/**
* Twenty Twenty-Five functions and definitions.
*
* @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/
*
* @package WordPress
* @subpackage Twenty_Twenty_Five
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*/
// Adds theme support for post formats.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_post_format_setup' ) ) :
/**
* Adds theme support for post formats.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_post_format_setup() {
add_theme_support( 'post-formats', array( 'aside', 'audio', 'chat', 'gallery', 'image', 'link', 'quote', 'status', 'video' ) );
}
endif;
add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_post_format_setup' );
// Enqueues editor-style.css in the editors.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_editor_style' ) ) :
/**
* Enqueues editor-style.css in the editors.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_editor_style() {
add_editor_style( get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/editor-style.css' ) );
}
endif;
add_action( 'after_setup_theme', 'twentytwentyfive_editor_style' );
// Enqueues style.css on the front.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_enqueue_styles' ) ) :
/**
* Enqueues style.css on the front.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_enqueue_styles() {
wp_enqueue_style(
'twentytwentyfive-style',
get_parent_theme_file_uri( 'style.css' ),
array(),
wp_get_theme()->get( 'Version' )
);
}
endif;
add_action( 'wp_enqueue_scripts', 'twentytwentyfive_enqueue_styles' );
// Registers custom block styles.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_block_styles' ) ) :
/**
* Registers custom block styles.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_block_styles() {
register_block_style(
'core/list',
array(
'name' => 'checkmark-list',
'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfive' ),
'inline_style' => '
ul.is-style-checkmark-list {
list-style-type: "\2713";
}
ul.is-style-checkmark-list li {
padding-inline-start: 1ch;
}',
)
);
}
endif;
add_action( 'init', 'twentytwentyfive_block_styles' );
// Registers pattern categories.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_pattern_categories' ) ) :
/**
* Registers pattern categories.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_pattern_categories() {
register_block_pattern_category(
'twentytwentyfive_page',
array(
'label' => __( 'Pages', 'twentytwentyfive' ),
'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfive' ),
)
);
register_block_pattern_category(
'twentytwentyfive_post-format',
array(
'label' => __( 'Post formats', 'twentytwentyfive' ),
'description' => __( 'A collection of post format patterns.', 'twentytwentyfive' ),
)
);
}
endif;
add_action( 'init', 'twentytwentyfive_pattern_categories' );
// Registers block binding sources.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_register_block_bindings' ) ) :
/**
* Registers the post format block binding source.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return void
*/
function twentytwentyfive_register_block_bindings() {
register_block_bindings_source(
'twentytwentyfive/format',
array(
'label' => _x( 'Post format name', 'Label for the block binding placeholder in the editor', 'twentytwentyfive' ),
'get_value_callback' => 'twentytwentyfive_format_binding',
)
);
}
endif;
add_action( 'init', 'twentytwentyfive_register_block_bindings' );
// Registers block binding callback function for the post format name.
if ( ! function_exists( 'twentytwentyfive_format_binding' ) ) :
/**
* Callback function for the post format name block binding source.
*
* @since Twenty Twenty-Five 1.0
*
* @return string|void Post format name, or nothing if the format is 'standard'.
*/
function twentytwentyfive_format_binding() {
$post_format_slug = get_post_format();
if ( $post_format_slug && 'standard' !== $post_format_slug ) {
return get_post_format_string( $post_format_slug );
}
}
endif;
Over the last decade, social media platforms have become significant in the way they influence societies culturally. The penetration of social media with or without consiousnes affected the whole modern culture in the 21st century . Together with the emerge of virtual world and its platforms, social patterns and behaviors is transforming in many ways. Within this focus, Jose Van Dijck might be able to clear our path through the understanding of history of social media and its influence to the social life as well.
In many ways, social media did not just suddenly appeared. Their emergence have quite historical background. Within the last decade, it transforms from the simple coding to the complex networks within the internet connection, from the insignificant programs to the most reliable application on earth. With the development of many features of social media, people is now having their pleasure through the social media rather than social life. Despite of its pleasure, some people getting their financial profit using social media. In turn, these platforms become the arena of public communication where contested rules. The private and public sphere are now obscure. The social amusement is now could be counted by coding number of like and dislike. This reality reflects the dramatic evolution of human behavior because of social media. In the other words, the social media have changed not simply culture but politic, communication, social life and economic as well.
Due to the explanation above, the works of Jose is explaining the whole development and influences of social media with multidisciplanaries approach, namely actor-network theory (ANT) and Political Economy. With these two, the prevailing objects are ownership, governance, business model, content, users and technology. Jose is figuring out the mentioned six points in five different forms of social media, it is ; Facebook, Twitter, Youtube , Flickr and Wikipedia. It means that Jose tries to discuss the influence of each social media culturally, socially, politically, technologically and economically.
Eventhough social media seems to be comprehensively discussed in this book, there is no chance that this condition will last long. Concerning the rapid development of social media, Jose’s work which is published in 2012 might need some kind of addition and deeper researches. For exampele, only four years after this book was published, one by another social media is gradually appearing. look at the recent time when instagram and whatsapp is now conquering the virtual world. Therefore, the research of social media is hardly dynamic and challenging as well.
