Yahudi? https://tareekh.my.id/bagaimana-bisa-zaman-keemasan-islam-di-spanyol-juga-dianggap-sebagai-zaman-kejayaan-budaya-yahudi/ https://tareekh.my.id/bagaimana-bisa-zaman-keemasan-islam-di-spanyol-juga-dianggap-sebagai-zaman-kejayaan-budaya-yahudi/#respond Sun, 07 Jan 2024 14:03:14 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1085 /*! elementor - v3.18.0 - 08-12-2023 */ .elementor-column .elementor-spacer-inner{height:var(--spacer-size)}.e-con{--container-widget-width:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer{width:var(--container-widget-width,var(--spacer-size));--align-self:var(--container-widget-align-self,initial);--flex-shrink:0}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container{height:100%;width:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer{height:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner{height:var(--container-widget-height,var(--spacer-size))}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer.elementor-widget-empty,.e-con>.elementor-widget-spacer.elementor-widget-empty{position:relative;min-height:22px;min-width:22px}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer.elementor-widget-empty .elementor-widget-empty-icon,.e-con>.elementor-widget-spacer.elementor-widget-empty .elementor-widget-empty-icon{position:absolute;top:0;bottom:0;left:0;right:0;margin:auto;padding:0;width:22px;height:22px}

“Masa Keemasan Islam di Al-Andalusia (Spanyol) juga sering dianggap sebagai Zaman Kejayaan Budaya Yahudi.”

Hari ini, seringkali kita menyaksikan adanya stereotip negatif terhadap orang Yahudi di dunia Islam.

Hal ini sebagian besar bersumber pada gerakan Zionisme di kalangan komunitas Yahudi yang dengan bantuan negara-negara Barat sukses melahirkan negara Israel di tahun 1948 walaupun dengan jalan mengorbankan orang-orang Arab Palestina yang mayoritas di antaranya beragama Islam.

Meskipun situasinya kompleks, perlu diingat bahwa hubungan antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa Muslim sepanjang sejarah memiliki dimensi yang lebih dekat dan terikat daripada hubungan dengan agama lain, seperti Kekristenan.

Dalam periode Sejarah Islam masa klasik misalnya, terdapat suatu zaman yang dikenal sebagai masa kejayaan Islam di Spanyol, yang berlangsung sekitar abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi.

Fenomena menarik yang terjadi adalah bahwa dalam catatan sejarah Yahudi, periode ini juga dikenal sebagai zaman kejayaan budaya Yahudi.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai rentang waktu yang tepat, mulai dari tahun 711-718 ketika Muslim menguasai Iberia, hingga 1031 ketika Kekhalifahan Córdoba bubar, serta periode-periode lainnya seperti 1066, 1090, atau pertengahan abad ke-12, tapi yang pasti masa kejayaan peradaban Islam di Spanyol juga diakui sebagai periode keemasan budaya Yahudi.

Di dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana bisa Zaman Keemasan Budaya Islam di Spanyol dianggap juga sebagai Masa Kejayaan Budaya Yahudi?

Permulaan Zaman Kejayaan Budaya Yahudi

Setelah keberhasilan mereka menduduki sebagian besar wilayah Semenanjung Iberia di tahun 711 M para penguasa Muslim menjumpai masyarakat yang begitu beragam.

Ada para penduduk asli yang memeluk Kekristenan.

Ada pula komunitas orang Yahudi yang telah menetap di wilayah ini kurang lebih dua abad sebelum kedatangan muslim.

Melihat ini sebagaimana di tempat lain para penguasa muslim lantas memperlakukan kedua pemeluk agama itu sebagai orang-orang Ahli Kitab atau Dzimmi.

María Rosa Menocal dalam The Ornament of The World menyatakan bahwa kaum Dzimmi Yahudi yang hidup di bawah penguasa Muslim diberi hak yang lebih sedikit dibandingkan dengan kaum Muslim, namun kondisi mereka masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kaum Kristen di wilayah Eropa.

Kebijakan para penguasa Muslim yang tidak ikut mencampuri urusan kedua agama itu serta semangat toleransi mereka yang cukup tinggi memicu beberapa penganut Kristen yang sering terpinggirkan karena dianggap sesat oleh Paus di Roma serta orang-orang Yahudi dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa untuk bermigrasi ke Andalusia dan menikmati hidup di bawah penguasa Muslim.

Puncaknya saat masa Pemerintahan Abdul Rahman III dan anaknya Al-Hakam II di abad ke-10.

Rebecca Weiner dalam Judaism: Sephardim mengatakan berkat toleransi para penguasa Muslim orang-orang Yahudi jadi makmur secara ekonomi, maju secara intelektual dengan banyaknya dari mereka yang menguasai filsafat, matematika, astronomi, dan syair serta kuat dalam bidang politik berkat banyaknya orang-orang Yahudi yang menduduki kursi penting di Kekhalifahan.  

Pada masa pemerintahan Abdul Rahman III adalah puncak integrasi signifikan komunitas Yahudi di Kekhalifahan Al-Andalus. Abdul Rahman III, selain sebagai pemimpin politik, juga menunjukkan kebijakan inklusifnya melalui penunjukan Hasdai ibn Shaprut sebagai dokter istana dan salah satu menteri kepercayaannya.

Para penyair terkenal Yahudi seperti Menahem Ben Saruq dan Dunash ben Labrat pun sering diundang ke istananya, mencerminkan keberagaman budaya dan kerjasama di antara kelompok agama.

Dalam masa kekuasaannya juga, Kordoba, ibukota Kekhalifahan Al-Andalus, menjadi pusat studi Talmud dan menjadi tempat pertemuan bagi para intelektual Yahudi.

Tindakan ini mencerminkan toleransi dan penghargaan terhadap warisan intelektual dan kebudayaan Yahudi. Mark Cohen dalam bukunya, Under Crescent and Cross: The Jews in the Middle Ages melakukan perbandingan antara perlakuan terhadap orang Yahudi di dunia Islam abad pertengahan dan di Eropa Kristen abad pertengahan.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang Yahudi di dunia Islam abad pertengahan lebih terintegrasi dalam kehidupan politik dan ekonomi masyarakat, menunjukkan adanya kebijakan inklusif dan pengakuan terhadap peran konstruktif komunitas Yahudi dalam pembangunan kebudayaan dan keilmuan.

Orang Yahudi (Kiri) dan Orang Muslim (Kanan) sedang bermain catur di Al-Andalusia.
Seorang penyair Yahudi sedang membacakan kisah Paskah dalam sebuah Sinagog di Al-Andalusia
Patung Judah Halevi

BACA INI JUGA!

Masa Akhir

Setelah wafatnya Abdul Rahman III, kebijakan inklusif terhadap komunitas Yahudi tetap dipelihara di bawah pemerintahan anaknya, Al-Hakam II.

Dampak positif dari kebijakan ini terlihat melalui munculnya sejumlah intelektual Yahudi terkemuka pada generasi berikutnya, seperti Samuel Ha-Nagid, Moses ibn Ezra, Solomon ibn Gabirol, dan Judah Halevi.