]]>“Ketika seorang sejarawan Rusia berupaya mengumpulkan lembaran-lembaran arsip usang Uni Soviet yang selama ini tersimpan rapat dan jarang diketahui. Untuk merangkai kisah-kisah awal hubungan Indonesia dan Soviet”
Kurang lebih dua tahun lalu saya membaca sebuah buku karya seorang Sejarawan Rusia bernama Larissa M. Efimova. Judul bukunya Dari Moskow ke Madiun. Kebetulan saat itu saya membuat beberapa catatan kecil mengenai buku itu. Beberapa catatan kecil yang akan saya tuangkan dalam suatu wadah tulisan dalam bentuk sebuah resensi. Berikut ini isi resensinya.
Di bagian awal tidak ada pengantar penulis atau sekadar sekapur sirih sebagaimana buku-buku akademis biasanya. Pada bagian ini hanya pengantar penerbit saja yang tampil. Dalam pengantar itu, ada beberapa hal yang ingin penerbit sampaikan. Pertama, perlunya pembukaan dokumen atas peristiwa Madiun seluas mungkin. Baik itu berupa tulisan individu-individu yang terlibat maupun penelusuran historiografi berbagai pihak yang dapat diandalkan.
Kedua, patut dipertanyakan kembali apakah benar Uni Soviet terlibat secara penuh dalam petualangan di Madiun tahun 1948. Ketiga, nyatanya dari penelusuran Afimova dalam Arsip-arsip Soviet, negara superpower ini agak cuek dengan permasalahan Indonesia. Tapi walaupun cuek, Uni Soviet jugalah yang merupakan negara pertama menyeret Indonesia ke dalam kancah perang dingin. Keempat adalah dinamika hubungan antara kedua negara. Bagaimana Soviet menjadi sponsor utama Republik yang baru lahir untuk masuk ke dalam PBB. Sungguh suatu pengantar yang menarik. Orang-orang pun saya rasa akan semakin penasaran jika membaca terlebih dahulu pengantar buku ini.

Buku Dari Moskow ke Madiun ini sangat tipis. Jumlah halaman memuat teks, daftar pustaka, indeks, dan dll. Sayangnya foto-foto sebagai pewarna buku tidak penulis cantumkan, sehingga terasa seperti ada yang hilang. Ada 171 halaman tapi hanya 157 yang memuat deskripsi utama. Cukup renyahlah bagi para pembaca pemula juga santapan lezat bagi para kutu buku. Saya pun tidak perlu berjuang keras untuk membaca uraian deskripsinya. Apalagi dari aspek bahasa, penulis menyampaikan gagasannya begitu mengalir tidak bertele-tele. Campur tangan penerjemah juga ikut bermain disana. Tanpa penerjemah yang kompeten, tidaklah mungkin hadir bacaan yang senyaman ini.
Lalu Sang Penulis membagi buku ini ke dalam empat bab dilakukan secara tematis. Permulaan dan Proses pembukaan hubungan diplomatik antara Soviet dan Republik Indonesia mengawali permulaan buku ini. Kemudian, Siapakah yang memberi perintah pada Musso dalam petualangannya di Madiun tahun 1948. Lalu masuk pada bagian hubungan Stalin dan bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pemberontakan tahun 1926. Di bagian akhir, Efimova memaparkan bukti-bukti baru tentang pembukaan hubungan diplomatik Soviet Indonesia (1949-1953).
Satu hal yang menarik. Dari Moskow ke Madiun bukan saja karena penulisan sejarah Indonesia dari kacamata seorang sejarawan Rusia yang selama ini sering terbaikan, melainkan arsip-arsip Soviet yang hadir sebagai sumber primer yang membentuk fondasi dasar penulisan buku ini. Arsip-arsip Soviet yang sebelumnya tersimpan rapat di Kremlin dan bersifat sangat rahasia, mulai bisa dijamah publik sejak kejatuhan rezim komunis di Rusia awal dekade 90-an. Tentu saja banyak informasi baru disana.
Informasi baru itu lumayan juga banyak yang merekam kejadian-kejadian di Indonesia terutama hubungan Kremlin sebagai pusat dari poros utama partai komunis dunia dengan partai komunis di Indonesia. Dari sana ada banyak hal yang telah kita ketahui seperti Musso yang meminta bantuan Stalin selama pemberontakan PKI tahun 1926. Tapi banyak juga informasi yang tidak pernah kita ketahui sekali.
Sebagai negara yang lahir setelah perang Dunia II, sebagian dari kita sering menyakini bahwa Indonesia berada dalam perebutan pengaruh dua kekuatan besar dunia yang lahir setelah perang usai, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Narasi-narasi yang ada sering menggambarkan bagaimana Amerika Serikat berusaha pada satu sisi membela kepentingan Belanda sebagai sekutunya. Tapi pada sisi yang lain, Amerika Serikat juga tidak rela Indonesia jatuh ke dalam kubangan komunisme. Sementara itu Narasi lain mengisahkan upaya Soviet membawa Indonesia ke dalam pusaran pengaruhnya dengan mengutus seorang petualang sekaligus dedengkot PKI yang hidup dalam pengasingan di Moskow, Musso ke Indonesia.
Melalui tulisan Dari Moskow ke Madiun ini juga kita menemukan suatu hal yang tak terduga bahwa selama tahun-tahun awal seusai perang, Indonesia berada di luar kepentingan besar Uni Soviet. Terlihat dari diplomasi politik awal Soviet yang nampak sangat terkesan hati-hati untuk berkenalan negara baru itu. Uni Soviet bukan tidak tahu Indonesia sebagai sebuah negeri yang sedang berjuang untuk merdeka. Namun bagi Soviet negara itu tidak begitu menarik perhatiannya. Biro Asia Tenggara Soviet pun menyarankan perlunya sikap hati-hati untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Apalagi dalam perjanjian diantara anggota sekutu sesudah perang terkait pembagian pengaruh dunia, Asia Tenggara bukanlah dalam lingkup pengaruh Soviet.
Janganlah heran, hubungan kedua negara baru terjalin kurang lebih tiga tahun kemudian melalui Suripno sebagai utusan Indonesia untuk negara-negara blok Timur. Lagi-lagi Biro Asia Tenggara pun menyarankan untuk lebih berhati-hati. Tapi akhirnya Uni Soviet menyetujui hubungan antara dua negara.
Walaupun di luar kepentingan besar Uni Soviet, para pemimpin Soviet juga tetap mengamati perkembangan Indonesia dari kejauhan. Tapi mereka sangat kekurangan bahan dan informasi yang mendalam tentang apa saja yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bahan informasi yang ada hanya mereka peroleh dari para komunis pelarian asal Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Musso. Musso sendiri pemimpin utama PKI yang melarikan diri ke Moskow setelah gagalnya pemberontakan PKI tahun 1926. Meskipun begitu dia sempat kembali ke Indonesia tahun 1935 untuk membangun PKI di bawah tanah.
Pada awalnya Musso sangat mendukung berbagai kebijakan yang digariskan oleh kawan-kawannya di Indonesia. Apalagi kaum kiri Indonesia memegang pucuk pemerintahan. Musso juga tak mempermasalahkan dengan berbagai perundingan yang dilakukan dengan Belanda. Mengenai kaum kiri yang terpecah dan berinfiltrasi dalam berbagai macam partai, Musso juga tak mau ambil pusing. Karena bagi Musso situasi dan kondisi memang mengharuskan kaum kirim melakukan tindakan demikian. Ketika Musso melaporkan situasi dan keadaan Indonesia yang demikian, para pejabat Soviet pun sebenarnya sering mengkritiknya. Tapi Musso malah membantah dan teguh pada pendiriannya. Musso juga membela mati-matian apa yang dilakukan kaan-kawannya di Indonesia.
Tapi awal Januari 1948 kabinet kaum kiri di Indonesia jatuh, Hatta seorang nasionalis naik memegang kendali pemerintahan Indonesia. Kabinet Hatta mendapat dukungan Masyumi dan PNI yang notabene mewakili kelompok agama dan nasionalis. Partai Sosialis yang mewakili sebagian besar suara kaum kiri terpecah. Orang-orang yang berkecenderungan kanan dalam partai itu dipimpin Syahrir menyokong kabinet Hatta dan keluar dari partai membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia. Kaum kiri pun tersisih dari Kabinet dan mereka tidak terwakili. Satu hal yang lucu, mungkin akibat kekurangan bahan informasi, orang-orang di Soviet pada awalnya menganggap Syahrir sebagai seorang komunis yang dapat dipercaya. Baru diketahui kemudian Syahrir bukan seorang komunis.
Kejatuhan pemerintahan kaum kiri di Indonesia sampai telinga para pejabat Soviet, mereka marah mendengar ini dan menyalahkan Musso atas keterkekehannya dulu dalam membela kebijakan salah kawan-kawannya di Indonesia. Akibatnya kata mereka pemerintahan Indonesia jatuh pada kendali kaum nasionalis borjuis. Mereka kemudian meminta Musso untuk kembali ke Indonesia dengan doktrin yang telah mereka gariskan. Musso kemudian kembali ke Indonesia dengan membawa doktrin yang digariskan Moskow. Tapi doktrin itu sendiri sempat ia ubah dan otak-atik bersama seorang tokoh komunis Belanda. Doktrin itu kelak muncul dalam judul “Jalan Baru Revolusi Indonesia”. Musso sendiri yang sempat dihujat dan disalahkan kemudian datang ke Indonesia sdengan rasa frustasi.
Setelah tiba di Indonesia, Musso menyatukan beberbagai kelompok kiri yang terpecah ke dalam satu partai Partai Komunis Indonesia. Musso keliling wilayah Republik di Jawa, memimpin rapat umum dan berpidato di tengah rakyat. Musso menyalahkan pemimpin Republik yang malah menjalankan perundingan Renville yang tak adil, padahal kawannya dulu lah yang menandatangani perundingan itu. Kurang dari seratus hari setelah kedatangannya, pertengahan 1948 meletus peritiwa Madiun.