Namun, setelah wafatnya Al-Hakam II, Kekhalifahan Al-Andalus mulai mengalami ketidakstabilan politik yang berujung pada keruntuhan pada tahun 1031.

Banyak sejarawan melihat periode ini sebagai akhir dari apa yang disebut sebagai zaman kejayaan Yahudi di Al-Andalus.

Meskipun komunitas Muslim masih dapat mempertahankan kehadirannya selama empat abad berikutnya, ketidakstabilan politik memicu migrasi besar-besaran orang Yahudi ke wilayah-wilayah Muslim yang lebih stabil secara politik.

Meskipun berakhirnya kekhalifahan dianggap sebagai titik akhir masa kejayaan Yahudi di Al-Andalus, pengaruh budaya dan intelektual mereka tetap membentuk dan memberi kontribusi pada perkembangan selanjutnya dalam sejarah wilayah tersebut.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/bagaimana-bisa-zaman-keemasan-islam-di-spanyol-juga-dianggap-sebagai-zaman-kejayaan-budaya-yahudi/feed/ 0
Kuda Arab: Di Balik Cepatnya Perluasan Islam di Fase Awal https://tareekh.my.id/kuda-arab-di-balik-cepatnya-perluasan-islam-di-fase-awal/ https://tareekh.my.id/kuda-arab-di-balik-cepatnya-perluasan-islam-di-fase-awal/#respond Mon, 18 Dec 2023 08:15:19 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1068 “Para pemilik kuda ras Arab murni akan memperoleh harta hasil rampasan perang tiga kali lipat dari prajurit infanteri biasa, sementara para pemilik kuda campuran hanya menerima dua kali bagian saja.”

Dalam waktu kurang lebih 30 tahun setelah kematian Nabi, para penggantinya yang kita kenal sebagai para khalifah menciptakan suatu imperium besar Islam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Imperium Islam itu merentang jauh dari batas-batas territorial terjauhnya saat sang Nabi masih hidup.

Dari ujung barat wilayah Magrib (Maroko, Al-Jazair, dan Tunisi kini) di Afrika Utara hingga di ujung timur wilayah bekas Kekaisaran Persia, disanalah wilayah Islam terbentang.

Para ahli sejarah percaya bahwa ratusan tahun peperangan yang melelahkan antara Romawi Timur dan Kekaisaran Persia, serta kedisiplinan pasukan Kekhalifahan Rashidin adalah faktor penyebab begitu cepatnya Islam meluaskan wilayahnya.

Namun ada sebagian ahli lagi yang percaya bahwa kuda-kuda Arab turut berkontribusi besar dalam ekspansi Islam di masa awal.

Sejarawan David James adalah salah satu orang yang percaya akan hal itu. Dalam The Arabia Horse: At War mengatakan bahwa kuda-kuda Arab dan kuda Barbar memiliki peranan penting dalam meluasnya Islam di seluruh Timur Tengah hingga sejauh Afrika Utara.

Pembiakan Kuda yang ketat

Kehebatan kuda-kuda Arab ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas pembiakan kuda yang dilakukan orang-orang Arab di masa itu. 

Dari Kitab Sirah Nabawiyahnya Ibnu Hisyam menginformasikan kepada kita bagaimana Nabi memerintahkan adanya pemisahan antara ras kuda Arab murni dan ras kuda kelas hibrida.

BACA INI JUGA!

Perintah ini dilakukan persis setelah Nabi dan para sahabatnya memperoleh kuda-kuda hasil rampasan perang selepas menyerahnya orang Yahudi di Benteng Khaibar.

Ini dilakukan untuk menjaga kemurnian ras kuda-kuda Arab itu.

Oleh karena itu tidak cukup mengherankan betapa orang-orang Arab selain sangat fasih dalam mengingat runtutan silsilah leluhur mereka. 

Mereka juga sangat hafal silsilah kuda-kuda mereka.

Dan memang benar saja pemisahan ras kuda yang sedemikian ketat itu sukses menghasilkan kuda-kuda yang memiliki kecepatan dan stamina yang tinggi (Rosemary, 1992 in Arabian Horse).  

Kavaleri pimpinan Saad bin Abi Waqqash saat menginvasi Persia
Seorang Mamluk di Mesir dengan kuda Arabnya

Dikuatkan oleh Para Pengganti Nabi

Setelah Nabi wafat pada tahun 632 M, para penerusnya tetap mempertahankan dan menguatkan aturan ini. 

Di masa kepemimpinan Umar, dia bahkan memerintahkan Salman Ibnu Rabi’ah untuk merancang suatu kebijakan yang wajib diikuti oleh para pejabat di wilayahnya. 

Salah satu fokus kebijakan tersebut adalah pemeliharaan kualitas kuda. 

Isi kebijakan tersebut mencakup hal-hal seperti perhatian yang cermat terhadap perbedaan antara ras murni Arab dan ras hibrida. 

Dalam pelaksanaan kebijakan, dilakukan pelatihan respon kolektif kuda secara rutin, termasuk pelatihan respons individu pada tingkat mahir. 

Aspek lain yang ditekankan adalah pelatihan ketahanan dan temperamen agar kuda dapat tampil optimal di tempat-tempat yang ramai dan bising, serta situasi perang (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam). 

Pada akhir program, baik penunggang maupun kuda diwajibkan untuk mengikuti kompetisi formal yang disponsori oleh Diwan al-Jund. 

Kompetisi tersebut terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu balap untuk mengukur kecepatan dan stamina setiap kuda hibrida, serta kompetisi akrobat untuk mengukur kemampuan kuda dalam melakukan manuver sulit selama perang. 

Semua upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas kuda tetap terjaga dan dapat memberikan kontribusi optimal dalam konteks militer pada masa itu (Al-Mubarak, 1997).

Perlu diingat juga menurut Schiettecatte dan Abbes Zouache dalam The Horse in Arabia dan the Arabian Horse: Origins, Myths and Realities mengatakan bahwa kualitas kuda juga akan mempengaruhi hasil rampasan yang akan didapat sang pemilik kuda. 

Para pemilik kuda ras Arab murni akan memperoleh harta hasil rampasan perang tiga kali lipat dari prajurit infanteri biasa, sementara para pemilik kuda campuran hanya menerima dua kali bagian saja.  

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/kuda-arab-di-balik-cepatnya-perluasan-islam-di-fase-awal/feed/ 0
Bagaimana Rupa Peralatan Militer Tentara Kekhalifahan Rasyidin? https://tareekh.my.id/bagaimana-rupa-peralatan-militer-tentara-kekhalifahan-rasyidin/ https://tareekh.my.id/bagaimana-rupa-peralatan-militer-tentara-kekhalifahan-rasyidin/#respond Sun, 17 Dec 2023 12:19:31 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1060 “Dipersatukan dari klan-klan Arab yang awalnya saling berperang satu sama lain, Tentara Kekhalifahan Rasyidin menjelman menjadi salah satu pasukan militer paling efektif dan berdisiplin dalam sejarah.”

Sejarah ekspansi masa awal Kekhalifahan Islam di abad ke-7 tidak bisa dilepaskan dari peran Angkatan bersenjata Kekhalifahan Rasyidin.

Pasukan yang terbentuk dari berbagai macam klan dan suku-suku Arab yang dulunya saling berperang dan bertikai satu sama lain sebelum kedatangan Islam menjadi salah satu pasukan paling berdisiplin, memiliki kecakapan strategis, dan tingkat organisasi tinggi (Glubb: 1959).

Tiga jenderal paling suksesnya adalah Khalid ibn al-Walid, yang menaklukkan Mesopotamia Persia dan Provinsi Suriah Romawi, Saad bin Abi Waqqas yang membenamkan Dinasti Sasanid, Kekaisaran Persia Pra-Islam terakhir, dan Amr ibn al-As, yang mengambil alih Mesir dan Alexandria dari tangan Kekaisaran Romawi Timur.

Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana peralatan militer pasukan Kekhalifan Rasyidin berdasarkan sumber-sumber yang ada.

Menjadi Tentara Kekhalifahan

Menjadi seorang Muslim adalah syarat utama untuk masuk kesatuan tentara Kekhalifahan Rasyidin (Al-Mubarak 1997).

Bahkan di masa dua khalifah awal Abu Bakar dan Umar, orang-orang bekas pemberontak sama sekali tidak diperkenankan untuk menjadi tentara.

Meskipun mereka telah menyatakan kesetiaan kembali dan bertaubat. Namun ekspansi Islam di Timur yang semakin meluas di masa Umar memberikan kesempatan bagi para bekas pemberontak ini untuk menjadi bagian tentara Kekhalifahan.

Tulaihah al-Asadi adalah contoh nyata untuk kasus ini. Mengaku sebagai seorang Nabi yang mendapat wahyu dari Malaikat Jibril setelah kematian Nabi Muhammad, Tulaihah al-Asadi mendapat pengampunan dari Abu Bakar setelah pasukan pengikut setianya dihancurkan oleh Tentara Kekhalifahan Rasyidin.

Di masa Umar dia turut bergabung dalam barisan pasukan Saad bin Abi Waqqas yang menginvasi Persia dan memainkan peranan pentingnya disana (Brill: 1993).

Tulaihah kemudian tewas selama pertempuran Nahawand. 

Perubahan kebijakan ini membuka pintu bagi inklusivitas, mencerminkan perubahan dinamis dalam strategi perekrutan tentara Rasyidin.

Dengan ini, Kekhalifahan mengakomodasi berbagai elemen masyarakat, memberikan nuansa kisah heroik yang semakin kaya dengan warna keberagaman.

Kesatuan Infanteri

Tampilan seorang tentara Kekhalifahan Rasyidin

Dalam aksi penuh semangat, mereka melancarkan serangan dan mundur berulang kali, suatu taktik yang dikenal sebagai karr wa farr.

Senjata andalan mereka adalah tombak dan pedang, ditemani dengan hujan panah untuk melemahkan musuh dan menguras tenaganya.

Meski begitu, fokus utama selalu ditempatkan pada serangan balik, dengan dukungan kuat dari pasukan kavaleri yang menguasai seni gerakan mengapit dan mengepung.

Pasukan infanteri adalah tulang punggung utama Tentara Kekhalifahan Rasyidin (Archer, 2002)

Ketika waktunya untuk bertahan tiba, para pemanah Muslim membentuk barisan rapat dengan tombak setinggi dua setengah meter, menciptakan tembok pelindung yang disebut sebagai Tabi’a.

Dalam formasi jarak dekat ini, mereka bertahan dengan gagah berani, membuktikan ketangguhan mereka selama empat hari pertama dalam Pertempuran Yarmouk.

Cukup sulit untuk memberikan gambaran sempurna tentang peralatan militer Tentara Kekhalifahan Rasyidin. Gambaran visual tentangnya nyaris tidak ada. 

Namun David Nicolle, seorang Sejarawan dari Britania menyakini bahwa para tentara Rasyidin setidaknya baju besi berbentuk sisik kulit yang diperkeras, atau zirah pipih yang diproduksi di daerah-daerah seperti Yaman, Irak, dan sepanjang pantai Teluk Persia. Baju besi berbentuk surat-surat menjadi pilihan yang diunggulkan, dan seiring berjalannya waktu, semakin umum digunakan selama penaklukan terhadap kerajaan tetangga, seringkali diambil sebagai barang jarahan perang. 

Mereka dikenal dengan sebutan Dir, dengan ciri khas bagian dada yang terbuka sedikit. Untuk mencegah karat, baju besi ini diasapi dan disimpan dalam campuran debu dan minyak (Nicolle, 1994) Namun bukti-bukti arkeologi belum bisa menguatkan keyakinan Nicolle.

Tapi yang pasti pedang adalah jadi komponen utama peralatan militer muslim awal. Dalam catatan sejarah Arab awal, disebutkan dua varian utama dari pedang ini: Saif Anith yang Terbuat dari besi dan Saif Fulath atau Muzakka yang terbuat dari bahan baja (Zaky, 1961). 

Orang-orang Arab sendiri sudah mampu memproduksi pedang-pedang ini secara mandiri. Selain itu orang-orang Arab juga telah menggunakan pedang jenis Shamshir yang berasal dari Asia Tengah. 

David Nicolle menyakini orang-orang Arab tidak secara langsung mendapatkan pedang ini dari Asia Tengah. Namun mereka memperolehnya melalui perjumpaan dan kontak dengan orang-orang Byzantium (Nicole, 1982)

Tombak panjang yang menjadi senjata pilihan bagi infanteri diproduksi secara lokal dengan mengandalkan alang-alang yang tumbuh di pantai Teluk Persia, menyerupai keberadaan bambu (Walker, 1917). 

Para pandai besi Arab mempraktikkan keahlian mereka dalam menciptakan tombak infanteri yang dikenal sebagai al-Ramh. Dua varian tombak ini menjadi populer di antara pasukan Rashidun. 

Tombak dengan Ujung Tanduk Binatang yang mana para pandai besi Arab memanfaatkan tanduk binatang yang diasah dengan cermat sebagai ujung bilahnya. Lalu yang kedua ialah tombak dengan Bilah dari Besi Biasa. Bilah tombak ini diasah dan dipalu dengan teliti, menciptakan senjata yang tangguh (Al-Jawhari, 1987).

Kesatuan Kavaleri

Pasukan kavaleri Kekhalifan Rasyidin memperoleh penghormatan yang cukup signifikan di mata para penguasa.

Sejarawan Muslim awal mencatat bahwa inti mobile guard awalnya terbentuk dari veteran korps kavaleri di bawah pimpinan Khalid bin Walid selama penaklukan Irak.

Mereka terdiri dari setengah pasukan yang dibawa oleh Khalid dari Irak ke Suriah, mencapai jumlah 4.000 tentara dari total 8.000 tentara (Akram, 2006) Divisi kavaleri kejutan ini memainkan peran penting dalam sejumlah kemenangan melawan Bizantium dan Sassanid.