Musso dengan percaya diri dalam sebuah radio menyerang pemerintahan Soekarno-Hatta. Musso juga menyerukan agar rakyat ikut bersamanya. Soekarno yang tak kalah berani lalu menyerang Musso dalam siaran radio dengan suara lantang “Pilih Musso atau Sukarno”ucapnya. Tentara Siiwangi yang terusir dari Jawa Barat akibat perundingan renville dan kebetulan bermarkas di Solo bergerak ke Madiun. Dalam waktu kurang dari dua minggu, mereka telah mematahkan perlawanan Musso. Madiun pun kembali dalam genggaman Republik.
Sementara itu Musso tahu perlawannya gagal melarikan diri bersama sisa pengikutnya. Tapi dalam pelarian, langkahnya terhadang oleh satuan-satuan Siliwangi. Dalam suatu rumah Musso kemudian terkepung dan tewas tertembak. Maka tamatlah riwayat Musso. Itulah cerita singkat tentang pengelanaan Musso selama kurang dari seratus hari di Indonesia. Cerita ini telah banyak dketahui. Tapi ada satau informasi yang baru kita ketahui setelah membaca buku kerangan Larissa Efimova ini.
Para pejabat Soviet sebenernya tidak pernah menyarankan Musso untuk kembali ke Indonesia untuk memimpin PKI. Mereka justru lebih menyarankan tokoh senior PKI semacam Alimin daripada Musso. Para pejabat Soviet malah lebih senang jika Musso cukup ditempatkan sebagai penasehat partai atau sejenisnya dengan pengaruh besar untuk menjalankan agendanya. Alasan utama para pejabat Soviet ialah Musso telah lama meninggalkan Indonesia, sehingga dia sudah tidak mengetahui lagi secara utuh seluk beluk situasi dan kondisi di Indonesia. Informasi yang dia dapatkan pun selama di Indonesia hanyalah dari para mahasiswa, anggota partai yang kebetulan sedang di Moskow. Itupun dengan bahan informasi yang sepotong-sepotong. Oleh karenanya, mereka cukup kaget ketika Musso kembali ke Indonesia malah memimpin PKI.
Begitulah kurang lebih resensi saya mengenai buku Lariisa Efimova ini. Buku ini layak untuk anda baca terutama bagi anda penggemar kisah-kisah masa revolusi serta juga pengkaji sejarah revolusi Indonesia.
Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/22/mabadi-ilmu-tarikhseluk-beluk-mengenai-ilmu-sejarah/
]]>The term “censor” has no acceptable definition throughout the history. Periodically, the meaning of “censor” sometimes different and debatable. Because of this fact, indeed there is no exact answer about what is censor. Rather than confused defining censors, Darnton with his work tried to figure it out differently. Three distinctive cases of literature suppression in France in Eighteenth century, India in Colonial reign and East German under the hand of Communism are being the concern of this book. In turn, these comparative study might help the readers to find out what is censorship and its history.
The kingdom possessed the censor of early Eighteenth century France. In the other words, the court seized the control over literature distribution. There is no editor nor bookseller except the royal representatives. At least, this might be occurred until the French Revolution in the end of Eighteenth centuries. The whole story went extremely different in the India under the British reign. In this different place, nineteenth century was an important period over India censhorship history. Generally, British Government had no censor institution to restrict any book or document.
However, the state would impose certain law whenever it felt threatened by this ‘freedom of speech’. For instance, James Long of Bengal who write ethnographic study was imprisoned because of his work. It suspected to be an insult to the british rule over India. Move toward the heart of Europe in different time, East German under the Communism had unbelievable censorship.
In investigating the East German, Darnton was able to meet the person in charge. He met a man and a woman which is worked for Communist in East German. Compared with France and India before, The censor of East German is quite different. Rather than limiting and restricting the censor of East German is planning the whole literature. It means that, the state arranged the published literature. Darnton had found the annual list of East German’s planned literature. In this case, the state hardly intervened with the literature publication.
From the observation of three distinctive cases, thanks to Darnton, people might be concerned about what is censor and its history. In addition, From this comparative study, there is a critical point. Censor had and may still have a strong connection to the state intervention. Eighteenth century France, Nineteenth Century India and Twentieth Century East German was a notable example over this statement.
Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/14/mukhtasar-al-mufid-fi-ilmi-tarikh/
Lihat juga : https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Darnton
]]>Judul Kitab: Mukhtasar al-Mufid Fi Ilmi Tarikh
Penulis: Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji
Penyalin: Muhammad al-Damisi
Penerbit: Perpustakaan Aya Sofia
Tahun: 8 Rajab 867 H
Kota: Anatolia
Tebal: 54
Mukhtasar al-Mufid fi ilmi Tarikh sangat menarik untuk dibahas. Sebuah karya dari seorang ulama yang bernama Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad al-Kafiyaji, yang disalin ulang oleh salah satu muridnya yaitu al-Damisi. Perlu dicatat, al-Kafiyaji bukanlah sejarawan terkemuka layaknya Ibnu Kholdun. Al-Kafiyaji cenderung lebih dikenal seorang ahli Kafiyah (kitab nahwu) Ibnu Haajib. Sehingga kemudian namanya dilaqobkan dengan nama al-Kafiyah. Namun, al-Kafiyaji mampu menciptakan sebuah karya Mabadi ilmu tarikh atau pengantar ilmu sejarah (histriografi) pertama yang ditulis dikalangan muslim. Mengupas kata Tarikh dari mulai definisi, sejarah dari kata tarikh, prinsip-prinsip serta dasar-dasar ilmu Tarikh dan tujuan. Kitab ini juga memaparkan syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan menulis sejarah.