Jangan dilupakan pula ketangguhan pasukan kavaleri muslim awal ini juga terjadi berkat ras kuda mereka yang legendaris.

Ras kuda Arab yang sering ditunggangi oleh para prajurit kekhalifahan memiliki kecepatan, daya tahan, dan naluri hewan yang luar biasa bahkan untuk standar era modern pun.

Oleh karena itu tidak mengherankan dalam waktu tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi kita bisa menyaksikan bagaimana kuda-kuda Arab ini telah membawa tuan-tuan mereka sejauh Samudra Atlantik di Barat dan wilayah Hind di Timur.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/bagaimana-rupa-peralatan-militer-tentara-kekhalifahan-rasyidin/feed/ 0
Hilangnya Selat Muria dan Kemunduran Kesultanan Demak https://tareekh.my.id/hilangnya-selat-muria-dan-kemunduran-kesultanan-demak/ https://tareekh.my.id/hilangnya-selat-muria-dan-kemunduran-kesultanan-demak/#respond Tue, 19 Sep 2023 15:04:19 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1043 /*! elementor - v3.13.3 - 28-05-2023 */
.elementor-column .elementor-spacer-inner{height:var(--spacer-size)}.e-con{--container-widget-width:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer{width:var(--container-widget-width,var(--spacer-size));--align-self:var(--container-widget-align-self,initial);--flex-shrink:0}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer{height:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner{height:var(--container-widget-height,var(--spacer-size))}

“Selama ribuan tahun kota Jepara dan sekitarnya sempat terpisah dari Pulau Jawa dan membentuk sebuah pulau yang di masanya bernama Pulau Muria.”

Bayangan kita saat ini membayangkan kota Jepara sebagai sebuah tempat yang terkenal akan seni ukir kayunya yang luar biasa. Bahkan, konon Mimbar Masjidil Aqsha di Jerusalem yang megah, dihiasi dengan ukiran kayu Jepara yang memukau.

Sebaliknya, ketika kita memikirkan kota Demak, imajinasi kami terbang ke masa lalu, menggambarkan bagaimana Islam pertama kali menyebar dari sana.

Dua kota ini, Jepara dan Demak, pada pandangan pertama tidak memiliki karakteristik yang aneh.

Namun, ketika kita memandang masa sebelum abad ke-17, kita menemukan bahwa keduanya dipisahkan oleh selat sempit yang disebut Selat Muria.

Ya, selama ribuan tahun, kota-kota ini benar-benar terpisah oleh selat sempit. Sementara daratan yang menghubungkan keduanya, usianya tidak lebih mencapai 500 tahun.

Selat Muria adalah kawasan air yang dulu pernah ada, menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria.

Dahulu, selat ini merupakan pusat perdagangan yang ramai, dengan kota-kota dagang seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana yang sibuk beraktivitas di sekitarnya. 

   Baca Juga:

Namun, sekitar tahun 1657, endapan-endapan sungai yang mengalir ke selat ini akhirnya terbawa ke laut, membuat selat ini semakin dangkal dan akhirnya menghilang. Pulau Muria pun bergabung dengan Pulau Jawa.

Kota Jepara di Pulau Muria dengan latar Gunung Muria

Menghilangnya Selat Muria dan Kejatuhan Demak

Menghilangnya Selat Muria kemungkinan besar menjadi salah satu faktor penting dalam runtuhnya Kesultanan Demak pada abad ke-16, selain dari konflik perang saudara dan pertarungan untuk tahta yang sengit.

Fakta ini didasarkan pada catatan sejarah yang dicatat oleh Tome Pires.

Demak pada masa itu merupakan pelabuhan yang berlokasi di tepi Selat Muria.

Di pelabuhan ini, berbagai jenis komoditas diperdagangkan.

Ada kain tradisional indah dari Jepara, garam dan terasi yang terkenal dari Juwana, serta beras yang berasal dari pedalaman Pulau Jawa dan Pulau Muria.

Selain perdagangan, Selat Muria juga menjadi tempat berkembangnya galangan kapal yang memproduksi kapal jung Jawa yang terkenal, terutama karena bahan baku kayu jati yang melimpah dari Pegunungan Kendeng yang terletak di selatan selat ini.

Industri galangan kapal ini memberikan kontribusi besar terhadap kemakmuran kawasan ini. Bahkan, posisinya menjadi lebih makmur dibanding Kerajaan Majapahit.

Namun, akibat pendangkalan lautan di sekitar Demak, kapal-kapal besar mulai enggan untuk berlabuh di pelabuhan ini.

Hal ini secara otomatis merusak perekonomian Demak yang sangat bergantung pada perdagangan maritim.

Selain itu, galangan kapal yang tadinya banyak diproduksi di wilayah ini juga dipindahkan karena kondisi tempat yang tidak lagi strategis.

Semua perubahan ini mengakibatkan kemerosotan ekonomi Demak yang signifikan.

Kondisi ini semakin diperparah oleh ketidakstabilan politik akibat perang saudara yang melanda Kesultanan Demak pada saat itu.

Sebagai akibat dari kombinasi faktor-faktor ini, Kesultanan Demak menghadapi tantangan besar, yang akhirnya berkontribusi pada hancurnya kekuasaannya pada abad ke-16.

Ini adalah periode yang mengakhiri masa keemasan Demak dan memicu perubahan dalam peta politik dan ekonomi wilayah tersebut.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/hilangnya-selat-muria-dan-kemunduran-kesultanan-demak/feed/ 0
Babad Kadhiri: Kisah Humor tentang Penulisan Sejarah dengan Bantuan Jin https://tareekh.my.id/babad-kadhiri-kisah-humor-tentang-penulisan-sejarah-dengan-bantuan-jin/ https://tareekh.my.id/babad-kadhiri-kisah-humor-tentang-penulisan-sejarah-dengan-bantuan-jin/#respond Mon, 04 Sep 2023 15:07:41 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1025 “Bayangkan, sejarah ini ditulis berdasarkan sumber rajanya jin! Ini adalah sejarah terunik yang pernah ada.”

Ketika saya kecil, saya senang sekali menonton acara televisi yang menampilkan penelusuran sejarah melalui cara-cara mistis yang aneh. 

Ada dukun atau ustadz yang memasukkan jin ke dalam tubuh seseorang untuk mengungkap rahasia suatu tempat. 

Terkadang, saya bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika kisah-kisah sejarah misterius kita dibongkar dengan cara seperti itu daripada terus diselimuti misteri.

Namun, siapa sangka, ketika saya tumbuh dewasa dan mulai membaca berbagai buku sejarah, termasuk sejarah lokal berupa babad, ternyata apa yang pernah saya bayangkan saat kecil itu nyata adanya! 

Kisah ini terjadi dalam penulisan Babad Kadhiri, yang menceritakan sejarah asal mula pulau Jawa dengan bantuan jin.. 

   Baca Juga:

Saat Jin Mengisahkan Sejarah

Pada awalnya, pada tahun 1832, Kediri berada di bawah pemerintahan “Gupermen” (sebutan lokal untuk pemerintahan Belanda).

Salah satu pejabat Belanda datang dan bertanya tentang legenda kota Kediri.

Mereka berpikir bahwa Adipati Kediri, Raden Mas Ngabehi Purbawijaya.

Tentu saja, Adipati Kediri ini terkejut oleh permintaan yang sangat tak terduga ini.

Sang Adipati merasa seperti burung beo yang kehabisan kata-kata.

Dia merasa seperti ikan kecil yang dilempar ke dalam lautan sejarah yang sangat besar dan kompleks.

Sang Adipati sama sekali tidak tahu sejarah Kediri.

Untuk mencari jawabannya, dia memutuskan untuk mengundang seorang dalang wayang klithik yang sangat terkenal, Ki Dermo Kendo, ke istananya.

Dia sering menceritakan tentang kerajaan-kerajaan seperti Kadhiri, Jenggala, Ngurawan, dan Singasari dalam pertunjukan wayangnya.

Tentu saja, Ki Dermo Kendo mengajukan syarat pada sang Adipati.

Sang Adipati pun setuju dengan syarat-syarat Ki Dermo Kendo, termasuk persiapan sesajen yang harus dilakukan seperti saat memainkan wayang klithik.

Namun, ada satu syarat lagi: harus ada perantara yang akan dirasuki oleh Kyai Buta Locaya, dan wawancara dengan jin ini harus dilakukan pada hari Jumat Kliwon.

Ki Dermo Kendo, lantas membawa bersamanya seorang teman bernama Ki Sondong.

Ternyata, Ki Sondong adalah orang yang akan menjadi perantara dalam pencarian sejarah ini, dan dia akan kerasukan oleh jin dari Gunung Wilis dan Kelud yang bernama Klibut alis Kyai Batu Locaya.

Kyai Buta Locaya adalah penguasa gaib yang menguasai seluruh tanah Kediri, dari Gunung Kelud hingga perbatasan Japanan.

Pada malam yang sudah ditentukan, Adipati dengan cermat menyiapkan semua sesajen.

Tikar pandan diatur dengan rapi di kamar tamu, dan semuanya siap untuk pertemuan dengan jin.

Ki Dermo Kendo  datang bersama temannya, Pak Sondong, yang akan menjadi perantara bagi Kyai Buta Locaya.

Adipati sendiri akan menjadi saksi sejarah ini.

Dan begitulah, di malam Jumat Kliwon yang penuh misteri, dimulailah pencarian sejarah Jawa yang paling aneh dalam sejarah, melibatkan jin, dalang, dan seorang Adipati.

Ketika Klibut alias Kyai Batu Locaya ini menguasai tubuh Ki Sondong, dia mulai berbicara tentang sejarah Jawa—atau yang kemudian kita kenal sebagai Babad Kediri.

Bayangkan, sejarah ini ditulis berdasarkan sumber rajanya jin! Ini adalah sejarah terunik yang pernah ada.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/babad-kadhiri-kisah-humor-tentang-penulisan-sejarah-dengan-bantuan-jin/feed/ 0
Istana dan Raja Majapahit Dalam Kesaksian Seorang Pendeta Ordo Fransiscan https://tareekh.my.id/istana-dan-raja-majapahit-dalam-kesaksian-seorang-pendeta-ordo-fransiscan/ https://tareekh.my.id/istana-dan-raja-majapahit-dalam-kesaksian-seorang-pendeta-ordo-fransiscan/#respond Fri, 18 Aug 2023 14:21:19 +0000 https://tareekh.my.id/?p=1014 /*! elementor - v3.13.3 - 28-05-2023 */
.elementor-column .elementor-spacer-inner{height:var(--spacer-size)}.e-con{--container-widget-width:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer{width:var(--container-widget-width,var(--spacer-size));--align-self:var(--container-widget-align-self,initial);--flex-shrink:0}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer{height:100%}.e-con-inner>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner,.e-con>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner{height:var(--container-widget-height,var(--spacer-size))}

“Seorang Pendeta Ordo Fransiscan dari Italia sempat singgah di Istana Majapahit dan melukiskan segala kemegahan dan kemewahan istana itu.”

Odoric of Pordenone yang juga dikenal sebagai Odorico Mattiussi/Mattiuzzi, Odoricus of Friuli, atau Orderic of Pordenone, adalah seorang biarawan Fransiskan pada akhir abad pertengahan yang memainkan peran penting sebagai penjelajah misionaris. 

Perjalanan hidupnya membawanya melintasi jarak yang luas, dari India hingga Kepulauan Sunda Besar, dan akhirnya ke Cina, di mana dia menghabiskan tiga tahun berharga dalam hidupnya di Beijing.  

Kunjungan Ke Istana Raja Majapahit

Namun, salah satu pengalamannya paling menonjol bagi sejarah Indonesia adalah kunjungannya ke Istana Raja Majapahit.

Meskipun tidak secara langsung dia menyebutkan Majapahit sebagai istana kerajaan yang dia kunjungi.

Namun berdasarkan kurun waktu kunjungannya ke Jawa diantara 1318 hingga 1330 yang bertepatan sekali dengan masa kekuasaan Majapahit di Jawa.

Maka sukar sekali untuk menampikan bahwa Istana Majapahit bukanlah tempat yang dia kunjungi.

Selain itu kurun waktu kunjungan Ordorico pun bersamaan dengan masa awal gemilang kerajaan Majapahit di masa akhir pemerintahan Jayanegara dan masa awal pemerintahan Tribuwana Tunggadewi.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan deskripsi yang dibuatnya melukiskan keterpukauan dan ketakjuban tentang kemegahan dan keindahan Istana Raja Jawa.

Kisahnya itu kemudian tertulis dalam suatu buku yang berjudul, “Les Voyages En Asie,” dimana Odoric merinci pengalaman luar biasanya itu.

Sebagaimana telah dijelaskan di awal Ordorico kemungkinan singgah di Jawa selama kurun 1318 – 1330.

Dia mengabarkan tentang suatu pulau bernama Fana (Jawa) dengan keliling sekitar tiga ribu mil.

Pulau ini diceritakan memiliki tujuh raja yang semuanya mengenakan mahkota.

Dengan populasi yang padat, pulau ini dianggap sebagai yang terbesar kedua di dunia.

Banyak jenis rempah-rempah seperti cengkeh, kapur barus dan pala, tumbuh subur di sana.

Kekayaan alam ini dikombinasikan dengan berlimpahnya makanan.

“Li rois de ceste isle a sept rois tous couronnez.” (Raja-raja di pulau ini memiliki tujuh raja yang semuanya bermahkota).

Raja Majapahit dikelilingi oleh tujuh orang bawahannya dalam suatu ilustrasi (id.wikipedia.org)

Istana kerajaan yang sangat mewah

Takjub dengan berlimpahnya beragam rempah di pulau ini Ordorico kembali dibuat takjub oleh Istana Raja yang sangat mewah.