Kitab Mukhtasar ini jika dilihat sepintas, gaya penulisannya hampir sama dengan gaya penulisan dalam metodologi penelitian ilmu fikih. Kemungkinan memang terinspirasi dari sana. Uraian-uraian yang disajikan dalam kitab Mukhtasar al-Mufid fi Ilmi al-Tarikh ini pada garis besarnya membahas 10 Fan ilmu. 10 Fan ini dalam kajian klasik sangat populer tentang Mabadi Asyrah atau sepuluh prinsip dasar dari bangunan sebuah ilmu. Al-Kafiyaji sebagai penulis buku ini kemudian menuliskan disiplin ilmu tarikh dengan membaginya menjadi 3 fasal atau bagian. Pertama membahas al-Had dalam ilmu tarikh, kedua membahas objek dan permasalahan ilmu tarikh, dan ketiga menjelaskan tentang kemulian ahli ilmu, keutamaanya, dan hasil pelajaran dan renungan yang mengandung pengajaran (dalam ilmu tarikh).
Sebagai contoh, pada pembahasan pertama al-Kafiyaji membicarakan mengenai prinsip-prinsip historiografi dimana didalamnya membicarakan Had (definisi) tarikh wa ilmi tarikh, sebab pemakaian kata tarikh, menjelaskan isyarat dari objek sejarah yang harus ditulis oleh seorang sejarawan, menjelaskan hukum mempelajari ilmu tarikh atau historiografi dan menjelaskan mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang sejarawan. Kemudian pada pembahasan kedua al-kafiyaji menjelaskan prinsip dan permasalahan dasar yang dibahan dalam ilmu tarikh.
Terdapat beberapa kelebihan dalam kitab ini. Pertama, kitab ini tampil dengan tulisan unik tapi dilakukan dengan studi yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Hal ini bisa terlihat dari tulisannya yang hampir sama dengan metode ilmu fikih dimana menggunakan konsep Mabadi Asyrah, walaupun secara susunan tidak runtut sebagaimana yang disebutkan dalam syair Ali al-Shabhani. Selain itu kitab ini cukup menarik dan bisa dikatakan kitab ilmu tarikh atau pengantar penulisan sejarah pertama yang ditulis oleh muslim.
Kekurangan kitab ini ialah cukup minimnya penjelasan terhadap beberapa istilah yang dipakai oleh penulis sehingga membuat para pembaca harus membuka sumber lain untuk bisa memahaminya. Namun, tidak berarti kitab ini tidak layak, kitab layak dibaca terlebih oleh orang yang menggeluti sejarah muslim, karena bakal menambah dan memberikan mereka tambahan dalam perspektif baru mengenai histriografi muslim.
Lihat juga :https://tareekh.my.id/2020/09/13/riwayat-seni-kaligrafi-di-indonesia/
]]>Muhammad:The Messenger of God, sebuah film yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga pertemuannya dengan pendeta Buhaira di usia 13 tahun. Majid Majidi berperan penting menyutradarai film ini. Majid Majidi tak sendiri, ia juga dibantu bintang-bintang film Iran yang beradu acting memerankan tokoh tokoh di seputar kehidupan Nabi. Mehdi Pakdel memerankan paman Nabi Abu Talib. Lalu Ali Reza Shoja Nouri berperan sebagai Abdul Muttalib kakek Nabi juga Sareh Bayat sebagai Halimah pengasuh Nabi.
Pada bagian permulaan, alur film Muhammad: The Messenger of God maju terlebih dahulu mengisahkan para tetua kaum Quraisy bermusyarah menentukan langkah untuk menghentikan dakwah Nabi. Abu Sufyan sebagai salah satu tetua utama kaum Quraisy bertemu dengan Abu Talib (Paman Nabi). Dia mengancam Abu Talib bahwa kaum Quraisy tak segan untuk memboikot Bani Hasyim apabila tetap melindungi dakwah Nabi.
Alur film kemudian mundur membawa anda pada masa awal kelahiran Nabi. Penduduk Mekkah sedang gempar. Raja Habasyah, Abrahah menyerang Mekkah. Dia berniat menghancurkan Kabah. Abdul Muttalib, tetua utama Mekkah pasrah dan menyerahkan Kabah kepada Tuhan pemiliknya. Pasukan Abrahah menyerbu Mekah tapi gajah-gajah pasukannya enggan bergerak. Lalu tak lama kemudian burung-burung ababil datang dan membawa batu batu panas menghujani pasukan Abrahah hingga seluruhnya tewas bertumbangan.