Istana tempat Raja pulau ini tinggal dijelaskan sebagai suatu keajaiban yang tak terlukiskan.

Pintu gerbang istana, anak tangga, dan ubin terbuat dari emas dan perak yang mengkilap.

Bahkan dinding-dindingnya dihiasi dengan lempengan emas yang memancarkan cahaya. Ada banyak patung ksatria yang terbuat dari emas murni yang melambangkan keagungan dan kekuatan pemimpin kerajaan.

Lingkaran para ksatria ini dihiasi dengan batu-batu mulia yang membuatnya semakin spektakuler.

“Les couvertures de ce palais sont toutes d’or pur. Et briefment, cest le plus riche palais et le plus bel qui soit.” 
(Penutup istana ini semuanya terbuat dari emas murni. Dan singkatnya, itu adalah istana terkaya dan terindah yang pernah ada).

Namun, mungkin yang paling memukau adalah langit-langit istana yang semuanya terbuat dari emas murni.

Keseluruhan istana ini digambarkan sebagai yang terkaya dan terindah yang pernah ada.

Tidak ada yang bisa menandingi kemegahan ini. Namun, di balik kemegahan ini, juga terdapat kisah ketegangan dan konflik.

Raja Majapahit sering kali berhadapan dengan Khan Yang Agung Maharaja Mongol.

Khan Yang Agung seringkali mengajak raja Majapahit bertempur dalam upaya untuk mengalahkannya, namun hasilnya selalu sama: raja Majapahit keluar sebagai pemenang yang kuat dan tak tergoyahkan.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/istana-dan-raja-majapahit-dalam-kesaksian-seorang-pendeta-ordo-fransiscan/feed/ 0
Berpelesir Ke Masjid Agung Bandung di Masa Kolonial https://tareekh.my.id/berpelesir-ke-masjid-agung-bandung-di-masa-kolonial/ https://tareekh.my.id/berpelesir-ke-masjid-agung-bandung-di-masa-kolonial/#respond Mon, 07 Aug 2023 13:35:41 +0000 https://tareekh.my.id/?p=993 “Sejak era kolonial Masjid Agung Bandung menjadi magnet yang tak terbantahkan, menarik perhatian baik wisatawan lokal maupun asing.”

Masjid Agung Bandung telah lama memainkan peran sentral sebagai ikon objek wisata religi di tengah gemuruh Kota Bandung yang terus berkembang sejak masa kolonial.

Hampir tiap tahunnya, ribuan pengunjung membanjiri kawasan masjid ini, terutama pada hari-hari besar dalam tradisi Islam.

Mesjid Agung Bandung menjadi magnet yang tak terbantahkan, menarik perhatian wisatawan dan masyarakat setempat dalam merayakan momen-momen penting.

Masjid Agung Bandung sedang ramai dipadati

Destinasi Favorit Pelesir

Melalui laporan di koran Bataviaasch Nieuwsblad 5 Maret 1930, kita melihat betapa meriahnya perayaan Garebeg Puasa di Masjid Agung Bandung kala itu. 

Ribuan orang berkumpul, termasuk sosok Bupati Bandung kharismatik saat itu R.A. A Wiranatakusumah, untuk merayakan momen penting dalam penanggalan kalender Islam. 

Meskipun perayaan ini berlangsung dengan tenteram dan tertib, semaraknya terpancar dalam hiasan dan suasana yang begitu istimewa.

Sebuah catatan menarik dari tahun 1938 (Batavia Nieuwsblad 21 November 1938) juga menyebutkan bagaimana Masjid Agung Bandung membawa dampak signifikan pada sektor transportasi. 

Peningkatan jumlah penumpang kereta api begitu besar, hingga menyebabkan pegawai kereta api (Staatspoorwegen) menambah armada kereta api untuk memenuhi permintaan dari tujuan Bandung-Jogja, Bandung-Batavia, dan lainnya. 

Libur lebaran adalah saat-saat dimana orang merindukan perjumpaan dengan spiritualitas, dan Masjid Agung Bandung adalah tujuan yang tak terlewatkan bagi sebagian dari mereka.

Tidak hanya wisatawan lokal, Masjid Agung Bandung menarik perhatian dari para wisatawan lintas negara, terutama dari Belanda. 

Dalam majalah Mooi Bandung edisi 1938, masjid ini disajikan sebagai objek wisata yang menarik bagi wisatawan Eropa. Dikemukakan bahwa “There is a fine mosque, which is open to European visitors at all time” (Ada masjid indah yang selalu terbuka bagi pengunjung Eropa). 

Pengakuan ini menggambarkan daya tarik universal dari Masjid Agung Bandung, yang menjadi semacam simbol harmoni keagamaan dan keindahan arsitektur tradisional.

Melihat ke belakang, Masjid Agung Bandung adalah saksi sejarah perpaduan spiritual dan keberagaman. 

Momen-momen yang dirayakan dengan meriah dan penuh makna telah membawa kunjungan wisatawan dan pengunjung lokal untuk berdampingan dalam kesatuan yang indah. 

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/berpelesir-ke-masjid-agung-bandung-di-masa-kolonial/feed/ 0
Jalan Nagreg, Dari Jalanan Sepi hingga Jadi Simpul Kemacetan Lebaran https://tareekh.my.id/jalan-nagreg-dari-jalanan-sepi-hingga-jadi-simpul-kemacetan-lebaran/ https://tareekh.my.id/jalan-nagreg-dari-jalanan-sepi-hingga-jadi-simpul-kemacetan-lebaran/#respond Wed, 12 Jul 2023 10:09:16 +0000 https://tareekh.my.id/?p=957 “Meskipun lebih dikenal sebagai jalur super sibuk saat lebarang. Nyatanya sejarah Nagreg merentang jauh hingga ke masa awal Hindu-Buddha di abad ke 6 dan 7.”

Pada Kamis (6/7/2023), sebuah truk bermuatan pakan ayam mengalami nasib yang tidak mengenakkan di Jalur Cagak Nagreg, Kabupaten Bandung.

Dalam kejadian yang mengejutkan ini, truk tersebut menabrak tiang listrik dan sebuah warung, hingga akhirnya terguling di tengah jalan.

Dampaknya begitu dahsyat sehingga jalan Nagreg pun sementara waktu ditutup.

Tapi tulisan ini tidak akan berpusat pada kejadian itu. 

Anggap saja kejadian itu sebagai pembuka cerita inti kita sekaligus jadi ajang pembelajaran bagi kita semua untuk tetap berhati hati dalam mengemudi. 

Mari kita menapaki sekilas sejarah jalan Nagreg yang lumayan legendaris ini. 

Dibangun Masa Daendels

Ruas jalan atau simpang jalan Nagreg pertama kali dibangun pada tahun 1808 oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan infrastruktur yang memadai guna mendukung distribusi, informasi, mobilitas militer, pos, barang, jasa, dan pertahanan antar kota-kota di Priangan Timur.

Sejak awal, Jalur Nagreg memiliki daya tarik yang tak terbantahkan.