Adegan film lalu mengisahkan kelahiran sang Nabi yang ditandai munculnya bintang terang. Orang-orang Yahudi dan Kristen di Syria melihat hal ini sebagai pertanda muncul Nabi Terakhir. Lalu film berlanjut pada kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Aminah binti Wahab, sang ibu yang kebingungan tidak adanya ASI, sebab Abu Lahab paman nabi sendiri enggan menetekkan ASI budaknya pada Nabi.
Pada usia remaja Nabi, adegan menampilkan beliau sebagai seorang remaja yang sangat pengasih. Saat Nabi sedang menggembala. Ada seorang pria yang ingin membunuh anaknya hanya karena sang anak terlahir sebagai perempuan. Tradisi masyarakat saat itu adalah suatu aib memiliki anak perempuan. Nabi yang masih remaja amat pengasih dan penyayang mengendong bayi itu. Tak disangka setelahnya, kemarahan sang ayah sirna. Kemudian adegan pertemuan Nabi dengan pendeta Buhaira mengakhiri film.
Ada beberapa adegan yang menampilkan karakter tokoh yang berlainan dengan sebagian besar pengetahuan kaum muslim tentang tokoh itu. Salah satunya karakter Abu Talib dan Abdul Mutallib digambarkan sebagai seorang penyembah agama hanif. Mereka berdua tidak pernah menyembah berhala.
Ada beberapa kelebihan film ini. Pertama dari segi visual film ini tampil mirip film film Holywood. Tak perlu heran, Majid Majidi menggandeng sinemator dan penata musik Hollywood Vittorio Storaro dan Ar Rahman. Kedua latar setting tempat dan waktu film ini pun tampil sangat luar biasa. Kondisi Mekkah dan Madinah tampak terasa hidup dengan kostum dan pembuatan latar tempat kedua itu yang tampak nyata. Ketiga Film ini berusaha menampilkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat pengasih.
Ada beberapa hal kontroversial yang mengakibatkan film ini kurang begitu disambut terutama bagi mayoritas pemeluk Muslim Sunni. Pertama, tokoh nabi Muhammad ditampilkan walaupun bagian muka dari nabi tidak pernah dimunculkan. Tapi hal ini dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan tradisi Islam Sunni agak ketat dalam penggambaran karakter nabi.
Lihat: https://tareekh.my.id/2020/09/07/resensi-buku-sepoer-oeap-di-djawa-tempo-doeloe/
]]>Judul Buku : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doloe
Penulis : olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun : 2017
Kota : Jakarta
Tebal : 271 hlm
Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe menjadi bahasan minggu ini. Sebuah karya dari seorang Belanda lulusan Universitas Delft bernama Olivier Johannes Raap. Raap bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ambil bagian sebagai pihak penerbit dan distributor buku ini. Perlu diketahui sejatinya Raap bukanlah seorang sejarawan serta bukan pula seorang yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan Sejarah. Latar belakang pendidikannya di Universitas Delft pun adalah arsitektur. Namun Raap mampu menciptakan sebuah karya sejarah yang unik tapi juga didasarkan pada studi yang serius. Mengandalkan kegemarannya mengoleksi kartu pos kuno, Raap mampu menyusun sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dalam tampilan koleksi kartu pos kuno.
Buku Sepoer di Jawa Tempoe Doeloe berupaya membawa kita menelusuri sejarah panjang perkembangan kereta api di Indonesia melalui media kartu pos kuno. Kartu-kartu pos ini banyak menampilkan wajah kereta api Indonesia tempo dulu. Raap sebagai penulis buku ini kemudian menyusun kumpulan kartu pos kuno itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 17 bab. Setiap bab berisi sejarah perkembangan kereta api di berbagai daerah di Jawa misalnya bab 1 dengan judul Titik Awal: Lintas NIS Semarang-Yogyakarta/Ambarawa, bab ini menjelaskan awal mula kemunculan kereta api di Indonesia.Pada bagian isi setiap bab itu, Raap menyajikan gambar kartu pos, keterangan, beserta penjelasan singkat mengenai objek-objek yang dalam kartu pos itu.
Sebuah contoh dari kartu pos bergambar Stasiun Bandung Lama. Terdapat keterangan pembuatan tahun kartu pos (1907). Lalu keterangan lokasi menunjukan Stasiun Bandung beserta G Kolff dan Co Bandoeng sebagai penerbitnya. Raap lalu menambahkan sebuah penjelasan bahwa Stasiun Bandung pertama dibuka tahun 1884. Stasiun ini juga memiliki arsitektur yang khas. Bangunan ini terdiri atas bagian muka yang menghadap ke selatan dan dua sayap di sebelah kiri dan kananya. Begitulah seterusnya hingga halaman berikutnya setiap kartu pos yang tampil tak luput dari penjelasan.
Ada beberapa kelebihan buku ini. Pertama buku ini tampil dalam balutan sederhana tapi dilakukan dengan studi yang serius. Hal ini terlihat uraian-uraian telah dipaparkan Raap dalam setiap penjelasan kartu posnya. Daftar pustaka yang telah ia lampirkan seperti buku-buku karya Reitsma S.A, DJ Stam hingga kuncen Bandung Haryoto Kunto di bagian akhir telah memperkuat hal itu. Kedua, cara penulis menampilkan sejarah dalam bingkai kartu pos kuno patut menjadi diapresiasi. Raap mampu menjadikan sebuah kisah sejarah hidup, mengajak para pembacanya untuk berimajinasi lebih dalam serta enak dipandang.