Simpangan lajur ikonik dengan pohon-pohon besar di tengahnya menjadi ciri khas jalan ini.

Jalur tersebut terbagi menjadi dua arah, dengan jalur kanan menuju Garut kota dan jalur kiri menuju Limbangan Garut yang kemudian berlanjut ke Tasikmalaya dan sekitarnya.

Keberadaan Jalur Nagreg telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan kawasan Priangan.

Selain itu pemandangan sekitarnya yang asri berupa perbukitan dan hutan yang menghiasi sekitarnya menjadikan banyak orang Belanda terpesona dengan kawasan ini.

Terlebih lagi, jalur ini juga dikelilingi oleh perkebunan teh yang menambah keindahan alamnya.

Simpang Nagreg yang cukup legendaris. (Geheugen.delphers).
Seorang pengemudi motor di Jalan Nagreg tahun 1910 (KITLV).
Jalan menuju Nagreg di dekat Kandungora, Garut (KITLV).

Ada Kerajaan Kuno

Temuan mahkota kuno di situs Kerajaan Kendan, Nagreg.

Apabila ditelusuri riwayat sejarahnya, keberadaan Nagreg telah membentang cukup lama hingga ke masa awal Hindu-Buddha. 

Pernah ada sebuah kerajaan yang berdiri tegak di kawasan ini dari abad ke-6 hingga abad ke-7 Masehi.

Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Kendan, dengan pusat kekuasaannya yang terletak di wilayah administratif Desa Nagreg Kendan dan Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Sang penguasa pertama Kerajaan Kendan adalah Maha Guru Manikmaya, seorang sosok yang memancarkan aura kebijaksanaan.

Ia berasal dari Calankayana, sebuah kawasan di India Selatan.

Sebelum menemukan takhtanya di Kendan, ia menjelajahi berbagai negara, memperkaya pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

Jejaknya membawanya mengunjungi tanah-tanah yang jauh, seperti Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Bali, Syangka, Cina, dan tempat-tempat lain yang misterius.

Takdir membawa Manikmaya untuk menemukan cinta sejatinya, Tirtakancana, putri dari Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535–561 M).

Pernikahan mereka menjadi ikatan yang tak terpisahkan antara Kendan dan Tarumanagara, membawa kekayaan dan kehormatan kepada kedua kerajaan tersebut.

Sebagai hadiah pernikahan, Manikmaya diberikan daerah Kendan yang kini menjadi Nagreg, Bandung, lengkap dengan rakyat setianya dan pasukan perkasa yang siap menjaga kerajaan.

Kerajaan Kendan adalah sebuah jalinan sejarah yang mempesona, di mana kebijaksanaan sang Maha Guru Manikmaya dan keelokan Tirtakancana menyatu dalam kehidupan masyarakat.

Nagreg, dengan keindahan alamnya dan pesona budayanya, menjadi saksi bisu dari kemegahan kerajaan tersebut.

Meskipun hanya meninggalkan jejak yang terpendam dalam sejarah, Kerajaan Kendan tetap menjadi bagian yang mengagumkan dari warisan budaya Tatar Sunda.

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/jalan-nagreg-dari-jalanan-sepi-hingga-jadi-simpul-kemacetan-lebaran/feed/ 0
Dari Masjid Satu Juta Gulden ke Masjid Satu Triliun: Kisah Dua Pembangunan Masjid Kontroversial di Bandung https://tareekh.my.id/dari-masjid-satu-juta-gulden-ke-masjid-satu-triliun-kisah-dua-pembangunan-masjid-kontroversial-di-bandung/ https://tareekh.my.id/dari-masjid-satu-juta-gulden-ke-masjid-satu-triliun-kisah-dua-pembangunan-masjid-kontroversial-di-bandung/#respond Sat, 03 Jun 2023 07:18:28 +0000 https://tareekh.my.id/?p=906 “Kasus Masjid Raya Al-Jabbar yang menuai pro dan kontra ini mirip dengan wacana pendirian masjid besar nan megah di Bandung pada tahun 1920-an yang diusulkan oleh Bupati Bandung saat itu, R.A.A Wiranatakusumah.”

Setelah diresmikan di akhir tahun 2022 oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Masjid Raya Al-Jabbar yang terletak di kecamatan Gedebage Bandung menjadi tujuan bagi banyak orang yang datang dari dalam dan luar Bandung.

Masjid ini mendapat banyak pujian atas kemegahannya dan keindahannya. Keeksotikan masjid ini semakin meningkat dengan adanya danau retensi yang mengelilinginya.

Namun, ada juga yang mengkritik keras keberadaan masjid ini dan menganggapnya sangat tidak berfaedah.

Mereka berasalan anggaran pembangunan masjid sebesar 1 triliun rupiah seharusnya dialokasikan untuk pengembangan sektor pendidikan dan pengurangan angka kemiskinan di Jawa Barat.

Sementara yang lainnya menilai jumlah masjid di kota Bandung sudah lebih dari cukup.

Kasus Masjid Raya Al-Jabbar yang menuai pro dan kontra ini mirip dengan wacana pendirian masjid besar nan megah di Bandung pada tahun 1920-an yang diusulkan oleh Bupati Bandung saat itu, R.A.A Wiranatakusumah.

Masjid Satu Juta Gulden

Wiranatakusumah, Bupati Bandung yang memimpikan pendirian Masjid megah serupa Hagia Sophia di Bandung. (Id.wikipedia.org).

Menurut Harian Indische Courant yang terbit pada bulan Juli dan Agustus 1925, Wiranatakusumah yang sedang menjabat Bupati Bandung saat itu memimpikan Bandung punya sebuah masjid yang eksotis sebagaimana masjid-masjid di Jawa (Jawa Tengah dan Timur).

Wiranatakusumah yang serius dengan mimpinya itu meminta arsitek kenamaan Belanda, W.C.P Schoemaker, membuat rancangan desain awal masjid itu.

Wiranatakusumah juga meminta pada Schoemaker supaya desain masjid itu seindah dan semegah Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki. W.C.P Schoemaker pun mengiyakannya. 

Tak butuh waktu lama rancangan desain awal masjidnya Wiranatakusumah selesai.

Desainnya sangat megah sebagaimana keinginannya Wiranatakusumah. Masjid ini bisa menampung 5000 jamaah dengan sebuah menara setinggi 6 meter.

Menuai Protes dan Gagal

Namun, rencana pembangunan masjid megah ini segera menuai beragam protes.

Serupa dengan kasus Masjid Raya Al-Jabbar, protes pembangunan masjid ini bermula dari alokasi dana pembangunannya yang mencapai angka satu juta gulden.

Angka itu dinilai terlalu kemahalan.

Surat Kabar Indische Courant yang terbit pada 3 September 1925 menilai masjid-masjid yang ada di Bandung tidak kalah megah dan eksotik apabila dibandingkan dengan masjid-masjid di Jawa (Jawa Tengah dan Timur). Alangkah lebih baiknya dana satu juta gulden itu digunakan untuk membangun beragam fasilitas pendidikan dan rumah sakit.