Kekurangan buku ini ialah ketiadaan in-note dalam setiap penjelasan yang penulis sampaikan. Memang pada bagian akhir penulis melampirkan daftar pustaka. Tapi pada bagian penjelasan penulis jarang merujuk pada apa yang dia gunakan. Tapi tidak berarti buku ini tidak layak, buku ini sangat layak untuk dibaca sebab akan memberikan anda sebuah perspektif baru dalam memahami sejarah.
]]>Resensi Film minggu ini, anda akan kami perkenalkan dengan sebuah film yang didasarkan kisah nyata dari sebuah negeri Eropa Tengah bernama Polandia. Katyn begitulah nama judul film ini, merujuk pada suatu hutan di Rusia. Tempat pembantaian 22.000 perwira dan kaum intelektual Polandia pada tahun 1940 yang dilakukan oleh Uni Soviet. Film ini sendiri disutradarai oleh Andrzej Wajda, dengan mengadaptasi sebuah buku berjudul Post Mortem: The Story of Katyn karya Andrej Mularczyk. Bintang bintang ternama Polandia seperti Andrezej Chyra (Jerzy, seorang perwira berpangkat yang selamat dalam pembataian), Maja Ostaszewska (Anna, istri dari Andrzej), Danuta Stenka (Roza, istri seorang Jenderal Polandia), Artur Zmijewski (Andrzej, seorang perwira berpangkat Kapten) dan Pawel Malaszynski (Piotr Baszkowski, Letnan Penerbang) terlibat dalam pembuatan film ini. Film ini dirilis pada tahun 2007 bertepatan dengan peringatan Invasi Soviet ke Polandia pada tanggal 17 September 1939.
Film ini diawali dengan ketegangan yang melanda Polandia setelah Jerman secara mendadak dari arah barat menginvasi negara mereka. Akibatnya kekacaun terjadi dan ribuan orang Polandia megungsi ke arah timur. Tapi tidak disangka-sangka di tengah kekacauan yang terjadi, para pegungsi dikejutkan oleh berita yang menggemparkan bahwa dari arah timur Tentara Merah Uni Soviet menyerbu Polandia Timur. Polandia pun menyerah dan sebagian tentaranya ditawan Jerman dan Uni Soviet. Anna, istri dari seorang perwira Polandia bernama Kapten Andrzej pun mencari tahu tentang keberadaan suaminya. Kemudian diketahui bahwa suaminya telah ditawan oleh Tentara Soviet.
Kemudian film banyak menceritakan kisah-kisah dari istri-anak anak para perwira Polandia yang menantikan kabar dari suaminya dengan penantian dan harapan yang tak menentu. Kemudian muncul sebuah kabar bahwa suami mereka telah dibantai di hutan Katyn di Rusia. Jerman dan Uni Soviet sebagai agresor utama ke wilayah Polandia saling tuduh-menuduh bahwa pihak satu dan yang lain lah pelakunya. Meskipun semua pihak tahu bahwa Uni Soviet lah dalang di balik semua itu. Film kemudian diakhiri dengan eksekusi massal para perwira dan kaum intelektual Polandia di Hutan Katyn.
Secara keseluruhan film ini sangat layak untuk ditonton terutama bagi mereka para penikmat film berlatar Perang Dunia II. Pertama jiwa zaman masa itu juga sangat terwakili dalam penggunaan kostum dan suasana kota yang dibuat se-mirip. Kedua, akting hebat para artis mampu menghadirkan suasana penuh kesedihan dan kepilauan. Ada beberapa kekurangan film ini. Pertama terletak pada runutan alur cerita yang terkadang maju mundur tanpa disertai penjelasan sehingga terkadang sangat membingungkan. Kedua, di bagian awal tidak menampilkan bagaimana pasukan Jerman dan Uni Soviet menyerbu Polandia. Adegan para pengungsi yang melarikan diri saja yang mewakili cerita itu.
]]>Judul Buku : The Cartoon History of The Universe
Penulis : Larry Gonick
Penerbit : Doubleday
Kota Penerbit : New York
Tahun Terbit : 1990
Tebal : 365 hal
Larry Gonick, seorang sarjana matematika lulusan Universitas Oxford mencoba menyajikan suatu karya sejarah yang unik dan menarik terkait Sejarah Peradaban Dunia. Gonick memiliki metode yang berbeda dengan kebanyakan sarjana atau para penulis sejarah umumnya, yang menampilkan kronologis sebuah peristiwa sejarah melalui jurnal, dan buku. Gonick membuat suatu inovasi tak biasa sekaligus luar biasa. Dia mengandalkan kemampuannya dalam menggambar dengan menuangkan berbagai peristiwa sejarah dunia melalui media komik. Hasil kreativitasnya itu tertuang dalam komik The Cartoon History of The Universe. cerita-cerita sejarah yang selama ini dianggap kaku dan menjenuhkan menjadi sesuatu yang hidup dan mengasyikan.
The Cartoon History of The Universe sendiri bermula dari teori Big Bang terkait penciptaan alam semesta hingga penaklukan Alexander Agung dari Makedonia. Seluruhnya terbagi ke dalam tujuh volume. Pada setiap volumenya, Gonick selalu menampilkan sebuah pengantar. Tentu saja kata-kata pengantarnya berbeda dengan kata pengantar umumnya yang digunakan oleh para akademisi. Gonick selalu menyelipkan lelucon-lelucon lucu tetapi sarat isi. Misalnya dalam volume ke-6 ketika ia membela Herodotus dari cercaan para sejarawan modern yang menganggapnya sebagai Bapak Kebohongan. Gonick memvisualisasi dirinya dalam tokoh komik dengan raut muka terlihat marah sambil berucap bahwa tiada yang mampu menandingi Herodotus dalam bakat sastranya dan pemahamanya tentang karakter.

Lalu pada bagian isi, pembaca akan dibuat kagum dan terpesona melihat bagaimana Gonick mampu menghadirkan sebuah kisah sejarah yang unik dan menarik. Keunikannya itu terletak pada gambaran tokoh-tokoh dan karakater yang gonick buat. Pada satu sisi tampak adegan-adegan tokoh-tokoh dan karakter sejarah itu seakan penuh dengan lelucon yang mengundang tawa bagi para pembacanya, tapi pada sisi lainnya pesan yang dia sampaikan melalui adegan mereka memang sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Satu contoh dalam bagian akhir komiknya di volume 7 Gonick mengulas terkait tokoh Alexander yang Agung dari Makedonia. Alexander yang Agung oleh Gonick digambarkan pernah belajar pada salah seorang filosof besar Yunani Aristoteles. Tentu saja hal ini sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Tapi uniknya, Gonick menggambarkan karakter dua tokoh itu dengan penuh kelucuan jauh dari apa yang dibayangkan orang-orang saat ini.
Di bagian akhir setiap volume bukunya sebagaimana umumnya para akademisi, Gonick mencantumkan daftar sumber yang ia gunakan dalam karyanya ini. Dari sini terlihat jauh dari lelucon-lelucon lucu yang ia tampilkan, Gonick benar benar melakukan sebuah studi yang serius dan mendalam untuk menciptakan komik sejarah dunianya ini. Hal ini terlihat dari sumber-sumber yang ia jadikan bahan rujukan. Jadi buku ini sangat disarankan untuk dibaca terutama bagi mereka para pemula yang ingin mengetahui Sejarah Peradaban Dunia. Karena begitu jarang orang-orang yang mampu menampilkan kronologis Sejarah Peradaban Dunia secara menarik, ringan dan mudah dipahami dibarengi humor-humor yang menggelitik.
]]>Salah satu film terbaik dari beberapa film berlatar Perang Dunia 2. 1944, sebuah film perang dari salah satu negara Baltik pecahan Uni Soviet, Estonia. Film ini disutradarai oleh Elmo Nuganen dan dirilis pertama kali di Berlin pada tahun 2015. Dengan aktor-aktor utama seperti Kaspar Velberg yang berperan sebagai Karl Tammik, seorang serdadu Jerman dari Estonia. Lalu ada Kristjan Ukskula memerankan tokoh Sersan Senior Jüri Jõgi, seorang serdadu Tentara Merah berkebangsaan Estonia dan Maiken Schmidt tampil dalam film ini sebagai adik dari Karl Tammik.
Bagi para penikmat kisah-kisah sejarah Perang Dunia 2, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Karena dalam film ini kita akan dibawa dalam alam pikiran orang-orang Estonia di zaman itu yang harus terjepit diantara dua kekuatan besar yakni Uni Soviet dan Jerman Nazi. Tiada pilihan lain bagi orang Estonia selain terpaksa harus memilih salah satu di antara dua kekuatan besar itu.
Ada banyak kelebihan dari film ini. Pertama, film ini mampu menggambarkan kegamangan dari orang-orang Estonia yang harus bertempur baik dalam barisan pasukan Nazi maupun Tentara Merah, walaupun sejatinya mereka tidak suka melakukan itu. Apalagi ketika mereka harus saling bertempur dengan saudara mereka sendiri yang berada di pihak musuh. Kedua, suasana pertempuran yang seakan benar benar nyata diperlihatkan dalam film ini. Ketiga, film ini setidaknya mampu menghadirkan jiwa zaman pada masa perang Dunia II. Sehingga kita bisa merasakan suasana berbahaya dan penuh ketidakpastian di zaman itu.
Namun film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangan itu terletak pada setting tempat. Kita pastinya membayangkan setting tempat perang Dunia Kedua dengan suatu gambaran tentang bangunan yang hancur, rumah yang terbakar, dll. Tapi film ini kurang memberikan tampilan gambaran tentang itu apalagi dalam perebutan kota Tallin dari pasukan Jerman Nazi oleh Tentara Merah Uni Soviet.
Namun terlepas dari kekurangan itu, sekali lagi film ini sangat patut sekali untuk ditonton. Karena film ini membuka wawasan kita tentang keberadaan suatu bangsa bernama Estonia yang terjepit dinatara dua kekuatan besar masa itu.
]]>