Harian Het Vaderland yang terbit pada tanggal 25 September 1925 juga ikut-ikutan mengkritik ide Wiranatakusumah dinilai cuma buang-buang uang.

Mereka juga sama berasalan uang sebanyak itu baiknya digunakan untuk mengirim orang-orang pribumi terpelajar ke negara-negara Barat dan Jepang.

Karena menuai protes yang hebat dari masyarakat, Bupati Bandung Wiranatakusumah lantas memilih membatalkan niatnya itu. Sehingga, masjid dengan biaya satu juta gulden tersebut tidak pernah dibangun. 

Profil Penulis

Danil Kasputra

Seorang penikmat buku-buku Sejarah dan senang menulis.
Facebook
Twitter
LinkedIn
Instagram
Youtube

]]>
https://tareekh.my.id/dari-masjid-satu-juta-gulden-ke-masjid-satu-triliun-kisah-dua-pembangunan-masjid-kontroversial-di-bandung/feed/ 0
“Ilmoe Pembela Orang Sakit” Buku Tentang Bagaimana Merawat Orang yang Sakit (1938) https://tareekh.my.id/ilmoe-pembela-orang-sakit/ https://tareekh.my.id/ilmoe-pembela-orang-sakit/#respond Sun, 09 Oct 2022 01:26:13 +0000 https://tareekh.my.id/?p=845 /*! elementor - v3.7.4 - 31-08-2022 */
.elementor-column .elementor-spacer-inner{height:var(--spacer-size)}.e-container{--container-widget-width:100%}.e-container>.elementor-widget-spacer{width:var(--container-widget-width,var(--spacer-size));-ms-flex-item-align:stretch;align-self:stretch;-ms-flex-negative:0;flex-shrink:0}.e-container>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container,.e-container>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer{height:100%}.e-container>.elementor-widget-spacer>.elementor-widget-container>.elementor-spacer>.elementor-spacer-inner{height:var(--container-widget-height,var(--spacer-size))}Karya antik berjudul ‘Ilmoe Pembela Orang Sakit’ merupakan salah satu referensi penting tentang instruksi perawatan pasien di masa Hindia Belanda. Ditulis oleh seorang dokter bernama dr Stokvis Cohen Stuart, buku yang beredar secara umum adalah cetakan ketiga yang diterbitkan pada 1938. Referensi perawatan ini menjawab tantangan zaman di masa Hindia Belanda. Sebagaimana diketahui di awal abad ke-20, Gubernur Jendral Hindia Belanda mendorong Pendidikan bagi para perawat atau yang mereka sebut sebagai mantri.  Akibat berkembangnya Pendidikan untuk mantri, ujian-ujian untuk kelulusan bagi para mantri menjadi sesuatu yang umum terjadi. Oleh karena itu referensi untuk ujian para mantri menjadi salah satu hal yang wajib dimiliki bagi para mantri. Dengan latar belakang ini, dr Stokvis Menyusun referensi yang bisa digunakan para mantri baik ketika menempuh Pendidikan maupun saat bekerja. Kemunculan referensi secara ilmiah tentang perawatan ini juga nampak didorong oleh implementasi politik etis dari Hindia Belanda di awal abad ke-20 dan juga berdirinya sekolah dokter STOVIA.               Awal abad ke-20 menjadi saksi bagi kebijakan Hindia Belanda yang “ramah” pribumi. (Niel, 1958) Di tahun 1904 Gubernur Jendral Idenburg menginginkan keterangan lanjutan untuk ketidaksejahteraan masyarakat Hindia Belanda di berbagai aspek termasuk pula Pendidikan, pengairan hingga perpindahan penduduk. (Ricklefs, 2008) Oleh karenanya, Pendidikan juga menjadi salah satu elemen penting, termasuk Pendidikan bagi perawat. Oleh karenanya, dr Stokvis Menyusun buku penting dalam referensi dunia perawatan. 
Figure 1. Grafik yang menunjukkan angka pasien dalam 30 tahun sejak 1890-1920. dikutip dari Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market.
Dengan grafik ini, kita melihat perkembangan angka yang sangat signifikan dari kedatangan pasien untuk berobat di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Sehingga mendorong Pendidikan bagi para perawat untuk membantu dokter-dokter yang bertugas di abad tersebut. (Hesselink, 2011) Dengan dua latar belakang tersebut, dr Stokvis menyusun referensi bagi Pendidikan keperawatan ini. Read More:

Isi Buku

Dengan grafik ini, kita melihat perkembangan angka yang sangat signifikan dari kedatangan pasien untuk berobat di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Sehingga mendorong Pendidikan bagi para perawat untuk membantu dokter-dokter yang bertugas di abad tersebut. (Hesselink, 2011) Dengan dua latar belakang tersebut, dr Stokvis menyusun referensi bagi Pendidikan keperawatan ini.               Di dalam buku ini, dr Stokvis membahas beberapa hal dasar tentang keperawatan. Pertama adalah anatomi tubuh manusia yang melibatkan diskusi tentang susunan tulang manusia, organ-organ tubuh manusia hingga pembahasan tentang system syaraf. Lalu pada bagian kedua membahas ciri-ciri umum yang dapat dikenali dari pasien yang sakit. Misalnya, dr Stokvis membahas bagaimana ciri wajah dari orang-orang yang sakit hingga analisis tentang nafsu makan dan minum dari seorang pasien. Lalu bagian selanjutnya membahas secara rinci tentang penyakit-penyakit tertentu dan bagaimana cara penanganannya. (Stuart, 1938) Berikut adalah salah satu contoh pembahasan yang ada di dalam karya dr Stokvis;
Figure 2 Ilustrasi sel. Dikutip dari dr Stokvis Cohen, Ilmoe Pembela Orang Sakit

Gambar di atas merupakan salah satu contoh pembahasan dalam karya Stokvis di bagian pertama yang mendiskusikan tentang sel dan anatomi tubuh manusia, suatu pembahasan yang juga dipelajari di sekolah-sekolah modern. Dari pembahasan-pembahasan dr Stokvis, nampak bahwa referensi keperawatan pada awal abad ke-20 cukup lengkap dan jelas membantu dalam memperluas pengetahuan perawat pada masa ini.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, referensi berjudul “ilmoe pembela orang sakit” merupakan salah satu referensi penting bagi Pendidikan keperawatan paling awal di masa Hindia Belanda. Didorong oleh kebijakan politik etis dan reformasi STOVIA, kebutuhan akan perawat dan Pendidikan keperawatan meningkat dan melatarbelakangi penyusunan buku ini. Membahas tiga diskusi penting dalam dunia keperawatan, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa karya Stokvis ini merupakan salah satu referensi tentang Kesehatan dan keperawatan yang lengkap, terutama di masa nya.

Profil Penulis

Rendy Kurniawan

Rendy menghasilkan beberapa karya tulis, diantaranya: History of Packaging in Indonesia dan Overview of Maritime History of Indonesia. Facebook Twitter LinkedIn Instagram Youtube]]>
https://tareekh.my.id/ilmoe-pembela-orang-sakit/feed/ 0